• Tidak ada hasil yang ditemukan

BP%20Skill%20Lab%20BLOK%2011 %20revisi%202025%20dr.%20Dedeh%20Sp.M

N/A
N/A
Nadaa

Academic year: 2025

Membagikan "BP%20Skill%20Lab%20BLOK%2011 %20revisi%202025%20dr.%20Dedeh%20Sp.M"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

Edisi ke sepuluh

BUKU PANDUAN KETERAMPILAN

KLINIS SISTEM PENGLIHATAN BLOK 11

Editor:

dr. Dedeh Kurniasih Sp.M

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

2025

(2)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN BUKU PANDUAN KETERAMPILAN KLINIS

SISTEM PENGLIHATAN BLOK XI

Edisi Ke Sembilan

TIM PENYUSUN

Koordinator Kurikulum

dr. Anis Kusumawati, M.Sc., M.Med.Ed

Koordinator Blok dr. Dedeh Kurniasih Sp.M

Kontributor dr. Dedeh Kurniasih Sp.M

Admin Blok Destiko Kurniawan, S.H

TIM BLOK XI SISTEM PENGLIHATAN FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO 2025

(3)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN

(4)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN

(5)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN VISI DAN MISI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

VISI PROGRAM STUDI

Menjadi program studi pendidikan dokter terkemuka di Indonesia tahun 2031 yang menghasilkan lulusan sarjana kedokteran yang Unggul di bidang herbal,

Modern, dan Islami

MISI PROGRAM STUDI

Misi Program Studi Pendidikan Dokter Program Sarjana UMP yaitu:

1. Menyelenggarakan pendidikan kedokteran berlandaskan prinsip dan nilai Al Qur’an dan As Sunnahsehingga menghasilkan sarjana kedokteran yang Unggul di bidang herbal, Modern, dan Islami

2. Melaksanakan penelitian bidang kedokteran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang herbal

3. Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat melalui penerapan ilmu kedokteran di bidang herbal yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat

4. Menyelenggarakan tata kelola program studi pendidikan dokter berbasis Standar Nasional Pendidikan Kedokteran untuk menjadi yang terbaik dan terkemuka di Indonesia tahun 2031

5. Menjalin dan mengembangkan jaringankerjasama di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat dengan lembaga dalam dan luar negeri.

(6)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN DAFTAR ISI

Halaman Cover ... 1

Tim Penyusun ... 2

Visi Misi Program Studi Pendidikan Dokter UMP ... 3

Daftar Isi ... 4

Kata Pengantar ... 5

Peraturan Tata Tertib Skills Lab ... 6

TOPIK I : PENILAIAN EKSTERNAL MATA ... 9

TOPIK II : PEMERIKSAAN PUPIL DAN MEDIA MATA ... 25

TOPIK III : PEMERIKSAAN FUNDUSCOPY ... 31

TOPIK IV : PEMERIKSAAN TEKANAN INTRA OKULAR DAN BUTA WARNA ... 40

TOPIK V : SKILL TERAPEUTIK MATA ... 47

DAFTAR PUSTAKA ... 52

(7)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN KATA PENGANTAR

Blok ini mempelajari berbagai aspek klinik yang berhubungan dengan sistem penglihatan yang terdiri dari kelainan kongenital, infeksi, penyakit degeneratif, tumor, trauma. Kuliah pakar, tutorial, skills lab, dan praktikum merupakan metode yang digunakan untuk memahami Blok ini.

Untuk menunjang pembelajaran pada blok ini dan sesuai dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia, maka diwajibkan seluruh mahasiswa dapat melakukan ketrampilan klinis/ skill’s lab dengan baik, benar dan terampil. Hal ini berguna saat berada di kepaniteraan klinik dan saat menjadi seorang dokter.

Ketrampilan klinis akan diujikan kembali saat pelaksanaan OSCE di tiap semester. Hal ini bertujuan agar ketrampilan /skills yang sudah didapat bisa dipraktikkan.

Diharapkan kepada mahasiswa untuk memahami sistem pengelihatan ini dengan baik sehingga dapat menunjukkan kompetensi yang baik di masa yang akan datang.

Purwokerto, 2025

(8)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN PERATURAN TATA TERTIB SKILLS LAB

A. Ketentuan umum bagi seluruh mahasiswa sebagai berikut :

1. Mahasiswa wajib hadir di ruang Skills Lab 15 menit sebelum waktu skills lab. Terlambat lebih dari 15 menit dilarang mengikuti skills lab.

2. Apabila ada yang tidak hadir, harus memperoleh izin dari instruktur yang mengampu. Apabila sakit harus dibuktikan dengan surat keterangan sakit dari dokter maximal 1x 24 jam (untuk dilampirkan pada daftar presensi mahasiswa). Presentase presensi yang boleh mengikuti ujian minimal dengan kehadiran 100%.

3. Mahasiswa yang berhalangan hadir karena sebab yang dapat dimaklumi (sakit dibuktikan dengan surat keterangan dokter max 1x24 jam,orang tua/ kerabat dekat meninggal dunia, tugas Fakultas/ Universitas dibuktikan dengan surat tugas) wajib mengganti di hari lain dengan berkoordinasi dengan instruktur yang bersangkutan.

4. Mahasiswa wajib memakai jas skills lab, dilengkapi dengan tanda pengenal, memakai dan melepaskan jas skills lab harus diluar ruangan.

5. Mahasiswa wajib memakai sepatu selama skills lab, berpakaian rapi, sopan dan menutup aurat.

6. Dilarang menyalahgunakan pemanfaatan fasilitas yang telah tersedia.

7. Menjaga ketenangan, ketertiban dan kebersihan.

8. Mahasiswa pria berambut pendek disisir rapi dan perempuan mengenakan jilbab.

9. Tidak diperkenankan menggunakan handphone atau alat komunikasi selama pelaksanaan skills lab, handphone atau alat komunikasi lain harap dimatikan.

10. Wajib membawa buku panduan Skills Lab dan menguasai materi (topik keterampilan) yang akan diajarkan.

11. Memperhatikan serta melaksanakan instruksi dan pelatihan yang diberikan oleh instruktur.

(9)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN 12. Jika menggunakan Ruang Skills Lab secara mandiri, harus dengan izin

terlebih dahulu dengan Laboran skills lab.

13. Mahasiswa wajib mengikuti pretest sebelum kegiatan skills lab sesi terbimbing berlangsung.

14. Mahasiswa yang tidak lulus pretes (nilai <70) tetap diperbolehkan mengikuti sesi terbimbing, dengan konsekuensi diberikan tugas tambahan oleh instruktur yang bersangkutan.

15. Mahasiswa yang tidak lulus responsi wajib mengikuti remidi responsi dengan instruktur yang bersangkutan setelah sesi responsi selesai/di lain hari sebelum topik berikutnya berlangsung, dengan nilai maksimal 70.

B. Ketentuan Selama Skills lab :

1. Mahasiswa wajib menjaga attitude, ketertiban, ketenangan dan kebersihan di Ruang Skills Lab.

2. Mahasiswa wajib berperilaku sopan, santun dan saling menghargai antara Mahasiswa dengan Mahasiswa, Mahasiswa dengan dosen, Mahasiswa dengan Laboran Skills Lab.

3. Mahasiswa dilarang merokok, makan dan minum selama melaksanakan kegiatan di area skills lab.

4. Tiap kelompok bergiliran mempelajari tindakan Skills Lab secara berkelompok dengan alokasi waktu yang telah disepakati.

5. Mahasiswa mendapat bimbingan dari asisten dosen yang bertugas pada tindakan Skills Lab yang bersangkutan.

C. Alat

1. Perwakilan masing-masing kelompok mahasiswa (maksimal 3 orang) berkoordinasi dengan laboran skills lab dalam hal peminjaman ruangan dan alat-alat skills lab 30 menit sebelum skills lab dilaksanakan, mengisi form peminjaman alat dan bertanggung jawab terhadap ruangan dan alat-alat yang akan digunakan.

(10)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN 2. Sebelum pelaksanaan Skills Lab, alat disusun di meja praktik sesuai

dengan keterampilan yang akan dipraktikan, minimal 15 menit sebelum praktik dimulai.

3. Pemakaian ruang skills lab harus hati- hati dalam mengoperasikan alat- alat dan manekin, kerusakan/ hilang ditanggung pemakai (kelompok) dengan konsekuensi mengganti sesuai alat yang rusak/ hilang.

