• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Penawaran Uang Modern

Dalam dokumen View of EKONOMI MONETER (Halaman 90-94)

T EORI PENAWARAN UANG

B. Teori Penawaran Uang Modern

Keynes.

akhirnya tercapai keseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar ini. Karena keseimbangan sub pasar tersebut sangat erat terkait satu sama lain, maka para pelaku tersebut baru berhenti melakukan tindakan-tindakan penyesuaian hanya apabila permintaan dan penawaran di masing-masing subpasar mencapai keseimbangan secara bersama-sama (simultan).

Apabila pada suatu saat, katakan sub pasar uang inti mencapai keseimbangan tetapi sub pasar uang inti mencapai keseimbangan tetapi sub-pasar uang sekunder belum, maka keseimbangan yang sebenarnya belum tercapai. Di sub pasar uang sekunder akan terjadi tindakan- tindakan penyesuaian yang mempengaruhi permintaan dan penawarannya. Perubahan pada permintaan dan penawaran uang sekunder (giral) pasti akan mempengaruhi permintaan dan penawaran uang inti. Jadi sub pasar uang inti yang tadinya sudah seimbang menjadi tidak seimbang, dan tentu kemudian akan ada tindakan-tindakan penyesuaian di sub pasar ini. Proses penyesuaian ini akan terus terjadi (di kedua sub-pasar tersebut) sampai kedua sub pasar tersebut mencapai kesimbangan secara bersama-sama (simultan). Baru apabila keadaan ini tercapai, maka pasar uang secara keseluruhan mencapai keseimbangan yang sesungguhnya (equilibrium).

Kita sebutkan berulang kali di atas, bahwa apabila posisi equilibrium belum tercapai, maka akan terus terjadi proses

"penyesuaian" berupa tindakan-tindakan oleh para pelaku pasar uang.

Apakah sebenarnya bentuk dari tindakan-tindakan ini? Tindakan- tindakan ini tidak lain berupa usaha dari para pelaku tersebut untuk mengubah struktur atau komposisi dari kekayaan yang ia pegang menuju ke arah struktur dan komposisi yang ia inginkan. Apabila kita menggunakan istilah seorang akuntan, apa yang dilakukan pelaku tersebut adalah mengubah nilai pos-pos dalam neracanya, sehingga ia akhirnya mempunyai suatu neraca dengan nilai dari masing- masing pos persis senilai yang ia inginkan. Jumlah total kekayaan sebagai tercermin dalam neracanya tidak bisa ia ubah (kecuali apabila ia menambahnya dengan tabungan dari pendapatannya nanti). Tetapi setiap saat ia selalu bisa, melalui tindakan-tindakannya di pasar uang, mengubah struktur

kekayaannya tersebut. Jadi apabila ia merasa bahwa terlalu banyak uang tunai (pos"kas") yang ia pegang, ia bisa mengurangi jumlah uang tunai yang ia pegang sampai sejumlah yang benar-benar inginkan.

Kelebihan uang tunai tadi bisa ia simpan rekening gironya di bank (jadi menambah pos "giro" dalam neracanya) atau sebagai deposito berjangka (menambah pos "deposito berjangka" dalam neracanya) atau untuk membeli saham (menambah pos "saham" dalam neracanya) atau untuk membeli tanah (menambah pos "tanah" dalam neracanya) atau untuk membeli barang-barang lain (menambah pos "barang-barang"

dalam neracanya. Inilah yang kita maksud dengan mengubah struktur atau komposisi kekayaan di atas. Dan tindakan ini pulalah yang kita maksud dengan tindakan "penyesuaian" tersebut di atas.Tindakan- tindakan semacam ini mempengaruhi permintaan dan penawaran di pasar uang, dan akan berhenti dilakukan apabila semua pelaku dalam pasar uang sudah "puas" dengan struktur dan komposisi neraca (kekayaan) yang mereka punyai (artinya, setiap pos dalam masing- masing neracanya adalah persis senilai yang ia inginkan). Dalam teori moneter kita mempunyai istilah khusus bagi proses penyesuaian komposisi neraca, kita menamakannya proses penyesuaian portofolio atau portofolio adjustment.

