• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEKNIK PEMERIKSAAN 1) Siapkan alat dan bahan

2) Jelaskan kepada pasien jenis dan prosedur pemeriksaan yang dilakukan.

3) Cuci tangan sebelum melakukan prosedur pemeriksaan.

4) Minta pasien untuk duduk di kursi periksa, lakukan:

a. Inspeksi kelopak mata

b. Pemeriksa menilai kelopak mata pasien, apakah ada kelainan pada kelopak mata

c. Inspeksi kelopak mata dengan eversi kelopak mata

- Pemeriksa meminta pasien untuk melirik ke bawah

- Pemeriksa mengeversi

kelopak mata atas dengan bantuan cotton bud. Cotton bud diletakkan dikelopak mata atas bagian luar (diatas tarsus superior) dan pemeriksa mengeversi kelopak atas dengan jari

- Nilai adakah kelainan pada konjungtiva palpebra superior/

konjungtiva tarsal superior d. Inspeksi bulu mata. Pemeriksa menilai

ada tidaknya bulu mata dan arah tumbuhnya bulu mata

e. Inspeksi konjungtiva, termasuk forniks. Pemeriksa menilai konjungtiva bulbi. Nilai adakah kelaianan pada konjungtiva

f. Inspeksi sklera. Pemeriksa menilai

sklera pasien. Nilai adakah kelainan pada sklera

g. Inspeksi orifisium duktus lakrimalis (pungtum lakrimalis). Pemeriksa menilai orifisium punctum lakrimalis

(Sumber: http://www.meddean.luc.edu/lumen/meded/medicine/pulmonar/pd/

pstep96.htm)

Gambar 9. Pemeriksaan inspeksi dengan pen light

ANALISIS HASIL PEMERIKSAAN

· Inspeksi kelopak mata

Berikut beberapa kelainan pada kelopak mata:

o Edema palpebra, difus. Dapat ditemukan pada sindroma nefrotik, penyakit jantung, anemia, dakrioadenitis (udem seperti huruf S terbalik) dan hipertiroid.

o Benjolan berbatas tegas: hordeolum, kalazion, tumor.

o Sikatriks dan jaringan parut pada kelopak.

o Xantelasma: penimbunan deposit berwarna kekuningan pada kelopak, terutama nasal atas dan bawah.

o Ekimosis/hematom: kulit kelopak mata yang berubah warna akibat ekstravasasi

darah setelah trauma.

o Posisi kelopak mata melipat kearah keluar: ektropion (konjungtiva tarsal berhubungan langsung dengan dunia luar).

o Posisi kelopak mata melipat kearah ke dalam: entropion (bulu mata menyentuh konjungtiva dan kornea).

o Spasme palpebra: kelopak mata sulit dibuka karena silau (fotofobia). Dapat terjadi pada erosi kornea, uveitis anterior dan glaukoma akut.

o Kelopak mata tidak dapat diangkat sehingga celah kelopak mata menjadi lebih kecil (ptosis).

o Pseudoptosis: kelopak mata sukar terangkat akibat beban kelopak. Dapat terjadi pada enoftalmus, ptisis bulbi, kalazion, tumor kelopak dan edema palpebra.

o Kelopak mata tidak dapat tertutup sempurna (lagoftalmus) akibat terbentuknya jaringan parut atau sikatrik yang menarik kelopak, entropion, paralisis orbicularis atau terdapatnya tumor retrobulbar, parese N.VII misalnya pada Bell’s palsy.

· Inspeksi bulu mata

o Trikhiasis: bulu mata tumbuh ke arah dalam sehingga dapat merusak kornea akibat gesekan kornea dengan bulu mata. Dapat disebabkan oleh blefaritis dan entropion.

o Madarosis: rontoknya bulu mata.

· Inspeksi konjungtiva, termasuk forniks o Sekret

o Folikel: penimbunan cairan dan sel limfoid dibawah konjungtiva tarsal superior.

o Papil: timbunan sel radang subkonjungtiva yang berwarna merah dengan pembuluh darah ditengahnya.

o Giant papil: berbentuk poligonal dan tersusun berdekatan, permukaan datar, terdapat pada konjungtivitis vernal, keratitis limbus superior dan iatrogenik konjungtivitis, konjungtivitis karena lensa kontak.

o Sikatrik atau jaringan ikat.

o Simblefaron: melekatnya konjungtiva tarsal, bulbi dan kornea. Dapat ditemukan pada trauma kimia, sindroma Steven Johnson dan trauma mekanik.

o Injeksi konjungtiva: melebarnya arteri konjungtiva posterior.

o Injeksi siliar: melebarnya pembuluh perikorneal atau arteri siliar anterior.

o Injeksi episklera: melebarnya pembuluh darah episklera atau siliar anterior.

o Perdarahan subkonjungtiva.

o Flikten: peradangan disertai neo- vaskularisasi di sekitarnya

o Pinguekula: bercak degenerasi konjungtiva di daerah celah kelopak yang di bagian nasal dan temporal kornea.

o Pterigium: jaringan fibrovaskuler berbentuk segitiga di konjungtiva dan

bisa melewati limbus.

o Pseudopterigium: konjungtivalisasi kornea karena trauma pada kornea.

· Inspeksi orifisium punctum lakrimalis

o Dinilai ada tidaknya punctum lakrimalis.

o Posisinya menempel ke bola mata atau tidak.

