See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/326998493
ANALISIS BIAYA OPERASIONAL DAN ARUS KAS TERHADAP PROFITABILITAS PADA PT ASTRA INTERNATIONAL, TBK Analysis of Operating Costs and Cash Flow on Profitability PT Astra International,...
Conference Paper · July 2014
CITATIONS
0
READS
5,140 2 authors, including:
Sutarti Sutarti
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kesatuan, Indonesia, Bogor 30PUBLICATIONS 76CITATIONS
SEE PROFILE
All content following this page was uploaded by Sutarti Sutarti on 03 October 2018.
The user has requested enhancement of the downloaded file.
1
ANALISIS BIAYA OPERASIONAL DAN ARUS KAS TERHADAP PROFITABILITAS PADA PT ASTRA
INTERNATIONAL, TBK
Analysis of Operating Costs and Cash Flow on Profitability PT Astra International, Tbk
MULYANI SANJAYA SUTARTI
ABSTRACT
Operational costs are a finance company issued to increase the rate of sales growth in the company’s operating activities. Operational costs are classified into two, namely the selling expenses and general and administrative expenses. Cash flow statement is something that shows the source of the company’s cash receipts and disbursements during the accounting period, which are classified according to operating, investing, and funding. Profitability was obtained by comparing the net income by total assets of the company, or which is known by the formula ROA.
The purpose of this study was to determine the effect of operating expenses and operating cash flow to the company’s profitability. The research is the author of the data in the financial statements PT Astra International, Tbk in 2009 to 2013.
The research method used was a descriptive comparative quantitative authors, by comparing the company’s financial statements last year to the current year. The analytical method used to determinethe relationship between the variabels that will be studied is multiple linear regression analysis.
The results of the study concluded that PT Astra International, Tbk operating costs and operating cash flows have a very strong relationship, no significant effect on the value of Operating Profit Margin, but have a significant influence on the value of the Return On Assets. Operational costs incurred by the company do not very affect operating income.
Operating Profit after income is affected by the cost of goods sold.
Keywords : Operating Costs, Operating Cash Flow, Profitability
2 PENDAHULUAN
Profitabilitas atau kemampulabaan itu didapat dengan membandingkan laba bersih dengan total aktiva perusahaan, atau yang dikenal dengan rumus ROA.
Untuk memperoleh laba/profit tersebut para pimpinan perusahaan turut berperan aktif dalam menyusun kebijakan dan membuat keputusan yang tepat dalam beberapa kegiatan perusahaan.
Dalam mencapai setiap tujuannya perusahaan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan hasil yang diharapkan perusahaan, salah satunya dengan cara menerapkan sistem manajemen yang baik dan terkontrol
terutama di bagian
financial/keuangannya. Karena ketika perusahaan telah menghasilkan pendapatan yang stabil dan cukup, perusahaan masih akan menghadapi persoalan terhadap arus kas baik kas yang keluar maupun kas yang masuk.
Untuk dapat mengetahui kinerja setiap perusahaan harus menyajikan suatu laporan keuangan pada satu periode. Laporan keuangan digunakan sebagai dasar untuk menentukan atau menilai posisi keuangan perusahaan, dimana hasil analisis tersebut digunakan oleh pihak–pihak yang berkepentingan untuk mengambil suatu keputusan.
Selain itu laporan keuangan akan dapat menilai kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban–kewajibannya, struktur modal usaha, keefektifan penggunaan aktiva, serta hal–hal lainnya yang berhubungan dengan keadaan finansial perusahaan.
Prinsip mendasar yang sangat mudah diterima adalah realitas keterbatasan pemasukan dibandingkan dengan pengeluaran. Hal ini haruslah perusahaan menyadari pentingnya mengatur arus kas serta membuat laporan arus kas yang mungkin berguna untuk kepentingan jangka pendek maupun kepentingan jangka panjang.
Selain itu, perusahaan pun harus menyadari pentingnya mengatur arus kas ini dalam menjalankan operasi
perusahaan. Pengaturan arus kas harus mampu mengintegrasikan tujuan-tujuan finansial dengan pengeluaran dan pemasukan.
Laporan arus kas merupakan sesuatu yang menunjukkan sumber penerimaan dan pengeluaran kas perusahaan selama satu periode akuntansi. Oleh karena itu, laporan arus kas ini harus disusun berdasarkan klasifikasi selama periode tertentu serta diklasifikasikan menurut aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.
Efisiensi operasi perusahaan akan berperanan penting terhadap keberhasilan perusahaan dengan adanya laju pertumbuhan penjualan yang meningkat. Peningkatan laju pertumbuhan penjualan tersebut pun memerlukan adanya penambahan pembiayaan, baik pembiayaan dalam aktiva lancar maupun aktiva tetap. Salah satu pembiayaan adalah biaya operasional perusahaan yang menunjang kegiatan sehari-hari atau kegiatan operasi perusahaan.
Biaya operasional merupakan suatu pembiayaan perusahaan yang dikeluarkan untuk meningkatkan laju pertumbuhan penjualan dalam aktivitas operasi perusahaan. Biaya operasional pun diklasifikasikan menjadi 2 yaitu biaya penjualan dan biaya administrasi dan umum. Biaya-biaya tersebut adalah biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan yang dibandingkan dengan penghasilan yang didapat perusahaan.