4. Pemakaian ruang skills lab harus seijin laboran skills lab (terutama praktik mandiri) dan atau di dampingi instruktur/ pendamping.

5. Setelah selesai menggunakan ruang skills lab, alat-alat dan manekin serta tempat tidur harap dibersihkan dan dirapikan.

6. Setelah selesai melaksanakan Skills Lab, alat – alat skills lab diserahkan kepada Laboran skills lab dalam keadaan sudah bersih dan mengisi form pengembalian alat dan bahan skills lab.

7. Jika terlambat mengembalikan maksimal 30 menit setelah skills lab selesai, dikenakan denda Rp. 5000/item alat.

8. Jika hilang/ rusak mahasiswa (kelompok ) tersebut wajib mengganti barang/ alat sesuai jenis alat yang dihilangkan.

(11)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN A. DAFTAR KETRAMPILAN KLINIS

Daftar keterampilan klinis yang harus dikuasai (SKDI 2019):

No Keterampilan Tingkat kompetensi

Penglihatan

1 Penilaian ketajaman penglihatan 4

2 Penilaian penglihatan bayi dan anak 3

Refraksi

3 Penilaian refraksi subjektif 4

4 Penilaian refraksi objektif (refraktometry, keratometry)

2

Lapang pandang

5 Lapang pandang (confrontation test) 4

6 Lapang pandangn Amsler grid 3

Penilaian eksternal

7 Inspeksi kelopak mata 4

8 Inspeksi kelopak mata dengan eversi kelopak atas

4

9 Inspeksi bulu mata 4

10 Inspeksi konjungtiva tyermasuk forniks 4

11 Inspeksi sklera 4

12 Inspeksi orificium duktus lakrimalis 4

13 Palpasi limfonodus pre-aurikula 4

Posisi mata

14 Penilaian dengan corneal light reflex images (Hirschberg test)

4

15 Penilaian posisi dengan cover uncover test 4

16 Pemeriksaan gerakan bola mata 4

17 Penilaian penglihatan binokuler 4

Pupil

18 Inspeksi pupil 4

19 Penilaian pupil dengan reaksi langsung terhadap cahaya dan konvergensi

4

(12)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN Media

21 Inspeksi segmen anterior dengan transiluminasi (pen light)

4

22 Inspeksi kornea 4

23 Inspeksi kornea dengan fluoresensi 3

24 Tes sensitivitas kornea 4

25 Inspeksi bilik mata depan 4

26 Inspeksi iris 4

27 Inspeksi lensa 4

28 Pemeriksaan dengan slit-lamp 2

Fundus

29 Funduskopi untuk melihat refleks fundus 4 30 Funduskopi untuk melihat pembuluh darah,

papil, makula, retina

4

Tekanan Intraokuler

31 Tekanan intraokuler, estimasi dengan palpasi 4 32 Tekanan intraokuler, pengukuran dengan

indentasi tonometer (Schiotz)

4

33 Tekanan intraokuler, pengukuran dengan aplanasi tonometer atau non-contact tonometer

2

Pemeriksaan oftalmologi lainnya

34 Penentuan refraksi setelah sikloplegik 1 35 Pemeriksaan lensa kotak fundus, gonioskopi 1

36 Pengukuran produksi air mata 1

37 Pengukuran eksoftalmus 1

38 Anel tes 1

39 Pemeriksaan orthoptic 1

40 Perimetri 2

41 Pemeriksaan lensa kontak dengan komplikasi 3 42 Tes penglihatan warna (Iscihara 12 plate) 4

43 Elektroretinografi 1

(13)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN

44 Elektro-okulografi 1

45 Visual evoked potensioal (VEP) 1

46 Fluoresscein angiography(FAG) 1

47 Echographic examination: ultrasonography (USG)

1

(14)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN TOPIK 1. PENILAIAN EKSTERNAL MATA

A. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Tujuan instruksional Umum

Mahasiswa mampu melakukan penilaian eksternal mata.

2. Tujuan Instruksional Khusus Mahasiswa mampu melakukan:

a. Inspeksi suprasilia.

b. Inspeksi silia.

c. Inspeksi palpebra superior et inferior

d. Inspeksi konjungtiva palpebra dengan eversi palpebra superior.

e. Inspeksi konjungtiva forniks f. Inspeksi konjungtiva bulbi

g. Inspeksi orifisium duktus lakrimalis.

h. Inspeksi sklera.

i. Inspeksi bulbus okuli

j. Penilaian posisi kesejajaran bola mata dengan corneal light reflex.

k. Pemeriksaan gerakan bola mata.

l. Palpasi limfonodus pre aurikular.

B. TINJAUAN TEORI

Inspeksi dan penilaian fungsi mata merupakan dua unsur penting pada pemeriksan mata. Berikut ini akan diuraikan teknik- teknik dasar dan khusus secara terperinci.

1. SUPRASILIA

Inspeksi suprasilia/ alis mata

Perhatikan apakah ada kerontokan rambut/ madarosis, apakah terdapat tanda-tanda peradangan seperti: hiperemis, nodul/ massa. Alis dan bulu mata bayi prematur biasanya belum tumbuh. Perhatikan pula alis mata, hilangnya sepertiga lateral alis mata kadang-kadang dijumpai

(15)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN pada miksedema/ kekuangan hormon tiroid. Lakukan inspeksi alis dengan melihat kuantitas, distribusi dan setiap pembentukan skuama pada kulit yang melandasinya. Pada sindrom cornelia delange dan sindroma waardenburg alis sisi kanan dan kiri bertemu di tengah.

2. SILIA

Inspeksi silia/bulu mata

Silia merupakan rambut pendek yang tumbuh di ujung kelopak mata dan berfungsi membantu melindungi mata dengan bertindak sebagai barrier (penghalang).

Perhatikan apakah terdapat trichiasis dan distichiasis, sekret atau krusta. Bulu mata yang panjang dan lentik dapat terdapat pada anak normal, serta pada pasien malnutrisi ataupun penyakit kronik. Trichiasis adalah pertumbuhan bulu mata yang abnormal ke arah dalam bola mata.

Distichiasis adalah kondisi bawaan atau didapat dimana bulu mata tumbuh/ muncul dari kelenjar meibomdi sepanjang lamella posterior tepi kelopak mata.

Gambar: trichiasis palpebra inferior, mata normal, distichiasis, trichiasis

3. PALPEBRA

Perhatikan kesimetrisan palpebra, terutama bila mata terbuka.

Ptosis adalah palbebra superior turun dan tidak dapat terbuka, keadaan tersebut dapat terjadi akibat cedera otak pada persalinan, atau lesi N.

Okulomotorius. Ptosis yang disertai miosis, anhidrosis, mata cekung dan muka pucat disebut syndrome horner (paralisis simpatis servikal), ptosis juga terdapat pada miastenia gravis, amiotonia kongenital.

(16)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN Lagoftalmus adalah kelopak mata yang tidak dapat menutup dengan sempurna, sehingga sebagian kornea tidak dilindungi oleh kelopak mata. Hal ini dapat terjadi akibat kelaianan lokal (sikatriks pada kelopak mata), atau akibat kelumpuhan otot orbikularis okuli. Pada pasien koma, seringkali kedua belah mata tidak tertutup sempurna, disebut sebagai pseudolagoftalmos. Lagoftalmos atau pseudolagoftalmos dapat menyebabkan ulkus kornea.

Gambar: A. mata kanan lagoftalmus, B.mata kiri ptosis

Hemangioma sering ditemukan pada palpebra. Hordeolum ialah infeksi stafilokokus lokal pada tepi palpebra, merah, bengkak dan nyeri berbatas tegas dan terletak pada aspek palpebra. Berbagai infeksi lokal, abses, serta lesi pada kulit dapat mengenai palpebra. Distorsi palpebra juga terjadi pada edema, tumor retrobulbar serta metastasis tumor ganas, misalnya neuroblastoma.

