Journal homepage: https://melatijournal.com/index.php/JISMA
ANALISIS SKEMA KONSOLIDASI TRANSFER ANTAR PERUSAHAAN PADA ASET TIDAK LANCAR DAN TRANSFER PRICING
Maulana Iqbal Pradana1, Yudha Arya Dwi Kusuma2, Endang Kartini Panggiarti3
1,2,3Fakultas Ekonomi, Universitas Tidar
Email: [email protected]1, [email protected], [email protected]3
Article Info ABSTRACT
Article history:
Received Mar 07, 2023 Revised Mar 18, 2023 Accepted Mar 25, 2023
Penulis melakukan penelitian ini bertujuan untuk menganalisis skema konsolidasi transfer antar perusahaan pada aset tidak lancar dan transfer pricing dari penelitian terdahulu, menggunakan metode studi kepustakaan (library research). Manfaat dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan para pembaca dan pemangku kepentingan (stakeholder) terkait dengan skema konsolidasi transfer antar perusahaan pada aset tidak lancar dan transfer pricing. Dari penelitian ini yaitu kesimpulan subjektif mengenai skema konsolidasi transfer antar perusahaan pada aset tidak lancar dan transfer pricing berdasarkan penelitian terdahulu, menjelaskan bahwa pada implementasi semua pernyataan pada akuntansi keuangan yang berhubungan dengan laporan konsolidasi, diperlukan adanya pernyataan material tentang harta yang dimiliki perusahaan yang bergabung atau asosiasi yang pada transfer antar perusahaan pada aset tidak lancar. Berdasarkan PSAK Nomor 65 menjelaskan bahwa kepemilikan aset dan kewajiban pada setiap perusahaan yang hendak bergabung perlu dicatat secara valid supaya meminimalkan salah saji atau material pada tiap-tiap laporan keuangan.
Kemudian transfer pricing diperlukan sebagai ruang negosiasi yang memberikan wadah dinamika dan relasi timbal balik untuk para otoritas pajak dan wajib pajak. Transfer pricing masih menjadi praktik dan aktivitas umum pada perusahaan multinasional. Secara praktik diperlukan adanya evaluasi dari pihak otoritas perpajakan agar praktik transfer pricing bisa diminimalkan.
Keywords:
Laporan Keuangan Konsolidasi,
Transfer Antar Perusahaan, Aset Tidak Lancar, Transfer Pricing
This is an open access article under the CC BY-SA license.
1. PENDAHULUAN
Perkembangan ekonomi dunia Internasional pada masa sekarang berjalan selaras dengan adanya globalisasi yang ada di berbagai belahan dunia. Perkembangan di sektor ekonomi yang semakin maju menjadikan perusahaan beradaptasi pada arus ekonomi yang sudah ada dan meningkatkan kompetensi persaingan pada bisnis. Perusahaan ketika melakukan pengembangan usaha akan selalu berusaha untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu peningkatan laba. Untuk mencapai tujuan tersebut, perusahaan akan mengukuhkan basis global, perusahaan multinasional umumnya membentuk anak perusahaan, cabang perusahaan, dan perwakilan perusahaan pada berbagai negara yang bertujuan sebagai penunjang strategi perusahaan dan meningkatkan pangsa pasar (market share), produksi ekspor, dan impor produk ke seluruh dunia (Agata et al., 2021). Salah satu upaya yang bisa digunakan perusahaan untuk meningkatkan dan mengembangkan usahanya yaitu melakukan berbagai aktivitas transaksi antar perusahaan, baik berupa transaksi dalam negeri maupun transaksi dari luar negeri.
Journal homepage: https://melatijournal.com/index.php/JISMA Induk perusahaan dan anak perusahaan umumnya sering terlibat dalam seluruh transaksi antar perusahaan (Siti Arifah, 2020). Perusahaan manufaktur biasanya mempunyai anak perusahaan yang berfungsi untuk mendapatkan persediaan bahan dasar dan menghasilkan bagian yang akan menjadi faktor dari produk perusahaan yang berafiliasi. Di banyak perusahaan besar, umumnya aktivitas transfer pada anak perusahaan terjadi pada berbagai transaksi satu sama lain, misalnya pada penjualan bahan baku, produk fabrikasi, dan jasa transportasi. transaksi ini adalah aspek penting pada aktivitas ke semua bagian entitas konsolidasi. Kegiatan transaksi antar perusahaan yang saling berelasi dinamakan dengan transfer antar perusahaan (intercorporate transfers).