Kaitannya biaya operasional dengan arus kas adalah di bagian arus kas atas aktivitas operasi. Apakah kas yang dikeluarkan untuk aktivitas operasi sesuai dengan biaya operasional di laporan laba rugi. Maka dari itu saat membuat laporan arus kas perusahaan data yang disajikan adalah data laporan laba rugi perusahaan dan neraca atau yang sekarang dikenal dengan laporan posisi keuangan perusahaan. Laporan arus kas itu harus dicermati sejauh mana operasional kas perusahaan mampu menghasilkan arus kas yang mampu melunasi pinjaman serta memelihara
3 kemampuan operasi perusahaan
tersebut, misalnya membayar dividen dan melakukan investasi baru tanpa mencari pinjaman baru, atau mungkin kas yang datang dari luar perusahaan.
Kalau hal-hal tersebut tidak bisa dilakukan maka perusahaan tidak dapat berjalan dengan optimal dan maksimal.
Untuk itu setiap perusahaan diwajibkan menyusun laporan arus kas dan menjadikan laporan tersebut sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan untuk setiap periode penyajian laporan keuangan. Laba bersih yang dihasilkan suatu perusahaan belum menjamin bahwa perusahaan tersebut memiliki uang kas yang cukup.
Untuk menjalankan operasi, melakukan investasi, dan membayar hutang, perusahaan benar-benar harus memiliki kas bukan memiliki laba bersih.
Karena itu, bagi investor sangat penting untuk menganalisis sampai sejauh mana efesiensi perusahaan dalam mengelola kasnya. Tujuan utama laporan arus kas adalah menyajikan informasi yang relevan tentang penerimaan dan pengeluaran kas suatu perusahaan selama satu periode.
IDENTIFIKASI MASALAH Beberapa identifikasi masalah yang berkaitan dengan biaya operasional dan arus kas yang terjadi pada perusahaan, dalam kaitannya terhadap profitabilitas perusahaan adalah sebagai berikut : 1. Bagaimana biaya operasional di PT
Astra Internasional, Tbk?
2. Bagaimana laporan arus kas disajikan di PT Astra Internasional, Tbk?
3. Bagaimana kaitan biaya operasional dan arus kas operasi dalam mempengaruhi profitabilitas PT Astra Internasional, Tbk?
TUJUAN PENELITIAN Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gelar sarjana ekonomi di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi
Kesatuan Bogor. Selain itu ditujukan untuk mengetahui sejauh mana perlakuan akuntansi laporan arus kas dan biaya operasional yang berguna dalam pengukuran profitabilitas perusahaan.
Sesuai dengan identifikasi masalah di atas maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui biaya operasional yang dikeluarkan untuk kegiatan operasi PT Astra Internasional, Tbk.
2. Untuk mengetahui sumber-sumber dan pengeluaran kas dalam laporan arus kas yang disajikan PT Astra Internasional, Tbk.
3. Untuk mengetahui kaitan atau hubungan antara biaya operasional dan arus kas operasi dalam mempengaruhi profitabilitas PT Astra Internasional, Tbk.
TINJAUAN PUSTAKA
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa setiap perusahaan tentunya membutuhkan biaya untuk menunjang kelangsungan hidup dalam mencapai suatu tujuan dan sasaran yang telah direncanakan sebelumnya. Biaya operasional merupakan keseluruhan biaya-biaya komersil yang dikeluarkan untuk menunjang atau mendukung kegiatan atau aktivitas perusahaan untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan.
Biaya Operasional adalah biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan, sehubungan dengan operasi atau kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan dalam usahanya mencapai tujuan perusahaan yang lebih maksimal.
Biaya Operasional (Operating Expenses) terdiri dari :
1) Biaya Penjualan (Selling Expenses) Menurut Garrison, Noreen, dan Brewer dalam buku Akuntansi Manajerial(2006, 52) bahwa “Biaya pemasaran atau penjualan meliputi semua biaya yang diperlukan untuk menangani pesanan konsumen dan memperoleh produk atau jasa untuk disampaikan kepada konsumen”.
4 Biaya penjualan meliputi :
a) Biaya Gaji Karyawan Bagian Penjualan (Sales Salaries)
b) Biaya Gaji Karyawan Bagian Toko (Stores Salaries)
c) Biaya Perlengkapan Toko (Store Supplies)
d) Biaya Asuransi Toko (Store Insurance)
e) Biaya Telepon Toko (Store Telephone)
f) Biaya Iklan (Advertising) g) Biaya Pengiriman (Delivery
Expenses)
h) Biaya Penyusutan Perlengkapan Toko (Depreciation of Store Equipment)
i) Biaya Penyusutan Perabot/Meubel Toko (Depreciation of Store Furniture)
2) Biaya Administrasi dan Umum (General and Administration Expenses)
Menurut Garrison, Noreen, dan Brewer (2006 : 53) mengemukakan bahwa “Biaya administrasi meliputi pengeluaran eksekutif, organisasional, dan klerikal yang berkaitan denga manajemen umum organisasi”.
Biaya administrasi dan umum meliputi :
a) Biaya Gaji Karyawan Kantor (Office Salaries)
b) Biaya Perlengkapan Kantor (Office Supplies)
c) Biaya Perawatan Kantor (Office Maintenance) d) Biaya Penyusutan Gedung
(Depreciation of Building) e) Biaya Penyusutan
Perlengkapan Kantor (Depreciation of Office Equipment)
f) Biaya Pajak (Taxes)
g) Biaya Peralatan (Utilities Expenses)
Laporan arus kas merupakan salah satu laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan. Laporan arus kas adalah laporan yang menunjukkan
ikhtisar terinci mengenai semua arus kas masuk dan arus kas keluar, atau sumber dan penggunaan kas selama suatu periode.
Kas merupakan salah satu pos aktiva lancar yang paling likuid (cair), yang memiliki sifat produktif potensial.
