SWOT ANALISI PENDIDIKAN ISLAM Oleh Dadang Supriyanto
Diajukan sebagai tugas mata kuliah Internship Manajemen Pendidikan Islam I. Pendahuluan
Permasalahan yang dihadapi pemerintah di bidang pendidikan yaitu untuk mengantisipasi era globalisasi. Pendidikan dituntut dapat mempersiapkan sumberdaya manusia yang kompeten agar mampu bersaing di dunia global. Untuk memenuhi hal tersebut diperlukan lulusan yang unggul (kompetitif) sehingga dapat eksis di dunia global. Agar lulusan pendidikan nasional memiliki kompetitif tidak bisa terlepas dari kualitas manajemen pendidikan, bail dalam hal efektivitas dan efisiensi proses kearah peningkatan mutu pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan di sekolah dapat dilihat melalui suatu proses manajemen lembaga pendidikan. Strategi yang dilakukan untuk berjalanya suatu proses pendidikan di sekolah ini salah satunya menggunakan strategi analisis SWOT. Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor faktor sistematis untuk merumuskan strategi sebuah organisasi baik perusahaan bisnis maupun organisasi sosial. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strength), dan Peluang (opportunities), Namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknessess) dan ancaman (threats).
II. Pengertian Analisis SWOT
Analisis adalah kata benda yang berarti proses pencarian jalan keluar yang berangkat penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya;
penyelidikan kimia dengan menguraikan sesuatu untuk mengetahui zat-zat yang menjadi bagiannya; penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untukmendapatkan pengertian yang tepatdan pemahaman makna keseluruhan. Strategi merupakan cara atau siasat yang dipakai dalam melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu dengan tepat. Demikian pula dengan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dalam rangka mewujudkan pendidikan dan pengajaran. Pendidikan yang dilakukan di sekolah tentunya juga mempunyai tujuan dan memerlukan strategi yang tepat untuk mencapainya. Analisis SWOT adalah indentifikasi beberapa faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat
memaksimalkan kekuatan (Strenghts) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats). Analisis SWOT secara sederhana dipahami sebagai pengujian terhadap kekuatan dan kelemahan internal sebuah organisasi, serta kesempatan dan ancaman lingkungan eksternalnya. SWOT adalah perangkat umum yang didesain dan digunakan sebagai langkah awal dalam proses pembuatan keputusan dan sebagai perencanaan strategis dalam berbagai terapan. Berikut ini merupakan penjelasan Analisis SWOT yaitu:
1. Strength (Kekuatan)
Strength merupakan kondisi internal positif yang memberikan keuntungan. Kekuatan dalam lembaga sekolah/madrasah dapat berupa kemampuan-kemampuan khusus/spesifik, SDM yang menandai, image organisasi, kepemimpinan yang cakap dan lain- lain. Faktor- faktor kekuatan dalam sebuah lembaga pendidikan adalah kompetensi khusus, yang berakibat pada pemilikan keunggulan komparatif lembaga pendidikan tersebut. Dikatakan demikian karena satuan pendidikan memiliki sumber keterampilan, produk andalan dan sebagainya yang membuatnya lebih unggul dari para pesaingnya dalam memuaskan pelanggan (peserta didik dan orang). Strength atau kekuatan adalah beberapa hal yang merupakan kelebihan dari sekolah yang bersangkutan. Hal-hal yang memiliki potensi yang positif apabila dikembangkan dengan baik Adapun yang merupakan strength misalnya sebuah rekruitmen yang kuat, tim manajemen yang antusias, hasil ujian yang baik, unit ekstrakurikuler seperti musik, seni, dan drama yang kuat, dukungan orangtua yang baik, moral staf yang baik, dan dukungan pimpinan institusi.
2. Kelemahan (Weakness)
Kelemahan (Weakness) adalah keterbatasan atau kekurangan dalam sumber daya, keterampilan, dan kapabilitas yang secara serius menghambat kinerja efektif perusahaan atau organisasi. Dalam praktek, berbagai keterbatasan dan kekurangan kemampuan tersebut bisa terlihatdari sarana dan prasarana yang dimiliki, kemampuan manajerial yang rendah, keterampilan pemasaran yang tidak sesuai dengan tuntutan pasar, produk yang tidak atau kurang diminati oleh para pengguna atau calon pengguna dan tingkat perolehan keuntungan yang kurang memadai. Ada beberapa faktor kelemahan yang harus segera dibenahi oleh para pengelola lembaga pendidikan, antara lain: a. lemahnya SDM dalam lembaga pendidikan.b. sarana dan prasarana yang masih sebatas pada sarana wajib saja. c.
lembaga pendidikan swasta umumya kurang bisa menangkap peluang, sehingga mereka hanya puas dengan keadaan yang dihadapi sekarang ini. d. Uot put lembaga pendidikan belum sepenuhnya bersaing dengan output lembaga pendidikan yang lain.
3. Peluang (Opportunity)
Peluang adalah kemungkinan-ke-mungkinan yang dapat terjadi apabila potensi-potensi yang ada di sekolah tersebut mampu dikembangkan atau dioptimalkan oleh sekolah.
Adapun yang merupakan opportunity misalnya bergabung dengan insti-tusi lokal dengan tempat yang baik dan reputasi yang juga cukup baik, membangun sarana olahraga yang lebih baik, bergairah untuk mendirikan institusi baru, memberi peluang kepada para staf untuk mengem-bangkan keahlian demi meningkatkan daya tawar, memperluas penggabungan dengan institusi lainnya agar dapat menjadi penyandang dana yang baru.
