Pemikiran Dr. Phil Sahiron Syamsudin dan Perkembangan Ulumul Al Qur’an di Indonesia
Muhammad Faidhur Rabbani1. Muh. Umam Barocki2. Izul Aulia Firmansyah3
Universitas Islam Negeri Kyai Haji Ahmad Sidddiq Jember
PENDAHULUAN
Ulumul Qur’an merupakan bagian terpenting didalam Al Qur’an. Karena dengan ilmu ilmu Al Qur’an lah seorang muslim dapat mengetahui kandungan dari setiap ayat dalam Al Qur’an hingga dapat disebut bahwa Al Qur’an di dalam islam dianggap sebagai ilmu-ilmu induk dari setiap struktur keilmuan islam hingga sekarang. Al Qur’an bisa disebut sebagai sumber hukum utama dalam sejarah peradaban islam dan juga sebagai patokan dalam pengkajian kitab kitab klasik hingga modern, oleh karena itu ulumul Qur’an memiliki kedudukan yang istimewa dalam pengkajiannya terhadap Al Qur’an.
Perkembangan ulumul Qur’an sudah diterapkan dan dipahami sejak masa pengumpulan Al Qur’an pada masa Nabi Muhammad dan sahabat nya sampai pengkajian tentang ilmu Al Qur’an dimasa sekarang hingga terbit berbagai macam karya ulama’ ulama’ tentang Al Qur’an khusus nya dalam bidang tafsir yang hingga kini sangat populer dengan istilah tafsir kontemporer yang mana tafsir ini merupakan metode penafsiran baru di era modern yang membahas seputar permasalahan di era modern sehingga cocok diterapkan dalam setiap perkembangan zaman. Hal ini membuktikan bahwa perkembangan ilmu ilmu Al Qur’an memiliki kontribusi yang besar terutama pada metode penafsiran Al Qur’an yang fleksibel dapat menyesuaikan zaman yang tentunya tetap sesuai kaidah.
Sahiron Syamsudin merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan studi Al Qur’an di Indonesia yang dikenal berhasil mengintegrasikan kajian hermeneutika ke dalam kajian Al Qur’an.
Sebelum beliau mencetuskan pemikirannya. Hermeneutika menjadi ojek kajian yang cenderung di hindari oleh banyak kalangan, hingga kehadiran sahiron berhasil mengubah penilaian buruk terhadap hemeneutika sehingga dalam pembawaan kajian nya di era modern-kontemporer ini. Faktor yang menyebabkan hermeneutika menjadi tabu adalah tradisi keilmuan Indonesia yang masih didominasi oleh tradisi keilmuan yang dibawakan oleh ulama’ ulama’ klasik sehingga cenderung menyalahi kebiasaan tradisi klasik dan khawatir terhadap tradisi keilmuan yang baru muncul akan membawa dampak negatif apalagi keilmuan tersebut muncul dari tradisi barat4.
1 221104010018
2 221104010011
3 222104010009
4 Tafsiralquran.id, mengenal sahiron syamsudin, pelopor kajian hermeneutika tafsir di Indonesia,
https://tafsiralquran.id/mengenal-sahiron-syamsudin-pelopor-hermeneutika-tafsir-di-indonesia/amp/diaskes pada tanggal 16 maret 2024
PEMBAHASAN
A. Biografi Dr. Phil Sahiron Syamsudin
Sahiron Syamsudin lahir di Cirebon pada tanggal 11 Agustus 1968. Saat ini, Sahiron Syamsudin tinggal di Krapyak Kulon, Panggungharjo Sewon, Bantul, Yogyakarta. Dia mendirikan Pondok Pesantren Baitul Hikmah dan menawarkan pelajaran tentang teks klasik dan hermeneutika Gracia. Selain itu, Sahiron Syamsudin mengajar Ushuluddin di Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga.5
Sahiron Syamsudin belajar agama di keluarganya. Kemudian dia pergi ke Pondok Pesantren Raudhatu al-Thalibin Babakan, Ciwaringin, Cirebon dari tahun 1981 hingga 1987.
