TAFSI<R AHKAM DI INDONESIA
(Analisis Tafsi<r Al-Ahkam Abdul Halim Hasan )
Tesis
Diajukan kepada Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
Magister dalam Bidang Pengkajian Islam
Oleh:
Muhammad Muammar Alwi 21171200000120
Pembimbing
Dr. Yusuf Rahman, M.A
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2020
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat berupa kekuatan jasmani maupun rohani, sehingga tesis dengan judul “Tafsir Ahkam di Indonesia : Studi Kasus Tafsir Al-Ahkam Syekh Abdul Halim Hasan Binjai,” ini dapat terselesaikan sesuai yang diinginkan. Tesis ini ditulis dalam rangka memenuhi syarat untuk mendapatkan gelar Magister Kajian Islam di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penulis menyadari bahwa tesis ini selesai bukan hanya kerja keras penulis saja, melainkan juga melibatkan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak, baik secara moril maupun materil yang tidak mungkin dapat disebutkan satu persatu, akan tetapi kontribusi tersebut akan selalu menjadi kenangan dalam kebaikan selama roda kehidupan masih terus berjalan. Dari hati sanubari penulis ucapkan banyak terimaksih kepada berbagai pihak yang telah berkontribusi dalam menyelesaikan tugas akhir ini, semoga Allah SWT selalu melindungi serta memberikan kenikmatan kepada orang-orang yang telah berkontribusi dalam tesis ini.
Penghormatan dan penghargaan yang setulus-tulusnya dibarengin dengan ucapan terimakasih yang tidak terhingga, penulis ucapkan kepada :
1. Ibu Prof.Amany Burhanuddin Lubis, M.A selaku rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Prof. Phil. Asep Saepudin Jahar, M.A selaku Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Hamka Hasan M.A selaku Wakil Direktur, Arif Zamhari, M.Ag, Ph.D, selaku Ketua Program Magister, dan seluruh staf akademik, administrasi dan staf perpustakaan Sps UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang baik, ramah dan berdedikasi tinggi.
3. Dr. Yusuf Rahman, M.A, sebagai pembimbing yang telah meluangkan waktunya ditengah kesibukan sebagai dekan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan tidak pernah lelah dalam memberikan masukan serta pemahaman keilmuan dan juga penulisan, sehingga dapat terselesaikannya tesis ini sesuai yang diharapkan.
4. Orangtua saya bapak Alimuddin Spd.I dan Ibu saya Suwarni, yang telah membesarkan saya sampai saat ini, dan selalu senantiasa mendo’akan, memberikan semangat, serta memberikan bantuan baik itu secara moral maupun material kepada penulis. Dan tidak lupa juga kepada kepada kedua saudara kandung saya Iswahyudi S.Kom dan Prada. Muhammad Reza Alwi 5. Keluarga besar Almarhum Syekh Abdul Halim Hasan Binjai, yang telah bersedia memberikan informasi pejalanan hidup Syekh Abdul Halim Hasan Binjai
6. Dr. Azhari Akmal Tarigan M.A, sebagai editor tafsir Al-Ahkam, yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan informasi terkait sejarah penulisan tafsir Al-Ahkam yang ditulis oleh Syekh Abdul Halim Hasan Binjai.
7. Dr. Ziaulhaq, M.A, yang selalu meluangkan waktunya dalam memberikan masukan serta memantau perkembangan penulisan tesis saya hingga akhir penulisan.
ii
8. Teman-teman kampus, kakak Noblana Adib, Indah Kartika, Restia Gustiana, Aam Aminah, dan abang Mardian Idris, Fauzan Arrasyid, Luthfi Chakim, dan Afifuddin. Dan tidak lupa juga kepada teman satu daerah saya Muhammad Nasir.
Demikianlah tentunya dalam penulisan tesis ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu saran dan kritik kontruktif senantiasa penulis harapkan demi kesempurnaan tesis ini. Semoga karya tulis ini berguna dan bermanfaat bagi penulis dan pembaca.
Jakarta, 2020
Penulis,
Muhammad Muammar Alwi
iv
LEMBARAN PLAGIARISME
vii ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan metodologi Tafsir Al-Ahkam yang ditulis oleh Abdul Halim Hasan Binjai dalam menafsirkan ayat-ayat hukum dalam al- Qur’an. Kajian ini merumuskan metodologi dalam memahami ayat-ayat hukum baik itu dalam bidang ibadah maupun mu’amalah, agar ke depannya ayat-ayat hukum tidak ditafsirkan secara tendensius dan parsial.
Metode dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif-analisis, yaitu sebuah metode yang berupaya menggambarkan apa yang menjadi objek penelitian yaitu tafsir al-ahkam. Selanjutnya, tafsir al-ahkam dianalisis melalui pengumpulan data dan sampel yang sudah ada. Dengan kata lain, penelitian ini fokus kepada masalah-masalah yang ada ketika penelitian berlangsung. Keseluruhan data-data dalam penelitian ini merupakan bahan kepustakaan yang tertulis atau dikenal dengan library research (penelian kepustakaan), baik itu berupa buku, laporan hasil penelitian, makalah-makalah, jurnal ilmiah dan yang berkenaan dengan penelitian.
Selanjutnya untuk meneliti penafsiran Abdul Halim, maka digunakan pendekatan tafsir maudhu’i, yaitu dengan mengklasifikasikan terlebih dahulu ayat-ayat sesuai tema, untuk melihat pendekatan yang dipakai ketika menafsirkan ayat-ayat hukum tersebut.
Temuan penelitian ini menunjukan bahwa, penafsiran Syekh Abdul Halim Hasan Binjai terhadap ayat-ayat hukum menggunakan metode tafsir dengan pendekatan tafsir bil ma’tsur, sehingga menghasilkan penafsiran yang cenderung tekstual.
Penafsiran ini hanya bergerak dari refleksi (teks) ke praksis (konteks), yang bergerak hanya pada teks saja, dan mengabaikan sisi konteksnya. Namun penafsiran ayat-ayat hukum Abdul Halim bukanlah bagian dari penafsiran yang fanatik kepada mazhab tertentu, seperti mufasir ayat hukum lainnya yaitu, Al-Qurthubi yang cenderung pada mazhab Maliki, Al-Jashash bermazhab Hanafi, dan al-Kayaharasi bermazhab Syafi’i, sehingga terlihat adanya unsur subjektivitas dalam penafsiran mereka. Maka dari itu kesimpulan dari penelitian ini adalah, penafsiran ayat hukum yang cenderung tekstual, dengan menggunakan perbandingan mazhab dalam tafsirnya, akan menghasilkan penafsiran ayat hukum yang luwes, tidak rigid dan eksklusif, serta kordial terhadap berbagai mazhab.
Hasil penelitian ini, tidak sepakat dengan Abdullah Saeed (2005, 2006, 2006a, 2014), Nasr Hamid Abu Zayd (1994, 1994a), Hasan Hanafi (1994, 1995, 2005), Yang mengemukakan bahwa, penafsiran yang cenderung tekstual akan menghasilkan sebuah penafsiran yang rigid, eksklusif dan sektarian, kontradiktif serta diskriminatif terhadap satu kelompok. Penelitian ini sepakat dengan, Ibn Uthaymin (2001), al- Albani (2007), dan Ayyub al-Kibsi (2009), yang mengatakan bahwa penafsiran secara tekstual adalah penafsiran yang paling otoritatif dan baik dalam menjelaskan ayat al- Qur’an.
Kata Kunci: Tafsi>r Ah{kam, Syeikh Abdul Halim Hasan, Ayat Hukum, Identitas Tafsir,Metode Tafsir dan Tahlili
viii ABSTRACT
This study aims to explain the methodology of Al-Ahkam's interpretation written by Abdul Halim Hasan Binjai in interpreting the legal verses in the Qur'an. This study formulates a methodology in understanding the legal verses both in the field of worship and social interaction, so that in the future the legal verses are not interpreted tendently and partially.
The method in this study uses the descriptive-analysis method which is a method that seeks to describe the Al-Ahkam's interpretation the object of this research.
Afterward, the the Al-Ahkam's interpretation is analyzed through the collection of existing data and samples. In other words, this research focuses on the problems that exist when the research takes place. The entire data in this study is from literatures or known as library research such as in the form of books, research reports, papers, scientific journals and others books related to this research. Furthermore to examine Abdul Halim's interpretation uses the thematic interpretation approach. Primary, the researcher classify the verses according to the theme to see the approach he used when interpreting the verses of the law.
The findings of this study indicate the interpretation of Sheikh Abdul Halim Hasan Binjai to the legal verses using an approach the history interpretation
therefore produces the interpretations that tend to be textual.This interpretation only moves from reflection (text) to praxis (context), which moves only to the text, and ignores the context. Nonetheless, the interpretation of Abdul Halim's legal verses is not part of a fanatical interpretation of a particular school. For example, other legal verses, namely Al-Qurthubi which tend to Maliki school, Al-Jashash with Hanafi school, and al-Kayaharasi with Shafi'ite school. So that in their interpretation seen an element of subjectivity. Subsequently, the conclusion of this research is the interpretation of legal texts that tend to be textual by using a comparison of schools in their interpretation will result in a flexible interpretation of the legal verses, not rigid and exclusive, and cordial to various schools.
The results of this study, do not agree with Abdullah Saeed (2005, 2006, 2006a, 2014), Nasr Hamid Abu Zayd (1994, 1994a), Hasan Hanafi (1994, 1995, 2005), which suggests that, interpretation which tends to be textual will produce a rigid, exclusive and sectarian, contradictory and discriminatory interpretation of one group. This study agrees with, Ibn Uthaymin (2001), al-Albani (2007), dan Ayyub al-Kibsi (2009), who say that textual interpretation is the most authoritative interpretation in explaining the verses of the Qur'an.
