• Tidak ada hasil yang ditemukan

Stratifikasi Sosial Perkawinan

Dalam dokumen tesis - etheses UIN Mataram (Halaman 90-105)

BAB II KONSEP KEADILAN DALAM BERPOLIGAMI

B. Stratifikasi Sosial Perkawinan

b. Calon suami istri ingin segera bisa menjadi suami istri, sehingga tidak ada peluang lagi bagi lelaki untuk perempuan lain untuk memperebutkan mereka.

c. Untuk mempermudah pelaksanaan prosedur adat melarikan.

d. Calon suami ingin segera menikahi sang gadis.

Keempat, siang hari dan tidak ada perjanjian. Cara yang keempat ini paling jarang dilakukan dan tidak didahului oleh perjanjian antara calon suami dan calon istri.

Mereka memang tidak sepakat melakukan pelarian bersama. Ada dua alasan dilakukan pelarian pada siang hari, yaitu:

a. Baik calon suami atau calon istri merasa terpaksa, meskipun tahu bahwa hal itu melanggar adat. Mereka siap menerima sanksi adat.

b. Untuk menunjukkan keberanian calon suami di hadapan lelaki lain yang bersaing.

Sedangkan tidak diadakannya perjanjian dengan alasan yaitu:

a. Orang tua dan calon suami istri tidak sepakat.

b. Calon suami ingin segera menikahi sang gadis.

c. Sang gadis dan orangtua pada dasarnya menolak lelaki tersebut.74

sebelum nama dirinya. Bangsawan yang sudah mempunyai anak dipanggil mamik yang berarti ayah, sementara orang awam (jajar karang) laki-laki digelari amaq sebelum nama dirinya dan perempuan biasa dipanggil inaq.

Perbedaan status yang memisahkan kaum bangsawan dari orang biasa dijaga secara ketat, antara lain melalui pranata perkawinan. Untuk menjaga kemurnian garis keturunan dan mempertahankan status serta keutamaannya, kaum bangsawan mencegah saudara perempuan dan anak perempuan mereka agar tidak kawin dengan laki-laki dari tingkatan yang lebih rendah sehingga perempuan bangsawan cendrung melakukan praktik kawin secara indogami. Mereka juga lebih menyukai perkawinan dengan kelompok sanak keluarga dekat sehingga perkawinan antara sepupu, baik parallel maupun suku silang. Merupakan perkawinan yang lebih dianjurkan di kalangan bangsawan.75

Di samping itu, seiring dengan perkembangan dan dinamika zaman saat ini, aturan dan norma adat juga mengalami perubahan (penyesuaian) seperti kasus perkawinan berbeda suku kerap terjadi di tengah masyarakat Lombok. Tidak sedikit masyarakat suku Sasak saat akan melangsungkan perkawinan dengan orang di luar sukunya, harus menggunakan prosesi upacara pengampuan (penerimaan), yakni penerimaan alih status adat luar Sasak ke adat Sasak.

Bukan hanya itu, seiring dengan berkembangnya masyarakat dengan ditandainya banyak yang sampai ke perguruan tinggi dan dipengaruhi dunia modern seperti SOSMED , Stratafikasi sosial juga ikut berubah. Meskipun

75 Erni Budiwanti, Islam Sasak: Wetu Telu Versus Waktu Lima (Yogyakarta: LKiS, 20000, 250.

sebagai anak jajar karang setelah menikah dan punya anak.

Anaknya disuruh panggil amaq dengan sebutan bapak, ayah, abi, dan bahkan papi. Tidak seperti zaman dahulu hanya orang-orang tertentu dari kalangan Raja atau dari kalangan tuan guru yang bisa memanggil demikian. kakeknya TGH.

Ibrahim Khalidipun sengaja membuang kebangsawananya sampai-sampai tidak ada yang tahu siapa kakeknya Tgh.