Tujuan pokok pada penyusunan laporan keuangan konsolidasi yaitu memberikan laporan informasi yang berkaitan dengan kegiatan dari afiliasi konsolidasi yang menjelaskan bahwa perusahaan berafiliasi tetapi terpisah tersebut masih dalam satu perusahaan bersifat tunggal (Badu et al., 2021). Dengan demikian, perusahaan yang bersifat tunggal tidak diperkenankan untuk memasukkan kegiatan transaksi diinternal perusahaan pada laporan keuangan tersebut, maka pada entitas konsolidasi juga perlu melepaskan semua kontrol pada aktivitas transaksi yang telah terjadi pada entitas konsolidasi dalam laporan keuangannya.
Entitas konsolidasi merupakan agregasi dari kumpulan perusahaan yang berafiliasi dan berbeda (Richard E. Baker, Theodore E. Christensen, David M. Cottrell, Kurnia Irwansyah Rais, Widhi Astono, 2015). Laporan yang dibuat oleh tiap-tiap afiliasi dikonsolidasi menjadi satu laporan keuangan yang memberikan informasi tentang posisi keuangan dan hasil operasi pada semua entitas ekonomi yang menunjukkan bahwa perusahaan bersifat tunggal. Entitas konsolidasi bisanya melibatkan tiap perusahaan yang berelasi pada aktivitas transfer antar perusahaan serta transaksi dengan pihak di luar perusahaan.
Berdasarkan perspektif konsolidasi, secara umum hanya terdapat transaksi dengan pihak di luar aspek ekonomi yang disajikan pada laporan laba rugi. Dengan demikian, entitas konsolidasi merepresentasikan transaksi yang akan disajikan pada hasil dari operasional entitas perusahaan untuk periode akuntansi.
Transfer pada perusahaan yang berafiliasi, menunjukkan kesamaan dengan aktivitas transfer antara bagian operasional pada sebuah perusahaan tunggal dan tidak dilakukan pelaporan pada laporan keuangan konsolidasi.
Seluruh aspek transfer antar perusahaan perlu dieliminasi pada penyusunan laporan keuangan konsolidasi, dengan demikian laporan keuangan tersebut menunjukkan bahwa laporan keuangan pada sebuah perusahaan tunggal. PSAK Nomor 65 tentang laporan keuangan konsolidasian, menjelaskan bahwa saldo pada antar perusahaan, kegiatan pembelian barang dan penjualan barang, serta adanya pengeluaran dan beban, merupakan ilustrasi dari saldo antar perusahaan serta aktivitas transaksi yang perlu dilakukan eliminasi.
Timbulnya transaksi berupa barang ataupun jasa yang ada pada wajib pajak, mempunyai keterkaitan khusus dan menjadi salah satu penyebab penting adanya praktik transfer pricing. Transaksi pada pihak yang mempunyai keterkaitan secara khusus atau istimewa merupakan transaksi yang ada antara para pihak yang disebut mempunyai kaitan yang khusus dan istimewa, jika satu pihak mempunyai kekuatan untuk menguasai pihak lain dan memiliki kontrol yang secara signifikan pada pihak lain ketika pengambilan keputusan terkait aspek keuangan dan aspek operasional. Untuk berbagai jenis transaksi hubungan menggunakan cara pemindahan sumber daya perusahaan dan upaya menghindari pajak dari pihak yang mempunyai hubungan khusus atau transfer pricing (Utami & Irawan, 2022). Kemudian, pada transaksi tersebut juga bisa terjadi pada lingkungan organisasi dan antar bagian organisasi yang mencakup transaksi penjualan berupa barang dan jasa, serta lisensi hak untuk menggunakan dan harta tidak berwujud lain. Transaksi tersebut pada lingkungan perusahaan akan mempersulit dalam menentukan harga yang perlu dilakukan transfer. Dalam melakukan penentuan harga pada seluruh transaksi antar bagian dan divisi ini umumnya disebut transfer pricing (Sulistyawati et al., 2019). Tetapi, transfer pricing sudah diakui sebagai instrumen penting untuk memberi kemudahan perusahaan dalam menjangkau keunggulan yang kompetitif. Dengan demikian transfer pricing menjadikan polemik yang banyak disoroti pada dunia akuntansi dan sektor perpajakan.
