• Tidak ada hasil yang ditemukan

Temuan Penelitian

Dalam dokumen zzzzzz (Halaman 135-161)

Berdasarkan data hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi mengenai metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an, maka kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Metode Pembelajaran Taḥsīn dan Taḥfīz Al-Qur’an di SMP Al Furqan Kebutuhan adanya metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an dipandang perlu bagi SMP Al Furqan Jember. Disamping kebutuhan masyarakat terhadap pembelajaran Al-Qur‟an meningkat, usaha memunculkan metode tersebut dimaksudkan sebagai langkah sekolah agar menjadikan program Al- Qur‟an lebih unggul. Sehingga melalui program tersebut peserta didik sekolah diharapkan akan ada perbaikan bacaan fashohah huruf dan peningkatan hafalan yang signifikan. Adapun tujuan utamanya adalah agar terciptanya generasi yang mencintai dan dicintai Al-Qur‟an.

SMP Al Furqan Jember merupakan sekolah yang berdiri di bawah Yayasan Al Furqan. Sebagai yayasan yang terdiri dari PAUD, SD, SMP, SMA, dan SMK. Metode Ummi muncul pertama kalinya di Surabaya beriringan dengan penunjukan Yayasan Al Furqan sebagai satu bagian dari sekolah modelnya.

Metode Ummi digunakan juga sebagai kelanjutan program di SD sebelumnya.

184Rizqon, Wawancara, Jember, 2 Mei 2018.

Alasan lain yang melatarbelakangi munculnya metode Ummi ini ialah, dijelaskan bahwa hal tersebut dilaksanakan agar para peserta didik dapat dibentengi dengan kesibukan Al-Qur‟an, mendekatkan diri kepada Allah, dan menyadari pentingnya. Karena zaman kini telah sangat berbeda dengan zaman guru/pendidik pada masa lalu.

Penggunaan metode Ummi dilakukan karena input yang masuk berasal dari sekolah negeri. Selain itu, murid yang semakin banyak dan jumlah hafalan yang melebihi satu juz juga menjadi alasan utama menggunakan metode tersebut.

Metode Qiro‟ati sempat digunakan sebagai metode taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an sebelum menggunakan metode Ummi.

Metode Ummi dipilih sebagai metode taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an di SMP Al Furqan karena memiliki sistem Turjuman. Metode ini juga disebut bagus karena memiliki sistem pemantauan, pengembangan, dan evaluasi setiap bulanannya. Metode tersebut telah dipakai selama sekitar empat tahunan.

Penerapan metode Ummi diakui oleh guru taḥsīn dan taḥfīz pilihan SMP Al Furqan, Ust. As‟ad Daroini, S.Pd., Al-Hafizh. Sebagai sarana menyeragamkan bacaan yang standar sesuai bacaan taḥsīn Al-Qur‟an. Karena sekolah menerima murid-murid lulusan SD baru yang berbagai macam kwalitas bacaannya. Seperti yang dituturkan:

Metode Ummi di SMP Al Furqan merupakan kelanjutan penerapan dari SD Al Furqan. Maka murid sudah terbiasa karena telah melalui kurikulum sebelumya. Kelas 3 SD Al Furqan ditargetkan minimal telah menyelesaikan bab

Tartil. Sedangkan kelas 5 ditambah juz 1 surat Al-Baqarah, dan mengulang juz 30 sebelumnya.

Jenis metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an yang pernah digunakan Yayasan Al Furqan adalah metode Qiro‟ati. Yaitu sekitar awal berdirinya yayasan pada tahun antara 1970-1972. Dan metode tersebut telah digunakan lama sejak tahun tersebut. Hingga datang masa peralihan metode adalah ketika SD Al Furqan menjadi sekolah model (pilot project)-nya metode Ummi. Lalu diputuskan seluruh unit yayasan menggunakan metode Ummi termasuk madrasah Diniyah. Dan Al Furqan merupakan pelopor lembaga sekolah pertama yang menggunakan metode Ummi.

Jenis metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an di SMP Al Furqan Jember diakui akan difokuskan dengan menggunakan satu jenis saja, yaitu metode Ummi. Karena Al Furqan merupakan pilot project metode Ummi di Jember. Di sisi lain, metode ini telah sukses mengantarkan murid kelas 3 SD bisa membaca Al-Qur‟an dengan menuntaskan materi taḥsīn Gharib, serta telah menyelesaikan hafalan juz 30.