Perusahaan membutuhkan kas untuk membeli barang dan jasa, membayar hutang dan membayar deviden kepada pemilik (distribusi).
PSAK No. 2 (2012, 2.2) menyatakan bahwa :
Arus kas adalah arus masuk kas dan arus keluar kas dan setara kas. Kas terdiri dari saldo kas (cash on hand) dan rekening giro (demand deposits). Setara kas (cash equivalent) adalah investasi yang sifatnya sangat likuid, berjangka pendek, dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah yang dapat ditentukan dan memiliki risiko perubahan nilai yang tidak signifikan.
Menurut Jerry J. Weygandt (2005, 27) “Statement of cash flow is a financial statement that summarizes information about the cash inflows (receipts) and cash outflows (payment) for a spesific period of time”.
Laporan arus kas (cash flow) mengandung dua macam aliran kas yaitu :
1) Cash Inflow
Cash inflow adalah arus kas yang terjadi dari kegiatan transaksi yang melahirkan keuntungan kas (penerimaan kas). Arus kas masuk (cash inflow) terdiri dari:
a) Hasil penjualan produk/jasa perusahaan
b) Penagihan piutang dari penjualan kredit
c) Penjualan aktiva tetap yang ada
d) Penerimaan investasi dari pemilik atau saham bila perseroan terbatas
e) Pinjaman/hutang dari pihak lain
5 f) Penerimaan sewa dan
pendapatan lain 2) Cash Outflow
Cash outflow adalah arus kas yang terjadi dari kegiatan transaksi yang mengakibatkan beban pengeluaran kas. Arus kas keluar (cash outflow) terdiri dari:
a) Pengeluaran biaya bahan baku, tenaga kerja langsung dan biaya pabrik lain-lain b) Pengeluaran biaya
administrasi umum dan administrasi penjualan c) Pembelian aktiva tetap d) Pembayaran hutang-hutang
perusahaan
e) Pembayaran kembali investasi dari pemilik perusahaan
f) Pembayaran sewa, pajak, deviden, bunga dan pengeluaran lain-lain Salah satu tujuan laporan keuangan adalah untuk membantu para pemakai laporan keuangan dalam membuat prediksi-prediksi tentang arus kas masuk dan arus kas keluar sebuah perusahaan pada masa yang akan datang.
Ada pula kebijakan dari perusahaan untuk menahan pengeluaran kas yang terlalu ketat dan tidak proposional dengan kegiatan perusahaan, karena hal tersebut dapat mempengaruhi kinerja perusahaan yang akhirnya berpengaruh pada kemampuan pencapaian laba (profitability). Laporan arus kas bermanfaat secara internal bagi manajemen dan secara eksternal bagi para pemodal dan kreditor. Secara internal, manajemen memakai laporan arus kas untuk menilai likuiditas, menentukan kebijakan deviden, dan mengevaluasi imbas dari keputusan- keputusan kebijakan pokok yang menyangkut investasi dan pendanaan.
Tujuan arus kas menurut PSAK No.2 (2012, 2.1) adalah “Memberikan pengaturan atas informasi mengenai perubahan historis dalam kas dan setara kas dari suatu entitas melalui laporan arus kas yang mengklasifikasikan arus kas berdasarkan aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan selama suatu periode”.
PSAK No. 2 (2012, 2.3), komponen- komponen laporan arus kas meliputi:
1) Aktivitas Operasi
Jumlah arus kas yang berasal dari aktivitas operasi merupakan indikator utama untuk menentukan apakah operasi entitas dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi entitas, membayar deviden dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan pada sumber pendanaan dari luar.Arus kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh dari aktivitas penghasil utama pendapatan entitas. Arus kas operasi pada umumnya berasal dari transaksi dan peristiwa lain yang mempengaruhi penetapan laba rugi.
Beberapa contoh arus kas dari aktivitas operasi adalah sebagai berikut:
a) Penerimaan kas dari penjualan barang dan pemberian jasa.
b) Penerimaan kas dari royalti, fees, komisi dan pendapatan lain.
c) Pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa.
d) Pembayaran kas kepada dan untuk kepentingan karyawan.
e) Penerimaan dan
pembayaran kas oleh entitas asuransi sehubungan dengan premi, klaim, dan manfaat polis lain.
f) Pembayaran kas atau penerimaan kembali (restitusi) pajak penghasilan kecuali jika dapat diidentifikasikan secara khusus sebagai bagian dari aktivitas pendanaan dan investasi.
g) Penerimaan dan
pembayaran kas dari kontrak yang dimiliki untuk tujuan diperdagangkan atau diperjualbelikan.
2) Aktivitas Investasi
Arus kas dari aktivitas investasi mencerminkan penerimaan dan
6 pengeluarankas sehubungan
dengan sumber-sumber daya yang bertujuan menghasilkanpendapatan dan arus kas masa depan. Contoh arus kas yang berasal dariaktivitas investasi adalah sebagai berikut:
a) Pembayaran kas untuk membeli aset tetap, aset tak berwujud, danaset jangka panjang lain, termasuk biaya pengembangan yang dikapitalisasi dan aset tetap yang dibangun sendiri.
b) Penerimaan kas dari penjualan aset tetap, aset takberwujud dan aset jangka panjang lain.
c) Pembayaran kas untuk membeli instrumen utang atau instrumen ekuitas entitas lain dan kepemilikkan dalam ventura bersama (selain pembayaran kas untuk instrumen yang dianggap setara kas atau instrumen yang dimiliki untuk diperdagangkan atau diperjualbelikan).