Imbasnya perusahaan berulang kali menjalankan skema transfer pricing yang tidak diperbolehkan berdasarkan hukum yang sudah ditetapkan sehingga transfer pricing umumnya banyak melakukan penyimpangan pada beberapa perusahaan sebagai upaya menghindari biaya pajak.
Pajak adalah salah satu aspek yang melandasi keputusan dari adaya aktivitas transfer pricing pada perusahaan. Pengadopsian kebijakan ativitas transfer pricing pada masa kini berkembang sebagai polemik
Journal homepage: https://melatijournal.com/index.php/JISMA
perpajak skala Internasional yang bermakna kebijakan strategi transfer pricing dipakai sebagai instrumen untuk melakukan pengurangan beban dari pajak perusahaan secara menyeluruh khususnya untuk perusahaan dengan karakteristik multinasional atau perusahaan dengan skala global (Mineri & Paramitha, 2021). Untuk negara dengan karakteristik perusahaannya yang masih berkembang umumnya menetapkan beban pajak yang lebih sedikit dan rendah, dibandingkan dengan negara dengan perusahaan yang lebih maju menetapkan beban pajak lebih banyak dan tinggi. Perusahaan umumnya berkeinginan memperoleh laba yang maksimal dan tinggi, namun kurang bersedia apabila melakukan pembayaran pajak perusahaan dengan nilai yang tinggi. Berdasarkan fakta di lapangan tersebut, perusahaan memanfaatkan metode transfer pricing dengan maksud agar dapat melakukan pengurangan kewajiban pajak perusahaan.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Laporan Keuangan Konsolidasian
Laporan keuangan konsolidasian menurut PSAK Nomor 65 yaitu laporan keuangan pada sebuah kelompok usaha yang memuat komponen yaitu ekuitas, aset, beban, penghasilan, liabilitas, dan arus kas dari entitas induk perusahaan serta entitas anak perusahaan yang dibuat dan disajikan sebagai sebuah entitas ekonomi bersifat tunggal. PSAK 65 menganut prinsip pengendalian (control) dan tidak pada kepemilikan (ownership), yaitu konsolidasi dilaksanakan jika ada pengendalian (control), maka pengaruh dalam mengelola kebijakan ekonomi dan operasional pada sebuah perusahaan agar dapat memperoleh benefit dari aktivitas perusahaan tersebut (Budiningsih et al., 2022). Pengendalian tersebut dianggap, apabila dimiliki secara langsung atau tidak langsung, lebih dari 50% hak suara pada sebuah perusahaan. Laporan keuangan konsolidasi merupakan laporan keuangan dari sekelompok entitas yang disajikan sebagai sebuah entitas tunggal. Grup adalah gabungan dari perusahaan induk dan seluruh anak perusahaan. Anak perusahaan merupakan entitas yang dikendalikan oleh perusahaan. Laporan keuangan konsolidasi berguna untuk kepentingan jangka panjang yang berpengaruh pada anak perusahaan pada induk perusahaan. Kemudian laporan keuangan konsolidasi mengandung informasi yang aktual bagi manajemen untuk perusahaan dalam melaporkan kinerja anak perusahaan.
2.2. Transfer Antar Perusahaan
Transfer antar perusahaan (intercorporate transfers) merupakan transaksi antar perusahaan yang berelasi (Richard E. Baker, Theodore E. Christensen, David M. Cottrell, Kurnia Irwansyah Rais, Widhi Astono, 2015). Seluruh aspek transfer antar perusahaan perlu dieliminasi pada penyusunan laporan keuangan konsolidasi, sehingga laporan keuangan ini menjadi laporan keuangan dan sebuah perusahaan tunggal. Tidak terdapat perbedaan pada anak perusahaan yang dikuasai secara penuh dan anak perusahaan yang tidak dikuasai secara penuh terkait dengan kegiatan eliminasi terhadap transfer antar perusahaan.
Konsolidasi lebih terfokus pada konsepsi dari entitas tunggal, tidak pada persentase tingkat kepemilikan dari perusahaan. Apabila konsolidasi memenuhi kriteria, maka perusahaan yang menjadi komponen pada entitas ekonomi kesatuan, dan seluruh transaksi dengan perusahaan luar yang berelasi menjadi aktivitas transfer internal yang perlu dilakukan eliminasi secara penuh, serta tidak tergantung terhadap tingkat persentase kepemilikan dari perusahaan. Pada aspek harga transfer antar perusahaan dilakukan oleh beberapa perusahaan yang mempunyai hubungan khusus. Transaksi ini bisa dilakukan pada suatu negara secara nasional (domestic transfer pricing) dan bisa dilaksanakan pada negara lain (international transfer pricing).