Dia juga menempuh pendidikan formal di Madrasah Tsanawiyah Negri Babakan Ciwaringin dari tahun 1981 hingga 1984 dan Madrasah Aliyah Negri Babakan Ciwaringin dari tahun 1984 hingga 1987. Beliau juga bersekolah di pondok pesantren Nurussalam. ahiron Syamsudin menyelesaikan pendidikan sarjana di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan jurusan Tafsir Hadis dari tahun 1987 hingga 1993. Kemudian dia menempuh S2 di McGill University, Kanada, dan memperoleh gelar Master of Arts pada tahun 1998 dengan judul tesisnya Analisis metode interpretasi Qur'an oleh Bint al-Shati. Dia kemudian menempuh S3 di Bamberg University dari tahun 2001 hingga 2006, dan setelah S3 di Frankfurt University.6 Intelektual muslim Sahiron Syamsudin dianggap produktif dalam menyuarakan pendapatnya melalui media tulisan sebagai bentuk kegelisahan akademik dan respon terhadap fenomena yang sedang terjadi. Tokoh intelektual muslim seperti Fazlur Rahman (teori gerakan ganda ), Nasr Hamid Abu Zayd (analisis bahasa), dan Abdullah Saeed (Penafsiran Tokoh yang mempengaruhi pemirikan Sahiron Syamsudin tentang Hans Georg Gadamer dan Georg Gracia). Namun, pemikiran kritis metodologis Yudian Wah terpengaruh.7
B. Pemikiran Dr. Phil Sahiron Syamsudin terhadap Ulumul Qur’an
Menurut Sahiron Syamsudin, hermeneutika dapat dibagi menjadi tiga aliran berdasarkan makna objek penafsirannya: objektivis, subjektivis, dan objektivis-cum-subjektivis. Menurutnya,
5 Siti Robikah, Reinterpretasi Kata Jilbab dan Khimar dalam Al-Qur’an; Pendekatan Ma’na Cum Maghza Sahiron Syamsuddin , Ijougs, Vol. 1 No. 1, 2020, hlm. 44.
6 Nahrul Pintoko Aji, Metode penafsiran Al-Qur’an Kontemporer; Pendekatan Ma’na Cum Maghza oleh Dr. Phil.
Sahiron Syamsudin, MA., Humantech: Jurnal Ilmiah Humantech: Jurnal Ilmiah Multi Disiplin Indonesia Multi Disiplin Indonesia, Vol. 2, Januari 2022, hlm. , Vol. 2, Januari 2022, hlm. 252.
7 Siti Robikah, hal. 45.
dengan mengkaji kecenderungan aliran-aliran umum ini, ditemukan kesamaan dengan aliran- aliran tafsir Al-Quran modern. Sahiron Syamsudin kemudian mengelompokkan tafsir yang ada saat ini ke dalam tiga kategori: quasi objektivisme tradisionalis, quasi objektivisme modernis, dan subjektivisme. Menurut Sahiron, pandangan quasi-objektivis modernis adalah yang paling dapat diterima di antara ketiganya, karena menjaga keseimbangan hermeneutis dengan memberikan perhatian yang sama terhadap makna literal asli (al-ma'na al-asli) dan pesan utama (signifikansi: maghza) dibalik arti harafiahnya. Kemudian Sahiron memaparkan hipotesanya sebagai bacaan ma'na cum maghza.8
Ma'na Cum Maghza adalah jenis penafsiran yang menggunakan makna literal, yang merupakan makna historis atau tersurat, sebagai dasar untuk memahami pesan utama teks, atau makna yang tersirat. Dalam penafsiran, sesuatu yang dinamis bukanlah makna literal, tetapi merupakan pemaknaan signifikansi teks dan perubahannya sepanjang sejarah. Sahiron menyatakan bahwa metode ini adalah metode yang menggabungkan perspektif penafsir dan teks, perspektif masa lalu dan saat ini, dan perspektif Tuhan dan manusia. Oleh karena itu, pendekatan ma'na-cum-maghza memiliki hermeneutika yang seimbang.
Pendekatan ma'na cum maghza merupakan suatu metode penafsiran dimana makna (ma'na) suatu teks Al-Qur'an dipahami oleh pendengar awal kemudian dikembangkan menjadi signifikansi (maghza) untuk kondisi saat ini. Menurut Sahiron, ada sejumlah pendekatan yang hampir identik dengan pendekatan ini. Fazlur Rahman menyebutnya sebagai metode pergerakan ganda, sedangkan Abdullah Saeed mengusulkan pendekatan kontekstual yang sama yang diterapkan hanya pada bagian hukum. Namun berbeda dengan ma'na cum maghza yang berupaya memahami makna Al-Qur'an secara utuh.9
> Langkah-langkah Metodis Penafsiran Berbasis Ma'na-cum-Maghzä
Sebelum menjelaskan langkah-langkah metodis, penulis terlebih dahulu menegaskan kembali bahwa pendekatan ma'na-cum-maghzā adalah pendekatan yang menggali atau merekonstruksi makna dan pesan utama dari sejarah, yaitu makna (ma'nā) dan pesan utama atau signifikansi
8 7 Mustahidin Malula, Ma’na Cun Maghza Sebagai Metode dalam Metode dalam Kontekstualisasi Hadis Musykil (Telaah Kontekstualisasi Hadis Musykil (Telaah Pemikiran dan Pemikiran dan Aplikasi Hermeneutika Sahiron Syamsud Aplikasi Hermeneutika Sahiron Syamsudin), Citra Ilmu, Vol. 15 Edisi 29, April 2019, hlm. 31.
