• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK - - Electronic theses of IAIN Ponorogo

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "ABSTRAK - - Electronic theses of IAIN Ponorogo"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

Setelah Madrasah ini berjalan selama 3 (tiga) tahun (1961), didirikanlah sistem pendidikan pesantren yang diberi nama Wali Songo. Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar merupakan lembaga pendidikan Islam tempat para remaja dan pemudi Islam dibekali berbagai pendidikan dan pelatihan, termasuk ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Ibrohim Thoyib dalam pengelolaan dan pengembangan Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo, (Skripsi STAIN Ponorogo, 2009), 63.

Dengan demikian YPPW-PPWS sebagai Lembaga Majlisu Riyasatil Ma'had secara khusus bertanggung jawab atas pendanaan dan pemeliharaan Pondok Pesantren "Wali Songo" Ngabar serta segala hak, harta benda dan harta kekayaannya. Dengan berdirinya badan hukum ini, maka struktur organisasi Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar menjadi lebih jelas. Di dalamnya juga memuat aturan yang jelas mengenai mekanisme pergantian pimpinan Pondok Pesantren Wali Songo, sehingga menjamin keberlangsungan Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar.

Total aset dan kekayaan Pondok terus meningkat. Jumlah santri putra di Pondok Pesantren Wali Songo sebanyak 486 santri dengan guru sebanyak 86 orang.

Rumusan Masalah

Penelitian ini akan fokus secara khusus pada pesantren dan perannya dalam tata kelola wakaf, serta dukungan wakaf terhadap kelangsungan hidup pesantren-pesantren tersebut, yang memiliki nilai-nilai filosofis yang dipegangnya dan pendidikan yang diberikan kepada mereka, serta pengalaman mereka. dalam mengelola dan mengembangkan sumber daya wakaf dapat dijadikan rujukan dan model dalam upaya pengembangan pesantren dan mendorong kemandirian di dalamnya. Berangkat dari pengkajian awal mengenai latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengangkat judul dalam penelitian ini: “Model Pengembangan Wakaf Produktif di Pondok Pesantren Ngabar Ponorogo”.

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Peneliti Terdahulu

Penelitian yang dilakukan Mulyani bertajuk Pengelolaan wakaf produktif pada Yayasan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama 'Surakarta (Yapertinus), selain tujuan utamanya sebagai pilot project, ada tujuan lain yang ingin dicapai Yapertinus, yaitu bertujuan untuk memajukan wakaf produktif. pendidikan. Pengelolaan wakaf produktif di Yapertinus sejauh ini belum mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat, khususnya bagi kemajuan pendidikan. Hasil pengelolaan wakaf produktif di Mojosongo saat ini hanya sebatas menutupi biaya operasional saja, karena saat ini hanya sebatas investasi dan baru bisa dipetik hasilnya pada tahun 2015, setelah sewa 23 ruko dikembalikan ke wakaf produktif Yapertinus dan dibayarkan pada tahun 2015. . penuh, serta pohon-pohon yang ditanami bisa dijual, karena ruko yang dibangun di atas tanah wakaf tersebut merupakan bangunan wakaf warga sekitar yang baru akan diserahterimakan pada tahun 2015 nanti. 16.

Melihat penelitian-penelitian terdahulu, maka dapat ditegaskan bahwa penelitian ini difokuskan pada aspek pengelolaan wakaf dan pengelolaan harta kekayaannya terkait dengan prinsip-prinsip pembangunan yang dilaksanakan oleh Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo dalam bidang pendidikan. Selain itu juga akan dikaji faktor-faktor yang mendukung keberhasilan pengelolaan wakaf yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian terhadap pesantren dan lembaga wakaf khususnya pesantren Wali Songo Ngabar selama ini belum diteliti sepengetahuan peneliti.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo yang terletak di Desa Ngabar Kecamatan Siman Kabupaten Ponorogo tepatnya berada di jalan alternatif yang menghubungkan Kecamatan Jetis dan Kecamatan Siman. Lokasi Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo sangat strategis karena dikelilingi oleh berbagai jenis SMA, baik negeri maupun swasta, serta tempat pelayanan umum juga tidak jauh dari tempat ini. Objeknya adalah guru dan pengelolanya yaitu Wakif Nadzir dan masyarakat, serta metode yang digunakan oleh Pimpinan Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo dalam meningkatkan pengelolaan wakaf di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo agar eksistensinya dapat terwujud. dan peningkatan ekonomi mikro tetap terjaga.