2.3. Aset Tidak Lancar
Menurut PSAK Nomor 16, aset tetap merupakan aset yang berwujud yang dimiliki untuk aktivitas produksi dan penyediaan barang atau jasa, serta untuk disewakan pada pihak luar, dimanfaatkan dengan maksud administrasi, serta ditaksir dapat dipakai sepanjang lebih dari waktu satu periode akuntansi (Ikatan Akuntan Indonesia, 2013). Berdasarkan PSAK Nomor 16, suatu aset tetap yang masuk ke dalam kriteria yang diakui sebagai aset perlu dilakukan pengukuran sebanyak biaya dari perolehan. Pada biaya perolehan dari aset tetap berupa harga dari perolehannya, termasuk dengan pihak impor dan beban pajak pembelian yang tidak bisa dilakukan pengkreditan sesudah dikurangkan dengan diskon serta potongan lainnya. Aset
Journal homepage: https://melatijournal.com/index.php/JISMA tidak lancar adalah sumber daya yang berpotensi bisa menunjang dan bermanfaat pada operasional perusahaan selama kurun waktu yang melebihi periode waktu berjalan. Aset tidak lancar atau umumnya dinamakan dengan aset jangka panjang yaitu bangunan dan tanah, pabrik, peralatan perusahaan, aset tidak berwujud, investasi dan beban tanggungan. Berdasarkan PSAK Nomor 16, agar dapat bisa dikapitalisasi dalam bentuk aset tetap, maka biaya perolehan awal pada aset tetap perlu mengikuti dua syarat kapitalisasi yaitu potensi besar manfaat dan keuntungan ekonomi dari aset akan berguna pada perusahaan pada masa yang akan datang serta biaya perolehannya bisa dilakukan pengukuran dengan andal. Aset tidak lancar biasanya memberikan manfaat secara ekonomi pada perusahaan dengan jangka panjang. Periode waktu perolehan manfaat ini biasanya lebih dari satu tahun. Semua jenis aset yang tidak termasuk pada aset lancar oleh entitas adalah aset tidak lancar.
2.4. Transfer Pricing
Transfer pricing bisa dipakai sebagai instrumen untuk memaksimalkan keuntungan dengan penentuan harga produk dan jasa oleh divisi organisasi lain yang masih dari satu perusahaan (intracompany transfer pricing) (Ningtyas & Mutmainah, 2022). Tetapi, transfer pricing bertransformasi sehingga pada realitasnya bukan hanya melibatkan pada satu perusahaan, namun terdapat kontribusi dari perusahaan multinasional (intercompany transfer pricing). Arm's Lenght Principle (ALP) adalah aspek penting pada pengalokasian keuntungan dari prinsip pajak internasional, hal tersebut menyatakan bahwa pada transaksi dengan pihak berelasi, nilai transaksi perlu setara dengan nilai transaksi dengan pihak yang tidak berelasi, sehingga tidak mengakibatkan terdapat diskriminasi dari harga transfer di antara keduanya (Wahyudi &
Fitriah, 2021). Tetapi pada praktiknya, ditemukan adanya manipulasi transfer pricing yang penetapan harga transformasi menjadi tidak wajar dengan menaikkan dan menurunkan harga dengan tujuan meminimalkan total pajak terutang, hal ini yang menjadikan adanya praktik transfer pricing (Ilmi, Fahimatul; Prastiwi, 2019). Implementasi transfer pricing biasanya digunakan oleh perusahaan multinasional. Berdasarkan perspektif akuntansi pada perusahaan, metode dimanfaatkan untuk mengoptimalkan perolehan laba pada perusahaan dengan penentuan harga jual dan beli, serta transaksi lain terkait entitas lain pada perusahaan yang masih mempunyai hubungan khusus dengan untuk perusahaan. Berdasarkan perspektif perpajakan, transfer pricing digunakan sebagai strategi untuk menetapkan harga barang atau jasa pada aktivitas transaksi yang dilaksanakan oleh para pihak yang mempunyai keterkaitan khusus dan istimewa.