Metode Ummi dipilih sebagai metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an di SMP Al Furqan, karena memiliki kelebihan yang khas dan dipandang bagus. Metode ini juga disebut sebagai rangkuman penggabungan metode-metode yang telah ada sebelumnya. Seperti Iqro‟, Qiro‟ati, dsb.

Secara lebih detail. Metode Ummi dipilih adalah karena pertimbangan beberapa alasan berikut. Yaitu: 1) telah memiliki sistem pengawasan yang jelas,

2) guru yang mengajar akan terus dipantau dan dievaluasi, 3) ada supervisi yang dilaksanakan setiap sebulan sekali.

Pertimbangan dipilihnya metode Ummi di SMP Al Furqan Jember adalah karena dapat menyesuaikan kebutuhan dan kemampuan lulusan SD Al Furqan.

Dalam praktiknya, metode Ummi dipilih juga karena dapat memenuhi ketiga aspek insting belajar, terutama ketika peserta didik dalam proses menghafal.

Teknis metode tersebut dikenal dengan istilah Tikrar Binnazhar.

Metode Ummi dipilih karena telah memiliki manajemen yang bagus dan telah tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Metode ini dikenal dengan sistem supervisi dan penguji yang independen. Sehingga penilaian kenaikan jenjang kelas/kelulusan para murid menjadi semakin objektif dan independen.

Pembuatan konsep metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an, sempat akan dirumuskan secara mandiri oleh SMP Al Furqan. Yaitu ketika masa peralihan antara metode Qiro‟ati dan Ummi. Namun hal tersebut berkendala dengan terbatasnya SDM saat itu. Hingga akhirnya diputuskan mengikuti metode yang sudah ada dan jelas, walaupun dengan dana yang lebih besar.

Konsep metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an di SMP Al Furqan Jember, untuk selanjutnya murni mengikuti sistem metode Ummi secara baku. Hal ini dilakukan karena sekolah telah memiliki MoU dengan Ummi sejak awal mula pelaksanaan. Namun demikian, sekolah tetap terbuka dengan inovasi-inovasi yang tumbuh dari masing-masing guru/asatidz sebagai pendidik, sepanjang inovasi tersebut tidak keluar dari rel utama yang ditentukan.

Tahapan langkah metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an di SMP Al Furqan Jember secara umum terdiri dari 5 tahapan. Yaitu:

1) Pendahuluan, 2) Mengulang hafalan, 3) Menambah hafalan/materi berikutnya, 4) Pemantapan, dan 5) Penutup (penguatan dan tindak lanjut pembelajaran).

Porsi jam pembelajaran Al-Qur‟an di SMP Al Furqan Jember, adalah porsi jam terbanyak yang diberikan kepada peserta didik dalam sepekan. Hal tersebut dilakukan agar dapat membantu peserta didik untuk mencapai target hafalan dua juz.

Langkah-langkah penerapan metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an di SMP Al Furqan Jember ini, ialah dengan menyeleksi peserta didik berdasarkan kemampuan taḥsīnnya. Kemudian dibagi berdasarkan kelas taḥsīn dan taḥfīz sesuai capaian yang telah diperoleh.

Capaian kelas taḥsīn dan taḥfīz yang sudah ditentukan, selanjutnya peserta didik didampingi untuk menambah hafalannya walaupun taḥsīnnya masih tahap awal. Hal tersebut dilakukan dengan menggunakan metode Talaqqi, yaitu guru membacakan ayat yang dihafal dengan talqin (amati tiru) kepada murid, kemudian murid mengikutinya sesuai yang dibaca guru secara berulang-ulang sesuai dengan kaidah taḥsīn dan tajwid. Evaluasi juga dilakukan kepada semua para asatidz taḥsīn dan taḥfīz.

Detail teknis langkah metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an ialah dilakukan dengan tahapan-tahapan menitan di setiap jam aktif pembelajaran.

Secara umum, tahapan tersebut dibagi menjadi 6 sesi kegiatan pembelajaran.

Yaitu: 1) Pembukaan dengan doa selama 5 menit, 2) Tadarus bersama selama 15

menit, 3) Muroja‟ah bersama qarib dan ba‟id selama 10 menit, 4) Penanaman konsep/Apersepsi selama 20 menit, 5) Setoran selama 15 menit, dan 6) Motivasi dan doa selama 5 menit.