d) Penerimaan kas untuk membeli instrumen utang atau instrumen ekuitas entitas lain dan kepemilikkan dalam ventura bersama (selain penerimaan kas untuk instrumen yang dianggap setara kas atau instrumen yang dimiliki untuk diperdagangkan atau diperjualbelikan).
e) Uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain (selain uang muka dan kredit yang diberikan oleh lembaga keuangan).
f) Penerimaan kas dari pelunasan uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain (selain uang muka dan kredit yang diberikan oleh lembaga keuangan).
g) Pembayaran kas
sehubungan dengan future contracts, forward contracts,option contracts dan swap contracts,kecuali
jika kontrak tersebut dimiliki
untuk tujuan
diperdagangkan atau diperjualbelikan, atau jika pembayaran tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan.
h) Penerimaan kas
sehubungan dengan future contracts, forward contracts,option contracts dan swap contracts,kecuali jika kontrak tersebut dimiliki
untuk tujuan
diperdagangkan atau diperjualbelikan, atau jika pembayaran tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan.
3) Aktivitas Pendanaan
Arus kas dari aktivitas pendanaan adalah penting karena berguna untuk memprediksi klaim atas arus kas masa depan oleh para penyedia modal entitas. Beberapa contoh arus kas dari aktivitas pendanaan adalah sebagaiberikut:
a) Penerimaan kas dari penerbitan saham atau instrumen ekuitas lain.
b) Pembayaran kas kepada pemilik untuk menarik ataumenebus saham entitas.
c) Penerimaan kas dari penerbitan obligasi, pinjaman, wesel, hipotek dan pinjaman pendek dan jangka panjang lain.
d) Pelunasan pinjaman.
e) Pembayaran kas oleh lessee
untuk mengurangi
saldoliabilitas yang berkaitan dengan sewa pembiayaan.
Perusahaan melaporkan laporan arus kas dengan metode sebagai berikut :
1) Metode Langsung (Direct Method) Metode langsung adalah metode dengan kelompok utama dari penerimaan kasbruto dan pengeluaran kas bruto yang diungkapkan. Metode ini
7 menghasilkan informasi yang
berguna dalam mengestimasi arus kas masa depan yang tidak dapat dihasilkan dengan metode tidak langsung. Dengan metode langsung, informasi mengenai kelompok utama penerimaan kas bruto dan pengeluaran kas bruto dapat diperoleh baik:
a) Dari catatan akuntansi perusahaan; atau
b) Dengan menyesuaikan penjualan, beban pokok penjualan dengan pos-pos lain dalam laporan laba rugi untuk:
(1) Perubahan persediaan, piutang usaha dan hutang usaha selama periode berjalan.
(2) Pos bukan kas lainnya.
(3) Pos lain yang berkaitan dengan arus kas investasi dan pendanaan.
2) Metode Tidak Langsung (Indirect Method)
Metode tidak langsung, laba rugi bersih di sesuaikan dengan mengoreksi pengaruh dari transaksi bukan kas, penangguhan (defferal) atau akrual dari penerimaan atau pembayaran kas untuk operasi di masa lalu dan masa depan, dan unsur penghasilan atau beban yang berkaitan dengan arus kas investasi dan pendanaan. Dalam metode tidak langsung, arus kas bersih dari aktivitas operasi di tentukan dengan menyesuaikan laba rugi dari pengaruh:
a) Perubahan persediaan dan piutang usaha selama periode berjalan.
b) Pos bukan kas seperti, penyusutan, penyisihan pajak ditangguhkan, keuntungan dan kerugian valuta asing yang belum direalisasi, laba perusahaan asosiasi yang belum dibagikan dan hak minoritas dalam laba atau rugi konsolidasi.
c) Semua pos lain yang berkaitan dengan arus kas investasi atau pendanaan.
Profitabilitas merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Variabel ini diukur dengan Return On Assets (ROA).
Profitabilitas merupakan perbandingan antara laba operasi dengan jumlah seluruh aktiva perusahaan pada suatu periode. Profitablitas atau kemampuan memperoleh laba adalah suatu ukuran dalam persentase yang digunakan untuk menilai sejauh mana perusahaan mampu menghasilkan laba pada tingkat yang dapat diterima. Angka profitabilitas dinyatakan antara lain dalam angka laba sebelum atau sesudah pajak, laba investasi, pendapatan per saham, dan laba penjualan.
Rasio profitabilitas atau rasio keuntungan mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungan dengan penjualan, aktiva maupun laba dan modal sendiri.
Return on Assets (ROA) merupakan salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur laba perusahaan. ROA merupakan rasio antara laba sesudah pajak atau net income after tax terhadap total assets. ROA yang semakin tinggi akan meningkatkan daya tarik investor, sehingga harga saham relatif meningkat, demikian pula return saham akan meningkat.
METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dan juga deskriptif komparatif yang bersifat kuantitatif, yaitu suatu metode yang bertujuan untuk mengamati aspek-aspek di perusahaan secara lebih spesifik dengan menggunakan data sekunder, serta untuk membandingkan data laporan keuangan perusahaan tahun lalu dengan tahun berjalan.
Teknik pengumpulan data menggunakan data sekunder dari Bursa Efek Indonesia di STIE Kesatuan dalam melakukan penelitian.
Adapun sumber dan informasi dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1) Studi Kepustakaan
8 Salah satu bentuk penelitian
yang dilakukan untuk memperoleh informasi dan data yang diperlukan berdasarkan buku-buku atau literature sehingga memperoleh pengertian teoritis yang berguna untuk proposal skripsi ini dan untuk menganalisis data yang diperoleh dari tempat lokasi penelitian.
