• Tidak ada hasil yang ditemukan

0717PS2 B131200346 (2)

N/A
N/A
Risa Anggraini

Academic year: 2024

Membagikan "0717PS2 B131200346 (2)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

INTERNALISASI NILAI-NILAI DALAM PANCASILA UNTUK MENUMBUHKAN JIWA NASIONALISME DALAM MULTIKULTURAL DI LINGKUNGAN

MAHASISWA

Nama/NIM

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2020

(2)

RINGKASAN

Secara historis, pendidikan telah memainkan peran penting dalam mendorong rasa nasionalisme di kalangan masyarakat Indonesia maupun mahasiswa. Pendidikan, khususnya pendidikan kewarganegaraan, saat ini memiliki peran yang strategis dan penting dalam melestarikan, meningkatkan, dan mentransformasikan ideologi negara dan nilai-nilai nasionalisme kepada generasi muda. Dalam era globalisasi, pendidikan kewarganegaraan memiliki misi sebagai pendidikan politik, pendidikan nilai, pendidikan nasionalisme, pendidikan demokrasi, pendidikan multikultural, dan pendidikan resolusi konflik. Pendidikan kewarganegaraan harus dimaknai dalam tafsir yang maksimal yaitu mengajarkan peserta didik untuk secara kritis dan analitis menyelesaikan masalah sosial dan mengimplementasikan nilai- nilai ideologi negara dan kebangsaan. Oleh karena itu, pendidikan kewarganegaraan tidak hanya diajarkan sebagai transmisi kewarganegaraan tetapi juga diajarkan sebagai inkuiri reflektif.

(3)

DAFTAR ISI

RINGKASAN i

DAFTAR ISI ii

BABI. PENDAHULUAN 1

BAB II. KAJIAN PUSTAKA 3

BAB III. PEMBAHASAN 5

A. Pancasila Dapat Menumbuhkan Jiwa Nasionalisme 5

B. Strategi yang tepat untuk menginternalisasikan nilai-nilai dasar Pancasila dan nasionalisme pada masa sekarang

6

BAB IV. Kesimpulan 8

DAFTAR PUSTAKA 9

ii

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebagian kecil bangsa Indonesia sudah mulai bersentuhan dengan pendidikan moderen pada pertengahan abad ke-19, sedikit demi sedikit, terbuka wawasan berfikir bangsa Indonesia.

Dari kalangan rakyat Indonesia terdidik yang jumlahnya masih terbatas itu rasa kebangsaan atau nasionalisme dan kesadaran untuk bersatu dalam perjuangan mulai muncul dan disebarluaskan. Pendidikan ternyata begitu besar pengaruhnya untuk membuka fikiran dan kesadaran akan rasa persatuan, rasa kebangsaan, dan rasa kecintaan pada tanah air. Kalangan terdidiklah yang mampu merintis rasa kebangsaan atau nasionalisme ini pada masa Kebangkitan Nasional 1908. Di awal abad ke-20, dapat dikatakan fase pertama tumbuhnya nasionalisme bangsa Indonesia. Kaum terdidik lebih menegaskan rasa nasionalisme itu pada Sumpah Pemuda 1928, serta semakin mengukuhkannya melalui Proklamasi Kemerdekaan 1945.

Saat-saat yang sangat penting di sekitar Proklamasi Kemerdekaan adalah ditetapkannya Pancasila sebagai dasar negara bagi negara kebangsaan Republik Indonesia. Pancasila yang saat itu merupakan kesepakatan politik yang luhur dari berbagai komponen bangsa mampu mewadahi nilai-nilai nasionalisme dan nilai-nilai dasar lainnya. Di era global sekarang ini, ketika kita sekarang sudah memasuki seratus tahun Kebangkitan Nasional dan enam puluh tiga tahun merdeka, beberapa pertanyaan pun muncul, apakah pendidikan masih relevan untuk menjaga perannya dalam mengaktualisasikan nilai-nilai dasar Pancasila? Apakah Pancasila dapat menumbuhkan, memelihara, dan meningkatkan rasa kebangsaan atau nasionalisme? Dan strategi apakah yang tepat untuk menginternalisasikan nilai-nilai dasar Pancasila dan nasionalisme pada masa sekarang ini?

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dibuat, rumusan masalah dari makalah ini yaitu:

1. Apakah Pancasila dapat menumbuhkan, memelihara, dan meningkatkan rasa kebangsaan atau nasionalisme dalam perbedaan yang ada atau kondisi multikultural?

2. Apakah strategi yang tepat untuk menginternalisasikan nilai-nilai dasar Pancasila dan nasionalisme pada masa sekarang terutama di lingkungan mahasiswa?

