ANALISIS SISTEM PEMERINTAHAN KONSTITUSIONAL INGGRIS
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memenuhi Tugas MK Perbandingan Hukum Tata Negara kelas D
Oleh :
Team 3 – Negara Inggris
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS SAM RATULANGI
FAKULTAS HUKUM MANADO
2024
ii
DAFTAR ANGGOTA TEAM 3
GRANDO CHRISTOFFEL KARALO 210711010645
CHRISTENNIA KANTALE 210711010639
ELSHADDAY SUBAN 210711010641
FRINSI AVERINA BAHIHI 210711010642
GEMPITA MAMAHIT 210711010643
GENELIA WAGHE 210711010644
JESSICA FEBIYOLA SONDAKH 210711010646 STINALDO ELREY MICAEL 210711010651 WILLIAM CALVIN KALENGKE 210711010653
DAVID JULIO LALURAA 210711010655
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia- Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”Analisis Sistem Pemerintahan Konstitusional Inggris” ini dengan baik. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas dalam mata kuliah Perbandingan Hukum Tata Negara pada Program Studi Ilmu Hukum – S1, Fakultas Hukum, Universitas Sam Ratulangi.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang sistem pemerintahan konstitusional Inggris, mengulas sejarah dan evolusinya, serta menganalisis perbandingannya dengan sistem pemerintahan di negara lain. Penulis berharap makalah ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan baru bagi para pembaca.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan di masa mendatang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah khazanah ilmu pengetahuan.
Manado, 06 November 2024
Team 3 – Inggris
iv DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...i
DAFTAR ANGGOTA ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 3
1.3. Tujuan Penulisan ... 3
BAB II ... 4
PEMBAHASAN ... 4
2.1. Struktur dan fungsi utama dari Parlemen Inggris dalam sistem ketatanegaraan Inggris ... 4
2.2. Proses legislasi di Inggris dan peran kedua kamar Parlemen (House of Commons dan House of Lords) ... 15
BAB III ... 26
PENUTUP ... 26
3.1. Kesimpulan ... 26
3.2. Saran ... 27
DAFTAR PUSTAKA ... 28
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Sistem pemerintahan Inggris, yang dikenal dengan sistem pemerintahan konstitusional atau monarki konstitusional, memiliki sejarah panjang dan kompleks yang telah mengalami berbagai perubahan signifikan dari waktu ke waktu. Sistem ini bukan hanya mencerminkan evolusi politik Inggris, tetapi juga memainkan peran penting dalam membentuk demokrasi modern di seluruh dunia.
Pemahaman tentang sistem pemerintahan Inggris menjadi sangat penting untuk menilai bagaimana prinsip-prinsip demokrasi, hukum, dan hak asasi manusia diimplementasikan dalam praktik pemerintahan.
Pada dasarnya, monarki konstitusional di Inggris menggabungkan kekuasaan kerajaan yang turun-temurun dengan sistem pemerintahan parlementer. Dalam sistem ini, Raja atau Ratu bertindak sebagai kepala negara simbolis, sementara kekuasaan eksekutif nyata berada di tangan Perdana Menteri dan kabinetnya.
Parlemen Inggris, yang terdiri dari House of Commons dan House of Lords, memiliki peran kunci dalam proses legislasi dan pengawasan terhadap kebijakan pemerintah.
Salah satu elemen unik dari sistem pemerintahan Inggris adalah tidak adanya konstitusi tertulis yang tunggal. Sebaliknya, konstitusi Inggris terdiri dari berbagai sumber, termasuk undang-undang, kebiasaan, konvensi, dan keputusan yudisial.
2
Hal ini memberikan fleksibilitas tetapi juga menimbulkan tantangan dalam hal penafsiran dan pelaksanaan hukum.
Evolusi sistem pemerintahan konstitusional Inggris dapat ditelusuri kembali ke beberapa peristiwa penting dalam sejarah, seperti Magna Carta (1215), yang membatasi kekuasaan raja dan memberikan hak-hak dasar kepada warga; Glorious Revolution (1688), yang memperkuat supremasi parlemen atas monarki; dan Reform Act (1832), yang memperluas hak pilih dan memperbaiki representasi parlementer.
Di era modern, Inggris menghadapi berbagai tantangan dalam mempertahankan sistem pemerintahan konstitusionalnya. Perdebatan mengenai reformasi House of Lords, hubungan dengan Uni Eropa sebelum dan setelah Brexit, serta isu-isu devolution yang memberikan kekuasaan lebih besar kepada Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara, semua merupakan bagian dari dinamika politik yang mempengaruhi sistem pemerintahan Inggris.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem pemerintahan konstitusional Inggris, menilai bagaimana prinsip-prinsip konstitusional diimplementasikan dalam praktik pemerintahan sehari-hari, dan mengeksplorasi tantangan serta perubahan yang sedang terjadi. Dengan memahami lebih dalam tentang sistem pemerintahan ini, diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih komprehensif tentang bagaimana demokrasi dan pemerintahan berjalan dalam konteks sejarah dan kontemporer Inggris.
