http://journal.imla.or.id/index.php/arabi
Arabi : Journal of Arabic Studies, 3 (1), 2018, 35-51 DOI: http://dx.doi.org/10.24865/ajas.v3i1.65
PERNYATAAN KALA DAN ASPEK DALAM BAHASA ARAB:
ANALISIS SEMANTIK VERBA
Tajudin NurUniversitas Padjadjaran Bandung, Indonesia E-mail : [email protected]
Abstract
This research was a qualitative research using structural linguistic method. The findings showed that the conjugation of the perfect verbs (ma>dhi) into imperfect verbs (mudha>ri’) can reveal the concept of semantic time and aspect. It was found that the conjugation of verb from perfect (ma>dhi) to imperfect (mudha>ri’) expresses semantical concept of tense and aspect. Perfect verb expresses past tense, present tense, future tense, and perfective aspect, while imperfect verb expresses present tense, future tense, and imperfective aspect. The other constituents which had a role in expressing tense and aspect were auxiliary verb of kana, the particles of qad, sawfa, lan, and sa- prefix.
The auxiliary verb of kana had a role to express past tense in the case of equational sentence or if it precedes imperfect verb, while if it precedes perfect verb, it expresses perfective aspect. The particle of qad expresses perfective aspect if it precedes perfect verb (ma>dhi), while the particle of sawfa, lan, and sa- prefix express future tense. In addition, to clarify the tense in Arabic adverb of time standing beside the verb also was used.
Keywords: tense, aspect, point of view aspect, situation aspect Abstrak
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode linguistik struktural. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa konjugasi verba perfek (ma>dhi) menjadi verba imperfek (mudha>ri’) dapat mengungkapkan konsep semantis kala dan aspek. Verba perfek (ma>dhi) dapat menyatakan kala lampau, kala kini, kala mendatang, dan aspek perfektif, sedangkan verba imperfek (mudha>ri’) dapat menyatakan kala kini, kala mendatang, dan aspek imperfektif. Unsur lain yang berperan dalam menyatakan kala dan aspek adalah verba bantu kana, partikel qad, sawfa, lan, dan prefiks sa-. Verba bantu kana berperan dalam menyatakan kala lampau dalam kalimat ekuasional atau bila berinteraksi dengan verba imperfek (mudha>ri’), namun bila berinteraksi dengan verba perfek (ma>dhi) dapat menyatakan aspek perfektif. Partikel qad dapat menyatakan aspek perfektif bila berinteraksi dengan verba perfek (ma>dhi), sedangkan partikel sawfa, lan, dan prefiks sa- dapat menyatakan kala mendatang. Selain itu, untuk memperjelas kekalaan digunakan juga adverbia temporal mendampingi verba.
Kata Kunci: kala, aspek, aspek sudut pandang, aspek situasi
Pendahuluan
Kala dan aspek dalam kajian linguistik merupakan subbahasan semantik verba berkaitan dengan kategori gramatikal verba. Kategori gramatikal verba lainnya adalah modus, diatesis, dan persona (Lyons, 1968:274). Dalam tulisan ini yang dibahas adalah masalah kala dan aspek. Baik kala maupun aspek, fokus bahasannya berkaitan dengan waktu kebahasaan yang dinyatakan oleh verba. Artinya, kala dan aspek adalah kategori semantis yang mengamati verba hubungannya dengan unsur waktu.
Dari kepustakaan linguistik umum, antara lain karya Comrie (1976, 1985), Bache (1992, 1997), dan Smith (1991) diperoleh gambaran bahwa kala dan aspek merupakan kategori gramatikal yang sifatnya universal (semesta). Artinya, hampir semua bahasa di dunia mengenal sistem kala dan aspek. Adapun pengungkapannya sudah barang tentu antara satu bahasa dengan bahasa yang lainnya berbeda.
Dalam bahasa-bahasa Indoeropa, kala diungkapkan secara infleksional dalam verbanya. Kala dalam bahasa Inggris misalnya, dinyatakan oleh perubahan bentuk verba (infleksi). Perubahan leksem write ‘tulis’ menjadi write-wrote-written, masing-masing menunjukkan infleksi verba kini (infleksi zero), kala lampau, dan kala partisipium perfek. Sementara untuk aspek dalam bahasa Inggris antara lain dinyatakan dengan menggunakan verba bantu have/has seperti:
(1) He has read the book ‘Ia sudah membaca buku itu.’
(2) He read the book yesterday ‘Ia membaca buku itu kemarin.’
Unsur waktu yang terungkap dalam kedua kalimat tersebut di atas berbeda. Pada kalimat (1) peristiwa membaca sudah berlangsung meskipun tidak diketahui secara pasti kapan berlangsungnya. Dalam hal ini, unsur waktu bersifat internal yang terbentuk dari auxiliary have dan main verb berbentuk past participle read. Dalam bahasa Indonesia yang menjadi padanannya unsur waktu internal ditandai oleh pemarkah leksikal sudah atau telah. Pada kalimat (2) peristiwa membaca berlangsung pada waktu tertentu, yakni yesterday ‘kemarin’ dalam hal ini unsur waktu bersifat eksternal.
Perbedaan unsur waktu antara kategori kala dan aspek yaitu: pada kategori kala unsur waktu bersifat eksternal-deiktik; pengertian waktu bersifat lokatif mengacu pada waktu-waktu absolut atau relatif yang bertitik tolak dari waktu ujaran (moment of speaking). Dengan demikian, situasi (peristiwa, proses, atau keadaan) dapat berlangsung sebelum pengujaran (disebut kala lampau), berlangsung bersamaan dengan pengujaran (disebut kala kini), atau berlangsung setelah pengujaran (disebut kala mendatang). Adapun pada kategori aspek unsur waktu bersifat internal nondeiktik;
pengertian waktu tidak merujuk pada lokasi tempat berlakunya situasi melainkan situasi itu sendirilah yang menjadi lokasi tempat hadirnya waktu. Jadi, waktu di sini berada di dalam situasi bukan di luar situasi. Ini berarti bahwa pada kategori kala waktu beranalogi dengan pengertian dulu, sekarang, nanti, sedangkan pada kategori aspek waktu beranalogi dengan pengertian lama, sebentar, sekilas, atau tak terbatas, dan sebagainya.
Secara garis besar kategori aspek ini dibagi menjadi perfektif dan imperfektif (Lyons, 1968, Comrie, 1976, Tadjuddin, 1993, Bache, 1997). Aspek perfektif adalah aspek yang menggambarkan situasi sebagai satu kesatuan tunggal mencakup titik awal, tengah, dan akhir situasi. Dengan menggunakan aspek perfektif, penutur memandang situasi dari luar sebagai satu keutuhan, tanpa memilah situasi menjadi berbagai fase atau tanpa membedakan struktur internal situasi. Oleh karena itu, dalam aspek perfektif keberlangsungannya selalu menimbulkan keadaan/situasi baru yang berkontras dengan keadaan/situasi sebelumnya. Sebaliknya, aspek imperfektif adalah aspek yang menggambarkan situasi bukan sebagai satu kesatuan tunggal tanpa batas internal dan dengan demikian, keberlangsungannya tidak menimbulkan keadaan baru. Dengan menggunakan aspek imperfektif penutur menggambarkan situasi/peristiwa sedang berlangsung sebagai sesuatu yang membentang dan tidak memberikan informasi sebagai sesuatu yang selesai atau berakhir.
Metode Penelitian Data
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode penelitian struktural dengan memanfaatkan pandangan teori tentang kala dan aspek. Teori tentang kala digunakan pandangan teori dari Comrie (1985) serta Haywood & Nahmad (1962), sedangkan pandangan teori tantang aspek digunakan pandangan teori dari Smith (1991) dan Comrie (1976).
Tahap penganalisisan data digunakan metode agih oleh Sudaryanto (1993:15), yaitu metode analisis bahasa yang alat penentunya dari bahasa itu sendiri yang dijabarkan dalam teknik dasar dan teknik lanjutan. Teknik dasar metode ini adalah teknik bagi unsur langsung (BUL). Teknik ini digunakan untuk memisahkan satuan lingual yang diidentifikasi sebagai pengungkap kategori gramatikal kala dan aspek dengan satuan lingual lainnya di dalam satuan kalimat. Adapun teknik lanjutan yang digunakan adalah teknik ganti dan ubah ujud. Sumber data adalah bahasa tulis yang diambil dari koran, textbook, dan Alquran.