3. METODE PENELITIAN 3.1. Metode Analisis Data Penelitian
Sesuai dengan tujuan penelitian, maka penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dan tinjauan pustaka atau literature review berdasarkan dengan permasalahan tema penelitian tersebut. Literature review ini berdasarkan literature yang tersedia terutama pada artikel yang dipublish oleh jurnal-jurnal ilmiah dengan tujuan untuk memberikan ide dan gagasan penelitian yang akan dilakukan, mengembangkan teori serta gambaran yang mendasari acuan studi penelitian ini. Metode deskriptif kualitatif yaitu jenis penelitian yang berifat deskriptif dan merupakan suatu metode yang digunakan untuk menemukan ilmu pengetahuan mengenai teori terhadap penelitian pada waktu tertentu (Eko Sudarmanto., 2022).
3.2. Jenis dan Sumber Data Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis dan sumber data sekunder yang didapatkan melalui studi kepustakaan dari artikel ilmiah dan jurnal yang berhubungan dengan analisis skema konsolidasi transfer antar perusahaan pada aset tidak lancar dan transfer pricing. Dalam segi teoritis maupun praktis, metode ini dapat digunakan untuk membantu penelitian agar dapat lebih memahami permasalahan yang sedang diteliti dengan baik dan benar, sehingga peneliti dapat memahami bagaimana penelitian tersebut dilaksanakan.
Hasil dari kajian studi kepustakaan tersebut akan dikaji dan dijabarkan dan menghasilkan sebuah gagasan dan pikiran baru mengenai bagaimana hubungan dari penelitian yang dilakukan.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Skema Konsolidasi Antar Perusahaan
Journal homepage: https://melatijournal.com/index.php/JISMA
Konsolidasi perusahaan merupakan penggabungan kegiatan usaha yang terjadi melalui pengalihan aktiva dan pasiva perusahaan yang bergabung dengan cara membentuk sebuah perusahaan yang baru. PSAK No. 65 menjelaskan mengenai laporan konsolidasi, yang mewajibkan melakukan pembuatan laporan keuangan konsolidasi, apabila suatu entitas memenuhi kriteria konsolidasi. Konsolidasi bisa dilakukan dengan cara menggabungkan laporan keuangan pada setiap perusahaan dengan menjumlahkan unsur sejenis pada laporan keuangan setiap perusahaan yang dikonsolidasikan. Suatu perusahaan memerlukan laporan konsolidasi apabila perusahaan tersebut mempunyai kontrol terhadap perusahaan lain. Jika perusahaan tidak memiliki suatu kontrol terhadap perusahaan lain, maka perusahaan hanya membuat laporan keuangan dan tidak perlu menggabungkannya (Siregar, 2017) Dengan begitu suatu perusahaan tidak perlu membuat laporan keuangan konsolidasi apabila masih menjadi anak perusahaan entitas lain.
PSAK Nomor 65 menganut asas pengendalian dan bukan kepemilikan, yaitu konolidasi dilakukan jika terdapat pengendalian maka kemapuan untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasional suatu perusahaan untuk mendapatkan manfaat dari aktivitas perusahaan tersebut. Menurut (Setiawan et al., 2016) Pengendalian akan dianggap apabila memenuhi beberapa syarat yaitu 1) memiliki hak lebih dari 50%
berdasarkan perjanjian dengan investor; 2) memiliki hak dalam mengendalikan berdasarkan perjanjian; 3) dapat mengangkat dan mencabut mayoritas pengelola perusahaan; dan 4) dapat menguasai seluruh mayoritas rapat pengurus. Fokus utama dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasi yaitu terdapat data yang valid mengenai aktiva dan kewajiban dari induk perusahaan dan anak perusahaan baik sebelum dan sesudah adanya penggabungan usaha. Laporan keuangan konsolidasi adalah ringkasan aset, kewajiban, pendapatan, dan beban perusahaan yang dihitung berdasarkan transaksi dengan non afiliasi yang dihitung berdasarkan transaksi dengan pihak luar. Untuk menyajikan posisi keuangan, arus kas serta hasil usaha pada kelompok entitas secara menyeluruh, maka diperlukan penyusunan laporan keuangan konsolidasi yang menyediakan informasi mengenai kondisi perusahaan pada kelompok usaha sebagai kesatuan tunggal ekonomi walaupun tiap anak perusahaan merupakan entitas yang berbadan hukum sendiri. Laporan konsolidasi memiliki manfaat bagi entitas, yaitu: 1) berguna untuk kepentingan jangka panjang, efek anak perusahaan terhadap perusahaan pusat; 2) memberikan informasi terbaru bagi pihak manajemen induk perusahaan terhadap kinerja anak perusahaan; 3) menyajikan iformasi bagi kepentingan pihak luar. Selain itu, Konsolidasi masih bisa dilakukan walaupun bidang usaha berbeda, jika terdapat hak minoritas yang besar atau anak perusahaan berada di luar negeri. Anak perusahaan yang tidak dikonsolidasi perlu dilaporkan sesuai dengan PSAK nomor 13 mengenai akuntansi untuk investasi.