Keywords: tafsi>r Al-Ah{ka>m, Abdul Halim Hasan, Legal Verse, Interpretation Identity, Interpretation Method and Tahlili
ix
ثحبلا صخلم
جهنم حرش ىلإ ثحبلا اذه فدهي لا
يسفت يف ياجنب نسح ميلحلا دبع اهبتك يتلا ماكحلأا تايلآ ريسفت ر
.ميركلا نآرقلا يف ماكحلأا تايآ ثحبلا اذه عضو
ةدابعلا لاجم يف ماكحلأا تايآ مهف يف ةيجهنم
نم ةقيرطب لبقتسملا يف ماكحلأا تايآ ريسفت متي لا يكل ، ةلماعملاو .ةيئزجو ةفرح
عوضوم وه ام فصول ىعسي يذلا بولسلأا وهو ،يفصولا ليلحتلا ةقيرطب ثحبلا اذهل جهنملا ناكو .ةرفوتملا تانيعلاو تانايبلا عمجب ماكحلأا تايآ ريسفت ليلحت متيو .ماكحلأا تايآ ريسفت هنإ لاأ ثحبلا
حبلل عنصلا ءانثأ ةدوجوملا لئاسملا ىلع ثحبلا اذه زكري نيح ىلع ه يف ةلوانتملا تانايبلا نإ .ث
اذ
ةيثحبلا ريراقت و بتكلاك ةبوتكملا قئاثولا نم اهلك ثحبلا ,
قلعتي امم ىرخأو تلاجملاو ةيملعلا قارولأاو
ريسفت ثحبل يعوضوملا ريسفتلا جهنم مادختسا مث .ةبتكملا يف ثحبلا نم عونب فرعت ثيح ثحبلاب ضوملا بسح تايلآا فينصتب كلذو ،ميلحلا دبع تايلآا ريسفت يف مدختسملا جهنلا ةفرعمل ،ًلاوأ عو
.نآرقلا يف ةيمكحلا ةيعيرشتلا تايلآل ياجنب نسح ميلحلا دبع خيشلا ريسفت جهنم نأب ثحبلا جئاتن رهظتو ف
نآرقلا ي
اذه جهنم لقتنيو .اًيصن اريسفت نوكي نأ ىلإ ريسفتلا ليمي ثيحب ريسفتلا روثأملاب ريسفتلا جهنمربتعي ريسفتلا عمو .قايسلا لامهم ، طقف صنلاب لاماع هنوكتل ،طقف )قايسلا( ّيلعفلا ىلإ )صنلا( يرّوصتلا نم ،صاخلا بهذملا ضعبل بصعتملا ريسفتلا نم اًءزج سيل ماكحلأا تايلآ ميلحلا دبع ريسفت نإف ، كلذ
،يكلاملا بهذملا ىلإ ليمت يتلا يبطرقلا لثم ةيمكحلا تايلآل رخلأا نيريسفملا فلاخب و
صاصجلا
ىلإ كلذ ىدؤيو هتلكاش ىلع لك ،يعفاشلا يسارهلا ايكلا ، يفنحلا .اهريسفت يف ةيتاذلا رصانعلا لكشت
جهنم ىلإ ليمت يتلا ماكحلأا تايآ ريسفت نأ يه ثحبلا اذه اهيلإ لصوت يتلا ةصلاخلا نإف مث نمو آ ريسفت نوكت ىلإ يدؤيس ،بهاذملا ةنراقم مادختسا عم ،يصنلا ريسفلا نرملا ةيعرشلا ماكحلأا تاي
ريغ ة
ىتس بهاذملاب فطلتو يرصحو ددشت .
( ديعس هللا دبع رظن ةهجو عم ثحبلا اذه ةجيتن قفتتلا 5002
، 5002 ، 5002 ، أ 5002 )
( ديز وبأ دماح رصن ، 0992
، 0992 ( يفنح نسح ، )أ 0992
، 0992 ، 5002 نولئاقلا ، )
لا ريسفتلا ىلإ ليمي يذلا ريسفتلا نأب يصن
هيلع بترتي فئاطلاو يرصحلاو مراصلا ريسفتلا
ضقانتملا ي
نبا عم ثحبلا ةجيتن قفتتو .ام ةعومجمل يزييمتلاو نيميثع نبا
( 5000 )
ينابللأا نيدلا رصان
2007) )
يسيبكلا بويأ
(2009) نودكؤملا
نآرقلا تايآ حرش يف ةيقوثوم رثكلأا ريسفتلا وه يصنلا ريسفتلا نأب .
تاملكلا :ةلادلا
جهنم ،ريسفتلا عون ،ماكحلأا تايآ ،نسح ميلحلا دبع خيش ،ماكحلأا تايآ ريسفت
يليلحتلاو ريسفتلا
.
xi
PEDOMAN TRANSLITERASI
Pedoman transliterasi Arab-Latin yang digunakan dalam penelitian ini adalah ALA-LC ROMANIZATION tables yaitu sebagai berikut:
A. Konsonan
Initial Romanization Initial Romanization
ا A ض D{
ب B ط Ţ
ت T ظ Z{
ث Th ع ‘
ج J غ Gh
ح H{ ف F
خ Kh ق Q
د D ك K
ذ Dh ل L
ر R م M
ز Z ن N
س S ة،ه H
ش Sh و W
ص S{ ي Y
B. Vokal
1. Vokal Tunggal
Tanda Nama Huruf Latin Nama
َ Fatḥah A A
xii
َ Kasrah I I
َ Ḑammah U U
2. Vokal Rangkap
Tanda Nama Gabungan Huruf Nama
ي ... َ Fatḥah dan ya Ai A dan I
و ... َ Fatḥah dan wau Au A da U
Contoh:
نيسح: H{usain لوح: H{aul
C. Vokal Panjang
Tanda Nama Gabungan Huruf Nama
اــ Fatḥah dan alif a> a dan garis di atas
يـ ـ Kasrah dan ya Ī I dan garis di atas
و ــ Ḑamah dan wau Ū u dan garis di atas
D. Ta’ Marbūţah.
Transliterasi ta’ marbūţah (ة) di akhir kata, bila dimatikan ditulis h.
Contoh:
ةأرم : Mar’ah ةسردم: Madrasah
(ketentuan ini tidak digunakan terhadap kata-kata Arab yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia seperti shalat, zakat dan sebagainya, kecuali dikehendaki lafadz aslinya)
E. Shiddah
Shiddah/Tashdīd di transliterasi ini dilambangkan dengan huruf, yaitu huruf yang sama dengan huruf bershaddah itu.
Contoh:
انّبر: Rabbana> لا ّوش: Shawwa>l F. Kata Sandang Alif + La>m
Apabila diikuti dengan huruf qamariyah, ditulis al.
Contoh: ملقلا : al-Qalam
xiii DAFAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ... iii
LEMBARAN PLAGIARISME ... iv
ABSTRAK ... v
PEDOMAN TRANSLITERASI ... xi
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 8
C. Perumusan Masalah ... 9
D. Pembatasan Masalah ... 9
E. Tujuan Penelitian ... 9
F. Signifikansi dan Manfaat ... 10
G. Kajian Terdahulu yang Relevan ... 10
H. Metode Penelitian ... 14
I. Sistematika Penulisan ... 16
BAB II : PENDEKATAN PENAFSIRAN AL-QUR’AN ... 17
A. Pola Penafsiran: Antara Teks dan Realitas ... 17
B. Pendekatan Penafsiran ... 23
C. Subjektifitas Penafsiran ... 34
BAB III : PERKEMBANGAN INTELEKTUAL SYEKH H.ABDUL HALIM HASAN BINJAI ... 39
A. Biografi Abdul Halim Hasan ... 39
B. KaryaTulis Abdul Halim Hasan ... 41
C. Aktivisme dan Karir Abdul Halim Hasan ... 43
BAB IV ... 49
METODOLOGI DAN APLIKASI PENAFSIRAN TAFSIR AL-AHKAM ... 49
xiv
SYEKH ABDUL HALIM HASAN BINJAI ... 49
A. Gambaran Umum ... 49
B. Metodologi Penafsiran ... 51
1. Metode ... 51
2. Sumber... 54
3. Bentuk dan Corak Penafsiran ... 60
C. Penafsiran Syekh Abdul Halim Hasan Binjai ... 62
1. Penafsiran Ayat-Ayat Ibadah ... 63
a. Salat Qasar... 63
b. Hukum Menghadap Kiblat dalam Salat ... 66
c. Wanita Haid ... 71
2. Penafsiran Ayat-Ayat Mu’amalah ... 77
a. Poligami ... 77
b. Menikah Lintas Agama ... 83
c. Laki-Laki Mengatur Perempuan ... 91
BAB V : PENUTUP ... 97
A. Kesimpulan ... 97
B. Saran-saran ... 97
DAFTAR PUSTAKA ... 99
GLOSARIUM ... 105
INDEKS ... 108
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 110
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an merupakan sumber primer ajaran Islam, di dalamnya termuat doktrin sebagai petunjuk bagi kehidupan yang bersifat global membutuhkan upaya penafsiran untuk memahaminya. Sisi lainnya, al-Qur’an sebagai teks tertulis berisikan tentang panduan yang menjadi referensi supaya manusia terhindari dari segala hal yang dapat merugikannya.1 Eksistensi al-Qur’an sebagai petunjuk karena memberikan pedoman hidup untuk mencapai sebuah kebahagiaan di dunia dan sekaligus akhirat. Pedoman ini berupa ajaran akidah, ibadah, mu‘amalah, dan sebagainya.2 Dalam menjelaskan, dan memahami itu semua dibutuhkan penafsiran terhadap ayat al-Qur’an yang bersifat umum (ijmal) karena untuk mengerti makna sebuah ayat al-Qur’an yang terkandung di dalamnya tidak semua umat Islam dapat memahaminya dengan mudah, terlebih al-Qur’an memiliki peran penting dalam kehidupan manusia sebagai referensi dalam kehidupan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut al-Qur’an yang pada umumnya berisikan seperangkat konsep dan prinsip yang belum terjabarkan dan dioperasionalkan agar mudah diaplikasikan dalam kehidupan. Dalam konteks ini, kehadiran sebuah tafsir sangat dibutuhkan, mengingat sifat redaksinya sebuah ayat al-Qur’an yang beragam, ada yang jelas dan juga ada yang terperinci, dan ada juga sebagian lainnya yang global dan juga samar.3
Al-Qur’an diturunkan kepada nabi Muhammad Saw termasuk di dalamnya ayat- ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan hukum, baik yang berkenaan dengan ibadah di dunia maupun di akhirat.4 Kegiatan penafsiran al-Qur’an sudah dimulai sejak nabi Muhammad Saw masih hidup. Pada saat itu Nabi menjadi sosok sentral menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, sebab Nabi sendiri merupakan sosok penerima wahyu pertama.