Khususnya dalam proses kegiatan belajar mengajar (KLM) yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar. Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo wakaf sumber daya produktif atau model harta produktif wakaf. Kemudian sumber data tambahan adalah sumber data tertulis meliputi dokumen dan foto yang berkaitan dengan upaya perbaikan pengelolaan Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo 6.

Metode ini digunakan untuk memperoleh data mengenai cara/metode yang digunakan Kepala Pondok Pesantren untuk meningkatkan pengelolaan wakaf di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo.

Gambar 1.1 proses analisis data. 22
Gambar 1.1 proses analisis data. 22

Tahapan Penelitian 1. Tahap tahap penelitian

Menurut Sugiyono23 Dalam penelitian kualitatif, teknik analisis data lebih banyak dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data. Adapun yang menjadi sumber data atau informasi dalam penelitian ini adalah : Pimpinan Pondok Pesantren, Kurikulum Waka, Ustadz dan seluruh pengurus Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo. Menurut Miles dan Huberman, kegiatan analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan dilakukan secara terus menerus hingga tuntas sehingga datanya jenuh.

Meliputi antara lain fungsi dan bentuk laporan, kegiatan dan fungsi laporan, teknik dan strategi penulisan laporan hingga akhirnya mengkaji hasil penelitian. Hasil penelitian tersebut selanjutnya dikonsultasikan kepada dosen pembimbing untuk mendapatkan saran perbaikan guna menyempurnakan skripsi, yang kemudian hasil dosen pembimbing tersebut menindaklanjuti dengan menulis skripsi yang sempurna. Mengenai keterbatasan waktu, peneliti sendirilah yang harus menentukan waktu agar waktu yang ada di lapangan dapat dimanfaatkan seefektif dan seefisien mungkin.

Sistematika Pembahasan

Bab keempat adalah Pembahasan, yaitu bab yang membahas tentang analisis data yang diperoleh dalam penelitian yang meliputi analisis, Model Pengumpulan Sumber Daya Produktif Wakaf, Model Sumber Daya Produktif Wakaf atau Harta Produktif Wakaf, dan Model untuk pemanfaatan hasil produktif wakaf di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ngabar Ponorogo. Bab kelima merupakan penutup yang merupakan bab terakhir dari keseluruhan rangkaian pembahasan dari bab I hingga bab V.

Wakaf

Dalam Islam, wakaf tidak terbatas pada tempat ibadah dan benda-benda yang menjadi prasarana dan sarana saja, namun diperbolehkan dalam segala bentuk sedekah, seperti sedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan, pembebasan budak, usaha patungan yang baik dan segala kegiatan yang bertujuan. dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT (taqorrub illa Allah), seperti hadiah kepada keluarga dan lain-lain. Nadzir adalah pihak yang menerima harta wakaf dari wakif untuk dikelola dan dikembangkan sesuai peruntukannya. Harta wakaf adalah harta yang mempunyai daya tahan jangka panjang dan/atau manfaat jangka panjang serta mempunyai nilai keuangan menurut syariah yang diwakafkan.

Artinya: Perumpamaan (dari penghasilan yang mereka berikan), orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, serupa. Hai orang-orang yang beriman, infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil ikhtiar kalian yang baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kalian. Menurut Abu Yahya Zakariya, menyerahkan wakaf kepada orang yang tidak jelas identitasnya adalah haram.

Dengan demikian maka hukum yang mengalihkan hak milik kepada orang yang belum ada adalah tidak sah, begitu pula kepada orang yang tidak dapat menerima hak milik. Sedangkan hukum wakaf bagi orang yang statusnya dilarang karena penghamburan harta atau karena kebangkrutan adalah tidak sah. Selain itu, disarankan kepada mauquf 'alayh agar ia hadir pada saat serah terima wakaf, agar ia ahli dalam memiliki harta wakaf, dan bukan orang yang membangkang.

Adapun (nadhir), ia adalah kata nama fâ'il dari kata nazhara yang kemudian dapat diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai pengawas atau wali.51 Manakala nadhir wakaf, atau biasa disebut nadhir, ialah orang yang mempunyai tugas mengurus. Pengertian ini dikembangkan di Indonesia kepada sekumpulan orang atau badan hukum yang dibebankan dengan tugas memelihara dan mengurus objek wakaf. Orang yang diberi kuasa atau diberi tugas mengawasi harta wakaf disebut nadhir atau mutawalli.

Oleh itu, nadir bermaksud orang yang mempunyai hak untuk bertindak ke atas harta wakaf, sama ada mengurusnya, mengekalkannya, mengembangkan dan mengagihkan hasil wakaf kepada orang yang berhak menerimanya, atau Pada masa ini, nadir -kedudukan, pihak. menerima harta wakaf daripada waqif untuk diurus dan dibangunkan mengikut ketentuannya. Disyaratkan juga tiada unsur mungkar, justeru dibolehkan berwakaf kepada ulama, orang zuhud (orang yang menjauhkan diri dari kehidupan dunia), masjid dan juga pondok.

Sedangkan ulama ada yang membagi bangunan wakaf menjadi bangunan yang berupa masjid dan non masjid.

Manajemen Wakaf Produktif

عفدو ةباق لاو هيج تلا لع قلطي لّا حاطصاا يه ة اداا ا

Pesantren Dan Institusi Wakaf 1. Pengertian Pesantren

Merujuk juga pada pendapat Soegarda Poerbakawatja yang menjelaskan bahwa pesantren berasal dari kata santri yang berarti orang yang mempelajari agama Islam. Dalam penggunaan sehari-hari, istilah pesantren dapat disebut dengan pondok saja, atau kedua kata tersebut dapat digabungkan menjadi pondok pesantren. Arifin artinya lembaga pendidikan agama Islam yang berkembang dan dikenal masyarakat sekitar dengan sistem pesantren (kompleks), dimana santrinya mendapat pendidikan agama.

Lembaga Penelitian Islam (Pesantren Luhur) mendefinisikan pesantren sebagai “ruang bagi santri untuk mempelajari agama Islam, sekaligus sebagai tempat berkumpul dan bermukim. 96. Beragamnya tujuan pesantren menunjukkan keunikan masing-masing pesantren dan berada pada posisi yang sama. sekaligus menjadi ciri kemandirian dan kemandiriannya.Peran pesantren dalam pemberdayaan anak marginal (Studi deskriptif implementasi program pendidikan terpadu anak harapan di Pondok Pesantren Darul Falah Sukorejo Ponorogo.

99 Fuad, Muhammad, Awakening the Sleeping Giant: Problematika Pengelolaan dan Pemanfaatan Wakaf di Indonesia, (Depok: Piramedia.. badan hukum/yayasan lembaga wakaf, 3) Pengelolaan harta wakaf yang produktif dan 4) Pendistribusian hasil wakaf baik ke internal maupun para petani dan masyarakat. Pilar pertama dan utama adalah adanya keteladanan yang baik dari para pendahulu dan pimpinan pesantren dengan ikhlas mewariskan sebagian hartanya untuk diperuntukkan bagi kemaslahatan umat yaitu pengembangan pesantren dan bukan sebaliknya diwariskan kepada keturunannya. Bukti bahwa Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari menyumbangkan sekitar 13 ha tanah untuk pesantren dan sawah pada tahun 1947 sebelum kematiannya telah memberikan sinyal bahwa ada kepentingan yang lebih besar dari yang lain untuk pengembangan dan kemandirian pesantren di masa depan.

Hal ini terbukti pada dua asrama Islam yang menunjukkan bahwa nazir wakaf pesantren berbentuk yayasan atau badan hukum yang agak berbeda dengan nazir organisasi atau perseorangan dalam pengelolaan wakafnya. Hal ini menjadi contoh menarik dalam pendirian wakaf baru berbentuk perusahaan oleh nâzir wakaf Tebuireng, karena ada program penanaman tanaman sengon di tanah wakaf pesantren dan menjadikannya produktif, maka lahirlah Pondok Pesantren nâzir wakaf Tebuireng. bekerja sama dengan perusahaan asal pasuruan yang bergerak di bidang penanaman pohon sengon ini dan dapat disepakati. Nâzir wakaf Tebuireng telah melaksanakan program seperti pemberdayaan aset wakaf berupa sawah dan tanah dengan berupaya meningkatkan hasil dengan berbagai model produktivitas energi wakaf.

Begitu pula dengan program sengonisasi dan pendirian Perseroan Terbatas (PT) atas nama Pondok Pesantren Tebuireng yang sebenarnya bertugas mengembangkan sumber dana wakaf pesantren. Pilar keempat, hasil pengelolaan sumber daya wakaf disalurkan untuk kemaslahatan masyarakat, baik secara internal untuk memperkuat pesantren dalam mengembangkan misi utama pesantren, maupun secara eksternal untuk memberdayakan masyarakat umum.

Gambar

Gambar 1.1 proses analisis data. 22

Referensi

Dokumen terkait

Hal tersebut diungkapkan oleh Ibu Siti Syamsiyah selaku jamaah masjid bahwa: “saya jamaah masjid, jadi ketika pengamalannya, ada beberapa ajaran yang diterapkan dalam kehidupan