• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Pengujian Hipotesis

BAB III: METODOLOGI PENELITIAN

3.6. Teknik Pengujian Hipotesis

Indonesia Banking School

3.5.6. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam suatu model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Untuk mendeteksi masalah autokorelasi pada model regresi pada program SPSS salah satunya dapat diamati melalui Run Test.

Run Test merupakan bagian dari statistik non-parametric yang dapat digunakan untuk menguji apakah antar residual terdapat korelasi yang tinggi.

Pengambilan keputusan dilakukan dengan melihat nilai Asymp. Sig (2-tailed) uji Run Test. Apabila nilai Asymp.Sig (2-tailed) lebih besar dari tingkat signifikansi 0,05 maka dapat disimpulkan tidak terdapat autokorelasi. Uji run test akan memberikan kesimpulan yang lebih pasti jika terjadi masalah pada Durbin Watson Test yaitu nilai d terletak antara dL dan dU atau diantara (4-dU) dan (4-dL) yang akan menyebabkan tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti atau pengujian tidak meyakinkan jika menggunakan DW test (Ghozali, 2006:103).

terhadap variabel dependen. Langkah-langkah untuk menguji hipotesis-hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

3.6.1. Uji Statistik t

Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh Non Performing Loan (NPL), Biaya Operasi Terhadap Pendapatan Operasi (BOPO), Capital Adequacy Ratio (CAR), dan Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Return On Asset (ROA) pada Bank Devisa di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Ghazali (2012: 98) bahwa uji statsitsik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel indepeden secara individual dalam menerangkan variasi variabel independen. Hipotesis nol (Ho) yang hendak diuji adalah apakah suatu parameter (βi) sama dengan nol. Sedangkan hipotesis alternatifnya (Ha) parameter suatu variabel tidak sama dengan nol atau dapat dituliskan dalam persamaan sebagai berikut:

Ho: βi = 0 ; tidak terdapat pengaruh signifikan variabel independen terhadap variabel depnden

Ha : βi ≠ 0 ; terdapat pengaruh signifikan variabel independen terhadap variabel depnden

Pengujian ini dilakukan dengan membandingkan profitabilitas (signifikansi) masing-masing koefisien regresi dengan signifikansi sebesar 5%. Kriteria pengujiannya antara lain adalah apabila nilai profitabilitas kurang dari atau sama dengan 5% (α) maka Ho ditolak dan menerima Ha, dan apabila profitabilitas lebih dari 5% (α) maka Ho tidak dapat ditolak.

Indonesia Banking School

3.6.2. Uji Koefisien R²

Koefisien determinasi untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai Adjusted R² yang kecil menunjukkan kemampuan variabel- variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen sangat terbatas.

Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen Ghozali (2011). Nilai Adjusted R² digunakan untuk menunjukkan besarnya regresi yang mampu menjelaskan variabel dependen.

4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian

Objek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu variabel independen yang terdiri dari Non Perfoming Loan (NPL), Biaya Operasional terhadap Beban Operasional (BOPO), dan Loan to Deposit Ratio (LDR).

Sedangkan variabel dependen yang digunakan adalah Return On Assets (ROA).

Sedangkan perusahaan yang digunakan dalam penelitian yaitu Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) Devisa di Indonesia. Populasi pada penelitian in yaitu seluruh bank yang terdaftar (listing) pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2013 – 2017. Semua populasi tersebut kemudian diseleksi kembali menggunakan teknik Purposive Sampling, sehingga didapatlah sampel dan objek yang terpilih yang digunakan sebagai model penelitian sebanyak 11 Bank.

4.2. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi yang ada pada penelitian ini adalah Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) Devisa, didapat sebanyak 35 Bank yang memiliki Izin langsung dari Bank Indoenesia. Kemudian Sampel ditentukan menggunakan metode Purposive Sampling dengan kriteria yang dapat dilihat pada table 4.1 berikut ini.

