• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. BIOGRAFI ‘ABD AR-RAUF AS-SINGKILI DAN KITAB

B. Kitab Tafsir Tarjuman al-Mustafid

3. Sumber Penafsiran

Kitab-kitab yang menjadi rujukan oleh Abdurrauf as-Singkili dalam menulis Tarjumân al-Mustafîd, diantaranya:

a. Tafsir Al-Jalalain

Tafsir ini merupakan sebuah kitab tafsir yang ditulis oleh dua ulama yaitu Jalal ad-Din al-Mahalli (w.864) dan Jalal ad-Din al- Suyuthi. Abdurrauf memilih tafsir ini sebagai sumber utama dari tafsir Tarjumân al-Mustafîd tentu karena beliau mempunyai sanad

28 Nama lengkap beliau adalah Nuruddin Muhammad bin Hasanjin al-Hamid Asy-Syafi’I Ar-Raniri. Merupakan seorang tokoh pembaharuan di Aceh. beliau melancarkan pembaharuan Islamnya di Aceh setelah mendapat pijakan yang kuat di Istana Aceh. Pembaharuan utama beliau adalah memberantas aliran wujudiyah yang dianggap sebagai aliran sesat. Lihat Ismail, “Falsafah Wujudiyah Hamzah Fansuri Pemikiran dan pengaruhnya di Dunia Melayu Nusantara”, Dalam Jurnal Manhaj, Vol. 4, No. 3, 2016, h. 247

29 Afriadi Putra, “Khazanah Tafsir Melayu (Studi Kitab Tafsir Tarjuman Al- Mustafid Karya Abd Rauf Al- Sinkili). Dalam Jurnal Syahadah. Vol. 2, No. 2, 2014, h. 76

al-qusyasyi dan Al-Kurani.30

Dalam penelitiannya, Riddel dan Salman Harun menyatakan bahwa Tarjumân al-Mustafîd merupakan terjemahan dari tafsir Jalalain, hanya pada bagian tertentu saja Abdurrauf mengutip dari Tafsir al-Baidhawi.31 Menurut Suarni juga di dalam jurnalnya bahwa Tafsir Tarjumân al-Mustafîd merupakan saduran dari Tafsir Jalalain.32 Terhadap karya tafsir Turjuman al-Mustafid ini Salman Harun mencoba menyimpulkan penelitiannya dengan mengemukakan hal-hal yang cukup meyakinkan, diantara kesimpulan penelitian beliau terhadap tafsir Tarjumân al-Mustafîd yaitu bahwa Abdurrauf; (a) Membuang penjelasan mengenai I’rob, (b) Membuang penjelasan mengenai pengertian kata dari tinjauan semantik, (c) Membuang sebagian interpretasi yang panjang, (d) Membuang interpretasi yang susah dicerna, (e) Membuang penjelasan yang tidak terdapat dalam tafsir induknya, al-Khazin, (f) Mengkonkretkan kata ganti atau menyesuaikan redaksi, (g) Sesekali menambahkan penafsiran, (h) Sesekali mengganti pendapat yang beliau tidak sepakati, (i) Sesekali meninggalkan beberapa penafsiran (bahkan terjemahan ayat) begitu saja. Awalnya, Abdurrauf juga meninggalkan penjelasan menganai asbab an-nûzul dan perbedaan qirâ’ât, tetapi beliau menyuruh muridnya, Dawud Jami’ al-Rumi untuk menjelaskan mengenai keduanya. Kebanyakan penjelasan tentang asbab an-nûzul dinukilkan al-Rumi dari tafsir al-Khazin,

30 Suhailid, "Tarjuman Al-Mustafid: Prototipe awal tradisi tafsir di Indonesia”, Makalah dipresentasikan pada mata kuliah Metode Studi Islam, Program Pascasarjana, Sejarah Kebudayaan Islam, konsentrasi Islam Nusantara, STAINU Ciganjur, 2013, h. 16

31 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Akar Pembaharuan Islam Indonesia (Jakarta: Kencana, 2004), hlm. 203. Dalam Jurnal Hermeunetik, Ahmad Atabik, “Perkembangan Tafsir Modern di Indonesia”, Vol. 8, No. 2, 2014, h.

316

32 Suarni, “Karakteristik Tafsir Turjuman al-Mustafid”. Dalam Jurnal Substantia, Vol. 17, No. 2, 2015, h. 160

apa yang beliau pelajari dari Abdurrauf.33

Pendapat ini kemudian ditentang karena, Tarjumân al-Mustafîd memiliki ciri-ciri khas tersendiri. Cara Abdurrauf mempersembahan data sangat berbeda dari Jalalain, maupun al-Baidhawi. Namun, persamaan yang ada dengan Jalalain ialah ringkas dan padat pada terjemahan. Begitu juga dengan al-Baidhawi banyak dirujuk dalam kandungannya yaitu fadilat surah dan qirâ`ât.34

b. Tafsir Al-Baidhawi

Tafsir ini ditulis oleh Nashirudin Abu Said Abdullah bin Umar bin Muhammad Al-Baidhawi Al-Syairazi (w. 680/1092), bermazhab Syafi’i dan beraliran kalam Asy’ari. Adapun teknik penulisan tafsir ini adalah mencantumkan nama surah, asbab an-nuzul dan ditutup dengan menyebutkan fadilat surat, menurut Al-Dzahabi, tafsir ini banyak merujuk pada tafsir Al-Kasysyaf karya Az-Zamakhsyari (w.

