• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH)

N/A
N/A
khusnulkk kk

Academic year: 2023

Membagikan "Analisis Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH)"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/325312226

Analisis Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH) kawasan padat di Kota Bandung

Article · May 2018

CITATION

1

READS

1,257

1 author:

Nurul ika Bertiyanti

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 1PUBLICATION   1CITATION   

SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Nurul ika Bertiyanti on 23 May 2018.

The user has requested enhancement of the downloaded file.

(2)

Analisis Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH) kawasan padat di Kota Bandung Nurul Ika Bertiyanti

20150520027

Jurusan ilmu pemerintahan, fakultas ilmu social dan politik, universitas muhamadiyah Yogyakarta

[email protected]

1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

Pembangunan dan kebutuhan lahan terus meningkat di perkotaa.n. bertambanya jumlah penduduk dan perkembangan dikota menyebabkan perubahan ekoogis yang ada di lingkungan. Sehingga mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan yang sangat dratis. Fungsi ruang yang berada diperkotaan pun semakin banyak seperti, pendidikan, perdagangan dan pusat pemerintahan. Akan tetapi, lahan vegetasi yang ada diperkotaan pun semakin berkurang luasnya. Lahan yang seharusnya diperuntukan unutk kawasan ruag terbuka hijau pun beralih fungsi sebagai pusat area pembangunan.

Berkurangnya ruang terbuka hijau akan memberikan dampak buruk bagi kualitas lingkungan dan kesehatan , maka diperlukannya ruang terbuka hijau yang akan meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan. kawasan perkotaan yang berkelanjutan ditandai oleh interaksi dan hubungan timbal balik yang seimbang antara manusia dan alam yang hidup berdampingan didalamnya. Lingkungan perkotaan dan kepadatan penduduk yang tinggi serta ketidakseimbangan tersebut akan mengalami gangguan akibat berkurangnya ruang terbuka hijau oleh karena itu, untuk mengembalikannya ke dalam lingkungan perkotaan dengan berbentuk system dinilai sangat penting. (Widyastri Atsary Rahmy, 2012) peningkatan populasi tidak secara langsung di ikuti dengan peningkatan kebutuhan akan konsumsi energy dan lahan bermukim.

Hal in jika tidak diimbangi dengan pengendalian guna lahan yang berfungsi sebagai membatasi intervensi manusia terhadap lingkungan alam perkotaan.

Pembangunan kawasan perkotaan secara fisik cenderung menghabiskan ruang – ruang terbuka dan menjadikannya area pembangunan. dari aspek social warga akan semakin kekurangan ruang-ruang terbuka sebagai tempat beraktivitas dan berinteraksi dalam

(3)

hal ini ruang terbuka hijau memiliki fungsi sebagai area resapan air, dan penghasil oksigen. Salah satu undang-undang yang ada dalam sebuah rencana tata ruang wilayah kota adalah rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau dalam peraturan mentri pekerjaan umum No. 05/PRT/M/2008 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Perkotaan yang berisi Penyediaan Ruang Terbuka Hijau di perkotaan terdiri dari ruang terbuka hijau Publik dan ruang terbuka hijau privat.permasalahan tersebut mulai memberikan perhatian ekologi, selain factor ekonomi dan social semakin berkembang. Salah satunya adalah konsep “eco-city”

(ecological cities).

Konsep pembangunan ini merupakan repesentansi strategi dalam menghadapi permasalahan yang ditimbulkan oleh kawasan perkotaan (heidt, 2008). Dari aspek ekologis ruang terbuka hijau kota merupakan bagian dari keseluruhan system ekologi wilayah perkotaan. Sedangkan, dari aspek social ekonomi merupakan bagian dari tata ruang tempat manusia melakukan aktivitasnya. Selain itu penataan strategis perencanaan kota untuk membatasi pembangunan serta mengatasi dampak ekologis berbagai aktivitas manusia terkait gangguan proses alam. Dalam hal ini yang mendasari permasalahan yaitu belum terpenuhinya kebutuhan ruang terbuka hijau di kota bandung.