Indonesia Banking School

Tabel 4.1 Penentuan Sampel

No. Kriteria Sampel Jumlah

1. Bank Devisa Yang telah memiliki Izin oleh Bank Indonesia. 35 2. Bank Devisa yang tidak sesuai dengan kriteria. (24) 3. Bank Devisa yang sesuai dengan kriteria. 11

Jumlah Sampel Akhir 11

Periode Pengamatan 5 tahun

Jumlah Pengamatan 55 obs

Sumber : www.idx.co.id

Berdasarkan Kriteria yang telah ditetukan sebelumya jumlah perusahaan yang didapat dan akan digunakan dalam penelitian sebanyak 11 Bank, dengan Sampel penelitian sebanyak 55 berikut adalah daftar bank yang telah memenuhi kriteria penelitian yaitu:

Tabel 4.2 Sampel Penelitian

No. DAFTAR BANK KODE

1 Bank Bukopin, Tbk BBKP

2 Bank Central Asia, Tbk BBCA

3 Bank Capital Indonesia BACA

4 Bank Danamon Indonesia, Tbk BDMN

5 Bank Mega, Tbk MEGA

6 Bank Maspion Indonesia BMAS

7 Bank Mestika Dharma BBMD

8 Bank Nusantara Parahyangan, Tbk BBNP

9 Bank OCBC NISP, Tbk NISP

10 Bank Sinarmas, Tbk BSIM

11 Bank Rakyat Indonesia Agroniaga, Tbk AGRO Sumber: www.idx.co.id

4.3. Data yang digunakan

Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Laporan Keuangan yang telah diaudit serta dipublikasi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2013 -2017.

4.4. Uji dan Model Regresi 4.4.1. Analisis Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif merupakan gambaran dari suatu data yang diteliti, baik variabel independen dan variabel dependenya. Dimana dalam penelitian ini data tersebut terdiri dari Non Perfoaming Loan (NPL), Biaya Operasional terhadap Beban Operasional (BOPO), Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to deposit Ratio (LDR), dan Return On Assets (ROA) dengan maksud untuk mendeskripsikan data yang dilihat dari nilai maksimum, minimum, nilai rata–

rata (mean) dan Standart Deviastion. Berdasarkan hasil pengolahan data, diperoleh hasil analisis deskriptif dari lima variabel penelitian sebagai berikut.

Indonesia Banking School

Tabel 4.3 Hasil Analisis Statistik Deskiptif Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

NPL 55 .19 6.37 1.6858 1.24243

BOPO 55 54.13 108.42 82.7996 11.02143

CAR 55 10.52 35.21 20.1165 4.86683

LDR 55 50.61 102.35 81.7678 12.92261

ROA 55 -.90 5.42 1.8905 1.13591

Valid N (listwise) 55

Sumber: Data diolah, 2018

Berdasarkan table 4.3 menjelaskan mengenai hasil pengujian statisticdeskriptif dan dapat diuraikan sebagai berikut.

1. Variabel NPL ( Non Performing Loan ) dengan jumlah data 55 memiliki nilai minimum 0,19 dan nilai maximum 6,37 sesuai dengan Lampiran 1 nilai minimum dimiliki oleh Bank Central Asia, Tbk pada tahun 2013 dan nilai maksimum dimiliki oleh Bank Bukopin, Tbk pada tahun 2017. Nilai rata-rata (mean) yang dihasilkan sebesar 1,6858 dengan standar deviasi sebesar 1,24243. Pada variabel ini NPL memiliki hasil standart deviasi lebih kecil di bandingkan nilai rata- rata artinya data telah terdistribusi dengan baik.

2. Variabel Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) dengan jumlah data 55 memiliki nilai minimum 54,13 dan nilai maximum 108,42 sesuai dengan Lampiran 1 nilai minimum dimiliki oleh Bank Mestika Dharma, Tbk pada tahun 2013 dan nilai maksimum dimiliki oleh Bank Nusantara Pahrayangan, Tbk pada tahun 2017. Nilai rata-rata (mean) yang dihasilkan sebesar 82,7996 dengan standar deviasi sebesar 11,02143. Pada variabel BOPO ini juga memiliki hasil standart deviasi lebih kecil di bandingkan nilai rata-rata artinya data telah terdistribusi dengan baik.

