Anatomi Tumbuhan Monokotil
1. Judul Percobaan
Adapun judul dari Praktikum “ Anatomi Tumbuhan Monokotil”
2. Tujuan Percobaan
Tujuan dari praktikum ini adalah nntuk mnegetahui bagian-bagian sel dalam dari irisan bawang merah (Allium cepa) dan Daun Adam dan Hawa (Rhoe Discolor)
3. Tinjauan Teoritis
Tumbuhan monokotil memiliki habitus terna, semak, atau pohon yang mempunyai sistem akar serabut, batang berkayu atau tidak, biasanya tidak atau tidak banyak cabang-cabang, buku-buku dan ruas-ruas kebanyakan tampak jelas. Daun kebanyakan tunggal, jarang majemuk, bertulang sejajar atau bertulang melengkung (Tjitrosoepomo, 2012).
Daun merupakan organ pokok pada tubuh tumbuhan. Pada umumnya berbentuk pipih bilateral, berwarna hijau, dan merupakan tempat utama terjadinya fotosintesis. Berkaitan dengan itu daun memiliki struktur mulut daun yang berguna untuk pertukaran gas O2, CO2, dan uap air dari daun ke alam sekitar dan sebaliknya (Sumardi, 2010).
Daun monokotil bervariasi bentuk serta strukturnya dan beberapa ada yang menyerupai daun dikotil. Daun monokotil ada yang mempunyai tangkai daun (petiole) dan helai daun (Canna, Hosta, Zantedeschia), tetapi banyak berdiferensiasi menjadi helai daun serta pelepah daun, dan helai daunnya relatif sempit. Pertulangan daunnya mempunyai susunan yang khas yaitu sejajar. Struktur anatomi bervariasi dari hidromorfik ke xeromorfik. Hidromorfik pada monokotil memperlihatkan gambaran dasar yang sama seperti pada dikotil, terutama terdapat banyak aerenkim.
Sebagai contoh daun dorsiventral dengan palisade pada tepi adaksial terdapat pada Lilium (Suradinata, 1998).
Kebanyakan monokotil mempunyai tipe daun unifasial. Jaringan pembuluh ada yang terdapat hanya satu deret, ada pula yang terdapat dua deret. Pada kebanyakan daun monokotil terbentuk sejumlah besar sklerenkim, dimana beberapa spesies serat daun ada yang penting dalam perdagangan. Serat tersebut ada yang berasosiasi letaknya dengan jaringan pembuluh, ada pula yang terpisah dari jaringan pembuluh (Suradinata, 1998).
Epidermis merupakan lapisan sel terluar pada daun, daun bunga, buah dan biji, serta pada batang dan akar sebelum tumbuhan mengalami penebalan sekunder.
Meskipun dari segi ontogeni seragam, dari segi morfologi maupun fungsi sel epidermis tidak seragam. Selain sel epidermis biasa, terdapat sel epidermis yang telah berkembang menjadi sel rambut, sel penutup pada stomata, serta sel lain. Adanya kutin, bahan lemak didalam dinding luar, membatasitransipari. Karena susunan sel merapat serta berkutikula yang kaku dan kuat, maka epidermis berperan sebagai penyokong mekanik. Pada akar, adanya kutikula tipis serta rambut akar menunjukan bahwa epidermis akar mudah terspesialisasi untuk penyerapan (Hidayat, 1995).
Sifat terpenting daun adalah susunan sel epidermis yang kompak dan adanya kutikula dan stomata. Stomata bisa ditemukan dikedua sisi daun (daun amfistomatik), atau hanya di satu sisi yakni di sebelah atas atau adaksial (daun epistomatik), atau lebih sering disebelah bawah atau sisi abaksial (daun hipostomatik). Pada daun lebar
yang terdapat dikelompok dikotil, letak stomatanya tersebar. Pada monokotil dan Gymnospermae, stomata sering tersusun dalam deretan memanjang yang sejajar dengan sumbu daun. Sel penutup dari 3 stomata dapat berada ditempat yang sama tingginya, lebih tinggi, atau lebih rendah dari epidermis (Hidayat, 1995).
Stomata merupakan celah dalam epidermis yang dibatasi oleh dua sel epidermis yang khusus, yakni sel penutup. Dengan mengubah bentuknya, sel penutup mengatur pelebaran dan penyempitan celah. Sel yang mengelilingi stoma dapat berbentuk sama atau berbeda dengan sel epidermis lainnya. Sel yang berbeda bentuk dinamakan sel tetangga, yang kadang-kadang berbeda juga isinya. Sel tetangga berperan dalam perubahan osmotik yang menyebabkan gerakan sel penutup yang mengatur lebar celah (Kuswarini, 2016). Stomata terdapat pada semua bagian tumbuhan paling luar, tetapi lebih banyak terdapat pada daun (Pandey, 1982).