538 H) namun tafsir ini tidak mengambil hal-hal yang terkait dengan aliran Mu’tazilah.35

Snouck Hurgronje menganggap bahwa tafsir Tarjumân al- Mustafîd merupakan terjemahan yang lebih mirip sebagai terjemahan Tafsir al-Baidhawi, Rinkes murid Hurgronje, menambahkan bahwa selain sebagai terjemahan Tafsir al-Baidhawi, karya Abdurrauf itu

33 Izza Rohman Nahrowi “Profil Kajian Al-Qur`an di Nusantara Sebelum Abad Kedua Puluh”, Dalam Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Islam al-Huda, (Jakarta: Islamic Center Jakarta al-Huda, 2002), Vol. 2, No. 6, 2002, h. 13, yang mengutip dari Salman Harun, “Hakekat Tafsir Tarjuman al- Mustafid Karya Syeikh ‘ABd al-Rauf Singkel”, Disertasi Doktoral pada IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1998, h. 199-200

34 Zulkifli Mohd Yusoff dan Wan Nasyrudin Wan Abdullah, “Tarjuman Al-Mustafid:

Satu Analisa Terhadap Karya Terjemahan”, Dalam Jurnal Pengajian Melayu, Jilid 16, 2005, h. 162

35 Nina Karlina, “Metode Dan Corak Tafsir Al-Baidhawi (Studi Analisis Terhadap Tafsir Anwār al–Tanzil wa Asrār al-Ta’wil)”, Skripsi Program Strata 1 Jurusan Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, 2011. Tidak diterbitkan (t.d)

pula oleh Riddell, ia mengatakan bahwa tafsir al-Baghawi dan tafsir al-Khazin merupakan rujukan primer dalam Tarjumân al-Mustafîd diluar Tafsir Jalalain. Nama al-Baghawi dan al-Khazin secara ekplisit disebut ketika Tarjumân al-Mustafîd mengutip tafsir mereka, meskipun nama yang pertama tidak disebut sesering nama yang kedua.37 Voorhove, murid Hurgronje, setelah mengikuti pendapat Hurgronje dan Rinkes di atas, berpendapat bahwa tafsir tersebut mengambil sumber dari berbagai karya tafsir berbahasa Arab.38 Namun, Jika teks tafsir Tarjumân al-Mustafîd itu dibandingkan dengan tafsir al-Baidhawi, akan tampak dengan jelas bahwa tafsiran Abdurrauf itu bukan merupakan terjemahan penuh dari tafsir al- Baidhawi karena antara keduanya terdapat perbedaan yang sangat mencolok.

Perbedaan tersebut antara lain terlihat dalam poin-poin berikut:

1) Uraian al-Baidhawi tampak lebih luas, lebih rinci dan mendalam daripada yang dilakukan oleh Abdurrauf sehingga untuk menjelaskan pemikirannya al-Baidhawi membutuhkan jumlah halaman yang jauh lebih banyak. Sebaliknya, Abdurrauf hanya membutuhkan satu halaman saja, seperti tampak di dalam teks.

2) Al-Baidhawi menjelaskan ide-ide atau pemikiran filosofis berkenaan dengan ayat-ayat yang mengandung faham-faham

36 Zulkifli Mohd Yusoff dan Wan Nasyrudin Wan Abdullah, “Tarjuman Al-Mustafid: Satu Analisa Terhadap Karya Terjemahan”, Dalam Jurnal Pengajian Melayu, Jilid 16, 2005, h. 159

37 Riddell, “Tafsir Klasik di Indonesia (Studi Tentang Tarjuman al-Mustafid Karya ‘Abd al-Rauf Singkili)” Mimbar Agama dan Budaya (Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah) Vol. 17, No. 2, 2002 h. 10. Yang dikutip oleh Izza Rohman Nahrowi “Profil Kajian Al-Qur`an di Nusantara Sebelum Abad Kedua Puluh”, Dalam Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Islam al-Huda, (Jakarta: Islamic Center Jakarta al-Huda, 2002), Vol. 2, No. 6, 2002, h. 13

38 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Akar Pembaharuan Islam Indonesia (Jakarta: Kencana, 2004), hlm. 203. Dalam Jurnal Hermeunetik, Ahmad Atabik, “Perkembangan Tafsir Modern di Indonesia”, Vol. 8, No. 2, 2014, h.