Untuk itu tidak sulit bagi para sahabat mendapatkan makna atau maksud dari ayat al-Qur’an tersebut, sebab mereka bisa bertanya langsung kepada Nabi sebagai penerima wahyu pertama, jika ada ayat yang kurang dimengerti oleh para sahabat.
Akan tetapi, tatkala Nabi wafat, para sahabat mendapatkan beberapa masalah yang belum pernah mereka temui ketika mereka masih bersama beliau khususnya dalam permasalahan hukum. Ketika ini terjadi, maka mereka akan merujuk pada sumber hukum Islam utama yaitu al-Qur’an, dan jika mereka tidak menemukannya, maka mereka akan merujuknya kepada as-sunnah.5 Penafsiran yang dilakukan oleh para sahabat inipun disebut dengan penafsiran bil ma’tsur. Tasfir ini mendasarkan
1Manna>‘ Kha>lil al-Qat}t}an, Maba>h}ith fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n (Beirut: Da>r al-Qalam, 1988), 5.
2Mah{mu>d Shaltu>t, al-Isla>m ‘Aqidah wa Shari‘ah (Qahirah: Da>r al-Shuruq, 2001), 3.
3Jala>l al-Di>n al-Suyut}i>, Itqan fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n (al-Qahirah: Da>r al-H{adith, 2004), 24, SubhīS{alih{, Maba<h}ith fī>‘Ulu>m al-Qur’ān (Beirut: Dār ‘Ilm Malayin, 1977), 290, M.
Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 1996), 59.
4Muhammad Husein Adh-Dhahabi, At-Tafsi>r wal Mufassiru>n, (Kairo : Da>r al-Kutu>b al-Hadi>tsah, 2005), h. 319
5 Adh-Dhahabi>, al-Mufassiru>n, h. 319.
2
pembahasannya dan sumbernya kepada periwayatan-periwayatan Nabi. Cara inilah kemudian dikenal dengan sebuah tariqah penafsiran al-Qur’an yang disebut dengan tariqah riwayah.6
Jika dilihat perkembangan tafsir hukum pada masa nabi hingga tabi’in yang berakhir dengan perbedaan pendapat antara sahabat dalam memahami ayat al- Qur’an, disebabkan karena keumuman atau khususan suatu ayat,7 sudut pandang dalam memahami ayat, perbedaan qiraat, atau perbedaan satu kata dalam ayat-ayat hukum yang bermakna ganda.8
Dalam sejarah penafsiran di Indonesia, Ayat-ayat hukum pada mulanya terintegrasi dalam penafsiran al-Quran secara keseluruhan, pada masa itu belum ada pemisahan antara ayat-ayat hukum dengan ayat sains misalnya. Para ulama umumnya akan menafsirkan ayat sesuai dengan “semangat ayat” itu sendiri, ayat-ayat yang bernuansa tauhid atau teologis akan ditafsirkan dengan menggunakan corak teologis, dan ayat-ayat hukum akan ditafsirkan dengan menggunakan corak hukum.9
Untuk mengerti atas ayat al-Qur’an yang bersifat umum dibutuhkan tafsir yang mampu menjelaskan apa yang ada di dalamnya ayat tersebut. Dalam kaitan ini dalam pengalaman Indonesia upaya memperkenalkan dan merumuskan tafsir telah dilakukan setidaknya dimulai pada abad 17 hingga 20 hingga saat sekarang, hal ini dapat kita lihat yang dimulai dari sebuah karya ‘Abd al-Ra’uf Singkel dengan tafsir yang cukup terkenal berujud Tarjuman al-Mustafid dalam tulisan Arab Melayu hingga Tafsir Rahmat karya H. Oemar Bakry yang berupaya menafsirkan ayat al- Qur’an sesuai dengan semangat modern.10
Nashruddin Baidan mengatakan terkait dengan pemetaan perkembangan tafsir al-Qur’an, bahwa pada mulanya penafsiran tidak mengacu pada corak atau metode penafsiran ayat al-Qur’an tertentu. Artinya bahwa penafsiran dilakukan secara keseluruhan bersamaan dengan bidang lainnya, seperti tasawuf, fikih dan teologi.
Penyajian tafsir juga dilakukan secara praktis dalam bentuk amalan hari-hari, dan tidak dalam kajian teoritis konseptual.11 Sebagaimana yang telah diklasifikasikan
6Subhi Shaleh, Maba>hits fi ‘Ulu>m al-Qur,a>n, (Beirut : Da>r al-Ilmi, 1997), h. 291
7Lihat misalnya dalam pembagian hak waris antara Ibn ,Abbas dan Zaid bin Thabit, dalam hal ini Ibnu Abbas berpendapat bahwa, untuk suami setengah dari harta yang ditinggalkan, untuk ibu sepertiga dan ayah sisa dari pembagian harta waris, sedangkan Zaid bin Tsabit, untuk istri sepertiga hasil dari pembagian wajib untuk suami, Adh-Dhahabi>, al- Mufassiru>n, h. 320
8Perbedaan itu misalnya dalam hal batalnya wudhu’ berdasarkan pemahaman kata
“aw lamastumun nisa” apakah berarti menyentuh atau berjima’. Tentang praktek wudhu’
dalam surat al-Maidah ayat 6, apakah kaki dicuci atau diusap. Lihat lebih jelas misalnya : Mustafa Said, Athar al Ikhtilaf fi al Qawa’id al Ushuliyyah fi Ikhtilafi alnFuqaha’, (Syria : Muassah ar Rissalah, 1985), cet. 4, h. 38
9Azhari Akmal Tarigan, “Reorientasi Kajian Tafsir Ahkam di Indonesia dan Peluang Pengembangannya,” Jurnal Syariah, vol. 6, no. 2, h. 102.
10Abdullah Saeed, “Introduction: the Qur’an, Interpretation and the Indonesian Context”, Abdullah Saeed, ed., Approaches to the Qur’an Contemporary Indonesia (London:
Oxford University, 2005), h. 4.
11Nashruddin Baidan, Perkembangan Tafsir Al-Qur’an di Indonesia¸ (Solo : Pustaka Mandiri, 2002). h. 33
3
oleh Nashruddin Baidan, ia membagi perkembangan tafsir al-Qur’an di Indonesia kepada empat bagian, periode klasik (abad VIII-XV M), periode tengah (abad XVI- XVIII M), periode pramodern (abad XIX) dan periode modern (abad XX), ia mengatakan bahwa periode klasik pembelajaran tafsir al-Qur’an masih bergantung pada kitab tafsir al-Qur’an yang datang dari Timur Tengah, seperti Tafsir al-Jalalain. Sedangkan pada periode pertengahan sudah muncul penafsiran yang dihasilkan oleh mufasir Indonesia, seperti Hamzah Fansuri, Nawawi Banteni dan ‘Abd al-Ra’uf Singkel, namun penafsiran ini masih dalam bentuk Arab-Melayu. Pada periode modern yaitu abad-XX, penafsiran al-Qur’an di Indonesia mengalami perkembangan, hal ini ditandai dengan telah terbitnya penafsiran al-qur’an yang berbahasa Indonesia.12 Pada periode ini juga penafsiran al-Qur’an di Indonesia sudah memulai mengenalkan pemikiran-pemikiran ulama Indonesia diantaranya adalah Mahmud Yunus, ketika ia menafsirkan surat an-Nur ayat : 31, dalam tafsirnya ia mengatakan
“Disini ada suatu pikiran orang alim di Indoensia, bahwa suruhan menutup kepala itu adalah suruhan tentang peradaban pakaian perempuan yang ada di tanab Arab. Oleh karena itu, suruhan itu adalah suruhan sunnah bukan wajib.”
Berbeda dengan Howard M. Federspie; yang memfokuskan kajiannya terhadap perkembangan tafsir al-Qur’an di Indonesia Abad-20, Menurutnya terkait dengan pemetaan perkembangan tafsir dan penerjemahan al-Qur’an di Indonesia pada abad- 20, dia membaginya kepada tiga generasi. Generasi pertama dimulai pada tahun 1901 sampai dengan 1960. Generasi kedua , yaitu pada pertengah tahun 1960-an.