3 1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka dapat ditarik permasalahan yang akan menjadi batasan pembahasan dari penelitian ini. Adapun rumusan masalah yang dapat dirumuskan pada penelitian ini yaitu:
1. Bagaimana struktur dan fungsi utama dari Parlemen Inggris dalam sistem ketatanegaraan ?
2. Bagaimana proses legislasi di Inggris dan apa peran kedua kamar Parlemen (House of Commons dam House of Lords) ?
1.3. Tujuan Penulisan
Melalui penelitian ini dapat dikemukakan tujuan sebagai berikut :
1. Memahami struktur dan fungsi utama dari Parlemen Inggris dalam sistem ketatanegaraan.
2. Mengetahui proses legislasi di Inggris dan apa peran kedua kamar Parlemen (House of Commons dam House of Lords).
4 BAB II PEMBAHASAN
2.1. Struktur dan fungsi utama dari Parlemen Inggris dalam sistem ketatanegaraan
Parlemen Inggris memiliki struktur dan fungsi yang sangat penting dalam sistem ketatanegaraan Inggris, yang merupakan monarki konstitusional dengan sistem parlementer. Berikut adalah penjelasan mengenai struktur dan fungsi utama Parlemen Inggris:
1. Struktur Parlemen Inggris
Parlemen Inggris terdiri dari tiga elemen utama:
a. Ratu (Monarki)
Meskipun peran Ratu bersifat simbolis dan lebih terbatas pada fungsi seremonial, dia tetap merupakan bagian dari Parlemen. Ratu membuka dan menutup sesi Parlemen serta memberikan persetujuan kepada undang-undang yang disahkan oleh parlemen sebelum menjadi hukum.
b. House of Commons
House of Commons adalah bagian parlemen yang terdiri dari anggota yang dipilih langsung oleh rakyat dalam pemilu. Anggota House of Commons dikenal sebagai "MP" (Member of Parliament).
House of Commons memiliki kekuatan utama dalam hal pembuatan
5
undang-undang dan kontrol terhadap kebijakan pemerintah.
Pemerintah Inggris biasanya dipimpin oleh Partai yang memiliki mayoritas di House of Commons.
c. House of Lords
House of Lords terdiri dari anggota yang tidak dipilih langsung oleh rakyat. Anggota House of Lords mencakup bangsawan, uskup gereja, dan anggota yang diangkat berdasarkan pengalaman atau keahlian tertentu. Meskipun House of Lords tidak memiliki kekuasaan legislatif yang sama seperti House of Commons, mereka berfungsi sebagai lembaga yang memberikan tinjauan, kajian, dan revisi terhadap rancangan undang-undang yang diajukan oleh House of Commons.
2. Fungsi Utama Parlemen Inggris a. Membuat Undang-Undang
Salah satu fungsi utama Parlemen adalah merancang, mengubah, atau membatalkan undang-undang. Rancangan undang-undang (bill) bisa diajukan oleh pemerintah atau oleh anggota parlemen secara pribadi, dan akan dibahas di kedua House of Commons dan House of Lords sebelum diterima menjadi undang-undang oleh Ratu.
b. Mengawasi Pemerintah (Fungsi Pengawasan)
Parlemen memiliki fungsi pengawasan terhadap tindakan dan kebijakan pemerintah. Anggota parlemen berhak untuk mengajukan pertanyaan kepada pemerintah dan mendebatkan kebijakan atau
6
program pemerintah. Pemerintah bertanggung jawab kepada Parlemen dan harus menjelaskan kebijakannya secara terbuka.
c. Mengesahkan Anggaran Negara (Fungsi Keuangan)
Parlemen memiliki wewenang untuk mengesahkan anggaran dan pengeluaran negara. Pemerintah hanya dapat mengeluarkan uang jika disetujui oleh Parlemen, yang memberikan kontrol penting terhadap keuangan negara.
d. Menangani Isu-isu Sosial dan Politik
Parlemen adalah tempat bagi debat tentang isu-isu penting yang mempengaruhi masyarakat, mulai dari kebijakan luar negeri hingga isu-isu sosial seperti pendidikan, kesehatan, dan keadilan. Debat di Parlemen membantu menciptakan opini publik dan keputusan politik.
e. Mempertahankan Keseimbangan Kekuasaan
Parlemen juga berfungsi sebagai penyeimbang kekuasaan, memastikan bahwa tidak ada lembaga yang memiliki kekuasaan mutlak. Ini adalah ciri khas dari sistem parlementer di mana eksekutif (pemerintah) dan legislatif (Parlemen) saling mengawasi dan mempengaruhi.
Secara keseluruhan, Parlemen Inggris berfungsi sebagai pusat pembuatan kebijakan, pengawasan pemerintah, dan penjaga prinsip- prinsip demokrasi dalam negara.
7
3. Hubungan antara Eksekutif dan Legislatif
Dalam sistem parlementer Inggris, hubungan antara eksekutif (pemerintah) dan legislatif (Parlemen) sangat erat. Pemerintah dipimpin oleh Perdana Menteri yang biasanya berasal dari partai yang memenangkan mayoritas kursi di House of Commons. Pemerintah bertanggung jawab kepada Parlemen, dan Parlemen memiliki kemampuan untuk mengontrol kebijakan pemerintah melalui pertanyaan, debat, dan pemungutan suara.
Secara keseluruhan, Parlemen Inggris memainkan peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan kekuasaan, menjamin hak-hak individu, dan memastikan bahwa pemerintah bertindak sesuai dengan kepentingan rakyat.
Peran Perdana Menteri dalam Pemerintahan Inggris dan proses pemilihannya
Perdana Menteri Inggris memiliki peran penting dalam pemerintahan, diantaranya:
1. Sebagai kepala pemerintahan, Perdana Menteri Inggris memimpin kabinet dan bertanggung jawab atas kebijakan dan keputusan pemerintah;
2. Perdana Menteri Inggris juga berperan sebagai figur utama di House of Commons (Dewan Perwakilan Rakyat). Disini, ia menyampaikan
8
kebijakan pemerintah, merespon pertanyaan anggota parlemen, dan memimpin debat-debat penting;
3. Perdana Menteri Inggris juga mengawasi operasi Layanan Sipil dan berbagai agensi pemerintah;
4. Perdana Menteri Inggris juga memiliki wewenang untuk memilih anggota pemerintah, termasuk menteri – menteri yang akan memimpin berbagai departemen pemerintah.
Sementara itu, proses pemilihan Perdana Menteri Inggris tidak dilakukan secara langsung oleh warga negara. Setelah pemilihan umum, Raja akan menunjuk pemimpin partai dengan kursi terbanyak di DPR sebagai Perdana Menteri.
Jika Perdana Menteri Inggris mengundurkan diri, partai yang berkuasa akan memilih Perdana Menteri melalui kontes kepemimpinan.
Peran dan kekuasaan Monarki dalam sistem pemerintahan Inggris
Monarki di Inggris berperan sebagai simbol negara dan kepala negara dalam sistem pemerintahan konstitusional. Raja atau ratu, saat ini Charles III, tidak memegang kekuasaan eksekutif, melainkan menjalankan fungsi seremonial dan perwakilan. Monarki memiliki peran dalam melantik perdana menteri dan membubarkan parlemen, tetapi kekuasaan politik nyata dipegang oleh pemerintah dan parlemen. Sistem ini menekankan pembagian kekuasaan antara eksekutif, legislatif, dan monarki, menjadikan Inggris sebagai contoh utama monarki konstitusional.
9
Di Inggris, monarki memiliki peran konstitusional dan simbolis dalam sistem pemerintahannya, yang disebut “monarki konstitusional.” Dalam sistem ini, Ratu atau Raja Inggris berfungsi sebagai kepala negara, tetapi kekuasaan politik sebenarnya dijalankan oleh Parlemen dan Perdana Menteri sebagai kepala pemerintahan.
Berikut adalah peran utama monarki dalam sistem pemerintahan Inggris:
1. Simbol Persatuan Nasional
Raja atau Ratu menjadi simbol persatuan dan identitas nasional bagi rakyat Inggris. Ia juga berperan sebagai pemersatu dalam acara-acara nasional dan perayaan, seperti pernikahan kerajaan atau hari-hari peringatan.
2. Tugas Seremoni dan Simbolis
Monarki Inggris memiliki banyak tugas seremoni, seperti membuka sesi Parlemen, menandatangani undang-undang (walaupun hanya simbolis, karena undang-undang tersebut sudah disahkan oleh Parlemen), dan menjadi tuan rumah untuk acara-acara resmi negara.
3. Pemberian Persetujuan Kerajaan (Royal Assent)
Secara teknis, semua undang-undang yang disahkan oleh Parlemen harus menerima persetujuan Raja atau Ratu sebelum resmi berlaku. Meskipun persetujuan ini lebih bersifat simbolis, karena persetujuan kerajaan jarang sekali ditolak.
4. Penyelenggaraan Pemerintahan dengan Nasihat Perdana Menteri
10
Raja atau Ratu menunjuk Perdana Menteri, meskipun pada umumnya pemimpin partai dengan kursi terbanyak di Parlemen yang akan ditunjuk.
Monarki juga dapat berkonsultasi dan memberikan masukan kepada Perdana Menteri dalam pertemuan rutin mingguan, namun tanpa kekuasaan untuk campur tangan dalam keputusan kebijakan.
5. Duta Diplomatik
Raja atau Ratu menjadi figur yang menyambut kepala negara atau perwakilan asing, dan juga melakukan kunjungan kenegaraan untuk mewakili Inggris di dunia internasional, berperan penting dalam diplomasi budaya dan hubungan bilateral.
Perbedaan utama antara sistem pemerintahan Inggris dan sistem pemerintahan Indonesia
Perbedaan utama antara sistem pemerintahan Inggris dan Indonesia terletak pada bentuk negara, struktur pemerintahan, serta peran lembaga-lembaga negara.
Berikut adalah beberapa perbedaan utama:
1. Bentuk Negara
a. Inggris: Monarki konstitusional dengan sistem parlementer. Ini berarti Inggris memiliki seorang raja atau ratu sebagai kepala negara, namun peran monarki terbatas pada simbolik, dan kekuasaan eksekutif dipegang oleh Perdana Menteri dan kabinet.
11
b. Indonesia: Negara kesatuan republik dengan sistem pemerintahan presidensial. Indonesia tidak memiliki raja atau monarki, melainkan Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan yang dipilih langsung oleh rakyat.
2. Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan
a. Inggris: Kepala negara adalah raja/ratu (monarki), sementara kepala pemerintahan adalah Perdana Menteri, yang memimpin eksekutif dan dipilih dari anggota parlemen.
b. Indonesia: Presiden adalah kepala negara sekaligus kepala pemerintahan, yang dipilih langsung oleh rakyat untuk masa jabatan 5 tahun.
3. Sistem Pemerintahan
a. Inggris: Menganut sistem parlementer, di mana eksekutif (Perdana Menteri) berasal dari legislatif (Parlemen) dan bertanggung jawab kepada parlemen.
b. Indonesia: Menganut sistem presidensial, di mana Presiden tidak terikat langsung dengan parlemen dan bertanggung jawab kepada rakyat, bukan kepada legislatif.
4. Parlemen
a. Inggris: Parlemen Inggris terdiri dari dua kamar, yaitu House of Commons (dewan rakyat) dan House of Lords (dewan bangsawan). Anggota House of Commons dipilih rakyat, sementara House of Lords beranggotakan bangsawan dan anggota yang diangkat.
12
b. Indonesia: Parlemen Indonesia terdiri dari dua lembaga, yaitu DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) yang anggota-anggotanya dipilih langsung oleh rakyat, dan DPD (Dewan Perwakilan Daerah) yang berfungsi mewakili daerah-daerah di Indonesia.
5. Pemisahan Kekuasaan
a. Inggris: Kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif tidak sepenuhnya terpisah. Pemerintah (eksekutif) berasal dari legislatif dan sering kali mempengaruhi keputusan-keputusan legislatif.
b. Indonesia: Pemisahan kekuasaan lebih tegas, di mana lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif berfungsi secara terpisah, meskipun dalam praktiknya terdapat interaksi di antara ketiganya.
Mekanisme checks and balances diterapkan dalam sistem ketatanegaraan Inggris
Mekanisme checks and balances dalam sistem ketatanegaraan Inggris diterapkan melalui pembagian kekuasaan di antara tiga lembaga utama:
Parliament (parlemen), Government (pemerintah), dan Judiciary (peradilan).
Meski tidak ada konstitusi tertulis seperti di banyak negara lain, Inggris memiliki prinsip-prinsip ketatanegaraan yang berkembang dari tradisi dan preseden hukum yang kuat, yang tetap memungkinkan adanya pengawasan antar lembaga negara.
Berikut adalah beberapa cara penerapan checks and balances di Inggris:
1. Peran Parlemen
13
Parlemen Inggris terdiri dari House of Commons dan House of Lords.
Parlemen berfungsi untuk mengawasi eksekutif (pemerintah) melalui proses seperti debat, pertanyaan kepada perdana menteri (Prime Minister's Questions), dan komite khusus yang melakukan pengawasan terhadap kebijakan pemerintah.
Parlemen juga memiliki wewenang untuk menyetujui anggaran dan undang- undang yang diusulkan oleh pemerintah, sehingga memberi kendali terhadap tindakan eksekutif.
2. Kontrol Eksekutif atas Parlemen
Meskipun perdana menteri dan kabinetnya merupakan bagian dari eksekutif, mereka tetap harus mendapatkan dukungan dari mayoritas di House of Commons untuk bisa menjalankan kebijakan mereka. Jika pemerintah kehilangan dukungan ini, parlemen dapat mengadakan mosi tidak percaya yang bisa memaksa pemerintah untuk mundur atau mengadakan pemilihan umum baru.
3. Kemandirian Peradilan
Inggris memiliki peradilan yang independen dari eksekutif dan legislatif.
Supreme Court (Mahkamah Agung) Inggris berfungsi sebagai pengadilan tertinggi yang dapat meninjau dan memutuskan konstitusionalitas dari tindakan pemerintah dan undang-undang yang dibuat oleh parlemen. Meski Inggris tidak memiliki konstitusi tertulis, Supreme Court bisa menafsirkan hukum dengan menggunakan berbagai undang-undang dasar dan prinsip-prinsip yang ada untuk memastikan hak asasi manusia dan keadilan ditegakkan.
14 4. Monarki sebagai Kepala Negara
Raja atau Ratu Inggris memiliki peran seremonial dan simbolis, yang memisahkan otoritas negara dari kekuasaan yang sebenarnya dijalankan oleh eksekutif. Meski perannya terbatas, monarki tetap memainkan peran dalam simbol checks and balances, karena perdana menteri harus secara resmi meminta izin dari monarki untuk melakukan beberapa tindakan tertentu.
5. Penerapan Hukum Adat dan Konvensi
Sistem ketatanegaraan Inggris juga didasarkan pada hukum adat (common law) dan konvensi, yang menjadi prinsip informal namun diakui secara luas.
Contohnya adalah konvensi bahwa anggota kabinet harus bertanggung jawab atas tindakan mereka kepada parlemen.
Secara keseluruhan, sistem checks and balances di Inggris beroperasi melalui mekanisme kontrol dan pengawasan antara parlemen, pemerintah, dan peradilan.
Meskipun tanpa konstitusi tertulis, prinsip-prinsip tersebut sudah menjadi bagian dari tradisi yang mengakar kuat dalam sistem ketatanegaraan Inggris.
15
2.2. Proses legislasi di Inggris dan peran kedua kamar Parlemen (House of Commons dan House of Lords)
Proses legislasi di Inggris melibatkan kedua kamar Parlemen, yaitu House of Commons dan House of Lords, dalam sebuah sistem bikameral.
Berikut adalah penjelasan mengenai proses legislasi dan peran masing-masing kamar:
1. Proses Legislasi
a. Pengenalan Rancangan Undang-Undang (RUU)
• RUU dapat diajukan oleh pemerintah atau anggota parlemen individual.
• Sebagian besar RUU dimulai di House of Commons.
b. Pembacaan Pertama
• RUU diperkenalkan secara formal ke parlemen.
c. Pembacaan Kedua
• Debat umum tentang prinsip-prinsip utama RUU.
d. Tahap Komite
• RUU diperiksa secara rinci dan amandemen dapat diajukan.
e. Tahap Laporan
• Hasil dari tahap komite dilaporkan ke seluruh kamar.
f. Pembacaan Ketiga
• Debat final dan pemungutan suara untuk menyetujui atau menolak RUU.
g. Pertimbangan di Kamar Lain
16
• RUU yang disetujui di satu kamar dikirim ke kamar lainnya untuk melalui proses serupa.
h. Persetujuan Kerajaan
• Setelah disetujui oleh kedua kamar, RUU memerlukan persetujuan formal dari Raja/Ratu untuk menjadi undang-undang.
2. Peran House of Commons
House of Commons, atau disebut juga Majelis Rendah, memiliki peran dominan dalam proses legislasi:
a. Anggotanya dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum.
b. Memiliki kekuasaan yang lebih besar daripada House of Lords.
c. Dapat meminta Perdana Menteri untuk mengundurkan diri atau mengadakan pemilihan umum.
d. Dapat mengeluarkan mosi tidak percaya terhadap Perdana Menter.
e. Memiliki kekuasaan lebih besar dalam hal keuangan dan anggaran.
3. Peran House of Lords
House of Lords, atau Majelis Tinggi, memiliki peran sebagai kamar revisi dan pengawasan:
a. Anggotanya sebagian besar ditunjuk, bukan dipilih.
b. Berperan sebagai perwakilan yang berisi para bangsawan berdasarkan warisan.
17
c. Dapat mengajukan amandemen dan menunda legislasi (kecuali untuk RUU keuangan).
d. Tidak mengendalikan masa jabatan Perdana Menteri atau memegang kendali pemerintahan.
e. Memiliki keahlian khusus dalam berbagai bidang yang dapat memberikan pandangan ahli dalam proses legislasi.
Kedua kamar bekerja sama dalam proses legislasi, dengan House of Commons memiliki kekuatan lebih besar dalam pengambilan keputusan akhir. Sistem ini menciptakan proses legislasi yang komprehensif dan seimbang di Inggris, dengan House of Commons mewakili suara rakyat dan House of Lords memberikan pertimbangan tambahan berdasarkan keahlian dan pengalaman.