Jumlah stomata berkisar antara beberapa ribu per cm persegi permukaan daun pada beberapa jenis tumbuhan dan lebih dari pada 100.000 per cm persegi pada tumbuhan lain (Loveless, 1987).Distribusi stomata sangat berhubungan dengan kecepatan dan intensitas transpirasi pada daun, misalnya letak stomata antara stomata yang satu dengan yang lain dengan jarak tertentu. Dalam batas tertentu, makin banyak porinya makin cepat penguapan. Jika lubang-lubang itu terlalu berdekatan, maka penguapan dari lubang yang satu akan menghambat penguapan lubang dekatnya (Haryanti, 2010).
Pada masing-masing spesies tumbuhan monokotil memiliki jumlah dan distribusi stomata yang berbeda dan tentunya jumlah dan distribusi stomata tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor luar dan faktor dalam. Faktor luar tersebut antara lain kelembapan, suhu, cahaya, dan angin, dan kandungan air. sedangkan 4 faktor dalam antara lain besar kecilnya daun, berlapis lilin atau tidaknya permukaan daun, banyak sedikitnya bulu pada permukaan daun, banyak sedikitnya stomata, bentuk dan letak stomata.Lebih lanjut semakin banyak jumlah daun maka semakin banyak jumlah stomata, sehingga semakin besar transpirasinya (Gardner, 1991 dalam Suyitno, 2012).
Penelitian oleh Haryanti (2010), tentang jumlah dan distribusi stomata pada daun beberapa spesies tanaman dikotil dan monokotil ditemukan bahwa stomata pada daun dikotil umumnya tersebar, sedangkan pada monokotil terletak berderet-deret sejajar sesuai dengan susunan epidermisnya misalnya alang-alang. Pada daun tanaman monokotil ukuran stomatanya relatif lebih kecil, sehingga terlihat sangat padat daripada stomata daun dikotil misalnya alang-alang, onclang, dan palm.
Tumbuhan monokotil memiliki jumlah dan distribusi stomata yang berbeda pada masing-masing spesiesnya. Selain itu juga, berdasarkan penelitian sebelumnya yang menjelaskan bahwa jumlah dan distribusi stomata pada monokotil terletak sejajar sesuai dengan susunan epidermisnya.
4. Alat dan Bahan
Mikroskop
Gelas benda
Gelas penutup
Silet
Pipet
Gunting
Bawang merah (Allium Cepa)
Daun Adam dan Hawa (Rhoeo discolor )
Larutan metilen biru
Cotton bud
Aquades 5. Prosedur Kerja
a. Bawang Merah (Allium Cepa)
Membelah bawang merah menjadi dua bagian menggunakan silet.
Kemudian mengupas bagian dalam bawang merah hingga menjadi bagian yang sangat tipis.
Mengambil bagian bawang merah yang sangat tipis tersebut dengan hati-hati menggunakan tusuk gigi, lalu meletakkan diatas preparat.
Meneteskan sedikit air akuades diatas preparat.
Meletakkan preparat pada meja preparat.
Menjepit preparat dengan penjepit preparat pada mikroskop digital.
Lalu mengatur kedekatan lensa objektif dengan objek yang akan diamati dengan cara memutar skrup pemutar kasar.
Mencari gambar yang paling jelas dan mengamati struktur bawang merah tersebut.
b. Daun Adam dan Hawa ( Rhoeo Discolor)
Menyayat lapisan belakang daun Rhoeo discolor setipis – tipisnya.
Meletakkan sayatan daun dengan menggunakan tusuk gigi ke kaca preparat.
Meneteskan setetes akuades di atas sayatan dengan pipet tetes.
Meletakkan preparat pada meja preparat.
Menjepit preparat dengan penjepit preparat pada mikroskop digital.
Mengatur kedekatan lensa objektif dengan objek yang akan diamati dengan cara memutar skrup pemutar kasar.
Mencari gambar yang paling jelas dan mengamati struktur bawang merah tersebut.
6. Hasil Pengamatan
7. Pembahasan dan Jawaban Pertanyaan 1. Pembahasan
A. Bawang Merah
Sel bawang merah memang tampak sangat sederhana, namun sebenarnya sel bawang merah sangatlah kompleks. Dinding sel bawang merah dan sel-sel tumbuhan yang lain, sangatlah rapat. Tersusun dari lapisan lipid (lemak) dan lipoprotein yang sangat teratur. Hanya zat tertentu saja yang bisa keluar masuk sel dengan mudah, seperti air dan ion-ion mineral (K, Cl dan Ca) sedangkan zat-zat lain harus melewati screening dinding sel yang sangat ketat.
Dinding Sel
Dinding sel berfungsi sebagai pelindung sel. Batang tumbuhan pada umumnya lebih keras dibandingkan dengan tubuh manusia maupun hewan. Khal ini disebabkan karena bagian luar sel tumbuhan tersusun dari dinding sel yang amat keras. Bahan utama penyusun dinding sel berupa zat kayu yaitu selulosa yang tersusun dari glukosa. Selain selulosa, dinding sel juga mengandung zat lain, misalnya pektin, hemiselulosa, dan glikoprotein.