Sedangkan generasi ketiga, dimulai pada tahun1970-an. Menurutnya, dalam kurun waktu tiga generasi di atas, mufasir di Indonesia telah banyak menghasilkan sebuah penerjemahan dan penafsiran dengan menggunakan bahasa Indonesia itu sendiri.13
lanjutnya, Federspiel mengatakan, generasi pertama dimulai dari proses penerjemahan dan penafsiran dilakukan secara terpisah, tidak lengkap karena hanya memilih beberapa pilihan surah, atau juz saja dari al-Qur’an. Sedangkan generasi kedua upaya penerjemahan dan penafsiran terlihat dilakukan lebih utuh dari sebelumnya, sebab sudah dilakukan dari awal surah hingga akhir surah, atau dari permulaan juz pertama hingga selesai. Kemudian, dilengkapi dengan berbagai tafsiran ayat-ayat yang dianggap penting secara ringkas. Untuk generagi ketiga, upaya terjemahan dan penafsiran dilakukan secara baik dan lengkap yang juga direlevankan dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.14 Dalam perkembangannya, tafsir al-Qur’an berbahasa Indonesia untuk pertama kali ditulis oleh Mahmud Yunus.15 Tafsir yang ditulis Yunus ini merupakan tafsir yang lahir pada abad dua puluh. Menurut Mahmud Yunus dalam kata pengantar tafsirnya, menyebutkan bahwa proses penulisan tafsir tersebut dimulai pada November 1922.
Penulisannya dilakukan secara bertahap, tetapi konsisten, yaitu dimulai dengan per- juz hinggaa sampai pada juz ketiga. Sedangkan untuk selanjutnya, juz keempat
12Baidan, Perkembangan Tafsir Al-Qur’an di Indonesia, h. 31-91
13Howard M. Federspiel, Popular Indonesian Literature of the Qur’an (Ithaca, New York: Cornell Modern Indonesian Project, 1994), 129.
14Federspiel, Popular, 130.
15M. Yunan Yusuf, “Karakteristik Tafsir al-Qur’an di Indonesia Abad ke XX”, Jurnal Ulumul Qur’an, 3 (4), 1992, 51.
4
dilanjutkan oleh H. Ilyas Muhammad Ali dibawah bimbingan langsung oleh Yunus.16 Setelah tafsir al-Qur’an bahasa Indonesia yang ditulis oleh Mahmud Yunus kemudian ditemukan juga tafsir al-Qur’an ditulis oleh A. Hasan, tafsir ini diberi judul al-Furqan Tafsir al-Qur’an. Dalam perkembangan selanjutnya kemudian dikenal tafsir yang populer disebut dengan “Tafsir Ulama Tiga Serangkai” yang ditulis ole tiga orang ulama asal Sumatera Utara, dulu Sumatera Timur, yaitu Syeikh H. Abdul Halim Hasan17, Zainal Arifin Abbas dan Abdurrahim Haitami. Untuk selanjutnya, tepatnya pada tahun 1958 muncullah Hamka yang luas dikenal sebagai ulama, dan sekaligus juga sastrawan, ia mulai proses penuliusan tafsirnya berkaitan dengan kegiatan pengajian penafsiran al-Qur’an, yang dilakukan setiap selesai subuh berjamaah di Masjid al-Azhar, Kebayoran Baru Jakarta, tafsir ini dimulai dari Q.S. al-Kahfi, juz 15.18 Hamka memberi nama tafsir ini dengan sebutan “Tafsir al-Azhar”. Saat bersamaan muncullah dua tafsir dari seorang ahli hadis dan fikih terkemuka berdarah Aceh, yaitu T. M. Hasbi Ash Shiddieqy, ia menulis dua tafsir yang kemudian diberi judul “Tafsir al-Qur’an al-Majid an-Nur”,.Tafsir ini pertama kali dicetak pada tahun 1956, dan kedua “Tafsir al-Qur’an al-Bayan” dicetak sekita tahun 1971. Penerbitan tafsir kedua ini karena ketidakpuasan Hasby terhadap karya tafsir pertamanya karena dianggap belum mampu menjelaskan secara mendalam, maka tafsir kedua lebih terperinci dibanding pertama.19
Islah Gusmian dalam kajiannya terhadap perkembangan tafsir al-Qur’an di Indonesia, ia mengatakan bahwa penulisan tafsir al-Qur’an dengan latar belakang keilmuan dan sosial yang berbeda, akan menghasilkan ragam identitas. Identitas itu ia bagi menjadi lima : diantaranya, identitas dengan keulamaannya, sosial- cendikiawan-akademisi, identitas sastrawan-budayawan, identitas sosial birokrat, dan identitas sosial politikus. Hal ini sudah keliatan sejak masa penafsiran yang dilakukan oleh Abdul Ra’uf al-Sinkili hingga Oemar Bakry. Selain itu dengan ragam budaya dan kebutuhan yang mengitarinya, menjadikan penafsiran al-Qur’an di Indonesia ditulis dengan bahasa dan aksara yang beragam juga.20
Hasil penelitian Gusmian juga mengatakan bahwa, penafsiran yang ditulis oleh mufasir Indonesia juga mengalami perjalanan yang dinamis, yang bersifat dialektis.
Tidak hanya berhenti pada pembacaan teks al-Qur’an saja, namun para mufasir merangkaikan penafsirannya dengan pembacaan terhadap realitas sosial dan politik, dimana penafsiran itu dilakukan.21
16Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim (Jakarta: Pustaka Mahmudiyah, 1957), vii- iii.
17Syeikh H. Abdul Halim Hasan Binjai, lahir pada tanggal 15 Mei 1901 di Binjai Sumatera Utara, diumurnya yang ke 7 tahun mulai belajar ilmu agama pada beberapa ulama Binjai, antara lain, H.Abdullah Samah dan H.Abdullah Umar Kadhi, beliau wafat di Rumah Sakit PNP II Bangkatan Binjai, tepat tanggal 15 November 1969.
18Hamka, Tafsir al-Azhar, 1 (Jakarta: Pembina Masa, 1967), 41.
19T. M. Hasbi Ash Shiddieqy Tafsir al-Qur’an al-Bayan, (Bandung: Alma’rif, 1971),1-2.
20Islah Gusmian, “Tafsir al-Qur’an di Indonesia : Sejarah dan Dinamika”, dalam Nun, Vol. 1, No. 1, 2015. h. 16-19
21Gusmian, “Tafsir al-Qur’an di Indonesia : Sejarah dan Dinamika”, h. 23
5
Menurut M. Yunan Yusuf, sedikitnya terdapat dua corak teologi dalam penafsiran al-Qur’an di Indonesia, yakni teologi liberal dan teologi tradisional.
Teologi liberal mempunyai ciri memberikan daya yang kuat pada akal sehingga dalam memahami ayat-ayat al-Quran lebih banyak memakai penafsiran majazi atau metaforis. Sebaliknya, aliran teologi tradisional memberikan daya yang kurang kuat pada akal, lebih banyak berpegang arti lafzi atau harfiah ketika menafsirkan al-Quran.
Sedangkan dari segi teknik penafsiran, terdapat dua tehnik penafsiran di Indonesia, yang pertama meyajikan arti ayat kemudian memberikan penafisran secara global dan yang kedua adalah menyajikan arti ayat, memberikan penjelasan panjang lebar kemudian disamping itu diberikan arti kata yang terdapat dalam ayat itu. Dan menurut M.Yunan Yusuf bahwa penafsiran al Quran di Indonesia abad XX masih bersifat tradisional, buktinya adalah masih banyaknya memberikan penafsiran secara harfiah atas ayat-ayat mutasyabihat.22
Dari pemaparan dikemukan, dapat dilihat bahwa\, setiap mufasir mempunyai karakteristik penafsiran ayat al-Quran tersendiri. Karakteristik ini tampak jelas ketika adanya upaya pemilahan fase tertentu dalam kurun waktu antar mufasirin Indoneaia. Dalam menafsirkan para ulama disebut tidak bisa terlepas dari situasi sosial yang dihadapi pada masa itu dengan segala tantangan yang ada. Tafsir pada abad pertama kemunculan Islam berbeda dengan gaya penafsiran mufasir yang hidup pada masa modern. Bisa dilihat dari kota tempat tinggal mufasir tersebut, sehingga penafsiran yang diproduk oleh ulama disatu kota dengan kota lain bisa berbeda. Pada awal mula abad XX, penafsiran ayat-ayat hukum mulai terlihat dinamis, para mufassir sudah tidak lagi terpaku oleh pendapat mufassir atau mazhab tertentu, seperti yang telah dilakukan oleh mufassir Indonesia sendiri diantaranya adalah, Hasbi Ash Shiddiqie, Hamka, dan juga Abdul Halim Hasan.
Dari sekian banyak tafsir yang terbit di Indonesia, yang menjadi perhatian penulis adalah karya Syeikh H. Abdul Halim Hasan Binjai (1901-1969 M). Seorang ulama yang berasal dari Binjai Sumatera Utara yang memiliki dua kitab tafsir, salah satunya adalah “Tafsir Ahkam”, yang terbit sekitar abad XX. Abdul Halim merupakan seorang ulama yang cukup berpengaruh di Sumatera Utara. Terbukti bahwa posisinya yang menjadi tokoh di dua ormas, yakni Muhammadiyah dan al- Jam’iyatul Washliyah sekaligus merupakan sebuah posisi yang tidak lazim pada masanya.23 Kedua ormas ini sangat berpengaruh dalam pola pikir umat Islam di Indonesia, termasuk Sumatera Utara. Menurut Azhari Akmal Tarigan,24 ketokohannya di dalam dua ormas ini bahwa, seorang Abdul Halim disamping dia adalah seorang mufasir, dia adalah salah satu pejuang dari kota rambutan (Binjai) dan dia salah seorang ulama fakih yang cukup matang dengan ilmunya. Itu terbukti dalam
22Yusuf, “Karakteristik Tafsir al-Qur’an di Indonesia Abad Kedua Puluh”, Jurnal Ulumul Qur’an, Vol. 3, No. 4, 1992, h. 50-60.