Dampak dari sistem dwipartai terhadap stabilitas politik di Inggris
Sistem dwipartai di Inggris, yang didominasi oleh dua partai besar—Partai Konservatif dan Partai Buruh—memiliki dampak yang signifikan terhadap stabilitas politik di negara tersebut. Beberapa dampaknya antara lain:
1. Stabilitas Pemerintahan
Sistem dwipartai cenderung menghasilkan pemerintahan yang stabil karena salah satu dari dua partai besar ini biasanya mampu memenangkan mayoritas di Parlemen. Ini memungkinkan pembentukan pemerintahan yang kuat, dengan kekuasaan legislatif yang lebih terpusat. Dengan adanya
18
mayoritas yang jelas, pemerintahan lebih mudah untuk membuat keputusan dan menjalankan kebijakan tanpa gangguan dari koalisi yang rumit.
2. Polarisasi Politik
Meskipun sistem ini dapat menciptakan stabilitas dalam arti pemerintahan yang lebih efisien, ia juga dapat memperburuk polarisasi politik.
Ketika hanya ada dua partai besar yang bersaing, pandangan politik sering kali terbelah tajam, dan kompromi antar pihak bisa lebih sulit dicapai. Hal ini sering menciptakan situasi di mana diskusi dan dialog antara pihak-pihak yang berbeda menjadi terbatas.
3. Dominasi Partai Besar
Partai kecil atau independen cenderung kesulitan untuk mendapatkan representasi yang signifikan dalam sistem dwipartai. Hal ini dapat menyebabkan kurangnya keberagaman pandangan politik dalam pemerintahan, serta mengurangi ruang bagi alternatif ideologi atau kebijakan.
Meskipun demikian, dalam beberapa kasus, partai kecil bisa memiliki pengaruh jika mereka menjadi penentu dalam koalisi minoritas.
4. Perubahan Kepemimpinan yang Terstruktur
Sistem dwipartai di Inggris memfasilitasi pergantian kepemimpinan yang relatif terstruktur. Jika satu partai tidak lagi populer atau gagal dalam pemilu, partai lain dapat mengambil alih kekuasaan secara lebih langsung, yang memberi kepastian kepada pemilih dan pasar mengenai arah politik yang jelas.
Namun, ini juga dapat menambah ketegangan dan ketidakpastian politik jika partai yang sedang berkuasa kehilangan legitimasi atau menghadapi krisis.
19 5. Resistensi terhadap Reformasi
Meskipun sistem ini memberikan stabilitas dalam pemerintahan, ada kecenderungan bagi partai-partai besar untuk menahan reformasi yang dapat merubah struktur politik yang ada, termasuk perubahan dalam sistem pemilu atau representasi. Sistem dwipartai bisa bertahan karena kedua partai besar berusaha mempertahankan status quo yang memberi mereka keuntungan elektoral.
Secara keseluruhan, meskipun sistem dwipartai di Inggris mendukung stabilitas politik dengan menciptakan pemerintahan yang kuat dan jelas, ia juga dapat menimbulkan ketegangan politik yang lebih tajam, serta membatasi pluralitas politik dan perubahan struktural yang lebih besar.
Sistem hukum Inggris berinteraksi dengan hukum Uni Eropa pasca-Brexit Beberapa hukum Uni Eropa telah diterapkan ke hukum Inggris setelah Brexit, sehingga akan ada kesinambungan di banyak bidang hukum Inggris yang awalnya didasarkan pada hukum Uni Eropa.
Undang-Undang Uni Eropa (Penarikan) 2018 (EUWA) memberikan kerangka konstitusional baru untuk keberlangsungan 'hukum UE yang dipertahankan' ini di Inggris mulai 31 Desember 2020, menggantikan perjanjian UE yang hingga saat itu berlaku di Inggris. Ribuan amandemen terhadap hukum UE yang dipertahankan itu juga mulai berlaku pada saat yang sama, sehingga
20
undang-undang Inggris masih berlaku dalam sistem hukum independen yang terpisah dari UE.
Undang-Undang Hukum Uni Eropa yang Dipertahankan (Pencabutan dan Reformasi) Tahun 2023 telah mengubah kerangka kerja ini mulai tanggal 1 Januari 2024. Secara khusus, undang-undang ini telah menghapus fitur-fitur khusus hukum Uni Eropa yang berlaku untuk penafsiran dan penerapan undang- undang ini, dan mengganti namanya menjadi 'hukum yang diasimilasi'.
Apa yang dipertahankan hukum Uni Eropa?
Hukum Uni Eropa yang dipertahankan pada dasarnya merupakan cuplikan hukum Uni Eropa yang berlaku di Inggris pada tanggal 31 Desember 2020, yang disalin dan ditempelkan ke dalam sistem hukum domestik kami. Bagian 2 hingga 4 EUWA menetapkan tiga kategori hukum Uni Eropa yang dipertahankan:
1. Hukum domestik yang menerapkan atau terkait dengan kewajiban Uni Eropa sebelumnya, seperti Peraturan Waktu Kerja Inggris, yang menerapkan Arahan Waktu Kerja Uni Eropa;
2. Peraturan perundang-undangan Uni Eropa yang berlaku langsung di Inggris tanpa menerapkan peraturan perundang-undangan lain, seperti Peraturan Perlindungan Data Umum Uni Eropa; dan
3. Hak dan prinsip lain dalam hukum Uni Eropa yang memiliki efek langsung di Inggris, seperti hak untuk tidak didiskriminasi berdasarkan kewarganegaraan, yang merupakan hak yang diatur dalam Perjanjian tentang Fungsi Uni Eropa.