9 Siti Robkah, hlm. 26
(maghzā). Selanjutnya, pendekatan ini mengembangkan signifikansi teks untuk konteks kontemporer dan saat ini. Oleh karena itu, seorang penafsir seharusnya mencari tiga hal penting:
makna historis (al-ma'nā al-tārīkhi), signifikansi fenomenal historis (al-maghza al-tarikhi), dan signifikansi fenomenal dinamis (al-maghza al-mutaharrik) dalam konteks ketika teks Al-Qur'an ditafsirkan.
Penggalian Makna Historis (al-ma'na al-tarikhi) dan Signifikansi Fenomenal Historis (al-maghzā al-tärikhi)
Adapun langkah-langkah metodisnya adalah adalah sebagai berikut. Untuk mendapatkan makna dan signifikansi historis, seseorang melakukan:
(a) Penafsir menganalisa bahasa teks Al-Qur'an, baik kosakata maupun strukturnya.
(b) Untuk mempertajam analisa ini penafsir melalukan intratektualitas, dalam arti membandingkan dan menganalisa penggunaan kata yang sedang ditafsirkan itu dengan penggunaannya di ayat-ayat lain.
(c) Apabila dibutuhkan dan memungkinkan, penafsir juga melakukan analisa intertekstualitas, yakni analisa dengan cara menghubungkan dan membandingkan antara ayat Al-Qur'an dengan teks teks lain yang ada di sekitar Al-Qur'an.
(d)Penafsir memperhatikan konteks historis pewahyuan ayat-ayat Al-Qur'an, baik itu yang bersifat mikro ataupun bersifat makro.
Adapun untuk membentuk signifikansi dinamis dari ayat, langkah-langkah yang ditempuh adalah:
(a) Penafsir menentukan kategori ayat, Sebagian ulama membagi kategori ayat menjadi tiga bagian besar, yakni: (1) ayat-ayat tentang ketauhidan, (2) ayat-ayat hukum, dan (3) ayat-ayat tentang kisah-kisah nabi dan umat terdahulu.
(b) Penafsir mengembangkan hakekat/definisi dan cakupan "signifikansi fenomenal historis" atau al-maghzā al-tārikhī untuk kepentingan dan kebutuhan pada konteks kekinian (waktu) dan kedisinian (tempat), di mana ketika teks Al-Qur'an itu ditafsirkan.
(c) Penafsir menangkap makna-makna simbolik ayat Al-Qur'an. Sebagian ulama berpandangan bahwa makna lafal dalam Al-Qur'an itu memiliki empat level makna: (1) zähir (makna lahiriah/literal), (2) büțin (makna batin/simbolik), (3) hadd (makna hukum), dan (4) matla (makna puncak/spiritual)
(d) Penafsir mengembangkan penafsiran dengan mengunakan perspektif yang lebih luas
C. Pengaruh terhadap ulumul Qur’an di Indonesia
Kontribusi sahiron syamsudin dalam pekembangan studi Al Qur’an di Indonesia ialah Pendekatan hermeneutika dalam metode yang diterapkan oleh sahiron syamsudin ketika menafsirkan ayat Al Qur’an merupakan sebuah terobosan baru di dunia tafsir Indonesia karenanya sedikit sekali yang menggunakan pendekatan ini menilai bahwasannya kajian hermeneutika bertentangan dengan ulumul Qur’an. Hermeneutika digunakan oleh orientalis untuk mengkaji bible yang sangat berbeda dengan Al Qur’an yang bersifat Qath’i sehingga cenderung menghasilkan penafsran yang relative dan subjectif terhadap orang yang menafsirkan dan tidak memiliki prsedur tertentu dalam menafsirkan Al Qur’an sehiingga tidak sesuai dengan kajian islam yang menafsirkan Al Qur’an melalui prosedur periwayatan.