Peluang sebagai situasi lingkungan eksternal yang menguntungkan bagi sebuah lembaga pendidikan. Situasi lingkungan tersebut, misalnya:
(1) kecenderungan penting yang terjadi di kalangan peserta didik,
(2) identifikasi suatu layanan pendidikan yang belum mendapat perhatian, (3) perubahan dalam keadaan persaingan,
(4) hubungan dengan para pengguna atau pelanggan
Untuk mewujudkan manusia yang sanggup menghadapi tantangan dalam menghadapi kehidupan dimasa mendatang pendidikan Islam memiliki peluang yang luas, karena pendidikan Islam adalah pendidikan yang seimbang dalam mempersiapkan peserta didik, yaitu peserta didik yang tidak hanya mampu mengembangkan kreatifitas intelektual dan imajinasi secara mandiri, tetapi juga memiliki ketahanan mental spriritual yang mampu beradaptasi dan merespon problematikal yang dihadapi sesuai kerangka dasar ajaran Islam.
Maka atas dasar ini pula tidak mengherankan jika saat ini masyarakat lebih menaruh minatnya untuk mendidik anak mereka pada lembaga pendidikan Islam, khususnya Madrasah.
4. Ancaman (Threats)
Threats atau ancaman yang dimaksud di sini adalah kemungkinan kemungkinan yang dapat terjadi atau berpengaruh terhadap kesinambungan keberlanjutan kegiatan penyelenggaraan di sekolah. Ancaman-ancaman tersebut adalah: kehilangan iden-titas, kekuatan dan reputasi, resiko kehilangan guru berpengalaman akibat pensiun dini, etos
kerja lembaga lain mungkin menjadi dominan, dan kemungkinan kehilangan dukungan dari pimpinan institusi. Analisis SWOT sudah menjadi alat yang umum digunakan dalam perencanaan strategi pendidikan, yang dalam pengelolaannya akan dikaitkan dengan input, proses dan output. SWOT dapat dibagi ke dalam dua elemen yaitu analisis internal (uji kekuatan dan kelemahan) dan analisis eksternal atau lingkungan (peluang dan ancaman).
Tujuan dari pengujian ini adalah untuk membuat maksimal kekuatan, membuat minimal kelemahan, mereduksi ancaman, dan membangun peluang.
III. Konsep analisis SWOT dalam perspektif al-Qur’an
Menganalisis prespektif al-Qur’an dengan metode SWOT ini merupakan hal yang sangat menarik untuk mengetahui cara meningkatkan kekuatan, mengurangi kelemahan, membangun peluang lebih baik, dan menghindari ancaman yang mungkin terjadi.
1. Strenght (Kekuatan) Prespektif al-Qur’an
Meneliti makna kekuatan dalam sudut pandang manusia di dalam al-Qur’an merupakan nilai-nilai yang sangat penting di kehidupan manusia di dalam kesehari- hariannya. Terdapat beberapa ayat-ayat jika ditelusuri di dalam al-Qur’an untuk kekuatan- kekuatan dalam seluruh aspek kehidupan dan jika ditafsirkan memerlukan pemahaman yang maksimal. (Hasyim, 2007). Dalam surat al-Baqarah ayat 2 yang berisikan pedoman hidup manusia merupakan suatu petunjuk bagi manusia untuk bertaqwa.
كَلِذٰ
بُتٰكِلِا لَا
بُيْرَ
بُ
بُ
بُ
بُ
بُ
بُ
بُ
بُ
بُ
بُ
بُ
بُ
بُ بُ
هِۛيْفِ
هِۛهِۛهِۛهِۛهِۛهِۛهِۛهِۛهِۛهِۛهِۛهِۛهِۛهِۛ
ىدًهُ
نَۙيْقِتٰمُلْلِ
نَۙ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”(QS. Al-Baqarah [2]:2) (RI, 2006)
Menurut tafsir Qur’an Kemenag Al-Qur’an merupakan sumber kekuatan, bagi manusia kitab yang sempurna tidak ada keraguan. Al-Qur'an juga menjadi petunjuk yang sempurna bagi mereka yang mempersiapkan diri untuk menerima kebenaran dengan bertakwa, yaitu mengikuti segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya agar terhindar dari siksa Allah. Meski petunjuk Al-Qur'an diperuntukkan bagi seluruh umat manusia, hanya orang-orang bertakwa saja yang siap dan mampu mengambil manfaat darinya. (RI K. A., 2016).
Maka sangat tepat ungkapan Dr. Yusuf Al-Qaradlawi yang menegaskan bahwa:“Al-Qur’an adalah “ruh Rabbani” kekuatan Rabbani yang akan mampu menghidupkan dan menggerakkan akal fikiran dan hati. Sebagaimana Al-Qur’an juga undang-undang Allah yang mengatur kehidupan manusia sebagai individu dan bangsa secara kolektif.” (Dr. Attabiq Luthfi, 2010)
Menurut tafsir Ibnu Katsir, jika manusia dapat mewujudkan bentuk ketaatan dengan mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi laranganNya, terlebih jika mereka mampu bersabar akan segala cobaan yang diberikan oleh Allah, menjalani kehidupan dan bersyukur atas takdir yang diberikan maka mereka akan menjadi manusia, maka mereka akan menjadi manusia yang kuat. disinilah letak kekuatan sebenarnya yang dimiliki oleh manusia. Dengan begitu, manusia tidak akan mudah terpengaruh dengan hal-hal yang negatif. (Katsir, 2006).
2. Weakness (Kelemahan) Prespektif al-Qur’an
Kelemahan yang ada pada manusia merupakan sifat negatif yang ada dalam dirinya.
Meskipun manusia diciptakan paling sempurna diantara makhluk lain, namun manusia memiliki keterbatasan baik dari segi fisik, akal, qalbu dan hawa nafsu Di dalam al-Qur’an sudah dijelaskan terdapat beberapa ayat yang menunjukkan manusia merupakan seorang yang lemah yakni pada surah An-Nisa’ pada ayat 28.
دًيْرِيْ
هِۛلْلِا فَفِّخَ$يْ نْا
مْۚكِنْعَ
مْۚ
مْۚ
مْۚ
مْۚ
مْۚ
مْۚ
مْۚ
مْۚ
مْۚ
مْۚ
مْۚ
مْۚ
مْۚمْۚ
قَلْخُوَ
نْاسَنْلَاا
افِّيْعِضَ
٢
“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. Al-Nisa[4]: 28) (RI D. A., 2006)
Kelemahan manusia terletak pada segi fisik, yakni ketika mereka sudah dalam keadaan lanjut. Pada masa mudanya memang manusia terlihat kuat , namun seiring berjalan waktu, masa muda yang gemilang beralih menjadi masa tua yang serba terbatas. Seperti dalam surat al-Ruum ayat 54.
هِۛلْلِا يْذِلِا
مْۚكِقِلْخُ
نْ مِّ
3فَعِضَ
مْۚثُ
لَعِجَ
نْنْۢ مِ
دًعِبَ
3فَعِضَ
ةً قُ
مْۚثُ
لَعِجَ
نْنْۢ مِ
دًعِبَ
ةٍ قُ
افِّعِضَ
ةًۗبَيْشَوَ
ةًةًۗ
قَلْخَيْ
ا ٥ رِيْدًقِلِا مْۚيْلْعِلِا وَهُوَ قُءُۚ اۤ ءُۚاشَيْ
“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Al-Ruum [30]: 54) (RI D. A., 2006)
Dalam Jalalain dijelaskan manusia diciptakan oleh Allah dalam keadaan lemah.
Kemudian menjadikan manusia menjadi kuat. Yakni pada awalnya manusia merupakan bayi yang tidak mampu berbuat apa-apa tanpa bantuan orangtua, kemudian dia beranjak dewasa dan perlahan menjadi manusia yang mandiri. Seiring waktu berlalu, manusia kembali lagi menjadi lemah karena sudah berumur dan menjadi pikun. Hal ini sesuai dengan kehendak Allah swt. Dia mengatur hamba-hambaNya sesuai dengan kehendakNya.
(Al-Mahalli, 2010).
3. Opportunity (Peluang) Prespektif al-Qur’an
Di dalam kehidupan kita akan selalu mendapatkan peluang atau kesempatan yang datang. Terkadang tidak banyak mengira bahwa kita akan mendapatkan peluang itu. Ada beberapa ayat al-Qur’an yang menjadikan kita selalu semangat mencari peluang atau kesempatan untuk mendapat ridho dari Allah. Diantaranya surat al-Maidah ayat 35 yang menyeru kita untuk mendapatkan peluang atau kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اهَ$يْا?يْ
نَۙيْذِلِا اوَنْمَا
اوَقِتَّا هِۛلْلِا
ا?وَغُتٰبَاوَ
هِۛيْلِا ةًۗلْيْسِوَلِا
اوَدًهُاجَوَ
يْفِ
هِۛلْيْبَسِ
هِۛهِۛهِۛهِۛهِۛهِۛهِۛهِۛهِۛهِۛهِۛهِۛهِۛهِۛ
مْۚكِلْعِلِ
نْوَحُلْفِّتَّ
٣٥
Dengan mencari jalan mendekatkan diri kepada Allah, Ketika Allah mencintai hambanya. Akan diberikan apa yang hambanya inginkan. Dengan mengetahui ayat ini kita
berlomba-lomba untuk mendekatkan diri agar kita semua termasuk golongan orang yang mendapat untung. Pada surat At-Talaq ayat 2 dan 3 juga telah dijelaskan bahwa “siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya allah akan membukakan jalan keluar baginya.” Pada ayat 3 dijelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
هِۛقْزُرِيْوَ
نْ مِ
ثُيْحَ
لَا بُسَتٰحُيْ
قُةًۗ
“Dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga. Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.
Sesungguhnya Allahlah yang menuntaskan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah membuat ketentuan bagi setiap sesuatu.” (Al-Ṭalāq [65]:3) (RI D. A., 2006)
Maka dari itu, manusia yang baik adalah manusia yang mampu memanfaatkan segala peluang yang ada dalam hidupnya. Baik peluang untuk kehidupan dunia, maupun peluang untuk kehidupan di akhirat. Mereka tidak mudah putus asa dan berusaha sekuat tenaga untuk memanfaatkan kemampuannya walaupun peluang yang diperoleh sangat kecil. Hal ini akan berdampak pada baik tudak hanya untuk dirinya, melainkan untuk keluarga dan masyarakat sosial.
4. Threats (Ancaman) Prespektif al-Qur’an
Perjalanan hidup manusia tentunya hanya menuju satu diantara dua tempat yaitu surga atau neraka. Telah dikabarkan melalui ayat-ayat al-Qur’an barangsiapa yang bertaqwa akan memperoleh surga-Nya. Barangsiapa yang tidak bertaqwa akan mendapatkan ancaman siksa neraka dari-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
ا?وَمُلْعَا نْا
هِۛلْلِا دًيْدًشَ
بِۙاقِعِلِا مِنَۙ
نْاوَ
هِۛلْلِا Kرَوَفِّغَ
Kمْۚيْحَرَ
Kمْۚ
Kمْۚ
Kمْۚ
Kمْۚ
Kمْۚ
Kمْۚ
Kمْۚ
Kمْۚ
Kمْۚ
Kمْۚ
Kمْۚ
Kمْۚ
KمْۚKمْۚ
٩
“Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya dan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Mā'idah [5]:98) (RI D. A., 2006)
Kembali Allah menegaskan, bahwa Dia senantiasa mengetahui apa yang diperbuat manusia secara terang-terangan, maupun yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, termasuk gerak-gerik hati sanubari mereka. Ini merupakan peringatan keras dari Allah kepada orang-orang yang tidak menaati peraturan dan hukum-hukum-Nya.
IV. Faktor-Faktor Analisis SWOT
1. Faktor Internal (Kekuatan) yang dimiliki lembaga pendidikan:
a. Knowledge atau kepakaran yang dimiliki b. Lulusan dihasilkan atau pelayanan yg unik c. Lokasi tempat lembaga pendidikan berada d. Kualitas lulusan atau proses.
e. Guru yang menggunakan Teknologi dalam mengajar
2. Faktor Internal (Kelemahan) yang dimiliki lembaga pendidikan:
a. Kurangnya pengetahuan sosialisasi lembaga pendidikan.
b. Lulusan yang tidak dapat dibedakan dengan lulusan lembaga pendidikan -lembaga pendidikan lain.
c. Lokasi lembaga pendidikan yang terpencil d. Kualitas lulusan yang jelek
3. Faktor Eksternal (Peluang) yang dimiliki lembaga pendidikan:
a. Adanya pendidikan berbasis internasional.
b. Lembaga yang terus berkembang dan pendidikan merupakankebutuhan bagi masyarakat.
c. Peluang karena lembaga pendidikan yang tidak sanggupmemenuhi permintaan masyarakat.
4. Faktor Eksternal (Ancaman) yang dimiliki lembaga pendidikan:
a. Adanya lembaga pendidikan Islam baru di area yang sama b. Persaingan harga dengan lembaga pendidikan lain.
c. Lembaga pendidikan lain mengeluarkan lulusan baru yang inovatif d. Lembaga pendidikan lain memegang pangsa pasar terbesar.
V. Analisis Strategi SWOT didalam Lembaga Pendidikan 1. Analisis lingkungan internal
Analisi lingkungan internal (ALI) berupa pencermatan danidentifikas terhadap kondisi intenal organisasi, menyangkut organisasi, biaya oprasional, efektifitas organisasi, sumber daya manusia, srana dan prasarana maupu dana yang tersedia. Pencermatan dilakukandengan mengelompokkan atas hal-hal yang merupakan kekuatan (strength) atau
kelemahan (weakness) organisasi dalan rangka mewujudkan tujuan dan sasaran.
Lingkungan internal merupakan roh dalam sebuah lembaga untuk menjamin keberlangsungan proses pendidikan yang sedang belangsung oleh karena itu dibutuhkan manjemen pengelolaan yang baik.
a. Analisis siswa atau peserta didik
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui pembelajaran yang tersedia pada jalur Jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Oemar Hamalik di kutip dari Ari Hidayat dan Imam Machali mendefinisikan peserta didik sebagi suatu kompenen masukan dalam sistem masukan dalam sistem pendidikan yang selanjutnya diproses dalam proses pendidikan, sehingga menjadi manusia berkualitas. Adapun tahapan tahapan pengelolan peserta didik menuurut Ari Hidayat dan Imam Machali sebagai berikut.
1) Analisis kebutuhan peserta didik.
2) Rekruitmen peserta didik.
3) Seleksi peserta didik.
4) Orientasi.
5) Penenmpatan pesrta didik
6) Pembinaan dan penagenbangan peserta didik.
7) Pencatatan dan pelaporan.
8) Kelulusan dan Alumni.
Oleh karena itu manajemen kesiswaan pendidikan bila dilihat dari segi tahapan dalam masa studi di sekolah dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu, penerimaan siswa baru, preoses pembelajaran dan persiapan studi lanjut atau bekerja. Dengan istilah lain, tiga tahapan tersebut dapat disebut denga tahapan penjaringan, pemprosesan dan pendistribusian. Semua tahapan tersebut membutuhkan pengelolaan secara maksimal agar mendapatkan hasil yang maksimal pula.
b. Analisis tenaga kependidikan
USPN No. 20 Tahun 2003 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya serta
berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Sedangkan tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Peranan guru yang sangat penting tersebut bisa menjadi potensi besar dalam menunjukan atau meningkatkan mutu pendidikan, atau sebaliknya bisa juga menghancurkannya. Ketika guru benar-benar berlaku profesional dan dapat mengelola pendidikan dengan baik, tentunya mereka semakin bersemangat dalam menjalankan tugasnya bahkan rela melakukan inovasi pembelajarn untuk kesuksesanpembelajaran peserta didik.
c. Analisis sarana fisik sekolah
Sarana pendidikan adalah segala sesuatu yang meliputi peralatan dan perlengkapan yang langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah seperti gedung, ruangan, meja, kursi, alat peraga, buku pelajaran dan lain-lain. Sedangkan prasarana semua kompenen yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pembelajaran di lembaga pendidikan tersebut seperti jalan menju sekolah, halaman sekolah, tata tertib sekolah dan lain-lain.8 Sarana dan prasarana pendidikan dalam lembaga pendidikan Islam sebaiknya dikelola dengan sebaik mungkin sesuai dengan ketentuan-ketentuan berikut;
1) Lengkap siap dipakai setiap saat, kuat, dan Awet.
2) Rapi indah bersih, anggung, dan asri sehingga menyejukkanpandangan dan perasaan siapun yang memasuki kompleks lembaga pendidikan Islam.
3) Kreatif, inovatif, responsif dan variatif sehingga dapat merangsang timbulnya imajinaasi peserta didik.
4) Memiliki jangkauan waktu penggunaan yang panjang melalui perencanaan yang matang untuk menghidari kecendrungan bongkar pasan bagunang.
5) Memiliki tempat khusus untuk beribadah maupun pelaksanaan kegiatan sosio- religius seperti mushallah atau masjid.
Oleh karena itu, sarana dan prasarana pendidikan seharusnya diupayakan semaksimal mungkin agar lembaga pendidikan memiliki daya tarik yang khas. Jika terjadi demikian, maka posisi tawar lembaga tersebut terhadap masyarakat sekitar sangatlah tinggi. Hal ini mungkin terjadi jika sarana dan prasarana ini mendapat perhatian besar dari manajer pendidikan mulai tahap perencanaan sampai pada
perawatan /pemeliharaan. d. Analisis kurikulum, materi pendidikan dan proses belajar mengajar Selama ini kurikulum di anggap sebagai penentu keberhasilanpendidikan.
Karena itu, perhatian para guru, dosen, kepala sekolah/madrasah, ketua rektor, maupun praktisi pendidikan terkonsentrasi pada kurikulum. Padahal kurikulum bukanlah penentu utama. Dalam kasus pendidikan di Indonesia misalnya. Problem yang paling besar di hadapi bangsa ini sesungguhnya bukan problem kurikulum, meskipun bukan berarti kurikulum tidak menimbulkan problem, namun masalah kesadaran merupakan masalah yang besar. Yaitu lemahnya kesadaran untuk berprestasi, kesadaran untuk sukses, kesadarn untuk meningkatkan SDM, kesadaran untuk menghilangkan kebodohan, maupun kesadaran untuk berbuat yang terbaik. e. Analisis administrasi dan keuangan sekolah Selama ini ada kesan bahwa keuangan adalah segalanya dalam memajukan suatu lembaga pendidikan. Tanpa dukungan finansial yang cukup, manajer lembaga pendidikan seakan tidak bisa berbuat banyak dalam upaya memajukan lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Sebab mereka berpikir semua upaya memajukan senantiasa harus dimodali dengan uang. Upaya memajukan kompenen- kompenen pendidikan tanpa disertai dukungan uang akanpasti berehenti di tengah jalan. Setidaknya ada dua hal yang meneybabkan timbulnya perhatian yang besar pada keungan yaitu, Pertama, keungan termasuk kunci penentu kelangsungan dan kemajuan lembaga pendidikan. Kenyataanini mengandung konsekuensi bahwa program-program pembaruan atau pengembangan pendidikan bisa gagal dan berantakan manakala tidak didukung oleh dana yang memadai. Kedua, lazimnya uang dalam jumlah besar sulit sekali didapatkan khususnya lembaga pendidikan swasta yang baru berdiri
2. Analisis lingkungan eksternal
Analisis lingkungan eksternal (ALE) berupa pencermatan dan identifikasi terhadap kondisi lingkungan di luar organisasi yang dapat terdiri dari lingkungan ekonomi, teknologi, sosial, budaya, politik, ekologi dan keamanan pencermatan ini akan menghasilkan indikasi mengenai peluang.
a. Analisis lingkungan sosial masyarakat
Lembaga pendidikan perlu menangani masyarakat atau hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat. Kita harus menyadari bahwa masyarakat memiliki peranan yang sangat penting terhadap keberadaan, keberlangsungan bahkan kemajuan
lembaga pendidikan. Setidaknya salah satu parameter penentu nasib lembaga pendidikan adalah masyarakat. Bila ada lembaga pendidikan maju, hampir bisa dipastikan salah satu faktor keberhasilan adalah keterlibatan masyarakat yang maksimal. Begitu pula sebaliknya, bila ada lembaga pendidikan yang memperihatinkan, salah satupenyebabnya bisa jadi masyarakat enggan mendukung.
Sikap masyarakat ini bisa jadi akibat dari hal lain dalam kaitannya dengan lembaga pendidikan, baik yang bersifat internal maupun eksternal.
Masyarakat memiliki posisi ganda dalam lembaga pendidikan, yaitu sebagai objek dan sebagi subjek yang keduanya memiliki makna fungsional bagi pengadaan lembaga pendidikan. Ketika lembaga pendidikan sedang melakukan promosi penerimaan siswa/siswi dan mahasiswa baru maka masyarakat menjadi objek mutlak dibutuhkan.
Sementara itu respon terhadap promosi itu menempatkan mereka sebagai subjek yang memiliki kewenangan penuh huntuk menerima atau menolaknya. Selain itu hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan antara lain sebagai berikut 1) Memajukan kualitas pembelajaran dan pertumbuhan anak. 2) Memperkukuh tujuan serta meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat. 3) Menggairahkan masyarakat untuk menjalin hubungan dengansekolah.
b. Analisis peranan pemerintah dan Yayasan
Dalam menghadapi kebijakan pemerintah yang dinilai kurang berpihak pada pengembangan lembaga pendidikan, pengelola harus mampu memiliki jiwa untuk berbesar dan menanggung apa yang terjadi si kemudian hari terhadap terhadap kebijakan tersebut. Umumnya ketidaksesuaian kebijakan dengan apa yang ada di atas kertas dengan apa yang ada di lapangan dikarenakan tidak adanya kebijakan pendukung.
Tabel ini menyajikan analisis faktor internal pada manajemen Pendidikan dengan menggunakan konsep SWOT. Masing-masing konsep dievaluasi dalam konteks kekuatan (Strengths) dan kelemahan (Weaknesses) yang teridentifikasi pada kasus di Lembaga Pendidikan Islam. Analisis ini memberikan gambaran komprehensif tentang faktor-faktor internal yang dapat memengaruhi strategi dan pengelolaan pendidikan Islam di lembaga tersebut.