Ibrahim Khalidy. Namun berbeda dengan sekarang sedikit- dikit nama anak di taruh Raden, panggilan amaq diganti menjadi bapak ataupun mamiq76

Dengan melihat status strata sosial masyarakat Sasak di atas. Perempuan masih dianggap barang yang bahasa kasarnya ―diperjual belikan‖ karena untuk melunasi pisuke.

Karena itulah, dalam banyak aspek kehidupan, ternyata perempuan Sasak masih sangat marjinal (inferior), sementara kaum laki-lakinya sangat superior. Marjinalisasi perempuan dan superioritas laki-laki memang merupakan persoalan lama dan termasuk bagian dari peninggalan sejarah masa lalu.

Sejak lahir perempuan Sasak mulai disubordinatkan sebagai orang yang disiapkan menjadi istri calon suaminya kelak dengan anggapan “ ja‟ne lalo/ja‟ne tebait si‟ semamenne”.

Sementara, kelahiran seorang anak laki-laki pertama biasanya lebih disukai dan dikenal dengan istilah “anak perangge

(anak pewaris tahta orang tuanya) begitu juga tradisi perkawinan Sasak yang memposisikan perempuan sebagai barang dagangan.

Menurut penuturan Muslim dalam bukunya M. Harfin Zuhdi, terdapat Sembilan bentuk superioritas suami sebagai dampak dari tradisi perkawinan adat Sasak. Peneliti hanya

76 M. Saleh Sofyan, Wawancara, Mataram pada tanggal 17 Desember 2018.

akan memaparkan lima dari Sembilan tersebut, adapun diantaranya:

1. Terjadinya perilaku atau sikap yang otoriter oleh suami dalam menentukan keputusan keluarga. Gejala seperti ini memang banyak terjadi pada masyarakat Sasak yang masih terisolir dan kurang berpendidikan. Budaya seperti ini di Lombok memang lebih kelihatan dalam fenomena pengambilan keputusan di mana suami atau anak laki-laki saja yang bisa dianggap sebagai pengambil keputusan yang paling bijak. Dampak utama dari merariq adalah istri sangat inferior dalam keluarga di mana suami yang menentukan semua hal. Termasuk ekonomi, mau menikah lagi (poligami) bahkan mau menceraikan tanpa sebab.

2. Terbaginya pekerjaan domestik hanya bagi istri dan dianggap tabu jika lelaki (suaminya) Sasak mengerjakan tugas-tugas domestik. Tugas domistik memang diakui secara agama dianggap sebagai tugas suami, tetapi dalam praktiknya di Sasak hanya menjadi tugas istri. Perilaku kedua ini tidak saja dilakoni oleh mereka yang tidak berpendidikan, tetapi mereka yang berpendidikan.

3. Bagi perempuan karir (pekerja) juga diharuskan dapat mengerjakan tugas domistik di samping tugas atau pekerjaannya di luar rumah dalam memenuhi ekonomi keluarga( double burden/ peran ganda).

4. Terjadinya praktik kawin cerai yang sangat akut dan dalam kuantitas yang cukup besar di Lombok. Gejala seperti ini sangat lumrah karena umumnya identik dengan ketergesa- gesaan. Pelakunya biasanya mereka yang berada di bawah umur sehingga ketika menikah tidak memiliki persiapan secara lahir maupun batin (mental). Setelah beberapa bulan menikah, istri ditinggal ke Malaysia dan kalau

pulang membawa hasil biasanya berujung pada perceraian.

Motivasi mereka menikah hanya ingin merasakan bagaimana rasanya berumah tangga.

5. Terjadinya peluang berpoligami yang lebih besar bagi laki-laki (suami) Sasak dibandingkan lelaki (suami) dari etnis lain. Realitas kehidupan sosial masyarakat Sasak dalam kehidupan berkeluarga, tidak jarang terjadi adanya praktik poligami. Kenyataan ini dapat terlihat bukan hanya pada masyarakat umumnya, tetapi juga dilakukan oleh para tokoh agama (Tuan Guru) sebagai tokoh kharismatik.