· Inspeksi media refraksi

o Nyalakan penlight dan arahkan cahaya ke mata pasien. Amati media refraksi mulai dari kornea.

o Amati kejernihan kornea dan nilai apabila ada kelaianan pada kornea.

o Periksa kedalaman kamera okuli anterior dengan memberikan sinar secara mendatar dari arah temporal ke nasal menembus mata sehingga perkiraan kasar.

o Kedalaman kamera okuli anterior dapat dibuat dengan memperhatikan paparan sinar apakah sampai di iris bagian nasal. Nilai juga apakah ada flare, hifema maupun hipopion.

Flare dapat dinilai dengan loop jika merupakan derajat yang hebat

o Periksa iris pasien. Nilai pola dan warnanya, apakah ada nodul dan vaskularitas.

o Periksa pupil. Nilai bentuk, letak, regularitas margo pupil, refleks pupil direk dan indirek, dan kesimetrisan antara kedua mata

o Periksa kejernihan lensa mata, apabila lensa mata terlihat keruh, lakukan

pemeriksaan shadow test. Dengan penlight, cahaya diarahkan pada pupil dengan membentuk sudut 45o terhadap iris. Nilai bayangan iris pada lensa.

(Sumber Am Fam Physician. 1998 Jun 1;57(11):2695-2702.)

Gambar 10. Penampang mata

· Kornea

o Kornea normal jernih dan tanpa kekeruhan atau kabut.

o Cincin keputih-putihan pada perimeter kornea mungkin arkus senilis; yang pada pasien diatas usia 40 tahun merupakan fenomena penuaan normal sedangkan pada pasien dibawah 40 tahun mungkin hiperkolesterolemia.

o Pada keratitis, dijumpai adanya infiltrat di kornea atau suatu defek dengan jaringan nekrotik pada ulkus kornea.

· Kamera Okuli Anterior

o Kedalaman kamera okuli anterior dinilai cukup (normal) jika paparan sinar sampai ke iris bagian nasal.

o Jika terlihat paparan sinar tidak sampai di iris bagian nasal, kamera

okuli anterior mungkin dangkal.

Pendangkalan kamera okuli anterior mungkin akibat penyempitan ruangan antara iris dan kornea.

o Adanya kamera okuli anterior yang sempit terdapat pada mata berbakat glaukoma sudut tertutup, hipermetropia, blokade pupil, katarak intumesen dan sinekia posterior perifer.

o Bilik mata dalam terdapat pada afakia, miopia, glaukoma kongenital dan resesi sudut.

o Flare merupakan efek tyndal dalam bilik mata depan yang keruh akibat penimbunan sel radang atau bahan darah lainnya.

o Hipopion merupakan penimbunan sel radang bagian bawah kamera okuli anterior. Hipopion terdapat pada tukak/

ulkus kornea, iritis berat, endoftalmitis dan tumor intraokular.

o Hifema merupakan sel darah di dalam bilik mata depan dengan permukaan darah yang datar atau rata. Hifema terdapat pada cedera mata, trauma bedah, diskrasia darah (hemofilia) atau tumor intrakranial.

· Iris

Iris mempunyai gambaran kripti normal, terlihat adanya lekukan iris. Beberapa kelainan iris antara lain:

o Normalnya pembuluh darah iris tidak dapat terlihat dengan mata telanjang.

Terlihatnya pembuluh darah iris (rubeosis) akibat radang dalam iris.

Rubeosis iridis terdapat pada penyakit vaskular, oklusi arteri/vena retina sentral, diabetes melitus, glaukoma kronik dan pasca uveitis.

o Atrofi adalah iris yang berwarna putih dan sukar bergerak bersama pupil. Iris atrofi terdapat pada diabetes melitus, lansia, iskemia iris dan glaukoma.

o Sinekia anterior adalah menempelnya iris dengan kornea belakang.

o Sinekia posterior adalah menempelnya iris degan bagian depan lensa. Hal ini dapat terjadi pada uveitis.

· Pupil

Pupil normal apabila kedua pupil simetris (isokor), bentuk bulat, diameter 2-4 mm letak di sentral, regular, refleks pupil (+) normal baik direk maupun indirek.

· Lensa

o Pada uji bayangan iris (shadow test), bila didapatkan semakin sedikit lensa keruh, maka semakin besar bayangan iris pada lensa.

o Bila bayangan iris pada lensa terlihat besar dan letaknya jauh terhadap pupil maka lensa belum keruh seluruhnya sehingga shadow test (+). Hal ini terjadi pada katarak immatur. Apabila bayangan iris pada lensa kecil dan dekat tepi pupil atau bahkan tidak tampak bayangan iris maka lensa sudah keruh seluruhnya sehingga shadow test (-).

Hal ini terdapat pada katarak matur.

Pada katarak hipermatur, lensa sudah keruh seluruhnya, sehingga bayangan

iris pada lensa besar dan keadaan ini disebut pseudopositif.

REFERENSI

Artini W, Hutauruk J, Yudisianil. Pemeriksaan Dasar Mata. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. 2011.

Harper RA. Basic Ophthalmology. American Academy of Ophthalmology. 2010.

Seorang pasien perempuan berusia 17 tahun datang dengan keluhan kedua mata gatal sejak 2 hari yang lalu. Mata gatal disertai berair dan sekret mukoid, sering hilang timbul. Saat ini mata terasa lebih gatal daripada biasanya. Pasien mempunyai riwayat alergi.

Lakukanlah pemeriksaan mata luar pada pasien tersebut!

Seorang pasien laki-laki berusia 60 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan mata kiri kabur sejak 1 bulan yang lalu.

Mata kabur perlahan beragsur-angsur, sehingga menjadi bertambah kabur 1 bulan yang lalu.

Lakukanlah pemeriksaan media refraksi pada pasien!

CONTOH KASUS 1

2

Dokumen terkait