4.2. Transfer Antar Perusahaan pada Aset Tidak Lancar
Aset tidak berwujud adalah salah satu aset yang mudah untuk ditransfer oleh perusahaan induk ke perusahaan anak, ataupun ke perusahaan yang memiliki hubungan relasi yang kuat dengan perusahaan tersebut dan juga merupakan aset yang cukup sulit dideteksi. Aset tidak berwujud tidak memiliki pasar yang tetap, perusahaan dapat memanfaatkan keuntungan di bebrapa yuridiksi secara bersamaan melalui mekanisme penetapan harga transfer. Aset tidak berwujud cenderung lebih sulit untuk dinilai, karena karakteristiknya bertolak belakang dengan aset berwujud. Aset tidak berwujud tidak dapat dilihat tetapi memiliki nilai terhdap pemilik aset (Azzuhriyyah, 2023) Anak perusahaan yang menjual dan mengakui keuntungan atau kerugian atas transfer antar perusahaan dan menjadi pemegang saham dalam aktivitas tersebut. Penjualan dari perusahaan induk ke anak perusahaan dikenal sebagai penjuala downstream, di mana keuntungan atau kerugian dari pengalihan tersebut menjadi hak pemegang saham perusahaan induk.
Kemudian, penjualan dari anak perusahaan ke perusahaan induk dikenal sebagai penjualan upstream, yaitu keuntungan maupun kerugian yang masuk ke pemilik anak perusahaan yang sama. Jika anak perusahaan dimiliki secara penuh, maka seluruh keuntungan maupun kerugian pada akhirnya menjadi milik perusahaan induk sebagai pemegang saham tunggal. Akan tetapi, jika anak perusahaan tidak dimiliki secara penuh, maka laba atau rugi dari penjualan upstream harus dibagi rata antara perusahaan induk dan kepentingan non pengendali.
Transfer antar perusahaan berupa aset disusutkan, ketika perusahaan estimasi sisan umur ekonomis dapat terjadi. Jika hal tersebut terjadi, maka perlakuannya sama dengan pada perusahaan tersebut terjadi pada saat aset tersebut masih terdapat pada pembukuan perusahaan yang menstransfer. Sisa masa manfaat
Journal homepage: https://melatijournal.com/index.php/JISMA yang baru digunakan sebagai dasar penyusutan, baik untuk perusahaan pembeli maupun untuk tujuan penyusunan laporan keuangan konsolidasi. Selain itu berdampak pada bagian dari keuntungan atau kerugian perusahaan terealisasi menjadi realisasi pada setiap periode yang sejalan dengan manfaat yang diperoleh dari aset tersebut dan potensi jasa berkurang. Dengan kata lain, aset tidak berwujud dapat dgunakan untuk mengalihkan keuntungan antara perusahaan terkait untuk meminimalkan beban pajak global perusahaan multinasional (Wahyudi & Fitriah, 2021). Serta penjualan antar perusahaan terjadi sepenuhnya pada entitas konsolidasi, maka laporan keuangan konsolidasi perlu muncul seakan-akan transfer antar perusahaan tersebut tidak pernah terjadi.
4.3. Hubungan Aset Tidak Lancar pada Transfer Pricing
Transfer pricing adalah harga jual khusus yang digunakan dalam pertukaran antara divisi untuk mencatat pendapatan divisi penjual (selling division) dan biaya divisi pembeli (buying divison) (Mangoting, 2000). Sedangkan aset tidak lancar merupakan salah satu aset yang sulit dipantau dan mudah dialihkan pada anak perusahaan. Begitu juga pada perusahaan multinasional juga akan mudah melakukannya, di mana perusahaan multinasional memiliki hubungan yang erat dengan perusahaan asing yang dimiliki oleh pemegang saham perusahaan. Dengan mudahnya perusahaan multinasional untuk mentransfer aset tidak lancar akan semakin meningkatkan insentif manajer dalam melakukan tindakan transfer pricing. Perusahaan memiliki lebih banyak peluang untuk mentransfer keuntungan perusahaan ke negara dengan tarif pajak rendah dengan mengubah pembayaran yang sulit seperti royalti. Aset tidak lancar sulit untuk diukur pada nilai pasar, sehingga penilaiannya masih subjektif. Perusahaan dapat menggunakan mekanisme tersebut di beberapa peristiwa hukum terhadap mekanisme transfer pricing tersebut terhadap perilaku oportunistik (Wulandari et al., 2021).
