ii
iv
vi Indonesia Banking School
Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan hikmat dan berkat nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi dengan judul “AANALISIS PENGARUH NPL, BOPO, CAR, DAN LDR TERHADAP ROA PADA BANK DEVISA DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2013-2017” Skripsi ini disusun dalam rangka untuk menyelesaikan studi pada program Strata Satu (S1) Manajemen pada STIE Indonesia Banking School.
penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak mungkin terselesaikan dengan baik tanpa dukungan, bimbingan, bantuan, serta doa dari berbagai pihak selama penyusunan skripsi ini berlangsung, Penulis mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tua tercinta Mama Yenita dan Papa Soetjipto yang tiada henti memberikan doa, perhatian dan kasih sayang kepada penulis, kemudian tidak lupa juga penulis ucapkan trimakasih kepada Melya Indarti selaku kakak dari penulis yang banyak memberi penulis nasihat, membiayai penulis sehingga mampu untuk menyelesaikan jenjang perguruan tinggi. Pada kesempatan ini pula penulis hendak menyampaikan terima kasih kepada :
1. Bapak Antyo Pracoyo, Dr. M.Si Selaku Pembimbing Skripsi dari penulis yang selalu sabar membimbing, memberi arahan, memberikan support, dan memberikan motivasi kepada penulis selama penyusunan Skripsi.
2. Bapak Dr. Erric Wijaya dan bapak sebagai dosen penguji satu dan Bapak Ahmad Setiawan Nuraya S.E., MBA. Sebagai dosen penguji dua sekaligus dosen pembimbing akademik yang telah memberikan ilmu dan saran serta masukan yang sangat bermanfaat bagi penulis.
3. Bapak Dr. Subarji Joyosumarto, S.E., MA. Selaku ketua STIE Indonesia Banking School dalam mengarahkan dan memberikan dorongan semangat kepada seluruh civitas akademi.
5. Kepada Aditya Gunawan selaku sahabat sekaligus teman dekat dari penulis yang rela menemani, memberi dukungan, menghibur, dan mendengarkan keluh kesah penulis selama penyusunan Skripsi ini berlangsung.
6. Kepada sahabat – sahabat penulis Indah Kusuma Dewi, Muhamad Holid, Ryan Christian, Ryandityo Ugro Prasena yang selalu memberi penulis semangat dan menghibur penulis disaat mengalami kesulitan.
7. Kepada Indah Gusriyanti dan Enggar Prima selaku teman seperjuangan dalam penyusunan Skripsi ini.
8. Teman - teman angkatan 2014 baik Prodi Manajemen ataupun Prodi Akuntansi, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu namanya.
9. Dan seluruh pihak yang telah membantu dalam penulisan Skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu – persatu.
Dengan rendah hati penulis menyadari bahwa skripsi ini mungkin belum sempurna, mengingat keterbatasan pengetahuan yang penulis peroleh sampai saat ini.
Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun guna terciptannya skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih belum sempurna, oleh karena itu dengan rendah hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun.
Jakarta, 21 April 2018
Tri Yuni Wulandari
viii
JUDUL SKRIPSI………. i
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI………. ii
HALAMAN PERSETUJUAN UJI KOMPREHENSIF………. iii
LEMBAR PERNYATAAN KARYA SEBNDIRI………. iv
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH……… v
KATA PENGANTAR……… vi
DAFTAR ISI………... viii
DAFTAR GAMBAR……….. xii
DAFTAR TABEL……….. xiii
DAFTAR LAMPIRAN………. xv
ABSTRAK………. xvi
ABSTRACT……….. xvii
BAB 1: PENDAHULUAN……….. 1
1.1. Latar Belakang………....… 1
1.2. Rumusan Masalah……….……….. 9
1.3. Batasan Masalah………... 10
1.4. Tujuan Penelitian……….... 10
1.5. Manfaat Penelitian……….. 11
1.6. Sistematika Penulisan……….. 11
2.1.2. Non Performing Loan….………. 19
2.1.3. Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO).. 20
2.1.4. Capital Adequacy Ratio………...………...…. 21
2.1.5. Loan Deposit to Ratio………..……… 22
2.1.6. Return On Assets………. 23
2.2. Penelitian Terdahulu………..……. 24
2.3. Kerangka Pemikiran………..………...…….. 34
2.3.1. Pengaruh NPL terhadap ROA……….. 34
2.3.2. Pengaruh BOPO terhadap ROA………... 35
2.3.3. Pengaruh CAR terhadap ROA……….. 37
2.3.4. Pengaruh LDR terhadap ROA……….. 38
2.4. Hipotesis………... 40
BAB III: METODOLOGI PENELITIAN………...……...….. 41
3.1. Objek Penelitian……….. 41
3.2. Desain Penelitian………..……….. 42
3.3. Metode Pengambilan Sampel…….….……… 43
3.4. Definisi Operasional Variabel………. 45
3.5. Teknik Pengolahan dan Analisis Data………..…….. 47
3.5.1. Analisa Statistik Deskriptif……….. 47
3.5.2. Analiss Regresi Linear Berganda………. 47
3.5.3. Uji Normalitas………...……... 49
3.5.4. Uji Heteroskedastisitas………. 51
3.5.5. Uji Multikolinearitas……….… 52
3.5.6. Uji Autokorelasi………...….……... 53
3.6. Teknik Pengujian Hipotesis………...………….. 53
x
3.6.2. Uji Koefisien R²……….… 55
BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN………..….. 56
4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian……….…….…... 56
4.2. Populasi dan Sampel Penelitian………..……. 56
4.3. Data yang Digunakan……….………. 58
4.4. Uji dan Model Regresi ……… 58
4.4.1. Analisa Statistik Deskriptif………..………. 58
4.4.2. Uji Regresi Linear Berganda………...……….. 61
4.4.3. Uji Normalitas………..………. 64
4.4.4. Uji Heteroskedastisitas………..……… 66
4.4.5. Uji Mulltikolinearitas………...……….. 68
4.4.6. Uji Auto Korelasi………...……… 69
4.4.7. Uji t………. 70
4.4.8. Uji Koefisien Determinasi (R2)………. 74
4.5. Analisis Hasil Penelitian………..………. 75
4.5.1. Pengaruh Non Perfoming Loan (NPL) terhadap Return on Assets (ROA)………... 75
4.5.2. Pengaruh Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap Return on Assets (ROA)..………...… 76
4.5.3. Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Return on Assets (ROA)………...… 76
4.5.4. Pengaruh Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Return on Assets (ROA)………..…………..……… 78
4.6. Implikasi Manajerial……….………... 80
BAB V KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN, DAN SARAN….. 87
5.1. Kesimpulan………. 87
LAMPIRAN………. 95
DAFTAR RIWAYAT HIDUP………. 105
xii
Gambar 2.1 : Bank Sebagai Perantara Keuangan………..…….. 14
Gambar 2.2 :Kerangka Pemikiran………...… 40
Gambar 4.1 : Grafik Probability Plot………. 63
Gambar 4.5 : Hasil Uji Heteroskedastisitas……… 66
Tabel 2.1 : Ringkasan Penelitian Terdahulu……….. 30
Tabel 3.1 : Objek Penelitian……… 41
Tabel 3.2 : Seleksi Sampel……….. 48
Tabel 3.3 : Sampel Penelitian……….. 44
Tabel 3.4 : Daftar Bank Devisa yang tidak Termasuk Kedalam Kriteria… 45 Tabel 3.5 : Definisi Variabel……… 46
Tabel 4.1 : Penentuan Sampel……….. 57
Tabel 4.2 : Sampel Penelitian………... 57
Tabel 4.3 : Hasil Analisis Statistik Deskriptif………... 59
Tabel 4.4 : Hasil Regresi Linear Berganda………. 61
Tabel 4.5 : Hasil Uji Normalitas Kolmogorov Smirnov……….. 64
Tabel 4.6 : Hasil Uji Multikolinearitas……… 67
Tabel 4.7 : Hasil Uji Auto Korelasi……… 68
Tabel 4.8 : Hasil Uji t……….. 70
Tabel 4.9 : Hasil Koefisien Determinasi (adjusted R2)………... 73
xiv
Tabel 4.11 : Perbandingan nilai NPL Bank Bukopin, Tbk……….... 83
Lampiran 2 : Output Statistika Deskriptif……… 94
Lampiran 3 : Uji Regresi Berganda………. 95
Lampiran 4 : Output Uji Normalitas……… 96
Lampiran 5 : Output Uji Asumsi Klasik……….. 98
Lampiran 6 : Output Uji t……… 100
Lampiran 7 : Output Uji R2... 101
xvi ABSTRAK
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh Non Perfoming Loan (NPL), Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Capital Adequacy Ratio (CAR), dan Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Return On Assets (ROA), pada perusahaan perbankan devisa di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2013-2017.