Nukleus ( Inti Sel )
Nucleus merupakan bagian sel yang paling mencolok di antara organel- organel di dalam sel. Fungsi Inti sel adalah sebagai berikut :
- Mengendalikan proses berlangsungnya metabolisme dalam sel:
- Menyimpan informasi genetik ( gen ) dalam bentuk DNA;
- Mengatur kapan dan di mana ekspresi gen- gen harus dimulai, dijalankan dan diakhiri.
- Tempat terjadinya replika ( perbanyakan DNA ) dan trankripsi ( pengutipan DNA ).
B. Daun Adam dan Hawa (Rhoe discolor)
Rhoeo mempunyai jaringan yang terdiri dari sel-sel yang bentuknya sama dapat juga melakukan fungsi khusus yang dapat juga bersama jaringan lain membentuk fungsi yang lebih kompleks.
Pertumbuhan darai tanaman ini sangat penting pada aktivitas jaringan meristem.
Dan jaringanya terbagi dua yang berdasarkan kemampuan untuk tumbuh dan memperbanyak diri yaitu jaringan meristem dan jaringan yang permanen Fungsi dari masing- masing organel yang ada pada sel Daun Rhodiscolor adalah :
Dinding Sel,
Dinding sel adalah struktur di luar membran plasma yang membatasi ruang bagi sel untuk membesar. Dinding sel menyebabkan sel tidak dapat bergerak dan berkembang bebas, layaknya sel hewan. Namun demikian, hal ini berakibat positif karena dinding-dinding sel dapat memberikan dukungan, perlindungan dan penyaring (filter) bagi struktur dan fungsi sel sendiri.
Dinding sel mencegah kelebihan air yang masuk ke dalam sel.Dinding sel terbuat dari berbagai macam komponen, tergantung golongan organisme. Pada
tumbuhan, dinding-dinding sel sebagian besar terbentuk oleh polimer karbohidrat (pektin, selulosa, hemiselulosa, dan lignin sebagai penyusun penting). Pada bakteri, peptidoglikan (suatu glikoprotein) menyusun dinding sel. Fungi memiliki dinding sel yang terbentuk dari kitin. Sementara itu, dinding sel alga terbentuk dari glikoprotein, pektin, dan sakarida sederhana (gula).racun.
Stomata
Stomata adalah suatu celah pada epidermis yang dibatasi oleh dua sel penutup yang berisi kloroplas dan mempunyai bentuk serta fungsi yang berlainan dengan epidermis.
Fungsi stomata:
Sebagai jalan masuknya CO2 dari udara pada proses fotosintesis
Sebagai jalan penguapan (transpirasi)
Sebagai jalan pernafasan (respirasi)
Sel yang mengelilingi stomata atau biasa disebut dengan sel tetangga berperan dalam perubahan osmotik yang menyebabkan gerakan sel penutup. Sel penutup letaknya dapat sama tinggi, lebih tinggi atau lebih rendah dari sel epidermis lainnya. Bila sama tinggi dengan permukaan epidermis lainnya disebut faneropor, sedangkan jika menonjol atau tenggelam di bawah permukaan disebut kriptopor. Setiap sel penutup mengandung inti yang jelas dan kloroplas yang secara berkala menghasilkan pati. Dinding sel penutup dan sel penjaga sebagian berlapis lignin.
Sel Penjaga
Sel penjaga berfungsi untuk mengatur, membuka dan menutupnya stomata.
Pada epidermis terdapat suatu lubang yang sangat kecil, bernama stoma (stomata). bagian ini adalah celah yang dibatasi oleh dua sel khusus yang disebut sel penjaga. Jadi, stomata terdiri atas sel penjaga yang berkloroplas, sel tetangga yang tidak berkloroplas dan celah stomata.
2. Jawaban Pertanyaan
Bagian-bagian sel apa saja yang dapat anda amati dari sel bawang merah dan Rhoeo discolor?
Jawab :
Pada pengamatan yang telah dilakukan, bagian-bagian sel pada bawang merah yaitu dinding sel, nucleus dan sitoplasma.
Pada pengamatan yang telah dilakukan, bagian-bagian sel pada rhoeo discolor adalah Dinding sel , Pigmen antosianin , Sel penutup (guard cells), Sel tetangga, Kloroplas dan Stomata.
8. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan, dapat disimpulkan bahwa sel bawang merah terdiri dari sitoplasma, nucleus dan dinding sel. Sel bawang merah memang tampak sangat sederhana, namun sebenarnya sel bawang merah sangatlah kompleks. Dinding sel bawang merah dan sel-sel tumbuhan yang lain, sangatlah rapat. Tersusun dari lapisan lipid (lemak) dan lipoprotein yang sangat teratur.
Sedangkan Rhoeo discolor terdiri dari struktur yang lebih kompleks, terdiri dari dinding sel, pigmen antisianin, sel penjaga, sel tetangga, kloroplas dan celah stomata.
Pigmen antisianin pada daun Rhoeo discolor ini yang menyebabkan daun menjadi berwarna ungu serta dilengkapi dengan stomata.