Perilaku sebagian Tuan Guru ini meskipun tidak secara langsung berdampak pada perilaku masyarakat, hal ini menunjukkan realitas kehidupan poligami masyarakat Sasak. Salah satu kasus menunjukkan bahwa merariq adat Sasak berdampak pada adanya peluang berpoligami. Di Motong Tangi, Kecamatan Sakra, misalnya, ada 12 bersaudara yang kesemuanya termasuk pelaku Poligami.

Ada beberapa penyebabnya, yakni kawin muda (usia di bawah umur) dan tanpa pertimbangan yang mantap, ekonomi, pendidikan rendah, ikut-ikutan, dan ada kesan seperti membeli perempuan.77

C.Tipologi-tipologi keluarga poligami di Kecamatan Praya Tengah

Syarat untuk berpoligami harus berlaku adil dalam keluarga, selain hal tersebut para lelaki yang berpoligami seharusnya melihat bagaimana perekonomian keluarganya teutama pendapatan dan pekejaan sehai-haina sepeti apa. Di pengadilan Agama seseoang ang mengajukan poligami akan di tana dulu beapa pendapatan sebulan dan pekejaan dai suami sehingga mengajukan poligami bila mencukupi untuk

77 M. Harfin Zuhdi, Praktik Merariq, 106.

kebutuhan dua keluaga maka akan di beri setelah syarat- syarat ang lain telah tepenuhi. Tapi melihat di kecamatan praya tengah pelaku poligami bisa dibilang masih jauh dari kata mapan melihat dari pekerjaan-pekerjaan mereka:

1. Pengerajin anyaman bambu

Sebut saja namanya Aq. Marion (bukan nama sebenarnya) kehidupan sehari-hari amaq marion sebagai pengerajin anyaman bambu dalam bahasa Sasaknya pinak peraras. Dari sanalah mata pencahariannya untuk menghidupi istrinya sebagaimana penuturannya

“ye wah baik… elek pinak peraras elek pade bengn sikn belanje, mun arak lebih maukt elek hak biasen muk simpen aden hak arak jari yak bengn papahn ndek minak atau ndek mauk bejual sengakn kan anuk pade rate ntank bengn missal jelo ni bagian‟k elek senine pertame mauk 150.000,- muk bengn 100.000,- menu juak elek seninen kedua ketelu pade rate ntank bengn‖ (ia nak, dari membuat nampan anyaman bambu saya memberi nafkah istri-istri dan anak-anak.

Kalau ada lebih saya simpan untuk dikasih pas tidak jualan ataupun tidak dapat berjualan. Sama rata saya kasih baik istri pertama, kedua dan ketiga. Misalnya hari ini jualan saya 150.000,- bila giliran saya di istri pertama, maka saya kasih 100.000,- karena memang saya membagi rata sama-sama 100.000,-.78

2. Pekasih (orang yang membagi air) : sebut saja namnaya Shaman (bukan nama sebenarnya) pekerjaanya sebagai pekasih. Membantu para petani untuk bisa mendapatkan air terutama saat menanam padi. Karena pekerjaannya

78 Aq. Marion, Wawancara, Desa pejanggik pada tanggal 7 juli 2018.

yang sering meninggalkan rumah dan bermalam bila membuka bendungan maka dari itu dia menikah lagi tanpa sepengetahuan istri pertamanya. Lambat laun ternyata istrinya mengetahui dan bersedia untuk dimadu

ye wah pegaweant ni anak‟, kerengt ndek to bale, muk den arak yak rungukt pas lalo boyak aik, terpaksetlah merarik malik, awal-awaln ja tedok-tedok ntan‟k laguk ngonek-ngonekn jakn mun taon‟k. Alhamdulillah mun terimakn”79 (ya beginilah pekerjaan saya, jarang berada di rumah, karena tidak ada yang memasak dan mengurusi saya pas bekerja mencari air maka terpaksalah saya menikah disana dengan diam-diam tetapi lambat laun istri pertama tahu dan Alhamdulillah bersedia untuk dipoligami)