3. Capital Adequacy Ratio (CAR) dengan jumlah data 55 memiliki nilai minimum 10,52 dan nilai maximum 35,21 sesuai dengan Lampiran 1 nilai minimum dimiliki oleh Bank Bukopin, Tbk pada tahun 2017 dan nilai maksimum dimiliki oleh Bank Mestika Dharma, Tbk pada tahun 2017. Nilai rata (mean) yang dihasilkan sebesar 20,1165 dengan standar deviasi sebesar 4,86683. Pada variabel CAR ini memiliki hasil standart deviasi lebih kecil di bandingkan nilai rata-rata artinya data telah terdistribusi dengan baik.

4. Loan to Deposit Ratio (LDR) dengan jumlah data 55 memiliki nilai minimum 50,61 dan nilai maximum 102,35 sesuai dengan Lampiran 1 nilai minimum dimiliki Bank Capital Indonesia, Tbk pada tahun 2017 dan

Indonesia Banking School

nilai maksimum dimiliki oleh Bank Mestika Dharma, Tbk pada tahun 2013. Nilai rata-rata (mean) yang dihasilkan sebesar 81,7678 dengan standar deviasi sebesar 12,92261. Pada variabel LDR ini memiliki hasil standart deviasi lebih kecil di bandingkan nilai rata-rata artinya data telah terdistribusi dengan baik.

5. Return On Assets (ROA) dengan jumlah data 55 memiliki nilai minimum -0,90 dan nilai maximum 5,42 sesuai dengan Lampiran 1 nilai minimum dimiliki Bank Nusantara Pahrayangan, Tbk pada tahun 2017 dan nilai maksimum dimiliki oleh Bank Mestika Dharma, Tbk pada tahun 2013 Nilai rata (mean) yang dihasilkan sebesar 1,8905 dengan standar deviasi sebesar 1.13591. Pada variabel ROA ini memiliki hasil standart deviasi lebih kecil di bandingkan nilai rata-rata artinya data telah terdistribusi dengan baik.

4.4.2. Uji Regresi Linear berganda

Dalam penelitian ini, dilakukan pengolahan data dengan menggunakan regresi linier berganda. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengukur pengaruh atau hubungan variabel independen terhadap variabel dependen. Adapun model regresi dalam penelitian ini yaitu:

ROA = βo – β1.NPLi,t – β2.BOPOi,t + β3.CARi,t - β4.LDRi,t + Ɛi,t

Analisis hasil dari model regresipenelitian menggunakan data yang ada pada table 4.4 berikut.

Tabel 4.4 Hasil Regresi Linier Berganda Coefficients

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 10.282 .500 20.576 .000

NPL .078 .036 .086 2.198 .033

BOPO -.104 .004 -1.009 -24.233 .000

CAR .004 .008 .019 .534 .596

LDR 2.404E-5 .003 .000 .008 .993

Sumber : Data diolah, 2018

Berdasarkan tabel 4.4 di atas diketahui hasil regresi model penelitian, maka diperoleh pesamaan regresi linier berganda sebagai berikut:

ROA = 10,282 + 0,078NPLi,t –0,104BOPOi,t + 0,004CARi,t + 0,00002LDRi,t+ Ɛi,t Adapun interpretasi dari persamaan model regresi di atas adalah sebagai berikut:

1) Nilai konstanta sebesar 10.282 Hal ini menunjukkan bahwa apabila Non Perfoming Loan (NPL), Beban Operasional terhadap Peendapatan

Indonesia Banking School

Operasional (BOPO), Capital Adequacy (CAR), dan Loan to Deposit Ratio (LDR) sama dengan nol, maka nilai Return On Assets (ROA) perusahaan sebesar 10.282.