Inspeksi palpebra

Amati palpebra mata kanan dan kiri dengan menggunakan lampu senter. Palpebra normal tampak tenang. Kelainan yang mungkin terjadi antara lain:

a. Udem (bengkak) : trauma, infeksi b. Merah, edema : infeksi

c. Tidak merah, edema : kelainan ginjal

d. Proptosis (menonjol) : tumor, penyakit tiroid

e. Lagoftalmus : tumor

f. Spasme : infeksi, tumor,dll

g. Trikiasis : trakoma

(17)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN 4. GLANDULA LAKRIMALIS

Duktus nasolakrimalis kadang masih belum paten sampai umur beberapa bulan. Bila sampai 6 bulan masih belum terbuka, yang ditandai oleh air mata yang selalu mengalir, perlu dilakukan konsultasi oftalmologik. Epifora adalah produksi air mata yang berlebihan yang disebabkan radang, ulkus kornea, benda asing, atau alergi. Mata yang kering terdapat pada keadaan dehidrasi, defisiensi vitamin A, atau sindrom sjogren.

Inspeksi orifisium duktus lakrimalis

Tes ini akan membantu mengenali penyebab lakrimasi yang berlebihan. Minta pasien untuk melihat ke atas.Lakukan penekanan pada kelopak mata bawah di dekat kantus medialis yang letaknya tepat di sebelah dalam bingkai tulang orbita. Dengan demikian, anda sedang menekan kantus lakrimalis.

Cari cairan yang mengalir balik (regurgitasi) dari pungtum lakrimalis ke dalam mata. Jangan melakukan tes ini jika daerah tersebut terlihat mengalami inflamasi dan terasa nyeri ketika disentuh.

5. KONJUNGTIVA

Inspeksi konjungtiva palpebra dengan eversi palpebra

Pemeriksaan untuk menilai konjungtiva palpebra/tarsalis, pemeriksaan ini harus dilakukan jika diduga ada benda asing.

Langkah – langkahnya adalah : a. Cuci tangan hingga bersih.

b. Instruksikan kepada pasien untuk melihat ke bawah. Minta pasien untuk merilekskan matanya. Dengan gerakan yang tenang, hati- hati, meyakinkan, dan tidak tergesa gesa. Naikkan sedikit kelopak mata atas agar bulu mata menonjol ke luar, dan kemudian pegang bulu mata atas tersebut serta tarik dengan hati-hati ke bawah dan ke depan.

(18)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN c. Sebaiknya mata kanan pasien diperiksa dengan tangan kanan

pemeriksa.

d. Letakkan aplikator atau spatel lidah dengan jarak sedikitnya 1 cm di atas margo palpebra (dan dengan demikian pada tepi atas lempeng tarsal). Dorong aplikator ke bawah ketika anda menarik margo palpebra ke atas dan dengan tindakan ini, anda membalikkan kelopak mata atau memutar “bagian dalam kelopak mata ke luar”.

Jangan melakukan penekanan pada bola matanya sendiri.

e. Tahan bulu mata atas pada bagian alis mata dengan ibu jari anda dan lakukan inspeksi konjungtiva palpebra. Sesudah selesai melakukan inspeksi, pegang bulu mata atas dan tarik dengan hati-hati ke bawah.

Minta pasien untuk melihat ke atas. Kelopak mata akan kembali ke posisi yang normal.

Inspeksi konjungtiva forniks dan konjungtiva bulbi

Amati konjungtiva mata kanan dan kiri menggunakan lampu senter.

Konjungtiva normal tampak tenang. Kelaianan yang mungkin terjadi antara lain :

a. Hiperemis (merah) : konjungtivitis, keratitis,dll b. Subkonjungtiva bleedeng : hipertensi, trauma

c. Tonjolan : nevus konjungtiva, tumor

konjungtiva

Gambar: kiri: injeksi konjungtiva/ hiperemis; kanan: perdarahan subkonjungtiva Perdarahan subkonjungtiva dapat terjadi pada diatesis hemoragik, trauma, pertusis, iritasi, dan endokarditis infektif akibat

(19)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN fenomena emboli. Pada konjungtivitis terjadi pelebaran pembuluh konjungtiva bulbi, disertai edema konjungtiva palpebra. Sekret yang keluar dapat cair, mukopurulen, atau purulen. Pada ataksia- teleangiektasia terdapat pelebaran pembuluh darah konjungtiva bulbi.

Oftalmia neonatorum sering ditemukan, yang paling penting adalah konjungtivitis ghonore yang ditandai dengan konjungtiva yang lengket, sulit dibuka dan bila dipaksa dibuka keluar sekret yang purulen kental dan banyak.

Defisiensi vitamin A menyebabkan kelainan mata (xeroftalmia), gejala dan tanda pada mata berupa : (1) hemeralopia atau rabun senja;

(2) xerosis konjungtiva atau konjungtiva kering, sering disertai bercak bitot, adalah masa putih berbusa bentuk segitiga dengan puncak menghadap ke arah luar kornea, terletak pada konjungtiva bulbi di fisura palpebra;(3) xerosis kornea; dan (4) keratomalasia, kornea menjadi lembek dan mudah perforasi.

Gambar 1. Bercak Bitot

Pinguekula adalah lesi jinak berupa penonjolan berwarna kuning, yang muncul dari kantus externus, terdapat misalnya pada penyakit gaucher. Pterigium adalah lipatan membran konjungtiva berbentuk segitiga; apeks segitiga mencakup kornea sedangkan alas segitiga mencakup konjungtiva.Kelainan ini dianggap akibat reaksi terhadap sinar matahari, angin atau debu.

(20)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN Gambar 2. A. kiri: pterigium, B.kanan: Pinguecula

6. SKLERA

Sklera berwarna putih, kadamg-kadang pada bayi sedikit kebiruan.

Sklera yang jelas biru (blue sclerae) terdapat pada osteogenesis imperfekta, glaukoma, atau sindroma marfan. Pada sklera sering terdapat nevus. Ikterus mudah terlihat pada sklera.

Inspeksi sklera

Pada inspeksi sklera ini pemeriksa dapat sekaligus memeriksa konjungtiva. Minta pasien untuk melihat ke atas sementara anda menekan kedua kelopak mata ke bawah dengan menggunakan ibu jari tangan sehinga membuat sklera dan konjungtiva terpajan. Inspeksi sklera dan konjungtiva bulbi untuk menilai warnanya dan perhatikan pola vaskularisasi. Cari setiap nodulus atau pembengkakan.

Jika anda ingin melihat mata pasien secara lebih luas, letakkan ibu jari dan jari telunjuk anda pada tulang pipi dan alis mata, dan kemudian regangkan kedua kelopak mata tersebut.

Minta pasien untuk melihat kesamping kanan dan kiri, serta bawah.

Tekhnik ini membuat anda dapat melihat sklera dan konjungtiva bulbi dengan baik.

7. BULBUS OKULI

Inspeksi Bulbus Okuli

Perhatikan bulbus okuli dengan menggunakan senter amati bulbus okuli dari samping apakah terdapat eksoftalmus, proptosis, enoftalmus.

Proptosis adalah penonjolan bola mata yang abnormal yakni 18 mm atau kurang dari itu. Jika penonjolan bola mata > 18 mm maka disebut

(21)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN eksoftalmus. Pada eksoftalmos terdapat proptosis dan lid lag biasanya sering terjadi pada pasien dengan hipertiroidisme, tumor retrobulbar, atau sindromahand- Schuller-cristian. Pemeriksaan selanjutnya dapat dilakukan dengan alat eksotalmometer, yaitu alat untuk mengukur penonjolan bola mata dari samping. Enoftalmos ditandai oleh bola mata yang kecil atau dalam, terdapat pada sindom horner, mikroftalmos, dehidrasi berat atau malnutrisi.

Gambar: Kiri: Eksoftalmus, kanan: proptosis

8. POSISI BOLA MATA DAN KESEJAJARAN BOLA MATA

Strabismus atau juling adalah sumbu visual yang tidak sejajar pada pelbagai lapangan gerakan bola mata. Deviasi sumbu mata mungkin masih normal pada bayi sampai umur 3-6 bulan, karena koordinasi gerakan bola mata belum sempurna. Berdasarkan arah deviasi dikenal esotrofia (deviasi kearah dalam), eksotrofia (deviasi kearah luar), hipertrofia (deviasi ke atas) dan hipotrofia (deviasi ke bawah).

Penilaian kesejajaran bola mata dengan corneal light refleks (Hischberg test)

Penilaian corneal light refleks digunakan untuk mengetahui ada tidaknya strabismus manifest. Pemeriksa berdiri didepan pasien, menggunakan senter arahkan sinar dari depan tepat berada diglabela pasien, amati reflek cahaya yang jatuh dikornea.