23Basyral Hamidy Harahap, Syekh Abdul Halim Hasan dan Perubahan Sosial, Prolog Tafsir Ahkam”, Syek H. Abdul Halim Hasan, Tafsir Ahkam (Jakarta : Kencana Pranada Group, 2006), Iii.
24Abdul Halim Hasan, Tafsir Ahkam, (Jakarta : Kencana, 2006), ix.
6
tulisannya tentang hukum Islam yang dimuat di Majalah al-Islam dan kitab Tafsi>rAh{ka>m.25
Sebelum Tafsir Ahkam ini diterbitkan Abdul Halim sebelumnya mempunyai kitab tafsir sebagaimana disebut sebelumnya yang dikenal dengan namaTafsir al- Quranul Karim Tiga Serangkai. Penulisan Tafsir al-Qur’an al-Karim ini dimulai awal ramadhan 1355 H di Binjai. Tafsir ini terbit sebulan sekali dalam bentuk majalah 20 halaman dan penerbitan pertamanya dimulai April 1937. Pada akhir 1941 menjelang pendudukan Jepang dan perang Dunia II, akhirnya penerbitan tafsir ini dihentikan karena kertas tidak masuk lagi dari Eropa dan Amerika. Sampai akhir 1941 tafsir ini baru selesai sampai JuzVII.26
Untuk kepentingan penelitian ini penulis membatasinya pada Tafsir Ahkam karya Abdul Halim. Sebab selain karya dalam bidang ahkam (hukun-hukum) yang merupakan sebuah karya yang dapat disebut masih minim dibanding tafsir lainnya, maka melihatnya dalam kerangka yang lebih luas menjadi relevan dilakukan. Melihat secara umum Tafsi>r Ah{ka>m karya Abdul Halimini memuat ayat-ayat yang berkenaan dengan hukum yang menjadikan tafsir ini terlihat spesialis, sehingga memudahkan bagi para pembaca untuk memahami, melacak dan beradaptasi dengan pemikirannya ketika membaca tafsirnya. Di samping itu, Abdul Halim semasa hidupnya dikenal sebagai ulama yang tidak fanatik terhadap satu mazhab tertentu, tetapi ia mampu menerima berbagai pendapat fikih. Di dalam tafsirnya al-Ah{ka>m beliau selalu saja memaparkan berbagai pendapat imam mazhab dari berbagai mazhab, bahkan pendapat para sahabat, tabi‘in hingga tabi‘in al-tabi‘in juga dikutip dalam tafsirnya ketika menjelaskan suatu ayat. Dengan tujuan agar supaya dapat melihat keragaman pendapat yang berkembang, dan tidak terjebak kepada fanatisme mazhab.27
Penting dikemukan di sini bahwa Abdul Halim hidup pada pra kemerdekaan dan pasca kemerdekaan, sedangkan Tafsir Ahkam yang ia tulis tentu dalam situasi sosial yang tidak tenang, sebab beberapa sumber yang ada menyebutkan bahwa selain beraktifitas sebagai seorang ulama dan tokoh organisasi Abdul Halim juga terlibat dalam beberapa peristiwa yang melihatkan dirinya pada upaya perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya pada saat berada di Kota Binjai.28 Menurut sumber yang ada Abdul Halim merupakan salah seorang dari beberapa ulama dan tokoh yang ikut serta membacakan proklamasi di Binjai,29 maka melihat aktifitas tersebut tentu Abdul Halim dalam berbagai kesibukannya berupaya melahirkan sebuah tafsir yang fokus pada aspek hukum sesuai dengan minat dan bidang yang ia dalami. Merujuk pada beberapa karyanya yang lain Abdul Halim terlihat merupakan
25Tarigan, “Moderatisme...”,viii.
26Tarigan, “Moderatisme...”,ixv.
27Tarigan, “Moderatisme...”,vii.
28Tarigan, “Moderatisme...”,viii.
29Beberapa nama yang tercatat pada momumen kemerdekaan Indonesia di Kota Binjai menyebut beberapa nama, yaitu H. Abd. Halim Hasan, Abdur Rahim Haitamy, H.
Zainal Arifin Abbas, H. Abdul Wahab Lubis, Achmad Yusuf Husin, Mali Kayo Muhammad Jamil, Muhammad Yahya Nata dan Baharuddin Ali. Razman Arif, “Pemikiran dan Perjuangan Politik Muhammad Idaham: Kajian terhadap Kepimpinan Melayu Islam di Binjai Provinsi Sumatera Utara”, Disertasi, Universiti Sains Malaysia, 2016, 37-40.
7
seorang ulama yang mendalami dalam bidang hukum Islam, sebab beberapa karyanya yang belakangan ditemukan menunjukkan minatnya yang mendalam pada bidang hukum Islam.30
Situasi sosial yang dapat disebut tidak kondusif bagi seseorang berkarya karena situasi politik yang berlangsung ketika itu menunjukkan bahwa Abdul Halim merupakan seorang ulama yang memiliki tradisi menulis yang cukup baik. Sangat mustahil bagi seseorang yang dalam situasi yang tidak aman mampu melahirkan karya tafsir yang penting bagi pengkajian Islam. Konteks lokalitas yang dihadapi Abdul Halim merujuk pada karya tafsirnya tidak hanya dibatasi pada hasil bacaanya sebagaimana disebut pada tafsir-tafsir yang bercorak hukum sebagaimana disebut, tetapi upaya mengkontekstualisaikan pada situasi yang dihadapinya membentuk sikap keterbukaan dalam memahami hukum Islam. Untuk itu, pengkajian mendalam pada tafsir ahkam karya Abdul Halim dilihat dalam perspektif yang lebih luas, terutama memposisikannya sebagai kerangka tafsir ahkam yang berkembang di Indonesia akan mampu melihat lebih mendalam.
Tafsir karya Abdul Halim ini diterbitkan jauh setelah ia wafat memberikan gambaran bahwa tafsir tersebut belum sempat beredar di kalangan ulama yang semasa denganya. Maka sebagai sebuah karya yang muncul belakangan juga memberikan ruang tersendiri untuk upaya eksplorasi lebih mendalam pada latar belakang historis pada tafsir Ahkam karya Abdul Halim tersebut. Dalam aspek penafsiran identitas umum yang dikemukan pada Tafsir Ahkam yang disebut menunjukkan bahwa kitab Tafsi>r Ah{ka>m yang ditulis Abdul Halim ini bukanlah kitab tafsir dengan corak atau versi baru, melainkan lebih didasarkan atas suatu upaya menampilkan tafsir yang bersifat selektif terhadap pandangan atau penafsiran para ulama terdahulu (salaf). Dengan kata lain, Abdul Halim mencoba melakukan penafsiran yang akurat, lebih baik, lebih kuat hukumnya. Merujuk pada sumber yang digunakan seperti yang diketahui bahwa Tafsir Ahkam ini memang cukup relatif banyak,31 di antaranya adalah; kitab al-Jami‘ li Ah{kam al-Qur’a>n adalah karya al- Qurt{ubi>, Ah{am al-Qur’a>n karya Ibn ‘Arabi>, Ah{kam al-Qur’a>n karya al-Jas{s{as{, Khanz al-Irfan fi Fiqh al-Qur’a>n karya al-Syauri, Ah{kam al-Qur’a>n karya al-T{abari> atau yang lebih dikenal dengan al-Kiya al-Harasi, Rawa‘i al-Baya>n karya al-S{abuni> dan Tafsi>r Ayat Ah{kam karya ‘Ali> al-Sayi>s,32 menegaskan bahwa Tafsir Ahkam yang ditulis Abdul Halim ini sangat kaya perspektif tentang penafsiran tentang ayat-ayat hukum.
30Sejauh ini beberapa karya Abdul Halim yang ditemukan, di antaranya Tafsir al- Quran al-Karim karya tiga serangkai; Tafsir al-Ahkam; Bingkisan Adab dan Hikmah; Sejarah Fiqih; Wanita dan Islam; Hikmah Puasa; Lailat al-Qadar; Cara memandikan Mayat; Tarekh Tamaddun Islam; Sejarah Kejadian Syara’ Tulis Arab ( terbitan malaysia); Tarekh Abi Hasan al-Asyari; Sejarah Literatur Islam dan Poligami dalam Islam, dan lainnya. Selain dalam bentuk buku karya Abdul Halim juga tersebar dalam beberapa majalah, seperti Majalah al- Islam.
31M. Amin Summa, Pengantar Tafsir Ahkam (Jakarta: Logos, 1997), 3.
32Ummu Kaltsum dan Abd. Moqsith Ghazali, Tafsir Ahkam (Ciputat: UIN Press, 2015), 28-33.