2) Nilai koefisien regresi NPL sebesar 0,078 Artinya, adanya hubungan positif antara NPL dengan ROA. Hal ini menunjukkan bahwa apabila NPL naik satu satuan, maka ROA akan naik sebesar 0,078 dengan asumsi variabel lainnya konstan.

3) Nilai koefisien regresi BOPO sebesar -0,104 Artinya, adanya hubungan negatif antara BOPO dengan ROA. Hal ini menunjukkan bahwa apabila BOPO naik satu satuan, maka ROA akan mengalami penurunan sebesar - 0,104 dengan asumsi variabel lainnya konstan.

4) Nilai koefisien regresi CAR sebesar 0,004 Artinya, adanya hubungan positif antara CAR dengan ROA. Hal ini menunjukkan bahwa apabila CAR naik satu satuan, maka ROA akan naik sebesar 0,004 dengan asumsi variabel lainnya konstan.

5) Nilai koefisien regresi LDR sebesar 0,00002 Artinya, adanya hubungan positif antara LDR dengan ROA. Hal ini menunjukkan bahwa apabila LDR naik satu satuan, maka ROA akan naik sebesar 0,00002 dengan asumsi variabel lainnya konstan.

4.4.3. Uji Normalitas 1. Normal Probability Plot

Salah satu cara termudah untuk melihat normalitas residual adalah dengan melihat grafik histogram yang membandingkan antara data observasi dengan distribusi yang mendekati normal.

Berdasarkan gambar 4.1 terlihat bahwa titik-titik tersebut tersebar, mendekati dan mengikuti garis diagonal. Ini membuktikan bahwa data dalam model regresi ini berdistribusi secara normal.

Gambar 4.1 Grafik Probability Plot Sumber : Data diolah, 2018

Indonesia Banking School

2. Kolmogorov-Smirnov

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah dalam sebuah model regresi, nilai residu dari regresi mempunyai distribusi yang normal atau tidak.

Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji Kolmogorov- Smirnov (K-S). berikut adalah hasil penelitian dari uji K-S.

Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Kolmogrof-Smirnov One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 55

Normal Parametersa,b Mean .0000000

Std. Deviation .26164587 Most Extreme Differences Absolute .059

Positive .059

Negative -.037

Test Statistic .059

Asymp. Sig. (2-tailed) .200c,d

Sumber: Data diolah, 2018

Berdasarkan pada table 4.5 menunjukkan hubungan yang normal. Dari hasil uji SPSS besarnya nilai kolmogrov smirnov test statistic sebesar 0,059 dan nilai Asymp. Sign (2-tailed) sebesar 0,200. Persayaatan data dinyatakan

berdistribusi normal pada Uji kolmogrov smirnov jika memiliki signifikasi lebih besar dari 0,05 dan dalam penelitian ini didiapat nilai signifikan lebih besar dari 0,05 yang dapat disimpulkan bahwa data berdistrubisi normal Ha ditolak dan H0

diterima.

4.4.4. Uji Heteroskedastisitas 1. Scatter Plot

Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya ketidaksamaan varian dari residual pada model regresi. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi heterokedastisitas. Uji heteroskedastisitas dapat diketahui dengan menggunakan Uji Scatter plot.

Data dikatakan tidak terdapat heterkedastisitas apabila:

a. Titik-titik data menyebar dibagian atas dan dibagian bawah sekitar angka 0.

b. Titik-titik tidak hanya mengumpul dibagian atas atau dibagian bawah saja.

c. Penyebaran titik-titik data tidak boleh membentuk pola bergelombang melebar, kemudian menyempit, dan melebar kembali.

Indonesia Banking School

gambar 4.2 merupakan hasil dari pengujian heteroskedastisitas dengan menggunakan scatter plot.