(22)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN Gambar 3: A. Hischber test 00, B. Hischber test 150 C.

Hischber test 300 D. Hischber test 450

Uji Hirschberg dapat menilai kedudukan bola mata dan mengukur sudut deviasi secara kasar. Pantulan cahaya dari bagian tengah pupil yang bergeser 1 mm, diinterpretasikan dengan deviasi sebesar 7° atau 15 D.

Gambar 3. menunjukkan deviasi pantulan cahaya pada uji ini.

Desentralisasi pantulan cahaya 2 mm pada tepi pupil, 4 mm pada tengah iris, dan 6 mm pada limbus, menggambarkan deviasi yang didapat adalah 15°, 30°, dan 45° secara berurutan.

Pemeriksaan posisi bola mata dengan cover uncover test

§ Pemeriksaan cover uncover tes untuk melihat adanya tropia/ deviasi manifest dan membedakannya dengan phoria/ deviasi latent. Minta pasien untuk memfiksasi matanya pada satu titik. Untuk pasien anak, gunakan objek berupa mainan yang berukuran kecil atau pen light.

§ Tutup salah satu mata selama 1-2 detik.

§ Dengan cepat buka penutup mata.

§ Perhatikan pergerakan mata yang yang sebelumnya ditutup. Lihat adanya deviasi mata kembali ke posisi fiksasi objek.

§ Tutup mata yang lain dan ulangi prosedur pemeriksaan

(23)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN Gambar: pemeriksaan Cover test, cover uncover test

9. GERAKAN BOLA MATA

Pemeriksaan gerakan ekstraokular untuk mencari hal-hal berikut ini : a. Nistagmus, yaitu gerakan osilasi halus bola mata yang berirama.

Nistagmus adalah gerakan bola mata ritmik, biasanya cepat dan dapat horizontal, vertikal, berputar atau campuran. Penyebab nistagmus dapat berupa faktor okular, vestibular, atau neurogenik.

Nistagmus okular dapat bersifat kongenital atau berhubungan dengan katarak, kelainan refraksi terutama astigmasitma, albinisme, dan kelaian otot penggerak bola mata. Nistagmus vestibular biasanya berkaitan dengan labirintis atau kelainan labirin lain.

Nistagmus neurogenik antara lain disebabkan oleh ensefalitis, meningitis tuberkulosa, palsi serebral, dan tumor intrakranial.

b. Parese N II, IV, VI dan Lid lag, pada saat mata bergerak dari atas ke bawah

Untuk melakukan pengamatan ini, minta pasien agar mengikuti gerakan jari tangan atau pensil yang anda pegang ketika anda menggerakkannya sesuai enam arah utama pandangan.

(24)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN Dengan membuat gerakan yang menyerupai huruf H yang lebar di udara, bimbing pandangan mata pasien (1) ke sisi paling kanan pasien, (2) ke kanan serta ke atas, dan (3) ke bawah pada sisi kanan;

kemudian (4) tanpa berhenti di tengah, ke sisi paling kiri, (5) ke kiri serta ke atas, dan (6) ke bawah pada sisi kiri.

Sebagian pasien mungkin akan menggerakkan kepala mereka untuk mengikuti gerakan jari tangan anda. Jika perlu tahan kepala pasien agar tetap berada dalam posisi garis tengah yang benar.

Jika anda mencuriagai lid lag atau hipotiroidisme, minta pasien untuk sekali lagi mengikuti gerakan jari tangan anda ketika anda menggerakkannya secara perlahan dari atas ke bawah pada garis tengah. Kelopak mata harus agak menutupi iris selama pandangan mata pasien mengikuti ini.

Terakhir lakukan tes konvergensi. Minta pasien untuk mengikuti gerakan tangan atau pensil anda ketika anda menggerakkannya ke pangkal hidung pasien. Dalam keadaan normal, kedua mata yang mengadakan konvergensi akan mengikuti gerakan objek tersebut dalam jarak 5cm hingga 8 cm dari hidung.

10. Palpasi limfonodus pre.aurikular

Dengan menggunakan permukaan ventral jari telunjuk dan jari tengah, palpasi nodul limfatikus preaurikuler dengan melakukan gerakan berputar dengan hati hati.

Gambar: limfonodi

(25)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN C. CHECKLIST PENILAIAN

Checklist Penilaian Ketrampilan KlinisPenilaian Eksternal Mata Nama Mahasiswa :

NIM :

No Aspek Yang Dinilai Bobot Skor

0 1 2

1. Membaca basmallah, mengucapkan salam, memperkenalkan diri

2. Menanyakan identitas (nama, usia, alamat, pekerjaan, keluhan utama)

3. Meminta ijin melakukan pemeriksaan dan menjelaskan prosedur pemeriksaan (informed consent) *

2 4. Menyiapkan alat yang akan digunakan (senter, loop,

occluder, pensil)

5. Cuci tangan teknik WHO* 2

6. Inspeksi supra silia (kerontokan/madarosis, hiperemis, massa)

7. Inspeksi silia (trichiasis, distichiasis, secret/ krusta)

8. Inspeksi palpebra superior dengan cara eversi palpebra (edema, hiperemis, massa/ tumor, ptosis, lagoftamos, spasme)

9. Inspeksi palpebra inferior (edema, hiperemis, massa/ tumor, ptosis, lagoftamos, spasme) normal palpebra tampak tenang 10. Inspeksi konjungtiva palpebra superior dengan cara eversi eversi palpebra perhatikan (ada/ tidaknya benda asing, massa, hiperemis, sekret, cobble stone)

11. Inspeksi konjungtiva palpebra inferior perhatikan (ada/

tidaknya konjungtiva anemis, benda asing, massa, hiperemis, sekret)

12. Inspeksi konjungtiva forniks, pasien melirik ke temporal perhatikan (ada/ tidaknya benda asing, massa, hiperemis, sekret)

13. Inspeksi konjungtiva bulbi perhatikan ada/ tidaknya (injeksi konjungtiva, injeksi silier, perdarahan subkonjungtiva, massa, pterygium, pinguecula, sekret)

14. Inspeksi orifisium canaliculi lakrimal perhatikan ada/tidaknya (hiperemis, sekret, massa)

15. Inspeksi bulbus okuli dari arah lateral dilihat ada tidaknya (eksoftalmus, enoftalmus, proptosis), perhatikan dari depan apakah terdapat nystagmus atau tidak

16. Inspeksi sklera perhatikan ada tidaknya (sklera ikterik, hiperemis, benda asing, trantas dot sekitar limbus)

(26)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN

17. Penilaian kesejajaran bola mata dengan corneal light reflex (arahkan senter ditengah-tengah, nilai cahaya yang jatuh pada kornea, 00, 150, 300, 450) untuk menilai strabismus manifest/ trophia

18. Penilaian posisi bola mata dengan cover-uncover test untuk menilai strabismus latent/ phoria

19. Pemeriksaan gerakan bola mata perhatikan ada/tidaknya nystagmus, parese N.oculomotor, dan tes konvergensi 20. Palpasi limfonodus pre aurikular

Skor Total ...

Keterangan :

*critical point 0 : tidak dilakukan

1 : dilakukan tidak dengan sempurna 2 : dilakukan dengan sempurna

Nilai = Skor Totalx 100% = ...

44

Instruktur

dr. ...

(27)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN TOPIK 2. PEMERIKSAAN PUPIL DAN MEDIA MATA

A. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Tujuan Instruksional Umum

Mahasiswa mampu melakukan Pemeriksaan pupil dan media mata.

2. Tujuan Instruksional khusus Mahasiswa mampu melakukan:

a. Inspeksi kornea b. Tes sensivitas kornea

c. Inspeksi bilik mata depan/ kamera okuli anterior d. Inspeksi iris

e. Inspeksi pupil

f. Penilaian pupil dengan reaksi langsung terhadap cahaya dan konvergensi

g. Inspeksi media refraksi dengan transilluminasi (pen light) h. Inspeksi lensa

B. TINJAUAN TEORI 1. Inspeksi kornea

Amati kornea mata kanan dan kiri dengan menggunakan lampu senter. Kornea normal tampak jernih. Kelainan yang mungkin terjadi antara lain :

a. Sikatrik/ skar : nebula, makula, leukoma

b. Ulkus : ulkus kornea

c. Ruptur (robek ) : trauma

d. Udem : glaukoma

Gambar: kiri sikatrik kornea; kanan ulkus kornea

(28)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN 2. Tes sensibilitas kornea

Pemeriksaan ini digunakan untuk menilai fungsi n.V. pada beberapa penyakit seperti herpes simpleks, sensibilitas kornea menurun. Alat yang digunakan pada pemeriksaan ini yaitu kapas yang dipilin ujungnya.