3. Petani

Kebanyakan dari narasumber yang peneliti wawancara pekerjaannya sebagai petani. Karena mempunyai sawah yang bisa dibilang luas. Ada yang mencapai satu hektar, setengah hektar dan 25 are. Dari sinilah para suami yang berpoligami ini mencari nafkah dari hasil sawahnya. Mulai dari padi, tembakau, kacang- kacangan sampai sayur-sayuran ditanam dan dijual. Hal demikian diungkapkan oleh Samsul (bukan nama sebenarnya)

nggakn bedoent dait tewarisant tanak, ndekt uwah lalo sekolah yak jari pejabat begawean to elek kantor.

Muk lewat bangket ni ye langant pete nafkah untuk biaya sehari-hari. Mulai elek talet pare, mako, kedelai antap ataupun kandok-kandok hak lain, ye mutk jual.

79 Shaman, Wawancara, Desa Dakung pada tanggal 10juli 2018

Alhamdulillah kebutuhan terpenuhi, laguk mun musim kebalit panas jelo ja den arak lalok yak tetalet ja lalokt jari buruh bangunan” (kita hanya punya sawah sebaga warisan dan tidak pernah sekolah yang mau bekerja di kantor. Makanya dari sawah inilah kita cari nafkah untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, tatapipas musim panas (kemarau panjang) tidak ada yang ditanam dan yang jelas pendapatan ekonomi menjadi kurang dan idak terpenuhi.

Makanya saya mecari nafkah lewat menjadi buruh).80 4. Pedagang

Selain sebagai petani pekerjaan dari keluarga poligami ada yang sebagai pedagang. Memang pedagang banyak yang didapatkan untuk menafkahi kedua istrinya.

Sebut saja Alimudin (bukan nama sebenarnya). Dia menghidupi keluarganya dari berdagang besi.

Alhamadulillah elek dagang besi tao tiang penuhi kebutuhan keluarge meskipun yang tiang tanggung arak due. Awal bedagang memang elek senine prtame ye kance bareng-bareng boyak. Laguk rate wah pade merarik anak dait wah pade selesai sekolah ye ampuk merarik malik, muk anuk bebarak ntan‟k yak malik merarik. Anak-anak ja sampai nani nden man beng‟k mun seninek ja langsungn beng‟k.

(Alhamdulillah dari hasil dagang besi, saya bisa penuhi kebutuhan keluarga meskipun yang saya tanggung ada dua istri dan anak-anak. Mulai berdagang dari istri pertama. Saya sama-sama mencarinya. Setelah semua anak menikah dan semua sudah saya biayakan sekolah rata-rata sampai perguruan tinggi. Baru saya minta izin

80 Samsul, Wawancara, Desa Bongor, pada tanggal 10 Juni 2018.

untuk poligami. Sampai sekarang anak-anak belum mengizinkan, tetapi kalau istri langsung memberikan.81 5. Penjahit

Banyak keahlian yang bisa dimanfaatkan untuk bisa mencari nafkah. Mulai dari berdagang, berternak, dan bahkan menjahit. Sebut saja ust. Imron (bukan nama sebenarnya). Selain sebagai penjahit beliau juga sebagai guru ngaji mulai dari anak-anak, dewasa sampai orang tua. Beliau memang sangat disegani dan dijadikan sebagai tokoh agama di desanya. Selain pekerjaan di atas beliau juga seorang petani dan peternak mulai dari ayam, itik dan kambing. Beliau termasuk orang yang pekerja keras. Sampai-sampai muridnya heran kapan dia istirahat saking banyaknya kegiatan yang beliau lakoni.82