Tahapan Pertama dan Kedua. Dibuka dengan membaca doa dan dilanjut tadarus bersama. Jumlah bacaan tadarus sebanyak 1 halaman, yang dibaca perwakilan kelas berjumlah 5-6 orang. Tiap murid dapat membaca sebanyak 2 ayat sesuai kadar baris halaman mushaf. Bacaan tersebut ditekankan perhatiannya pada hukum taḥsīn tertentu. Hingga pada pertemuan berikutnya tidak ada lagi toleransi penekanan kesalahan pada tempat/hukum bacaan taḥsīn yang sama.

Bacaan tadarus bersama model ini dikhususkan pada pembelajaran hari Rabu.

Jumlah peserta murid dibatasi maksimal per-lingkaran/halaqoh belajar adalah 15 murid. Hal tersebut dilakukan agar perbandingan guru dan murid tidak terlalu timpang jauh. Sehingga pembelajaran dapat lebih berkwalitas. Karena penekanan metode ini adalah pada talaqqi taḥsīn dengan bacaan tartil.

Tahapan ketiga. Mengulang hafalan (Muroja‟ah) yang baru dan lama selama 10 menit. Pengulangan ini berjumlah sepertiga dari perolehan hafalan baru sebelumnya. Hafalan yang lama dibaca bersama-sama dan berkelanjutan di hari berikutnya.

Tahapan keempat dan kelima. Menghafal Baru/Apersepsi/Penanaman Konsep selama 20 menit, dilanjut dengan setoran kepada guru taḥsīn selama 10 menit. Hafalan yang disetor sebanyak 2 ayat, sambil berdiri, dan bergilir ganti di dalam halaqoh sebanyak sepuluh murid. Sehingga per murid mendapat jatah satu menit untuk membaca ayat sebanyak 5x.

Tahapan Akhir/Penutup. Motivasi dan Doa. Sebagai tambahan dari guru taḥsīn masing-masing, agar tahapan metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an berjalan dinamis, efektif, dan tidak menjenuhkan.

Jadwal pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an di SMP Al Furqan Jember dijadikan satu waktu pelajaran. Setiap kelas mendapatkan 5x mata pelajaran Al-Qur‟an per pekan, yang terdiri dari 3 x 70 menit untuk taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an, dan 2 x 70 menit untuk pembelajaran Turjuman. Taḥsīn dan Taḥfīz dilaksanakan setiap hari Senin, Rabu, dan Jum‟at. Sedangkan Turjuman sebagai pelengkap materi Al-Qur‟an di hari Selasa dan Kamis.

Tabel 4.4 Jadwal Pembelajaran Al-Qur'an SMP Al Furqan Jember Senin

07:45-08:55 - 7B 7C 7D

08:55-10:05 8A 8B 8C 8D

Selasa

07:45-08:55 7A 7B 7C 7D

08:55-10:05 8A 8B 8C 8D

10:20-11:30 9A 9B 9C 9D

Rabu

07:45-08:55 7A 7B 7C 7D

13:05-14:15 8A 8B 8C 8D

Kamis

08:55-10:05 7A 7B 7C 7D

10:20-11:30 8A 8B 8C 8D Jum‟at

10:20-11:30 7A 7B 7C 7D

08:55-10:05 8A 8B 8C 8D

Upaya peningkatan metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an SMP Al Furqan ialah dengan dua langkah. Yaitu: Supervisi Guru dan Pelatihan metode Ummi bagi guru di hari libur sekolah. Supervisi dilaksanakan setiap hari oleh Korbid. Keagamaan, dan setiap dua bulan sekali oleh tim Ummi Surabaya.

Respon peserta didik terhadap metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an dinilai bagus dan luar biasa. hal tersebut tampak dari bagusnya respon peserta didik ketika dahulu ada penggabungan metode antara SMP Al Furqan lama dengan Al Furqan 2. Diketahui bahwa kedua unit tersebut memiliki kemampuan akademik yang berbeda, dsb.

Respon peserta didik terhadap metode taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an Ummi berbagai macam, namun yang dominan terlihat adalah rasa capek para murid karena tahapan metode yang terus bersambung dari awal hingga akhir.

Hasil penerapan metode pembelajaran taḥsīn berjalan sesuai target.

Bahkan biasanya dapat dilampaui. Contoh nyata yang terlihat adalah banyaknya peserta didik yang lulus dan selesai mencapai akhir materi taḥsīn.

Capaian taḥsīn di atas, di sisi lain berbeda dengan capaian metode pembelajaran taḥfīz. Hal tersebut diakui masih terus dalam upaya penguatan dan belajar. Karena penguatan yang telah dilakukan juga masih dalam pendampingan.

Capaian penerapan metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an di SMP Al Furqan sudah bagus. Dalam hitungan 90% sukses. Walaupun tetap masih ada kendala, namun lebih kepada pribadi peserta didik masing-masing.

Hasil dari penerapan metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an telah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Lulusan kelas 9 SMP Al Furqan tahun ini telah selesai dari materi taḥsīn jilid dan sudah masuk materi taḥsīn Al-Qur‟an. Di sisi hafalan paling minim terendah dari peserta didik telah hafal juz 30. Sedangkan kelas 8 yang sekarang sudah masuk tes materi taḥsīn Al-Qur‟an, dan rata-rata hafalan mereka sudah di atas surat Al-Lail.

Capaian utama yang paling diperhatikan dan dikontrol penuh, diantaranya yaitu: 1) fashohah bacaan yang bagus, 2) ketajaman huruf yang semakin terasah, 3) terbiasa dengan bacaan tartil, dan 3) Menguasai bacaan dua nada Ummi.

Target dan harapan dari hasil yang ditentukan juga telah dirasakan oleh beberapa peserta didik. Di antara buah hasil yang diperoleh adalah kemudahan menghafal dengan nada khas metode Ummi, dan bertambahnya hafalan mereka lebih dari satu juz Al-Qur‟an.

Peningkatan capaian juga didapat dari sisi taḥfīz/hafalan peserta didik dengan sangat pesat. Sehingga beberapa lulusan SD Al Furqan tetap melanjutkan pendidikan di SMP Al Furqan agar hafalannya tetap terkontrol. Hasil dari metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an tersebut juga diakui oleh penguji Munaqosyah.

2. Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz di SMP Al Furqan diantaranya ialah: 1) adanya langkah-langkah yang telah distandarkan oleh Ummi Fondation, 2) adanya modul dan materi pembelajaran yang matang, serta 3) adanya form/draft/fitur yang telah melengkapinya. Seperti RPP, silabus, dll.

Beberapa tambahan kelebihan lain metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an di SMP Al Furqan yang melengkapi, di antaranya adalah: 1) sistematis, 2) terukur, 3) standard. Sedangkan dari segi pencapaian ialah kelas sembilan SMP Al Furqan dapat mengikuti munaqosyah 3 juz. Terbukti ada dua belas yang mengikuti haflah dan bukan anak pondok.

Kelebihan lain dari penerapan metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an di SMP Al Furqan, di antaranya ialah peserta murid dapat terkondisikan (tidak banyak bergerak keluar halaqoh), serta tidak memiliki celah untuk bermain-main yang dapat mengurangi konsentrasi dalam halaqoh.

Sisi kelebihan lain yang tampak dari penerapan metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an di SMP Al Furqan Jember adalah efek pengaruh positif yang sangat signifikan pada peningkatan prestasi anak didik di pelajaran- pelajaran yang lain. Hal tersebut terlihat dari beberapa contoh murid yang meningkat prestasinya ketika ia sungguh-sungguh menghafal dan mempelajari Al-Qur‟an.

Kelebihan metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an yang dirasakan peserta didik, antara lain: 1) Menambah kekompakan ketika membaca

bersama, 2) Menambah ingatan hafalan dengan nada khas, 3) Hafalan terasa lebih lekat, 4) Hafalan bertambah 1 juz selama satu tahun.

Kelebihan yang lain, yaitu: 5) Metode taḥsīn memiliki ciri khas nada, dan 6) Target spesial hafal 3 juz lulus sekolah, 7) Menghafal terasa lebih mudah, dan 8) Nada bacaan enak didengar.

Kekurangan yang masih dirasakan pada penerapan metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an di SMP Al Furqan Jember, yaitu dikembalikan kepada diri pribadi murid. Satu contohnya di antaranya adalah perasaan beban ketika belajar.

Kekurangan yang masih tampak di lapangan ialah sisi pengawasan yang masih kurang. Hal ini disebabkan model pembelajaran sekolah yang bukan menginap/mondok, dimulai pagi sampai jam 2 siang, dan porsi pembelajaran Al-Qur‟annya yang hanya dua jam per hari. Kekurangan pada sisi tersebut memiliki dampak pengaruh pada pencapaian metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz.

Penerapan metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz ini memiliki tahapan dan waktu yang dijalankan sangat full. Sehingga beberapa siswa dapat merasakan capek dan bosan.

Beberapa peserta didik merasakan kendala di antaranya, yaitu: 1) masih merasa kesulitan di taḥfīznya, 2) masih memakai metode lain ketika menghafal, 3) merasa kesulitan menghafal karena dibarengi Turjuman, 4) kesulitan menghafal Turjuman, 5) merasa berat mengikuti arahan bacaan tajwid dari ustadz ketika

menghafal, 6) jumlah hafalan yang disetor masih terbatas, 7) kesulitan mengikuti bacaan waqaf dan ibtida‟, 8) masih sering keliru bacaan panjang pendek.

Pencapaian hasil dari taḥfīz diakui masih belum maksimal. Karena jumlah peserta didik yang mencapai target masih berjumlah sepertiga kurang. Dalam artian belum mencapai minimal 80%. Jumlah target taḥfīz adalah hafal juz 30 dan juz 1, serta penguatan makna dari Turjuman. Kendala yang terus menjadi tantangan adalah murid yang tidak full boarding di sekolah. Sehingga murid lepas pengawasan dan kontrol ketika berada di rumah.

Perolehan dan capaian taḥfīz beberapa murid yang belum memenuhi target, diakui sebagai permasalahan yang kembali pada individu masing-masing peserta didik. Murid yang memiliki daya kemampuan dan keinginan yang bagus, bahkan didukung dengan program pondok. Diyakini akan memiliki hafalan yang lebih banyak.

3. Solusi dan Strategi

Solusi dan strategi yang akan terus dilakukan sekolah adalah dengan senantiasa belajar kepada semua macam metode lain. Sekolah juga perlu terus berupaya untuk meng-upgrade guru-gurunya agar dapat mengoptimalkan pembimbingan taḥfīz bagi peserta didik. Guru yang hafizh dan berkwalitas baik akan memprakarsai metode menghafal yang cocok dan up to date.

Beberapa strategi dan solusi untuk menunjang keberhasilan metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an, ialah sebagai berikut:

1) Menambah kwalitas guru, 2) Menambah kuantitas guru, 3) Menyediakan

penanganan administrasi secara khusus, dan 4) Memberikan jam tambahan bagi murid yang tertinggal target hafalan.

Arahan dan motivasi ruhiyah untuk peserta didik juga diperlukan. Hal tersebut berkaitan dengan kegiatan pelajaran sekolah yang padat dan beriringan dengan program hafalan Al-Qur‟an.

Metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an di SMP Al Furqan Jember yang begitu full tahapan dan penerapannya. Diperlukan variasi dan selingan yang dapat membangkitkan gairah semangat dan berfungsi relaksasi. Di antara strateginya ialah: 1) Menyisakan 5-10 menit di akhir setiap peralihan tahapan, untuk diberikan motivasi atau cerita, dll. 2) Selingan dapat diisi dengan bentuk pertanyaan yang menggugah ataupun sedikit guyon. Dan 3) Guru tidak mesti terpaku secara baku dengan batasan-batasan waktu setiap tahapannya. Agar suasana lebih terasa cair dan dinamis.

Strategi lain yang dapat diterapkan untuk memaksimalkan potensi peserta didik terhadap metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an. Beberapa di antaranya yaitu: Pertama, dengan memberikan tantangan bahwa persyaratan rapot diambil bila telah mencapai target. Bahkan akan menjadi syarat lulus tahun depan.

Target minimal hafalan SMP Al Furqan adalah sebanyak 2 juz. Kedua, Strategi tujuan tersebut akan dikawal dan dikontrol dengan Bagan Muroja‟ah. Masing- masing kolom terbagi berdasarkan juz yang akan diulang. Tiap juz dibagi untuk hari Senin-Sabtu per pekan. Kolom juz terus berbanjar ke samping ketika bertambah. Ketiga, Penguatan hafalan ditopang dengan pengulangan yang sering.

Maka peserta didik diberikan waktu muroja‟ah di antara selesainya doa pembuka

halaqoh dan sebelum menambah hafalan baru. Keempat, Terus berinovasi untuk membantu kelancaran muroja‟ah, taḥsīn, dan taḥfīz-nya. Kelima, Terus dikontrol dengan mengawal tabel hafalan dan memberikan perhatian dengan bertanya kabar muroja‟ah-nya.

Berkaitan dengan solusi & strategi tersebut. Pengawalan khusus melalui MoU (Memorandum of Understanding) terus dilakukan bersama Ummi Surabaya.

Guru dipandu, diawasi, dan dinilai dari segi pembelajaran taḥsīn dan taḥfīznya, agar sekolah secara penuh terukur perkembangan turun dan naiknya penerapan metode Ummi, bacaan peserta didik, serta peningkatan guru-nya. Tiga faktor pengaruh yang menopang kesuksesan pembelajaran metode taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an di SMP Al Furqan yaitu: 1) 60% dengan gurunya yang bersertifikasi Ummi, 2) 20% dengan metodenya, dan 3) 20% dengan alat peraga-nya.

Tabel 4.5 Fokus dan Temuan Penelitian

No Fokus Penelitian Temuan Penelitian

1

Bagaimana metode pem- belajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an di SMP Al Furqan Jember?

Latar Belakang

a. Usaha memunculkan metode pembe- lajaran taḥsīn dan taḥfīz dimaksudkan sebagai langkah sekolah agar menjadikan program Al-Qur‟an lebih unggul. Tujuan utamanya adalah agar terciptanya generasi yang mencintai dan dicintai Al-Qur‟an.

b. Penerapan metode Ummi diakui sebagai sarana menyeragamkan bacaan yang standar sesuai bacaan taḥsīn Al-Qur‟an.

c. Metode Ummi di SMP Al Furqan merupakan kelanjutan penerapan dari metode di SD Al Furqan.

Jenis Metode yang Pernah Dipakai

a. Jenis metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an yang pernah digunakan Yayasan Al Furqan adalah metode Qiro‟ati. Yaitu pada tahun antara 1970- 1972.

b. SMP Al Furqan Jember diakui akan fokus menggunakan satu jenis saja, yaitu metode Ummi. Karena Al Furqan merupakan pilot project metode Ummi di Jember.

Alasan Dipilihnya Metode Tersebut

a. Beberapa alasan metode Ummi dipilih adalah karena: 1) dipandang bagus dan kelebihan yang khas, 2) telah memiliki sistem pengawasan yang jelas, 3) ada supervisi yang dilaksanakan setiap

sebulan sekali, 4) dapat menyesuaikan kebutuhan dan kemampuan lulusan SD Al Furqan, 5) Memiliki manajemen yang bagus dan tersebar di Indonesia.

Konsep Pembelajaran SMP Al Furqan a. Porsi jam pembelajaran Al-Qur‟an di

SMP Al Furqan Jember adalah porsi jam pelajaran terbanyak dalam sepekan.

b. Pembuatan konsep metode sempat akan dirumuskan secara mandiri oleh SMP Al Furqan. Yaitu ketika masa peralihan antara metode Qiro‟ati dan Ummi.

Namun hal tersebut berkendala dengan terbatasnya SDM saat itu.

c. SMP Al Furqan Jember selanjutnya murni mengikuti sistem metode Ummi secara baku. Namun demikian, sekolah tetap terbuka dengan inovasi-inovasi dari para guru/asatidz, sepanjang tidak keluar batasan yang ditentukan.

Tahapan Langkah Metode Pembelajaran Taḥsīn dan Taḥfīz Al-Qur‟an

a. Menyeleksi peserta didik berdasarkan

kemampuan taḥsīnnya. Kemudian dibagi berdasarkan kelas taḥsīn dan taḥfīz sesuai capaian yang telah diperoleh.

b. Selanjutnya peserta didik didampingi untuk menambah hafalannya walaupun taḥsīnnya masih tahap awal dengan menggunakan metode Talaqqi.

c. Evaluasi juga dilakukan kepada semua para asatidz taḥsīn dan taḥfīz.

d. Tahapan langkah metode pembelajaran taḥsīn dan taḥfīz Al-Qur‟an di SMP Al Furqan Jember secara umum terdiri dari 5 tahapan. Yaitu: 1) Pendahuluan, 2) Mengulang hafalan, 3) Menambah hafalan/materi berikutnya, 4) Peman- tapan, dan 5) Penutup (penguatan dan tindak lanjut pembelajaran).

e. Detail teknis langkah metode tersebut dibagi menjadi 6 sesi. Yaitu: 1) Pem- bukaan dengan doa selama 5 menit, 2) Tadarus bersama selama 15 menit, 3) Muroja‟ah bersama qarib dan ba‟id selama 10 menit, 4) Penanaman

Dalam dokumen zzzzzz (Halaman 135-161)

Dokumen terkait