8
Dalam konteks perkembangan tafsir di Indonesia dapat disebut kitab Tafsi>r Ahka>m yang berbahasa Indonesia sangatlah jarang ditemui, bisa dibilang langka, padahal kitab tafsir yang ada tidak selamanya bisa menjawab semua problematika budaya maupun sosial yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia saat ini.33 Sebagaimana yang dikatakan oleh Ishom El Saha dalam penelitiannya terkait dengan kelangkaan tafsir ahkam di Indonesia, mengatakan pada awalnya penafsiran al- Qur’an di Indonesia banyak dipengaruhi oleh penafsiran dari Timur Tengah, seperti as-Suyuti dengan corak adab ijtima’i yang menekankan pada analisis linguistik dan filologis berdasarakan pada leksikologi Arab. Berdasarkan hal ini, maka penafsiran yang berkembang di Indonesia sebagian besar bercorak adab ijtima’i. Ia mengatakan bahwa, meski banyak mufasir Indonesia menulis tafsir, tetapi sangat jarang ditemukan mufasir Indonesia yang menafsirkan al-Qur’an dengan pendekatan ilmu fikih, sehingga tidak ditemukan karya tafsir yang membahas ayat-ayat hukum secara sistematis.34 Hal ini menyebabkan karya tafsir ahkam yang dihasilkan oleh mufasir di Indonesia sangat jarang ditemukan.
Dalam kerangka disebut Tafsi>r Ah{kam karya Abdul Halim ini memberikan perspektif baru dalam upaya memahami ayat-ayat berkaitan tentang masalah hukum.
Berdasarkan penjelasan dikemukan penulis melihat penting untuk mengkaji identitas tafsir Ahkam di Indonesia dengan memfokuskan kajian pada Tafsir Ahkam karya Abdul Halim.
B. Identifikasi Masalah
Latar belakang masalah dikemukakan untuk memudahkan penelitian akan dilakukan upaya identifikasi masalah yang mampu memberikan perincian untuk memahami apa saja yang menjadi masalah dalam penelitian. Penelitian tentang tafsir Ahkam di Indonesia dalam kerangka yang lebih luas akan dapat dilihat dalam perspektif yang lebih khusus dengan memberikan identifikasi masalah pada objek yang dikaji secara mendalam karena melihat, maka setidaknya terdapat beberapa permasalahan yang dapat diidentifikasi sebagai upaya menemukan masalah yang dapat digali secara mendalam melalui penelitian, di antaranya adalah:
a. Latar belakang historis penulisan Tafsir Ahkam karya Abdul Halim mencakup situasi sosial dan politik yang terjadi saat proses penulisan. Pengungkapan latar belakang menjadi penting karena sebuah karya lahir sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat ia dilahirkan dan apa yang menjadi tujuan dari penulisan dilakukan, maka sangat dimungkinkan latar belakang historis menjadi penting untuk digali lebih mendalam tentang unsur situasi dan kondisi yang mengitari lahirnya tafsir tersebut, sebab sebuah penafsiran yang sangat kondisional latar belakang penulisan tafsir sangat penting untuk dikaji melihat aspek historis yang terjadi.
33Menurut Muhammad Amin Summa, bahwa sangat jarang kita temui kitab tafsir ahkam yang berbahasa Indonesia, dan didalam buku ini beliau menjelaskan bahwa sangat dibutuhkan sekali kitab tafsir ahkam yang berbahasa Indonesia, agar masyarakat awam juga bisa memahaminya. Muhammad Amin Summa, Pengantar Tafsir Ahkam, 1.
34M.Ishom El- Saha, “Mengatasi Kelangkaan Tafsir Ahkam di Tengah Komunitas Pegiat Fikih Nusantara”, dalam Jurnal Suhuf, Vol. 3, No. 2, 2010, h.
9
b. Identitas tafsir Ahkam mencakup identitas yang melekat pada tafsir tersebut, sebab identitas menjadi “alat penanda” yang berbeda dari yang lainnya, maka upaya pengungkapan identitas tafsir Ahkam menjadi relevan dilakukan dalam melihat identitas umum tafsir ahkam yang berkembang di Indonesia, maka masalah dalam penelitian ini berkaitan tentang identitas “Tafsi>r Ah{kam”
tersebut di Indonesia untuk melihat dalam konteks yang lebih luas memposisikannya sebagai tafsir ahkam yang berkembang dan banyak menjadi referensi.
C. Perumusan Masalah
Untuk menjawab apa yang telah diidentifikasi sebagai masalah utama penelitian selanjutnya akan dirumuskan apa saja masalah utama penelitian dalam bentuk pertanyaan, sebab dengan mengajukan rumusan masalah diharapkan mampu memfokuskan masalah utama penelitian.
a. Bagaimana Abdul Halim Hasan menafsirkan al-Qur’an dalam karyanya ? b. Apakah penafsiran Abdul Halim Hasan terpengaruh oleh satu mazhab tertentu,
atau merangkul beberapa mazhab ? D. Pembatasan Masalah
Dari beberapa identifikasi masalah yang cukup luas, maka penulis akan membatasi pada dua objek katagori, yang pertama adalah dibatasi pada aspek-aspek.
metodologis tafsir: metode, sumber, corak dan bentuk tafsir. Masalah kedua dibatasi pada penafsiran ayat-ayat hukum yang berkenaan dengan Ibadah dan mu’amalah saja.
E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab apa saja yang telah diajukan dalam rumusan masalah, sebab tujuan utama penelitian dilakukan sebagai upaya untuk menemukan jawaban yang utuh pada masalah utama penelitian yang dapat dirinci, a) Menganalisis metodologi yang digunakan Abdul Halim Hasan dalam menafsirkan ayat-ayat hukum dalam al Quran, serta apakah corak fiqih yang dilakukannya dalam menafsirkan ayat al Quran bersifat netral atau cendrung memihak ke mazhab yang dianutnya; b) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi Abdul Halim Hasan dalam menafsirkan ayat-ayat hukum; dan c) Menganalisis posisi tafsi>r ah{ka>mAbdul Halim Hasan di Indonesia.
Secara akademis penelitian ini bertujuan untuk untuk menjadikan kajian metodologi tafsir sebagai bagian dari ciri khas akademik yang mendorong mahasiswa untuk menelaah dan memahami tafsir al-Qur’an terutama dalam bidang ayat-ayat hukum secara professional. Selain itu, secara pribadi, penilitian ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dalam bidang ilmu- ilmu agama Islam kosentrasi Tafsir pada Program Sekolah Pasca Sarjana (SPS) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Adapun kegunaan penelitian ini adalah, memberikan informasi bahwa ummat Indonesia mempunyai produk tafsir al-Quran yang hanya membahas ayat-ayat hukum saja 30 juz, khususnya umat sumatera. Sumbangan pemikiran bagi berkembangnya wacana pemikiran seputar metodologi penafsiran ayat-ayat hukum ditengah masyarakat. Dengan
10
diformulasikannya penafsiran ayat ahkamAbdul Halim, diharapkan dapat memberikan sumbangsih terhadap permasalahan-permasalahan hukum islam kontemporer, dan bisa membangkitkan kesadaran ummat muslim, khususnya tentang mengkritisi kembali pemahaman keagamaan dan corak penafsiran yang mengedepankan fanatisme mazhab dan taklid buta ditengah tantangan modernitas.
F. Signifikansi dan Manfaat
Signifikansi penelitian diproyeksikan memberikan sumbangan dalam pengkajian tafsir di Indonenesia, khususnya tafsir ahkam, sebab sejauh ini pengkajian tentang tafsir ahkam, baik yang dijadikan referensi pada lembaga pendidikan Islam umumnya merupakan tafsir ahkam yang bersumber dari Timur Tengah, maka dengan melakukan penelitian ini tentu akan memberikan penjelasan yang memadai tentang perkembangan tafsir ahkam di Indonesia, maka dalam hal ini Tafsir Ahkam karya Abdul Halim menjadi penting dilihat dalam kerangka yang lebih luas, yaitu memposisikannya dalam perspektif tafsir Ahkam di Indonesia. Manfaat penelitian ini sebagai bagian dari upaya menjaga tradisi dan karya yang dihasilkan ulama Indonesia dalam bidang tafsir tentu akan mampu menumbuhkan semangat penggalian lebih mendalam pada karya-karya ulama Indonesia, sebab sebagai sebuah produk penafsiran yang tidak dapat dipisahkan dari situasi sosial dan politik mungkin juga ekonomi akan dapat menjadi kajian lanjutan bagi sarjana selanjutnya untuk melihat konteks yang lebih luas.
G. Kajian Terdahulu yang Relevan
Sepanjang penelusuran penulis, bahwa penelitian terhadap tafsir Ahkam dan Abdul Halim Hasan bukanlah penelitian pertama karena banyak sarjana Indonesia ataupun luar yang telah berupaya menjelaskan tentang tafsir Ahkam, baik metodologi, corak maupun sistematika yang dipakai dalam penafsiran. Maka ditemukanlah beberapa penelitian tentang tafsir Ahkam dan Abdul Halim Hasan.
Penelitian tentang tafsir ahkam yang dilakukan oleh sonafist dalam disertasinya berjudul “Penafsiran Ayat-Ayat Ahkam dalam Tafsir al-Mannar: Studi Perbandingan antara Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha” pada Program Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2002. Ia mengkaji seputar perbedaan-perbedaan pemahaman terhadap ayat-ayat hukum yang berkaitan dengan aspek ibadah mahdlah (seperti ; shalat, puasa, zakat dan haji) antara kedua tokoh tersebut. Kesimpulannya adalah terdapat nuansa perbedaan antara Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dalam menafsirkan ayat-ayat hukum, pembahasannya tidak menunjukan apa yang mendasari dari perbedaan itu dan tidak membahas corak penafsiran ayat hukumnya.
