BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
2. Stres Kerja
Didefinisikan oleh French, Rogers, & Cobb (1974) bahwa stres kerja merupakan ketidaksesuaian antara kemampuan seseorang dengan tuntutan pekerjaan dalam lingkungan kerja. Lalu, menurut Beehr dan Newman (1978) mengemukakan bahwa stres kerja sebagai suatu keadaan yang timbul dalam interaksi diantara manusia dan pekerjaan. Secara umum, stres didefinisikan sebagai rangsangan eksternal yang menggangu fungsi mental, fisik, dan kimiawi dalam tubuh seseorang (Nykodim dan George, 1989).
Sementara itu, Keenan dan Newton (1984) juga berpendapat stres kerja perwujudan dari kekaburan peran, konflik peran, dan beban kerja yang berlebih. Kondisi ini selanjutnya akan dapat mengganggu prestasi dan kemampuan individu untuk bekerja. Pengalaman individu mengalami stres kerja dapat digambarkan melalui perbedaan antara faktor-faktor stres dari lingkungan eksternal yang disebabkan faktor lingkungan internal (Ivanceviech, er,al. 1982).
Menurut Kavanagh, Hurst, dan Rose (1990), stres kerja juga merupakan suatu ketidakseimbangan persepsi individu tersebut terhadap kemampuan untuk melakukan tindakan.
Stres kerja adalah suatu kondisi ketegangan yang menciptakan adanya ketidakseimbangan fisik dan psikis yang mempengaruhi emosi, proses berpikir, dan kondisi seorang karyawan (Rivai, 2012). Stres yang
13 terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungan. Sebagai hasilnya, pada diri karyawan berkembang berbagai macam gejala stres yang dapat mengganggu pelaksanaan pekerjaan mereka.
Orang-orang yang mengalami stres menjadi nervous dan merasakan kekuatiran kronis sehingga mereka sering menjadi marah- marah, agresif, tidak dapat relaks, atau memperlihatkan sikap yang tidak kooperatif (Hasibuan, 2012).
Menurut Handoko (2008), strest kerja merupakan suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi proses berpikir, emosi, dan kondisi seseorang, hasilnya stres yang terlalu berlebihan dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungan dan pada akhirnya akan menganggu pelaksanaan tugas-tugasnya.
Umar (2010) menyatakan bahwa stres sebagai suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berfikir dan kondisi seorang pekerja. Terdapat hubungan langsung antara stres dan kinerja.
Jadi, stres kerja dapat disimpulkan sebagai suatu kondisi individu berupa interaksi antara individu dan lingkungan kerja yang berakibat dapat mengancam dan memberikan tekanan secara, fisiologis dan psikologis individu tersebut.
14 a. Penyebab Stres Kerja
Menurut Robbins (2008), ada 3 kategori potensi penyebab stres kerja yaitu:
1) Faktor-faktor Lingkungan
Faktor-faktor perusahaan dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu:
a) Selain mempengaruhi desain struktur sebuah perusahaan, ketidakpastian lingkungan juga mempegaruhi tingkat stres para karyawan dalam perusahaan. Perubahan dalam siklus bisnis menciptakan ketidakpastian ekonomi.
b) Ketidakpastian politik juga merupaka pemicu stres diantara karyawan.
c) Perubahan teknologi adalah faktor lingkungan ketiga yang dapat menyebabkan stres, karena inovasi-inovasi baru yang dapat membentuk inovasi teknologi lain yang serupa merupakan ancaman bagi banyak orang dan membuat mereka stres.
2) Faktor-faktor Perusahaan
Faktor-faktor perusahaan dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu:
a) Tuntutan tugas merupakan faktor yang terkait dengan pekerjaan seseorang, meliputi: desain pekerjaan individual (otonomi, keragaman tugas, tingkat otomatisasi), kondisi kerja dan tata letak fisik pekerjaan.
15 b) Tuntutan peran adalah beban peran yang berlebihan dialami ketika karyawan diharapkan melakukan lebih banyak daripada waktu yang ada. Ambiguitas peran terjadi karena ekspektasi peran tidak dipahami secara jelas dan karyawan tidak yakin apa yang harus dilakukan.
c) Tuntutan antarpribadi yaitu tekanan yang diciptakan oleh karyawan lain, tidak adanya dukungan dari rekan kerja dan hubungan antarpribadi yang buruk dapat menyebabkan stres.