Landasan Teori
Dalam bahasa Arab, perubahan infleksi verbal dari verba perfek (ma>dhi) menjadi verba imperfek (mudha>ri’) dapat mengungkapkan konsep semantis kekalaan dan keaspekan. Artinya, sistem kala dan aspek dalam bahasa Arab dapat diungkapkan menggunakan verba ma>dhi dan atau verba mudha>ri’. Haywood dan Nahmad (1962:96) menyebut verba ma>dhi sebagai perfect tense (kala lampau) dan verba mudha>ri’ disebutnya dengan imperfect tense (kala nonlampau). Verba ma>dhi digunakan untuk tindakan yang sempurna dilaksanakan (completed actions), sedangkan verba mudha>ri’ digunakan untuk tindakan yang masih atau akan berlangsung (incompleted actions). Hal yang sama diungkapkan oleh Badri (1984), Hassan (1976), Al-Ghalayini (1984), dan Yaqut (1994) bahwa bahasa Arab mempunyai tiga bentuk verba ditinjau dari zama>n (waktu) terjadinya peristiwa yang diisyaratkan oleh verba itu, yaitu verba ma>dhi, verba mudha>ri’, dan verba amr. Verba ma>dhi adalah verba yang menunjukkan peristiwa yang terjadi sebelum pengujaran, verba mudha>ri’ menunjukkan peristiwa yang terjadi bersamaan atau sesudah pengujaran, sedangkan verba ɂamr menunjukkan arti perintah yang sudah jelas menunjuk pada peristiwa sesudah pengujaran. Jadi, pada verba amr masalah waktu tidak perlu lagi dipermasalahkan.
Menurut Comrie (1985:36) kala terdiri dari kala absolut dan kala relatif. Kala absolut adalah jenis kala yang dimiliki oleh semua bahasa di dunia meliputi kala lampau, kala kini, dan kala mendatang. Kala absolut adalah kala yang selalu menjadikan time of speaking sebagai titik referensi waktu (1985:36). Untuk mengungkapkan kala absolut ini menggunakan kategori gramatikal kekalaan verba dengan cara konjugasi, yang dalam bahasa Arab adalah konjugasi dari bentuk ma>dhi (lampau) menjadi bentuk mudha>ri’ (nonlampau). Sementara kala relatif adalah kala yang lokasi waktunya tidak berhubungan dengan saat ujaran diucapkan (saat sekarang), tetapi berhubungan dengan situasi yang lain (Comrie,1976:2). Hal yang sama dikemukakan oleh Dik, yaitu bila titik referensi bukan saat pengujaran maka kala yang berfungsi adalah kala relatif.
Sebaliknya, bila titik referensi sekaligus merupakan saat pengujaran (moment of speaking) maka kala yang berfungsi adalah kala absolut (Dik, 1989:202-203).
Comrie (1976) yang meneliti kala dan aspek dalam pelbagai bahasa memberikan ulasan tentang kala dan aspek dalam bahasa Arab. Menurutnya, oposisi aspek perfektif dan aspek imperfektif dalam bahasa Arab ditunjukkan oleh dua bentuk verba, yaitu verba ma>dhi dan verba mudha>ri’. Verba ma>dhi (perfek) yang menyatakan komplesi secara inhern mengisyaratkan situasi terjadi sebelum pengujaran. Implikasinya, situasi tersebut berkala lampau. Namun gejala tersebut tidak berlaku umum karena kala dalam bahasa Arab sifatnya relatif, bergantung konteks. Jadi menurutnya, verba ma>dhi (perfek) berindikasi pada makna perfektif dan kala lampau yang sifatnya relatif. Demikian juga, verba mudha>ri’ (imperfek) berindikasi pada makna imperfektif dan kala nonlampau yang juga relatif. Khusus mengenai kala dalam bahasa Arab, Holes (1995: 188-194) menyatakan bahwa verba kana adalah verba yang dapat berfungsi sebagai to be (kata kerja bantu)
yang banyak berperan dalam menentukan kala di samping unsur lain berupa konteks ujaran.
Dikatakannya, bahwa verba mudha>ri’ tidak mempunyai pemarkah kala secara inhern, sedangkan verba ma>dhi secara semantis memilikinya, khususnya pada verba dinamis. Oposisi antara dua bentuk verba dalam bahasa Arab, yaitu ma>dhi dan mudha>ri’ oleh Versteegh (1997:84) ditafsirkan sebagai bentuk past–non-past, atau perfektif–imperfektif, atau completed–uncompleted. Verba ma>dhi di samping menunjuk pada kala lampau (past tense), juga menunjuk pada aspek perfektif (perfective aspect) atau gabungan antara oposisi temporal–aspek. Sementara verba mudha>ri’
menunjuk pada aspek imperfektif (imperfective aspect) yang dapat mengungkapkan kala lampau dengan didahului oleh verba bantu kana.
Smith (1991:3) mengemukakan gagasan bahwa aspek terdiri dari dua komponen, yaitu komponen sudut pandang dan komponen situasi yang gagasan ini dikenal dengan nama teori dwikomponen. Komponen aspek sudut pandang menurut Smith (1991:5, 8, 94), diungkapkan melalui morfem gramatikal, biasanya bagian dari verba atau frasa verbal, di samping itu adverbia temporal dapat memberi informasi tambahan, sedangkan komponen aspek situasi diungkapkan melalui verba dan argumen-argumennya atau konstelasi verba dengan argumen-argumennya.
Selanjutnya, Smith mengklasifikasi aspek sudut pandang menjadi dua bagian, yaitu sudut pandang perfektif dan imperfektif. Aspek situasi menurut Smith (1991:6) didasarkan pada ciri semantis kewaktuannya, peristiwa dibagi tiga, yaitu: statif, duratif, dan telis. Setiap tuturan menurut Smith dapat dilihat keaspekannya melalui dua komponen ini, yaitu interaksi antara aspek situasi dan aspek sudut pandang yang akan menghasilkan makna keaspekan dalam sebuah kalimat (Smith, 1991:xvi).
Membahas keaspekan erat kaitannya dengan keaksionalan karena keduanya saling mempengaruhi dan melibatkan satu objek yang sama, yaitu verba. Istilah itu awalnya berasal dari bahasa Jerman ‚aktionsart‛ yang didefinisikan oleh Brugmann dalam Bache (1997:217) sebagai the manner in which situation develops or proceeds in particular circumstances. Apa yang dikemukakan Brugmann ini mengarah pada tipe situasi yang muncul dari karakteristik prosedural sebuah situasi. Comrie (1976:41) menyebut konsep tipe situasi tersebut dengan istilah inherent meaning atau makna inheren verba.
Keaksionalan atau inherent meaning disebut juga dengan istilah aspek situasi oleh Smith (1991:3), berkaitan dengan klasifikasi situasi menjadi tipe-tipe tertentu berdasarkan karakteristk prosedural (procedural characteristics) seperti perpanjangan, pentahapan, dan cara berkembang yang ada dalam tipe itu. Selain melihat makna inheren sebuah verba, dalam aspek situasi ini juga harus memperhatikan argumen-argumen dalam sebuah proposisi. Oleh karena itu, Comrie (1976:41-51) mengoposisikan makna inhern verba atau aspek situasi ini dengan pungtual-duratif, telis-atelis, dan statif-dinamis.
Menurut Comrie (1976:78), dua bentuk verba dalam bahasa Arab yang diperoleh melalui proses morfologis, secara tradisional mengacu pada aspek, kala, dan keaksionalan (statis). Dalam penelitiannya, ia menyatakan bahwa istilah perfektif dan imperfektif dalam bahasa Arab berbeda dengan istilah yang ada dalam kaidah gramatika bahasa Slavia ataupun bahasa lainnya.
Menurut Comrie (1976:78-79), verba ma>dhi (lampau) dan verba mudha>ri’ (nonlampau) dalam sebuah kalimat tidak memiliki makna waktu kebahasaan yang spesifik, kecuali bila ditambahkan adverbia temporal. Verba ma>dhi (lampau) menurutnya dapat mengungkapkan makna perfektif sekaligus makna kelampauan (pastness). Sebaliknya, verba mudha>ri’ (nonlampau) dapat mengekspresikan makna imperfektif dan kekinian.