Cara pemeriksaan :

a. Pemeriksa memegang kepala atau dagu penderita agar tidak bergerak

b. Penderita melirik ke kiri

c. Sentuhkan kapas pada kornea bagian kanan d. Jika sensibilitas baik maka mata akan menutup

e. Lakukan hal demikian pada mata kiri, dengan meminta penderita melirik ke kanan.

3. Inspeksi Bilik Mata Depan (Kamera Okuli Anterior)

Pemeriksaan kamera okuli anterior (bilik mata depan) dapat dilakukan untuk mengetahui kelainan pada mata. Bilik mata depan secara normal adalah dalam dan jernih. Kedalaman bilik mata depan sekitar 2,5 mm. Dinding depan (kornea) dan dinding belakang (iris) bertemu di perifer membentuk sudut iridokornea. Pada beberapa penyakit seperti glaukoma, bilik mata depan menjadi dangkal. Bilik mata depan yang normal adalah jernih karena diisi oleh humor aquos. Adanya nanah di COA (hipopion) atau ada darah di COA (hifema) dapat menjadikan bilik mata depan menjadi tidak jernih. Pemeriksaan bilik mata depan dengan menggunakan senter.

Cara pemeriksaan :

a. siapkan senter untuk pemeriksaan

b. meminta penderita untuk menghadap ke depan dengan mata membuka

c. arahkan senter dari depan dan samping d. amati bilik mata depan.

(29)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN Gambar 2. Pemeriksaan Perkiraan Kedalaman Kamera Okuli Anterior 4. Inspeksi Iris

Iris yang normal adalah bebas dan tidak melekat, kripte (+). Pada keadaan tertentu maka iris dapat melekat pada kornea disebut sinekia anterior, misalnya pada penyakit uveitis. Iris juga dapat melekat pada lensa disbut sinekia posterior. Perhatikan apakah terdapat nodul pada iris, iris berlubang (koloboma), iris yang robek (iridodialisis).

Gambar: kiri sinekia anterior perifer, kanan sinekia posterior 5. Inspeksi Lensa

Amati lensa mata kanan dan kiri dengan mengguanakan lampu senter. Lensa normal tampak jernih. Kelainan yang mungkin terjadi antara lain: keruh: katarak, letak tidak ditempat : sublixatio lensa.

Untuk mengetahui katarak jenis imatur atau matur dapat dilakukan pemeriksaan SHADOW TEST (test bayangan).

Cara pemeriksaan : a. Siapkan senter

(30)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN b. Sinarkan senter ke arah pupil dengan membentuk sudut 45⁰ dari

bayangan iris.

c. Amati bayangan iris pada lensa

d. Pada katarak imatur, shadow test positif (+) artinya terdapat bayangan iris pada lensa terlihat besar dan letaknya jauh terhadap pupil.

e. Pada katarak matur, shadow test negatif (-) artinya bayangan iris pada lensa terlihat kecil dan letaknya dekat terhadap pupil).

Lensa normal adalah jernih. Kekeruhan lensa disebut katarak.

Katarak kongenital dapat ditemukan pada rubela kongenital, toksoplasmosis, herpes simpleks, atau sitomegalovitus. Banyak sindrom juga dapat disertai katarak, misalnya trisomi 13, 18, 21 (sindrom down), atau sindrom marfan. Katarak didapat menyertai berbagai penyakit seperti DM, homosisteinuria, hipoparatiroidisme, atau osteoporosis.

Trauma yang menembus lensa juga dapat menimbulkan gejala sisa berupa katarak. Subliksasi lensa dapat merupakan bagian sindroma marfan atau homosisteinuria.

6. Inspeksi Pupil

Amati pupil mata kanan dan kiri dengan menggunakan lampu senter.

Pupil yang normal bentuknya bulat, simetris kanan dan kiri, letaknya di sentral, diameter 3-4mm, reflek cahaya langsung (direct) mupun tidak langsung (indirect) +/+.

7. Penilaian pupil dengan refleks pupil direct/ langsung dan refleks pupil indirect/ tidak langsung (konvergensi)

Pemeriksaan refleks pupil dengan menggunakan lampu senter.

Cara pemeriksaan : a. Siapkan senter

b. Untuk memeriksa refleks pupil mata kanan secara direk, arahkan lampu senter pada mata kanan

c. Pupil mata kanan akan mengecil (miosis) jika normal

(31)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN d. Untuk memeriksa refleks pupil mata kanan secara indirek, arahkan

lampu senter pada mata kiri

e. Pupil mata kanan akan mengecil (miosis) jika pupil mata kiri diberi lampu senter

f. Lakukan hal demikian untuk pipil mata kiri

Pupil dalam kondisi MIOSIS antara lain pada keadaan : a. Mendapat cahaya kuat

b. Pada bayi dan orang tua c. Pada saat kelelahan d. Pada saat tidur e. Pada penyakit kritis f. Pada pasien hipermetrop g. Saat melihat dekat

h. Pemberian obat-obatan miotikum

Pupil dalam kondisi MIDRIASIS antara lain pada keadaan:

a. Seseorang di tempat gelap

b. Pada saat senang, terkejut atau tertarik c. Pada penyakit glaukoma akut

d. Pada saat melihat jauh

e. Pada pemberian obat-obat midriatikum

(32)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN C. CHECKLIST PENILAIAN

Checklist Penilaian Ketrampilan Klinis Pemeriksaan Pupil dan Media Mata

Nama Mahasiswa :

NIM :

NO Aspek Yang Dinilai Bobot Skor

0 1 2

1. Memberi salam, mengucap Basmalah dan memperkenalkan diri

1 2. Menanyakan identitas (nama,usia, alamat, pekerjaan) dan

keluhan utama

1 3. Meminta ijin dan menjelaskan pemeriksaan (informed

consent) *

2 4. Menyiapkan alat-alat yang akan digunakan (senter, kapas

terpilin, loop)

1 5. Mencuci tangan tekhnik WHO, memakai handscoon * 2 6. Inspeksi kornea (sikatrik, nodul, infiltrate, jaringan nekrotik,

neovaskularisasi)

1

7. Tes sensibilitas kornea 1

8. Inspeksi kamera okuli anterior (kedalaman) 1 9. Inspeksi iris (kripte, sinekia anterior, sinekia posterior,

nodul, koloboma, iridodialisis)

1 10. Penilaian pupil dengan reflek cahaya langsung (bentuk,

regular/ireguler, diameter, refleks pupil)

1 11. Penilaian pupil konvergensi (refleks pupil indirek) 1 12. Inspeksi Lensa (jernih/keruh) shadow test 1

13. Melepas handscon, mencuci tangan 1

14. Mencatat dan menyimpulkan hasil pemeriksaan 1 15. Memberi kesempatan bertanya, menutup dengan

hamdalah dan salam

1

Skor Total ...

Keterangan :

*critical point 0 : tidak dilakukan

1 : dilakukan tidak dengan sempurna 2 : dilakukan dengan sempurna

Nilai = Skor Total x 100% = ...

34

Instruktur

dr. ...

(33)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN TOPIK 3. PEMERIKSAAN FUNDUSKOPI

A. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Tujuan Instruksional Umum

Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan funduskopi.

2. Tujuan Instruksional khusus Mahasiswa mampu melakukan:

a. Fundoskopi untuk melihat fundus reflex

b. Fundoskopi untuk melihat papil N II, pembuluh darah, retina dan makula

B. TINJAUAN TEORI

Pemeriksaan fundus kita menggunakan oftalmoskop direct.

1. OFTALMOSKOP

Oftalmoskop adalah alat dengan sistem cermin optik untuk melihat anatomi interna dari mata. Ada dua cakram pada oftalmoskop: satu untuk mengatur lubang cahaya dan filter, dan satu lagi untuk merubah diopter lensa untuk mengoreksi kesalahan refraktif baik dari pemeriksa maupun pasien.