2) Internet Browsing
Metode pengumpulan data melalui situs-situs internet perusahaan untuk memperoleh informasi dan data laporan keuangan guna untuk melengkapi pembahasan penelitian dan melakukan analisa.
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian terhadap PT Astra International, Tbk adalah deskriptif komparatif kuantitatif. Metode yang digunakan penulis untuk mengetahui hubungan antara variabel-variabel yang akan diteliti adalah analisis regresi linear berganda dengan menggunakan SPSS.
Metode ini digunakan untuk membuktikan besarnya pengaruh X1 dan X2 terhadap Y (baik Y1 maupun Y2), dimana variabel ini mempunyai hubungan korelasi yang mempengaruhi satu sama lain.
HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis regresi linear berganda adalah hubungan secara linear antara dua atau lebih variabel independen (X1, X2,....Xn) dengan variabel dependen (Y).
Analisis ini untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen apakah masing-masing variabel independen berhubungan positif atau negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai variabel independen mengalami kenaikan atau penurunan.
Analisis ini adalah analisis statistik yang merupakan analisis yang mengacu pada perhitungan data penelitian yang berupa angka-angka yang dianalisis dengan bantuan komputer melalui program SPSS. Sebelum menganalisis data antara variabel Biaya Operasional
dan Arus Kas Operasi sebagai variabel independen terhadap variabel Profitabilitas (OPM dan ROA) sebagai variabel terikat, yang penulis akan sajikan dalam kurun waktu 5 tahun dari tahun 2009 sampai dengan 2013 di PT Astra International, Tbk. adalah sebagai berikut:
a. X1, X2 terhadap Y1
Hubungan antara variabel biaya operasional dan arus kas operasi terhadap OPM (Operating Profit Margin).
Tabel Hasil Analisis Regresi Linear Berganda (OPM)
Coefficientsa
Model Unstandardized
Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std.
Error Beta
1 (Constant) .163 .017 9.850 .010
Biaya
Operasional -3.803E-006 .000 -.927 -2.761 .110 Arus Kas
Operasi 3.496E-008 .000 .019 .056 .960
a. Dependent Variable: OPM
Dari tabel di atas terdapat persamaan regresi untuk pengaruh biaya operasional dan arus kas operasi secara simultan terhadap Operating Profit Margin (OPM) yaitu:
Y1 = 0,163 - (3,803 x 100,006)X1 + (3,496 x 100,008)X2 + error
Dimana: Y1 = Operating Profit Margin X1 = Biaya Operasional X2 = Arus Kas Operasi
Persamaan regresi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Konstanta sebesar 0,163; artinya jika Biaya Operasional (X1) dan Arus Kas Operasi (X2) nilainya adalah 0, maka OPM (Y1) nilainya adalah 0,163.
- Koefisien regresi variabel Biaya Operasional (X1) sebesar -3,803E- 006; artinya jika variabel Arus Kas Operasi nilainya tetap dan Biaya Operasional mengalami kenaikan 1M, maka OPM (Y1) akan mengalami penurunan sebesar 3,803E-006.
Koefisien bernilai negatif artinya terjadi hubungan negatif antara Biaya Operasional dengan OPM, semakin naik Biaya Operasional maka semakin turun nilai OPM.
- Koefisien regresi variabel Arus Kas Operasi (X2) sebesar 3,496E-008;
9 artinya jika variabel Biaya
Operasional nilainya tetap dan Arus Kas Operasi mengalami kenaikan 1M, maka OPM (Y1) akan mengalami peningkatan sebesar 3,496E-008.
Koefisien bernilai positif artinya terjadi hubungan positif antara Arus Kas Operasi dengan OPM, semakin naik Arus Kas Operasi maka semakin meningkat nilai OPM.
Dari tabel hasil analisis regresi linear berganda juga terlihat hasil uji t dengan tingkat signifikansi menggunakan a = 5%, maka t-tabel dicari pada pengujian 2 sisi (signifikansi = 0,025), dengan t-tabel sebesar 4,303.
Berdasarkan hasil tersebut tidak ada pengaruh signifikan antara Biaya Operasional dengan OPM, karena nilai -t hitung > -t tabel (-2,761 > -4,303).
Sedangkan Arus Kas Operasi tidak mempunyai pengaruh karena t-hitung sebesar 0,056 lebih kecil dari t-tabel.
Dari hasil analisis regresi, lihat pada ouput model summary dan disajikan sebagai berikut:
Tabel Hasil Analisis Korelasi Ganda (OPM)
Model Summary
Model R R
Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .917a .841 .682 .0069393
a. Predictors: (Constant), Arus Kas Operasi, Biaya Operasional
Berdasarkan tabel di atas diperoleh angka korelasi berganda (R) antara X1
dan X2 terhadap Y1 sebesar 0,917. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang sangat kuat antara Biaya Operasional dan Arus Kas Operasi terhadap OPM. Dan koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,841 atau 84,1% artinya X1 dan X2 mampu menjelaskan variabilitas Y1 sebesar 84,1% dan sisanya yaitu 15,9%
ditentukan oleh faktor lain yang tidak diteliti.
Dari hasil output analisis regresi dapat diketahui nilai uji F dari hasil anova yang disajikan sebagai berikut:
Tabel Hasil Anova (OPM) ANOVAa
Model Sum of
Squares
Df Mean Square
F Sig.