Saat ini kota bandung belum memenuhi standar kebijakan tata ruang yang (berdasarkan UU no 26 tahun 2007 tentang penataan ruang) yaitu, 30% dari total luas wilayah perkotaan. Informasi berdasarkan dari dinas pemakaman dan pertanaman kota madya bandung, pada tahun 2010 luas ruang terbuka hijau di kota bandung yaitu 2.153.587,90 m2 sedangkan dalam proporsi kecil yaitu seluas 28.666,87 m2 terdapat pada wilayah pengembangan (WP) sehingga kawasan tersebut membutuhkan perencanaan ruang terbuka hijau kota.

Menurut brundtland (eko, 2016) pembangunan berkelanjutan adalah suatu proses yang berkelanjutan mengenai pembangunan seperti ( lahan, kota, bisnis, masyarakat) yang berprinsip “memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi di masa yan akan dating”. Dalam hal ini permasalahan yang akan dihadapi adalah bagaimana cara unutk memperbaiki ketidakseimbangan lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan perekonomian dan keadilan social. Dari sisi ekonomi menurut fauz dalam (eko, 2016) ada dua dijelaskan mengapa pembangunan ekonomi berkelanjutan. Pertama adalah terkait dengan masalah moral.

Generasi saat ini lebih banyak menikmati barang dari sumber daya alam sehingga secara moral perlu diperhatkan ketersediaan sumber daya alam untuk generasi yang

(4)

akan datang. Yang kedua, terkait dengan ekologi, keanekaragaman hayati mempunyai nilai ekologi yang tinggi, oleh karena itu aktivitas tidak diarahkan pada pemanfaatan sumber daya alam yang terlalu berlebih sehinga dapat merusak lingkungan. GEG ( good environmental governance) dalam prosesnya sebagai pelaku kepentingan terdapat tiga point good governance yaitu, pemerintah, swasta dan masyarakat.

Tiga hal tersebut sangat berpengaruh atas penciptaan good governance.

Pemerintah tidak dapat berjalan dengan sendirinya tanpa ada kaitan nya dengan sektor swasta dan masyarakat. Semua saling mendukung sehingga terciptanya akuntabilitas dan transparansi. Hubungan antara pemerintah dalam mengatasi kebutuhan ruang terbuka hijau dikawasan yang padat mengarah pada prinsip untuk mewujudkan sustainable development. Good environmental governance merupakan suatu badan organisasi pemerintah yang mengelola lingkungan secara baik serta memperhatikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan. Jadi dalam hal ini jia sebuah perusahaan akan mendirikan sebuah usaha harus mempertimbangkan dari segala aspek agar tidak merusak sumberdaya terutama air, udara, tanah karena telah ada badan yang mengawasi.

(5)

1.2 Tujuan Penulisan

Dalam tulisan ini akan menjelaskan dan mengetahui bagaimana kebutuhan ruang hijau yang diperlukan oleh perkotaan khususnya di kota bandung yang kawasan perkotaan nya pada. tulisan ini juga membahas kebutuhan ruang terbuka hijau kota dengan studi kasus pada pada kawasan padat. kebijakan tata ruang kota bandung saat ini mempertimbang kan pertumbuhan populasi. Karena, populasi menjadi factor penting yang mendasari kebutuhan ruang terbuka hijau.

1.3 kriteria a. Teori

Pengertian ruang terbuka

Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang udara, dan ruang laut termasuk ruang di dalam bumi sebagai kesatuan wilayah, tempat manusia dan mahluk hidup lain melakukan kegiatan dan tempat manusia memelihara kelangsungan hidupnya.(UU no.26 tahun 2007 tentang penataan ruang )

Ruang umum merupakan bagian dari lingkungan yang juga mepunyai pola.

Ruang umum adalah tempat atau ruang yang terbentuk karena adanya kebutuhan akan perlunya tempat untuk bertemu atau berkomunikasi satu sama lain. Dengan adanya keiatan pertemuan bersama-sama antara manusia, maka kemungkinan akan tmbulnya berbagai macam – macam kegiatan pada ruang umum tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan pula bahwa ruang umum ini pada daarnya merupakan suatu wadah yang menampung kegiatan/ aktivitas tertentu dari manusia, baik secara individu atau secara berkelompok (hakim utomo, 2002)

Ruang terbuka hijau pada umumnya dimaksudkan untuk penghijuan sebagai salah satu unsur kota yang ditentukan oleh factor kenyamanan dan keindahan bagi suatu ruang kota. Kenyamana dapat berupa peredam kebisingan, pelindung cahaya Matahari(peneduh) dan menetralisir udara. Sedangkan keindahan berupa penataan tanaman dibantu dengan konstruksi yang ditunjukan untuk menahan erosi baik berupa konstruksi beton, batu alam dan lain-lain. Pengaturan ruang terbuka hijau juga menerapkan prinsip komposisi desain dengan baik, keindahan dan kenyakmanan (hamid shirvani, the urban design process, 1983)

(6)

b. Rumusan masalah

Berdasarkan tulisan di atas dapat ditarik sebuah pertanyaan apakah yang menyebabkan belum terpenuhinya kebutuhan ruang terbuka hijau dikota bandung ?

2. Penjelasan

2.1 Ruang terbuka hijau

Upaya inovatif pemerintah untuk melaksankan pembangunan dan perkembangan kota yang semakin pesat yang mana kebutuhan lahan untuk mengakomodasi pembangunan dan perkembangan kota tersebut semakin menipis.

Lahan kosong potensial yang selama ini cukup tersedia menjadi semakin menurun.

Ruang terbuka hijau sebenarnya merupakan kebutuhan yang tidak dapat diaabaikan, seperti juga halnya dengan fasilitas social lainnya. Seperti, pendidikan, kesehatan.

Ruang terbuka hijau juga sebagai satu dari elemen kota. Pembangunan perkotaan mempunyai perkembangan yang sangat cepat terutama dari sektor ekonomi. Hal ini yang menyebabkan kebutuhan akan fasilitas pendukung menjadi sangat penting. Upaya pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pada wilayah perkotaan menjadi kebutuhan primer. Maka dari itu terbatasnya sumber daya lahan akan menjadi konvensi lahan hijau untuk memenuhin kebutuhan. Perubahan penggunaan lahan akan menyebabkan terjadinya degradasi kualitas lingkungan.

Selain itu, perkembangan ini akan mengakibatkan pula keberadaan ruang terbuka hijau kota sebagai salah satu komponen ekosistem kota yang menjadi kurang diperhatikan walaupun keberadaan ruang terbuka hijau kota dapat diharapkan dapat menangulangi masalah lingkungan yang ada di perkotaan. (zoer, 2015) salah satu akibatnya adalah berkurangnya keragaman vegetasi yang juga berpengaruh pada kondisi kehidupan mahluk hidup khususnya manusia, sehingga ruang terbuka hijau harus diperhatikan dan diperluas serta diintensifkan fungsinya keserasian dan keselarasan ruang terbuka hijau dengan laju pemabangunan kota akan menunjang kelestarian mahluk hidup khususnya manusia (heidt, 2008) cerminan perkembangan perkotaan dapat terlihat pada pemandangan fisik kota yang mempunyai kecenderungan meminimalkan ruang terbuka hijau dan menghilangkan visualisasi alamnya. Lahan- lahan kota bnayak yang dialih fungsikan menjadi pemukiman , pertokoan,tempat industry dan lain-lain. Perkotaan hanya maju secara ekonomi namun secara kelogi

(7)

perkotaan mengalami kemunduran. Terganggunya kestabilan ekosistem perkotaan juga akan berdampak pada penurunan air,tanah, pencemaran air dsb, selain itu juga terjadi peningkatan polusi suara berupa tingginya tingkat kebisingan / bunyi. Kondisi pertumbuhan ekonomi diperkotaan pun dari tahun ke tahun mengalami peningkatan secara drastis.

3. Analysis

3.1 Kepadatan penduduk diikuti peningkatan kebutuhan dan fasilitas penunjang lainnya seperti fasilitas umum dan fasilitas social. ada dua strategi pembangunan secara horizontal dan pembangunan secara vertical. Diketahui bahwa penambahan ruang terbuka hijau secara signifikan dimungkinkan antara lain melalui optimalisasi penataan jalur hijau. Selain itu juga, dilakukan untuk dalam blok blok pemukiman dengan berbentuk taman lingkungan.maupun jalur hijau jalan lingkungan, melalui strategi pembangunan kembali kawasan (urban redevelopmen)

3.2 standar kebutuhan luas ruang terbuka hijau diikuti oleh standar kebutuhan oksigen per-kapita sesuai dengan penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau.

Standar kebutuhan luas ruang terbuka hijau per-kapita merupakan kebutuhan ruang terbuka hijau kota dalam memenuhi fungsi ekologis dan fungsi social sebagai tempat beraktvitas bagi masyarakat. standar tersebut tidak komprehensif menunjukan proses kebutuhan ruang terbuka hijau kota. Fungsi antara lain sebagai habitat flora dan fauna dalam kota, sebagai pengendali iklim mikro dan genangan air hujan, sebagai pelindung sumber daya alam seperti sungai dan mata air., syarat mengenai ruang terbuka hijau kota minimum sebesar 30% menjadi perlu untuk dikaji .

4. Kesimpulan

Ruang terbuka hijau diharapkan dapat meghasilkan suatu standar spasial bagi penduduk kota yang harus dipenuhi dalam kebutuhan ruang terbuka hijau. Ruang terbuka hijau di kota bandung masih belum memenuhi standar kebutuhan ruang terbuka hijau yaitu 30%. Sehingga belum optimalnya kebutuhan ruang terbuka hijau. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap ruang terbuka hijau sehingga banyak lahan kosong yang sudah berlaih fungsi menjadi pembangunan. Dalam hal ini ruang terbuka hijau adalah suatu penting yang mempengaruhi kualitas kehidupan manusia lingkungan yang

(8)

berkelanjutan ditandai dengan hubungan timbal balik yang seimbang antara manusia dan alam .

5. Daftar pustaka

Ari Kusnadi, M. M. (2016). KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK studi kasus kota pontianak 2016. JURNAL HUTAN LESTARI (2017), 5(4), 1088 - 1093.

Widyastri Atsary Rahmy, B. A. (2012). Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau Kota pada Kawasan padat. Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia, 1(1), 1-27.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor :05/PRT/M/2008 Tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RuangTerbuka Hijau di Kawasan Perkotaan

Wu, J. (2008). Toward a Landscape Ecology ofCities:Beyond Buildings, Trees, and Urban Forests. Dalam Ecology, Planning, and Management of Urban Forests International Perspectives, ed. Margaret M. Carreiro, Yong-Chang Song and Jianguo Wu. New York:

Springer Science+Business Media, LLC, 10-28

Rahmy, Widyastri A. (2012). Perancangan Urban Green Spaces System Pada Kawasan Terbangun Padat, Studi Kasus di Wilayah Pengembangan Tegallega, Bandung. Institut Teknologi Bandung

View publication stats

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui kondisi eksisting ruang terbuka hijau di Kota Pematangsiantar dalam Citra Satelit Kota Pematangsiantar, dan (2) untuk

Ruang Terbuka Hijau Kota Medan, 3) Ketersediaan lahan hutan mangrove dalam. Peta Tutupan Lahan

Kota Pematangsiantar merupakan Kota yang akan terus berkembang. Keradaan ruang terbuka hijau sangan diperlukan diperkotaan agar tercipta lingkungan yang nyaman dan

Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi (endemik, introduksi)

Mengacu pada jumlah penduduk tersebut diperoleh luas area untuk Ruang Terbuka Hijau di wilayah ini sebesar 0,85 hektar atau sekitar 0,18 persen dari luas wilayah. Kebutuhan

Pelaksanaan ruang terbuka hijau dan mengetahui kecukupan ruang terbuka hijau dapat diperoleh dengan cara mendapatkan data dari peta rupa bumi Indonesia, Tutupan lahan kota Ambon,

PEMBAGIAN RUANG TERBUKA HIJAU Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.5 Tahun 2008 RUANG TERBUKA HIJAU RTH FISIK FUNGSI STRUKTUR KEPEMILIKA N RTH ALAMI meliputi habitat liar

bahwa ruang Wilayah Kota Jayapura merupakan ruang wilayah Provinsi Papua dan Ruang Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai kesatuan wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, ruang