21
Secara resmi, ini bisa mencapai 150.000 peraturan perundang-undangan Uni Eropa, meskipun diperkirakan hanya beberapa ribu di antaranya yang memiliki dampak praktis di Inggris. Sejak 2022, pemerintah Inggris telah menerbitkan dan memperbarui Dasbor Hukum Uni Eropa yang Dipertahankan yang mencantumkan status lebih dari 4.000 instrumen perundang-undangan yang telah diidentifikasi.
Ini mencakup sebagian besar aspek hukum Inggris yang sebelumnya berasal atau dipengaruhi oleh undang-undang UE, termasuk regulasi lingkungan, perlindungan data, hukum ketenagakerjaan, kekayaan intelektual, layanan keuangan, keamanan pangan, regulasi obat-obatan, dan hukum persaingan.
Tantangan utama yang dihadapi oleh sistem ketatanegaraan Inggris dalam era modern
Tantangan utama yang dihadapi sistem ketatanegaraan Inggris di era modern antara lain:
1. Ketegangan antara Monarki dan Demokrasi
Monarki Inggris masih memegang peran simbolik, namun ada perdebatan tentang relevansi dan peranannya dalam masyarakat modern, terutama terkait dengan pengeluaran publik untuk mendukung keluarga kerajaan serta peranannya dalam politik dan diplomasi.
2. Isu Brexit
Proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) telah memunculkan tantangan dalam hal kebijakan luar negeri, ekonomi, serta hubungan antara
22
pemerintah pusat dan wilayah-wilayah seperti Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara, yang sebagian besar lebih mendukung keanggotaan dalam Uni Eropa.
3. Devolusi Kekuasaan
Setelah penerapan devolusi, negara bagian seperti Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara memiliki parlemen sendiri dengan wewenang terbatas.
Ketegangan antara keinginan untuk lebih banyak otonomi (terutama di Skotlandia) dan kebutuhan untuk menjaga integritas Inggris sebagai negara kesatuan terus menjadi tantangan.
4. Tantangan terhadap Sistem Parlementer
Sistem parlementer Inggris, di mana perdana menteri berasal dari partai mayoritas di parlemen, menghadapi tekanan terkait stabilitas pemerintahan, terutama dalam menghadapi ketidakpastian politik seperti koalisi yang rapuh, perubahan kepemimpinan yang sering, serta meningkatnya polarisasi politik.
5. Isu Keadilan Sosial dan Ekonomi
Ketimpangan sosial dan ekonomi yang semakin lebar, terutama setelah krisis ekonomi global 2008 dan dampak dari kebijakan austerity, menimbulkan ketegangan dalam masyarakat. Selain itu, masalah seperti kemiskinan, ketidaksetaraan gender, dan perubahan iklim menjadi tantangan dalam mengadaptasi sistem ketatanegaraan Inggris agar lebih inklusif dan berkelanjutan.
6. Peran dalam Hubungan Internasional
Setelah Brexit, Inggris harus mencari peran baru di kancah internasional.
Ini termasuk menentukan hubungan dengan Uni Eropa, Amerika Serikat, dan
23
negara-negara lainnya, serta mengelola tantangan terkait kebijakan perdagangan, pertahanan, dan diplomasi global.
Ketegangan ini memerlukan penyesuaian dalam sistem ketatanegaraan untuk memastikan bahwa Inggris tetap relevan dan dapat beradaptasi dengan tantangan yang dihadapi dalam era modern.
Pengaruh sejarah dan tradisi terhadap perkembangan sistem ketatanegaraan Inggris saat ini
Sejarah dan tradisi memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan sistem ketatanegaraan Inggris saat ini. Berikut adalah beberapa poin utama yang menjelaskan pengaruh tersebut:
1. Monarki Konstitusional
Inggris memiliki sejarah panjang monarki yang dimulai dari zaman kerajaan. Meskipun monarki kini berfungsi sebagai simbol, peranannya tetap penting dalam sistem ketatanegaraan. Tradisi dan sejarah monarki Inggris membentuk kerangka kerja untuk pemerintahan konstitusional saat ini.
2. Magna Carta
Diterbitkan pada tahun 1215, Magna Carta adalah dokumen penting yang mulai membatasi kekuasaan raja dan menegaskan hak-hak individu. Hal ini menjadi pondasi awal pemikiran tentang hukum dan keadilan, yang mempengaruhi sistem hukum dan ketatanegaraan Inggris hingga saat ini.