Jumlah objek penelitian adalah sebanyak 11 perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode Purposive Sampling. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linear berganda yang diolah dengan Statistical Package for Social Sciences (SPSS) versi 24. Penelitian ini menemukan bahwa Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) dan Non Perfoming Loan (NPL) berpengaruh terhadap Return On Assets (ROA). Sedangkan Capital Adequacy Ratio (CAR), dan Loan to Deposit Ratio (LDR) Tidak memiiki pengaruh terhadap Return On Assets (ROA).
Kata kunci : Non Perfoming Loan (NPL), Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Capital Adequacy Ratio (CAR), dan Loan to Deposit Ratio (LDR) dan Return On Assets (ROA).
ABSTRACT
The purpose of this research is to know the influence of Non Perfoming Loan (NPL), Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR) to Return On Assets (ROA), at foreign exchange banking companies in Indonesia Stock Exchange (IDX) for the period of 2013-2017. The number of research objects is as many as 11 companies. This study uses purposive sampling method. Hypothesis testing was analyzed using multiple linear regression analysis which was processed with the Statistical Package for Social Sciences (SPSS) version 24. This study found that Beban Operasional terhadap Pendapatan Operatsonal (BOPO) had a significant negative effect to Return On Assets (ROA) and Non-Performing Loan (NPL) had a significant positive effect to Return On Assets (ROA). While the Capital Adequacy Ratio (CAR) and Loan to Deposit Ratio (LDR) are had a positive effect to Return On Assets (ROA).
Keyword : Non Perfoming Loan (NPL), Pendapatan Operasional terhadap Beban Operasional (BOPO), Capital Adequacy Ratio (CAR), dan Loan to Deposit Ratio (LDR) dan Return On Assets (ROA).
1 Indonesia Banking School
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Perbankan mempunyai peran penting dalam perekonomian Negara dengan memberikan kontribusi bagi dunia usaha dan bisnis, karena berfungsi sebagai lembaga keuangan yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kembali dalam bentuk pinjaman. Bank merupakan suatu lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan (financial intermediary) antara pihak- pihak yang memiliki dana (surplus unit) dengan pihak-pihak yang memerlukan dana (deficit unit) serta sebagai lembaga yang berfungsi memperlancar aliran lalu lintas pembayaran. Di samping itu, bank juga sebagai suatu industri yang dalam kegiatan usahanya mengandalkan kepercayaan masyarakat sehingga seharusnya tingkat kesehatan bank perlu dipelihara.
Perbankan di Indonesia berkembang pesat dari waktu ke waktu dalam kurun waktu yang cukup panjang. Perkembangannya sejalan dengan perkembangan ekonomi moneter. dan begitu pula perkembangan industri perbankan di Indonesia, kebijakan perbankan untuk menunjang pelaksanaan dalam rangka meningkatkan ekonomi dan keseimbangan nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak (Veithzal et al., 2007, p.113).
Pengertian Bank secara sederhana yaitu lembaga keuangan yang kegiatan utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkanya kembali dana tersebut ke masyarakat serta memberikan jasa bank lainya. Menurut Undang-
Undang RI Nomor 10 Tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang Perbankan, yang dimaksud dengan Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. (Kasmir, 2012:12).
Sesuai dengan Undang–Undang Pokok Perbankan No. 7 Tahun 1992 dan ditegaskan lagi menjadi Undang–Undang RI No. 10 Tahun 1998 jenis perbankan di Indonesia pengelompokan Bank sendiri dibagi menjadi empat yaitu: (1) dilihat dari segi fungsinya, ini terdiri dari Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat. (2) Dilihat dari segi kepemilikanya yaitu, Bank milik pemerintah, Bank milik swasta nasional, Bank milik koperasi, Bank milik asing dan Bank milik campuran. (3) Dilihat dari segi status, dalam arti lain bank dilihat dari segi kemampuanya dalam melayani masyarakat baik dalam jumlah produk, modal,ataupun kualitas pelayanan, bank yang di lihat dari segi statusnya yaitu, Bank devisa dan Bank non devisa. (4) dilihat dari segi cara menentukan harga yaitu, dengan berdasarkan pinsip konvensional ataupun dengan berdasarkan prinsip syari’ah.
Dalam penelitian ini penulis mengambil jenis bank yang di kelompokan dari segi statusnya yaitu Bank Devisa. Menurut surat edaran eksternal Bank Indonesia No.
28/4/UPPB tanggal 7 September 1995 perihal Persyaratan Bank Umum Bukan Bank Devisa menjadi Bank Umum Devisa. Yaitu, Kegiatan Usaha dalam valuta asing hanya dapat dilakukan oleh Bank yang termasuk dalam kelompok BUKU 2 (Bank
Indonesia Banking School
dengan modal inti Rp1 Triliun sampai dengan kurang dari Rp5 Triliun), BUKU 3 (Bank dengan modal inti Rp5 Triliun sampai dengan kurang dari Rp30 Triliun), dan BUKU 4 (Bank dengan modal inti di atas Rp30 Triliun) yang telah mendapatkan persetujuan dari Bank Indonesia. Bank yang telah memperoleh persetujuan dari Bank Indonesia untuk melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing disebut juga sebagai bank devisa. Bank yang termasuk BUKU 1 (Bank dengan modal inti kurang dari Rp1 Triliun) hanya dapat melakukan kegiatan sebagai Perdagang Valuta Asing (PVA) yang diatur dalam ketentuan tersendiri.
Penilaian kinerja keuangan perbankan telah ditetapkan oleh Bank Indonesia melalui Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia N0.30/11/KEP/DIR tanggal 19 Maret 1998 tentang tata cara penilain kesehatan bank. Dimana tingkat kesehatan bank adalah hasil penilaian kualitatif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi atau kinerja suatu Bank melalui penilaian kuantitatif dan atau penilaian kualitatif terhadap faktor-faktor permodalan, kualitas aset, manajemen, rentabilitas, likuiditas, dan sensitivitas terhadap risiko pasar. Kinerja keuangan bank dapat dinilai dari rasio keuangan bank, seperti rasio Non Performing Loan (NPL), Biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO), Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR).