(5)

C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dibuat, tujuan penulisannya yaitu:

1. Untuk mengetahui jika pancasila dapat menumbuhkan, memelihara, dan meningkatkan rasa kebangsaan atau nasionalisme dalam perbedaan yang ada atau kondisi multikultural

2. Untuk mengetahui strategi yang tepat untuk menginternalisasikan nilai-nilai dasar Pancasila dan nasionalisme pada masa sekarang terutama di lingkungan mahasiswa

D. Manfaat

Manfaat yang dapat diperoleh dari penyusunan makalah ini yaitu:

1. Untuk meningkatkan informasi di dunia ilmu pengetahuan terutama dalam hal studi literatur, baik bagi penulis maupun pembaca dan masyarakat luas.

2. Untuk mengetahui internalisasi nilai-nilai pancasila dalam menumbuhkan jiwa nasionalisme.

2

(6)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Nasionalisme berasal dari kata “nation‟ yang berarti bangsa. Terkadang kata

“nasionalisme” itu sendiri telah sering disalahartikan oleh masyarakat. Nasionalisme sering diartikan sebagai sebagai paham chauvinisme yang berarti paham yang merendahkan bangsa lain dan menjunjung tinggi bangsa sendiri dengan cara yang berlebihan. Persepsi yang salah tentang kata “nasionalisme” perlu mendapat tanggapan dari masyarakat itu sendiri karena nasionalisme dapat menghantarkan dan menjadikan suatu bangsa tersebut menjadi bangsa yang besar. Seperti pepatah mengatakan “Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa-jasa pahlawannya”. Pepatah tersebut menjelaskan arti kata “nasionalisme” yang sebenarnya, apapun tantangan dan hambatanya bangsa dan negara sendiri yang utama.

Nasionalisme yang benar mengutamakan kepentingan nasional tanpa mengabaikan tanggung jawab global.

Wahab (1996) menyebutkan bahwa setelah 63 tahun merdeka dan seratus tahun kebangkitan nasional, dan selama ini kita masih menghadapi berbagai tantangan terkait dengan upaya penerapan nilai-nilai inti pancasila dan nasionalisme dalam Bangsa Indonesia. Pertama, nilai-nilai Pancasila tampaknya tidak berdasar, tidak dihargai dengan baik oleh masyarakat Indonesia. Pancasila seakan-akan hanya sebuah simbol yang tidak diimplementasikan baik di tataran bernegara maupun kehidupan publik. Kedua, kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda di era globalisasi ini sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya eksternal atau luar, sehingga banyak pandangan dan perilaku yang tidak sesuai dengan nilai- nilai Pancasila. Ketiga, ada yang meyakini bahwa nilai-nilai nasionalisme saat ini sedang mengalami erosi, terutama di kalangan generasi muda.

Para pendukung pemahaman tersebut juga menolak demokrasi sebagai sistem pemerintahan yang dianggap baik dan bagaimanapun juga tidak melihat Pancasila sebagai ideologi yang penting dan tepat bagi bangsa kita. Pemahaman ini berkembang tidak hanya di masyarakat, tetapi juga di kalangan mahasiswa perguruan tinggi. Hal tersebut dapat menyebabkan menurunnya jiwa nasionalisme dalam diri masyarakat maupun generasi muda, karena lunturnya akan kepercayaan pada Pancasila.

(7)

Pancasila sebagai ideologi negara telah didukung oleh para pendiri bangsa sejak tahun 1945. Namun, nilai-nilai pancasila tidak serta merta berarti telah diinternalisasikan oleh bangsa Indonesia. Nyatanya, untuk beberapa waktu, Pancasila tampaknya hanya merupakan ekspresi simbolik kenegaraan tanpa perwujudan yang jelas baik dalam kehidupan bernegara maupun publik. Interpretasi Pancasila terkadang berubah tergantung pada kelompok dan bahkan pada kekuatan politik saat ini.

Upaya internalisasi nilai-nilai Panchasila dilakukan pada masa pemerintahan Presiden Sukarno pada tahun 1960-an sebagai bagian dari pembangunan bangsa dan karakter. Upaya tersebut dilakukan untuk bangsa Indonesia sesuai dengan visi dan misi politik para penguasa saat itu. Jadi, materi yang diberikan tidak hanya menyangkut Panchashila dan UUD 1945, tetapi juga materi yang mencerminkan pandangan politik penguasa saat itu. Upaya untuk menggelorakan semangat nasionalisme sangat besar, sehingga Azumardi Azra dipandang sebagai fase kedua kebangkitan nasionalisme bangsa Indonesia. Upaya pembangunan bangsa dan karakter tersebut pada saat ini tidak hanya untuk masyarakat luas secara keseluruhan, tetapi juga didorong melalui pendidikan formal, seperti mata pelajaran masyarakat sipil. Sejarah menunjukkan bahwa pada periode selanjutnya, yaitu pada era Orde Baru, tindakan rezim Orde Lama dipandang sebagai upaya sugesti.

