• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.4. Uji dan Model Regresi

4.4.4. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya ketidaksamaan varian dari residual pada model regresi. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi heterokedastisitas. Uji heteroskedastisitas dapat diketahui dengan menggunakan Uji Scatter plot.

Data dikatakan tidak terdapat heterkedastisitas apabila:

a. Titik-titik data menyebar dibagian atas dan dibagian bawah sekitar angka 0.

b. Titik-titik tidak hanya mengumpul dibagian atas atau dibagian bawah saja.

c. Penyebaran titik-titik data tidak boleh membentuk pola bergelombang melebar, kemudian menyempit, dan melebar kembali.

Indonesia Banking School

gambar 4.2 merupakan hasil dari pengujian heteroskedastisitas dengan menggunakan scatter plot.

Gambar 4.2 Hasil Uji Heteroskedastisitas.(Scatter Plot) Sumber: Data diolah, 2018

Pada gambar 4.2 diatas terlihat bahwa scatter plot dalam bentuk titik menyebar secara acak, tidak membentuk suatu pola tertentu dan tersebar dibagian atas maupun dibagian bawah sekitar angka 0 pada sumbu Y. sehingga dapat disimpulkan bahwa regresi yang dihasilkan pada penilitian ini tidak mengandung Heteroskedastisitas normal Ho tidak dapat ditolak dan Haı ditolak.

4.4.5. Uji Multikolinearitas

Uji multikol digunakan untuk menguji ada atau tidaknya variabel korelasi linear antar variabel independen. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Untuk mengetahui apakah terjadi multikolonieritas atau tidaknya dalam model regresi adalah dengan melihat nilai tolerance dan Variance Inflation Faktor (VIF) yang terdapat pada masing- masing variabel. Hasil pengujian diperoleh seperti Tabel 4.6 berikut ini:

Table 4.6 Hasil Uji Multikolinearitas

Model

Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant)

NPL .699 1.432

BOPO .612 1.635

CAR .852 1.174

LDR .964 1.037

Sumber : Data diolah, 2018

Berdasarkan table 4.6 menunjukkan bahwa keempat variabel independen tidak terjadi multikolonieritas karena nilai tolerance > 0,10 yang berarti tidak ada kolerasi antara variabel independen. Hasil perhitungan nilai Variance Inflation Factor ( VIF ) juga menunjukkan hal yang sama yaitu semua

Indonesia Banking School

variabel independen memiliki nilai VIF < 10. Jadi, dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolonieritas dalam model regresi. Maka Ho tidak dapat ditolak dan Ha ditolak.

4.4.6. Uji Auto korelasi

Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya korelasi yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Jika terjadi korelasi maka dinamakan ada problem autokorelasi. Model regresi yang baik adalah yang tidak terdapat masalah autokorelasi. Untuk mengetahui ada atau tidaknya autokorelasi dalam suatu model regresi dilakukan pengujian menggunakan Uji Run.

Tabel 4.7 Hasil Uji Auto Kolerasi (Run Test)

Unstandardized Residual

Test Valuea -.01342

Cases < Test Value 27

Cases >= Test Value 28

Total Cases 55

Number of Runs 23

Z -1.495

Asymp. Sig. (2-tailed) .135

Sumber: Data diolah, 2018

Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan bahwa nilai Assymp Significant uji runtest sebesar 0,1320 menunjukkan nilai tersebut lebih besar dari 0,05. MakaHo tidak dapat ditolak.

4.4.7. Uji t

Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah dalam model regresi variabel independen secara parsial berpengaruh terhadap variabel dependen. Dalam penelitian ini, uji parsial digunakan untuk menguji masing masing variabel independen Non Perfoming Loan (NPL), Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap variabel dependenya adalah return On Assets (ROA). Dengan perumusan hipotesis sebagai berikut:

Ho1 : tidak terdapat pengaruh negatif Non Perfoming Loan (NPL) terhadap Return On Assets (ROA).

Ha1 : terdapat pengaruh negatif Non Perfoming Loan (NPL) terhadap Return On Assets (ROA).

Ho2 : tidak terdapat pengaruh negatif Biaya Operasional

terhadap Beban Operasional (BOPO) terhadap return On Assets (ROA).

Ha2 : terdapat pengaruh negatif Biaya Operasional terhadap Beban Operasional (BOPO) terhadap return On Assets (ROA).