Lubang-lubang dan filter-filter yang paling penting adalah lubang kecil, lubang besar,dan filter red free. Lubang kecil untuk pupil yang tidak berdilatasi, lubang besar untuk pupil yang berdilatasi; dan filter red free menyingkirkan sinar merah dan dirancang untuk melihat pembuluh darah serta perdarahan. Dengan filter ini, retina tampak abu-abu, diskus berwarna putih, makula kuning, dan darah tampak berwarna hitam.

(34)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN Gambar 3.bagian-bagian oftalmoskop

Langkah-langkah menggunakan oftalmoskop:

a. Bila TIO normal, teteskan midriatikum, tunggu sampai pupil berdilatasi maksimal atau sampai tidak ada refleks pupil (kira-kira 15 menit).

b. Memberitahukan pasien bahwa setelah ditetesi midriatikum akan terasa silai dan kabur terutama untuk melihat dekat selama 4-6 jam.

c. Pasien diminta melihat ke depan jauh, pencahayaan ruangan diredupkan.

d. Power dioptri oftalmoskop diletakkan di angka 0. Dioptri merupakan satuan untuk mengukur kekuatan lensa dalam mengkonvergensikan atau mendivergensikan cahaya. Letakkan jari telunjuk pada pinggir pinggiran lensa agar anda dapat memutar pinggiran tersebut untuk memfokuskan lensa ketika anda memeriksa refleks fundus.

e. Pegang oftalmoskop dengan tangan kanan untuk memeriksa mata kanan pasien; pegang oftalmoskop dengan tangan kiri untuk memeriksa mata kiri pasien.

f. Tempatkan diri anda pada jarak sekitar sekitar 30 cm dari tubuh pasien dan dengan sudut 15⁰ di sebelah lateral dari garis pandangan pasien. Arahkan pancaran cahaya oftalmoskop pada pupil pasien dan cari kilauan cahaya oranye pada pupil tersebut yang merupakan pantulan (refleksi) red free/ refleks fundus.

(35)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN g. Periksa secara seksama dengan perlahan maju mendekati penderita

kurang lebih jarak 5 cm. Sesuaikan fokus dengan mengatur ukuran diopter lensa pada oftalmoskop.

h. Jika sudah terlihat retina pasien, maka akan terlihat papil N II atau pembuluh darah, dengan memutar roda diopter dengan jari telunjuk, pemeriksa akan bisa melihat struktur ini dengan fokus yang tajam.

Amati secara sistematis struktur retina dimulai dari papil N. II, arteri dan vena retina sentral, area makula, dan retina perifer.

i. Pemeriksaan dilakukan pada kedua mata

j. Catatlah hasil yang didapat dalam status penderita Hasil pengamatan yang didapat:

1) Inspeksi Papil N II/ Diskus Optikus

Diskus tersebut harusnya bulat, dengan batas yang tegas/ tajam.

Batas sisi nasal biasanya agak buram. Diskus berwarna agak merah muda pada orang berkulit terang dan jingga kekuningan pada orang berkulit gelap. Cup adalah bagian diskus yang terletak ditengah, warnanya lebih muda. Disc adalah bagian diskus keseluruhan. Rasio normal cup-to-disc bervariasi dari 0,1 sampai 0,5. Pemeriksa harus mengecek kesimetrisan rasio cup-to-disc pada kedua mata.

Gambar 4.Retina dan Pembuluh Darah

2) Inspeksi Pembuluh Darah Retina

Pembuluh darah diperiksa, ukuran arteri adalah dua pertiga sampai empat perlima dari ukuran diameter vena dan mempunyai

(36)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN refleks cahaya yang mencolok. Vena memberikan pulsasi spontan 85 % pasien. Pulsasi paling baik terlihat pada vena retina yang memasuki nervus optikus, dimana pulsasi dapat dilihat pada ujungnya.

Karena pembuluh darah berjalan menjauhi papil, mereka tampak menyempit. Pada hipertensi, pembuluh darah dapat mempunyai daerah penyempitan atau spasme setempat. Refleks cahaya berkembang sebagai gambaran Jingga metalik, yang disebut silver wire. Ikuti pembuluh darah ke empat arah: superior temporal, superior nasal, inferior nasal, dan inferior temporal.

3) Inspeksi Makula

Jika Oftalmoskop tetap setinggi papil dan digerakkan ke temporal sekitar 2 diameter papil, makula akan terlihat. Makula tampak sebagai daerah avaskular dengan titik pusat refleksi, yaitu foveo. Jika pemeriksa mengalami kesulitan dalam melihat makula, pasien dapat diperintahkan untuk melihat langsung kearah cahaya;

sehingga foveo dapat terlihat.

4) Inspeksi Retina

Dalam skrining fundus, pemeriksa mungkin menemukan kelainan. Apakah terdapat perdarahan, eksudat, ablasio, neovaskularisasi. Lesi hitam yang berbentuk seperti bone spikule, berhubungan dengan retinitis pigmentosa. Lesi putih atau kekuningan sebagai cotton-wool spot pada retinopati hipertensi atau diabetik retinopati.

Gambar 5: kiri retina normal, kanan retinopati diabetik

(37)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN C. CHECKLIST PENILAIAN

Pemeriksaan Funduskopi

Nama Mahasiswa :

NIM :

NO Aspek Yang Dinilai Bobot Skor

0 1 2

1. Memberi salam, mengucap basmalah dan

memperkenalkan diri 1

2. Menanyakan identitas pasien (nama, usia, alamat,

pekerjaan) dan keluhan utama 1

3. Meminta ijin untuk melakukan pemeriksaan (informed

consent)* 2

4. Persiapkan alat (direct ophthalmoscope), tetes mata midriatikum. Ruangan dibuat redup, penderita diminta melepas kacamata dan pupil dibuat midriasis dengan tetes mata midriatil 15 menit sebelumnya.

1

5. Cuci tangan tekhnik WHO dan memakai handsoon* 2 6. Mata kanan pemeriksa memeriksa mata kanan

penderita, mata kiri pemeriksa memeriksa mata kiri penderita*

2 7. Lampu oftalmoskop dinyalakan, lubang dipindahkan ke

lubang besar. Pemeriksa harus memulai dengan diopter lensa diatur pada angka “0”.

1 8. Mintalah penderita untuk melihat satu titik di belakang

pemeriksa pada jarak tertentu. 1

9. Arahkan cahaya oftalmoskop ke pupil dari jarak 25-30 cm

untuk melihat refleks fundus. 1

10. dengan perlahan maju mendekati penderita kurang lebih 5 cm, putar diopter oftalmoskop, sesuaikan fokus sampai terlihat retina dengan jelas.

1 12. Amati secara sistematis struktur retina dimulai dari papil

N.II, arteri dan vena retina sentral, area makula, dan retina perifer

1 13. Pemeriksaan dilakukan pada kedua mata 1 14. Catatlah hasil yang didapat dalam status penderita dan

disimpulkan 1

15. Memberi kesempatan pasien bertanya, mengucapkan

hamdalah dan salam. 1

Skor Total ...

Keterangan :

*critical point 0 : tidak dilakukan

1 : dilakukan tidak dengan sempurna 2 : dilakukan dengan sempurna

(38)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN

Nilai = Skor Total x 100% = ...

36

Instruktur

dr. ...

ANALISIS HASIL PEMERIKSAAN

1) Bila didapatkan refleks fundus cemerlang berarti media refrakta jernih.

2) Papil N.II: bentuk bulat atau oval, batas tegas atau tidak, warna kuning kemerahan, pucat atau hiperemis, cup disc ratio (CDR) normal 0,3 - 0,5.

3) Pembuluh darah (vasa): arterivena ratio (AVR) normal 2/3.

4) Retina: adakah perdarahan, eksudat, ablatio, neovaskularisasi 5) Makula: dinilai ada atau tidak refleks fovea.

(39)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN TOPIK 4. PEMERIKSAAN TEKANAN INTRA OKULAR DAN TEST BUTA WARNA A. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Tujuan Instruksional Umum

Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan tekanan intra okular dan test buta warna.

2. Tujuan Instruksional khusus

Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan : 1. Tekanan intraokular, estimasi dengan palpasi 4A

2. Tekanan intraokular, pengukuran dengan indentasi tonometer (Schiötz)

3. Tes penglihatan warna (dengan buku Ishihara 12 plate)

B. TINJAUAN TEORI

1. Pengukuran Tekanan Intraokuler

a. Pengukuran Tekanan Intraokular dengan Palpasi (Tonometri Digital)

§ Tujuan: Mahasiswa mampu melakukan pengukuran tekanan intraokular, estimasi dengan palpasi.

Tonometer digital adalah salah satu cara pengukuran tekanan bola mata dengan menggunakan jari. Dasar pemeriksaannya adalah dengan cara merasakan reaksi kelenturan bola mata (balotement) dilakukan dengan bergantian dengan kedua jari telunjuk tangan.

§ Teknik pemeriksaan:

a. Jelaskan kepada pasien mengenai prosedur dan tujuan dari pemeriksaan.

b. Cuci tangan sebelum melakukan pemeriksaan.

c. Pasien diinstruksikan untuk melirik ke bawah (tidak menutup mata).

d. Pemeriksa dengan kedua telunjuknya menekan dan merasakan tekanan balik (balotement) pada mata secara bergantian.

(40)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN e. Bandingkan mata kanan dan mata kiri

§ Interpretasi:

N (Normal), N+1, N+2 yang berarti tekanan lebih tinggi dibanding normal, dimana N+1<N+2.

Atau N-1, N-2 yang berarti tekanan bola mata lebih rendah.

Gambar 6: pemeriksaan tonometri digital

b. Pengukuran Tekanan Intraokular dengan Tonometer Schiotz

§ Tujuan: Mahasiswa mampu melakukan pengukuran tekanan intraokular dengan Tonometer Schiotz.

Pengukuran tekanan bola mata dinilai secara tidak langsung, yaitu dengan teknik melihat daya tekan alat pada kornea.

Tonometer schiotz dilakukan indentasi (penekanan) terhadap permukaan kornea. Bila suatu beban tertentu memberikan kecekungan pada kornea maka akan terlihat perubahan pada skala schiotz. Makin rendah tekanan bola mata makin mudah bola mata ditekan, yang pada skala akan terlihat skala yang lebih besar, hal ini juga berlaku sebaliknya.

§ Alat dan Bahan

• Meja periksa

• Tonometer Schiotz

• Anestesi lokal tetes Pantocain 0,5%

• Antibiotik topical

(41)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN Gambar 7: tonometer schiotz

§ Teknik Pemeriksaan

• Siapkan alat dan bahan.

• Jelaskan kepada pasien jenis dan prosedur pemeriksaan yang dilakukan.

• Mencuci tangan.

• Minta pasien berbaring terlentang di meja periksa. Posisi pemeriksa berada di bagian kepala pasien.

• Mata pasien terlebih dulu ditetesi dengan larutan anestesi lokal (pantocaine 0,5%).

• Pastikan keadaan kornea intak tidak ada kelainan/infeksi yang akan mengganggu pemeriksaan.

• Tonometer didisinfeksi dengan kapas alkohol.

• Minta pasien untuk melihat lurus keatas tanpa berkedip.

• Tonometer dengan beban 5,5 diletakkan dengan perlahan- lahan dan hati-hati diatas kornea pasien.

• Apabila dengan beban 5,5 angka yang ditunjukkan jarum ≤ 3, maka beban ditambah menjadi 7,5, dan apabila masih

(42)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN menunjukkan angka ≤ 3, beban ditambah menjadi 10 (beban maksimal).

• Pemeriksa membaca angka yang ditunjuk oleh jarum tonometer. Pemeriksaan diulang 2-3 kali untuk menjaga konsistensi pemeriksaan.

• Pemeriksa melihat pada tabel, dimana terdapat daftar tekanan bola mata.

• Meneteskan antibiotik topikal pada mata yang sudah diperiksa

Lakukan pemeriksaan yang sama pada mata kiri

Gambar 8: Tabel tonometry Schiotz

(43)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN 1. PEMERIKSAAN BUTA WARNA

Mata manusia sebenarnya dapat mendeteksi hampir semua gradasi warna bila cahaya monokromatik dari warna merah, hijau dan biru dipersatukan dalam berbagai kombinasi. Berdasarkan uji penglihatan warna, pada manusia dapat dibuktikan adanya sensitivitas terhadap ketiga sel kerucut yang sangat diperlukan seperti halnya kurva absorbsi cahaya dari ketiga tipe pigmen, yang dapat dijumpai pada sel kerucut.

Bila mata manusia tidak mempunyai sekelompok sel kerucut yang dapat menerima warna, maka orang tersebut tidak dapat membedakan suatu warna dengan warna lainnya. Sebagai contoh, warna hijau, kuning, jingga dan merah adalah warna dengan panjang gelombang antara 525 sampai 675 nanometer, yang secara normal dibedakan oleh sel kerucut merah dan hijau. Jika salah satu dari kedua sel kerucut tersebut hilang, seseorang tidak akan dapat lagi menggunakan mekanisme ini untuk membedakan warna tersebut khususnya warna merah dan hijau, sehingga disebut buta warna merah-hijau.

Buta warna sebenarnya adalah ketidakmampuan seseorang untuk membedakan warna-warna tertentu. Orang tersebut biasanya tidak buta semua warna melainkan warna-warna tertentu saja (buta warna parsial).

Meskipun demikian ada juga orang yang sama sekali tidak bisa melihat warna (buta warna total), jadi hanya tampak sebagai hitam, putih dan abu-abu saja (kasus seperti ini sangat jarang terjadi).

Normalnya sel kerucut (cone) di retina mata mempunyai spektrum terhadap tiga warna dasar, yaitu merah, hijau dan biru. Pada orang yang mempunyai sel-sel kerucut yang sensitif untuk tiga jenis warna ini, maka ia dikatakan normal. Pada orang tertentu, mungkin hanya ada dua atau bahkan satu atau tidak ada sel kerucut yang sensitif terhadap warna-warna tersebut. Pada kasus ini orang disebut buta warna.

Jadi buta warna biasanya menyangkut warna merah, biru atau hijau.

(44)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN Jika seseorang tidak mempunyai sel kerucut merah ia masih dapat melihat warna hijau, kuning, orange dan warna merah dengan menggunakan sel kerucut hijau tetapi tidak dapat membedakan secara tepat antara masing-masing warna tersebut oleh karena tidak mempunyai sel kerucut merah untuk kontras/membandingkan dengan sel kerucut hijau. Demikian pula jika seseorang kekurangan sel kerucut hijau, ia masih dapat melihata seluruh warna tetapi tidak dapat membedakan antara warna hijau, kuning, orange dan merah. Hal ini disebabkan sel kerucut hijau yang sedikit tidak mampu mengkontraskan dengan sel kerucut merah. Jadi tidak adanya sel kerucut merah atau hijau akan timbul kesukaran atau ketidakmampuan untuk membedakan warna antara keadaan ini disebut buta warna merah hijau.

Kasus yang jarang sekali, tetapi bisa terjadi seseorang kekurangan sel kerucut biru, maka orang tersebut sukar membedakan warna ungu, biru dan hijau. Tipe buta warna ini disebut kelemahan biru (blue weakness). Adapula orang buta terhadap warna merah disebut protanopia, buta terhadap warna hijau disebut deuteranopia dan buta terhadap warna biru disebut tritanopia.

Buta warna umumnya diturunkan secara genetik. Ada juga yang didapat misalnya pada penyakit di retina atau akibat keracunan. Sifat penurunannya bersifat X linked recessive. Ini berarti, diturunkan lewat kromosom X. Pada laki-laki, karena kromosom X-nya hanya satu, maka kelainan pada satu kromosom X ini sudah dapat mengakibatkan buta warna. Sebaliknya pada perempuan, karena mempunyai 2 kromosom X, maka untuk dapat timbul buta warna harus ada kelainan pada kedua kromosom X, yaitu dari kedua orangtuanya. Hal ini menjelaskan bahwa buta warna hampir selalu ditemukan pada laki-laki, sedangkan perempuan berfungsi sebagai karier.

Metode yang dapat dipakai untuk menentukan dengan cepat suatu kelainan buta warna adalah dengan menggunakan tes warna

(45)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN Ishihara (Ishihara color test). Dr. Shinobu Ishihara dari Universitas Tokyo yang mempublikasikan tes tersebut pertama kali pada tahun 1917. Tes ini menggunakan kartu-kartu yang terdiri dari lempengan angka atau pola berwarna yang terbentuk dari titik-titik berbagai warna dan ukuran.

Dalam pola yang acak, titik-tik tersebut akan membentuk angka atau pola yang mudah dilihat oleh orang dengan penglihatan normal, atau sukar dilihat bagi orang yang mempunyai gangguan penglihatan warna merah- hijau. Seluruh kartu tes berjumlah 38. Umumnya kartu terdiri dari lingkaran dengan bayangan hijau dan biru muda dengan satu bentukan bayangan coklat atau lingkaran dengan bayangan titik-titik merah, jingga dan kuning dengan bentukan bayangan hijau.

Contoh salah satu kartu Ishihara terlihat pada Gambar 2 di bawah ini. Pada buta warna total tidak dapat melihat apa-apa. Pada orang normal, untuk gambar A akan terlihat jelas dan menyebutkan angka “74”, sedangkan pada penderita buta warna merah-hijau menyebutkan angka

“21”. Pada gambar B, orang normal akan menyebutkan angka “42”, sedangkan pada penderita protanopia akan menyebutkan ”2”, dan pada penderita deuteranopia akan menyebutkan angka ”4”.

Gambar 8. A dan B Contoh kartu tes Ishihara

(46)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN 2. Cara Penggunaan

Tes Ishihara didesain agar dapat dilihat dengan jelas dengan cahaya ruangan. Kartu diletakkan pada jarak 75 cm dari pasien sehingga bidang kertasnya pada sudut yang tepat dengan garis penglihatan. Angka- angka yang terlihat pada kartu disebutkan, dan setiap jawaban diberikan dalam waktu tidak lebih dari 3 detik. Jawaban masing-masing kartu dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.

Keterangan :

Tanda (x) menunjukkan bahwa kartu tidak dapat dibaca. Nilai dengan angka yang berada dalam kurung menunjukkan angka tersebut dapat dibaca atau diikuti tapi termasuk tidak jelas.

Tidak perlu semua kasus menggunakan seluruh seri dalam kartu tersebut. Kartu no 12, 13 dan 14 dapat diabaikan jika tes dirancang sekedar untuk membedakan gangguan persepsi warna dari yang normal.

3. Analisis Hasil

Sebagai evaluasi dari pembacaan kartu-kartu 1 s.d. 11 menunjukkan normal atau gangguan penglihatan warna. Jika 10 atau

(47)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN lebih kartu yang terbaca dengan normal, penglihatan warna pasien tersebut normal. Jika hanya 7 kartu atau kurang yang dibaca normal, dianggap terjadi defisiensi penglihatan warna. Namun, merujuk pada kartu no 9, hanya yang membaca angka 2 dan membacanya dengan mudah dibandingkan kartu no 8, dianggap abnormal.

Sangat sedikit ditemukan orang yang tercatat dengan jawaban normal 8 atau 9 kartu. Evaluasi untuk kasus seperti ini memerlukan tes penglihatan warna yang lain seperti anomaloscope.

(48)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN Checklist

Penilaian Ketrampilan Klinis Pemeriksaan Tonometri dengan metode palpasi dan tonometer schiotz serta pemeriksaan test buta warna

Nama Mahasiswa :

Nim :

NO Aspek Yang Dinilai Bobot Skor

0 1 2

1. Membaca basmalah, memberi salam, memperkenalkan diri 2. Menanyakan identitas (nama, usia, pekerjaan, alamat)

keluhan utama (nyeri pada mata, ingin cek mata)

3. Meminta ijin, menjelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan, mengucap basmalah sebelum pelakukan pemeriksaan*. 2 4. Menyiapkan alat-alat yang akan digunakan (tonometer

schiotz, buku ishihara).

5. Cuci tangan tekhnik WHO*, memakai handscoon. 2 Pemeriksaan Tekanan intraokular, estimasi dengan palpasi 6. Menjelaskan pemeriksaan yang akan dilakukan.

7. Meminta pasien untuk melihat ke bawah

8. Kedua jari telunjuk berada pada palpebra superior, jari-jari lainnya bersandar pada dahi dan pipi pasien.

9. Jari telunjuk menekan bola mata pada bagian posterior kornea secara bergantian, merasakan besarnya tekanan.

10. Prosedur yang sama dilakukan pada mata kiri

11. Mencatat hasil penilaian tekanan bola mata: Tdig N, T dig N+

atau Tdig N-

Pemeriksaan Tekanan Bola Mata dengan tonometer schiotz 12. Mempersiapkan alat (mengetes tonometer/ kalibrasi dan

membersihkan alat dengan alkohol swab).

13. Menjelaskan apa saja yang akan kita lakukan pada saat pemeriksaan.

14. Pasien diarahkan pada posisi duduk miring atau terlentang dengan kepala dan mata berada pada posisi vertikal

15. Mata ditetesi anestesi lokal misalnya pantokain 1 atau 2 tetes, ditunggu sampai pasien tidak merasa pedas matanya.

16. Pasien diminta memandang ke satu titik tepat di atasnya 17. Membuka kelopak mata pasien, meletakkan tonometer pada

permukaan kornea.

18. Apabila dengan beban 5,5 angka yang ditunjukkan jarum ≤ 3, maka beban ditambah menjadi 7,5, dan apabila masih menunjukkan angka ≤ 3, beban ditambah menjadi 10 (beban maksimal).

19. Membaca simpangan jarum tonometer, disesuaikan dengan table konversi.

20. Lakukan prosedur yang sama pada mata sebelah kiri 21. Membersihkan tonometer dengan alkohol.

22. Melepas handscoon dan cuci tangan tekhnik WHO*. 2

(49)

SKILLS LAB BLOK 11 SISTEM PENGLIHATAN

NO Aspek Yang Dinilai Bobot Skor

0 1 2

Pemeriksaan Buta Warna dengan Ishihara test

23. Minta pasien mengenali dan menyebutkan angka yang terdapat di dalam buku ishihara dalam waktu masing-masing 3 detik pada setiap halaman.

24. Pemeriksa menilai kemampuan pasien mengenali gambar atau angka dalam buku ishihara.

25. Mata diperiksa satu persatu 26. Menjelaskan hasil pemeriksaan

27. Memberi kesempatan kepada penderita untuk bertanya, mengucap hamdalah dan memberi salam.

Skor Total ...

Keterangan :

*critical point 0 : tidak dilakukan

1 : dilakukan tidak dengan sempurna 2 : dilakukan dengan sempurna

Nilai = Skor Total x 100% = ...

60

Instruktur

dr. ...

Gambar

Gambar 1. Bercak Bitot
Gambar  3.  menunjukkan  deviasi  pantulan  cahaya  pada  uji  ini.
Gambar 4.Retina dan Pembuluh Darah
Gambar 5: kiri retina normal, kanan retinopati diabetik
+6

Referensi

Dokumen terkait

Di dalamnya dirumuskan secara terpadu kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai peserta didik serta rumusan proses pembelajaran dan penilaian

6. Mengetahui tingkat penguasaan kompetensi dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang sudah dan belum dikuasai seorang/sekelompok peserta didik. Menetapkan

Ketuntasan belajara mengacu pada Permendikbud Nomor 104 tentang penilaian. Ketuntasan merupakan tingkat minimal pencapaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan

Pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai untuk dapat melaksanakan elemen-elemen kompetensi serta mencapai kriteria unjuk kerja yang telah ditetapkan pada unit SKKNI

Penilaian yang dilakukan dengan tujuan mengetahui pencapaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang sudah dan/atau belum dikuasai peserta didik untuk

1.2. Unit kompetensi yang harus dikuasai sebelumnya:- 1.3. KHT.WM03.004.01 : Melakukan Pengolahan dan Analisis Data Curah Hujan. Kondisi penilaian merupakan aspek dalam

Di dalamnya dirumuskan secara terpadu kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai peserta didik serta rumusan proses pembelajaran dan penilaian yang diperlukan

Instrumen Penilaian Aspek Pengetahuan Satuan Pendidikan : SD N/S Mata Pelajaran : PAI & BP Tahun Pelajaran : 2019/2020 Kelas/Semester : II/Ganjil Kompetensi Dasar 3.2 Memahami