Pernyataan Kala Dalam Bahasa Arab 1. Pernyataan Kala Lampau
Kala lampau adalah kala yang menunjukkan pada peristiwa-peristiwa atau keadaan yang terjadi sebelum saat pengujaran. Bagaimana kala lampau dinyatakan dalam bahasa Arab, perhatikan data berikut ini:
(1)
.ِِة آ ِْرــِمـلاَِِلإِِْتَِرـَِظـَِنَِوِ،ِِرِْيِِرِ سلاَِِبِْرُِـقِِ يِِئَِِبُِرِْهَِكِْلاَِِحاَِبِْصِِمِْلاَِِنَِيِِدِ ْ تْ ءاْ ضأ
Adha>at (p/f/t) Diya>na> al-mishba>ḥa al-kahruba>iyya qurba menyalakan-dia Diana itu-lampu itu-listrik dekat as-sari>ri, wa naẓharat (p/f/t) ila> al-mira>ti./ (LTL:6) itu-tempat tidur, dan memandang-dia ke itu-cermin
‘Diana menyalakan lampu listrik dekat tempat tidur dan memandang ke arah cermin.’
(2)
. ِنِْيِّصلا ِ ِسْيِئِ رلاِِِةَََََْدَِتااَرََِْرَِِيِِِنِِْيِطْسَلَفِْلاُِسْيِئِ رلاِ ْ س مأ ِِْيِّْصلاَِلِِإِْ ل ص و
/Washala (p/m/t) ila> ash-Shi>ni amsi ar-Rai>su al-Filasthi>ny tiba-dia ke itu-Cina kemarin itu-Presiden itu-Palestina Ya>sir ‘Arafa>ta bida’wati ar-Rai>si as-Shi>niy./ (SKAA:1) Yasir Arafat dengan-undangan itu-Presiden itu-Cina
‘Presiden Palestina Yasir Arafat tiba di Cina kemarin atas undangan Presiden Cina.’
(3)
". ِلـِْيِِّنلاُِِةـَِبِىُِرْصِم"ِِ:ْسُِتُدْوُرْـيِىِ ْ لا قْاْ ـ يْ دْ ق
/Qadi>man qa>la (p/m/t) Hi>ru>dutus: ‚Mishru hibatu an-Ni>li.‛/ (MSA1:238) dahulu berkata-dia Herodotus: Mesir hadiah itu-Nil
‘Dahulu Herodotus berkata: ‚Mesir merupakan hadiah dari sungai Nil‛.
(4)
.َنَْـُناَقْلا َِسَرَدُِِثْيَحِاَسِْنَِرَِـاَِلإٍِةَِثْعِِدِِِْفِْ ب هذْ ر ص مْْ فُْه م ي ل عْ ـتْ ل م كْ أْاْ م ل و
Wa lamma> akmala (p/m/t) ta’li>mahu fi> Mishra dzahaba (p/m/t) dan tatkala menyelesaikan-dia pendidikannya di Mesir pergi-dia fi> bi’tsatin ila> Faransa> ḥaytsu darasa al-qa>nu>na./ (MSA2:253) dalam misi ke Prancis di mana belajar-dia itu-hukum
‘Dan tatkalaia menyelesaikan pendidikannya di Mesir, dia pergi ke Prancis dengan misi belajar hukum.’
(5)
. ْ ناـ ج و ز ـت ـي سْْ نا ك َِنْيَِذـِ لاِِْيَْـبْـيِبَِْلاَِْيَْـدُِلِئاـَِِ رلاِِِتَِعَطَِقِْـنِِا
Inqatha’ati (p/f/t) ar-rasa>ilu bayna al-ḥabi>bayni alladzayni
terputus-dia itu-surat2 antara itu-dua kekasih yang-keduanya ka>na> (vb) sayatazawwaja>ni (i/m/d)/ (MSA:410)
akan-menikah-berdua
‘Surat-surat antara dua kekasih itu terputus yang dahulu keduanya akan menikah.’
(6)
.ِِّيـِِدَرـَِعِْلاِِمـَلاَعِْلاِِِْفِِةـِ يِمَِلِِِْلِْاِِةَضْهِ ـنلاِِِداِ َُِـقِِّمَىَِأِْنِمُِهَُْبَََُِِ مَُمُِ ْ نا ك
/Ka>na (vb) Muḥammad ‘Abduh min ahammi quwwa>di
Muhammad Abduh salah satu dari terpenting tokoh-tokoh an-nahdhati al-Isla>miyyati fi> al-‘A<lami al-‘Arabiyyi./ (MSA1:359) itu-kebangkitan itu-Islam di itu-dunia itu-Arab
‘Muhammad Abduh (dulu) adalah salah seorang tokoh terpenting kebangkitan Islam di dunia Arab.’
Keterangan: p = verba perfek, i = verba imperfek, m = maskulin, f = feminin, t = tunggal, d = dual, pl = plural, vb = verba bantu
LTL = data diambil dari novel La> Taqu>li> La>
SKAA = data diambil dari Surat Kabar Ar-Riya>ḍ
MSA = data diambil dari buku Modern Standard Arabic
Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam data-data di atas, yaitu Adha>at ‘menyalakan’ pada (1), washala ‘tiba’ pada (2), qa>la ‘berkata’ pada (3), dzahaba ‘pergi’ pada (4), ka>na sayatazawwaja>ni ‘(saat itu) keduanya akan menikah’ pada (5), dan keadaan ka>na Muḥammad
‘Abduh min ahammi quwwa>di … ‘(saat itu) Muhammad Abduh salah satu tokoh …’ pada (6) semuanya menempatkan situasi pembicaraannya sebelum ujaran diucapkan atau sebelum saat penceritaan, sehingga digunakan verba perfek (ma>dhi>) dan menempatkannya pada titik A yang dalam skema sumbu garis waktu kala lampau berada di sebelah kiri titik nol (0). Oleh karena itu, peristiwa/keadaan tersebut di atas dapat digambarkan dalam bagan garis waktu sebagai berikut:
Bagan 1:
Sumbu Garis Waktu Kala Lampau A 0
Lampau Saat Pengujaran Mendatang A = Peristiwa adha>at ‘menyalakan’, washala ‘tiba’, qa>la ‘berkata’, dzahaba ‘pergi’, ka>na sayatazawwaja>ni ‘(saat itu) keduanya akan menikah’, dan keadaan ka>na Muḥammad ‘Abduh min ahammi quwwa>di … ‘(saat itu) Muhammad Abduh salah satu tokoh terpenting kebangkitan Islam
…’
0 = Saat Pengujaran/Penceritaan
Pada data (2-4) kelampauannya diperkuat oleh hadirnya adverbia temporal lampau yaitu amsi ' kemarin', qadi>man 'dahulu', dan klausa Wa lamma> akmala ta’li>mahu fi> Mishra 'dan tatkala ia menyelesaikan pendidikannya di Mesir'. Pada data (5-6) kala lampau dinyatakan oleh hadirnya verba bantu ka>na, yaitu peristiwa sayatazawwaja>ni ‘keduanya akan menikah’ terjadi bukan akan datang tetapi dulu dan situasi bahwa Muhammad Abduh adalah salah satu tokoh penting kebangkitan Islam di dunia Arab adalah situasi dulu bukan sekarang. Oleh karena itu, untuk menyatakan kelampauannya pada kedua data tersebut digunakan verba bantu ka>na. Sementara pada data (1), meski hanya menggunakan verba perfek (ma>dhi) adha>at ‘menyalakan’ tidak mengurangi makna kelampauannya karena verba perfek (ma>dhi) memiliki makna kelampauan secara inhern (otonom). Atas dasar itu, verba perfek (ma>dhi) dan verba bantu ka>na merupakan pengungkapan kala lampau absolut secara gramatikal dalam bahasa Arab.
2. Pernyataan Kala Kini
Kala kini adalah kala yang menunjukkan pada peristiwa-peristiwa atau keadaan yang terjadi bersamaan dengan saat pengujaran. Bagaimana kala kini dinyatakan dalam bahasa Arab, perhatikan data berikut ini:
(7)
.ِكاََُِِِّبـِحُأَِلاَو ِ ْ كـُّب حُأ َِنَأ
Ana> uḥibbuki (i/t) wa la> uḥibbu (i/t) siwa>ki./ (MAP:63) saya saya-mencintai-mu dan tidak saya-mencintai selainmu
‘Saya mencintaimu dan tidak mencintai selain darimu.’