Indonesia Banking School

Ho3 : tidak terdapat pengaruh positif Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Return On Assets (ROA).

Ha3 : terdapat pengaruh positif Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Return On Assets (ROA).

Ho4 : tidak terdapat pengaruh Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Return On Assets (ROA).

Ha4 : terdapat pengaruh Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Return On Assets (ROA)

Tabel 4.8 Hasil Uji t Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

T Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 10.282 .500 20.576 .000

NPL .078 .036 .086 2.198 .033

BOPO -.104 .004 -1.009 -24.233 .000

CAR .004 .008 .019 .534 .596

LDR 2.404E-5 .003 .000 .008 .993

Sumber : Data diolah, 2018

Pada Tabel 4.8 menunjukkan variabel independen yang memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen akan memiliki t hitungyang lebih besar dibandingkan dengan t table. Nilai t table untuk signifikasi 0,05 dengan

derajat kebesaran df = 50 (n-k-1) hasil diperoleh untuk ttabel adalah sebesar 1,676. Berdasarkan hasil uji parsial pada table 4.8 di atas dijelaskan sebagai berikut:

1. Non Perfoming Loan (NPL)

Dari haisil uji t pada table 4.8 untuk variabel NPL diperoleh nilai t hitung

lebih kecil dari t table (2,198 > 1,676) dengan nilai koefisien sebesar 0,078 dan nilai signifikansi yang telah ditetapkan sebesar 0,033. Artinya nilai signifikansi yang dihasilkan lebih kecil dari nilai signifikansi (0,033 > 0,5) dengan demikian berpengaruh signifikan terhadap ROA.

Ho1 tidak dapat ditolak dan Ha1 ditolak

2. Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)

Dari hasil uji t pada table 4.8 untuk variabel BOPO diperoleh oleh nilai t

hitung lebih kecil dari nilai t table (-24,233 < 1,676) dengan nilai koefisien sebesar -0,104 dan nilai signifikasi sebesar 0,000. Artinya nilai signfikasi yang dihasilkan lebih kecil dari nilai signifikasinya (0,000 < 0,05) dengan demiikian dapat disimpulkan BOPO berpengaruh secara signifikan terhadap ROA.

Ho2 ditolak dan Ha2 tidak dapat ditolak

Indonesia Banking School

3. Capital Adequacy Ratio (CAR)

Dari hasil uji t pada table 4.8 untuk variabel CAR diperoleh oleh nilai t

hitung lebih kecil dari nilai t table (0,534 < 1,676) dengan nilai koefisien sebesar 0,004 dan nilai signifikasi sebesar 0,596. Artinya nilai signfikasi yang dihasilkan lebih besar dari nilai signifikanya (0,596 > 0,05) dengan demiikian dapat disimpulkan bahwa CAR tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ROA.

Ho3 ditolak dan Ha3 tidak dapat ditolak 4. Loan to Deposit Ratio (LDR)

Dari hasil uji t pada table 4.8 untuk variabel LDR diperoleh oleh nilai t hitung lebih kecil dari nilai t table (0,008 < 1,676) dengan nilai koefisien sebesar 0,00002 dan nilai signifikasi sebesar 0,000. Artinya nilai signfikasi yang dihasilkan lebih besar dari nilai signifikanya (0,993 > 0,05) dengan demikian dapat disimpulkan LDR tidak berpengaruh secara signifikan terhadap ROA.

Ho4 ditolak dan Ha4 tidak dapat ditolak

4.4.8. Uji Koefisien Determinasi (R2)

Tujuan dilakukan uji koefisien determinasi adalah untuk melihat seberapa besar pengaruh variabel dependen Return On Assets (ROA) terhadap variabel independen yaitu Non Perfoming Loan (NPL), Beban Operasional terhadap

Pendapatan Operasional (BOPO), Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR). tabel 4.9 berikut adalah hasil yang di peroleh dari dari Uji Koefisien Determinasi.

Tabel 4.9 Hasil Koefisien Detereminasi (Adjusted R2) Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the

Estimate Durbin-Watson

1 .973a .947 .943 .27191 1.240

Sumber: Data yang telah didiolah

Berdasarkan table 4.7 di atas diketahui R² sebesar 0,973. Hal ini menunjukkan bahwa nilai tersebut mendekati nilai satu, yang artinya kolerasi yang sangat kuat antara NPL, BOPO, CAR, LDR. Sedangkan koefisien determinasi (adjusted R²) adalah sebesar 0,943 atau sama dengan 94,3%. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi dapat dijelaskan oleh variabel NPL, BOPO, CAR dan LDR sebesar 94,3% sementara sisanya sebesar 5,7%

dijelaskan oleh variabel lain.

