• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARTIKEL KKN-PPL (2)

N/A
N/A
Riswansyah

Academic year: 2025

Membagikan "ARTIKEL KKN-PPL (2)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Perancangan dan Implementasi Tempat Sampah Pilah Sebagai Sistem Pengelolaan Sampah Terintegrasi di Lingkungan Sekolah

Riswansyah1, Ahmad Israk2, Lutfiah3

1Pendidikan Bahasa Jerman, Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar

2Pendidikan Bahasa Jerman, Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Makassar

3Pendidikan Akuntansi, Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Makassar [email protected]

[email protected] [email protected]

ABSTRAK

Program ini bertujuan untuk mengembangkan sistem pengelolaan sampah efektif di sekolah untuk peningkatan kesadaran lingkungan. Sistem tempat sampah terpilah dengan kategorisasi warna (Hijau, kuning, nir, merah) diterapkan untuk memudahkan pemilahan sampah, khususnya sampah orgamik dan Anorganik. Program ini dilakukan berdasarkan analisis kebutuhan, perancangan sistem, implementasi dan evaluasi efektivitas. Hasilnya menunjukkan peningkatan ketepatan pemilahan sampah siswa sebesar 75% dan meningkatnya kesadaran terhadap lingkungan. Namun, tantangan seperti konsistensi pemilahan, pemeliharaan dan perubahan kebiasaan masih perlu diatas. Program ini menyarankan pemeliharaan dan edukasi berkelanjutan untuk meningkatkan efektivitas sistem pengelolaan sampah di sekolah. Dengan demikian, diharapkan kesadaran lingkungan dan kualitas lingkungan sekolah dapat ditingkatkan. Program ini berkontribusi dalam pengembangan sistem pengelolaan sampah di sekolah.

Kata kunci: Program, Sampah, Pengelolaan, Lingkungan ABSTRACT

This program aims to develop an effective waste management system in schools to enhance environmentl awareness. A categorized waste disposal system using color-coded bins (green, yellow, blue, red) is implemented to facilitate waste separation, particularly for organic and inorganic waste.

The program is based on need analysis, system design, implementation, and effectiveness evaluation.

Results show a 75% increase in student’ waste separation accuracy and enhanced environmentl awareness. However, challenges such a consistency in waste separation, maintenance, and behavior change remain. The program recommends continuous maintenance and education ti improve waste management effectiveness in schools. Consequently, environment awareness and school environment quality are expected ti improve. Tis program contributes to the development of effective waste management systems in schools.

Keywords: Program, Waste, Management, Environment PENDAHULUAN

Sekolah menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah seiring dengan tingginya aktivitas pembelajaran dikarenakan meningkatnya jumlah siswa tiap tahunnya. Berdasarkan data dari Kementrian Lingkungan Hidup, setiap siswa menghasilkan antara 2 hingga 3 kilogram sampah tiap bulannya, di mana sekitar 60% merupakan sampah organik dan 40% sampah Anorganik. diluar sampah yang dihasilkan para guru serta staf yang ada di sekolah seperti sampah kertas dan lain-lain. Kurangnya sistem pemilahan yang efektif berakibat meningkatnya dampak negatif terhadap lingkungan.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di sekolah SMK Negeri 2 Maros, permasalahan utama yang perlu diperhatikan yaitu kurangnya kepedulian siswa terhadap kebersihan lingkungan sekolah. Sampah-sampah plastik, styrofoam dan kertas dari sisa makanan siswa di tumpuk menjadi satu di dalam tempat sampah yang ada, sehingga menyebabkan bau tak sedap yang dapat mengganggu proses belajar dan mengajar di sekolah. Diperlukan sebuah sistem pengelolaan sampah untuk mengatasi

(2)

tempat sampah pilah menjadi Solusi kunci dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah secara berkelanjutan di sekolah. Sistem ini mmempermudah proses pemilahan, sistem ini juga dapat menjadi sarana edukasi siswa mengenai cara pengelolaan sampah yang baik. Program kerja ini bertujuan untuk mengembangkan sistem tempat sampah terpilah yang sesuai dengan kebutuhan yang ada di sekolah, yang dilengkapi dengan panduan teknis, serta mengevaluasi efektivitasnya dalam mendukung program pengelolaan sampah secara menyeluruh.

METODE KEGIATAN

Tahap perancangan tempat sampah pilah atau Bank Sampah diawali dengan analisis kebutuhan secara menyeluruh melalui observasi. Selanjutnya Tim KKN-PPL UNM SMKN 2 Maros melakukan pemetaan yang komprehensif terhadap jenis dan volume sampah yang dihasilkan di lingkungan sekolah, dan dilanjutkan dengan identifikasi titik-titik strategis untuk penempatan tempat sampah. Survei preferensi pengguna dan studi ergonomi juga dilakukan untuk memastikan sistem yang dirancang dapat digunakan dengan mudah oleh seluruh komponen sekolah.