Non Performing Loan adalah pinjaman yang mengalami kesulitan pelunasan atau sering disebut kredit macet pada bank. Semakin tinggi rasio NPL maka semakin buruk kualitas kredit yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar
sehingga dapat menyebabkan kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar. (Riyadi, 2006: 161)
Biaya Oprasional terhadap Pendapatan Oprasional adalah perbandingan antara biaya operasional dengan pendapatan operasional dalam mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan Bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Semakin kecil rasio biaya (beban) operasionalnya akan lebih baik karena bank yang bersangkutan dapat menutupi biaya (beban) operasional dengan pendapatan operasionalnya (Veithzal et al., 2013, p.428).
Capital Adequacy Ratio atau sering disebut dengan istilah rasio kecukupan modal bank, yaitu bagaimana sbebuah perbankan mampu membiayai aktivitas kegiatannya dengan kepemilikan modal yang dimilikinya. CAR menurut Peraturan Bank Indonesia minimal sebesar 8%. (Fahmi, 2014:181)
Loan to Deposit Ratio adalah rasio yang mengukur perbandingan jumlah kredit yang di berikan bank dengan dana yang di terima oleh bank, yang menggambarkan kemampuan bank dalam membayar kembali dana oleh deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Oleh karena itu semakin tinggi rasionya memberikan indikasi rendahnya kemampuan likuiditas bank tersebut, hal ini sebagai akibat jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit menjadi semakin besar. (Veithzal et al., 2013, p.484).
Return On Asset (ROA) digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. Rasio ini memberikan informasi seberapa efisien suatu bank dalam melakukan kegiatan
Indonesia Banking School
usahanya, karena rasio ini mengindikasikan seberapa keuntungan yang dapat diperoleh rata-rata setiap rupiah asetnya. Semakin besar Return On Assets (ROA) menunjukkan kinerja keuangan bank yang semakin baik, karena tingkat kembalian (return) semakin besar. Apabila ROA meningkat, berarti profitabilitas bank meningkat. (Siamat, 2005:290)
Sehingga dalam penelitian ini Return On Assets (ROA) digunakan sebagai ukuran kinerja perbankan. Semakin besar Return On Asset (ROA) menunjukkan kinerja keuangan yang semakin baik, karena tingkat pengembalian semakin besar.
Berikut adalah perkembangan kinerja perbankan Indonesia yang termasuk kedalam buku 4 selama empat tahun terakhir.
Tabel 1.1
Data Perkembangan CAR, NPL, BOPO, dan LDR Bank Buku 4
Rasio
Keuangan Tahun 2014 % Tahun 2015 % Tahun 2016 % Tahun 2017%
NPL 2,73 3,09 1,91 2,52
BOPO 67,10 70,46 75,05 70,31
CAR 17,18 19,26 21,24 21,43
LDR 80,73 85,63 85,16 85,96
ROA 3,94 3,53 3,10 3,15
Sumber: Direktori Perbankan Indonesia
Berdasarkan pada tabel 1.1 tersebut dapat dilihat bahwa tahun 2014 sampai tahun 2015 telah terjadi peningkatan NPL sebesar 0,36 poin yang menunjukkan bahwa meningkatnya jumlah kredit yang bermasalah pada bank tersebut. Terjadi kenaikan pada BOPO sebesar 3,36 poin, ini mengindikasikan kegiatan operasional
bank belum efisien. Terjadi peningkatan jumlah CAR sebesar 2,08 poin, hal ini berarti modal yang dimiliki bank mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya. Terjadi kenaikan pada LDR sebesar 4,9 poin, ini menunjukkan bahwa likuiditas yang dimiliki bank kurang baik. Dan pada sisi ROA bank justru mengalami penurunan sebesar 0,41 poin, ini menunjukkan bahwa kemampuan bank untuk mendapatkan laba pun mengalami penurunan. Hal menarik pada pergerakan tahun2014 - 2015 adalah naiknya nilai CAR yang justru diikuti dengan penurunannya nilai ROA, Idealnya adalah penurunan CAR akan menaikkan nilai ROA.
Kemudian bila dilihat pada tahun 2015 sampai tahun 2016 telah terjadi penurunan NPL sebesar 1,18 poin. Hal ini mengindikasikan bahwa menurunnya jumlah kredit yang bermasalah pada bank tersebut. Kenaikan pada BOPO sebesar 4,59 poin, hal ini mengindikasikan bahwa kegiatan operasional bank belum efisien.
Ketika peningkatan jumlah CAR sebesar 1,98 poin, menunjukkan bahwa bank mengalami kenaikan pada modal yang dimilikinya. Terjadi penurunan LDR sebesar 0,47 poin, hal ini berarti likuiditas bank tersebut semakin baik. Dan pada sisi ROA bank justru mengalami penurunan sebesar 0,43 poin, hal ini menunjukkan bahwa kemampuan bank untuk mendapatkan laba pun mengalami penurunan. Hal menarik pada pergerakan tahun 2015 - 2016 adalah, menurunya nilai NPL yang diikuti dengan menurunya nilai ROA, idealnya penurunan NPL akan meningkatkan nilai ROA.
Naiknya nilai CAR yang justru diikuti dengan penurunannya nilai ROA, Idealnya adalah penurunan CAR akan menaikkan nilai ROA. Dan menurunya nilai LDR yang
Indonesia Banking School
diikuti oleh menurunnya nilai ROA, idealnya penurunan nilai LDR akan diikuti dengan kenaikan ROA.
Dan jika di lihat dari tahun 2016 sampai tahun 2017 telah terjadi telah terjadi peningkatan NPL sebesar 0,61 poin yang mengindikasi kan meningkatnya jumlah kredit yang bermasalah. terjadi penurunan BOPO sebesar 4,74 poin yang mengindikasikan bahwa kegiatan operasionalnya bank semakin efisien. Terjadi peningkatan jumlah CAR sebesar 0,19 poin, hal ini berarti modal yang dimiliki bank mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya. Terjadi kenaikan pada LDR sebesar 0,8 poin, ini menunjukkan bahwa likuiditas yang dimiliki bank kurang baik. Dan pada sisi ROA bank mengalami peningkatan sebesar 0,05 poin, hal ini menunjukkan bahwa kemampuan bank untuk mendapatkan laba meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Hal menarik pada pergerakan tahun 2016 - 2017 adalah, meningkatnya nilai LDR yang diikuti oleh peningkatan nilai ROA, idealnya penurunan nilai LDR akan diikuti dengan kenaikan ROA. (sumber: www.ojk.go.id diakses juni 2018)
Secara umum, ROA dari tahun ke tahun menunjukkan tren yang menaik, hanya saja faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti NPL, BOPO, CAR, dan LDR, menunjukkan hasil yang fluktuatif dan pengaruh yang tidak menentu. NPL atau kredit bermasalah memiliki hubungan dengan profitabilitas bank sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia melalui SE BI No.15/28/DPNP 31 Juli 2013 dengan batas maksimal adalah 5%. Dalam kondisi normal, bank komersial mengandalkan komponen kredit sebagai earning assetnya, maka NPL yang tinggi akan menurunkan profitabilitas bank (Retnadi, 2006:15).
Namun berdasarkan fakta di lapangan yakni pada pergerakan tahun 2015 sampai 2016, adanya penurunan nilai NPL justru menurunkan nilai ROA. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh oleh Ni Made Inten Uthami Putri Warsa dan I Ketut Mustanda (2016) memiliki hasil bahwa NPL berpengaruh negatif terhadap ROA.