Selain disertasi tersebut, sebuah tesis yang ditulis oleh saudara Ishaq yang membahas tentang penafsiran ayat-ayat hukum dalam tafsir al-Kabir karya al-Razi dengan judul “ Corak Pemahaman Fiqih Islam ar-Razi (Studi Penafsiran Ayat-Ayat Hukum dalam Tafsir al-Kabir). Tafsir ini lebih condong membahas pada kajian fiqih dalam tafsir al-Kabir. Meskipun tafsir ini tidak cendrung pada tafsir ahkam, namun
11
didalamnya memuat penafsiran yang bernuansa fiqih ketika bertemu dengan ayat hukum.35
Sementara itu, penelitian penafsiran ayat-ayat ahkam pernah juga dilakukan oleh Syafruddin dengan judul “Penafsiran Ayat Ahkam al-Zuhaili dalam al-Tafsir al- Munir” sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatulla Jakarta, tahun 2008.36disertasi ini lebih cenderung dan berupaya menggali pemikiran al-Zuhaili dalam tafsirnya al- Munir, dengan kata lain disertasi ini lebih fokus pada penelitian atau kajian tokoh. ia berpendapat bahwa dalam penafsiran ayat-ayat hukum al-Zuhailiy adalah seorang ulama yang berkapasitas akademis dan netral. Sebab al-Zuhailiy tidak membela mazhab fikih tertentu.
Sedangkan Zamakhsari Abdul Majid dalam disertasinya dengan kajian objek yang sama dengan judul “Metodologi Penafsiran Wahbah al-Zuhaili terhadap Ayat- ayat Hukum dalam Tafsir al-Munir“, disertasi ini lebih kepada metodologi dan pengaruh penafsiran Wahbah al-Zuhaily terhadap ayat-ayat hukum dalam tafsirnya Al Munir.37Bahwa ia berkesimpulan secara teknis tafsir al-Munir termasuk kitab tafsir yang menggunakan bentuk penyajian yang sistematis. Dan ia juga mengatakan bahwa ada tiga metode yang digunakan dalam penafsiran al-Zuhailiy, diantaranya adalah; 1) al-Tashih, yaitu metode penafsiran yang bersumber dari argumentasi yang shohih. 2) Muqaranah al-Mazahib, metode penafsiran dengan cara menampilkan perspektif ulama mazhab dalam satu masalah. 3) al-Tarjih, mendukung dan mengambil pendapat ulama yang dianggap lebih kuat dalil (kehujjahan)nya.
Adapun penelitian terhadap penafsiran Abdul Halim Hasan, Penelitian ini dilakukan Karel A. Steenbrink38 yang diterbitkan dalam artikel berjudul “The Study Comparative Religion by Indonesian Muslim”. Penelitian Steenbrink menemukan bahwa tafsir yang ditulis Abd Halim Hasan dan temannya merupakan tafsir yang banyak dipengaruhi oleh Muhammad ‘Abduh melalui tafsir al-Manar dan Mustafa al- Maragi dengan Tafsi>r al-Maragi>.
Kemudian Nadzrah Ahmad dalam penelitianya berjudul “Methodology and Issues Within Tafsir al-Quran al-Karim By Abdul Halim Hasan “. Penelitian ini lebih pada penelitian terhadap tafsir al-Quran al-Karim yang dipelopori oleh tiga ulama nusantara salah satunya yaitu Abdul Halim Hasan. Tesis Nadzrah Ahmad ini menunjukan tentang metodologi dalam tafsir al-Quran al-Karim, tidak membahas metodhologi penafsiran ayat hukum secara khusus yang dilakukan Abdul Halim Hasan dalam tafsirnya.39 Demikian juga ‘Abd Qadir al-Hamidi,dalam penelitiannya
35Ishaq, Corak Pemahaman Fiqih Islam ar-Razi ((Studi Penafsiran Ayat-Ayat Hukum dalam Tafsir al-Kabir)\, Jakarta IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1999.
36Syafruddin, “Penafsiran Ayat-Ayat Ahkam Al Zuhaily dalam Tafsir Al Munir,”
Disertasi, Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008.
37Zamakhsyari Abdul Majid, “Metodologi Penafsiran Wahbah Az Zuhaily Terhadap Ayat-Ayat Hukum Dalam Tafsir Al Munir,” Disertasi, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Sayrif Hidayatullah Jakarta, 2009.
38Karel A. Steenbrink, “The Study of Comparative Religion by Indonesian Muslim”, Numen, 37 (2), (1990): 141-167.
39Nadzrah Ahmad, Methodology and Issues Within Tafsir al-Quran al-Karim by Abdul Halim Hasan,Tesis, International Islamic University Malaysia, 2014.
12
berujudul “Tafsir al-Quran al-Karim li Abdul Halim Hasan wa Akharayn : Dirasah Manhajiyah wa Tariban li al-Juz al Awwal Minhu”. Penelitian ini lebih fokus membahas tentang metodologi penafsiran yang digunakan dalam Tafsir al-Quran Karim yang ditulis oleh Abdul Halim Hasan dan dua temannya yaitu Zainal Arifin Abbas dan Abdul Rahim Haitami, yang disusun menjadi beberapa poin mulai dari Hubungan antara ayat (munasabatil ayat), sebab turun ayat (Asbabun Nuzul), Nasikh wal Mansukh. Dan penelitian ini tidak memfokuskan kepada tafsi>r ah{ka>m yang ditulis oleh Abdul Halim Hasan secara khusus.40
Penelitian lain yang penting juga disebut dilakukan Ahmad N. Amir berjudul“Muhammad Abduh’s Influence in Southeast Asia”.41 Dalam penelitiannya mengatakan bahwa, tafsir karya Abdul Halim Hasan termasuk salah satu tafsir yang dipengaruhi oleh penafsiran Muhammad Abduh. Karya yang dimaksud di sini adalah tafsir al-Qur’an yang ditulis oleh ulama tiga serangkai, di antaranya adalah Zainal Arifin Abbas dan Abdurrahman Haitami sebagai team penulis merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Tafsir Ahkam karya Abdul Halim, sebab sebagaimana diterangkan sebelumnya bahwa tafsir tiga serangkai lebih dahulu ditulis sebelum tafsir ahkam tersebut.
Adapun penelitian yang dilakukan oleh Abdul Qadir Umar Usman al- Hamidiy “Abdul Halim Hasan and His Contributions in Qur’anic Exegesis in the Malay Word”.42 Ia berpendapat bahwa Abdul Halim Hasan sangat terbuka dan objektif terhadapa berbagai pandangan ulama dalam isu-isu tentang agama, dan metode yang dipakai dalam tafsirnya membuat pembaca untuk menerima kebenaran berdasarkan argument yang tepat dan menolak untuk taklid buta, maka tafsir ini sangat berpengaruh terhadap penafsiran ulama di dunia melayu. Penelitian ini berdasarkan terhadap dua karya tafsir yang dimiliki Abdul Halim Hasan yaitu, Tafsir al-Ahkam dan Tafsir al-Qur’an al-Karim yang di karang bersama dua temannya Abdurrahman Haitami dan Zainal Arifin Abbas. Sedangkan Nur Lubis dalam bukunya “Data-Data Terbitan Awal Penterjemahan dan penafsiran al-Qur’an di Alam Melayu”.43 Di sini Nur Lubis menjelaskan secara rinci latar belakang tafsir al-Qur’an al-Karim, mulai dari latar belakang penerbitannya hingga waktu dan lokasi publikasi di Indonesia. Dia meringkas bahwa ketidaklengkapan atau kesempurnaan penafsiran ayat pada tafsir al-Qura’n al-Karim dikarenakan terjadinya perang dunia ke-II. Nur Lubis juga menyajikan analisis singkat terhadap metode tafsir al-Qura’n al-Karim, disini dia menjelaskan metode yang diadopsi dalam penulisan tafsir.
40Abdul Qadir Umar Uthman al-Hamidy, “Tafsir al-Quran al-Karim li Abdul Halim Hasan wa Akharayn : Dirasah Manhajiyah wa Tariban li al-Juz al Awwal Minhu”, (Ph.D Thesis, University of Al-Azhar, 200 6).
41Ahmad N.Amir, “Muhammad Abduh’s Influence in southeast Asia”, Middle Journal Scientific Reseach, 13 (124), 2013.
42Abdul Qadir Umar Usman al-Hamidiy, “Abdul Halim Hasan and His Contributions in Qur’anic Exegesis in the Malay Word”, International Journal of Academic Research in Business and Social Sciens, Vol 7, No. 8, 2017.
43Muhammad Nur Lubis, Data-Data Terbitan Awal Penterjemahan dan penafsiran al-Qur’an di Alam Melayu (Kuala Lumpur: al-Hidayah, 2002), 37.
13
Selain itu, penelitian yang masih berkaitan dilakukan Mazlan Ibrahim dengan judul “Development of Qur’anic Exegesis in Malay Archipelago”.44 Dalam penelitian ini Mazlan menuliskan tentang perkembangan tafsir di Kepulauan Melayu khususnya di Indonesia. Mazlan menjelaskan bahwa tafsir al-Qur’anul Karim Karya ulama tiga serangkai yaitu Abdul Halim Hasan, Zainal Arifin Abbas dan Abdurrahman Haitami memiliki peran dalam menyebarkan agama islam lewat tafsirnya pada tahun 1937 (edisi bahasa Indonesia) dan 1969 (edisi Malaysia).