3) Faktor-faktor Pribadi
Faktor-faktor pribadi ini terutama menyangkut masalah keluarga, masalah ekonomi pribadi, serta kepribadian dan karakter yang melekat dalam diri seseorang. Berbagai kesulitan dalam hidup perkawinan, retaknya hubungan dan kesulitan masalah disiplin dengan anak-anak merupakan masalah hubungan yang menciptakan stres bagi karyawan yang lalu terbawa sampai ketempat kerja. Masalah ekonomi karena pola hidup yang lebih besar pasak daripada tiang adalah kendala pribadi lain yang menciptakan stres bagi karyawan dan mengganggu konsentrasi kerja mereka.
b. Model Stres Kerja
Menurut Kreither dan Kinick (2005) stressor dibagi menjadi empat tingkatan yaitu:
1) Tingkatan individu, yaitu keamanan kerja yang berkaitan dengan kepuasan kerja.
16 2) Tingkat kelompok, disebabkan oleh dinamika kelompok dan perilaku manajerial. Para manajer menciptakan stres pada karyawannya dengan menunjukkan perilaku yang tidak konsisten, gagal memberikan dukungan, menunjukkan kekurang pedulian, memberikan arahan yang tidak memadai, menciptakan suatu lingkungan dengan produktivitas yang tinggi dan memfokuskan hal-hal negatif sementara itu mengakibatkan kinerja yang baik.
3) Tingkat organisasi, contohnya sebuah lingkungan dengan tekanan yang tinggi yang menempatkan permintaan kerja yang terus menerus pada para karyawan akan menyalakan respon stres.
4) Tingkat luar organisasi, contohnya konflik yang berkaitan dengan penyimpangan kehidupan karir dan keluarga seseorang sangatlah membuat stres.
c. Dampak Stres Kerja
Schuller (2006) mengidentifikasi beberapa perilaku negatif karyawan yang berpengaruh terhadap organisasi atau perusahaan.
Secara singkat beberapa dampak negatif yang ditimbulkan oleh stres kerja dapat berupa:
1) Terjadinya kekacauan, hambatan baik dalam manajemen maupun operasional kerja.
2) Mengganggu kenormalan aktivitas kerja.
3) Menurunkan tingkat produktivitas karyawan.
4) Menurunkan pemasukan dan keuntungan perusahaan.
17 Tidak selamanya stres kerja karyawan berdampak negatif bagi perusahaan atau organisasi, karena dapat juga berdampak positif.
Semua iti tergantung pada kondisi psikologis dan sosial seorang karyawan, sehingga reaksi terhadap setiap kondisi stres sangat berbeda. Stres kerja karyawan yang berdampak positif terhadap perusahaan, antara lain:
1) Memiliki motovasi kerja yang tinggi. Stres kerja yang dialami karyawan menjadi motivatir, penggerak dan pemicu kinerja di masa selanjutnya.
2) Rangsangan untuk bekerja keras, dan timbulnya inspirasi untuk meningkatkan kehidupan yang lebih baik dan memiliki tujuan karir yang lebih panjang.
Memiliki kebutuhan berprestasi yang lebih kuat sehingga lebih mudah untuk menyimpulkan target atau tugas sebagai tantangan, bukan sebagai tekanan. Stres kerja yang dialami pun menjadi motovator, penggerak dan pemicu kinerja di masa selanjutnya.
d. Pendekatan dalam Mengelola Stres Kerja
Diperlukan pendekatan yang tepat dalam mengelola stres, ada dua pendekatan yaitu (Sunyoto, 2012):
1) Pendekatan individu
Strategi yang bersifat individual yang cukup efektif, yaitu pengelolaan waktu, latihan fisik, latihan relaksasi, dan dukungan sosial. Dengan pengelolaan waktu yang baik maka seseorang
18 karyawan dapat menyelasaikan tugas dengan baik, tanpa adanya tuntutan tugas yang tergesa-gesa.