Ndek mele yak berpoligami, laguk anuk ye pengendeng gurun tiang, berarti harus tiang patik laguk sebelum enu tiang bebarak juluk elek inakn kanak-kanak yakn ebengk ape endek sambilk hak ceritakn ntan pengendengan guru tiang. Alhamdulillah inakn paham dait muk mun izinangk (saya tidak pernah berniat untuk berpoligami, tetapi karena permintaan dari sang guru berarti saya harus tepati tetapi sebelum itu saya meminta izin dan menceritakan ibu dari anak-anak bahwa hal tersebut permintaan sang guru. Dan Alhamdulillah dia memberikan.83

6. Penggiling padi

81 Alimudin, Wawancara, Desa Lajut, pada tanggal 12 Juni 2018.

82 Penuturan Salmiah saat menceritakan ust. Imron

83 Ust. Imron, Wawancara, Desa Pejanggik pada tanggal 17 Juli 2018.

Mempunyai penggiling padi di Lombok berarti termasuk orang yang berada. Dari sinilah dicarikan nafkah keluarga dari bapak Hafiz. Dia sendiri yang langsung menggiling padi dengan bantuan dari dua buruhnya. Pantasan saja beliau berpoligami karena merasa mampu untuk menafkahi. Ye wah langant teboyakang sik amakn ni langan eler gabah (ya dari sinilah kami dicarikan nafkah)84

7. PNS (Guru).

Sebagai PNS memang sudah jelas harus lewat jalur resmi untuk bisa berpoligami. Karah (bukan nama sebenarnya) berpoligami memang lewat jalur resmi yaitu lewat pengadilan. Syarat yang diberikan istrinya untuk berpoligami yaitu bahwa semua gaji PNSnya harus diberikan ke dia. Sementara istri kedua terserah mau dicarikan lewat apa. Hal tersebut sebagaimana penuturan dari Timah (bukan nama sebenarnya) yang merupakan istri pertamanya.

Aok muk bengn izin dengan alasan nie harus bengk kelapuk gajin PNS mun yak beng seninen keduen ja terserah mbe-mbe langan peten. Sengakn aku ye perjuangan ye ampun mauk jari PNS. Muk seninen keduen yakn seneng-seneng nikmati hasil lelahk (ya saya kasih izin dia untuk poligami dengan alasan semua gaji PNS harus diberikan ke saya, terserah untuk istri kedua mau dikasih lewat apa. Karena selama ini saya yang telah perjuangkan sehingga dia bisa jadi PNS)85

84 Iq. Jafar (bukan nama sebenarnya), Wawancara, Bongor pada tanggal 18 Juli 2018.

85 Timah, Wawancara , Petanggak pada tanggal 20 juli 2018.

D. Alasan-alasan poligami

Menjalani bahtera rumah tangga memang tak pernah luput dari cobaan. Baik cobaan itu berasal dari suami, istri, anak, mertua, ipar ataupun dari tetangga. Karena memang hidup ini akan selalu mendapat ujian. Hidup tidak akan indah bila hanya ada satu warna. Lika-liku kehidupan pasti akan dijumpai. Begitulah dalam perkawinan. Kesetiaan, kejujuran, keterbukaan dan komunikasi memang selalu dibutuhkan dalam sebuah keluarga. Kesetian memang sulit sekali untuk dipertahankan. Sebagaimana dari hasil penelitian peneliti banyak para suami yang tergoda. Tidak bisa mempertahankan keutuhan rumah tangga dengan setia pada satu istri. Adapun alasan-alasan suami berpoligami tidak terlepas dari izin para istri dan bahkan ada yang tanpa izin yaitu:

a. Menjauhi fitnah

Karena suami sering didatangi (diapalin) ke rumah oleh janda maka terpaksa memberikan izin suami untuk menikah lagi. Hal tersebut dikemukakan oleh Nurini (bukan nama sebenarnya).