Selanjutnya dilakukan proses pembuatan tempat sampah pilah menggunakan material-material bekas yang ada di sekolah, sehingga menghemat anggaran. Adapun tahapan-tahapan pembuatannya sebagai berikut;

1. Alat dan Bahan

 Ember Bekas Cat

 Cat

 Kuas

 Kertas dengan Tulisan yang akan dipasang di Ember

 Silet

 Pilox putih 2. Proses Pembuatan

 Pertama kumpulkan alat dan bahan yang dibutuhkan.

 Bersihkan ember yang akan dijadikan tempat sampah. Pastikan ember yang digunakan masih memiliki tutup.

 Cat ember beserta tutupnya berdasarkan warna yang telah ditentukan

 Silet kertas sehingga membentuk lubang huruf

 Setelah cat di ember kering, tempelkan kertas yang telah di silet denga rapi.

 Pilox lalu tunggu hingga mengering.

 Lepas Kertas dan tempat sampah pilah siap digunakan

Gambar 1. Foto observasi sekaligus pembersihan bersama siswa

(3)

Gambar 2. Proses pembuatan tempat sampah pilah

Dalam proses pembuatan tempat sampah tersebut, tim membagi kategorisasi sampah menjadi empat yang dibedakan berdasarkan warna: Hijau untuk sampah organik (kayu, ranting pohon, dedaunan kering, dll.), Kuning untuk sampah Anorganik (Plastik, kaleng minuman, kresek, dll.), Biru untuk sampah kertas dan kardus, serta merah untuk sampah B3 (Bahan berbahaya dan beracun). Setiap unit tempat sampah dibuat dari material ember bekas tempat cat yang ada di sekolah. Dengan kapasitas 30 liter. Tempat sampah ini dilengkapi dengan tutup, label informasi yang jelas di atas tutupnya, sistem drainase untuk sampah basah, serta stand tempat sampah yang menampung empat buah tempat sampah per standnya, sesuai dengan kategorisasi sampah yang dibedakan menjadi empat.

Implementasi diawali dengan proses pengadaan dan pemasangan sesuai spesifikasi yang telah ditentukan. Penempatan dilakukan di titik-titik strategis yang telah ditentukan sebelumnya. Selanjutnya proses sosialisasi serta edukasi akan dilanjutkan secara intensif, seperti workshop pemilahan dan daur ulang sampah, serta distribuasi panduan tertulis secara menyeluruh.

HASIL & PEMBAHASAN

Program ini disambut baik oleh pihak sekolah, di mana program ini dapat membantu menyelesaikan salah satu permasalahan utama yang ada di sekolah tersebut yaitu sampah. Dengan hadirnya program ini para dewan guru khususnya Kepala sekolah berharap agar permasalahan sampah yang ada di sekolah dapat segera teratasi. Berbagai cara yang telah dilakukan di sekolah tersebut seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di sekolah, terutama di kantin-kantin yang ada sekolah.

Namun, belum juga dapat mengatasi permasalahan tersebut.

Larangan penggunaan barang sekali pakai di sekolah tanpa adanya edukasi yang diberikan, sehingga siswa tidak dapat memahami secara langsung maksud larangan tersebut. Sehingga masih banyak siswa yang melanggar aturan tersebut dan masih membuang sampah tidak pada tempatnya.

Maka kami dari Tim KKN-PPL UNM SMKN 2 Maros, berangkat dari analisis kebutuhan dan hasil observasi bersepakat untuk melaksanakan program tersebut.

Sekitar 32 Tempat sampah yang telah dibuat akan didistribusikan ke 8 titik yang telah ditentukan. Masing-masing titik diletakkan empat tempat sampah berdasarkan kategori sampah.

Kemudian dilakukan percobaan program tersebut dalam waktu satu minggu. Dan kemudian, akan dilakukan monitoring secara berkala untuk mengetahui tingkat efektivitas program tersebut.

Gambar 3. Tempat sampah siap didistribusikan

(4)

Hasil implementasi tempat sampah pilah menunjukkan peningkatan secara bertahap dalam efektivitas pemilahan sampah di lingkungan sekolah. Tim memperkirakan Sekitar 50% ketepatan siswa dalam pemilahan pada minggu pertama percobaan sistem tempat sampah pilah disekolah. Pada minggu kedua tingkat ketepatan pemilahan siswa meningkat sebanyak 25%. Edukasi serta sosialisasi yang dilakukan secara komprehensif menunjukkan bahwa pemahaman siswa dalam sistem pemilahan sampah mulai meningkat dan sebagian siswa mulai sadar akan pentingnya pemilahan sampah dalam menjaga lingkungan agar tetap nyaman saat proses pembelajaran berlangsung.