Gambar 4.2 Hasil Uji Heteroskedastisitas.(Scatter Plot) Sumber: Data diolah, 2018

Pada gambar 4.2 diatas terlihat bahwa scatter plot dalam bentuk titik menyebar secara acak, tidak membentuk suatu pola tertentu dan tersebar dibagian atas maupun dibagian bawah sekitar angka 0 pada sumbu Y. sehingga dapat disimpulkan bahwa regresi yang dihasilkan pada penilitian ini tidak mengandung Heteroskedastisitas normal Ho tidak dapat ditolak dan Haı ditolak.

4.4.5. Uji Multikolinearitas

Uji multikol digunakan untuk menguji ada atau tidaknya variabel korelasi linear antar variabel independen. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Untuk mengetahui apakah terjadi multikolonieritas atau tidaknya dalam model regresi adalah dengan melihat nilai tolerance dan Variance Inflation Faktor (VIF) yang terdapat pada masing- masing variabel. Hasil pengujian diperoleh seperti Tabel 4.6 berikut ini:

Table 4.6 Hasil Uji Multikolinearitas

Model

Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant)

NPL .699 1.432

BOPO .612 1.635

CAR .852 1.174

LDR .964 1.037

Sumber : Data diolah, 2018

Berdasarkan table 4.6 menunjukkan bahwa keempat variabel independen tidak terjadi multikolonieritas karena nilai tolerance > 0,10 yang berarti tidak ada kolerasi antara variabel independen. Hasil perhitungan nilai Variance Inflation Factor ( VIF ) juga menunjukkan hal yang sama yaitu semua

Indonesia Banking School

variabel independen memiliki nilai VIF < 10. Jadi, dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolonieritas dalam model regresi. Maka Ho tidak dapat ditolak dan Ha ditolak.

4.4.6. Uji Auto korelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya korelasi yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi. Model regresi yang baik adalah yang tidak terdapat masalah autokorelasi. Untuk mengetahui ada atau tidaknya autokorelasi dalam suatu model regresi dilakukan pengujian menggunakan Uji Run.

Tabel 4.7 Hasil Uji Auto Kolerasi (Run Test)

Unstandardized Residual

Test Valuea -.01342

Cases < Test Value 27

Cases >= Test Value 28

Total Cases 55

Number of Runs 23

Z -1.495

Asymp. Sig. (2-tailed) .135

Sumber: Data diolah, 2018

Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan bahwa nilai Assymp Significant uji runtest sebesar 0,1320 menunjukkan nilai tersebut lebih besar dari 0,05. MakaHo tidak dapat ditolak.

4.4.7. Uji t

Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah dalam model regresi variabel independen secara parsial berpengaruh terhadap variabel dependen. Dalam penelitian ini, uji parsial digunakan untuk menguji masing masing variabel independen Non Perfoming Loan (NPL), Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap variabel dependenya adalah return On Assets (ROA). Dengan perumusan hipotesis sebagai berikut:

Ho1 : tidak terdapat pengaruh negatif Non Perfoming Loan (NPL) terhadap Return On Assets (ROA).

Ha1 : terdapat pengaruh negatif Non Perfoming Loan (NPL) terhadap Return On Assets (ROA).

Ho2 : tidak terdapat pengaruh negatif Biaya Operasional

terhadap Beban Operasional (BOPO) terhadap return On Assets (ROA).

Ha2 : terdapat pengaruh negatif Biaya Operasional terhadap Beban Operasional (BOPO) terhadap return On Assets (ROA).

Indonesia Banking School

Ho3 : tidak terdapat pengaruh positif Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Return On Assets (ROA).

Ha3 : terdapat pengaruh positif Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Return On Assets (ROA).

Ho4 : tidak terdapat pengaruh Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Return On Assets (ROA).