4

(8)

BAB III PEMBAHASAN

Pancasila dapat Menumbuhkan Jiwa Nasionalisme

Pancasila, pasca runtuhnya masa Orde Baru, kini dipandang sebelah mata oleh publik.

Hal ini disebabkan adanya penyimpangan yang dilakukan oleh pemerintah dan pelanggaran nilai-nilai Pancasila. Penyimpangan terbesar dan tersulit dari pemberantasan adalah masalah KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), masalah yang tampaknya telah menjadi penyakit yang mengakar di Indonesia. KKN diselenggarakan karena kurangnya 6 indera nasionalisme bangsa Indonesia dan juga karena praktek pancasila yang tidak benar. Sebagai bangsa yang baik, harus mampu menentukan mana yang baik dan buruk. Dengan kata lain tidak melanggar nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Bangsa yang baik juga harus mampu memisahkan kepentingan pribadi dan kelompok dengan kepentingan yang sama, yaitu kepentingan bersama harus diutamakan. Namun dalam kehidupan sehari-hari, sikap mengutamakan kepentingan bersama sangat sulit dan hampir tidak mungkin dihilangkan, karena masalah pribadi, persahabatan, pergaulan dan hubungan darah adalah hubungan yang erat bahkan dapat mengalahkan rasa nasionalisme dalam hubungannya dengan bangsa Indonesia. 

Pancasila yang sudah lama berdiri sebagai dasar negara dan sejak nenek moyang kita dijadikan sebagai pedoman hidup harus dijadikan acuan bagi bangsa Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Demikian pula bagi generasi muda diharapkan Pancasila yang sudah mulai kehilangan pamornya di kalangan generasi muda kembali pada kejayaannya jika generasi muda mulai mengenal dan memahami fungsi pancasila dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan generasi muda mulai memudar. Hal ini terbukti pada banyak generasi muda yang menganggap bahwa budaya Barat lebih modern daripada budaya sendiri. Generasi muda, terutama di kalangan mahasiswa, mengikuti budaya Barat, bukan budaya mereka sendiri. Hal ini terlihat dari cara Anda berperilaku, berpakaian, dan berbicara dengan gaya hidup yang cenderung meniru budaya lain daripada budaya mereka sendiri. Hal ini terjadi hampir di seluruh pelosok tanah air, tidak hanya di kota-kota besar, tetapi juga di pelosok desa. 

Pancasila digunakan sebagai pedoman bagi generasi muda untuk bertingkah laku dan bertutur kata sesuai norma Pancasila. Kita sering mendengar demonstrasi anarkis yang dilakukan oleh mahasiswa atas nama perjuangan mengatasnamakan rakyat yang berujung pada rusaknya institusi negara, pembakaran mobil dan sebagainya. Ada juga kerusuhan di pertandingan sepak bola, yang diselenggarakan oleh penggemar masing-masing tim, tidak

(9)

senang dengan kekalahan tim mereka. Dan juga perkelahian mahasiswa masih berlangsung di masyarakat Indonesia.

Melihat kasus di atas, sebenarnya ada kesamaan masalah utama yang menyebabkan semua kejadian tersebut, yaitu melindungi apa yang disukai. Mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa karena ingin mengubah tatanan yang salah atau tidak setuju dengan kebijakan pemerintah yang dianggap tidak sesuai dengan rakyat, keadilan dan lain-lain. Mahasiswa ingin melindungi masyarakat karena kecintaannya pada bangsanya, sedangkan suporter olahraga huru hara karena ketidakadilan terhadap wasit dan sebagainya, sehingga tim mereka kalah, itu wujud kecintaan kepada tim, perlindungan tim, untuk yang mana hakim diperlakukan tidak adil.

Sedangkan perkelahian antar pelajar, warga, dan lainnya juga dimotivasi oleh pertimbangan untuk "melindungi" apa yang "dicintai". Hal ini membuktikan bahwa nilai-nilai dalam Pancasila mendorong tumbuhnya rasa nasionalisme untuk terus berbuat baik agar persatuan dan kesatuan tetap terwujud.

Strategi yang tepat untuk menginternalisasikan nilai-nilai dasar Pancasila dan nasionalisme pada masa sekarang

Pancasila sebagai ideologi negara telah disepakati oleh the founding fathers sejak tahun 1945. Namun nilai-nilai Pancasila tidak berarti telah serta merta terinternalisasi dalam diri bangsa Indonesia. Bahkan, untuk beberapa lama, Pancasila sepertinya hanya menjadi ungkapan simbolis kenegaraan tanpa jelas implementasinya, baik dalam kehidupan kenegaraan maupun kemasyarakatan. Penafsiran Pancasila pun kadang menjadi bermacam-macam tergantung golongannya bahkan tergantung pada arus politik yang berkuasa.