(8)
ِْيِذ لاَِو
ُّْب حُأ
ْ نلآ ا ْ .ِةاَـيـَحـلاِِةـَياـَهـِنَِلإُِوــُّبـِحُأَِ
Wa alladzi> uḥibbu (i/t) al-a>na sauḥibbuhu (i/t) ila> niha>yati dan yang saya-mencintai sekarang akan-saya-mencintainya ke akhir
al-ḥaya>ti./ (MAP:75) itu-kehidupan
‘Dan orang yang saya cintai sekarang akan saya cintai hingga akhir hayat’.
(9)
ِِزْيِزَعْلاَُِْبََُِرْـيِمَْلَْا
ُْس أ ر ـي ْ
ِِةـ يِزـَكْرَمْلاِِّجَـْلاِِةَنَْلََِعاَمِتْجا ِ
ْ م وـ يـ لا .
ِ
al-ami>ru ‘Abd al-‘Azi>zi yarasu (i/m/t) 'ijtima>’a lajnati al-ḥajji itu-pangeran Abdul Aziz dia-memimpin rapat panitia itu-haji al-markaziyyati al-yawma./ (SKAR:2)
itu-pusat itu-hari ini
‘Pengeran Abdul Aziz memimpin rapat panitia haji pusat hari ini.’
(10)
ْ . ُْتـ مـ ه ف
Fahimtu (l/t)/ (MSA1:342) mengerti-saya
‘Saya mengerti.’
Keterangan:
MAP = data diambil dari buku Modern Arabic Prose
Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam data-data di atas, yaitu uḥibbuki ‘saya mencintaimu’
pada (7), uḥibbu ‘saya cinta' pada (8), yarasu ‘memimpin’ pada (9), dan fahimtu ‘saya mengerti' pada (10), semuanya menempatkan situasi pembicaraannya bersamaan saat ujaran diucapkan, sehingga digunakan verba imperfek (mudha>ri’) dan menempatkannya pada titik A dalam skema sumbu garis waktu bersamaan posisi dengan titik nol (0). Kecuali pada (10) digunakan verba perfek (ma>dhi). Oleh karena itu, peristiwa/keadaan tersebut di atas dapat digambarkan dalam bagan sumbu garis waktu kala kini sebagai berikut:
Bagan 2:
Sumbu Garis Waktu Kala Kini
A 0
Lampau Saat Pengujaran Mendatang A = Peristiwa uḥibbuki ‘saya mencintaimu’, uḥibbu ‘saya cinta', yarasu ‘memimpin’, dan fahimtu ‘saya mengerti'
0 = Saat Pengujaran/Penceritaan
Pada data (8-9) pernyataan kala kini diperkuat oleh hadirnya adverbia temporal kini yaitu al- a>na 'sekarang' dan al-yawma 'hari ini', sedangkan pada data (7) meski tidak dibarengi oleh hadirnya adverbia temporal kini sudah cukup menunjukkan bahwa peristiwa uḥibbuki ‘saya mencintaimu’
terjadi bersamaan dengan saat pengujaran. Sementara data (10) walau menggunakan verba perfek (ma>dhi) fahimtu 'saya ingat' namun konteks itu berkaitan dengan aktivitas ingatan yang cenderung menggunakan verba perfek (ma>dhi) padahal peristiwanya terjadi bersamaan dengan saat pengujaran. Sebabnya adalah bahasa Arab melihat hal-hal di atas dari aspek situasionalnya yang sempurna bukan dari aspek hasil situasi dari tindakan itu.
3. Pernyataan Kala Mendatang
Kala mendatang adalah kala yang menunjukkan pada peristiwa-peristiwa atau keadaan yang terjadi setelah saat pengujaran. Bagaimana kala mendatang dinyatakan dalam bahasa Arab, perhatikan data berikut ini:
(11)
.َِةـِ نَِْلَاِ ْ كُل خ دـُت ِِدَُِْجُِّسلاُِِةَرِْـثَِك
Katsratu as-suju>di tudkhiluka (i/f/t) al-jannata./ (SKAA:15) banyak itu-sujud dia-memasukkanmu itu-surga
‘Banyak bersujud (akan) memasukkanmu ke surga.’
(12)
.ُرـِشلآْاُِبا ذَكْلاِِِنَم ْا دْ غ ِ ْ ن وُم ل ع ـي س
Saya’lamu>na (i/m/pl) ghadan mani al-kadzdza>bu al-a>syiru./
akan-mengetahui-mereka besok siapa itu-amat pendusta itu-sombong
‘Mereka akan mengetahui esok nanti, siapa yang amat pendusta lagi sombong.’ (QS54:26) (13)
ْ أ س يْ ف و س
ُْكُل
ُْم
ِِْا
َِتِْ ُِلْ
ِْأَرِْنََُِذا
ُِك ِِي
ِِْفِْم
ِْلاِِهِذَى ِ
ِْشُم
َِلِك
ِِةِ
لا
ِِلْوـِ يـ ِ َ .ِة
Sawfa yasalukumu (i/m/t) al-usta>dzu ‘an ra’yi-kum akan dia-bertanya-kamu sekalian itu-guru tentang pendapat-kamu se- fi> ha>dzihi al-musykilati ad-dawliyyati./ (MSA2:30) kalian dalam ini itu-problematika itu-negara
‘Guru akan menanyakan pendapatmu tentang problematika negara ini.’
(14)
...ِ،اـَِهُِلَِجَِأَِءاَِجِاَِذِِإِاـًِسِْفَِـنُِاللهِ ْ ر خ ؤُـيْ نْ ل َِو
Wa lan yuakhkhira (i/m/t) Alla>hu nafsan idza> ja>a dan tidak-akan dia-menangguhkan itu-Allah seseorang bila datang-dia ajaluha>,.../ (QS63:11)
ajalnya
‘Dan Allah tidak akan menangguhkan seseorang apabila datang ajalnya, ..’
(15)
. ْ مْ داـْ قْ لاْ ع وـُبـ سُْلْ ا ِاـَِهِْـدَِأَِِلِِإِ ُْر داــ غُـي ِِْيِلــْىَِْلَِْا
al-ahli> yugha>diru (i/m/t) ila> abha> al-usbu>’a al-qa>dima./ (SKAR:21)
Al-Ahli dia-bertolak ke Abha itu-minggu itu-depan ‘(Kesebelasan) Al-Ahli bertolak ke Abha minggu depan.’
(16)
.َعاـَِمِتْجلِْاِْ ن وُرُض يَ ِ ْ ءا ر زُوْ لاْ ع ي جَْْ لْ ع ل
La’alla jami>’a al-wuzara>i yaḥḍuru>na (i/m/pl) al-ijtima>’a./(MSA1:419) semoga semua itu-menteri2 menghadiri-mereka itu-rapat
‘Semoga seluruh menteri menghadiri rapat.’
(17)
.ُللهأ ِ ُْهــ مــ ح ر ْ ِْيــ َِأِِد
abi> raḥimahu (p/m/t) Alla>hu./ (MAP:61)
ayahku merahmati-Dia-nya itu-Allah ‘Ayahku, semoga Allah merahmatinya.’
(18)
ْ ن ض ر ع َِو
ِ ا
َِهَج
َِكْلِلٍِذــِئَمََْـيَِم ِ نـ .اـًضَرَََِنْيرِاا
Wa ‘aradhna> (p) Jahannama yawmaidzin li al-ka>firi>na dan menampakkan-Kami Jahannam hari itu utk-itu-orang2 kafir
‘aradhan./ (QS18:100) jelas
‘Dan Kami tampakkan (neraka) Jahanam pada hari itu kepada orang-orang kafir dengan jelas.’
Keterangan:
QS = data diambil dari Qur'an Surat ....
Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam data-data di atas, yaitu tudkhiluka ‘memasukkanmu' pada (11), saya’lamu>na ‘mereka akan mengetahui' pada (12), yasalukum ‘menanyakanmu’ pada (13), yuakhkhira ‘menagguhkan' pada (14), yugha>diru 'bertolak' pada (15), yaḥdhuru>na 'mereka menghadiri' pada (16), raḥimahu 'merahmatinya' pada (17), dan ‘aradhna> ' Kami perlihatkan' pada (18), semuanya menempatkan situasi pembicaraannya terjadi setelah ujaran diucapkan, sehingga digunakan verba imperfek (mudha>ri’) dan menempatkannya pada titik A yang dalam skema sumbu garis waktu terletak di sebelah kanan titik nol (0). Kecuali pada data (17-18) menggunakan verba perfek (ma>dhi) karena ada tujuan khusus. Oleh karena itu, peristiwa/keadaan tersebut di atas dapat digambarkan dalam bagan sumbu garis waktu kala mendatang sebagai berikut:
Bagan 3:
Sumbu Garis Waktu Kala Mendatang
A
0
Lampau Saat Pengujaran Mendatang A = Peristiwa tudkhiluka ‘memasukkanmu', saya’lamu>na ‘mereka akan mengetahui', yasalukumu ‘menanyakanmu’, yuakhkhira ‘menagguhkan', yugha>diru 'bertolak', raḥimahu 'merahmatinya', dan ‘aradhna> 'Kami perlihatkan'
0 = Saat Pengujaran/Penceritaan
Ada beberapa keterangan yang menyertai verba-verba di atas yang menguatkan pada kala mendatang. Peristiwa tudkhiluka ‘memasukkanmu' pada (11) terjadi nanti di surga yang diperkuat dengan hadirnya kata al-jannah 'surga'. Pada data (12-16), kala mendatang dinyatakan oleh adverbia temporal ghadan 'besok' pada (12) dan al-usbu>’a al-qa>dima 'minggu depan' pada (15).
Selain itu, dalam kontek pengharapan seperti pada (16), konteks doa pada (17), dan konteks untuk menandaskan bahwa peristiwa itu niscaya terjadi pada (18) adalah situasi-situasi yang menyatakan kala mendatang. Hanya saja pada data (17-18) untuk mengungkapkan konteks itu digunakan verba perfek (ma>dhi).
4. Pernyataan Kala Kini
Mengikuti pandangan teori dari Smith (1991:3) bahwa aspek terdiri dari aspek sudut pandang dan aspek situasi. Aspek sudut pandang terdiri dari perfektif dan imperfektif (meliputi progresif, habituatif, dan kontinuatif), sedangkan aspek situasi atau inherent meaning atau
aksional (aktionsart) menurut istilah Comrie (1976:41-48), membaginya secara oposisional ke dalam situasi pungtual-duratif, telis-atelis, dan statif-dinamis. Berikut ini dipaparkan data-data aspek sudut pandang dan aspek situasi dalam bahasa Arab berikut ini:
Pernyataan Aspek Sudut Pandang
1. Pernyataan Aspek Sudut Pandang Perfektif Perhatikan data berikut ini:
(19)
)ةيلآا(...ِاًِبـِْيَِشُِسِْأِ رلاِْ ل ع ـت شا َِوِِّْنِّمُِمْظَعِْلاِ ْ ن ه وْ ِِّْنِِإِ ِّبَرَِلاَِق
Qa>la (p/m/t) Rabbi inni> wahana (p/m/t) al-‘azhmu berkata-dia Tuhan-ku sesungguhnya-ku lemah-dia itu-tulang minni> wa syta’ala (l/m/t) ar-ra’su syaiban, …./ (QS19:4) dari-ku dan penuh-dia itu-kepala uban, …..
'Berkata (Zakaria): ‚Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, ……..’
(20)
اْوََُجَو
َِِأ
ِ نِ
لاِ ث
ِةَرَْـ
ْ دـ ق
ْ ت ما ق ْ .
/Wajadu> (p/m/pl) anna ‘ats-tsawrata qad qa>mat (p/f/t)./ (MAP:65) mendapati-mereka bahwa itu-revolusi telah terjadi-dia
‘Mereka mendapati bahwa revolusi itu telah terjadi.’
(21)
ِْنَِ
َِقِاَمََ
ِْلَـداُِت
ْ ك ُِو
ْ قْ نا
ْ كْ د
ْ ب ْ ت
َِلاَِِّر ِلا
َِةـ.
’inda ma> qa>baltuhu ka>na (vb) qad kataba (p/m/t) ‘ar-risa>lata./
ketika menemui-saya-nya telah menulis-dia itu-surat
‘Ketika saya menemuianya, dia telah menulis surat.’ (MSA1:367)
Verba wahana ‘lemah’ dan isyta’ala ‘penuh’ pada contoh (19), verba qa>mat ‘terjadi’ pada contoh (20), dan verba kataba ‘menulis’ pada contoh (21) adalah verba ma>dhi yang dalam ketiga kalimat di atas peristiwa mendahului waktu tutur. Ketiga peristiwa tersebut di atas bukan saja sudah selesai pada waktu penuturan tetapi juga menggambarkan situasi sebagai satu kesatuan tunggal (bulat dan utuh), sehingga menyatakan keaspekan perfektif. Keaspekan perfektif ditandai oleh adanya titik akhir tipe situasi (final) dan keberlangsungannya menimbulkan keadaan baru yang berkontras dengan keadaan sebelumnya. Peristiwa/keadaan wahana ‘lemah’ dan isyta’ala
‘penuh’ pada contoh (19) telah berakhir dengan hasil Nabi Zakaria as raganya tidak sekuat dulu lagi (menjadi renta), peristiwa qa>mat ‘terjadi’ pada contoh (20) sudah selesai dengan hasil terciptanya zaman baru dari sebelumnya, dan peristiwa kataba ‘menulis’ pada contoh (21) juga sudah selesai dengan hasil sebuah surat.
Situasional keperfektifan ketiga data di atas berbeda dilihat dari rentang waktu antara peristiwa-peristiwa itu terjadi secara faktual dengan saat penceritaan peristiwa. Keperfektifan yang hanya menggunakan verba ma>dhi saja adalah keperfektifan yang hanya melihat hasil dari keadaan saat peristiwa (ayat) itu diturunkan tanpa melihat peristiwa/proses sebelumnya (nonanterioritas). Verba perfek (ma>dhi) wahana ‘lemah’ dan isyta’ala ‘penuh’ pada contoh (19) adalah peristiwa yang sudah selesai pada saat ayat tersebut diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw yang bersifat nonanterioritas (tidak disebutkan lebih dulu bagi peristiwa lain). Keperfektifan verba ma>dhi yang didahului oleh partikel qad, yaitu qad qa>mat ‘telah terjadi’ pada data (20) adalah keperktifan yang lebih pendek secara relatif menurut persepsi pembicara dilihat dari antara
peristiwa itu terjadi secara faktual dengan saat penceritaan/penuturan. Sementara keperfektifan verba perfek (ma>dhi) yang didahului oleh verba bantu ka>na pada data (21) yaitu ka>na qad kataba
‘dia telah menulis’ adalah keperfektifan yang jauh (remote past) dilihat dari titik saat pengujaran/penceritaan dengan perbuatan ‘menulis’ itu terjadi secara faktual, dan bersifat anterioritas (disebutkan lebih dulu bagi peristiwa lain) yang ditandai oleh hadirnya klausa ‘indama>
qa>baltuhu ‘tatkala saya menemuinya’.
Pesan yang hendak disampaikan oleh aspek sudut pandang perfektif adalah ingin mengajak mitra tutur/pembaca untuk melihat peristiwa dari luar sebagai sesuatu yang sudah selesai menjadi satu kesatuan tunggal yang rentang keperfektifannya mencakup titik awal dan titik akhir situasi (titik final). Bache (1977:227) menggambarkan aspek ini sebagai a sense of situational completeness. Sudut pandang aspek perfektif dapat digambarkan dalam bagan berikut:
Bagan 4:
Aspek Sudut Pandang Perfektif awal tengah akhir
kondisi lama kondisi baru (belum dilakukan) (selesai dila- kukan)
situasi A situasi B titik alih A titik alih B
Keterangan bagan:
i. Situasi A (meliputi tahap awal, tengah, dan akhir) menjadi latar bagi situasi B.
ii. Titik alih A adalah titik peralihan dari situasi yang belum dilakukan oleh subjek ke situasi melakukan tahap awal.
iii. (iii)Titik alih B adalah titik peralihan dari tahap akhir situasi yang dilakukan ke kondisi baru yang diperlihatkan oleh hasil dari situasi yang telah diselesaikan sebagai wujud aspek perfektif.
iv. Situasi B adalah situasi baru
2. Pernyataan Aspek Sudut Pandang Imperfektif Perhatikan data berikut ini:
(22)
.ِجِراَِْلاِ ِفِِةـِ يِدَْـُِعُِّسلاِِِتاِ يِْيِْداَِكلِْْاِيِرْيَُِِمَِءاَِقِلِ ُْح ت ف ـيْ ِِفِراَعَمِْلاُِِرْـيِِزَو
Wazi>ru al-ma’a>rifi yaftaḥu (i/m/t) liqa>a mudi>ri>
menteri itu-ilmu2 pengetahuan dia-membuka pertemuan direktur2 al-aka>di>miyya>ti ‘as-Su’u>diyyati fi al-kha>riji./ (SKAR:2)
itu-akademi2 itu-Arab Saudi di itu-luar negeri
‘Menteri Ilmu Pengetahuan sedang membuka pertemuan pimpinan-pimpinan akademi Arab Saudi di luar negeri.’