1
Regression .001 2 .000 5.299 .159b Residual .000 2 .000
Total .001 4
a. Dependent Variable: OPM
b. Predictors: (Constant), Arus Kas Operasi, Biaya Operasional
Dari perhitungan hasil anova di atas diperoleh F. Uji F tidak dapat dikatakan signifikan jika F-hitung < F-tabel. Dari hasil di atas diperoleh hasil F-hitung sebesar 5,299 sedangkan F-tabel yang didapat sebesar 19,000, maka 5,299 <
19,000. Artinya, tidak ada pengaruh signifikan antara biaya operasional dan arus kas operasi secara bersama-sama terhadap nilai OPM.
b. X1, X2 terhadap Y2
Hubungan antara variabel biaya operasional dan arus kas operasi terhadap Return On Assets (ROA).
Tabel Hasil Analisis Regresi Linear Berganda (ROA)
Coefficientsa
Model Unstandardized
Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std.
Error Beta
1 (Constant) .188 .009 19.808 .003
Biaya
Operasional -2.786E-006 .000 -.471 -3.517 .072 Arus Kas
Operasi -1.730E-006 .000 -.648 -4.844 .040
a. Dependent Variable: ROA
Dari tabel di atas terdapat persamaan regresi untuk pengaruh biaya operasional dan arus kas operasi secara simultan terhadap Return On Assets (ROA) yaitu:
Y2 = 0,188 - (2,786 x 100,006)X1 - (1,730 x 100,006)X2 + error
Dimana: Y2 = Return On Assets X1 = Biaya Operasional X2 = Arus Kas Operasi
Persamaan regresi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Konstanta sebesar 0,188; artinya jika Biaya Operasional (X1) dan Arus Kas Operasi (X2) nilainya adalah 0, maka ROA (Y2) nilainya adalah 0,188.
- Koefisien regresi variabel Biaya Operasional (X1) sebesar -2,786E- 006; artinya jika variabel Arus Kas Operasi nilainya tetap dan Biaya Operasional mengalami kenaikan
10 1M, maka ROA (Y2) akan mengalami
penurunan sebesar 2,786E-006.
Koefisien bernilai negatif artinya terjadi hubungan negatif antara Biaya Operasional dengan ROA, semakin naik Biaya Operasional maka semakin turun nilai ROA.
- Koefisien regresi variabel Arus Kas Operasi (X2) sebesar -1,730E-006;
artinya jika variabel Biaya Operasional nilainya tetap dan Arus Kas Operasi mengalami kenaikan 1M, maka ROA (Y2) akan mengalami penurunan sebesar 1,730E-006.
Koefisien bernilai negatif artinya terjadi hubungan negatif antara Arus Kas Operasi dengan ROA, semakin naik Arus Kas Operasi maka semakin menurun nilai ROA.
Dari tabel hasil analisis regresi linear berganda juga terlihat hasil uji t dengan tingkat signifikansi menggunakan a = 5%, maka t-tabel dicari pada pengujian 2 sisi (signifikansi = 0,025), dengan t-tabel sebesar 4,303.
Berdasarkan hasil tersebut tidak ada pengaruh signifikan antara Biaya Operasional dengan ROA, karena nilai -t hitung > -t tabel (-3,517 > -4,303).
Sedangkan Arus Kas Operasi mempunyai pengaruh karena t-hitung sebesar -4,844 lebih kecil dari t-tabel.
Dari hasil analisis regresi, lihat pada ouput model summary dan disajikan sebagai berikut:
Tabel Hasil Analisis Korelasi Ganda (ROA)
Model Summary
Model R R
Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .987a .975 .950 .0039902
a. Predictors: (Constant), Arus Kas Operasi, Biaya Operasional
Berdasarkan tabel di atas diperoleh angka korelasi berganda (R) antara X1
dan X2 terhadap Y2 sebesar 0,987. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang sangat kuat antara Biaya Operasional dan Arus Kas Operasi terhadap ROA. Dan koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,975 atau 97,5% artinya X1 dan X2 mampu
menjelaskan variabilitas Y2 sebesar 97,5% dan sisanya yaitu 2,5% ditentukan oleh faktor lain yang tidak diteliti.
Dari hasil output analisis regresi dapat diketahui nilai uji F dari hasil anova yang disajikan sebagai berikut:
Tabel Hasil Anova (ROA)
ANOVAa
Model Sum of
Squares
Df Mean Square
F Sig.
1
Regression .001 2 .001 38.661 .025b Residual .000 2 .000
Total .001 4
a. Dependent Variable: ROA
b. Predictors: (Constant), Arus Kas Operasi, Biaya Operasional
Dari perhitungan hasil anova di atas diperoleh F. Uji F tidak dapat dikatakan signifikan jika F-hitung < F-tabel. Dari hasil di atas diperoleh hasil F-hitung sebesar 38,661 sedangkan F-tabel yang didapat sebesar 19,000, maka 38,661 >
19,000. Artinya, ada pengaruh signifikan antara biaya operasional dan arus kas operasi secara bersama-sama terhadap nilai ROA.
Dari data-data yang telah dianalisis penulis, ini menunjukkan bahwa biaya operasional tidak mempengaruhi laba operasi, sehingga menyebabkan tidak signifikannya terhadap nilai OPM, karena turunnya persentase biaya operasional tidak menyebabkan persentase laba operasi naik. Persentase laba operasi naik karena adanya kenaikan dari persentase pendapatan setelah HPP.
Namun, biaya operasional dan arus kas operasi mempunyai hubungan yang kuat, ada pengaruh signifikan terhadap nilai ROA, tetapi tidak ada pengaruh signifikan terhadap nilai OPM.
SIMPULAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Biaya Operasional dan Arus Kas terhadap Profitabilitas pada perusahaan yang bergerak dalam bidang industri, yaitu PT Astra International, Tbk dalam kurun waktu 5 tahun, dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2013. Penulis akan menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1) Biaya Operasional
11 Biaya operasional PT Astra
International, Tbk terlihat sejak tahun 2009 sampai dengan 2013 nilainya selalu meningkat. Kenaikan biaya operasional dari tahun 2009 ke tahun 2010 sebesar 11,79%, dari tahun 2010 ke tahun 2011 sebesar 26,85%, dari tahun 2011 ke tahun 2012 sebesar 14,98% dan dari tahun 2012 ke tahun 2013 mengalami sedikit kenaikan lagi sebesar 2,31%.
Kenaikan biaya operasional yang tinggi PT Astra International, Tbk terlihat pada tahun 2010 ke tahun 2011 yaitu sebesar 26,85% atau dalam milyaran rupiah sebesar 3.006.
Adanya peningkatan yang terus menerus dari tahun ke tahun dikarenakan PT Astra International, Tbk terus merekrut karyawan baru setiap tahunnya. Lalu ada pula kenaikan biaya penyusutan dan kenaikan biaya lainnya yang berhubungan dengan biaya untuk kegiatan operasional perusahaan.
2) Laporan Arus Kas
Laporan arus kas yang dimiliki PT Astra International, Tbk mengalami kenaikan dan penurunan. Laporan arus kas dari tahun 2009 ke tahun 2010 mengalami penurunan sebesar 19,76%
atau dalam milyaran rupiah sebesar 1.725, dari tahun 2010 ke tahun 2011 naik sebesar 86,60% atau dalam milyaran rupiah 6.066, dari tahun 2011 ke tahun 2012 mengalami penurunan sebesar 17,26% atau dalam milyaran rupiah sebesar 2.256, dan pada tahun 2012 ke tahun 2013 mengalami kenaikan yang sangat tinggi , yaitu naik sebesar 71,57% atau dalam milyaran rupiah sebesar 7.740.
Arus kas atas kegiatan operasi juga mengalami kenaikan dan penurunan.
Pada tahun 2010 mengalami penurunan yang cukup tinggi yaitu dari 11.335 menjadi sebesar 2.907 dan tahun 2013 mengalami kenaikan drastis dari 8.930 menjadi sebesar 21.250.
Arus kas operasi mengalami penurunan dikarenakan adanya kenaikan pembayaran untuk kegiatan operasi, termasuk kenaikan pembayaran
karyawan. Arus kas operasi mengalami kenaikan dikarenakan pembayaran untuk kegiatan operasi naik namun dapat diseimbangkan dengan penerimaan atas kegiatan operasi PT Astra International, Tbk.
3) Pengaruh Biaya Operasional dan Arus Kas Operasi terhadap Profitabilitas
Hubungan antara biaya operasional dan arus kas operasi sangat kuat terhadap OPM dan ROA. Namun, pengaruhnya terhadap OPM tidak signifikan disebabkan biaya operasional dan kas yang dikeluarkan untuk kegiatan operasi tidak mempengaruhi laba operasi, karena turunnya persentase biaya operasional tidak menyebabkan persentase laba operasi naik.
Persentase laba operasi naik karena adanya kenaikan dari persentase pendapatan setelah HPP.
Dari data rasio profitabilitas yang penulis telah olah menunjukkan bahwa pihak manajemen kurang dapat mengefiensikan biaya operasi, karena biaya yang semakin naik tidak sebanding dengan pendapatan bersih yang dihasilkan perusahaan. Rasio ROA yang dimiliki ASTRA mengalami kenaikan dan penurunan, tetapi selama 5 tahun yang diteliti, hanya pada tahun 2009 ke tahun 2010 rasio ROA mengalami peningkatan, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan kurang memanfaatkan aktiva yang dimilikinya untuk kegiatan operasi perusahaan.
SARAN
Untuk meningkatan arus kas dari aktivitas operasi perusahaan harus melakukan efisiensi pada biaya-biaya dan dapat meningkatkan penjualannya.
Agar perusahaan dapat menyesuaikan biaya yang dikeluarkan atas kegiatan operasi dengan profit yang didapat, karna PT Astra International, Tbk ini merupakan perusahaan induk yang cukup besar dengan berbagai macam bidang industri. Dengan hal tersebut diharapkan perusahaan yang bergerak di dalam berbagai industri tersebut dapat
12 memanfaatkan hal ini untuk lebih
meningkatkan pertumbuhan penjualan dan meningkatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan melakukan efiensi biaya dengan benar.
DAFTAR PUSTAKA
Brigham, Eugene F. dan Joel F. Houston.
2009. Fundamentals of Financial Management (Dasar-Dasar Manajemen Keuangan). Buku 1, Edisi 10, Salemba Empat. Jakarta.
Djanegara, M.S. and Haryadi, M.C., 2007. Studi Tentang Efektivitas Pengendalian Intern Penjualan (Studi Kasus pada PT. Anta Express Tour &
Travel Service, Tbk). Jurnal Ilmiah Ranggagading, 7(1), pp.1-7.
Efrianti, D., 2012. Pengelolaan Piutang Dagang Pada PT Fajar Harapan.
Jurnal Ilmiah Kesatuan (JIK), 14(1).
Garrison, Ray H., Eric Noreen, dan Peter Brewer. 2006. Managerial Accounting. Buku 1, Edisi 11, Salemba Empat. Jakarta.
Hidayat, L. and Suhandi, S., 2013.
Analisis Biaya Produksi dalam Meningkatkan Profitabilitas Perusahaan. Jurnal Ilmiah Manajemen Kesatuan, 1(2), pp.159- 168.
Horngren, Harrison, Bamber. 2006.
