BAB 1: PENDAHULUAN
1.6. Sistematika Penulisan
2.1.4. Capital Adequacy Ratio
Fahmi (2014:181) capital adequacy ratio atau sering disebut dengan istilah rasio kecukupan modal bank, yaitu bagaimana sbebuah perbankan mampu membiayai aktivitas kegiatannya dengan kepemilikan modal yang dimilikinya. Dengan kata lain, Capital Adequacy Ratio adalah asio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko, misalnya kredit yang diberikan. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
Secara konsep dijelaskan jika bank memiliki Capital Adequacy Ratio sebesar 8%
maka bank tersebut dapat dikatakan berada diposisi yang sehat atau terjamin.
Abdullah (2012: 160) untuk memberikan kesempatan kepada perbankan melakukan penyesuaian permodalannya berdasarkan ketentuan ini, maka pemenuhan kewajiban penyediaan modal minimum sebesar 8% dapat dilakukan secara bertahap yaitu sekurang-kurangnya:
a. 3% sejak akhir maret 1992 b. 7% sejak akhir maret 1993, dan c. 8% sejak akhir desember 1993.sss
2.1.5 Loan to Deposit Ratio
Ratio ini adalah rasio yang mengukur perbandingan jumlah kredit yang di berikan bank dengan dana yang di terima oleh bank, yang menggambarkan kemampuan bank dalam membayar kembali dana oleh deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Oleh karena itu semakin tinggi rasionya memberikan indikasi rendahnya kemampuan likuiditas bank tersebut, hal ini sebagai akibat jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit menjadi semakin besar, dengan rumusan sebagai berikut. (Veithzal et al., 2013, p.484)
Indonesia Banking School
Keterangan:
a. Kredit merupakan total kredit yang diberikan kepada pihak ketiga (tidak termasuk kredit pada bank lain)
b. Dana pihak ketiga mencakup giro, tabungan, deposito (tidak termasuk antar bank)
c. Cara menghitung nilai kredit
1) Untuk rasio LDR sebesar 110 persen atau lebih nilai kredit = 0 2) Untuk rasio LDR dibawah 110 persen, nilai kredit = 100 Kesimpulan :
Bank Indonesia menetapkan rasio LDR sebesar 110 persen atau bila melebihi di beri nilai kredit 0 yang artinya liquiditas bank tersebut di nilai tidak sehat. Kemudian untuk rasio LDR dibawah 110 persen diberi nilai 100 yang artinya bank tersebut dinilai sehat.
2.1.6 Return On Assets
Menurut Sudiyatno (2010:126) Return On Asset (ROA) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh keuntungan (laba sebelum pajak) yang dihasilkan melalui total asset yang bersangkutan. Semakin besar nilai ROA semakin besar.
Sedangkan menurut Bank Indonesia, Return On Asset (ROA) merupakan perbandingan antara laba sebelum pajak dengan rata-rata total asset dalam satu periode. Semakin besar Return On Asset (ROA) menunjukkan kinerja perusahaan semakin baik, karena return semakin besar. Sehingga dalam penelitian ini menggunakan Return On Asset (ROA) sebagai indikator pengukur kinerja keuangan perusahaan perbankan. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Semakin besar Return on Assets (ROA) suatu bank semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dari segi penggunaan asset.
2.2 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Rosana Nur Oktavia Subagiono Putri dan Sayu Kt. Sutrisna Dewi (2017) dengan judul “Pengaruh LDR, CAR, NPL, BOPO Terhadap Profitabilitas Lembaga Perkreditan Desa di Kota Denpasar“
memiliki tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh risiko likuiditas, kecukupan modal, risiko kredit, risiko operasional terhadap profitabilitas. Penelitiannya dilakukan pada LPD di Kota Denpasar periode 2013-2015 melalui teknik sampling jenuh, yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel, sehingga sampel akhir yang didapat adalah 35 LPD. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi non participant dengan teknik analisis
Indonesia Banking School
data regresi linier berganda. Berdasarkan hasil analisis yang ditemukan bahwa Loan to Deposit Ratio, Capital Adequacy Ratio secara parsial berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas, sedangkan Non Performing Loan, biaya operasional pendapatan operasional secara parsial berpengaruh negatif signifikan terhadap profitabilitas.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Jordi Suwandi dan Hening Widi Oetomo (2017) dengan judul “pengaruh CAR, NPL, BOPO dan LDR terhadap ROA pada BUSN devisa” Penelitiannya bertujuan untuk menguji pengaruh CAR, NPL, BOPO, dan LDR terhadap Return On Asset (ROA) yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Populasi dalam penelitian ini adalah bank umum swasta nasional devisa yang berjumlah 20 bank. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan tahunan perbankan yang terpublikasi di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2015. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling dengan 3 kriteria dan sampel dalam penelitian ini berjumlah 5 bank. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Pengujian hipotesis menggunakan uji t menunjukkan variabel CAR berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap ROA, NPL berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA, BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA, dan LDR berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA. NPL menunjukkan pengaruh dominan dari semua variabel bebas CAR, BOPO, dan LDR.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh I Putu Agus Atmaja Negara dan I Ketut Sujana (2014) dengan judul “Pengaruh Capital Adequacy Ratio, Penyaluran Kredit, dan Non Perfoming Loan (Periode 2010-2012)“ memiliki tujuan penelitian untuk menganalisis pengaruh dari variabel CAR dan penyaluran kredit terhadap profitabilitas dengan NPL sebagai variabel moderasi. Penelitiannya dilakukan pada bank-bank yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2010-2012, menggunakan metode purposive sampling dalam pengambilan sampelnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial CAR dan NPL tidak berpengaruh terhadap profitabilitas, sedangkan penyaluran kredit berpengaruh positif terhadap profitabilitas.
Sementara NPL berpengaruh negatif terhadap hubungan antara CAR dengan profitabilitas dan NPL berpengaruh positif terhadap hubungan antara penyaluran kredit dengan profitabilitas.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Ni Made Inten Uthami Putri Warsa dan I Ketut Mustanda (2016). Dengan judul penelitian “Pengaruh CAR, LDR dan NPL Terhadap ROA Pada Sektor Perbankan di Bursa Efek Indonesia ( tahun 2009 - 2013).” Memiliki tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh Capital Adequacy Ratio, Loan to Deposit Ratio dan Non Performing Loan terhadap Return On Assets pada sektor perbankan di Bursa Efek Indonesia dalam 5 tahun pengamatan (2009- 2013). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 31 perusahaan perbankan serta teknik pengambilan sampelnya adalah teknik purposive sampling. Berdasarkan analisis regresi linier berganda maka penelitian tersebut memiliki hasil yang dapat
Indonesia Banking School
disimpulkan bahwa Capital Adequacy Ratio berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Return On Assets, Loan to Deposit Ratio berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Return On Assets, Non Performing Loan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Return On Assets.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Sri Adrianti Muin (2017). Dengan judul “Analisis Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Rentanabilitas Pada P.T.
BANK RAKYAT INDONESIA (Persero) Tbk. PERIODE 2011-2016.” Memiliki tujuan untuk membuktikan pengaruh rasio keuangan Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), Loan to Deposit Ratio (LDR) dan Efisiensi Operasional Perusahaan (BOPO) terhadap rentabilitas bank yang diukur dengan Return On Asset (ROA). Teknik analisis yang digunakan yaitu analisis regresi berganda. Karena data yang digunakan adalah data sekunder, maka untuk menentukan ketepatan model perlu dilakukan pengujian atas beberapa asumsi klasik yang mendasari model regresi.
Pengujian asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uji normalitas, multikolinearitas, heteroskedatisitas dan autokorelasi. Hasil penelitian ini mengindikasi bahwa Pertama, variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap ROA, CAR berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA, NPL berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap ROA, LDR berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap ROA, dan BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Nur Aini (2013). Dengan judul penelitian “Pengaruh CAR, NIM, LDR, NPL, BOPO, dan Kualitas Aktiva Produktif
Terhadap Perubahan Laba (Studi Empiris Pada Perusahaan Perbankan yang terdaftar di BEI Tahun 2009–2011)” memiliki tujuan untuk menguji pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Net Interest Margin (NIM), Loan to Deposit Ratio (LDR), Non Performing Loan (NPL), Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) dan Kualitas Aktiva Produktif (KAP) terhadap Perubahan Laba, padaperusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sampel penelitian 61 bank yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia tahun 2009 - 2011. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Capital Adequacy Ratio (CAR), Net Interest Margin (NIM), Loan to Deposit Ratio (LDR), Non Performing Loan (NPL), Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO) dan Kualitas Aktiva Produktif (KAP), sementara variabel dependennya adalah Perubahan Laba. Teknik pengambilan Sampel dengan purposive sampling. Analisa data dengan regresi linier berganda berbasis OLS (Ordinary Least Squerst). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa variabel CAR mempunyai pengaruh terhadap Perubahan Laba, NIM tidak berpengaruh terhadap Perubahan Laba, LDR berpengaruh tidak signifikan terhadap Perubahan Laba, NPL berpengaruh positif tidak signifikan terhadap Perubahan Laba, BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap Perubahan Laba dan KAP berpengaruh signifikan.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Listyorini Wahyu Widati (2012) dengan judul penelitian “Analisis Pengaruh Camel terhadap Kinerja Perusahaan Perbankan yang Go Public tahun 2007- 2009.” Memiliki tujuan penelitian Tujuan
Indonesia Banking School
penelitian ini adalah menganalisis dan menemukan bukti empiris pengaruh Camel (CAR, PPAP, DER, BOPO dan LDR terhadap Kinerja Perusahaan Perbankan yang go public. Obyek penelitian perusahaan Perbankan yang go public tahun 2007- 2009, sampel diperoleh dengan menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah sampel penelitian 85 dari 86 observasi. Metode analisis menggunakan regresi linier berganda, uji determinasi, uji F dan uji t. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Loan to Deposit Ratio (LDR) dan Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh positif signifikan terhadap Kinerja Perbankan (ROA) sedangkan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP), BOPO berpengaruh positif tidak signifikan terhadap Kinerja Perbankan (ROA) .
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh A.A. Yogi Prasanjaya dan I Wayan Ramantha (2013). Dengan judul analisis pengaruh rasio CAR, BOPO, LDR, dan Ukuran Perusahaan terhadap profitabilitas Bank yang terdaftar di BEI Tujuan dari penelitiannya adalah untuk menganalisis pengaruh rasio CAR, BOPO, LDR dan Ukuran Perusahaan terhadap Profitabilitas Bank di BEI periode 2008-2011. Teknik pengambilan sampel yang dipergunakan yaitu teknik simple random sampling. Hasil uji F memperlihatkan hasil rasio CAR, BOPO, LDR dan Ukuran Perusahaan berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas. Hasil uji t, menunjukkan LDR dan BOPO berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas, akan tetapi CAR dan Ukuran Perusahaan menunjukkan tidak berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas.
Secara ringkas, penelitian-penelitian diatas dapat dilihat melalui tabel 2.1 berikut ini:
NO. NAMA PENELITIAN /
JUDUL PENELITIAN VARIABEL HASIL PENELITIAN RESEARCH GAP
1.
Rosana Nur Oktavia Subagiono Putri dan Sayu Kt. Sutrisna Dewi (2017) “Pengaruh LDR, CAR, NPL, BOPO Terhadap Profitabilitas Lembaga Perkreditan Desa di Kota Denpasar“
Variabel independen:
LDR, CAR, NPL, BOPO Variabel dependen:
ROA
LDR, CAR secara parsial berpengaruh positif signifikan terhadap profitabilitas, sedangkan NPL, BOPO secara parsial
berpengaruh negatif signifikan terhadap profitabilitas.
1. Sampel yang digunakan Bank Umum swasta Nasional devisa 2. Periode penelitian
2013 -2017
2.
Jordi Suwandi dan Hening Widi Oetomo (2017)
“PENGARUH CAR, NPL, BOPO, DAN LDR
TERHADAP ROA PADA BUSN DEVISA”
Variabel independen:
CAR, NPL, BOPO, LDR Variabel dependen:
ROA
CAR berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap ROA, NPL berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA, BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA, dan LDR berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA.
1. Sampel yang digunakan Bank Umum swasta Nasional devisa yang terdaftar pada BEI.
2. Periode penelitian 2013 -2017 Tabel 2.1
Ringkasan penelitian terdahulu
Indonesia Banking School NO. NAMA PENELITIAN /
JUDUL PENELITIAN VARIABEL HASIL PENELITIAN RESEARCH GAP
3.
I Putu Agus Atmaja Negara dan I Ketut Sujana (2014)
“Pengaruh Capital Adequacy Ratio, Penyaluran Kredit, dan Non Perfoming Loan (Periode 2010-2012)“
Variabel independen:
CAR, penyaluran kredit, NPL Variabel dependen:
ROA
CAR dan NPL tidak berpengaruh terhadap profitabilitas,sedangkan penyaluran kredit berpengaruh positif terhadap profitabilitas.
Sementara NPL berpengaruh negatif terhadap hubungan antara CAR dengan profitabilitas dan NPL berpengaruh positif terhadap hubungan antara penyaluran kredit dengan profitabilitas.
1. Fokus kepada BOPO, dan LDR 2. Sampel yang
digunakan Bank Umum swasta
Nasional devisa yang terdaftar pada BEI.
3. Periode penelitian 2013 -2017
4.
Ni Made Inten Uthami Putri Warsa dan I ketut Mustanda (2016) pengaruh CAR, LDR dan NPL Terhadap ROA Pada Sektor Perbankan di Bursa Efek Indonesia ( tahun 2009 -2013)”
Variabel independen:
CAR, LDR, NPL
Variabel dependen:
ROA
CAR berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap ROA, LDR
berpengaruh positif dan tidak signifikan
terhadap ROA, NPL berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA.
1. Fokus kepada BOPO 2. Sampel yang
digunakan Bank Umum swasta Nasional devisa yang terdaftar pada BEI
3. Periode penelitian 2013-2017
5.
Sri Adrianti Muin (2017)
“Analisis Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Rentanabilitas Pada P.T.
BANK RAKYAT
INDONESIA (Persero) Tbk.
PERIODE 2011-2016”
Variabel independen:
CAR, NPL, LDR, BOPO Variabel dependen:
ROA
variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap ROA.
CAR berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA.
NPL berpengaruh negative tidak signifikan terhadap ROA.
1. Sampel yang digunakan Bank Umum swasta Nasional devisa yang terdaftar pada BEI.
2. Periode penelitian 2013 -2017
NO. NAMA PENELITIAN / JUDUL PENELITIAN
VARIABEL HASIL PENELITIAN RESEARCH GAP
LDR berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap ROA.
BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap ROA.
6.
Nur Aini (2013). “Pengaruh CAR, NIM, LDR, NPL, BOPO, dan Kualitas Aktiva Produktif Terhadap
Perubahan Laba (Studi Empiris Pada Perusahaan Perbankan yang terdaftar di BEI) Tahun 2009–2011
Variabel independen:
CAR, NIM, LDR, NPL, BOPO Variabel dependen:
ROA
CAR berpengaruh terhadap laba, NIM tidak berpengaruh terhadap laba, LDR berpengaruh tidak signifikan terhadap Perubahan Laba, NPL berpengaruh positif tidak signifikan terhadap Perubahan Laba, BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap Laba
1. Sampel yang digunakan Bank Umum swasta Nasional devisa yang terdaftar pada BEI.
2. Periode penelitian 2013 -2017
7.
Listyorini Wahyu Widati (2012) “Analisis Pengaruh Camel terhadap Kinerja Perusahaan Perbankan yang Go Public tahun 2007- 2009”
Variabel independen:
CAR, PPAP, DER, BOPO, LDR
Variabel dependen:
ROA
CAR, LDR, DER berpengaruh positif signifikan terhadap ROA.
Sedangkan PPAP, dan BOPO berpengaruh poaitif tidak signifikan terhadap ROA.
1. Fokus kepada NPL.
2. Sampel yang digunakan Bank Umum swasta Nasional devisa yang terdaftar pada BEI.
3. Periode penelitian 2013 -2017.
Indonesia Banking School NO. NAMA PENELITIAN /
JUDUL PENELITIAN VARIABEL HASIL PENELITIAN RESEARCH GAP
8
A.A. Yogi Prasanjaya dan I Wayan Ramantha (2013).
“Analisis Pengaruh Rasio CAR, BOPO, LDR DAN UKURAN PERUSAHAAN Terhadap Profitabilitas Bank yang terdaftar di BEI
Variabel independen:
CAR, BOPO, LDR, dan Ukuran Perusahaan Variabel dependen:
ROA
LDR dan BOPO berpengaruh signifikan terhadap ROA.
CAR dan Ukuran Perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap ROA.
1. Fokus kepada BOPO, CAR, dan LDR
2. Sampel yang digunakan Bank Umum swasta Nasional devisa yang terdaftar pada BEI.
3. Periode penelitian 2013 -2017 Sumber: Rosana (2017), Jordi dan Hening (2017), I Putu dan I Ketut (2014), Nimade (2016), Sri (2017), Nur (2013), Listyorini (2012), A.A. Yogi (2013)
Berdasarkan atas penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, perbedaan dan persamaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya adalah:
1. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya dalam periode waktu yang digunakan dan objek yang akan diteliti. Penelitian ini menggunakan Bank Devisa yang terdaftar pada di BEI periode waktu 2013 sampai dengan 2017.
2. Penelitian ini berbeda dalam variabel independen penelitian yang digunakan.
Variabel independen penelitian ini adalah Non Performing Loan (NPL), Biaya Operasi Terhadap Pendapatan Operasi (BOPO), Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR), dan Return On Assets (ROA).
3. Kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan dengan beberapa penelitian terdahulu adalah menganalisis tingkat kinerja perusahaan perbankan yang diproksi kan sebagai Return On Assets (ROA).
2.3 Kerangka Pemikiran
2.3.1 Pengaruh NPL Terhadap ROA
Non Performing Loan (NPL) merefleksikan besarnya risiko kredit yang dihadapi bank, semakin kecil Non Performing Loan (NPL), maka semakin kecil pula resiko kredit yang ditanggung pihak bank. Bank dalam memberikan kredit harus melakukan analisis terhadap kemampuan debitur untuk membayar kembali kewajibannya. Setelah kredit diberikan, bank wajib melakukan pemantauan terhadap penggunaan kredit serta kemampuan dan kepatuhan debitur dalam memenuhi kewajiban. Bank melakukan peninjauan, penilaian, dan pengikatan terhadap agunan untuk memperkecil resiko kredit (Ali, 2004).
Dengan demikian apabila suatu bank mempunyai Non Performing Loan (NPL) yang tinggi, maka akan memperbesar biaya baik biaya pencadangan aktiva produktif maupun biaya lainnya, sehingga berpengaruh terhadap kinerja bank.
Risiko kredit yang diproksikan dengan non performing loan (NPL) berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan bank yang diproksikan dengan return on asset (ROA). Sehingga jika semakin besar Non Performing Loan (NPL), akan mengakibatkan menurunnya Return On Assets, yang juga berarti kinerja keuangan bank yang menurun. Begitu pula sebaliknya, jika non performing loan (NPL) turun, maka return on asset (ROA) akan semakin meningkat, sehingga kinerja keuangan bank dapat dikatakan semakin baik.
Indonesia Banking School
Hasil penelitian yang di lakukan oleh Jordi Suwandi dan Hening Widi Oetomo (2017) , dan penelitian yang dilakukan oleh Ni Made Inten Uthami Putri Warsa dan I Ketut Mustanda (2016) memiliki hasil bahwa Non Perfoming Loan (NPL) berpengaruh negative terhadap Return On Assets (ROA). Maka hipotesis yang akan di bangun dalam penelitian ini untuk Non Perfoming Loan (NPL) terhadap Return On Assets (ROA) sebagai berikut:
Ho1 : tidak terdapat pengaruh negatif Non Perfoming Loan (NPL) terhadap Return On Assets (ROA).
Ha1 : terdapat pengaruh negatif Non Perfoming Loan (NPL) terhadap Return On Assets (ROA).
2.3.2 Pengaruh BOPO Terhadap ROA
Rasio BOPO yang semakin meningkat mencerminkan kurangnya kemampuan bank dalam menekan biaya operasionalnya yang dapat menimbulkan kerugian karena bank kurang efisien dalam mengelola usahanya (Bank Indonesia, 2004). Bank Indonesia menetapkan angka terbaik untuk rasio BOPO adalah di bawah 90%, karena jika rasio BOPO melebihi 90% hingga mendekati angka 100% maka bank tersebut dapat dikategorikan tidak efisien dalam menjalankan operasinya.
Rasio yang sering disebut rasio efisiensi ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan biaya operasional terhadap pendapatan operasional. Semakin kecil rasio ini berarti semakin efisien biaya
operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Menurut Bank Indonesia, efisiensi operasi diukur dengan membandingkan total biaya operasi dengan total pendapatan operasi atau yang sering disebut BOPO. Sehingga dapat disusun suatu logika bahwa variabel efisiensi operasi yang diproksikan dengan BOPO berpengaruh negatif terhadap kinerja perbankan yang diproksikan dengan Return on Asset (ROA).
Sehingga semakin besar BOPO, maka akan semakin kecil atau menurun kinerja keuangan perbankan, begitu juga sebaliknya, bila BOPO semakin kecil, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan suatu perusahaan (perbankan) semakin meningkat atau membaik.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sri Adrianti Muin (2017), dan penelitian yang di lakukan oleh Rosana Nur Oktavia Subagiono Putri dan Sayu Kt. Sutrisna Dewi (2017) memiliki hasil bahwa Biaya Operasional terhadap Beban Operasional (BOPO) berspengaruh negative signifikan terhadap Return On Assets (ROA). Maka hipotesis yang akan di bangun dalam penelitian ini untuk Biaya Operasional terhadap Beban Operasional (BOPO) terhadap Return On Assets (ROA) sebagai berikut:sebagai berikut:
Ho2 : tidak terdapat pengaruh negatif Biaya Operasional terhadap Beban Operasional (BOPO) terhadap return On Assets (ROA).
Ha2 : terdapat pengaruh negatif Biaya Operasional terhadap Beban Operasional (BOPO) terhadap return On Assets (ROA).
Indonesia Banking School
2.3.3 Pengaruh CAR Terhadap ROA
Kuncoro (2002) Capital Adequacy Ratio (CAR) juga biasa disebut dengan rasio kecukupan modal, yang berarti jumlah modal sendiri yang diperlukan untuk menutup risiko kerugian yang timbul dari penanaman aktiva-aktiva yang mengandung risiko serta membiayai seluruh benda tetap dan investaris bank. Seluruh bank yang ada di Indonesia diwajibkan untuk menyediakan modal minimum sebesar 8% dari ATMR. Semakin besar Capital Adequacy Ratio (CAR) maka keuntungan bank juga semakin besar. Dengan kata lain, semakin kecil risiko suatu bank maka semakin besar keuntungan yang diperoleh bank.
Bank Indonesia telah menetapkan CAR sebesar 8% pada PBI No.
14/18/PBI/2012 dengan tujuan untuk memperbaiki kemampuan bank untuk menghasilkan pendapatan yang dikuti dengan kenaikan Return On Asset (ROA) serta untuk meningkatkan kualitas kesehatan bank jadi ketika modal suatu bank dibawah 8% bank tersebut tidak dapat mengcover kegiatan usahanya pada saat risiko terjadi untuk itulah modal bank sebaiknya diatas minimum 8 karena modal menjadi salah satu penentu naik turunnya profitabilitas atau Return On Assets (ROA) maka modal harus bertambah besar (Siamat 2005: 290).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin besar Capital Adequacy Ratio (CAR), maka Return on Asset (ROA) juga akan semakin besar, dalam hal ini kinerja perbankan menjadi semakin meningkat atau membaik. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rosana Nur Oktavia Subagiono Putri dan Sayu Kt. Sutrisna Dewi
(2017) dan penelitian yang dilakukan oleh Listyorini Wahyu Widati (2012) memiliki hasil bahwa CAR berpengaruh positif dan signifikan. Maka hipotesis yang akan di bangun dalam penelitian ini untuk Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Return On Assets (ROA) sebagai berikut:sebagai berikut:
Ho3 : tidak terdapat pengaruh positif Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Return On Assets (ROA).
Ha3 : terdapat pengaruh positif Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Return On Assets (ROA).
2.3.4 Pengaruh LDR Terhadap ROA
Menurut Bank Indonesia kemampuan likuiditas bank dapat diproksikan dengan Loan to Deposit ratio (LDR) yaitu perbandingan antara kredit dengan Dana Pihak Ketiga (DPK). Rasio ini digunakan untuk menilai likuiditas suatu bank yang dengan cara membagi jumlah kredit yang diberikan oleh bank terhadap dana pihak ketiga. hubungan Loan to Deposit Ratio dengan Return on Asset. Berdasarkan PBI No 15/15/PBI/2013 batas LDR yaitu 78 persen sampai dengan 92 persen.
Risiko likuiditas adalah risiko yang dihadapai bank dalam menyediakan alat- alat liquid untuk dapat memenuhi kewajiban hutang–hutangnya, dan kewajiban lain serta kemampuan memenuhi permintaan kredit yang diajukann tanpa terjadinya penangguhan. (Hasibuan, 2007:173)