(23)
.َِنْوُرُِـتـِْفَـيَِلاَوَِراَـه نلاَِوَِلْيـِ لاِ ْ ن وـُح ب سُي
/Yusabbiḥüna (i/m/pl) al-layla wa an-naha>ra wa la> yafturu>na (i/m/pl)./
bertasbih-mereka itu-malam dan itu-siang dan tidak henti2-mereka (QS21:20) ‘Mereka (para Malaikat) selalu bertasbih siang dan malam dan tiada henti-hentinya.’
(24)
ِِْفِ
ِْاِ ِقْر ش لا
َِِْو َِلْ
ْ ـت س ي ِ ِط
ْ قْ ب
ُْل
ِلا
ُِساـ ِ ن
ِِبَِرِئا ز ِلا لِ ـت
ِْاَوِِبْيِحْر
ِْك ِِل .ِماَرـ
/Fï ‘asy-syarqi al-awsathi yastaqbilu (i/m/t) an-na>su az-za>ira di itu-Timur itu-Tengah dia-menyambut itu-orang itu-tamu bi-at-tarḥi>bi wa al-ikra>mi./ (MSA2:31)
dg-itu-ucapan selamat datang dan itu-penghormatan
‘Di Timur Tengah orang biasa menyambut tamu dengan ucapan selamat datang disertai penghormatan.’
Keterangan:
SKAA = data diambil dari Surat Kabar Al-Akhba>r
Verba yaftaḥu ‘membuka’ pada contoh (22), yusabbiḥu>na ‘mereka memuji’ pada (23), dan ya’tï ‘datang’ pada (24) semuanya adalah verba imperfek (mudha>ri’). Yang menjadi fokus pembicaraan adalah situasi internal verba imperfek (mudha>ri’) pada ketiga kalimat di atas menunjukkan situasi yang tengah atau masih berlangsung dan tidak ada tanda bahwa situasi- situasi tersebut selesai atau berakhir sehingga disebut dengan aspek sudut pandang imperfektif.
Peristiwa yaftaḥu ‘membuka’ pada contoh (22) menunjukkan situasi yang tengah berlangsung atau in progression yang disebut dengan aspek imperfektif progresif. Oleh Bache (1997:226) aspek ini digambarkan sebagai a sense of situational progression. Peristiwa yusabbiḥu>na ‘mereka memuji’
pada (23) menunjukkan situasi yang terus menerus tanpa selang atau permanen dan tidak menunjukkan situasi tersebut in progression sehingga disebut aspek imperfektif nonprogresif atau kontinuatif, sedangkan peristiwa yastaqbilu ‘menyambut’ pada (24) menunjukkan peristiwa yang biasa dilakukan oleh masyarakat Timur Tengah sebagai tradisi mereka dalam menyambut tamu yang menggambarkan perikeadaan yang menjadi kebiasaan sehingga disebut dengan aspek imperfektif habituatif.
Sudut pandang aspek imperfektif dapat digambarkan dalam bagan berikut:
Bagan 5:
Aspek Sudut Pandang Imperfektif 1 2 3
awal t e n g a h
kondisi lama (belum dilakukan) situasi A sedang/masih berlangsung
titik alih A Keterangan bagan:
(i) Titik alih A adalah titik peralihan dari situasi yang belum dilakukan oleh subjek ke situasi melakukan tahap awal.
(i) Situasi A meliputi tahap awal dan tengah serta tidak ada titik akhir sehingga tidak ada titik alih menuju situasi yang baru sebagai wujud aspek imperfektif.
Pesan yang hendak disampaikan oleh aspek sudut pandang imperfektif adalah mengajak lawan bicara atau pembaca untuk mengarahkan fokusnya pada tahap-tahap yang terdapat pada titik awal dan titik akhir situasi tanpa adanya informasi titik final. Ke dalam aspek sudut pandang
imperfektif ini memiliki oposisi yaitu aspek habituatif dan aspek kontinuatif dan ke dalam aspek kontinuatif memiliki oposisi aspek progresif dan aspek nonprogresif (Comrie, 1976:27-28).
Pernyataan Aspek Situasi
1. Pernyataan Aspek Situasi Pungtual-Duratif
Situasi pungtual adalah situasi/peristiwa yang terjadi sekejap dan tidak ada proses sehingga tidak memiliki rentang waktu atau durasi (Comrie, 1976:41-43). Oleh karena terjadi sekejap maka titik awal dan titik akhir menempati satu titik waktu atau terjadi bersamaan. Dengan demikian, situasi pungtual tidak dapat bergabung dengan aspek sudut pandang imperfektif. Sebaliknya, situasi duratif berlangsung dalam periode tertentu sehingga memiliki rentang waktu. Oleh karena itu, situasi duratif dapat bergabung dengan aspek sudut pandang imperfektif. Perhatikan data berkut:
(25)
َِمَْ َِِـي ِِرْصَع ِْلاِِِةلَصََِ ِْعَـدَِةل صلاِىِّد َِؤ ُِـتَِ َِوِِن ِمْحْ رلاَِِْبََِِنْدِِالله َُِِ ِْبََ ِ ُِخْيـ ِ شلاَِلاَع َِـتِ ِِالله ِ ِِةَْحَْر ِ َلِإ ْ ْ ل ق ـت ـن ا
ِْاَِلْ
.ََِح
ِِِِِِ
intaqala (p/m/t) ila> raḥmatilla>hi ta’a>la> asy-Syaikhu ‘Abdulla>hi berpulang ke rahmat itu-Allah maha tinggi itu-Syekh Abdullah ibni ‘Abdi ar-Raḥma>ni wa satuaddi> (i/f/t) ash-shala>tu ba’da shala>ti bin Abdi Rahman dan akan-dilakukan itu-shalat setelah shalat al-‘ashri yawma al-aḥadi./ (SKAR:2)
itu-Asar hari itu-Minggu
‘Telah berpulang ke haribaan Allah Ta’ala Syekh Abdullah bin Abdurrahman dan akan dishalatkan setelah shalat Asar pada hari Minggu.’
(26)
ُِءاََِؤُر
ِ ِة يِدَرَعْلاِ ِلَوَُّ ِلا
ْ ن وُـث ح ب ـي
ِِْلا
َِعْضََ
ِِّسـ ِلا
َِْلاِ يِِاَي
َِرِضا
ِْلاِ ِف ِ
َِِلاَع
ِْلاِ
ِِِّبَرَع
ْ أْ ـثْ ن ِ
ْ ءا
ْ م ت جا ِ
ْ فْ م ه عا
ْ لا
ْ م و ط ر
ِِِِ.
Ruasa>u ad-duwali al-‘Arabiyyati yabḥatsu>na (i/m/pl) ‘al-wadh’a as- pemimpin2 itu-negara2 itu-Arab membahas-mereka itu-situasi itu- siya>siyya al-ḥa>dhira fï al-‘A<lami al-‘Arabiyyi atsna>a ijtima>’ihim politik itu-dewasa ini di itu-dunia itu-Arab selama pertemuan- fi> al-Khurthu>mi./ (MSA1:181)
mereka di itu-Kartoum
‘Para pemimpin negara-negara Arab tengah membahas situasi politik di dunia Arab dewasa ini selama pertemuan mereka di Kartoum.’