Daripade tiang ndek tao gitakne ngeraos-raos kance due elek sangkok lebih baik aku surukne merarik. Aden hak molah ndek berembe-rembe unin dengan. Ye noh ampukne merarik. Mun anak-anak ja den arak pade bengn sikn hak periak elek aku. Mun wah toak ye ampun melece. Angka nden tebeng momot elek bale bapakne ida. Mun pinak penyengker teras taokn momot kance seninen” (karena saya tidak bisa lihat mereka bicara berdua-duaan di ruang tamu. Lebih baik saya suruh nikah. Menjaga pandangan orang terutama fitnah. Kalau anak sampai sekarang masih

belum mengizinkan. Kasihan katanya sudah tua tempatnya nakal. Makanya dia tidak dikasih tinggal sama anak-anak dirumah. Teras mereka tutup dengan triplek tempat mereka tinggal.86

Selain Nurini di atas alasannya untuk menjaga fitnah, Kasrah (bukan nama sebenarnya) dan Hafiz juga mengalami hal yang sama. Makanya istri dari mereka terpaksa memberikannya berpoligami.

b. Dibohongi

Untuk mendapatkan apa yang diinginkan kadang suami tega membohongi orang lain. Dan bisa dikatakan sebagai penipu. Sebut saja Aq. Marion (bukan nama sebenarnya ketika akan menikah dengan istri kedua bernama Jonet (bukan nama sebenarnya) membohongi Jonet bahwa dia (aq. Marion) telah bercerai dengan istri pertamnaya. Makanya Jonet mau menikah dengan Aq.

Marion. Lambat laun ternyanta Jonet mengetahui memang telah bercerai tapi talak 1 dan kembali rujuk lagi. Begitupun dengan penuturan dari istri ketiga kenapa mau dipoligami. Hal tersebut kembali dilakukan oleh Aq Marion yang membohongi Sulamiah (bukan nama sebenarnya) sebagai istri ketiga. Sulaimiah pada saat itu dia gadis menikah dengan Aq Merion yang duda. Kalau Jonet sudah janda.

“berembe malik yakt ntak baik. Anuk tetajaangt.

Wan sak beseang unin kance seninen pertame ternyate malikn rujuk.87 Angka anuk ye mukt dait marak unin

86 Nurini, Wawancara, Lajut pada tanggal 24 Juli 2018.

87 Jonet, Wawancara, Lembak pada tanggal 25 Juli 2018.

hak baru kk Jonet, anuk tetajaang. Mele-ndek mele harust noh terimakn tepoligami kance telu. Padahal pegawean pinak penarak mun yak dendekne bae hak ajakangt88 (mau bagaimana nak, kita dibohong, katanya sudah bercerai dengan istri pertama ternyata setelah menikah dengan saya kembali dia rujuk lagi. Beginilah nasip tiang. Seperti katanya kk Jonet kita dibohongi.

Mau tidak mau harus kita ikuti dan terpaksa dipoligami bertiga. Padahal pekerjannya cumin anyaman bambu.) c. Permintaan sang guru

Selain alasan-alasan di atas. Ternyata alasan berpoligami dan memberikan berpoligami karena permintaan sang guru. Sebut saja ust. Imron yang berpoligami karena alasan permintaan sang guru. Sang guru mempunyai anak gadis tetapi sudah lumayan tua dan belum menikah. Maka dimintalah Ust. Imron untuk menikahi anaknya. Hal tersebut diceritakan kepada istrinya Ust. Imron. Karena memang dia tidak berniat untuk berpoligami.

Ndek mele yak berpoligami, laguk anuk ye pengendeng gurun tiang, berarti harus tiang patik laguk sebelum enu tiang bebarak juluk elek inakn kanak-kanak yakn ebengk ape endek sambilk hak ceritakn ntan pengendengan guru tiang.