Penelitian tentang tafsir ahkam di Indonesia dilakukan oleh Azhari Akmal Tarigan dalam penelitian yang berjudul “Reorientasi Kajian Tafsir Ahkam di Indonesia, Peluang dan pengembangannya”. Beliau mengatakan dalam analisisnya bahwa adanya pergeseran penafsiran yang signifikan pasca abad dua puluh, dimana tafsir ahkam yang belakangan terbit masih terbilang klasik. Berbeda dengan penafsiran yang dilakukan mufassir awal abad dua puluh yang terlihat dinamis dengan tidak terpaku kedalam mufassir dan mazhab tertentu. seperti yang dilakukan oleh, Hasbi Ash Shiddieqy, Hamka dan Abdul Halim Hasan. Penelitian ini dilakukan hanya sebatas menilai penilaian terhadap perkembangan penafsiran ayat-ayat ahkam di Indonesia baik di awal abad dua puluh maupun sesudahnya.45
Penelitian yang dilakukan oleh Amin Summa dalam bentuk buku yang berjudul Pengantar Tafsir Ahkam. Dalam bukunya ia membahas seputar ayat dan tafsir ahkam di Indonesia, dia mengatakan bahwa kajian tafir ahkam di Indonesia masih terbilang langkah, untuk itu perlu kiranya melakukan kajian lanjutan khususnya terhadap tokoh atau objek tertentu.Kajian terhadapa tafsir ahkam merupakan pembahasan yang terbengkalai dan menyisakan beberapa masalah.46
Penelitian lain yang relevan disebut dilakukan M. Yunan Yusuf dalam sebuah penelitian terhadap kitab-kitab tafsir di Indonesia, dalam sebuah artikelnya mengatakan bahwa, dilihat dari karakteristiknya tafsir al-Quran di Indonesia banyak persamaan walaupun ada juga perbedaannya, namun M.Yunan Yusuf berkesimpulan bahwa masih ada sebagaian besar tafsir di Indonesia yang beraliran tradisional, contohnya memberikan penafsiran secara harfiah atas ayat-ayat mutasyabihat.
Tetapi penelitian ini hanya sebatas penafsiran di abad 20 saja dengan beberapa kajian kitab tafsir, termasuk kitab tafsir al-Quranul karim karya Abdul Halim Hasan dan dua temannya Abdul Rahim Haitami dan Zainal Arifin Abbas.
Dari beberapa hasil penelitian yang penulis temukan, terutama khususnya yang mengkaji dan membahas tentang penafsiran Abdul Halim, belum ditemukan sebuah penelitian yang membahas tentang metodologi penafsiran ayat-ayat hukum yang dilakukan Abdul Halim dalam tafsirnya al-Ahkam. Dengan kata lain bahwa, bahasan yang penulis lakukan dalam penelitian ini dapat dikatakan berbeda dari penelitian-penelitian sebelumnya.
44Mazlan Ibrahim, Development Of Qur’anic Exegesis in Malay Archipelago, Advances in Natural and Applied Sciences, 5 (5), 2011, 452-455.
45Azhari Akmal Tarigan, “Reorientasi Kajian Tafsir Ahkam di Indonesia dan Peluang Pengembangannya: Sebuah Survei Singkat”, Jurnal Jurisprudensi, 6 (2), 2014, 99- 118.
46M.Amin Summa, Pengantar Tafsir Ahkam (Jakarta; Logos, 1997), 11
14 H. Metode Penelitian
1. Jenis Penilitian
Penelitian pada thesis ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research), yang bersifat deskriptif-analisis, yaitu berupaya menggambarkan apa yang menjadi objek penelitian, sekaligus melakukan analisis obyek yang diteliti dilapangan. Lebih lanjut penelitian ini digolongkan kedalam penelitian kualitatif.47 Oleh karena itu data-data dalam penelitian ini, sepenuhnya berupa bahan kepustakaan tertulis, baik berupa buku, laporan hasil penelitian, makalah-makalah, jurnal-jurnal ilmiah dan lain-lainnya yang berkenaan dengan penelititan.
2. Sumber Data
Data-data yang diperoleh dalam penelitian ini, dikelompokkan menjadi dua katagori yaitu sumber data utama (primer) dan data pendukung (sekunder). Oleh karena penelitian ini adalah penelitian terhadap tokoh tertentu, maka yang dijadikan sumber primer adalah Tafsi>r Ah{ka>m karya Abdul Halim Hasan.48 Adapun yang menjadi data sekunder dalam penelitian ini adalah, pertama, literatur-literatur tentang Abdul Halim Hasan, terutama yang mengkaji tentang tafsirnya. Kedua, kitab-kitab tafsir dan ‘ulum al-Qur’an. Ketiga, karya-karya tentang metodologi penafsiran Al Quran. Keempat, literatur-literatur lain yang ada relevansinya dengan pokok pembahasan dalam proses penelitian ini.
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research). Dalam hal ini, untuk memperoleh data-data yang diinginkan, penulis berupaya menggalinya dari sumber data primer dan sekunder. Dari sumber primer, penulis melakukan penelitian langsung kepada kitab tafsi>r ah{ka>mkarya Abdul Halim. Sedangkan data sekunder, penulis mempelajari beberapa karya Abdul Halim yang lain. Selain itu, penulis juga berupaya mencari berbagai informasi lewat buku- buku karya ulama lain, artikel atau dokumen yang berkaitan dengan objek penelitian.
Mengingat data-data dalam penelitian ini bersumber dari banyak literatur, maka penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dokumenter, yaitu teknik pengumpulan data dari sumber tertulis.
4. Analisis Data
Penelitian ini dimaksudkan untuk menguraikan dan menganalisa karakteristik penafsiran ayat-ayat hukum dalam kitab tafsi>r ah{ka>mkarya Abdul Halim, maka penulis menggunakan metode analisis isi (content analysis), yaitu suatu teknik penelitian untuk menarik kesimpulan dari data-data yang shahih (valid)
47Penelitian tafsir digolongkan oleh para peneliti sebagai penelitian kualitatif, penelitian ini sebagaimana dikemukakan oleh Kirk dan Miller adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan social yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dalam peristilahannya. Penelitian kualitatif merupakan yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dalam perilaku yang diamati. Lexy J Meleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung ; Remaja Karya, 1989), 3.
48Abdul Halim Hasan, Tafsi>r Ah{ka>m, (Jakarta: Kencana, 2006).
15
dengan memperhatikan dan mengkaji konteksnya.49 Hal ini berarti bahwa, dari data- data yang telah dikumpulkan, penulis akan menganalisisnya untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang objek yang diteliti. Menurut Marzuki, bahwa tujuan analisis data dalam penelitian adalah menyempitkan dan membatasi penemuan- penemuan sehingga menjadi suatu data yang teratur, tersusun dan lebih berarti.50Analisis merupakan suatu usaha untuk menemukan jawaban atas pertanyaan dari rumusan yang telah tersusun.
Dalam penelitian kualitatif langkah yang harus ditempuh dalam analisis data adalah pemrosesan satuan (unityzing), katagorisasi dan penafsiran data.51 Adapun uraian singkat mengenai langkah-langkah yang dilalui untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Unitisasi data, yaitu data-data yang ada dikelompokan berdasarkan kerangka pemikiran.
b. Katagorisasi data, yaitu menyusun data sesuai rumusan masalah atau tujuan penulisan.
c. Interpretasi data, yaitu menginterpretasikan atau menafsirkan data-data yang didukung oleh teori.
5. Jenis Pendekatan
Mengingat objek utama penelitian ini adalah kitab Tafsir Ahkam Abdul Halim Hasan, maka digunakan pendekatan ilmu tafsir. Pada konteks penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan tafsi>r al-maudu>’i>. Upaya ini dilakukan untuk mengelompokkan tafsir berdasarkan tema yang sama supaya memudahkan proses analisis dalam upaya menemukan kecenderungan tafsir tersebut. Teknis penerapan metode ini dilakukan dengan mengumpulkan ayat-ayat yang dianggap relevan dengan tema tertentu dalam konteks pembahasan berbeda. Untuk selanjutnya akan dilakukan analisis berdasarkan kesatuan antar ayat tersebut, sehingga memberikan pemahaman utuh.52 Dalam penelitian ini, metode maudu>’i hanya dijadikan alat untuk menghimpun ayat-ayat yang menjadi fokus penelitian, diantaranya adalah ayat-ayat yang berkenaan dengan tema tertentu yang menjadi fokus untuk menjelaskan tafsir karya Abdul Halim Hasan tersebut.
Sedangkan untuk melihat biografi Abdul Halim Hasan dalam hal ini, maka dalam menganalisisnya penulis menggunakan pendekatan sejarah (historical approach) sebab salah satu penelitian sejarah itu adalah penelitian biografi. Ini diperlukan untuk memperoleh penjelasan tentang riwayat hidup dan latar belakang aktivitas keilmuan dari penulis kitab ini. Dengan menggunakan pendekatan sejarah ini dapat dilacak setting sosio historis dan sosio intelektual yang melingkupi suasana kehidupan Abdul Halim Hasan. Dan pendekatan ini juga digunakan untuk melihat sejarah perjalanan penafsiran di Indonesia.
49Klaus Krippendorf, Analisis Isi : Pengantar Teori dan Metodologi, terj. Farid Wajdi, (Jakarta ; Rajawali Press, 1991), 15.
50Marzuki, Metodologi Riset, (Jakarta; FE-UI,1989), 87.
51Lexi J Moleong, Metodologi Penelitian kualitatif, Cet ke-4, 112.
52‘Abd al-Hay al-Farmawi>, al-Bida>yah fi> Tafsi>r al-Maudu>’i>, (Kairo; al-Hada>rah al-
‘Arabiyyah, 1997), 23-36