Sesuai dengan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/7/DPNP tahun 2013 menyatakan bahwa BOPO maksimal sebesar 85 persen, berdasarkan data pada tabel 1.1 rata-rata BOPO yang dimiliki bank tersebut sebesar 70,73 ini menunjukkan bahwa BOPO masih berada pada batas ideal. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sri Adrianti (2017) yaitu BOPO memiliki pengaruh negatif terhadap ROA. semakin tinggi rasio BOPO mencerminkan kurangnya kemampuan bank dalam menekan biaya operasional. begitu pula sebaliknya semakin kecil rasio BOPO maka mengindikasi kan bahwa bank telah menjalankan kegiatan operasionalnya dengan baik.
Pada tahun 2014 – 2015 menunjukkan kenaikan CAR yang diikuti dengan menurunya nilai ROA, padahal dalam penelitian yang dilakukan oleh Rosana (2013) memiliki hasil bahwa CAR berpengaruh positif signifikan terhadap ROA hal ini berarti menunjukkan bahwa, semakin besar CAR maka keuntungan bank yang akan didapat semakin besar.
Profitabilitas juga memiliki hubungan erat dengan jumlah kredit yang diberikan diproksikan menggunakan LDR. Nilai likuiditas bank yang ideal menurut Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.15/15/PBI tahun 2013 yaitu sebesar 72 % sampai dengan 90%. Berdasarkan data pada tabel 1.1 bahwa likuiditas pada bank
Indonesia Banking School
tersebut masih terbilang cukup baik, karena dibawah dari batas maksimal yang telah ditentukan. Pada tahun 2015 – 2016 menunjukkan bahwa penurunan LDR diikuti dengan penurunan ROA, hal ini bertentangan dengan hasil uji yang dilakukan oleh Jordi (2017) yaitu terdapat pengaruh negatif dan signifikan antara LDR dengan ROA, artinya jika LDR mengalami kenaikan maka ROA akan mengalami penurunan.
Berdasarkan adanya temuan yang berbeda terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi ROA, maka peneliti bermaksud melakukan penelitian mengenai pengaruh NPL, BOPO, CAR, dan LDR terhadap ROA pada Bank Devisa di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2017.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah ada pengaruh negatif Non Perfoming Loan (NPL) terhadap Return On Assets (ROA) pada Bank Devisa di BEI periode 2013 – 2017?
2. Apakah ada pengaruh negatif Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap Return On Assets (ROA) pada Bank Devisa di BEI periode 2013 – 2017?
3. Apakah ada pengaruh positif Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Return On Assets (ROA) pada Bank Devisa di BEI periode 2013 – 2017?
4. Apakah ada pengaruh negatif Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Return On Assets (ROA) pada Bank Devisa di BEI periode 2013 – 2017?
1.3 Batasan Masalah
Batasan masalah pada penelitian ini yaitu perusaahaan penyedia jasa disektor Perbankan, dimana penulis sendiri mengambil sampel yang akan diteliti sebagai berikut:
1. Bank Operasional yang memiliki izin oleh Bank Indonesia untuk melakukan kegiatan transaksi valuta asing (Bank dengan ketentuan BUKU 4).
2. Bank–bank Umum Swasta Nasional Devisa yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia pada periode 2013 – 2017.
3. Selain itu tersedia data laporan keuangan yang telah diaudit pada saat periode penelitian berlangsung.
1.4 Tujuan Penelitian
1. Menganalisis pengaruh negatif Non Perfoaming Loan (NPL) terhadap Return On Assets (ROA) pada Bank Umum Swasta Nasional Devisa Devisa.
2. Menganalisis pengaruh negatif Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap Return On Assets (ROA) pada Bank Umum Swasta Nasional Devisa Devisa.
3. Menganalisis pengaruh positif Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Return On Assets (ROA) pada Bank Umum Swasta Nasional Devisa Devisa.
4. Menganalisis pengaruh Negatif Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Return On Assets (ROA) pada Bank Umum Swasta Nasional Devisa Devisa.
Indonesia Banking School
1.5 Manfaat Penelitian
Adapun kegunaan dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Akademis
Hasil penelitian diharapkan dapat sebagai bahan referensi dan mendukung penelitian selanjutnya, Dalam melakukan penelitian yang berkaitan dengan rasio keuangan dan perubahan laba terhadap Return On Assets (ROA) pada perubahan perbankan yang ada di Indonesia.
2. Perusahaan Perbankan (Emiten)
Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk merencanakan pengelolaan dana dan kinerjanya dalam rangka meningkatkan laba, terutama pada sektor Perbankan.
1.6 Sistematika Penulisan
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini merupakan bentuk ringkas dari keseluruhan isi penelitian dan gambaran permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini, yang mana berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian serta sistematika penulisan yang digunakan dalam penelitian ini.
BAB II : KAJIAN TEORI
Bab ini merupakan bagian yang berisi tentang landasan teori yang digunakan sebagai dasar acuan teori bagi penelitian dan dasar dalam melakukan analisis pada penelitian ini. Berdasarkan teori dan perbedaan hasi (research gap) dari penelitian-penelitian terdahulu maka akan terbentuk suatu kerangka pemikiran dan penentuan hipotesis awal penelitian yang akan diuji.
BAB III : METODE PENELITIAN
Bab ini berisi tentang metode penelitian yang digunakan dalam penelitian, yang mana berisi tentang variabel penelitian, definisi operasional, penentuan populasi dan sampel, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data dan metode analisis data.
BAB IV : PEMBAHASAN
Bab ini merupakan isi pokok dari keseluruhan penelitian, yang mana berisi tentang gambaran umum objek penelitian, analisis data dan pembahasan hasil penelitian.
BAB V : PENUTUP
Bab ini berisi tentang kesimpulan dari hasil penelitian, keterbatasan penelitian dan saran-saran bagi pihak yang berkepentingan untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut.
13 Indonesia Banking School
LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka
Pada tinjauan pustaka ini akan dijelaskan tentang pengertian bank, dan pengaruh Non Performing Loan (NPL), Biaya Operasi Terhadap Pendapatan Operasi (BOPO), Capital Adequacy Ratio (CAR), dan Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Return on Assets (ROA).
2.1.1 Definisi Bank
Bank bukanlah suatu hal asing bagi disuatu negara, bank dianggap sebagai suatu lembaga keuangan yang aman dalam melakukan berbagai macam aktivitas keuangan dan sebagai faktor pendorong perkembangan ekonomi disuatu negara.
Fahmi (2014:2) jika dilihat dari segi katanya bank itu berasal dari bahasa Italia yaitu Banca yang artinya kursi. Menurut Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan dimana telah diubah menjadi Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 bank adalah “badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”.
Selain itu Ismail (2010:2) berpendapat bahwa bank mempunyai peran penting dalam menghimpun dana masyarakat, karena merupakan lembaga yang dipercaya oleh masyarakat dari berbagai macam kalangan dalam menempatkan dananya
(saving) secara aman. Disisi lain bank berperan dalam menyalurkan dana kepada masyarakat (Borrowing). Dan demikian pada dasarnya bank memiliki dua peran penting yaitu, menghimpun dana yang berasal dari masyarakat yang sedang mengalami kelebihan dana (surplus unit), dan menyalurkan dana kepada masyarakat yang sedang membutuhkan dana untuk memenuhi kebutuhannya (deficit unit).
Gambar 2.1 Bank Sebagai Perantara Keuangan
Berdasarkan uraian tersebut dapat dijelaskan bahwa secara umum fungsi utama bank adalah sebagai financial intermediary, yaitu menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat untuk berbagai tujuan.
Secara lebih spesifik, fungsi bank dapat sebagai agent of trust, agent of development, dan agent of service. Dari ketiga fungsi bank ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang menyeluruh dan lengkap mengenai fungsi bank dalam perekonomian sehingga bank tidak hanya dapat diartikan sebagai lembaga perantara keuangan (financial intermediary institution).
Menurut Kasmir (2015:22) bank dibagi menjadi empat jenis yaitu, dilihat dari segi fungsinya, dilihat dari segi kepemilikanya, dilihat dari cara menentukan harga, dilihat dari statusnya.
Penghimpun Dana Masyarakat yang
kelebihan dana
Penyalur Dana Masyarakat yang kekurangan dana BANK
Indonesia Banking School
1. Dilihat dari segi fungsinya menurut Undang-Undang pokok perbankan nomor 14 tahun 1967 jenis perbankan terdiri dari:
a. Bank Umum
b. Bank Pembangunan c. Bank Tabungan d. Bank Pasar e. Bank Desa f. Lumbung Desa g. Bank Pegawai
h. Dan Bank jenis lainnya
Kemudian menurut Undang-Undang pokok perbankan nomor 7 tahun 1992 dan ditegaskan lagi dengan keluarnya Undang-Undang RI Nomor 10 tahun 1998, maka jenis perbankan terdiri dari dua jenis Bank, yaitu:
a. Bank Umum
b. Bank Perkreditan Rakyat
Dengan keluarnya Undang-Undang nomor 7 tahun 1992 tersebut mengakibatkan perubaha fungsi Bank Pembangunan dan Bank Tabungan menjadi Bank Umum.
Kemudian Bank Desa, Bank Pasar, Lumbung Desa, dan Bank Pegawai menjadi Bank Perkreditan Rakyat (BPR).
2. Dilihat dari segi kepemilikannya
Jenis bank selanjutnya dapat dilihat dari segi kepemilikannya. Jenis bank dilihat dari segi kepemilikannya maksudnya adalah siapa saja yang memiliki bank terserbut.
Kepemilikan ini dapat dilihat dari akta pendirian dan pengusahaan saham yang dimiliki bank yang bersangkutan. Jenis bank dilihat dari segi kepemilikan adalah sebagai berikut.
a. Bank milik pemerintah b. Bank milik swasta nasional c. Bank milik asing
d. Bank milik campuran
3. Dilihat dari segi cara menentukan harga
Ditinjau dari segi menentukan harga dapat pula diartikan sebagai cara penentuan keuntungan yang akan diperoleh. Jenis bank jika dilihat dari segi atau caranya dalam menentukan harga baik harga jual maupun harga beli terbagi dalam dua kelompok, yaitu:
a. Bank yang berdasarkan prinsip konvensional b. Bank yang berdasarkan prinsip syariah
4. Dilihat dari segi statusnya
Pembagian jenis bank dari segi status merupakan pembagian berdasarkan kedudukan atau status bank tersebut. Kedudukan atau status ini menunjukan ukuran kemampuan
Indonesia Banking School
bank dalam melayani masyarakat baik dari segi jumlah produk, modal maupun kualitas pelayanan. Oleh karena itu, untuk memperoleh status tersebut diperlukan penilaian-penilaian dengan kriteria tertentu. Jenis bank bila dilihat dari segi status biasanya khusus untuk bank umum. Dalam praktiknya jenis bank dilihat dari status dibagi ke dalam dua macam, yaitu:
a. Bank Non Devisa
Bank dengan status non devisa merupakan bank yang belum mempunyai izin untuk melaksanakan transaksi sebagai bank devisa, sehingga tidak dapat melaksanakan transaksi seperti hal nya bank devisa., dimana transaksi yang dilakukan masih dalam batas-batas suatu negara.
b. Bank Devisa
Bank yag berstatus devisa atau bank devisa merupakan bank yang dapat melaksanakan transaksi keluar negeri atau yang berhubungan dengan mata uang asing secara keseluruhan, misallnya transfer keluar negri, ingkaso, ke luar negri, travelers cheque, pembukaan dan pembayara letter of credit (L/C), dan transaksi luar negeri lainnya. Persyaratan untuk menjadi bank devisa ini ditentukan oleh Bank Indonesia setelah memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan.
Hasibuan (2007:44) Bank Devisa adalah Bank Umum, baik bersifat konvensional maupun berdasarkan prinsip syariah yang dapat memberikan pelayanan lalu lintas pembayaran dalam dan luar negri. Bank Devisa harus memperoleh izin dari Bank
Indonesia untuk dapat melakukan usaha perbankan dalam valuta asing, baik transaksi ekspor impor maupun jasa–jasa valuta asinglainya.
Fahmi (2014:8) Risiko yang dialami oleh bank devisa lebih kompleks dibandingkan dengan apa yang dialami oleh bank non devisa, apalagi jika ini ditinjau dari segi penggunaan dan penyaluran kredit dalam mata uang asing. Krisis moneter yang dialami oleh Republik Indonesia pada tahun 1997 hingga 1998 telah meninggalkan bekas kelam bagi bisnis perbankan Indonesia. Krisis moneter pada masa itu bukan hanya dialami Indonesia tapi juga Asia. Terutama para perbankan yang telah memiliki portofolio kewajiban dalam bentuk dollar dan berbagai mata uang asing lainnya mengalami kemacetan atau terjadinya kenaikan dari segi insolency (ketidakmampuan memenuhi kewajibannya). Untuk mendirikan bank devisa atau mengubah bank non devisa menjadi bank devisa maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, diantaranya adalah:
a. Kondisi laporan keuangan yang menggambarkan kesehatan bank tersebut selalu dalam kondisi stabil untuk 2 atau 3 tahun yang lalu,
b. Jumlah modal dalam yang dimiliki atau yang disetor minimal Rp 150 miliar sampai dengan 200 Miliar Rupiah,
c. Kepemilikan Capital Adequency Ratio minimum adalah 8 persen sampai dengan 8,5 pesen,
d. Diaudit oleh lembaga auditor independent yang memiliki reputasi tinggi dan dinyatakan posisi wajar tanpa masalah (unequalified opinion).
Indonesia Banking School
2.1.2 Non Performing Loan
Menurut Ali (2004) Bank dalam memberikan kredit harus melakukan analisis terhadap kemampuan debitur untuk membayar kembali kewajibannya. Setelah kredit diberikan, bank wajib melakukan pemantauan terhadap penggunaan kredit serta kemampuan dan kepatuhan debitur dalam memenuhi kewajibannya. Bank melakukan peninjauan, penilaian dan pengikatan terhadap agunan untuk memperkecil risiko kredit.
Riyadi (2006: 161) Non Performing Loan adalah pinjaman yang mengalami kesulitan pelunasan atau sering disebut kredit macet pada bank. Semakin tinggi rasio NPL maka semakin buruk kualitas kredit yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar sehingga dapat menyebabkan kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar.
Setelah kredit diberikan, bank wajib melakukan pemantauan terhadap penggunaan kredit serta kemampuan dan kepatuhan debitur dalam memenuhi kewajiban. Bank melakukan peninjauan penilaian dan pengikatan terhadap agunan untuk memperkecil resiko kredit (Ali, 2004).