Ha4 : terdapat pengaruh Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Return On Assets (ROA)

Tabel 4.8 Hasil Uji t Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 10.282 .500 20.576 .000

NPL .078 .036 .086 2.198 .033

BOPO -.104 .004 -1.009 -24.233 .000

CAR .004 .008 .019 .534 .596

LDR 2.404E-5 .003 .000 .008 .993

Sumber : Data diolah, 2018

Pada Tabel 4.8 menunjukkan variabel independen yang memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen akan memiliki t hitungyang lebih besar dibandingkan dengan t table. Nilai t table untuk signifikasi 0,05 dengan

derajat kebesaran df = 50 (n-k-1) hasil diperoleh untuk ttabel adalah sebesar 1,676. Berdasarkan hasil uji parsial pada table 4.8 di atas dijelaskan sebagai berikut:

1. Non Perfoming Loan (NPL)

Dari haisil uji t pada table 4.8 untuk variabel NPL diperoleh nilai t hitung

lebih kecil dari t table (2,198 > 1,676) dengan nilai koefisien sebesar 0,078 dan nilai signifikansi yang telah ditetapkan sebesar 0,033. Artinya nilai signifikansi yang dihasilkan lebih kecil dari nilai signifikansi (0,033 > 0,5) dengan demikian berpengaruh signifikan terhadap ROA.

Ho1 tidak dapat ditolak dan Ha1 ditolak

2. Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)

Dari hasil uji t pada table 4.8 untuk variabel BOPO diperoleh oleh nilai t

hitung lebih kecil dari nilai t table (-24,233 < 1,676) dengan nilai koefisien sebesar -0,104 dan nilai signifikasi sebesar 0,000. Artinya nilai signfikasi yang dihasilkan lebih kecil dari nilai signifikasinya (0,000 < 0,05) dengan demiikian dapat disimpulkan BOPO berpengaruh secara signifikan terhadap ROA.

Ho2 ditolak dan Ha2 tidak dapat ditolak

Indonesia Banking School

3. Capital Adequacy Ratio (CAR)

Dari hasil uji t pada table 4.8 untuk variabel CAR diperoleh oleh nilai t

hitung lebih kecil dari nilai t table (0,534 < 1,676) dengan nilai koefisien sebesar 0,004 dan nilai signifikasi sebesar 0,596. Artinya nilai signfikasi yang dihasilkan lebih besar dari nilai signifikanya (0,596 > 0,05) dengan demiikian dapat disimpulkan bahwa CAR tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ROA.

Ho3 ditolak dan Ha3 tidak dapat ditolak 4. Loan to Deposit Ratio (LDR)

Dari hasil uji t pada table 4.8 untuk variabel LDR diperoleh oleh nilai t hitung lebih kecil dari nilai t table (0,008 < 1,676) dengan nilai koefisien sebesar 0,00002 dan nilai signifikasi sebesar 0,000. Artinya nilai signfikasi yang dihasilkan lebih besar dari nilai signifikanya (0,993 > 0,05) dengan demikian dapat disimpulkan LDR tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ROA.

Ho4 ditolak dan Ha4 tidak dapat ditolak

4.4.8. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Tujuan dilakukan uji koefisien determinasi adalah untuk melihat seberapa besar pengaruh variabel dependen Return On Assets (ROA) terhadap variabel independen yaitu Non Perfoming Loan (NPL), Beban Operasional terhadap

Pendapatan Operasional (BOPO), Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR). tabel 4.9 berikut adalah hasil yang di peroleh dari dari Uji Koefisien Determinasi.

Tabel 4.9 Hasil Koefisien Detereminasi (Adjusted R2) Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the

Estimate Durbin-Watson

1 .973a .947 .943 .27191 1.240

Sumber: Data yang telah didiolah

Berdasarkan table 4.7 di atas diketahui R² sebesar 0,973. Hal ini menunjukkan bahwa nilai tersebut mendekati nilai satu, yang artinya kolerasi yang sangat kuat antara NPL, BOPO, CAR, LDR. Sedangkan koefisien determinasi (adjusted R²) adalah sebesar 0,943 atau sama dengan 94,3%. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi dapat dijelaskan oleh variabel NPL, BOPO, CAR dan LDR sebesar 94,3% sementara sisanya sebesar 5,7%

dijelaskan oleh variabel lain.