Akuntansi. Edisi 6, Indeks.
Jakarta.
Ikatan Akuntansi Indonesia. 2012. PSAK No.1 Penyajian Laporan Keuangan. Salemba Empat.
Jakarta.
Ikatan Akuntansi Indonesia. 2012. PSAK No.2 Laporan Arus Kas. Salemba Empat. Jakarta.
Kasmir dan Jakfar. 2003. Studi Kelayakan Bisnis. Edisi 1, Prenada Media. Bogor.
Keown, Arthur J., Scott Jr., David F., Martin John D., dan Petty J.
William. 2004. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Edisi Bahasa Indonesia, Salemba Empat. Jakarta.
Munawir S.2004. Analisa Laporan Keuangan. Edisi 4, Liberty.
Yogyakarta.
Prihadi, Toto. 2013. Analisis Laporan Keuangan Lanjutan (Proyeksi dan Valuasi). Ppm Manajemen.
Jakarta.
Priyatno, Duwi. 2008. Mandiri Belajar SPSS (Statistical Product and Service Solution) Untuk Analisis Data dan Uji Statistik. Cetakan Pertama, MediaKom. Yogyakarta.
Reeve, James M., Carl S. Warren, Jonathan E. Duchac, dkk. 2010.
Principles of Accounting – Indonesia Adaptation. Buku 2, Salemba Empat. Jakarta.
Soemarso S.R. 2005. Revisi Akuntansi Suatu Pengantar. Edisi 5, Salemba Empat. Jakarta.
Weygandt, Jerry J., Donald E. Kieso, and Paul D. Kimmel. 2005. Accounting Principles. John Wiley & Sons, Inc.
Wild, John J., K.R. Subramanyam dan Robert F. Halsey. 2005. Finacial Statement Analysis (Analisis Laporan Keuangan). Salemba Empat. MC. Graw Hill Education, Jakarta.
Yadiati, Winwin dan Ilham Wahyudi.
2006. Pengantar Akuntansi.
Kencana. Jakarta.
Herlina. 2007. Analisis Laporan Arus Kas dalam Kaitannya dengan Kinerja Keuangan. STIE Kesatuan, Bogor.
Lestari, Mega Ayu. 2007. Analisis Laba Ditahan dalam Meningkatkan Kemampulabaan dan Arus Kas Operasi Perusahaan. STIE Kesatuan, Bogor.
Purba, J.H.V. and Sulistiono, A., 2013.
Pengaruh Pelayanan dan Kualitas
13 Produk Terhadap Loyalitas
Pelanggan. Jurnal Ilmiah Manajemen Kesatuan, 1(1), pp.81-90.
Ratri, Dewi. 2009. ROA Sebagai Alat Ukur Profitabilitas Perusahaan.
STIE Kesatuan, Bogor.
Supardji, Enjang Tachyan Budiyanto dan Anto Hidayat. Pengendalian Biaya Perawatan Peralatan GSE (Ground Support Equipment) kaitannya dengan Efisiensi Biaya Operasional pada PT. Gapura Angkasa Jakarta. Vol X(1): hal 84- 89.
Sutarti dan Edwin Widarta. Pengaruh Arus Kas Operasi Terhadap Kemampulabaan
Perusahaan:Studi Kasus pada PT.SMCB,Tbk dan PT.INTP,Tbk.
Vol X(1): hal 9-19.
Sutarti, S., 2010. Analisis Biaya Relevan Dalam Menentukan Pengambilan Keputusan Menerima Atau Menolak Pesanan Khusus Pada UD. Sejati Mulia. Jurnal Ilmiah Kesatuan (JIK), 12(2), pp.7-10.
Herza,Alrauzy.PenelitianTerdahulu.www .scribd.com/mobile/doc/94749004
#fullscreen. (Diakses 23 Agustus 2013).
http://bazsin.blogspot.com/2013/05/cara- menghitung-regresi-linier-
pada_2.html?m=1
http://duwiconsultant.blogspot.com/2011 /11/analisis-regresi-linier-
berganda.html?m=1
http://id.wikipedia.org/wiki/Laporan_arus _kas
http://id.wikipedia.org/wiki/Profitabilitas http://jurnalakuntansikeuangan.com/201
1/07/hubungan-neraca-laba-rugi- arus-kas-perubahan-modal/
http://pasca.unhas.ac.id/jurnal/files/3090 5905a494c8858904c8adb7ff6fdc.
http://sistem-
akuntansi1000.blogspot.com/2012 /09/pengertian-arus-kas-cash- flow.html
http://statistikian.blogspot.com/2012/08/
analisis-regresi-dalam- excel.html?m=1
http://www.academia.edu/5574076/Lapo ran_Laba_Rugi
http://www.ilmu-
ekonomi.com/2011/09/biaya- operasional.html
http://www.scribd.com/mobile/doc/11976 4354?width=320
Jarcomsys’s Blog. 2009. Analisis Rasio Keuangan.
http://jarcomsys.wordpress.com/2 009/10/28/analisis-rasio-
keuangan/. (Diakses 20 Agustus 2013).
Kenshuiseidesu.
www.kenshuiseidesutripod.com.
(Diakses 8 Agustus 2013).
Mardian’s, Isra. 2011. Makalah Laporan
Arus Kas.
http://isramardianchabib.wordpres s.com/2011/12/13/makalah- laporan-arus-kas/.
Subekti, Wibowo. 2013. Pengertian Definisi Biaya Operasional.
http://blogpajak.com/pengertiande finisi-biaya-operasional-operating- expenses/. (Diakses 31 Juli 2013).
www.astra.co.id
View publication stats