2) Pendekatan organisasi
Beberapa penyebab stres dalah tuntutan dari tugas dan peran serta struktur organisasi yang semuanya dikendalikan oleh manajemen, sehingga faktor-faktor itu dapat diubah. Oleh karena itu strategi- strategi yang mungkin digunakan oleh manajemen untuk mengatasi stres karyawannya adalah melalui seleksi dan penempatan, penetapa tujuan, redesain pekerjaan, pengambilan keputusan partisipatif, komunkikasi organisasional dan program kesejahteraan.
e. Jenis-jenis Stres
Rivai dan Mulyadi (2012) mengkategorikan jenis stres menjadi dua, yaitu:
1) Eustress, yaitu hasil dari respons terhadap stres yang bersifat sehat, positif dan konstruktif (bersifat membangun). Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu dan juga organisasi diasosiasikan dengan:
a) Kesejahteraan individu b) Pertumbuhan organisasi c) Fleksibilitas organisasi d) Kemampuan beradaptasi
2) Distress, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat, negatif dan destruktif (bersifat merusak). Hal tersebut
19 termasuk konsekuensi individu dan juga organisasi seperti penyakit kardiovisakular dan tingkat ketidakhadiran yang tinggi, yang diasosiasikan dengan keadaan sakit, penurunan dan kematian.
f. Dimensi Stres Kerja
Dimensi dari stres kerja menurut John Suprihato dalam Sunyoto (2015) yaitu:
1) Penyebab fisik
Penyebab fisik merupakan penyebab yang berasal dari lingkungan kerja dan dapat langsung mempengaruhi karyawan. Penyebab fisik meliputi:
a) Kebisingan
Kebisingan yang terus- menerus dapat menjadi sumber stres bagi banyak orang. Namun perlu diketahui bahwa terlalu tegang juga menyebabkan hal yang sama.
b) Kelelahan
Masalah kelelahan dapat menyebabkan stres karena kemampuan untuk bekerja menurun. Kemampuan bekerja menurun menyebabkan prestasi menurun dan tanpa disadari menimbulkan stres.
c) Pergeseran kerja
Mengubah pola kerja secara terus-menerus dapat menimbulkan stres. Hal ini disebabkan karena seorang karyawan sudah terbiasa dengan pola kerja lama yang sudah terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan lama.
20 d) Suhu dan kelembapan
Bekerja dalam suatu ruangan yang suhunya terlalu tinggi dapat mempengaruhi tingkat prestasi karyawan. Suhu yang tinggi harus dapat ditoleransi dengan kelembapan yang rendah.
2) Beban kerja
Beban kerja yang terlalu banyak dapat menyebabkan ketegangan dalam diri seseorang sehingga menimbulkan stres. Hal ini bisa disebabkan oleh:
a) Tingkat keahlian yang dituntut terlalu tinggi.
b) Volume kerja mungkin terlalu banyak.
3) Sifat pekerjaan
Sifat pekerjaan tertentu akan mempengaruhi tingkat stres bagi seorang karyawan. Apabila sifat pekerjaan memiliki kesulitan yang tinggi maka tinggi pula stres yang dihadapi oleh karyawan. Contoh sifat pekerjaan yaitu:
a) Situasi baru dan asing
Menghadapi situasi baru dan asing dalam pekerjaa atau organisasi, seseorang akan terasa sangat tertekan sehingga dapat menimbulkan stres.
b) Ancaman pribadi
Suatu tingkat kontrol pengawasan yang terlalu ketat dari atasan menyebabkan seseorang terancam kebebasannya.
21 c) Percepatan
Stres bisa terjadi jika ketidakmampuan seseorang untuk memacu pekerjaan.
d) Ambiguitas
Kurangnya kejelasan terhadap apa yang harus dikerjakan akan menimbulkan kebingungan dan keraguan bagi seseorang untuk melaksanakan suatu pekerjaan.
e) Umpan balik
Standar kerja yang tidak jelas dapat membuat karyawan tidak puas karena mereka tidak pernah tahu prestasi mereka.
Disamping itu, standar kerja yang tidak jelas juga dapat dipergunakan untuk menekan karyawan.
4) Kebiasaan
Kebiasaan yang diberikan kepada karyawan belum tentu merupakan hal yang menyenangkan. Kebiasaan merupakan hal yang selalu dan dilakukan terus-menerus oleh seseorang sehingga mereka menjadi terbiasa melakukan hal tersebut. Contoh kebiasaan yaitu kebebasan dalam bertindak.
5) Kesulitan
Kesulitan-kesulitan yang dialami di luar lingkungan kerja juga dapat mempengaruhi tingkat stres pada karyawan. Contoh dalam masalah ini yaitu masalah keluarga dan masalah keuangan.
22