Pungtual berarti menunjuk pada perbuatan atau peristiwa yang tidak mempunyai rentang waktu atau durasi sehingga fase awal, tengah, dan akhir peristiwa terjadi bersamaan dalam satu waktu. Peristiwa intaqala ila> raḥmatilla>hi ‘berpulang ke rahmatullah/meninggal dunia’ pada data (25), fase awal, tengah, dan akhir terjadi bersamaan bahkan hanya berlangsung sekejap saja.
Sebaliknya, duratif berarti menunjuk pada suatu kegiatan atau proses yang mempunyai rentang waktu sehingga memiliki fase awal, tengah, dan akhir peristiwa. Perbuatan yabḥatsu>na ‘mereka membahas’ pada data (26) sedang berlangsung dalam periode tertentu selama pertemuan mereka di Khartoum. Berdasarkan data di atas, situasi intaqala ila> raḥmatilla>hi ‘berpulang ke rahmatullah/meninggal dunia’ pada data (25) adalah situasi pungtual yang terjadi sekejap dan menunjukkan situasi perfektif sehingga digunakan verba perfek (ma>dhi), sedangkan situasi yabḥatsu>na ‘mereka membahas’ pada data (26) adalah situasi duratif yang membutuhkan rentang
waktu tertentu dan menunjukkan situasi imperfektif sehingga menggunakan verba imperfek (mudha>ri’).
Oleh karena itu, verba perfek (ma>dhi) intaqala ila> raḥmatilla>hi ‘berpulang ke rahmatullah/meninggal’ pada (25) menjadi tidak gramatikal bila diubah menjadi verba mudha>ri' yantaqilu ‘sedang berpulang ke rahmatullah/meninggal’. Demikian juga, verba imperfek (mudha>ri’) yabḥatsu>na ‘mereka tengah membahas’ pada (26) menjadi tidak gramatikal bila diubah menjadi verba perfek (ma>dhi) baḥatsu> ‘mereka membahas’.
2. Pernyataan Aspek Situasi Telis-Atelis
Situasi telis adalah situasi yang mempunyai titik akhir alamiah (tuntas) dan bersasaran, sedangkan situasi atelis adalah situasi yang belum tuntas atau belum selesai (Kridalaksana, 1994:56). Dalam ketelisan juga mengindikasikan adanya proses sehingga dapat berkombinasi dengan situasi progresif. Sebaliknya, peristiwa atelis tidak mempunyai titik akhir alamiah sehingga dapat diperpanjang secara tidak tentu dan dapat berkombinasi dengan aspek progresif (Comrie, 1976:98). Selain itu, situasi telis/atelis tidak dapat diungkapkan oleh verba sendiri, melainkan oleh verba bersama dengan argumen (Tadjuddin, 1993:43).
Perhatikan data berikut:
(27)
َِنْوُداَكَي
ْ ن وُل ص ي ْ .ِةـَمِصاَعْلاَِلإ ِ
Yaka>du>na yashilu>na (i/m/pl) ila> al-‘A<shimati./ (MSA2:256) hampir-mereka tiba-mereka ke itu-ibu kota
‘Mereka hampir tiba di ibu kota.’
(28)
ِ لَظَو ى ق ر ـت ـي ْ
ِِِ. ِبَتْكَمْلِلِاًرْـيَُِمَِحَبْصأِ تَّـَح ِ
Wa zhalla yataraqqa> (i/m/t) h{atta> ashbah{a mudi>ran li-al- dan terus-dia dia-meningkat hingga menjadi-dia direktur untuk-itu- maktabi./
kantor (MSA2:232)
‘Dan karirnya terus meningkat hingga ia menjadi direktur di kantor itu.’
Verba yaṣilüna ‘mereka tiba’ pada (27) adalah verba pungtual, yaitu fase awal, tengah, dan akhir terjadi bersamaan. Akan tetapi verba yashilu>na ‘mereka tiba’ berbentuk imperfek (mudha>ri’) dan didahului oleh verba pewatas yang menyatakan keterangan temporal imperfektif yaka>du>na ‘(mereka) hampir’
sehingga menghilangkan kepungtualannya dan menjadi berada dalam proses pencapaian (directed). Adanya komplemen arah ila> ‘al-‘A<shimati ‘di ibu kota’ menunjukkan ketelisannya, yaitu adanya titik akhir peristiwa.
Verba yataraqqa> ‘meningkat’ pada (28) adalah verba proses pencapaian yang didahului oleh verba pewatas yang menyatakan keterangan temporal imperfektif zhalla ‘terus’ menjadi zhalla yataraqqa> ‘terus meningkat’ bermakna atelis. Akan tetapi dengan hadirnya klausa subordinatif ḥatta> ashbaḥa mudi>ran li-‘al- maktabi ‘hingga menjadi direktur di kantor’ menunjukkan proses pencapaian sampai pada titik akhir sehingga berubah menjadi telis.
Sementara peristiwa ya’tabiru>>na ‘mereka menganggap’ pada data (29) dan ya’rifu ‘(dia) mengetahui’
pada data (30) berikut adalah peristiwa atelis (tidak ada titik akhir situasi). Perhatikan contoh data di bawah ini:
(29)
ُْلا ز ـيْ لا َِو
ُِبَرَعْلا
ْ ن وُ بِ ت ع ـي .َْيْـِّيََِغُّللاِِمَظََْأِْنِمِِْيَْلُج رلاِِنْيَذمى ِ
ِ
Wa la> yaza>lu al-‘Arabu ya’tabiru>na (i/m/pl) ha>dzayni dan masih-dia itu-orang2 Arab menganggap-mereka ini-dual
‘ar-rajulayni min a’zhami al-lughawiyyi>na./ (MSA1:466) itu-dua orang di antara terbesar itu-para linguis
‘Dan orang Arab masih menganggap kedua orang ini termasuk linguis besar.’
(30)
. ًِةـَنََِِنْيِرْشَُِذْنـُمَِةَرـُِْلْْا ِ ُْف ر ع ـي ْ نا ك ََِْقَـا
Faqad ka>na (vb) ya’rifu (i/m/t) al-usrata mundzu ‘ishri>na maka-sudah dia-mengetahui itu-keluarga semenjak 20 sanatan./ (MAP:74)
tahun
‘Maka dia sudah mengetahui keluarga itu sejak 20 tahun.’
Keatelisan verba ya’tabiru>na ‘mereka menganggap’ pada data (29) ditandai oleh adanya verba pewatas yang menyatakan situasi atelis la> yaza>lu ‘masih’ yang menjadikan situasi ‘menganggap’ terus diperpanjang hingga tidak ada titik akhir. Keatelisan verba ya’rifu ‘mengetahui’ pada data (30) ditandai oleh frasa adverbia temporal atelis mundzu ‘ishri>na sanatan ‘sejak dua puluh tahun’ yang menjadikan situasi ‘mengetahui’ sejak dua puluh tahun terus diperpanjang hingga titik akhir yang tidak ditentukan.
3. Pernyataan Aspek Situasi Statif-Dinamis
Situasi statif dan dinamis ditandai oleh adanya keduratifan; situasi statif/keadaan bersifat homogen atau tetap dan terus berlangsung kecuali bila ada yang menghentikannya, sedangkan situasi dinamis bersifat heterogen dan akan berlangsung jika subjek secara terus-menerus memberikan daya atau usaha agar tetap dinamis, baik dari luar maupun dari dalam (Comrie, 1976:48). Ciri lain dari situasi statif adalah tidak mengikutsertakan gerakan, sedangkan situasi dinamis mengikutsertakan gerakan (Tadjuddin, 1993:42).
Perhatikan contoh data berikut:
(31)
. َِةـَلاَقَمْلاَِبَتَكِْيِذ لاَِلُج رلا ِ ُْت ف ر ع
‘araftu (p/t) ar-rajula alladzi> kataba (p/m/t) al-maqa>lata./ (MSA1:367) mengetahui-saya itu-pria yang menulis-dia itu-makalah
‘Saya mengetahui pria yang menulis makalah itu.’
(32)
ِ)ةـيلْا(ِ.... ِِاللهِِءاَقِلـِدِاَُْـد ذَكَِنْيِذ لا ِ ْ ر س خ ِ ْ د ق
Qad khasira (p/m/t) alladzi>na kadzdzabu> (p/m/pl) bi-liqa>i telah rugi-dia orang2 yg mendustakan-mereka dg perjumpaan il-La>hi …../ (QS6:31)
itu-Allah …
‘Telah merugi orang-orang yang mendustakan perjumpaan dengan Allah’.