Pedoman Penetapan Transfer Pricing (OECD, 2010) menyatakan bahwa sebuah properti yang tidak memiliki wujud mengeksploitasi aset komersial seperti merek, hak paten, hak kekayaan intelektual, rahasia bisnis dan industri, desain serta model. Ada dua persoalan dalam metode pengujian kewajaran OECD, yang pertama OECD TPG mengasumsikan terdapat pasar yang memberikan informasi perbandingan yang memadai. Akan tetapi, sebagian hanya melaksanakan transaksi internal entitas atau produk yang diberikan memiliki spesifikasi yang khusus dan tidak mempunyai pembanding di pasar. Kedua, seharusnya dilakukan alokasi secara adil sesuai kontribusi dan kegiatan ekonomi pada tiap entitas. Aset tidak lancar sering dialihkan antar kelompok entitas, seperti transfer biaya penelitian, pengalihan kekayaan intelektual, serta pengembangan (Anh, 2018). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai set tidak lancar pada perusahaan, maka semakin besar juga keputusan perusahaan mengimplementasi kebijakan transfer pricing.
5. PENUTUP 5.1. Kesimpulan
Tujuan dari penyusunan laporan keuangan konsolidasi yaitu memberikan laporan informasi yang berkaitan dengan kegiatan dari afiliasi konsolidasi yang menjelaskan bahwa perusahaan berafiliasi terpisah tetapi masih dalam satu perusahaan bersifat tunggal. Konsolidasi bisa dilakukan dengan menggabungkan laporan keuangan pada setiap entitas dengan menjumlahkan unsur sejenis pada laporan keuangan setiap perusahaan yang dikonsolidasikan. Banyak perusahaan besar, aktivitas transfer pada anak perusahaan terjadi pada berbagai transaksi satu sama lain, seperti pada penjualan bahan baku, produk fabrikasi, serta jasa transportasi. transaksi ini adalah aspek penting pada aktivitas ke semua bagian entitas konsolidasiSuatu entitas memerlukan laporan konsolidasi apabila entitas tersebut mempunyai kontrol terhadap perusahaan lain. Semua aspek transfer antar perusahaan perlu dieliminasi pada penyusunan laporan keuangan konsolidasi, dengan demikian laporan keuangan tersebut menunjukkan bahwa laporan keuangan pada sebuah perusahaan tunggal. Aset tidak lancar memberikan manfaat secara ekonomi pada perusahaan dalam jangka panjang, dan periode waktu perolehan manfaat ini biasanya lebih dari satu tahun.
5.2. Saran
Berdasarkan dari keterbatasan peneliti, maka disarankan untuk penelitian selanjutnya agar lebih membaca dan menganalisis referensi serta literature mengenai analisis skema konsolidasi transfer antar
Journal homepage: https://melatijournal.com/index.php/JISMA
perusahaan pada aset tidak lancar dan transfer pricing secara lebih mendalam, agar memperoleh informasi tambahan mengenai penelitian yang akan dilakukan. Penelitian ini dapat ditujukan untuk menjadi referensi bagi para akademis agar dapat melakukan penelitian selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Agata, G., Lembut, P. I., & Oktariani, F. (2021). Analisis Determinan Transfer Pricing pada Perusahaan Multinasional yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. 16(1), 74–93.
[2] Anh, N. H. (2018). DETERMINANTS OF TRANSFER PRICING AGGRESSIVENESS: A CASE OF VIETNAM. 16(5), 104–112.
[3] Azzuhriyyah, A. A. (2023). Pengaruh Tunneling Incentive , Intangible Asset , Dan Debt Covenant Terhadap Keputusan Transfer Pricing Dengan Tax Minimization Sebagai Variabel Moderasi ( Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2015-2021 ).