Menurut Marnoko (2011:2) besarnya non performing loan yang diperbolehkan oleh Bank Indonesia saat ini adalah maksimal 5% dari total kredit.
Apabila bank mampu menekan rasio non performing loan di bawah 5% maka potensi keuntungan yang akan diperoleh akan semakin besar karena bank-bank akan menghemat uang yang akan diperlukan untuk cadangan kerugian kredit bermasalah.
2.1.3 Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)
Rasio ini adalah perbandingan antara biaya operasional dengan pendapatan operasional dalam mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan Bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Dalam hal ini perlu diketahui bahwa usaha utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat dan selanjutnya menyalurkan kembali kepada masyarakat, sehingga beban bunga dan hasil bunga merupakan porsi terbesar bagi bank. (Veithzal et al., 2013, p.482).
Rasio ini dirumuskan dengan:
Dengan keterangan sebagai berikut:
a. Beban operasional diperoleh dengan jumlah neraca laporan laba rugi (beban bunga)
b. Pendapatan operasional diperoleh dengan jumlah neraca laporan laba rugi (pendapatan bunga)
Indonesia Banking School
c. Cara menghitung nilai kredit:
1) Nilai ratio 100 persen atau lebih, nilai kredit = 0
2) Untuk setiap penurunan sebesar 0,08 persen nilai kredit ditambah 1 dengan maksimum 100.
Dapat disimpulkan bahwa semakin kecil rasio biaya (beban) operasionalnya akan lebih baik karena bank yang bersangkutan dapat menutupi biaya (beban) operasional dengan pendapatan operasionalnya.
2.1.4 Capital Adequacy Ratio
Fahmi (2014:181) capital adequacy ratio atau sering disebut dengan istilah rasio kecukupan modal bank, yaitu bagaimana sbebuah perbankan mampu membiayai aktivitas kegiatannya dengan kepemilikan modal yang dimilikinya. Dengan kata lain, Capital Adequacy Ratio adalah asio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko, misalnya kredit yang diberikan. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
Secara konsep dijelaskan jika bank memiliki Capital Adequacy Ratio sebesar 8%
maka bank tersebut dapat dikatakan berada diposisi yang sehat atau terjamin.
Abdullah (2012: 160) untuk memberikan kesempatan kepada perbankan melakukan penyesuaian permodalannya berdasarkan ketentuan ini, maka pemenuhan kewajiban penyediaan modal minimum sebesar 8% dapat dilakukan secara bertahap yaitu sekurang-kurangnya:
a. 3% sejak akhir maret 1992 b. 7% sejak akhir maret 1993, dan c. 8% sejak akhir desember 1993.sss
2.1.5 Loan to Deposit Ratio
Ratio ini adalah rasio yang mengukur perbandingan jumlah kredit yang di berikan bank dengan dana yang di terima oleh bank, yang menggambarkan kemampuan bank dalam membayar kembali dana oleh deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Oleh karena itu semakin tinggi rasionya memberikan indikasi rendahnya kemampuan likuiditas bank tersebut, hal ini sebagai akibat jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit menjadi semakin besar, dengan rumusan sebagai berikut. (Veithzal et al., 2013, p.484)
Indonesia Banking School
Keterangan:
a. Kredit merupakan total kredit yang diberikan kepada pihak ketiga (tidak termasuk kredit pada bank lain)
b. Dana pihak ketiga mencakup giro, tabungan, deposito (tidak termasuk antar bank)
c. Cara menghitung nilai kredit
1) Untuk rasio LDR sebesar 110 persen atau lebih nilai kredit = 0 2) Untuk rasio LDR dibawah 110 persen, nilai kredit = 100 Kesimpulan :
Bank Indonesia menetapkan rasio LDR sebesar 110 persen atau bila melebihi di beri nilai kredit 0 yang artinya liquiditas bank tersebut di nilai tidak sehat. Kemudian untuk rasio LDR dibawah 110 persen diberi nilai 100 yang artinya bank tersebut dinilai sehat.
2.1.6 Return On Assets
Menurut Sudiyatno (2010:126) Return On Asset (ROA) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh keuntungan (laba sebelum pajak) yang dihasilkan melalui total asset yang bersangkutan. Semakin besar nilai ROA semakin besar.
Sedangkan menurut Bank Indonesia, Return On Asset (ROA) merupakan perbandingan antara laba sebelum pajak dengan rata-rata total asset dalam satu periode. Semakin besar Return On Asset (ROA) menunjukkan kinerja perusahaan semakin baik, karena return semakin besar. Sehingga dalam penelitian ini menggunakan Return On Asset (ROA) sebagai indikator pengukur kinerja keuangan perusahaan perbankan. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Semakin besar Return on Assets (ROA) suatu bank semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan asset.
2.2 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Rosana Nur Oktavia Subagiono Putri dan Sayu Kt. Sutrisna Dewi (2017) dengan judul “Pengaruh LDR, CAR, NPL, BOPO Terhadap Profitabilitas Lembaga Perkreditan Desa di Kota Denpasar“
memiliki tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh risiko likuiditas, kecukupan modal, risiko kredit, risiko operasional terhadap profitabilitas. Penelitiannya dilakukan pada LPD di Kota Denpasar periode 2013-2015 melalui teknik sampling jenuh, yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel, sehingga sampel akhir yang didapat adalah 35 LPD. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi non participant dengan teknik analisis
Indonesia Banking School
data regresi linier berganda. Berdasarkan hasil analisis yang ditemukan bahwa Loan to Deposit Ratio, Capital Adequacy Ratio secara parsial berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas, sedangkan Non Performing Loan, biaya operasional pendapatan operasional secara parsial berpengaruh negatif signifikan terhadap profitabilitas.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Jordi Suwandi dan Hening Widi Oetomo (2017) dengan judul “pengaruh CAR, NPL, BOPO dan LDR terhadap ROA pada BUSN devisa” Penelitiannya bertujuan untuk menguji pengaruh CAR, NPL, BOPO, dan LDR terhadap Return On Asset (ROA) yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Populasi dalam penelitian ini adalah bank umum swasta nasional devisa yang berjumlah 20 bank. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan tahunan perbankan yang terpublikasi di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2015. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling dengan 3 kriteria dan sampel dalam penelitian ini berjumlah 5 bank. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Pengujian hipotesis menggunakan uji t menunjukkan variabel CAR berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap ROA, NPL berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA, BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA, dan LDR berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA. NPL menunjukkan pengaruh dominan dari semua variabel bebas CAR, BOPO, dan LDR.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh I Putu Agus Atmaja Negara dan I Ketut Sujana (2014) dengan judul “Pengaruh Capital Adequacy Ratio, Penyaluran Kredit, dan Non Perfoming Loan (Periode 2010-2012)“ memiliki tujuan penelitian untuk menganalisis pengaruh dari variabel CAR dan penyaluran kredit terhadap profitabilitas dengan NPL sebagai variabel moderasi. Penelitiannya dilakukan pada bank-bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2012, menggunakan metode purposive sampling dalam pengambilan sampelnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial CAR dan NPL tidak berpengaruh terhadap profitabilitas, sedangkan penyaluran kredit berpengaruh positif terhadap profitabilitas.