Upaya menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila telah dilakukan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno di tahun 1960- an, dalam kerangkan nation and character building. Upaya ini dilakukan untuk mengIndonesiakan orang Indonesia yang disesuaikan dengan visi dan misi politik penguasa pada masa itu. Oleh karena itu, bahanbahan yang diberikan pun bukan hanya tentang Pancasila dan UUD 1945, tetapi juga bahanbahan yang berisi pandang-an politik penguasa masa itu.

Pada masa saat ini, internalisasi Pancasila tetap perlu dilakukan dengan mendukung dan mendorong berkembangnya pengajaran pendidikan kewarganegaraan (PKN) dmaupun dalam perguruan tinggi. Mata kuliah yang mengemban pembinaan mahasiswa untuk menjadi warga negara yang baik dan Pancasilais, juga mengalami pengecilan peran. Secara formal, mata kuliah Pendidikan Pancasila pada sebagian besar perguruan tinggi, dihilangkan dan disatukan dengan mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Dengan demikian, sebenarnya

6

(10)

pada masa ini dalam kurikulum formal baik di jenjang persekolahan maupun perguruan tinggi, upaya internalisasi nilai-nilai Pancasila, termasuk nilai-nilai nasionalisme, mengalami penurunan intensitas.

(11)

BAB IV KESIMPULAN

Secara historis, pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam menumbuhkan kesadaran kebangsaan atau nasionalisme pada bangsa Indonesia. Pendidikan pada saat ini, juga masih tetap diharapkan memainkan peran strategis dalam membinakan dan meningkatkan nilai-nilai 41 Pancasila dan nilai-nilai nasionalisme kepada generasi muda.

PKn, sebagai mata pelajaran yang memegang peranan penting, baik di tingkat persekolahan maupun perguruan tinggi dalam membina nilai-nilai Pancasila dan nasionalisme.

Namun, dalam masa-masa yang lalu, PKn selalu mendapat pengaruh yang kuat dari kepentingan politik, bahkan dapat dikatakan menjadi mandat politik dari penguasa saat itu, sehingga baik misi, orientasi, tujuan, dan materinya sering berubah sesuai dengan perubahan politk yang terjadi. PKn yang diharapkan saat ini perlu memperluas misinya bukan sekedar sebagai pendidikan politik, melainkan juga sebagai pendidikan nilai, pendidikan nasionalisme, pendidikan demokrasi, pendidikan hukum, pendi-dikan multikultural dan pendidikan resolusi konflik. PKn pun perlu menggunakan interpretasi maksimal, yang berarti PKn mesti mengembangkan kemampuan kritis dan reflektif, kemerdekaan fikiran tentang isu-isu sosial, dan kemampuan untuk berpartisipasi secara aktif dalam proses sosial dan politik.

8

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Maftuh, B, 1990, Studi Historis tentang Perkembangan Program Pendidikan umum dalam kurikulum Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas (SMA) Sejak Tahun 1945 sampai dengan Tahun 1984. Thesis yang tidak dipublikasikan. Bandung: PPS IKIP Bandung.

Maftuh, B. dan Sapriya, 2004, “Pembelajaran PKN melalui Peta Konsep,” dalam Jurnal Civicus, Jurusan PKN FPIPS UPI.

Somantri, N. M. 2001. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Wahab, A. A. 1996. Politik Pendidikan dan Pendidikan Politik: Model Pendidikan Kewarganegaraan Indonesia menuju Warganegara Global. Pidato Pengukuhan Guru Besar pada IKIP Bandung.

Referensi

Dokumen terkait

1.. Menampilkan perilaku yang sesuai dengan nilai- nilai Pancasila. Kompetensi Dasar 1.2 Menguraikan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar Negara dan ideologi negara. Tema/Subtema

Menguraikan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara Menunjukkan sikap positif terhadap Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan Menampilkan sikap positif

Para pendiri negara telah sepakat bahwa kemerdekaan bangsa ini diisi dengan nilai-nilai Pancasila. Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara wajib diimplementasikan

Pancasila sebagai ideologi nasional Indonesia merupakan seperangkat nilai dasar yang telah disepakati bersama antar kelompok masyarakat dengan semboyan ―Bhineka

Membekali mahasiswa agar lebih paham tentang Pancasila sebagai ideologi negara dan dasar falsafah negara.. Pancasila sebagai Ideologi

Rumusan Pancasila sebagai ideologi negara adalah Pancasila yang secara definitif disepakati oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV

RE:Diskusi tentang pancasila sebagai ideologi - Pancasila sebagai ideologi negara berarti mempunyai arti yaitu gagasan berdasarkan pemikiran untuk suatu negara, dalam arti pancasila

Diterimanya Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional membawa konsekuensi logis bahwa nilai-nilai pancasila dijadikan landasan pokok, landasan fundamental