Dalam implementasinya, sistem pemilahan ini menghadapi berbagai tantangan seperti kurang konsistennya siswa dalam pemilahan, pemeliharaan secara berkala, serta resistensi siswa terhadap perubahan kebiasaan. Namun, tantangna tersebut tentu saja dapat diatasi dengan berbagai solusi. seperti, sistem pengawasan harian, memberlakukan sistem denda bagi siswa yang tidak membuang sampah pada tempat yang telah disediakan serta tidak membuang sampah berdasarkan kategorinya, jadwal pemeliharaan secara berkala, serta edukasi dan sosialisasi secara intensif dan berkelanjutan.

KESIMPULAN & SARAN

Implementasi sistem tempat sampah pilah terbukti efektif sebagai landasan dasar dalam pengembangan sistem pengelolaan sampah yang baik dan berkelanjutan. Keberhasilan sistem tersebut tidak hanya berdasarkan desain dari sistem yang tepat, tetapi juga oleh program pendukung yang baik.

Perubahan kebiasaan dalam pemahaman pengelolaan dan pemilahan sampah membutuhkan waktu serta upaya yang konsisten dari seluruh komponen yang ada di sekolah.

Sebagai bentuk pengembangan ke depan, direkomendasikan mengintegrasikan teknologi yang cocok untuk pengembangan sistem monitoring serta membentuk sebua unit pengelola khusus. Unit ini akan memastikan implementasi program sesuai visi dan melakukan pembaruan standar secara berkala. Keberlanjutan program dapat ditingkatkan melalui penguatan berbagai edukasi dan sosialisasi, menjalin kemitraan yang strategis, dan evaluasi rutin yang terstruktur.

DAFTAR PUSTAKA

Asteria, D., & Heruman, H. (2016). Bank Sampah Sebagai Alternatif Strategi Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat di Tasikmalaya. Jurnal Manusai dan Lingkungan, 23(1), 136-141.

Fatah, R., et al. (2019). Desain Tempat Sampah Pilah dengan Pendekatan Ergonomi. Jurnal Teknik Industri, 20(2) 191-200.

Nugroho, P. (2020). Analisis Efwektivitas Sistem Penilaian Sampah di Institusi Pendidikan. Jurnal Lingkngan Indonesia, 15(2), 45-58.

Raharjo, S., et al. (2018). Pengembangan Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu di Lingkungan Sekolah.

Gambar 4. Sosialisasi awal terkait tempat sampah pilah oleh kepala sekolah

pada saat apel pagi.

(5)

Suryani, A. S. (2014). Peran Bank Sampah dalam Efektivitas Pengelolaan Sampah. Jurnal Aspirasi, 5(1), 71-84.

Universitas Negeri Makassar. (2022). Panduan KKN-PPL Terpadu. Makassar: UNM Press.

(6)

Referensi

Dokumen terkait

Bagaimana peran keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai komponen sistem pendidikan, dan bagaimana pendidikan dilihat sebagai suatu proses. Membagi mahasiswa dalam 4 (empat)

Dengan hanya melakukan syuting disatu tempat yang berlatar belakang warna hijau bisa kain maupun tembok, hanya memainkan teknik pengambilan gambar, pada proses

Proses pembuatan tepung kacang hijau ini dilakukan dengan empat perlakuan dimana pada perlakuaan pertama (A1) adalah pengeringan dengan suhu 55 o C selama 4 jam,

 Proses pembuatan larutan zat warna alam adalah proses untuk mengambil pigmen–pigmen penimbul warna yang berada di dalam tumbuhan baik yang terdapat pada2. daun, batang, buah,

a. Warna Biru untuk pendidikan SMK; b. Warna Hijau untuk pendidikan D3; c. Warna Merah untuk pendidikan D4/S1; d. Warna Kuning untuk pendidikan S2. Tuliskan nama, tempat tanggal

Siklus I, pelaksanaan tahap proses pembuatan karya tari (koreografi) melalui penjelajahan tema, merespon karakter, suasana, warna musik yang dipilih dan

Hasil dari pengambilan data primer adalah tim survey dapat mengunjungi dan mengambil data lapangan pada proses pembuatan bakpia kacang hijau dengan merk “Bakpia Pathok 25” yang

Proses pemasakan buah kelapa sawit dapat dilihat dari perubahan warna kulit buahnya, dari hijau pada buah muda menjadi merah jingga waktu buah telah masak.. Pada