Alhamdulillah inakn paham dait muk mun izinangk (saya tidak pernah berniat untuk berpoligami, tetapi karena permintaan dari sang guru berarti saya harus tepati tetapi sebelum itu saya meminta izin dan menceritakan ibu dari anak-anak bahwa hal tersebut

88 Sulamiah, Wawancara, Lembak pada tanggal 25 Juli 2018.

permintaan sang guru. Dan Alhamdulillah dia memberikan.89sengakne permintaan sang guru nie.

Berarti terpakse tiang beng. Ye ampun jari dengan terpandang marak nani berkat guru nu. Dait molahk endah arak kancek yak runguk Ust‟n dait pegawean te bale kepenok. Muk yak kancek due ja badek sere ringanangk beban. (karena permintaan sang guru.

Makanya terpaksa saya kasih berpoligami. Berkat sang guru maka ust. Sekarang bisa terpandang menjadi orang yang disegani dan dijadikan tokoh agama di desa ini. Biar ada teman ngurus rumah tangga disini juga. Kalau berdua kan lebih ringan)90

d. Karena memang cinta

Kenapa alasannya karena memang cinta. Selain alasan-alasan diatas. Karena memang alasan cinta makanya melakukan poligami. Banyak dari pelaku poligami mencintai perempuan lain entah itu gadis atau janda. Tetapi untuk meminta izin untuk poligami tidak berani maka dijalanilah dengan diam-diam.

Tetapi lambat laun ternyata diketahui oleh istri pertama. Mau tidak mau istri pertama harus menerima melihat anaknya yang membutuhkan ayahnya. Hal inilah yang banyak dialami selain narasumber- narasumber di atas. Sebut saja namanya H. Ajiz, Sibawaih, Saripudin, Sahar dan Aq. Suni (bukan nama sebenarnya).

(daripade yak berzine, lebih baik merarik tedok- tedok. Muk taon yak ndek tebeng. (daripada saya

89 Ust. Imron, Wawancara, Desa Pejanggik pada tanggal 17 Juli 2018.

90 Hafsah, Wawancara, Desa Pejanggik 18 Juli 2018.

berzina, lebih baik nikah diam-diam).91 Berbeda dengan yang empat orang (H. Ajiz, Sibawaih, Saripudin dan Sahar) Aq. Suni dia secara terang- terangan meminta izin dan diberikan oleh istri pertamanya. Ndek mele masih aku mun ndek man nie Aq Suni ending izin elek seninen. Ternyate mun pedaitk kance seninen pertame marak unin nu, mun bengkt merarik. Ye ampon noh aku mele berpoligamikne92 (sebenarnya saya tidak mau berpoligami bila tanpa izin dari istri pertamanya.

Tetapi dia Aq Suni ternyata sudah minta izin dibuktikan dengan mempertemukan kami berdua dan langsung bertanya pada istri pertamanya. Dan ternyata benar dia memberikan izin)

e. Karena pekerjaan

Pekerjaan memang sebagai salah satu alasan dari para pelaku poligami untuk berpoligami. Sebut saja Shaman (bukan nama sebenarnya) yang pekerjaanya sering keluar rumah untuk mencari air ke lembah dan sampai menginap menjaga air untuk dialiri ke sawah-sawah para petani. Makanya menikah lagi dengan alasan ada yang mengurus di tempat tersebut.

“ye wah pegaweant ni anak‟, kerengt ndek to bale, muk den arak yak rungukt pas lalo boyak aik, terpaksetlah merarik malik, awal-awaln ja tedok- tedok ntan‟k laguk ngonek-ngonekn jakn mun taon‟k.

Alhamdulillah mun terimakn93 (ya beginilah pekerjaan saya, jarang berada di rumah, karena tidak

91 H. Ajiz, Wawancara, Desa Beraim pada tanggal 20 Juli 2018.

92 Simpang, Wawancara, Desa Pejanggik pada tanggal 20 Juli 2018.

93 Shaman, Wawancara, Desa Dakung pada tanggal 10 Juli 2018.

Dalam dokumen tesis - etheses UIN Mataram (Halaman 90-105)