E. Sistematika Penulisan
II. TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisikan tentang tinjauan umum tentang pembunuhan berencana, tinjauan umum tentang justice collaborator, tinjauan umum tentang pertimbangan hakim, dan tinjauan umum tentang vonis ringan.
24 Dr. Lilik Mulyadi, Budi Suharyanto, Sudaryanto, “Perlindungan Hukum Terhadap
Whistleblower dan Justice Collaborator Dalam Upaya Penanggulangan Organized Crime”, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hukum dan Peradilan Mahkamah Agung, Agustus 2013, hlm. 39.
25 Echwan Iriyanto dan Halif, “Unsur Rencana dalam Tindak Pidana Pembunuhan Berencana”, Jurnal Yudisial, Vol. 14, No. 1, April 2021, hlm. 24.
15
III. METODE PENELITIAN
Memuat bahasan mengenai metode penelitian yang digunakan pada skripsi.
Dalam bab ini terdiri dari pendekatan masalah, sumber dan jenis data, penentuan narasumber, prosedur pengumpulan dan pengelolaan data, serta analisis data.
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Memuat hasil penelitian yaitu berupa penyajian dan pemabahasan data yang telah dilakukan saat penelitian. Di dalam hasil penelitan dan pembahasan terdiri dari dasar pertimbangan hakim dalam vonis ringan terhadap justice collaborator dalam pembunuhan berencana pada putusan Nomor 798/Pid.B/2022/PN. Jkt. Sel.
V. PENUTUP
Bab ini memuat kesimpulan yang didasarkan pada hasil analisis dan pembahasan penelitian serta berbagai saran sesuai dengan permasalahan yang ditujukan. Dalam bab ini berisi mengenai garis besar pemikiran terhadap permasalahan dalam penulisan.
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Pembunuhan Berencana
Pengertian pembunuhan berencana secara yuridis terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau yang selanjutnya disebut KUHP. Hal ini tercantum dalam Pasal 340 KUHP yang menyatakan, “Barangsiapa sengaja dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.”26
Pembunuhan berencana berarti kejahatan dengan merampas nyawa orang lain dengan perencanaan lebih dahulu (voorbedachte rade) mengenai waktu serta cara melakukan nya agar mencapai keberhasilan. Untuk memenuhi unsur
“merampas nyawa orang lain” maka perlu ada perbuatan yang menghilangkan nyawa orang lain meskipun akibat dari perbuatan tersebut akan timbul kemudian.27 Pembunuhan berencana tergolong pada tipe pembunuhan yang paling serius dan tidak biasa sebab ada perencanaan terlebih dahulu serta pelaku yang dapat dijatuhi hukuman mati. Pasal 340 KUHP unsur-unsur yang dapat disimpulkan ialah :
26 Veronica Pratiwi, Nursiti, “Tindak Pidana Pembunuhan Berencana Yang Dilakukan Bersama- sama”, JIM Bidang Hukum Pidana, Vol. 2, No. 4, November 2018, hlm. 680.
27 Wahyu Adnan, Kejahatan Terhadap Tubuh dan Nyawa, Bandung: Gunung Aksara, 2007, hlm.
45.
17
a. Unsur “barang siapa”
Unsur “barang siapa” disini ialah subjek hukum yang berarti ialah manusia (naturelijke personel) itu sendiri yang dapat dianggap sebagai subjek strafbaarfeit.
b. Adanya unsur “kesengajaan” atau dolus premidiatatus.
Kesengajaan yang dimaksud disini ialah menghendaki suatu terjadinya tindak pidana dengan perencanaan lebih dahulu (met voor bedachte rade).28 Kesengajaan itu muncul karena adanya keinginan untuk melakukan serta kesengajaan itu harus tampak saat itu juga.