11(1), 63–72.
[4] Badu, P., Djou, S. R., & Rahman, R. (2021). Analisis Pengelolaan Eksposur Translasi Pada Perusahaan Multinasional (Yamaha Motor Company). Jurnal Valuasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Manajemen Dan Kewirausahaan, 1(2), 479–493. https://doi.org/10.46306/vls.v1i2.41
[5] Budiningsih, B. A. S., Kristanto, A. T., & Agustinawansari, G. (2022). Analisis Pengaruh Mekanisme Corporate Governance terhadap Kemungkinan Terjadinya Financial Distress. EXERO : Journal of Research in Business and Economics, 4(1), 84–126. https://doi.org/10.24071/exero.v4i1.5027
[6] Eko Sudarmanto., D. (2022). Metode Riset Kuantitatif dan Kualitatif (R. W. & J. Simarmata (ed.)).
Yayasan Kita Menulis. kitamenulis.id
[7] Ikatan Akuntan Indonesia. (2013). PSAK 65 Laporan Keuangan Konsolidasian. Http://Iaiglobal.or.Id/.
[8] Ilmi, Fahimatul; Prastiwi, D. (2019). Pengaruh Profitabilitas, Inovasi Perusahaan Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Transfer Pricing Aggressiveness. Jurnal Akuntansi AKUNESA, 8(2), 1–9.
[9] Mangoting, Y. (2000). Aspek perpajakan dalam praktek. 69–82.
[10] Mineri, M. F., & Paramitha, M. (2021). Pengaruh Pajak, Tunneling Incentive, Mekanisme Bonus Dan Profitabilitas Terhadap Transfer Pricing. Jurnal Analisa Akuntansi Dan Perpajakan, 5(1), 35–44.
https://doi.org/10.25139/jaap.v5i1.3638
[11] Ningtyas, F., & Mutmainah, K. (2022). DETERMINAN TAX HAVEN , BONUS SCHEME ,
TUNNELING INCENTIVE DAN DEBT COVENANT TERHADAP KEPUTUSAN
PERUSAHAAN. 3(2).
[12] OECD. (2010). OECD transfer pricing guidelines for multinational enterprises and tax administrations.
[13] Richard E. Baker, Theodore E. Christensen, David M. Cottrell, Kurnia Irwansyah Rais, Widhi Astono, E. R. W. (2015). Akuntansi Keuangan Lanjutan-Perspektif Indonesia.
[14] Setiawan, D., Ekonomi, F., Studi, P., Universitas, A., Bandung, B., Ekuitas, M., Kepemilikan, P., Pendahuluan, I., & Indonesia, D. (2016). Jurnal Akuntansi Fakultas Ekonomi UNIBBA 1.3. 7(65), 1–
10.
[15] Siregar, R. (2017). Akuntansi Keuangan Lanjutan I.
[16] Siti Arifah, A. N. P. (2020). PENGARUH TRANSAKSI BERELASI TERINDIKASI TUNNELING TERHADAP PROFITABILITAS BANK BUMN INDONESIA. 1(1), 28–37.
[17] Sukma, S. A. (2023). Faktor-faktor yang melakukan tindakan Transfer Pricing pada Perusahan Sub Sektor Pertambagnan di Bursa Efek Indonesia. 5(6), 2538–2552.
[18] Sulistyawati, A. I., Santoso, A., & Rokhawati, L. (2019). Deteksi Determinan Keputusan Transfer Pricing. Adbis: Jurnal Administrasi Dan Bisnis, 13(1), 22. https://doi.org/10.33795/j-adbis.v13i1.61
[19] Utami, M. F., & Irawan, F. (2022). Pengaruh Thin Capitalization dan Transfer Pricing Aggressiveness terhadap Penghindaran Pajak dengan Financial Constraints sebagai Variabel Moderasi. 6, 386–399.
[20] Wahyudi, I., & Fitriah, N. (2021). Pengaruh Aset Tidak Berwujud , Ukuran Perusahaan , Kepatuhan Perpajakan , dan Leverage Terhadap Transfer Pricing. 13(November), 388–401.
[21] Wulandari, S., Oktaviani, R. M., & Hardiyanti, W. (2021). Proceeding SENDIU 2021 PENGARUH PAJAK , ASET TAK BERWUJUD , DAN UKURAN PERUSAHAAN. 978–979.
Journal homepage: https://melatijournal.com/index.php/JISMA HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN