• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tipe, otoritas dan aktor dalam layanan publik

Pemerintah, Swasta dan Masyarakat sebagai Aktor Pemberi Layanan Publik

BAGAN 2.2. Tipe, otoritas dan aktor dalam layanan publik

Layanan Publik

Administratif Monopoli Pemerintah

Barang

Jasa

Non Monopoli

Pemerintah Swasta Masyarakat

Tipe Otoritas Aktor

25 Jika layanan jasa administratif menjadi monopoli pemerintah maka untuk beberapa layanan barang dan jasa publik telah diserahkan kepada sektor privat dan sektor ketiga. Sebagai contoh, Sekolah dan Rumah Sakit sebagai jasa publik maupun jalan raya yang merupakan fasilitas umum, pengadaannya dan pemeliharaannya telah diserahkan ke sektor swasta. Berbeda dengan layanan barang dan jasa publik, layanan administratif yang menjadi fokus dari studi ini menjadi monopoli pemerintah. Artinya, pemberian layanan administratif hanya bisa dilakukan oleh pemerintah karena pemerintah menjadi pemegang lisensi tunggal. Warga yang menginginkan layanan administratif berupa ijin, misalnya, hanya bisa mendapatkannya dari institusi pemerintah yang memiliki otoritas untuk memberikannya.

Jadi, dari tiga jenis output layanan publik (administratif, barang dan jasa), ada yang bersifat monopoli dan ada yang bukan monopoli pemerintah (BAGAN 2.2). Layanan yang menjadi monopoli pemerintah adalah layanan administratif. Sektor privat atau bisnis (sering disebut pihak kedua) dan masyarakat atau LSM (sering disebut sektor ketiga) belum diberi otoritas untuk memberikan layanan administratif. Oleh karena itu konsumen tidak memiliki pilihan atau peluang memilih untuk mendapatkan layanan administratif terbaik. Baik atau buruk, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka atas layanan yang diberikan oleh pemerintah, konsumen tetap harus mendapatkan layanan tersebut dari pemerintah. Untuk layanan yang bersifat monopolistik, jika warga tidak puas atas layanan yang diberikan oleh instansi pemerintah, maka warga tidak bisa bertindak melalui mekanisme exit, kecuali hanya bisa mengekspresikan ketidakpuasannya melalui mekanisme voice, mengekspresikan dalam cara yang sistematik preferensi mereka dan masalah-masalah yang mereka terima berkenaan dengan pemberian layanan publik.

Jadi, ciri administrasi publik dalam memberikan layanan publik adalah sebagai berikut:

1. Administrasi publik memberikan layanan bersifat lebih urgen.

Urgensi layanan ini karena menyangkut kepentingan publik di semua lapisan yang tidak akan jalan jika dilakukan oleh organisasi sektor

26

kedua dan ketiga. Sebagai contoh adalah lalulintas, kesehatan, keamanan, pertahanan dan semua layanan yang menyangkut kepentingan dan hajat hidup orang banyak.

2. Administrasi publik pada umumnya memberikan layanan bersifat monopoli dan semi monopoli. Contoh layanan bersifat monopoli ialah keamanan, pertahanan, peradilan dan layanan yang bersifat administratif. Administrasi publik memberikan layanan administatif seperti surat ijin, paspor, dll. Jenis dan bentuk layanan ini tidak bisa dibagikan kepada organisasi lain bukan pemerintah. Adapun layanan bersifat semi monopoli dapat diserahkan kepada organisasi lain bukan pemerintah seperti layanan pendidikan, kesehatan, perhubungan dan transportasi, dsb.

3. Administrasi publik (dan administrator publik) memberikan layanan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu perubahan, penambahan atau perluasan dan pengurangan kepada awarga pada umumnya sulit atau lambat menyesuaikan diri pada tuntutan warga.

4. Administrasi publik dalam memberikan layanan tidak dikendalikan atau tidak tergantung pada pasar. Karena itu pemberian layanan publik tidak berdasarkan pada pertimbangan untung rugi, tetapi ditentukan oleh kewajiban dan pengabdian kepada masyarakat.

5. Administrasi publik memberikan layanan profesional dan mementingkan kepentingan publik yang mengutamakan atau mendahulukan keadilan dan tidak memihak (Miftah Thoha. 2011:

35-36).

Aparatur Sipil Negara Sebagai Aktor Pemberi Layanan Publik

Aktor layanan publik yang tergolong sebagai aparatur sipil negara dapat digolongkan atas penyelenggara dan pelaksana. Baik dalam UU No.