3. Parlemen
24
Sejarah perkembangan parlemen Inggris, dari majelis penasihat raja hingga menjadi lembaga legislatif yang independen, mencerminkan evolusi demokrasi di Inggris. Rapat-rapat yang diadakan oleh parlemen menjadi tradisi yang terus berlanjut dan menentukan keberlangsungan kepemimpinan dan pembuatan undang-undang.
4. Revolusi Inggris
Peristiwa seperti Revolusi Inggris pada abad ke-17 yang menghasilkan penggantian monarki absolut dengan pemerintahan yang lebih demokratis menunjukkan pentingnya gerakan rakyat dalam mempengaruhi ketatanegaraan. Ini juga melahirkan prinsip-prinsip seperti pemisahan kekuasaan.
5. Prinsip Hukum Inggris (Common Law)
Sejarah sistem hukum di Inggris, yang berlandaskan pada preseden, memberikan dasar yang kuat untuk sistem hukum modern. Tradisi ini menjamin bahwa hukum berkembang melalui keputusan-keputusan pengadilan yang sebelumnya, sehingga memberikan stabilitas dan konsistensi.
6. Partai Politik
Sejarah partai politik di Inggris, termasuk kebangkitan Partai Buruh dan Partai Konservatif, merupakan bagian dari tradisi demokrasi yang terus berkembang. Sistem multipartai yang dibangun berdasarkan sejarah politik memberikan platform untuk perdebatan dan representasi rakyat.
25 7. Pengaruh Global
Sejarah kolonialisme dan hubungan internasional Inggris juga mempengaruhi sistem ketatanegaraan. Banyak negara yang pernah dijajah Inggris mengadaptasi elemen-elemen dari sistem ketatanegaraan Inggris, sehingga menciptakan jaringan pengaruh yang global.
Secara keseluruhan, sejarah dan tradisi bukan hanya membentuk identitas ketatanegaraan Inggris, tetapi juga memberikan fondasi untuk fleksibilitas dan adaptasi sistem ini terhadap perubahan kebutuhan masyarakat dan tantangan zaman.
26 BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Makalah ini memberikan analisis mendalam mengenai sistem pemerintahan konstitusional Inggris, yang merupakan kombinasi dari monarki simbolis dan sistem parlementer. Beberapa poin penting yang dapat disimpulkan adalah:
1. Struktur Parlemen, Parlemen Inggris terdiri dari dua kamar, yaitu House of Commons dan House of Lords, dengan fungsi utama dalam pembuatan undang-undang, pengawasan terhadap pemerintah, dan pengesahan anggaran negara. Kemudian peran dari Monarki, Monarki di Inggris berfungsi sebagai simbol persatuan dan identitas nasional, dengan kekuasaan politik yang sebenarnya berada di tangan Perdana Menteri dan Parlemen.
2. Hubungan Eksekutif dan Legislatif, dalam sistem parlementer ini, Perdana Menteri sebagai kepala pemerintahan berasal dari partai yang memiliki mayoritas di House of Commons, menunjukkan keterkaitan erat antara eksekutif dan legislatif. Perbandingan dengan Sistem lain, terdapat perbedaan signifikan antara sistem pemerintahan Inggris dan Indonesia, terutama dalam hal bentuk negara dan pemisahan kekuasaan. Inggris menerapkan sistem parlementer, sementara Indonesia menggunakan sistem presidensial. Checks and Balances, meskipun tidak memiliki konstitusi tertulis, Inggris menerapkan
27
mekanisme checks and balances melalui pengawasan antar lembaga negara untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan.’
3.2. Saran
Berdasarkan analisis yang dilakukan dalam makalah ini, beberapa saran yang dapat diberikan adalah:
1. Pendidikan Publik, Masyarakat perlu diberikan pendidikan yang lebih baik mengenai fungsi dan struktur sistem pemerintahan untuk meningkatkan partisipasi politik dan pemahaman tentang hak-hak mereka. Reformasi Parlemen, perlu adanya diskusi lebih lanjut mengenai reformasi House of Lords untuk meningkatkan representativitas dan efektivitasnya dalam proses legislasi.
2. Penguatan mekanisme pengawasan, penguatan mekanisme checks and balances sangat penting untuk memastikan akuntabilitas pemerintah dan perlindungan hak-hak warga negara. Studi lanjutan enelitian lebih lanjut tentang dampak perubahan politik, seperti Brexit, terhadap sistem pemerintahan konstitusional Inggris dapat memberikan wawasan tambahan mengenai dinamika politik kontemporer.
28
DAFTAR PUSTAKA
https://bagpem.banjarmasinkota.go.id/2013/06/sistem-pemerintahan-inggris.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Parlemen_Inggris
https://www.jurnal-adhikari.id/index.php/adhikari/article/download/78/60/117
https://ejournal.uinsuska.ac.id/index.php/eksekusi/article/downloadSuppFile/8223 /1010