No Konsep S
(Strengths)
W (Weaknesses)
Kasus di Lembaga Islam
1 The Internal Assessment (Penilaian Internal)
Keahlian tenaga pengajar dalam mendidik siswa.
Keterbatasan dana untuk fasilitas
pembelajaran.
Di sebuah pesantren, keahlian guru-guru dalam mendidik siswa menjadi kekuatan, tetapi keterbatasan dana membatasi pengembangan fasilitas.
2 The Nature of an Internal Audit (Sifat Audit Internal)
Keterlibatan siswa dalam kegiatan
ekstrakurikuler.
Kurangnya pelatihan untuk staf
administrasi.
Di sekolah agama, keterlibatan
siswa dalam kegiatan
ekstrakurikuler menjadi kekuatan, tetapi kurangnya pelatihan untuk staf administrasi menjadi kelemahan.
3 The Resource- Based View (RBV)
(Pandangan Berbasis Sumber Daya)
Kualitas perpustakaan dan sumber daya
pendukung lainnya.
Keterbatasan dalam
menghadirkan tenaga pengajar berpengalaman.
Madrasah menonjol dalam kualitas perpustakaan dan sumber daya, tetapi menghadapi keterbatasan dalam merekrut tenaga pengajar berpengalaman.
4 Integrating Strategy and Culture
(Integrasi Strategi dan Budaya)
Konsistensi visi dan budaya organisasi.
Kurangnya komunikasi antara
manajemen dan staf.
Sekolah Islam memiliki kekuatan dalam menjaga konsistensi visi dan budaya, tetapi kurangnya komunikasi antara manajemen dan staf menjadi kelemahan.
5 Marketing
(Pemasaran) Efektivitas kampanye pemasaran online.
Kurangnya analisis pasar yang
mendalam.
Lembaga pendidikan agama Islam berhasil dalam kampanye pemasaran online, tetapi kelemahan terletak pada kurangnya analisis pasar yang mendalam.
6 Finance/
Accounting (Keuangan/Aku ntansi)
Stabilitas keuangan dan pengelolaan dana yang baik.
Beban utang
yang tinggi. Madrasah menunjukkan kekuatan dalam stabilitas keuangan dan pengelolaan dana, tetapi menghadapi beban utang yang tinggi.
7 Production/
Operations (Produksi/Oper asi)
Efisiensi dalam penyediaan bahan ajar dan kurikulum.
Masalah dalam manajemen inventaris.
Sekolah agama berhasil dalam efisiensi penyediaan bahan ajar dan kurikulum, tetapi menghadapi masalah dalam manajemen inventaris.
8 Research and Development (Penelitian dan Pengembangan)
Inovasi dalam metode
pengajaran agama.
Kurangnya investasi dalam penelitian dan pengembangan.
Madrasah menonjol dalam inovasi metode pengajaran agama, tetapi kurangnya investasi dalam penelitian dan
pengembangan menjadi
kelemahan.
9 Management Penggunaan Kurangnya Sekolah Islam berhasil dalam
Information Systems (Sistem Informasi Manajemen)
perangkat lunak perencanaan strategis.
pelatihan untuk penggunaan sistem.
penggunaan perangkat lunak perencanaan strategis, tetapi kurangnya pelatihan untuk penggunaan sistem menjadi kelemahan.
10 Value Chain Analysis
(Analisis Rantai Nilai)
Kolaborasi
yang baik
dengan penyedia layanan pendukung.
Biaya produksi
yang tinggi. Lembaga pendidikan agama Islam memiliki kolaborasi yang baik dengan penyedia layanan pendukung, tetapi biaya produksi yang tinggi menjadi kelemahan.
11 Benchmarking Menggunakan praktik terbaik dalam
pendidikan agama.
Kurangnya pemantauan terhadap perkembangan pesaing.
Sekolah agama berhasil menggunakan praktik terbaik dalam pendidikan agama, tetapi kurangnya pemantauan terhadap perkembangan pesaing menjadi kelemahan.
12 The Internal Factor
Evaluation (IFE) Matrix (Matriks
Evaluasi Faktor Internal)
Kualitas fasilitas pendukung.
Kurangnya pengembangan staf akademik.
Madrasah menilai tinggi kualitas fasilitas pendukung, tetapi menghadapi kendala dalam pengembangan staf akademik.
13 Assurance of Learning
Exercises (Latihan Jaminan Pembelajaran)
Identifikasi potensi siswa.
Kurangnya pembaruan kurikulum.
Sebuah madrasah menggunakan latihan jaminan pembelajaran untuk mengidentifikasi potensi siswa, meskipun menghadapi
kurangnya pembaruan
kurikulum.
14 SPMI (Sistem Penjaminan Mutu Internal)
Evaluasi
internal yang ketat.
Kurangnya dana untuk perbaikan.
Penggunaan SPMI
memungkinkan evaluasi internal yang ketat terhadap kualitas pendidikan, tetapi kurangnya dana adalah kelemahan yang membatasi perbaikan.
Tabel ini menyajikan analisis faktor eksternal pada manajemen Pendidikan Dai di MPI menggunakan konsep SWOT. Setiap konsep dievaluasi dalam konteks peluang (Oportunis) dan ancaman (Ancaman) yang teridentifikasi pada kasus di MPI. Analisis ini memberikan pemahaman mendalam tentang faktor-faktor eksternal yang dapat memengaruhi strategi dan pengelolaan pendidikan Islam di lembaga Pendidikan Islam.
No Konsep O
(Opportunities) T
(Threats) Kasus di MPI 1 The Nature of
an External Audit (Sifat Audit
Eksternal)
Berkembangny a teknologi pembelajaran.
Persaingan dengan lembaga pendidikan lain.
Sekolah Islam memiliki peluang untuk memanfaatkan teknologi pembelajaran yang berkembang, tetapi juga menghadapi persaingan yang semakin ketat.
2 The Industrial Organization (I/O) View (Pandangan Organisasi Industri)
Permintaan pendidikan agama yang meningkat.
Regulasi pemerintah yang ketat.
Lembaga pendidikan agama Islam dapat memanfaatkan peluang dengan meningkatkan kualitas pendidikan agama, tetapi juga harus mematuhi regulasi pemerintah yang ketat.
3 Economic Forces (Kekuatan Ekonomi)
Pertumbuhan ekonomi yang stabil.
Krisis ekonomi yang mungkin terjadi.
Lembaga pendidikan agama Islam memiliki peluang untuk berkembang dalam ekonomi yang stabil, tetapi juga harus waspada terhadap potensi krisis ekonomi.
4 Social, Cultural, Demographic, and Natural Environment Forces (Kekuatan Sosial, Budaya, Demografis, dan
Lingkungan Alam)
Peningkatan minat siswa terhadap
pendidikan agama.
Perubahan nilai-nilai sosial yang mungkin mempengaruhi pendidikan agama.
Lembaga pendidikan agama Islam dapat memanfaatkan minat siswa yang meningkat terhadap pendidikan agama, tetapi juga harus menghadapi perubahan nilai-nilai sosial.
5 Political, Governmental,
and Legal
Forces (Kekuatan Politik,
Pemerintahan, dan Hukum)
Dukungan pemerintah untuk pendidikan agama.
Perubahan kebijakan pendidikan yang mungkin terjadi.
Lembaga pendidikan agama Islam memiliki peluang dengan dukungan pemerintah, tetapi juga harus siap menghadapi perubahan kebijakan pendidikan.
6 Technological Forces
(Kekuatan Teknologi)
Pengembangan platform pembelajaran online.
Keterbatasan akses teknologi di beberapa daerah.
Sekolah Islam memiliki peluang untuk mengembangkan platform pembelajaran online, tetapi juga
harus memperhatikan
keterbatasan akses teknologi di daerah tertentu.
7 Competitive Forces (Kekuatan
Inovasi dalam metode
pengajaran
Persaingan ketat dengan lembaga
Lembaga pendidikan agama Islam memiliki peluang untuk inovasi dalam metode pengajaran agama,
Persaingan) agama. pendidikan lain. tetapi juga menghadapi persaingan yang ketat.
8 Competitive Analysis:
Porter’s Five- Forces Model (Analisis
Persaingan:
Model Lima Kekuatan Porter)
Peningkatan kualitas pendidikan agama.
Masuknya lembaga
pendidikan baru dalam pasar.
Lembaga pendidikan agama Islam memiliki peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama, tetapi juga harus menghadapi masuknya pesaing baru.
9 Sources of
External Information (Sumber Informasi Eksternal)
Menggunakan data untuk meningkatkan pendidikan agama.
Keterbatasan
data yang
tersedia.
Sekolah Islam memiliki peluang untuk menggunakan data untuk meningkatkan pendidikan agama, tetapi juga harus mengatasi keterbatasan data yang tersedia.
10 Forecasting
Tools and
Techniques
(Alat dan
Teknik Peramalan)
Peramalan kebutuhan pendidikan agama.
Ketidakpastian dalam
peramalan.
Lembaga pendidikan agama Islam memiliki peluang untuk
meramalkan kebutuhan
pendidikan agama, tetapi juga harus menghadapi ketidakpastian dalam peramalan.
11 Industry
Analysis: The External Factor Evaluation (EFE) Matrix (Analisis
Industri:
Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (EFE))
Permintaan pendidikan agama meningkat.
Persaingan dengan sekolah umum.
Madrasah memiliki peluang untuk
meningkatkan layanan
pendidikan agama dengan meningkatnya permintaan, tetapi juga menghadapi persaingan dengan sekolah umum.
12 The
Competitive Profile Matrix (CPM)
(Matriks Profil Kompetitif)
Kualitas pendidikan agama yang tinggi.
Sumber daya
terbatas. Lembaga pendidikan agama Islam memiliki peluang untuk mempertahankan kualitas pendidikan agama yang tinggi, tetapi juga menghadapi
13 Assurance of Learning
Exercises (Latihan Jaminan
Identifikasi
potensi siswa. Perubahan kebijakan pendidikan.
Sebuah madrasah menggunakan latihan jaminan pembelajaran untuk mengidentifikasi potensi siswa, meskipun harus siap menghadapi perubahan kebijakan
Pembelajaran) pendidikan yang mungkin terjadi.
14 SPME (Sistem Pengetahuan Manajemen Eksternal)
Pemanfaatan informasi eksternal untuk perbaikan.
Ketidakpastian perubahan lingkungan eksternal.
Melalui penggunaan SPME, lembaga pendidikan agama Islam dapat memanfaatkan informasi eksternal untuk perbaikan, namun juga harus menghadapi ketidakpastian perubahan lingkungan eksternal.
VI. KESIMPULAN
Pengamatan dan penilaian yang dilakukan secara simultan terhadap lingkungan eksternal dan internal lembaga pendidikan memungkinkan para pengelola pendidikan mampu mengidentifikasi berbagai jenis peluang untuk merumuskan dan mengimplementasikan rencana pendidikan. Rancangan yang bersifat menyeluruh dapat dilakukan melalui proses tindakan yang dikenal sebagai manajemen strategik. Pencapain tujuan organisasi diperlukan alat yang berperansebagi ekselerator dan dinamisator sehingga tujuan dapat tercapaisecara efektif dan efesien. Demikan halnya dalam lembaga pendidikan yang merupakan sekumpulan manusia yang mempunyai tujuan untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara,sejalan dengan hal tersebut diyakini sebagai salah satu alat untukmencapai tesebut adalah menggunakan konsep manajemen strtaegik. Konsep manajemen strategik digunakan di dunia pendidikan untuk lebih mengefektifkan pengalokasian sumber daya yang adadalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Salah satu caranya adalahdengan menggunakan teknik analisis SWOT.
Faktor-faktor kekuatan dalam lembaga pendidikan adalah kompetensi khusus atau keunggulankeunggulan lain yang berakibat pada nilai plus atau keunggulan komparatif lembaga pendidikan tersebut.Hal ini bisa dilihat jika sebuah lembaga pendidikan harus memiliki skill atau keterampilan yang bisa disalurkan bagi perserta didik, lulusan terbaik/hasil andalan, maupun kelebihan-kelebihan lain yang membuatnya unggul bagi pesaing-pesaing serta dapat memuaskan steakholder maupun pelanggan (peserta didik, orang tua, masyarakat dan bangsa).
Adlini, Miza Nina, Dinda, Anisya Hanifa, Yulinda, Sarah, Chotimah, Octavia, & Merliyana, Sauda Julia.
(2022). Metode penelitian kualitatif studi pustaka. Edumaspul: Jurnal Pendidikan, 6(1), 974–
980, https://doi.org/10.33487/edumaspul.v6i1.3394, Retrieved from https://ummaspul.e- journal.id/maspuljr/article/view/3394.
Albab, Muhammad Ulil. (2022). Manajemen Strategik Peningkatan Mutu Pendidikan Agama Islam melalui Program Unggulan Tahfiz Al Qur’an di SD Miftahus Sa’adah Kudus. IAIN Kudus, Retrieved from http://repository.iainkudus.ac.id/6829/.
Anisa, C., & Rahmatullah, R. (2020). Visi dan misi menurut Fred R. David dalam perspektif pendidikan islam. Evaluasi: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 4(1), 70–87. Retrieved from https://e- journal.staima-alhikam.ac.id/evaluasi/article/view/356/pdf
Astari, A. R. N. (2021). Analisis Faktor Internal dan Faktor Eksternal Pengorganisasian Dalam Lembaga Pendidikan Islam. Al-Khair Journal: Management, Education, And Law, 1(1), 30–39.
Bali, MMEI, & Hajriyah, Hilya Banati. (2020). Modernisasi Pendidikan Agama Islam di Era Revolusi Industri 4.0. Momentum: Jurnal Sosial Dan Keagamaan, 9(1), 42–62, Retrieved from
https://risbang.unuja.ac.id/media/arsip/berkas_penelitian/94_j2avANS.p df.
Budiman, Tri. (2017). Analisis swot pada usaha kecil dan menengah (studi kasus pada percetakan paradise sekampung). IAIN Metro, Retrieved from https://repository.metrouniv.ac.id/id/eprint/2607/1/TRI%20BUDIMAN
%20-%201062864.pdf.
David, Fred R. (2011). Strategic management concepts and cases. Pearson, Retrieved from
https://ds.amu.edu.et/xmlui/bitstream/handle/123456789/9967/Fred
%20R.%20David-Strategic%20Management%2C%2013th%20Edition
%20%20%20%20-Prentice%20Hall
%20%282010%29%20%282%29.pdf?sequence=1&isAllowed=y.
Di Pratistha, Harsa Purwokerto, & Yohtae, Sameeroh. (N.D.). Evaluasi Analisis Swot Dalam Menetapkan Strategi Pengembangan Usaha Kuliner Perspektif Ekonomi Islam,
Retrievedhttps://repository.uinsaizu.ac.id/21475/1/Sameeroh
%20Yohtae_Evaluasi%20analisis%20SWOT%20dalam%20menetapkan
%20strategi%20pengembangan%20kuliner%20perspektif%20ekonomi
%20islam%20di%20pratistha%20harsa%20purwokerto.pdf.
di Pratistha, H. P., & Yohtae, S. (n.d.). Evaluasi Analisis SWOT dalam
Menetapkan Strategi Pengembangan Usaha Kuliner Perspektif Ekonomi Islam.
Erwinsyah, A., Ngiode, S., & Umar, J. (2023). Pengembangan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam IAIN Sultan Amai Gorontalo Melalui
Analisis SWOT. Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 11(2), 200–
219.
Hanan, Abdul. (2018). M Analisis Manajemen Strategik Kepala MTs Ishlahul Muslimin Senteluk Lombok Barat Perspektif SWOT. Manageria: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 3(1), 157–171, DOI:
https://doi.org/10.14421/manageria.2018.31-08, Retrieved from
https://ejournal.uin-suka.ac.id/tarbiyah/manageria/article/view/31- 08/1417.
Hidayah, Nur. (2022). Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam Swasta Berbasis Moderasi Beragama. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 10(02), Retrieved from
https://jurnal.staialhidayahbogor.ac.id/index.php/ei/article/view/
2361/1138.
Irwanto, Irwanto, Susrianingsih, Susrianingsih, Habibi, Habibi, & Ardat, Ardat.
(2023). Manajemen Lembaga Pendidikan Islam di Madrasah: Analisis Tentang Model dan Implementasinya. Fitrah: Journal of Islamic
Education, 4(1), 162–174 DOI: https://doi.org/10.53802/fitrah.v4i1.396, Retrieved from
https://jurnal.staisumatera-medan.ac.id/index.php/fitrah/article/view/
396/85.
Izudin, Ahmad. (2022). Analisis Perencanaan Kebijakan dan Pelayanan Sosial. Prenada Media,