Indonesia Banking School

4.5. Analisis Hasil Penelitian

4.5.1. Pengaruh Non Perfoming Loan (NPL) terhadap Return On Assets (ROA)

Pengaruh NPL terhadap ROA pada perusahaan perbankan swasta nasional devisa periode 2013-2017 berdasarkan pada Uji t pertama pada tabel 4.8.

Menunjukkan bahwa thitung lebih besar dari ttabel atau 2,198 > 1,676 dengan nilai signifikansi sebesar 0,033 < 0,05 dan nilai koefisien sebesar 0,078. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel NPL memiliki hasil positif berpengaruh signifikan secara parsial terhadap ROA atau dengan kata lain Ho1 tidak dapat di tolak.

Hasil ini bertentangan dengan hasil milik Suwandi (2017) dan Warsa (2016), yang menyatakan bahwa NPL berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ROA.

Meskipun secara teoritis juga menyatakan bahwa bank dengan nilai NPL yang tinggi akan menghasilkan ROA yang rendah, Hal ini dapat dijelaskan bahwa walaupun NPL naik karena kewajiban bunga dari debitur sebagian belum terbayar, Perubahan Laba tetap dapat meningkat, jika total kredit yang diberikan juga naik, sehingga pendapatn bunga pinjaman yang belum terbayar, dapat tertutup oleh kenaikan bunga pinjaman akibat realisasi pinjaman baru.

Selain itu peningkatan pendapatan diluar bunga atau fee base income yang mampu menutup penurunan pendapatan bunga karena NPL. Hasil penelitian ini

sesuai dengan hasil Uji Aini (2013) dan bertentangan dengan hasil uji Listyorini (2013).

4.5.2. Pengaruh Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) terhadap Return On Assets (ROA)

Pengaruh BOPO terhadap ROA pada perusahaan perbankan swasta nasional devisa periode 2013-2017 berdasarkan pada Uji t kedua pada tabel 4.8.

Menunjukkan bahwa thitung lebih kecil dari ttabel atau -24,233 < 1,676 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel BOPO berpengaruh negatif dan signifikan secara parsial terhadap ROA atau dengan kata lain Ha2 tidak dapat ditolak.

Rasio ini adalah perbandingan antara biaya operasional dengan pendapatan operasional dalam mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Semakin kecil rasio biaya (beban) operasionalnya akan lebih baik karena bank yang bersangkutan dapat menutupi biaya (beban) operasional dengan pendapatan operasionalnya. Sesuai dengan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/7/DPNP tahun 2013 menyatakan bahwa BOPO maksimal sebesar 85 persen, berdasarkan tabel 4.3 penelitian ini memiliki nilai rata – rata BOPO sebesar 82,7996 hal ini menunjukkan bahwa

Indonesia Banking School

bank swasta nasional devisa yang diteliti menunjukkan kondisi yang cukup baik karena masih dibawah nilai yang ditentukan.(Veithzal et al., 2013, p.482)

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jika BOPO meningkat maka laba semakin menurun. Tingkat efisiensi bank dalam menjalankan operasinya berpengaruh terhadap tingkat pendapatan atau earning yang dihasilkan oleh bank. Jika kegiatan operasional dilakukan dengan efisien (dalam hal ini rasio BOPO rendah) maka laba yang dihasilkan bank tersebut akan naik. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil uji yang dilakukan oleh Rosana (2017).

4.5.3. Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Return On Assets (ROA)

Pengaruh CAR terhadap ROA pada perusahaan perbankan swasta nasional devisa periode 2013-2017 berdasarkan pada Uji t ketiga pada tabel 4.8.

Menunjukkan bahwa thitung lebih lebih dari ttabel atau 0,534 < 1,676 dengan nilai signifikansi sebesar 0,596 < 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel CAR berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap ROA atau dengan kata lain Ha3 tidak dapat ditolak.

Fahmi (2014:181) Capital Adequacy Ratio (CAR) atau sering disebut dengan istilah rasio kecukupan modal bank, yaitu bagaimana sebuah perbankan mampu membiayai aktivitas kegiatannya dengan kepemilikan modal yang

dimilikinya. Dengan kata lain, Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah asio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko, misalnya kredit yang diberikan.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa semakin tinggi tingkat kecukupan modal tidak menjadi tolak ukur keberhasilan perusahaan dalam memperoleh laba. CAR yang positif mrnunjukan sesuai dengan teori permodalan. Tidak signifikanya CAR terjadi disebabkan karena adanya peraturan Bank Indonesia yang mengharuskan setiap bank memiliki CAR minimal sebesar 8% sehingga pemilik bank menambah modalnya dengan fresh money untuk mengembangkan usahanya berupa expansi kredit agar CAR tetap terjaga. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jika CAR meningkat maka laba juga semakin meningkat sehingga ROA semakin meningkat, Selain itu hasil penelitian ini sesuai dengan hasil uji yang di lakukan oleh Rosana (2017) dan Widati (2013).

4.5.4. Pengaruh Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap Return On Assets (ROA)

Pengaruh LDR terhadap ROA pada perusahaan perbankan swasta nasional devisa periode 2013-2017 berdasarkan pada Uji t keempat pada tabel 4.8. Menunjukkan bahwa thitung lebih kecil dari ttabel atau 0,008 < 1,676 dengan

Indonesia Banking School

nilai signifikansi sebesar 0,993 < 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel LDR berpengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap ROA atau dengan kata lain Ho4 tidak dapat ditolak. Artinya semakin tinggi rasio LDR maka semakin tinggi pula nilai ROA. dalam hal ini bank tidak seluruhnya menempatkan dana pihak ketiga ke sisi kredit, selain itu bank juga memelihara alat liquid yang menyebabkan tekanan terhadap pendapatan bank berupa tingginya biaya pemeliharaan kas yang menanggur.

Loan to Deposit Ratio adalah rasio yang mengukur perbandingan jumlah kredit yang di berikan bank dengan dana yang di terima oleh bank, yang menggambarkan kemampuan bank dalam membayar kembali dana oleh deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Menurut PBI No. 17/11/PBI/2015 tahun 2015 nilai LDR tidak boleh lebih dari 92 persen berdasarkan tabel 4.3 penelitian ini memiliki nilai rata–rata LDR sebesar 81,7678 hal ini menunjukkan bahwa bank swasta nasional devisa yang diteliti menunjukkan kondisi yang baik karena di bawah nilai yang ditentukan. Penelitian ini memiliki hasil yang sama dengan hasil uji yang dilakukan oleh Rosana (2017).

4.6. Implikasi Managerial

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan mengenai pengaruh Non Performing Loan (NPL), Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Capital Adequancy Ratio (CAR), dan Loan to Deposit Ratio ( LDR) terhadap Return On Asset (ROA) pada perusahaan perbankan devisa di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2017, terdapat beberapa hal yang bisa dijadikan pertimbangan untuk perusahaan tersebut serta dapat dimanfaatkan bagi pihak- pihak yang berkepentingan lainnya.

Hasil analisis penelitian ini menunjukkan bahwa dua dari empat variabel indepeden berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset (ROA), Sedangkan dua variabel indepeden lainnya memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap ROA. Variabel indepeden yang memiliki pengaruh signifikan adalah Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) dan Non Perfoming Loan (NPL). Sedangkan Variabel indepeden yang memiliki pengaruh tidak signifikan yaitu Capital Adequancy Ratio (CAR) dan Loan to Deposit Ratio (LDR). Dari semua variabel indepeden yang ada, terbukti bahwa BOPO adalah variabel indepeden yang pengaruh paling besar terhadap ROA.

Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa variabel indepeden pertama yang berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Return On Asset (ROA) semakin tinggi rasio efisiensi bank yang dimiliki maka

Indonesia Banking School

semakin kecil profitabilitas yang dihasilkan dan begitu pun sebaliknya. Hal ini disebabkan bahwa semakin kecil rasio biaya (beban) operasionalnya akan lebih baik karena bank yang bersangkutan dapat menutupi biaya (beban) operasional dengan pendapatan operasionalnya (Veithzal et al., 2013, p.482).

Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa BOPO dapat dijadikan parameter pengukuran profitabilitas. Seperti yang dapat dilihat pada tabel 4.10 berikut.

Tabel 4.10 Perbandingan nilai BOPO Bank Central Asia, Tbk Nama Bank TAHUN ROA NPL BOPO CAR LDR Bank Central Asia, Tbk 2017 3.89 0.45 58.65 23.1 78.22 2016 3.96 0.31 60.44 21.9 77.12 Sumber: www.idx.co.id

Dapat dilihat pada tahun 2016 menuju tahun 2017 nilai BOPO Bank Central Asia, Tbk mengalami penurunan yang diiringi kenaikan ROA sebesar 0.02 persen, hal tersebut memperkuat teori yang ada, ketika BOPO mengalami penurunan akan membuat ROA meningkat pula. Dengan demikian, bagi manajemen bank sangat penting untuk memperhatikan atau mengontrol pergerakan rasio BOPO agar bank selalu berada pada tingkat efisiensi yang dapat menghasilkan laba yang optimal. Porsi terbesar dari beban operasional adalah biaya dana (cost of fund) yang harus dibayar bank kepada para deposan.

Berarti cara yang paling efektif untuk menurunkan rasio BOPO yang dapat

dilakukan pihak manajemen bank adalah dengan menurunkan cost of fund melalui perolehan dana murah umumnya dalam bentuk tabungan dan giro.

Variabel independen kedua yang memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Return On Assets (ROA) adalah Non Perfoming Loan (NPL). Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara NPL dengan ROA adalah berbanding lurus, Artinya jika rasio NPL yang dimiliki tinggi maka profitabilitas yang dihasilkan pun akan tinggi. hasil penelitian ini berbeda denga hipotesis yang sudah ditentukan. Sesuai dengan peraturan Bank Indonesia (PBI) No.15/2/PBI tahun 2013 yang mengatur mengenai batas maksimum NPL pada suatu bank yaitu sebesar 5%. Rata – rata nilai (mean) NPL yang dimiliki 11 bank devisa yang diteliti yaitu sebesar 1.6858 (Lampiran 2) hal ini menunjukkan bahwa berdasarkan nilai mean tersebut, rasio NPL sudah memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yaitu dibawah 5%.

Bank mempunyai peran penting dalam perekonomian, baik sebagai lembaga intermediasi maupun lalu lintas pembayaran. Berbagai fasilitas dan layanan pun bermunculan sebagai respon dari kebutuhan masyarakat. Salah satu fasilitas yang diberikan kepada nasabah adalah kredit. Pemberian kredit inilah yang kemudian berdampak pada timbulnya risiko kredit macet atau NPL.

Risiko kredit muncul sebagai akibat kegagalan atau ketidak mampuan nasabah

Indonesia Banking School

dalam mengembalikan jumlah pinjaman yang diterima dari bank beserta bunganya sesuai dengan jangka waktu yang telah dijadwalkan.

Perkembangan sistem keuangan saat ini mulai direspon bank dengan melakukan inovasi dalam produk dan layanan yang ditawarkan. Hal ini berdampak pada sumber pendapatan yang diperoleh bank, yang tidak lagi mengandalkan earning assets sebagai komponen pendapatannya, melainkan juga fee base income seperti surat-surat berharga, penempatan dana pada bank lain dan penyertaan modal pada lembaga keuangan bukan bank atau perusahaan lain. (Retnadi, 2006:24).

Dalam hal ini, earning assets bukan merupakan satu-satunya pendapatan yang diandalkan bank, maka kredit bermasalah atau NPL tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keuntungan bank. Hal ini dikarenakan kerugian dari adanya kredit bermasalah masih bisa ditutup dengan pendapatan lain yaitu fee base income.

Tabel 4.11 Perbandingan nilai NPL Bank Bukopin, Tbk Nama Bank TAHUN ROA NPL BOPO CAR LDR Bank Bukopin, Tbk 2017 0.9 6.37 99.04 10.52 81.34

2016 0.54 3 94.36 14.22 83 Sumber: www.idx.co.id

Dapat dilihat pada tahun 2016 menuju tahun 2017 nilai NPL Bank Bukopin, Tbk mengalami peningkatan yang diiringi kenaikan ROA pula sebesar 0.36 persen, hal tersebut dapat membantah teori yang menyebutkan

bahwa NPL berpengaruh negatif terhadap ROA. Dengan ini manajemen bank diharapkan dapat meningkatkan fee base incomenya dengan cara peningkatan jumlah simpanan baik simpanan dalam bentuk tabungan atau simpanan giro.

karena dengan melakukan hal tersebut pendapatan bank dapat meningkat melalui biaya pendapatan biaya administrasi bulanan (imbalan atas penatalaksanaan rekening rekening tabungan nasabah), biaya transaksi penggunaan kartu debit, pendapatan saldo minimum tabungan, biaya pendapatan atas penutupan rekening, biaya statement account atau rekening koran dari nasabah, serta jasa-jasa bank lainya.

Variabel independen ketiga yang berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Return On Asset (ROA) yaitu permodalan yang diprosikan dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) Artinya permodalan bukan merupakan variabel yang dapat mempengaruhi profitabilitas bank.Namun walaupun CAR bukan merupakan variabel yang dapat mempengaruhi ROA manajemen bank diharapkan agar tetap dapat selalu menjaga tingkat kecukupan modalnya sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia. Dengan cara menjaga tingkat modal sendiri (modal bank) yang dimiliki bank itu sendiri, dimana komponen modal bank terdiri dari modal inti (modal yang dimiliki dari para pemegang saham, cadangan bank, dan laba ditahan) dan modal pelengkap, selain itu diharapkan bank dapat memperkecil total tingkat kemunkinan terjadinya risiko baik risiko

Indonesia Banking School

aktiva neracanya ataupun risiko aktiva administratifnya, dengan demikian bank dapat menjaga dan meningkatkan rasio kecukupan modalnya.

Variabel independen keempat yang berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap Return On Asset (ROA) yaitu Loan to Deposit Ratio (LDR) hasil analisis tersebut mengindikasikan bahwa besarnya likuiditas yang dihadapi tidak mempengaruhi profitabilitas yang akan dihasilkan. Tingkat likuiditas yang tinggi mengindikasikan bahwa bank mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya berupa dana pihak ketiga. Nilai likuiditas bank yang ideal menurut Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.15/15/PBI tahun 2013 yaitu sebesar 72 % sampai dengan 90%.

Agar likuiditas bank tetap terjaga, bank diharapkan dapat meningkatkan jumlah kredit yang disalurkan dan menjaga kualitas kreditnya (lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancer, diragukan, dan macet). Agar kualitas kredit tetap terjaga pada posisi lancar manajaemen bank dapat melakukan penyuluhan akan pentingnya penggolongan kualitas kredit yang bermanfaat bagi debitur, di mana mereka akan memiliki pengertian dan penjelasan yang cukup mengenai kualitas kredit yang mereka lakukan, sehingga membuat mereka berpikir untuk melakukan kewajiban atau pembayaran cicilannya dengan baik.

Hal ini sangat penting untuk dijelaskan kepada debitur, terutama mengenai konsekuensi yang akan mereka dapatkan jika ternyata mereka

mengalami kemacetan pembayaran terhadap kredit yang mereka ajukan. Dalam kasus di mana debitur tidak melakukan pembayaran kredit tepat waktu, maka hal tersebut akan sangat merugikan debitur di hari yang akan datang, terutama jika mereka ingin mengajukan pinjaman kembali. Hal tersebut akan menjadi pertimbangan khusus bagi pihak bank selaku kreditur, karena semua informasi debitur mengenai riwayat kredit sebelumnya akan tercatat pada Sistem Informasi Debitur (SID) Bank Indonesia yang dapat diakses oleh pihak bank sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan persetujuan kredit.

87

KESIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN, DAN SARAN 5.1. Kesimpulan

Selama periode pengamatan menunjukkan bahwa data telah terdistribusi normal. Hal ini dapat dilihat dari uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi yang menunjukkan bahwa tidak terdapat variabel yang menyimpang dari uji asumsi klasik. Ini mengidentifikasikan bahwa data yang tersedia telah memenuhi syarat untuk menggunakan model persamaan regresi linier berganda.

Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya terhadap variabel–variabel yang mempengaruhi Return On Assets pada perusahaan perbankan devisa di Bursa Efek Indonesia periode 2013-2017, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Berdasarkan hipotesis satu (H1) Kredit Bermasalah yang di proksikan sebagai Non Perfoming Loan (NPL) memiliki hubungan positif dan berpengaruh signifikan terhadap Return On Assets (ROA) Ini ditunjukkan dari nilai signifikansi yang lebih kecil dari pada 0,05 yaitu sebesar 0,033 dengan nilai koefisien sebesar 0,078. Hal ini bertentangan dengan dengan hipotesis yang diajukan maka Ho1 tidak dapat ditolak. Walaupun NPL naik karena sebagian debitur belum membayar kewajibanya, Perubahan laba akan dapat tetap