Indonesia Banking School

4.5. Analisis Hasil Penelitian

4.5.1. Pengaruh Non Perfoming Loan (NPL) terhadap Return On Assets (ROA)

Pengaruh NPL terhadap ROA pada perusahaan perbankan swasta nasional devisa periode 2013-2017 berdasarkan pada Uji t pertama pada tabel 4.8.

Menunjukkan bahwa thitung lebih besar dari ttabel atau 2,198 > 1,676 dengan nilai signifikansi sebesar 0,033 < 0,05 dan nilai koefisien sebesar 0,078. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel NPL memiliki hasil positif berpengaruh signifikan secara parsial terhadap ROA atau dengan kata lain Ho1 tidak dapat di tolak.

Hasil ini bertentangan dengan hasil milik Suwandi (2017) dan Warsa (2016), yang menyatakan bahwa NPL berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA.

Meskipun secara teoritis juga menyatakan bahwa bank dengan nilai NPL yang tinggi akan menghasilkan ROA yang rendah, Hal ini dapat dijelaskan bahwa walaupun NPL naik karena kewajiban bunga dari debitur sebagian belum terbayar, Perubahan Laba tetap dapat meningkat, jika total kredit yang diberikan juga naik, sehingga pendapatn bunga pinjaman yang belum terbayar, dapat tertutup oleh kenaikan bunga pinjaman akibat realisasi pinjaman baru.

Selain itu peningkatan pendapatan diluar bunga atau fee base income yang mampu menutup penurunan pendapatan bunga karena NPL. Hasil penelitian ini

sesuai dengan hasil Uji Aini (2013) dan bertentangan dengan hasil uji Listyorini (2013).

4.5.2. Pengaruh Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap Return On Assets (ROA)

Pengaruh BOPO terhadap ROA pada perusahaan perbankan swasta nasional devisa periode 2013-2017 berdasarkan pada Uji t kedua pada tabel 4.8.

Menunjukkan bahwa thitung lebih kecil dari ttabel atau -24,233 < 1,676 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel BOPO berpengaruh negatif dan signifikan secara parsial terhadap ROA atau dengan kata lain Ha2 tidak dapat ditolak.

Rasio ini adalah perbandingan antara biaya operasional dengan pendapatan operasional dalam mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Semakin kecil rasio biaya (beban) operasionalnya akan lebih baik karena bank yang bersangkutan dapat menutupi biaya (beban) operasional dengan pendapatan operasionalnya. Sesuai dengan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/7/DPNP tahun 2013 menyatakan bahwa BOPO maksimal sebesar 85 persen, berdasarkan tabel 4.3 penelitian ini memiliki nilai rata – rata BOPO sebesar 82,7996 hal ini menunjukkan bahwa

Indonesia Banking School

bank swasta nasional devisa yang diteliti menunjukkan kondisi yang cukup baik karena masih dibawah nilai yang ditentukan.(Veithzal et al., 2013, p.482)

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jika BOPO meningkat maka laba semakin menurun. Tingkat efisiensi bank dalam menjalankan operasinya berpengaruh terhadap tingkat pendapatan atau earning yang dihasilkan oleh bank. Jika kegiatan operasional dilakukan dengan efisien (dalam hal ini rasio BOPO rendah) maka laba yang dihasilkan bank tersebut akan naik. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil uji yang dilakukan oleh Rosana (2017).

4.5.3. Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Return On Assets (ROA)

Pengaruh CAR terhadap ROA pada perusahaan perbankan swasta nasional devisa periode 2013-2017 berdasarkan pada Uji t ketiga pada tabel 4.8.

Menunjukkan bahwa thitung lebih lebih dari ttabel atau 0,534 < 1,676 dengan nilai signifikansi sebesar 0,596 < 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel CAR berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap ROA atau dengan kata lain Ha3 tidak dapat ditolak.

Fahmi (2014:181) Capital Adequacy Ratio (CAR) atau sering disebut dengan istilah rasio kecukupan modal bank, yaitu bagaimana sebuah perbankan mampu membiayai aktivitas kegiatannya dengan kepemilikan modal yang