Kita ambil sebuah contoh mengenai pengaruh proses penyesuaian portofolio ini di pasar uang. Seandainya pasar uang pada mulanya pada posisi equilibrum, artinya permintaan dan penawaran di kedua sub-pasarnya seimbang dan para pelaku pasar uang cukup "puas"

dengan struktur portofolionya sehingga tidak ada minat untuk melakukan penyesuaian apapun. Kemudian anggap terjadi penambahan penawaran uang inti dari Otorita Moneter kepada masyarakat, misalnya saja karena pemerintah tiba-tiba menaikkan pembelian atau pembelanjaan barang atau karena ada kenaikan gaji pegawai negeri. Pada putaran pertama, tambahan uang inti tersebut akan diterima oleh masyarakat dalam bentuk tambahan uang tunai (kartal) yang mereka pegang. Ini mengganggu equilibrium yang semula sudah dicapai. Masyarakat akan merasa terlalu banyak memegang uang tunai. Katakanlah bahwa tindakan penyesuaian mereka adalah menyimpan kelebihan uang tunai

tersebut pada rekening giro mereka dibank. Ini selanjutnya berarti bahwa cadangan bank menjadi lebih besar daripada sebelumnya. Bank pada gilirannya merasa kelebihan cadangan (uang tunai), dan kemudian rnereka mungkin akan menanamkan kelebihan cadangan tersebut untuk membeli Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Seperti kita ketahui, SBI ini adalah "surat hutang" Bank Indonesia yang memberikan bunga tertentu dengan masa jatuh tempo tertentu pula. Dalam transaksi tersebut, bank menerima SBI dan Bank Indonesia menerima uang tunai. Dalam contoh ini kita lihat bahwa tambahan uang inti yang berawal dari Pemerintah (Otorita Moneter), kembali kepada Bank Indonesia (Otorita Moneter), meskipun tidak seluruhnya. Jadi sebagian (paling tidak) kembali lagi ke sumbernya (suppliernya), yaitu Otorita Moneter. Dalam proses tersebut di atas uang kartal yang dipegang masyarakat tetap, tetapi uang giralnya (saldo rekening gironya) bertambah. Jadi M1 bertambah.

Kita bisa membayangkan skenario yang lain yang lebih kompleks misalnya tambahan uang itu tadi sebagian dipegang sebagai tambahan uang kartal, sebagian dipegang sebagai deposito berjangka, bagian dari tambahan uang itu untuk memenuhi "permintaannya" akan tambahan uang kartal, sebagian untuk memenuhi "permintaannya" akan tambahan uang giral (deposito berjangka) dan sisanya untuk memenuhi

"permintaannya" akan tambahan barang. Jadi struktur portofolio (neraca) mereka telah berubah dalam proses mencapai "keseimbangan" baru.

Selanjutnya perubahan portofolio bank (cadangan bank bertambah) dan juga portofolio penjual barang (uang tunainya bertambah, tapi barangnya berkurang). Selanjutnya ini akan mengundang proses penyesuaian portofolio bank dan penjual barang tersebut. Bank misalnya bisa membeli SBI seperti dalam skenario di atas, atau membeli sedikit SBI, sedikit menambah cadangan (uang tunainya), sedikit membeli obligasi, sedikit memperbesar kreditnya kepada nasabahnya (yang juga merupakan salah satu bentuk "aktiva" yang mungkin dipegang bank). Demikian pula para penjual barang tersebut akan melakukan penyesuaian portofolionya sehingga mencapai struktur yang diinginkan. Tindakan-tindakan penyesuaian portofolio bank dan penjual barang tersebut akan mempengaruhi portofolio Otorita Moneter (dengan pembelian SBI

tersebut), yang mungkin juga akan bereaksi dengan menyesuaikan portofolionya, dan bahkan juga akan mempengaruhi lagi portofolio penerima awal uang inti tadi. Sekali lagi di sini terjadi proses penyesuaian portofolio yang berantai di antara para pelaku pasar uang proses ini akan terus berlanjut sampai masing-masing mencapai struktur portofolio yang persis seperti yang diinginkan. (Teori moneter menyatakan bahwa posisi equilibrium ini akhirnya akan tercapai juga, setelah terjadi banyak kali "putaran" penyesuaian portofolio).

Tambahan uang inti dalam contoh di atas akhirnya akan menambah jumlah uang beredar (M1 dan M2), setelah terjadi banyak kali putaran penyesuaian. Berapa besar tambahan jumlah uang beredar yang akhirnya tercipta tergantung pada sifat dari putaran-putaran penyesuaian tersebut. Biasanya tambahan uang beredar yang akhirnya diakibatkan oleh tambahan uang inti adalah lebih besar daripada tambahan uang inti tersebut. Dengan lain perkataan tambahan uang inti sebesar Rp. 1,- akhirnya akan menambah uang beredar (bank M1 maupun M2) yang lebih besar dari Rp. 1,-. Melalui proses penyesuaian portofolio tersebut sebenarnya telah terjadi semacam "pelipatan" uang beredar, atau terjadi proses multiflier. Proses inilah yang merupakan inti dari teori mengenai penawaran Uang.

Dalam dokumen View of EKONOMI MONETER (Halaman 90-94)