316

seperti Muktazilah, Sunni dan Khawarij. Contoh tafsir al- Baidhawi tentang ayat yang berbunyi:

ِم َو َة ٰوَلَّصلٱ َنوُميِقُي َو ِبۡيَغۡلٱِب َنوُنِم ۡؤُي َنيِذَّلٱ َنوُقِفنُي ۡمُهَٰن ۡق َز َر اَّم

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”(QS. AL- Baqarah [2]: 3)

Setelah uraian yang panjang beliau menyimpulkannya sebagai berikut:

“Akumulasi dari ketiga hal tersebut adalah tasydiq, iqror, dan amal. Itulah I’tikad (keyakinan) yang hak (benar), lalu beramal sesuai kesucian keyakinan tersebut, itulah yang dianut oleh mayoritas ahli hadis (ahli Sunnah) kaum Muktazilah dan Khawarij. Barangsiapa yang tidak mau tasydiq di dalam hati, dia menjadi munafik. Jika ikrar tidak dilakukan, dia menjadi kafir, dan jika amal yang diabaikan, dia menjadi fasik, bahkan kaum khawarij menganggapnya dia telah kafir, bukan sekedar fasik.

Namun, kaum Muktazilah berpendapat sekedar keluar dari iman, belum tentu langsung menjadi kafir dan seterusnya.”

Tafsiran seperti yang dilakukan al-Baidhawi itu tidak dijumpai di dalam karya Abdurrauf sebagaimana dapat diamati di dalam kutipan di atas. Abdurrauf sebagai seorang ahli agama yang amat dalam pengetahuannya, bukan tidak mengerti apa yang diuraikan oleh al-Baidhawi itu, tetapi agaknya beliau melihat pada sasaran pembaca yang akan memahami kitabnya. Mereka belum begitu paham tentang Islam, bahkan tidak salah jika dikatakan mereka masih banyak yang mualaf.39

Berangkat dari kondisi yang demikian amat bijaksana jika Abdurrauf tidak membawa berbagai faham yang akan menggoyahkan

39 Nasharuddin Baidan, Perkembangan Tafsir Al-Qur`an di Indonesia, (Solo: Pt Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2003), Cet. 1, h. 69-70

pendapat yang beragam tentang keyakinan yang dianut dalam agama sebagaimana yang termaktub dalam karya al-Baidhawi. Itulah letak perbedaan yang mencolok yang berkaitan dengan kondisi umat yang berbeda. Karena al-Baidhawi menghadapi orang Arab yang sejak lama telah terbiasa menghadapi berbagai perbedaan pendapat tidak ada masalah bagi mereka. Perbedaan pendapat tersebut tidak akan menimbulkan gejolak apapun, apalagi merusak tatanan yang sudah ada. Berbeda dengan yang dihadapi Abdurrauf, yaitu bangsa Indonesia yang belum siap mental untuk menghadapi perbedaan pendapat. Abdurrauf tidak mengemukakan masalah-masalah khilafiah karena khawatir akan menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat. Namun, sejauh tafsir itu tidak akan merusak kehidupan dan keharmonisan sosial, Abdurrauf akan menukilkannya seperti yang ada dalam al-Baidhawi. Contohnya hadis-hadis yang terdapat pada akhir-akhir tiap-tiap surat yang berisi kelebihan atau faedah yang akan diperoleh pembaca dalam membaca surat yang bersangkutan. Padahal menurut penilaian ulama hadis seperti Az- Zahabi, hadis-hadis tersebut sangat dhaif, bahkan dinilai palsu (Maudhu’) namun Abdurrauf tetap memakainya karena hadis-hadis tersebut secara umum mengajak kepada kebaikan. Jadi, jelas tidak ada perselisihan di dalamnya.40

Di samping dua kitab tafsir di atas yang telah menjadi rujukan, ada juga kitab lain yang disebut seperti Tafsir Manafi’ Al-Qur’an,41 Tafsir Khazin, dan kitab Nihayah ketika merujuk fiqh. Keterangan ini juga menguatkan bahwa Tarjumân al-Mustafîd bukan hanya terjemahan dari

40 Nasharuddin Baidan, Perkembangan Tafsir Al-Qur`an di Indonesia, Cet. 1, h. 69-70

41 Merupakan salah satu kitab yang dikutip oleh ‘Abd ar-Rauf untuk memperkaya tafsirnya. Penulis tidak menemukan kitab ini, Ridell dan Salman Harun pun tidak menyinggung tentang kitab ini.

Nashruddin Baidan di dalam bukunya juga mengemukakan bahwa tafsir Tarjumân al-Mustafîd adalah tafsir Abdurrauf sendiri meskipun di dalamnya terdapat kutipan dari al-Baidhawi.42

Dokumen terkait