Kesengajaan dalam teori kehendak berarti kesengajaan itu ditujukan pada terwujudnya perbuatan.29 Dikatakan adanya unsur kesengajaan apabila terdakwa memenuhi unsur kesengajaan dengan melakukan tindakan dengan disengaja serta menyadari kelakuan nya.30 Kesengajaan diklasifikasikan menjadi dua (dolus eventualis), yaitu kesengajaan sebagai kepastian dan kesengajaan sebagai kemungkinan. Kesengajaan sebagai kepastian tidak akan menimbulkan kesulitan kecuali ia adalah kesengajaan sebagai kemungkinan.
Syarat yang harus dipenuhi untuk memenuhi unsur kesengajaan tersebut, yaitu:
1) Terdakwa mengetahui kemungkinan akibat keadaan yang merupakan delik;
2) Sikapnya terhadap kemungkinan itu apabila benar ada, maka akan berani dalam menghadapi resikonya.31
28 Tri Andrisman & Firganefi, Delik-Delik Tertentu di dalam KUHP, Lampung, hlm. 183.
29 Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, Jakarta: Rineka Cipta, 2008, hlm. 186.
30 Ibid. hlm. 188.
31 Ibid. hlm. 190.
Kesengajaan dalam hukum pidana tergolong menjadi 3 bentuk, antara lain:
1) Kesengajaan sebagai maksud (opzet als oogmerk) merupakan kesengajaan yang diperbuat oleh si pelaku yang memang benar merupakan tujuan utama nya dan tujuan itu dapat dipertanggungjawabkan oleh pelaku. Kesengajaan sebagai maksud berarti pelaku benar-benar melakukan tindakan disengaja dalam kondisi menyadari kelakuan nya.
2) Kesengajaan sebagai kepastian atau keharusan (opzet met zekerheidsbewustzjin) merupakan perbuatan yang dilakukan pelaku dimana tidak bertujuan untuk mencapat akibat yang telat diperbuat tetapi pelaku tahu akibat yang akan mengikuti perbuatannya.32
3) Dolus eventualis ialah kesengajaan dengan kemungkinan yang mana dengan dilakukan perbuatan tersebut maka diyakini bahwa akan ada kemungkinan timbulnya akibat lain.
Kesengajaan dikenal dengan 2 (dua) teori yaitu teori kehendak (wilstheorie) dan teori pengetahuan/membayangkan (voorstelling-theorie).33 Teori ini menganggap bahwa arti sengaja ialah melakukan suatu tindak pidana apabila ia memang menghendaki perbuatan nya sendiri. Teori ini menganggap arti sengaja berarti ia membayangkan akan timbulnya perbuatan yang akan dilakukan.
32 https://konspirasikeadilan.id/artikel/unsur-kesengajaan-dalam-hukum-pidana0463. Diakses pada tanggal 1 Agustus 2023 Pukul 21.18 WIB.
33 Marsudi Utoyo, Kinaria Afriani, Rusmini dan Husnaini, “Sengaja dan Tidak Sengaja Dalam Hukum Pidana Indonesia”, Lex Librum, Vol. 7, No. 1, Desember 2020, hlm. 79.
19
c. Adanya unsur “merampas nyawa orang lain”
Pembunuhan berencana merupakan salah satu kejahatan dengan cara merampas nyawa manusia lain atau kata lain membunuh setelah melakukan perencanaan terlebih dahulu untuk menunjang keberhasilan akan pembunuhan itu sendiri. Unsur unsur yang dapat “merampas nyawa orang lain” ialah : 1) Adanya suatu perbuatan yang dapat menghilangkan nyawa orang lain;
2) Ada kesengajaan yang terpaku pada kematian orang lain;
3) Kesegeraan untuk merampas nyawa setelah muncul niat untuk membunuh;
4) Keterlibatan karena adanya “orang lain” sehingga membuktikan bahwa merampas nyawa orang lain merupakan perbuatan yang tepat dilakukan.
d. Ada waktu ketenangan pikiran
Ada waktu ketenangan pikiran saat muncul pemikiran untuk melakukan pembunuhan dan saat melakukan pembunuhan.34 Hal ini berbeda dengan pemikiran untuk membunuh yang muncul karena amarah, maka tidak ada perencanaan yang dilakukan terlebih dahulu. Ketenangan pikiran adalah waktu yang diperlukan untuk memikirkan perbuatan yang akan dilakukan.
Diperlukan tenggang waktu berpikir secara tenang oleh pelaku merupakan salah satu karakteristik dalam pembunuhan berencana. Pada dasar nya, tenggang waktu tersebut merupakan hal yang relatif sehingga persoalan utama dalam menentukan apakah ada waktu ketenangan pikiran dilihat dari tersedianya waktu untuk berpikir dengan tenang. Tersedianya waktu tersebut tidak boleh merujuk pada waktu yang terlalu singkat.35 Perbedaan pembunuhan berencana dengan pembunuhan biasa ialah keputusan untuk menghilangkan
34 Tri Andrisman, Asas dan Dasar Aturan Umum Hukum Pidana Indonesia Serta Perkembangan dalam Konsep KUHP 2013, Lampung: Anugrah Utama Raharja (AURA), 2013, hlm. 183.
35 Salvadoris Pieter dan Erna Dwita Silambi, “Pembuktian dalam Tindak Pidana Pembunuhan Berencana Ditinjau dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana”, Jurnal Restorative Justice, Vol.
3, No. 1, Mei 2019, hlm. 81.
nyawa seseorang dengan pelaksanaan nya menjadi satu, sedangkan pembunuhan direncanakan diperlukan waktu untuk berpikir secara tenang dan matang mengenai pelaksanaannya serta berada di bawah hawa nafsu.36
Pembunuhan berencana atau yang direncanakan itu adalah perbuatan yang dilakukan secara sengaja karena adanya perencanaan terlebih dahulu. Pelaku dapat memikirkan apakah pembunuhan itu harus dilakukan atau tidak perlu dilakukan. Ada 3 (tiga) syarat yang perlu dipenuhi dalam perbuatan menghilangkan nyawa orang lain, yaitu :
1. Adanya wujud nyata perbuatan dari pelaku;
2. Adanya kematian yang disebabkan dari perbuatan pelaku tersebut;
3. Adanya hubungan sebab akibat antara perbuatan pelaku dengan kematian yang disebabkan oleh pelaku.
Pembunuhan berencana merupakan kejahatan yang melanggar asas kemanusiaan yang adil adan beradab. Diperlukan perencanaan yang matang dalam melakukan pembunuhan berencana ini, salah satunya diperlukan akal licik, alat yang memadai, serta waktu yang tepat untuk melakukan nya.
Seseorang yang melakukan suatu perbuatan pidana harus melakukan pertanggungjawaban pidana juga dan begitu sebaliknya, seseorang yang tidak melakukan suatu perbuatan pidana maka ia tidak bisa dilakukan suatu pertanggung jawaban pidana, hal ini mengacu pada penggunaan asas legalitas yang terdapat dalam Pasal 1 KUHP yang berbunyi, “tiada suatu perbuatan
36 Faud Brylian Yanri, “Pembunuhan Berencana”, Jurnal Hukum dan Keadilan, Vol. 4, No. 1, Maret 2017, hlm. 38.
21
pidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundang-undangan yang telah ada, sebelum perbuatan pidana dilakukan.” Seseorang yang dapat dimintakan pertanggungajawaban nya ialah seseorang yang mempunyai akal sehat dimana ia dapat membedakan mana yang baik mana yang tidak, mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak diperbolehkan.37
Ancaman bagi pelaku pembunuhan berencana sesuai dengan apa yang tercantum dalam Pasal 340 KUHP yaitu, “Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun”.
Penjatuhan hukuman mati bagi sebagian orang diakui sangat berat,38 oleh karena itu beberapa ahli yang setuju dengan pidana mati mengemukakan syarat-syarat, yaitu :
1) Hukuman mati sebagai suatu alternatif yang berupa ancaman;
2) Hukuman mati hanya diperbolehkan dijatuhkan apabila ada kesalahan dapat dibuktikan.