Sahiron syamsudin menuliskan metodenya yang disebut dengan ma’na cum maghza10. Metode ini ditawarkan oleh sahiron sebagai jalan baru untuk menemukan pesan utama Al Qur’an terlepas bahwasannya Al Qur’an turun pada masa nabi yang notabene nya berbeda kondisi dan permasalahan yang terjadi pada masa kini agar tetap relevan digunakan termasuk di era kontemporer di Indonesia. Pendekatan ini merupakan metode lanjutan dari upaya para sarjana Al Qur’an modern lainnya seperti fazlur Rahman dan Abdullah Saeed yakni dengan teori double Movement dan kontekstualistasnya11. Sama seperti Fazlur Rahman dan Abdullah Saeed, Sahiron mengkaji Al Qur’an fokus pada pencarian pesan utama pada ayat tertentu dalam Al Qur’an ketika disampaikan pada era pewahyuan dan di pahami dalam konteks kekinian.
Hingga sekarang nama beliau semakin dikenal oleh para pengkaji Al Qur’an karena kontribusi besarnya yang berhasil memadukan Ulumul Qur’an dan Hermeneutika ke dalam pamahaman ayat Al Qur’an yang dapat memberikan pelajaran penting bahwa tradisi keilmuan islam di Indonesia terutama dalam bidang Ulumul Qur’an masih berkembang dan terus berjalan yang menunjukan meningkatnya kapabilitas ulama ulama Indonesia dalam menghadapi masalah baru di setiap zaman sesuai dengan tuntunan Al Qur’an shahiih li kulli zaman wa makan.
10 Sahiron Syamsudin, Hermeneutika dan pengenmbangan Ulumul Qur’an, (Yogyakarta: Pesantren Nawesea Press 2017). Hal 139
11 Tafsiralquran.id, mengenal sahiron syamsudin, pelopor kajian hermeneutika tafsir di Indonesia,
https://tafsiralquran.id/mengenal-sahiron-syamsudin-pelopor-hermeneutika-tafsir-di-indonesia/amp/diaskes pada tanggal 17 maret 2024
D. PENUTUP
Sahiron Syamsudin, lahir di Cirebon pada tahun 1968, saat ini berdomisili di Yogyakarta.
Ia mendirikan Pondok Pesantren Baitul Hikmah dan mengajar Ushuluddin di UIN Sunan Kalijaga. Sahiron belajar agama di keluarganya dan menyelesaikan pendidikannya di berbagai sekolah Islam. Beliau memperoleh gelar sarjana dari IAIN Sunan Kalijaga dan mengejar gelar master di McGill University serta doktor di Bamberg University dan Frankfurt University.
Sahiron dikenal dengan tulisan-tulisan akademis dan opini-opininya mengenai isu-isu terkini yang dipengaruhi oleh berbagai tokoh intelektual Islam.
Pandangan Sahiron Syamsudin terhadap Ulumul Qur'an menitikberatkan pada hermeneutika, membagi tafsir menjadi tiga mazhab. Ia menekankan pendekatan ma'na cum maghza, yaitu memadukan makna harafiah dengan pesan utama teks. Metode ini bertujuan untuk memahami Al-Qur’an dalam konteks sejarah dan kontemporer. Penulis menguraikan langkah- langkah metodologis penafsiran berdasarkan ma'na-cum-maghza, dengan fokus pada makna dan makna sejarah melalui analisis kebahasaan dan intratekstualitas.
E. DAFTAR PUSTAKA
Aji, Nahrul Pintoko. 2022. Metode Penafsiran Al-Qur’an Kontemporer, Pendekatan Ma’na Cum Maghza oleh Dr. Phil. Sahiron Syamsudin, MA. Humante Humantech: Jurnal Ilmiah Multi Disipli Disiplin Indonesia. Vol. 2
Syamsudin, Sahiron. 2009. Hermeneutika dan pengembangan Ulumul Qur'an. Yogyakarta:
Pesantren Nawesea Press.
Malula, Mustahidin. 2019. Ma'na Cum Maghza Sebagai Metode dalam Kontekstualisasi Hadis Musykil (Telaah Pemikiran dan Aplikasi Hermeneutika Sahiron Syamsudin). Citra Ilmu.
Vol. 15. Edisi 29.
Robikah, Siti. 2020. Reinterpretasi Kata Jilbab dan Khimar dalam Al-Qur'an: Pendekatan Ma'na Cum Magzha Sahiron Syamsudin. Ijougs. Vol. 1. No. 1.
Shihab, Quraish. 2015. Kaidah Tafsir. Jakarta: lentera hati grup