(33)
ْ ي ض رْ...
ِ)ةيلْا(ِ....ُِوـْنََِاَُْضَرَوِْمـُهْـنََُِالله ِ
/….radhiya (p/m/t) Alla>hu ’anhum wa radhu> ‘anhu ./ (QS98:8) … rida itu-Allah kepada-mereka dan rido-mereka kepada-Nya ‘…. Allah rida kepada mereka dan mereka rido kepada-Nya ……’
Verba ‘araftu ‘saya mengetahui’ pada (89), khasira ‘merugi’ pada (90) dan radhiya ‘rida’
pada (91) adalah verba perfek (ma>dhï) yang semuanya menyatakan perikeadaan statif nondinamis.
Situasi ‘araftu ‘saya mengetahui’, khasira ‘merugi’, dan radhiya ‘rida’ mengisyaratkan makna yang tetap (homogen) dan tidak mengikutsertakan gerakan.
Sebaliknya, situasi pada data berikut menyatakan kedinamisan, yaitu situasi yang menunjukkan adanya proses yang aktif bukan statif. Perhatikan data berikut:
(34)
ِْمُى
ْ ن وُلُك يَ ْ
َِو ِ
ْ ن وُـب ر ش ي .ِِمــَعْطَمْلاِ ِف ِ
Hum ya’kulu>na (i/m/pl) wa yasyrabu>na (i/m/pl) fi> al-math’ami./ mereka makan- mereka dan minum-mereka di itu-rumah makan
(DFA:30)
‘Mereka (sedang) makan dan minum di rumah makan.’
(35)
. ْ ن وُدُبـ ع ـت ْ اَم ِ ُْدُبـ ع أ ْ َِلا
/La> a’budu (i/t) ma> ta’budu>na (i/m/pl)./ (QS109:2) tidak aku-menyembah apa kamu-menyembah sekalian ‘Aku tidak menyembah apa yang kamu sekalian sembah.’
(36)
ِِ)ةـيلآا(ِ....ِ ِلَْـُِ رلاَوِِمِّلِلُِلاـَفْـنَلْْاِِلُقِ ِلاـَفْـنَلْْاِِنََ ِ ْ ك ن وُل ـئ س ي
/Yasalu>naka (i/m/p) ‘ani al-anfa>li, quli
menanyakan-mereka-kamu tentang itu-harta rampasan, katakanlah al-anfa>lu lilla>hi wa ar-rasu>li …../ (QS8:1)
itu-harta rampasan milik itu-Allah dan itu-Rasul …..
‘Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang harta rampasan; Katakanlah
‚Harta rampasan itu milik Allah dan Rasul-Nya …..‛ ’
Verba ya’kulu>na ‘mereka (sedang) makan’ pada (34), ta’budu>na ‘kamu sekalian sembah’
pada (35), dan yas’alu>naka ‘mereka menanyakan kepadamu’ pada (36) semuanya adalah verba imperfek (mudha>ri’) yang mengisyaratkan adanya proses yang sedang berlangsung sebagai situasi yang dinamis nonstatif. Kedinamisan dari situasi ya’kulu>na ‘mereka (sedang) makan’, ta’budu>na
‘kamu sekalian sembah’, dan yas’alu>naka ‘mereka menanyakan kepadamu’ bersifat heterogen, yaitu ada fase awal, tengah, dan akhir dari situasi itu, serta peristiwanya melibatkan gerakan (nonstatif).
Simpulan
Kala dan aspek merupakan gejala bahasa yang sifatnya umum ditemukan dalam bahasa- bahasa alami termasuk dalam bahasa Arab. Secara formal kala dan aspek dalam bahasa Arab dinyatakan dengan menggunakan verba perfek (ma>dhï) dan verba imperfek (mudha>ri’).Verba perfek (ma>dhi) digunakan untuk menyatakan kala lampau dan aspek perfektif, sedangkan verba imperfek (mudha>ri’) digunakan untuk menyatakan kala kini atau mendatang dan aspek imperfektif. Verba perfek (ma>dhi) memiliki makna lampau secara inhern dan stabil, sedangkan verba imperfek (mudha>ri’) tidak memiliki makna kala yang stabil tetapi tergantung pada unsur yang ditambahkannya, seperti adverbia temporal (keterangan waktu), verba bantu ka>na, atau konteks kalimat. Pemahaman terhadap kala dan aspek dalam bahasa Arab penting dilakukan untuk pembelajaran ilmu bahasa (linguistik), di samping untuk penerjemahan. Penerjemahan yang benar dan akurat akan dicapai dengan baik manakala penguasaan gramatika bahasa sumber (Arab) yang antara lain adalah pemahaman terhadap konsep kala dan aspek dimiliki dengan baik pula. Mudah- mudahan makalah singkat ini bermanfaat. Di bawah ini dibagankan bagaimana kala dan aspek dinyatakan dalam bahasa Arab.[]
Daftar Rujukan
Abboud, Peter F. 1975. Elementary Modern Standard Arabic (volume 1 & 2). Ann Arbor Michigan: University of Michigan.
Alquran dan Terjemahnya (1977). Proyek Pengadaan Kitab Suci Alquran Departemen Agama RI.
Jakarta: Bumi Restu
Bache, Carl. 1985. Verbal Aspect: A General Theory and Its Application to Present Day English.
Odense University Press.
Bache, Carl. 1994. Tense, Aspect, and Action. Berlin: Mouton.
Bache, Carl. 1997. The Study of Aspect, Tense, and Action: Towards a Theory of the Semantics of Grammatical Categories. Wien: Peter Lang.
Badri, Kamal Ibrahim. 1984. az-Zaman fi an-Naḥwi al-‘Araby. Riyadh: Dar Umayyah li ‘n-Nasyr wa ‘t-Tawzi’>.
Cantarino, Vicente. 1974. Syntax of Modern Arabic Prose. Bloomington: Indiana University Press.
Comrie, Bernard. 1976. Aspect. Cambridge: Cambridge University Press.
Comrie, Bernard. 1985. Tense. Cambridge: Cambridge University Press.
Dahdah, Antoine El-. 1991. Mu’jam Tashri>f al-af’a>li al-‘Arabiyyah. Libanon: Maktabah Lubnan.
Dahdah, Antoine El-. 1992. Mu’jam Qawa>’idi al-Lughah al-‘Arabiyyah al-‘A<lamiyyah (= A Dictionary of Universal Arabic Grammar: Arabic-English). Beirut: Librairie du Liban.
El Hasan, Sahir. 1987. Aspectual Distinction in English and Written Arabic. IRAL XXV, 2, 131- 138.
Al-Gulayaini, Mushthofa. 1984. Ja>mi’ ad-Duru>s al-Lughah al-‘Arabiyyah. Beirut-Shaida: al- Maktabah al-‘Ashriyyah.
Haywood, J.A. dan Nahmad.1962. A New Arabic Grammar. London: Lund-Humphries.
Holes, Clive. 1995. Modern Arabic: Structures, Functions, and Varieties. London: Longman Linguistics Library.
Kidd, Flora. 1977. La> Taqu>li> La>. Harlequin Cyprus.
Lyons, John.1968. Introduction to Theretical Linguistics. Cambridge University Press.
Lyons, John. 1977. Semantics I & II. Cambridge: Cambridge University Press.
Smith, C. 1991. The Parameter of Aspect. Dordrecht: Kluwer.
Tadjuddin, Moh.1993. Pengungkapan Makna Aspektualitas Bahasa Rusia dalam Bahasa Indonesia:Suatu Telaah tentang Aspek dan Aksionalitas. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah.
Tadjuddin, Moh. 2002. ‚Konjungsi Subordinatif Aspektualitas dan Temporalitas dalam Bahasa Indonesia‛ dalam Jurnal Masyarakat Linguistik Indonesia nomor 1 tahun 20, 2002. Yayasan Obor Indonesia
Versteegh, Kees. 1997. The Arabic Language. Edinburgh: Edinburgh University Press.
Yaqut, Sulaiman. 1994. An-Nahwu at-Ta’li>miy wa at-Tathbi>qiy fï> Alquran al-Karim. Kairo: Da>rul Ma’rifah al-Ja>mi’ah.