Sementara NPL berpengaruh negatif terhadap hubungan antara CAR dengan profitabilitas dan NPL berpengaruh positif terhadap hubungan antara penyaluran kredit dengan profitabilitas.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Ni Made Inten Uthami Putri Warsa dan I Ketut Mustanda (2016). Dengan judul penelitian “Pengaruh CAR, LDR dan NPL Terhadap ROA Pada Sektor Perbankan di Bursa Efek Indonesia ( tahun 2009 - 2013).” Memiliki tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh Capital Adequacy Ratio, Loan to Deposit Ratio dan Non Performing Loan terhadap Return On Assets pada sektor perbankan di Bursa Efek Indonesia dalam 5 tahun pengamatan (2009- 2013). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 31 perusahaan perbankan serta teknik pengambilan sampelnya adalah teknik purposive sampling. Berdasarkan analisis regresi linier berganda maka penelitian tersebut memiliki hasil yang dapat
Indonesia Banking School
disimpulkan bahwa Capital Adequacy Ratio berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Return On Assets, Loan to Deposit Ratio berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Return On Assets, Non Performing Loan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Return On Assets.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Sri Adrianti Muin (2017). Dengan judul “Analisis Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Rentanabilitas Pada P.T.
BANK RAKYAT INDONESIA (Persero) Tbk. PERIODE 2011-2016.” Memiliki tujuan untuk membuktikan pengaruh rasio keuangan Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR) dan Efisiensi Operasional Perusahaan (BOPO) terhadap rentabilitas bank yang diukur dengan Return On Asset (ROA). Teknik analisis yang digunakan yaitu analisis regresi berganda. Karena data yang digunakan adalah data sekunder, maka untuk menentukan ketepatan model perlu dilakukan pengujian atas beberapa asumsi klasik yang mendasari model regresi.
Pengujian asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uji normalitas, multikolinearitas, heteroskedatisitas dan autokorelasi. Hasil penelitian ini mengindikasi bahwa Pertama, variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap ROA, CAR berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA, NPL berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap ROA, LDR berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap ROA, dan BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Nur Aini (2013). Dengan judul penelitian “Pengaruh CAR, NIM, LDR, NPL, BOPO, dan Kualitas Aktiva Produktif
Terhadap Perubahan Laba (Studi Empiris Pada Perusahaan Perbankan yang terdaftar di BEI Tahun 2009–2011)” memiliki tujuan untuk menguji pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Net Interest Margin (NIM), Loan to Deposit Ratio (LDR), Non Performing Loan (NPL), Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) dan Kualitas Aktiva Produktif (KAP) terhadap Perubahan Laba, padaperusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sampel penelitian 61 bank yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia tahun 2009 - 2011. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Capital Adequacy Ratio (CAR), Net Interest Margin (NIM), Loan to Deposit Ratio (LDR), Non Performing Loan (NPL), Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) dan Kualitas Aktiva Produktif (KAP), sementara variabel dependennya adalah Perubahan Laba. Teknik pengambilan Sampel dengan purposive sampling. Analisa data dengan regresi linier berganda berbasis OLS (Ordinary Least Squerst). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa variabel CAR mempunyai pengaruh terhadap Perubahan Laba, NIM tidak berpengaruh terhadap Perubahan Laba, LDR berpengaruh tidak signifikan terhadap Perubahan Laba, NPL berpengaruh positif tidak signifikan terhadap Perubahan Laba, BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap Perubahan Laba dan KAP berpengaruh signifikan.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Listyorini Wahyu Widati (2012) dengan judul penelitian “Analisis Pengaruh Camel terhadap Kinerja Perusahaan Perbankan yang Go Public tahun 2007- 2009.” Memiliki tujuan penelitian Tujuan
Indonesia Banking School
penelitian ini adalah menganalisis dan menemukan bukti empiris pengaruh Camel (CAR, PPAP, DER, BOPO dan LDR terhadap Kinerja Perusahaan Perbankan yang go public. Obyek penelitian perusahaan Perbankan yang go public tahun 2007- 2009, sampel diperoleh dengan menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah sampel penelitian 85 dari 86 observasi. Metode analisis menggunakan regresi linier berganda, uji determinasi, uji F dan uji t. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Loan to Deposit Ratio (LDR) dan Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh positif signifikan terhadap Kinerja Perbankan (ROA) sedangkan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP), BOPO berpengaruh positif tidak signifikan terhadap Kinerja Perbankan (ROA) .
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh A.A. Yogi Prasanjaya dan I Wayan Ramantha (2013). Dengan judul analisis pengaruh rasio CAR, BOPO, LDR, dan Ukuran Perusahaan terhadap profitabilitas Bank yang terdaftar di BEI Tujuan dari penelitiannya adalah untuk menganalisis pengaruh rasio CAR, BOPO, LDR dan Ukuran Perusahaan terhadap Profitabilitas Bank di BEI periode 2008-2011. Teknik pengambilan sampel yang dipergunakan yaitu teknik simple random sampling. Hasil uji F memperlihatkan hasil rasio CAR, BOPO, LDR dan Ukuran Perusahaan berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas. Hasil uji t, menunjukkan LDR dan BOPO berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas, akan tetapi CAR dan Ukuran Perusahaan menunjukkan tidak berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas.
Secara ringkas, penelitian-penelitian diatas dapat dilihat melalui tabel 2.1 berikut ini:
NO. NAMA PENELITIAN /
JUDUL PENELITIAN VARIABEL HASIL PENELITIAN RESEARCH GAP
1.
Rosana Nur Oktavia Subagiono Putri dan Sayu Kt. Sutrisna Dewi (2017) “Pengaruh LDR, CAR, NPL, BOPO Terhadap Profitabilitas Lembaga Perkreditan Desa di Kota Denpasar“
Variabel independen:
LDR, CAR, NPL, BOPO Variabel dependen:
ROA
LDR, CAR secara parsial berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas, sedangkan NPL, BOPO secara parsial
berpengaruh negatif signifikan terhadap profitabilitas.
1. Sampel yang digunakan Bank Umum swasta Nasional devisa 2. Periode penelitian
2013 -2017
2.
Jordi Suwandi dan Hening Widi Oetomo (2017)
“PENGARUH CAR, NPL, BOPO, DAN LDR
TERHADAP ROA PADA BUSN DEVISA”
Variabel independen:
CAR, NPL, BOPO, LDR Variabel dependen:
ROA
CAR berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap ROA, NPL berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA, BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA, dan LDR berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA.
1. Sampel yang digunakan Bank Umum swasta Nasional devisa yang terdaftar pada BEI.
2. Periode penelitian 2013 -2017 Tabel 2.1
Ringkasan penelitian terdahulu
Indonesia Banking School NO. NAMA PENELITIAN /
JUDUL PENELITIAN VARIABEL HASIL PENELITIAN RESEARCH GAP
3.
I Putu Agus Atmaja Negara dan I Ketut Sujana (2014)
“Pengaruh Capital Adequacy Ratio, Penyaluran Kredit, dan Non Perfoming Loan (Periode 2010-2012)“
Variabel independen:
CAR, penyaluran kredit, NPL Variabel dependen:
ROA
CAR dan NPL tidak berpengaruh terhadap profitabilitas,sedangkan penyaluran kredit berpengaruh positif terhadap profitabilitas.
Sementara NPL berpengaruh negatif terhadap hubungan antara CAR dengan profitabilitas dan NPL berpengaruh positif terhadap hubungan antara penyaluran kredit dengan profitabilitas.
1. Fokus kepada BOPO, dan LDR 2. Sampel yang
digunakan Bank Umum swasta
Nasional devisa yang terdaftar pada BEI.
3. Periode penelitian 2013 -2017
4.