25/2009 maupun Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2012 menjelaskan bahwa Penyelenggara Layanan Publik yang selanjutnya disebut Penyelenggara adalah setiap institusi penyelenggara negara,

27 korporasi, lembaga independen yang dibentuk berdasarkan Undang- Undang untuk kegiatan layanan publik, dan badan hukum lain yang dibentuk semata-mata untuk kegiatan layanan publik. Sementara pelaksana layanan publik yang selanjutnya disebut pelaksana adalah pejabat, pegawai, petugas, dan setiap orang yang bekerja di dalam organisasi penyelenggara yang bertugas melaksanakan tindakan atau serangkaian tindakan layanan publik.

Penyelenggara Layanan Publik

Penyelenggara layanan publik meliputi:

a. institusi penyelenggara negara yang terdiri dari lembaga negara dan/atau lembaga pemerintahan dan/atau Satuan Kerja Penyelenggara di lingkungannya;

b. korporasi berupa Badan Usaha Milik Negara dan/atau Badan Usaha Milik Daerah dan/atau Satuan Kerja Penyelenggara di lingkungannya;

c. lembaga independen yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang dan/atau Satuan Kerja Penyelenggara di lingkungannya; atau

d. badan hukum lain yang menyelenggarakan Layanan Publik dalam rangka pelaksanaan Misi Negara. Badan hukum ini meliputi:

a) badan hukum yang menyelenggarakan Layanan Publik berdasarkan subsidi dan/atau bantuan sejenisnya sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan; atau

b) badan hukum yang menyelenggarakan Layanan Publik berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria atau berdasarkan izin sesuai bidang layanan bersangkutan sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.

Penyelenggara dan seluruh bagian organisasi penyelenggara bertanggung jawab atas ketidakmampuan, pelanggaran, dan kegagalan penyelenggaraan layanan. Organisasi penyelenggaraan layanan publik sebagaimana maksud di atas, sekurang-kurangnya meliputi:

a. pelaksanaan layanan;

b. pengelolaan pengaduan masyarakat;

c. pengelolaan informasi;

28

d. pengawasan internal;

e. penyuluhan kepada masyarakat; dan

f. layanan konsultasi. (Pasal 8 UU No 25 Tahun 2009)

Penyelenggara dapat melakukan kerja sama dalam bentuk penyerahan sebagian tugas penyelenggaraan layanan publik kepada pihak lain, dengan syarat kerja sama tsb tidak menambah beban bagi masyarakat. Ketentuan-ketentuan dalam kerjasama tsb adalah:

a. perjanjian kerja sama penyelenggaraan layanan publik dituangkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan dalam pelaksanaannya didasarkan pada standard layanan;

b. penyelenggara berkewajiban menginformasikan perjanjian kerja sama kepada masyarakat;

c. tanggung jawab pelaksanaan kerja sama berada pada penerima kerja sama, sedangkan tanggung jawab penyelenggaraan secara menyeluruh berada pada penyelenggara;

d. informasi tentang identitas pihak lain dan identitas penyelenggara sebagai penanggungjawab kegiatan harus dicantumkan oleh penyelenggara pada tempat yang jelas dan mudah diketahui masyarakat; dan

e. penyelenggara dan pihak lain wajib mencantumkan alamat tempat mengadu dan sarana untuk menampung keluhan masyarakat yang mudah diakses, antara lain telepon, pesan layanan singkat (short message service (sms)), laman (website), pos-el (e-mail), dan kotak pengaduan.

Selain kerjasama di atas, penyelenggara juga dapat melakukan kerja sama tertentu dengan pihak lain untuk menyelenggarakan layanan publik. Kerja sama tertentu merupakan kerja sama yang tidak melalui prosedur seperti yang dijelaskan diatas, dan penyelenggaraannya tidak bersifat darurat serta harus diselesaikan dalam waktu tertentu, misalnya pengamanan pada saat penerimaan tamu negara, transportasi pada masa liburan lebaran, dan pengamanan pada saat pemilihan umum. (Pasal 13 UU No 25 Tahun 2009)

29

Pelaksana Layanan Publik

Administrator dan manajer publik serta aparatur birokrasi yang memberikan layanan publik disebut sebagai pelaksana layanan publik atau pelayan publik (public servant). Tetapi walaupun layanan publik menjadi tugas pokok dan fungsi utama yang harus dilaksanakan oleh pemerintah namun pelaksanaannya dapat melibatkan dua stakeholder lainnya yaitu swasta atau organisasi bisnis (business organization) dan warga atau organisasi nirlaba (non-for-profit organization).

30

31

Bab 3