Ni Made Inten Uthami Putri Warsa dan I ketut Mustanda (2016) pengaruh CAR, LDR dan NPL Terhadap ROA Pada Sektor Perbankan di Bursa Efek Indonesia ( tahun 2009 -2013)”
Variabel independen:
CAR, LDR, NPL
Variabel dependen:
ROA
CAR berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap ROA, LDR
berpengaruh positif dan tidak signifikan
terhadap ROA, NPL berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA.
1. Fokus kepada BOPO 2. Sampel yang
digunakan Bank Umum swasta Nasional devisa yang terdaftar pada BEI
3. Periode penelitian 2013-2017
5.
Sri Adrianti Muin (2017)
“Analisis Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Rentanabilitas Pada P.T.
BANK RAKYAT
INDONESIA (Persero) Tbk.
PERIODE 2011-2016”
Variabel independen:
CAR, NPL, LDR, BOPO Variabel dependen:
ROA
variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap ROA.
CAR berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA.
NPL berpengaruh negative tidak signifikan terhadap ROA.
1. Sampel yang digunakan Bank Umum swasta Nasional devisa yang terdaftar pada BEI.
2. Periode penelitian 2013 -2017
NO. NAMA PENELITIAN / JUDUL PENELITIAN
VARIABEL HASIL PENELITIAN RESEARCH GAP
LDR berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap ROA.
BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA.
6.
Nur Aini (2013). “Pengaruh CAR, NIM, LDR, NPL, BOPO, dan Kualitas Aktiva Produktif Terhadap
Perubahan Laba (Studi Empiris Pada Perusahaan Perbankan yang terdaftar di BEI) Tahun 2009–2011
Variabel independen:
CAR, NIM, LDR, NPL, BOPO Variabel dependen:
ROA
CAR berpengaruh terhadap laba, NIM tidak berpengaruh terhadap laba, LDR berpengaruh tidak signifikan terhadap Perubahan Laba, NPL berpengaruh positif tidak signifikan terhadap Perubahan Laba, BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap Laba
1. Sampel yang digunakan Bank Umum swasta Nasional devisa yang terdaftar pada BEI.
2. Periode penelitian 2013 -2017
7.
Listyorini Wahyu Widati (2012) “Analisis Pengaruh Camel terhadap Kinerja Perusahaan Perbankan yang Go Public tahun 2007- 2009”
Variabel independen:
CAR, PPAP, DER, BOPO, LDR
Variabel dependen:
ROA
CAR, LDR, DER berpengaruh positif signifikan terhadap ROA.
Sedangkan PPAP, dan BOPO berpengaruh poaitif tidak signifikan terhadap ROA.
1. Fokus kepada NPL.
2. Sampel yang digunakan Bank Umum swasta Nasional devisa yang terdaftar pada BEI.
3. Periode penelitian 2013 -2017.
Indonesia Banking School NO. NAMA PENELITIAN /
JUDUL PENELITIAN VARIABEL HASIL PENELITIAN RESEARCH GAP
8
A.A. Yogi Prasanjaya dan I Wayan Ramantha (2013).
“Analisis Pengaruh Rasio CAR, BOPO, LDR DAN UKURAN PERUSAHAAN Terhadap Profitabilitas Bank yang terdaftar di BEI
Variabel independen:
CAR, BOPO, LDR, dan Ukuran Perusahaan Variabel dependen:
ROA
LDR dan BOPO berpengaruh signifikan terhadap ROA.
CAR dan Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA.
1. Fokus kepada BOPO, CAR, dan LDR
2. Sampel yang digunakan Bank Umum swasta Nasional devisa yang terdaftar pada BEI.
3. Periode penelitian 2013 -2017 Sumber: Rosana (2017), Jordi dan Hening (2017), I Putu dan I Ketut (2014), Nimade (2016), Sri (2017), Nur (2013), Listyorini (2012), A.A. Yogi (2013)
Berdasarkan atas penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, perbedaan dan persamaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya adalah:
1. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya dalam periode waktu yang digunakan dan objek yang akan diteliti. Penelitian ini menggunakan Bank Devisa yang terdaftar pada di BEI periode waktu 2013 sampai dengan 2017.
2. Penelitian ini berbeda dalam variabel independen penelitian yang digunakan.
Variabel independen penelitian ini adalah Non Performing Loan (NPL), Biaya Operasi Terhadap Pendapatan Operasi (BOPO), Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR), dan Return On Assets (ROA).
3. Kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan dengan beberapa penelitian terdahulu adalah menganalisis tingkat kinerja perusahaan perbankan yang diproksi kan sebagai Return On Assets (ROA).
2.3 Kerangka Pemikiran
2.3.1 Pengaruh NPL Terhadap ROA
Non Performing Loan (NPL) merefleksikan besarnya risiko kredit yang dihadapi bank, semakin kecil Non Performing Loan (NPL), maka semakin kecil pula resiko kredit yang ditanggung pihak bank. Bank dalam memberikan kredit harus melakukan analisis terhadap kemampuan debitur untuk membayar kembali kewajibannya. Setelah kredit diberikan, bank wajib melakukan pemantauan terhadap penggunaan kredit serta kemampuan dan kepatuhan debitur dalam memenuhi kewajiban. Bank melakukan peninjauan, penilaian, dan pengikatan terhadap agunan untuk memperkecil resiko kredit (Ali, 2004).
Dengan demikian apabila suatu bank mempunyai Non Performing Loan (NPL) yang tinggi, maka akan memperbesar biaya baik biaya pencadangan aktiva produktif maupun biaya lainnya, sehingga berpengaruh terhadap kinerja bank.
Risiko kredit yang diproksikan dengan non performing loan (NPL) berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan bank yang diproksikan dengan return on asset (ROA). Sehingga jika semakin besar Non Performing Loan (NPL), akan mengakibatkan menurunnya Return On Assets, yang juga berarti kinerja keuangan bank yang menurun. Begitu pula sebaliknya, jika non performing loan (NPL) turun, maka return on asset (ROA) akan semakin meningkat, sehingga kinerja keuangan bank dapat dikatakan semakin baik.
Indonesia Banking School
Hasil penelitian yang di lakukan oleh Jordi Suwandi dan Hening Widi Oetomo (2017) , dan penelitian yang dilakukan oleh Ni Made Inten Uthami Putri Warsa dan I Ketut Mustanda (2016) memiliki hasil bahwa Non Perfoming Loan (NPL) berpengaruh negative terhadap Return On Assets (ROA). Maka hipotesis yang akan di bangun dalam penelitian ini untuk Non Perfoming Loan (NPL) terhadap Return On Assets (ROA) sebagai berikut:
Ho1 : tidak terdapat pengaruh negatif Non Perfoming Loan (NPL) terhadap Return On Assets (ROA).
Ha1 : terdapat pengaruh negatif Non Perfoming Loan (NPL) terhadap Return On Assets (ROA).
2.3.2 Pengaruh BOPO Terhadap ROA
Rasio BOPO yang semakin meningkat mencerminkan kurangnya kemampuan bank dalam menekan biaya operasionalnya yang dapat menimbulkan kerugian karena bank kurang efisien dalam mengelola usahanya (Bank Indonesia, 2004). Bank Indonesia menetapkan angka terbaik untuk rasio BOPO adalah di bawah 90%, karena jika rasio BOPO melebihi 90% hingga mendekati angka 100% maka bank tersebut dapat dikategorikan tidak efisien dalam menjalankan operasinya.
Rasio yang sering disebut rasio efisiensi ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya