• Tidak ada hasil yang ditemukan

Artikel Pemikiran Tokoh Sosiologi

N/A
N/A
Tri Sujatmiko

Academic year: 2024

Membagikan "Artikel Pemikiran Tokoh Sosiologi"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

ARTIKEL TOKOH DAN TEORI SOSIOLOGI

BUDAYAKAN MEMBACA

BUDAYAKAN DISKUSI

BUDAYAKAN

MENULIS

2017

E-Book Sosiologi

Komunitas Braindilog Sociology

Edisi November 2015 – Maret 2017

EDISI TOKOH

AUGUSTE COMTE

EMILE DURKHEIM

GEORG SIMMEL

HERBERT SPENCER

IBNU KHALDUN

KARL MARX

MAX WEBER

NORBERT ELIAS

W W W

.

B R A I N D I L O G S O C I O L O G Y

.

O R

.

I D

(2)

www.braindilogsociology.or.id 2017

(3)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karuniaNya sehingga komunitas Braindilog Sociology berhasil menyusun artikel hasil diskusi pemikiran tokoh Sosiologi yang rutin dilakukan sebulan sekali. Ini merupakan salah satu upaya untuk membantu menyebarkan ilmu Sosiologi di Indonesia dan menyediakan bahan bacaan pemikiran para tokoh Sosiologi yang mudah dipahami oleh masyarakat umum. Penerbitan kumpulan Artikel ini memuat beberapa topik sebagai berikut:

1. Pemikiran Auguste Comte. Oleh: Alan Sigit Fibrianto, S.Pd 2. Pemikiran Emile Durkheim. Oleh: Marina Tri Handhani, S.Pd 3. Pemikiran Georg Simmel. Oleh: Dani Bina Margiana, S.Sos

4. Pemikiran Herbert Spencer. Oleh: Marini Kristina Situmeang, S.Sos 5. Pemikiran Sosiologi Ibnu Khaldun. Oleh: Syamsul Bakhri, S.Pd 6. Pemikiran Karl Marx. Oleh: A.Zahid, S.Sos

7. Pemikiran Max Weber. Oleh: Lita Nala Fadhila, S.Sos 8. Pemikiran Norbert Elias. Oleh: Annisa Nindya Dewi, S.Sos

Dengan adanya upaya penyusunan Artikel ini, kami berharap mampu menambah khasanah pengetahuan Sosiologi di Indonesia serta membuka jalan bagi siapa saja yang akan mempelajarinya, meneliti, dan mendalami kajian Sosiologi di Indonesia. Berhasilnya penyusunan ini selain berkat kerja keras para penyusun, juga berkat kritik serta masukan para pembaca setia web Braindilog. Selain itu, adanya kerja sama yang baik serta bantuan segenap pengurus, anggota dan dari berbagai elemen mitra Komunitas Braindilog Sociology.

Pada kesempatan ini kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dari awal Diskusi sampai penyusunan buku kumpulan artikel ini.

Untuk selanjutnya kami mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca, demi penyempurnaan penyusunan selanjunya. Semoga buku ini memberikan manfaat dan menjadi wawasan baru mengenai kajian Sosiologi di Indonesia.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Surakarta, 14 Februari 2017 Penyusun

(4)

AUGUSTE COMTE ( 1798 – 1857 )

Sekilas tentang Auguste Comte

Memiliki nama panjang Isidore Auguste Marie Francois Xavier Comte, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Auguste Comte, yang juga sebagai sosok Bapak Sosiologi. Auguste Comte lahir di Montpelier, Perancis, pada 19 Januari 1798, dan meninggal pada tanggal 5 September 1857. Comte lahir di keluarga kelas menengah. Meskipun dia adalah mahasiswa yang terlalu cepat dewasa, Comte tidak pernah menerima gelar tingkat perguruan tinggi. Comte pernah kuliah di Ecole Polytechnique, namun dia dikeluarkan karena sikap pemberontakannya dan ide-ide politis darinya.

Pengusiran itu mempunyai efek sebaliknya pada karier akademik Comte. Ia menjadi sekretaris dan anak angkat Claude Henri Saint-Simon, seorang filsuf senior Comte yang waktu itu berusia 40 tahun dan waktu itu Comte muda berusia 19 tahun. Comte dan Simon bekerja sama dengan erat selama bertahun-tahun dan Comte sangat memiliki hutang budi yang sangat besar kepada Saint-Simon. Comte sangat terpengaruh secara intelektual oleh Saint-Simon.

Pemikirannya menjadi berkembang karena pemikiran-pemikiran dari Saint-Simon.

Namun pada akhirnya mereka berdua mengalami pertengkaran dan perpecahan, karena Comte percaya bahwa Saint-Simon ingin menghilangkan nama Comte dari salah satu kontribusinya. Lalu Comte menulis mengenai hubungannya dengan Saint-Simon sebagai hubungan “pembawa bencana” dan melukiskan Saint-Simon sebagai seorang “pesulap yang merusak”. Comte berkata tentang Saint-Simon bahwa dirinya sudah tidak lagi memiliki hutang apapun kepada Saint-Simon sebagai orang yang sangat terkemuka pada saat itu.

(5)

Heilbron (1995) melukiskan Comte sebagai pria pendek (mungkin lima kaki, dua inci) atau tingginya sekitar kurang lebih 157 cm, agak juling, dan sangat resah di dalam situasi-situasi sosial, khususnya situasi yang melibatkan wanita. Istrinya Caroline Massin adalah anak haram yang kemudian disebut Comte sebagai “pelacur”. Keresahaan pribadinya kontras dengan keyakinan Comte akan kecakapan intelektualnya sendiri, dan tampaknya rasa harga dirinya cukup mantap.

Ingatan Comte yang luar biasa sangat terkenal. Diberkati dengan ingatan fotografis dia dapat mengeja kata-kata setiap halaman buku yang baru sekali dia baca. Daya konsentrasinya sedemikian rupa sehingga dia mampu menguraikan dengan ringkas isi sebuah buku tanpa menuliskannya. Kuliah-kuliahnya semuanya disampaikan tanpa catatan. Ketika duduk untuk menulis buku-bukunya, dia menulis segalanya berdasarkan ingatan.

Mengenai kematian Comte yang dikatakan meninggal dalam keadaan gila memang disebabkan karena dia memiliki masalah-masalah mental. Pada 1826, Comte menyiapkan suatu skema yang dia gunakan untuk menyampaikan serangkaian dari tujuh puluh dua kuliah publik (yang dilaksanakan di apartemennya) mengenai kuliah filsafat. Kuliah itu menarik perhatian para pendengar terpandang, tetapi setelah melaksanakan tiga kuliah, Comte menderita gangguan syaraf dan kuliah dihentikan. Dia terus menderita akibat masalah-masalah mental, dan pernah melakukan percobaan bunuh diri (tetapi gagal) dengan melemparkan dirinya ke dalam Sungai Seine.

Ada beberapa karya Comte yang sangat terkenal di antaranya yaitu, Cours de Philosophie Positive yang terdiri dari enam volume yang membuatnya termasyur. Di dalam karyanya itu, Comte menguraikan garis besar pandangannya bahwa sosiologi adalah ilmu terakhir. Karyanya yang lain yaitu, System de Politique Positive yang terdiri dari empat volume, di mana isinya mempunyai maksud yang lebih praktis, yang menyajikan suatu rencana besar untuk pengorganisasian kembali masyarakat.

Konsep-konsep Teori Auguste Comte

Revolusi Perancis 1789 abad ke-18 dan abad ke-19, menyebabkan dampak terhadap bangkitnya teori-teori sosiologis. Dampak Revolusi Perancis sangat besar dan menghasilkan dampak positif. Akan tetapi, kemudian yang menarik perhatian oleh para teoritisi yaitu, dampak- dampak negatif yang ditimbulkan yang telah merubah tatanan masyarakat pada waktu itu.

(6)

Mereka dipersatukan oleh hasrat untuk memulihkan tatanan masyarakat, yang kemudian muncullah para teoritisi sosiologi klasik pada waktu itu, antara lain; Auguste Comte, Emile Durkheim, Talcott Parsons.

Comte mengembangkan pengetahuan yang disebut fisika sosial. Dia juga yang pertama mengenalkan istilah sosiologi, maka dari itu Auguste Comte disebut sebagai Bapak Sosiologi.

Pandangan ilmiah Comte yaitu mengenai “positivisme” atau filsafat positif. dari fisika sosial, Comte memodelkan sosiologi menurut “ilmu-ilmu keras”. Ilmu ini kelak menurutnya akan menjadi ilmu yang dominan, seperti berkenaan dengan statika sosial atau dinamika sosial (perubahan sosial). Menurut Comte, dinamika sosial lebih penting daripada statika sosial, karena dengan adanya perubahan akan mencerminkan pada pembaruan sosial. Comte fokus pada perubahan sesuai dengan minatnya akan pembaruan sosial yang terjadi.

Konsep yang paling terkenal dari Auguste Comte adalah mengenai “teori evolusioner”

tentang hukum tiga tahap yaitu, tahap teologis, tahap metafisik, dan tahap positivistik. Comte mengusulkan bahwa ada tiga tahap intelektual yang dilalui di sepanjang sejarah dunia, yang akan berpengaruh pada dunia, dan di dalamnya yang lebih inti, yaitu: kelompok-kelompok, masyarakat, ilmu, individu, dan bahkan pikiran. Mengenai hukum tiga tahap yang diusulkan Comte, untuk pengertian yang pertama yaitu, tahap teologis. Tahap teologis ini menurutnya terjadi pada tahun 1300. Pada tahapan teologis ini, penekanannya yakni mengenai kepercayaan bahwa akar dari segala sesuatu adalah disebabkan oleh kekuatan-kekuatan supernatural dan tokoh-tokoh agamis yang diteladani oleh manusia. Secara khusus, dunia sosial dan fisik dianggap dihasilkan oleh Tuhan. Tahap yang kedua yaitu, tahap metafisik. Pada tahapan ini ditandai oleh kepercayaan bahwa daya-daya abstrak seperti “alam”, memiliki kekuatan ghaib, dipercaya sebagai dewa dan diagung-agungkan. Tahap yang terakhir yaitu, tahap positivistik. Pada tahapan ini ditandai oleh kepercayaan pada ilmu pengetahuan. Segala hal dikaji secara ilmiah dengan mengedepankan fakta-fakta sosial yang bersifat empiris. Memusatkan perhatian pada pengamatan dunia sosial dan fisik untuk mencari hukum-hukum yang mengaturnya. Hal ini harus bersumber pada penelitian-penelitian dan pengamatan untuk menguak segala hal.

Menurut Comte, “kekacauan intelektual adalah penyebab kekacauan sosial”. kekacauan berasal dari sistem-sistem ide yang lebih awal (teologis dan metafisik) yang masih berlanjut ke dalam zaman positivistik (ilmiah). Menurut Comte, pergolakan sosial baru akan berhenti bila

(7)

positivisme telah mendapat kendali total. Dengan sosiologi, dapat mempercepat kedatangan positivisme, sehingga membawa keteraturan kepada dunia sosial.

Pendirian Auguste Comte bagi perkembangan sosiologi klasik. Sebenarnya ada beberapa konsep yang diusung Comte dalam perkembangan ilmu sosial. Konsep teori Auguste Comte yaitu, antara lain: Konservatif dasar, Reformisme, Saintisme, dan Pandangan Evolusionernya mengenai dunia (Hukum Tiga Tahap).

Comte menekankan pada perlunya melakukan teorisasi abstrak dan turun ke lapangan dan melakukan riset sosiologis. Melakukan pengamatan, eksperimentasi, dan analisis historis komparatif. Comte percaya bahwa pada akhirnya sosiologi akan menjadi kekuatan ilmiah yang dominan di dunia karena kemampuan khasnya untuk menafsirkan hukum-hukum sosial dan untuk mengembangkan pembaruan-pembaruan yang ditujukan untuk memperbaiki masalah- masalah yang ada di dalam sistem.

Comte berada di garis terdepan perkembangan sosiologi positivistik. Positivisme Comte menekankan bahwa, “semesta sosial selaras dengan perkembangan hukum-hukum abstrak yang dapat diuji melalui penghimpunan data yang cermat”, dan “hukum-hukum abstrak itu akan menunjukkan sifat-sifat dasar dan umum semesta sosial dan akan merinci ‘hubungan-hubungan alamiah’-nya”.

Pemikiran – Pemikiran Comte

A. Hukum Tiga Tahap Perkembangan Evolusi Dunia Teologi, Metafisika, dan Positivisme

Misalnya masyarakat pada zaman dahulu ketika akan berlayar atau melaut melakukan pemujaan dan menaruh sesaji di pohon atau tempat tempat yang dianggap keramat (teologi), tetapi ternyata tetap saja kapalnya tenggelam dan ketika terjadi bencana tempat-tempat pemujaan tersebut juga ikut hancur sehingga dianggap bukan merupakan sesuatu yang istimewa lagi.

Masyarakat mulai berfikir bahwa yang paling berkuasa adalah alam (metafisika) maka ketika akan berlayar melihat alam sedang bersahabat atau tidak. Tetapi, tetap saja walaupun berlayar dalam keadaan alam yang bersahabat ada juga kapal yang tenggelam sehingga masyarakat mulai berfikir kritis dengan menerapkan pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman-

(8)

pengalaman para pelaut untuk memperkokoh kapalnya dengan berlayar memanfaatkan kompas, kapal yang tidak lagi hanya dari kayu (mulai dibuat lebih kokoh ditambahkan besi atau dibuat dari besi, dan berlayar menggunakan peta dengan menghindari tempat-tempat rawan (positifistik).

B. Fokus Perhatian Comte

Aliran Konservatif Dasar, Reformisme, Saintisme, dan Hukum Tiga Tahap Perkembangan Evolusi Dunia.

Referensi

Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi dari Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Yogyakarta: Pustaka pelajar.

( Oleh: Alan Sigit Fibrianto )

(9)

EMILE DURKHEIM

Fakta Sosial

Emile Durkheim lahir di Epinal, Perancis pada 15 April 1858 yang masih keturunan rabi (pendeta Yahudi). Ia dibesarkan di Perancis dan menjadi seorang akademisi yang sangat berpengaruh karenaberhasil melembagakan sosiologi sebagai satu disiplin akedemisi yang sah.

Durkheim memberikan pengaruh yang besar dalam aliran fungsionalisme sosiologi. Karya Durkheim antara lainThe Division of Society, The Rules of Sociological Methods, The Elementary Forms of Religious Life, dan The Structure of Social Action.Dalam bukunya The Rule of Sociological Methods,Ia menekankan bahwa tugas sosiologi adalah mempelajari fakta–

fakta social yang memiliki karakteristik, pertama, gejala sosial bersifat eksternal terhadap individu, misalnya nilai, norma, bahasa. Kedua, bersifat memaksa individu dimana individu dibimbing, didorong dan dipengaruhi oleh berbagai tipe fakta sosial dalam lingkungan sosialnya.

Ketiga, bersifat umum atau terbesar secara meluas dalam satu masyarakat. Fakta sosial dibedakan menjadi dua tipe yaitu material dan non-material. Meski ia membahas keduanya dalam karyanya, perhatian utamanya lebih tertuju pada fakta sosial non material (misalnya kultur, instrusi sosial) ketimbang pada fakta sosial material (birokrasi, hukum). Fakta sosial non material terdiri dari moralitas, nurani kolektif, representasi kolektif dan arus sosial. Perhatiannya tertuju pada upaya membuat analisis komparatif mengenai apa yang membuat masyarakat bisa dikatakan berada dalam keadaan primitif atau modern. Ia menyimpulkan bahwa masyarakat primitif dipersatukan terutama oleh fakta sosial non-material. Tetapi kesadaran sosial dalam

(10)

masyarakat akan semakin menurun seiring dengan pergerakan masyarakat yang makin kompleks pada masyarakat modern.

Solidaritas dalam Struktur sosial

Seiring berjalannya waktu masyarakat juga akan berkembang dari primitive atau tradisional menjadi modern begitu juga dengan system hubungannya yang disebut sebagai solidaritas. Solidaritas menunjuk pada satu keadaan hubungan antara anggota masyarakat yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama kemudian diperkuat pengalaman emosional masyarakat. Penjelasan Durkheim mengenai solidaritas tertuang dalam bukunya The Division of Labour in Society.Menurutnya, pertumbuhan dalam pembagian kerja meningkatkan suatu perubahan dalam struktur sosial masyarakat yang awalnya dari solidaritas mekanik kemudian berkembang menjadi solidaritas organik. Menurut Durkheim, solidaritas mekanik terbentuk atas dasar kesadaran kolektif, yang menunjuk pada totalitas kepercayaan–

kepercayaan dan sentimen–sentimen bersama yang rata – rata ada pada warga yang sama itu.

Ciri khas yang penting dari solidaritas mekanik adalah homogen dalam kepercayaan atau sentimen dan memiliki tingkat pembagian kerja yang minim.Sedangkan solidaritas organik, muncul atas dasar pembagian kerja bertambah besar dan saling ketergantungan yang sangat tinggi, ditandai oleh pentingnya hukum yang bersifat restitutif (menekankan pada ganti rugi kesalahan) dari pada yang bersifat represif (menindas).

Bunuh Diri

Selanjutnya dalam bukunya yang berjudul Suicide, Durkheim berpendapat bahwa bila ia dapat menghubungkan perilaku individu seperti bunuh diri itu dengan fakta sosial. fakta sosial yang satu dengan fakta sosial yang lain memiliki hubungan interdependensi. Durkheim memperlihatkan analisisnya tentang kekuatan sosial yang mempengaruhi perilaku manusia dengan melakukan penelitian yang membandingkan angka bunuh diri pada beberapa negara di Eropa dan didapati bahwa angka bunuh diri di tiap negara berbeda kemudian dari itu semua Durkheim menarik kesimpulan yang menyatakan bahwa bunuh diri bukan terjadi karena alasan pribadi melainkan terdapat faktor sosial yang melandasi tindakan bunuh diri. Durkheim mengelompokkan 4 tipe bunuh diri yang terjadi dalam masyarakat. yang pertama adalah bunuh diri egoistis yang terjadi karena lemahnya integrasi sosial kemudian membuat individu merasa

(11)

dirinya bukan bagian dari masyarakat dan masyarakat bukan bagian dari individu. Kedua, bunuh diri altruistik yang terjadi karena kuatnya integrasi sosial masyarakat yang menjadikan individu malu apabila melakukan hal – hal yang memperburuk citra masayarakat atau kelompoknya.

Ketiga, bunuh diri anomik yang terjadi karena lemahnya regulasi dalam masyarakat yang ditandai dengan banyaknya kekacauan akibat terganggunya kekuasaan – kekuasaan pengatur masyarakat. keempat adalah bunuh diri fatalistic yang justru terjadi karena terlalu kuatnya regulasi dalam masyarakat.

Agama

Dalam bukunya yang berjudul The Elementary Form of Religious Life,Durkheim memandang bahwa agama berhubungan dengan suatu Dunia yang suci atau sacral (sacred).

Durkheim mendefinisikan agama sebagai suatu sistem yang terpadu mengenai kepercayaan- kepercayaan praktek-praktek yang berhubungan dengan benda-benda suci dalam bentuk simbol dimana agama dapat menjadi salah satu kekuatan untuk menciptakan integrasi sosial.

Kepercayaan dan ritus agama dapat memperkuat ikatan - ikatan sosial dimana kehidupan kolektif tersebut ada. Sehingga menunjukkan bahwa hubungan antara agama dan masyarakat memiliki ketergantungan yang sangat kuat. Menurut Durkheim, kepercayaan-kepercayaan memperlihatkan kenyataan masyarakat itu sendiri dalam bentuk simbolis. Ritus - ritus mempersatukan individu dalam kegiatan bersama dengan satu tujuan bersama dan memperkuat kepercayaan, perasaan dan komitmen moral yang merupakan dasar struktural sosial. Durkheim menjelaskan bahwa anggota-anggota komunitas berkumpul bersama untuk memperkuat kembali nilai-nilai dasar atau memperingati peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah mereka bersama.

Pembaruan sosial dan Pendidikan Moral

Seperti yang telah kita ketahui bahwa tulisan – tulisan Durkheim mengacu pada isu – isu sosial. baginya, masyarakat hanya aka nada dalam dua kondisi yaitu masyarakat yang normal dan masyarakat yang patologis, masyarakat yang normal cenderung tertata dengan baik dan para anggota masyarakatnya menjalankan nilai dan norma ideal. Sedangkan masyarakang patologis dianggap sebagai masyarakat yang memiliki berbagai masalah seperti penyimpangan – penyimpangan dan kekacauan. Dalam hal ini, Durkheim memberikan sebuah solusi pembaruan

(12)

sosial dengan melakukan adanya pendidikan moral yang harus ditanamkan kepada anak – anak dalam hal moralitas

Referensi

Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi dari Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Yogyakarta: Pustaka pelajar.

( Oleh: Marina Tri Handhani )

(13)

GEORG SIMMEL

Georg Simmel memiliki 4 teori besar yang akan dibahas yakni Pemikiran Dialektis, interaksi sosial, kebudayaan subjektif dan objektif. Seperti tokoh pemikiran dialektis lainnya Hegel dan Marx apakah terdapat perbedaan dari analisa Simmel tentang pemikiran dialektis ? dan bagaimana konsep interaksi sosial milik Simmel, apakah seperti Baudrillard tentang yang membahas adanya I and Me? Kemudian konsep terakhir dari Simmel adalah studi kasus.

Kehidupan Georg Simmel, beliau lahir pada tanggal 1 Maret 1858 di Berlin, tumbuh sebagai seorang yang menggeluti bidang filsafat di Universitas Berlin. Perjalanan karier Georg Simmel diawali dengan menjadi pengajar tidak tetap di Universitas Berlin dan tidak dibayar.

Meskipun secara finansial tidak mendapatkan hasil yang setimpal, namun Simmel memiliki prestasi tersendiri, karena beliau dalam mengajar menyenangkan, mengangkat hal-hal yang baru dan hal ini membuat para mahasiswa menyukai gaya mengajar Simmel. Selain menjadi pengajar tidak tetap, Simmel juga menjadi private dosen untuk mahasiswa-mahasiswanya dengan bayaran yang cukup tinggi, sehingga perlahan kariernya mulai naik. Setelah mendapatkan gear doktoral, Simmel diangkat sebagai staff pengajar tetap di Universitas Berlin. Kondisi kemudian mulai berubah karena pada saat itu di Jerman terjadi gerakan anti semitisme yang menyebabkan kaum Yahudi menjadi terpinggirkan. Alhasil Simmel pindah ke sebuah universitas kecil si Strasbourg pada tahun 1914, meskipun keadaan akademik disana tidak seperti di Jerman, bahkan mahasiswa-mahasiswa Simmel menyayangkan kepindahan Simmel dari Universitas Berlin.

Karier Simmel di Strasbourg tidak berjalan mulus karena pada tahun tersebut terjadi Perang Dunia I yang memporak-porandakan kehidupan di Strasbourg sehingga berimbas pada karier Simmel yan terpaksa berhenti hingga beliau wafat pada tahun 1918.

Beberapa pokok perhatian Simmel adalah tentang pemikiran dialektis (gaya, kebudayaan objektif dan subj ektif), interaksi sosial, the philosophy of money, studi kasus.

Pemikiran dialektis Simmel memiliki kemiripan dengan Marx dan Weber, Simmel menangkap

(14)

fakta namun mengkaji secara mikro dan lebih menganalisa secara psikologi. Misalnya adalah konsep tentang Gaya. Gaya merupakan suatu esensi yang menarik dan dualistis. Gaya merupakan suatu bentuk relasi yang memungkinkan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan keinginan kelompok. Gaya dikatakan sebagai proses historis, dimana pada tahap awal setiap orang akan menerima gaya, kemudian mulai memilah-milah mana yang cocok baginya, pada tahap akhir seseorang dapat saja melenceng dari gaya yang ada dan menciptakan gaya sendiri.

Gaya juga bersifat dialektis, dimana persebaran gaya dinilai sebagai sebuah keberhasilan yang berujung pada kegagalan. Adanya perbedaanlah yang menyebabkan kecocokan, semakin banyak orang yang menerima maka gaya akan kehilangan daya tariknya. Dan sebagai wujud dualitas, gaya juga digunakan sebagai upaya untuk keluar dari gaya. Secara garis besar, gaya merupakan fenomena mikro yang menjadi kajian pemikiran dialektis Simmel.

Kesadaran Objektif dan Kesadaran Subjektif. Kesadaran objektif menurut Simmel adalah segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia, seperti barang, benda, iptek, budaya, dan lain-lain. Kesadaran subjektif adalah kemampuan manusia untuk menggunakan, mengelola dan menguasai hasil dari kebudayaan objektif.

Kapan suatu kebudayaan dikatakan sebagai kebudayaan subjektif dan kebudayaan objektif? Kebudayaan dikatakan sebagai kebudayaan objektif adalah saat “aku menciptakan sesuatu” , dan kebudayaan subjektif adalah saat “ aku menggunakan sesuatu”. Bukan pada kapan, tapi pada apa yang dilakukan, jika menciptakan maka hasilnya berupa kebudayaan onjektif dan apabila menggunakan maka hasilnya adalan pemanfaatan hasil manusia (kebudayaan subjektif).

Kesadaran individu, menurut Simmel basis dari kehidupan sosial adalah individu atau kelompok yang sadar dan berinteraksi satu sama lain untuk beragam motif, tujuan dan kepentingan. Sehingga disini, kesadaran individu akan terus terjadi selama terdapat bentuk interaksi, menurut Simmel masyarakat bukan hanya perwujudan dari nilai-nilai yang ada di luar dari dirinya, melainkan sebagai bentuk representasi diri atas berbagai pengetahuan maupun pengalaman yang ada daam dirinya. Seseorang dikatakan menggunaan kesadaran individunya adalah saat manusia sebagai aktor dapat mengambil dorongan eksternal, menjajaki, dan memutuskan tindakan apa yang sebaiknya dilakukan melalui kemampuan internal yang dimiliki.

Interaksi Sosial. Simmel cukup tertarik dengan adanya interksi, salah satunya adalah mengenai geometri sosial. Geometri relasi sosial melihat dampak jumlah dan jarak terhadap kualitas interaksi sosial. Menurut Simmel terdapat dua konsep yag berkaitan dengan geometri sosial, yakni dyad dan triad. Dyad adalah kelompok yang terdiri dari dua orang. Sedangkan triad adalah kelompok yang terdiri dari 3 orang. Tambahan orang ketiga dalam suatu kelompok mengakibatkan perubahan yang radikal dan fundamental. Pola tambahan orang ke empat, lima dst hampir sama dengan keberadaan orang ketiga. Dyad memiliki ciri tidak memperoleh makna di luar dua individu yang ada di dalamnya, level individualitas tinggi dan mudah dipisahkan, tidak ada struktur kelompok independen. Triad memiliki ciri, memungkinkan orang di dalam

(15)

kelompok mendapatkan makna diluar mereka sendiri, terciptanya struktur kelompok independen, kehadiran orang ketiga merupakan ancaman bagi kondisi individualitas anggotanya, namun kemunculan orang ketiga bisa berperan sebagai mediasi jika terjadi perselisihan namun juga bisa memanfaatkan situasi yang sedang terjadi diantara anggota kelompok lainya. Kaitannya dengan jumlah kelompok, bahwa semakin besar jumlah kelompok maka semakin kecil kontrol sosialnya, dan semakin kecil kelompok maka semakin terikat kontrol sosialnya. Superordinasi dan subordinat merupakan relasi dominasi yang saling timbal balik, menurut Simmel bahwa Superordinasi bisa saja mengambil secara penuh independensi pihak yang tersubordinasi, namun pihak suborniasi masih memiliki kebebasan dan pihak superordinasi menghendaki adanya insiatif yang datang dari pihak subordinasi. Keduanya merupakan hubungan timbal balik.

Apakah Simmel itu bukan tokoh sosiologi klasik? Karena ranah bahasannya bersifat psikologis? Sedangkan Sigmund Freud, dia membahas psikologi tapi kenapa tidak dimasukkan ke dalam salah satu tokoh sosiologi? Sedangkan yang kita tahu bahwa sosiologi bersifat fakta sosial dan empiris.

Simmel melihat masyarakat lebih ke individu, jadi tidak dapat dikatakan sepenuhnya dia mengkaji tentang psikologi, hanya ketertarikan Simmel memang di ranah yang berlevel mikro.

Menurut Sigmund Freud bahwa antara psikologi, sosiologi dan histori merupakan tiga cabang ilmu yang saing berkaitan dan tidak bisa lepas, karena masing-masing dari keilmuan ini menciptakan sebuah irisan dan pada irisan itulah terdapat kaitan antara ketiganya. Selalu ada irisan antara psikologi dan sosiologi, dan mungkin di ranah tersebutlah Simmel menggunakal analysis frame untuk mengkaji berbagai ketertarikannya. Hal yang berlevel mikro itu ranahnya psikologi. Psikologi dan Sosiologi itu sama-sama objeknya adalah manusia. Bedanya psikologi membahas sesuatu yang tidak nampak dari individu yakni emosi, jiwa, karakter, dll. Sedangkan sosiologi lebih membahas hal yang nampak dari individu/ kelompok yakni aksi, interaksi, konflik, dan lain-lain.

Teori of Money. Dalam teori yang berkaitan dengan uang ini, Simmel sedikit menggunakan sentuhan Marxis karena melihat uang sebagai sebuah fenomena kapitalistik.

Simmel mengkaji uang yang bertransformasi menjadi sebuah nilai. Jadi segala hal yang dapat dinilai harganya menggunakan parameter uang. Subjek yang dalam melakukan usahananya untuk menjangkau objek memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi maka dikatakan memiliki nilai yang besar, dan nilai yang besar ini dapat diuangkan menjadi pendapatan yang lebih besar.

Namun terdapat beberapa hal dialektis yang kemudian muncul dari bagaimana uang bertransformasi menjadi nilai, kaitannya dengan usaha maka jarak juga ikut memberikan pengaruh. Kemampuan seseorang atau subjek dalam mengjangkau objek dilihat dari jaraknya, sesuatu yang berjarak terlalu dekat maka tidak akan memiliki nilai, demikian pula dengan sesuatu yang berjarak terlalu jauh maka nilainya pun akan hilang karena terlampau tidak bisa dijangkau. Ada gigitan dari Karl Marx tentang kapitalisme, hanya saja Simmel membuatnya lebih halus seakan menyembungikan kapitalisme dalam wadah transformasi uang menjadi nilai.

Apakah ada kaitannya antara uang dengan perilaku? Iya, kedua hal tersebut memang saling

(16)

mempengaruhi. Misalnya, dilihat dari profesi Doktor dan PNS, dokter memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan PNS, sehingga Dokter memiliki uang yang lebih banyak, tentu saja hal tersebut berhubungan dengan perilakunya.

Ada peristiwa dimana buruh berdemo besar-besaran untuk menuntut gaji, sedangkan bidan, dokter, guru merasa hal tersebut tidak perlu dilakukan oleh mereka, mereka cenderung menerima hasil yang mereka miliki. Meskipun harga atau gaji yang didapatkan tidak jauh beda dengan standar upah buruh. Karena ada nilai lain yang dimiliki Bidan dibandingkan dengan Buruh, profesi Bidan menempati posisi yang lebih tinggi dibandingkan buruh, sehinhgga mereka memiliki prestige yang lebih baik.

Tragedi Kebudayaan. Kaitannya dengan Theory of Money, dimana uang menjadi parameter untuk mengukur nilai sesuatu. Tragedi kebudayaan pun ikut mengiringi, dimana terciptanya segmentasi, pembagian kerja, terciptanya spesialisasi sehingga kekuatan intelektual semakin mempertegas posisi seseorang melalui pelapisan tersebut. Hal ini termasuk dalam bentuk kapitalisme dan imperalisme yang berbalut pada intelektual, sehingga kemampuan seseorang dalam hal ilmu merupakan sebuah komodifikasi sehingga laku di pasar dunia kerja.

Studi Kasus. Simmel memiliki konsep atas studi kasus yang menarik dan berbeda dari yang lain, dimana studi kasus menurut Simmel dapat diuraikan sebagai sebuah spesifik atau kerahasiaan. Simmel mengatakan bahwa interaksi tidak mungkin terjadi apabila antara orang yang satu dengan yang lainnya tidak saling mengetahui sesuatu hal dari lawan interaksi mereka.

Padahal orang akan menyembunyikan kerahasiaannya dari pihak luar dan pihak luar selalu berusaha untuk mengungkapkan rahasia itu dengan cara tertentu. Jadi menurut Simmel, sebuah kasus dapat saja dibuka karena setiap orang memiliki potongan-potongan petunjuk yang dapat mengurai suatu kasus, dan dengan ini Simmel menggunakan premis tersebut sebagai studi kasus.

Tragedi kebudayaan itu lebih menghargai intelektualitas, seperti kasus adanya ijazah abal- abal dan prosesi wisuda abal-abal. Pendidikan di Indonesia memberikan akses yang besar hanya pada kaum yang memiliki intelektualitas tinggi, kita terlalu memberikan nilai yang mahal terhadap pendidikan bagaimana kita bisa menebus dosa pendidikan, yakni dengan memfasilitasi bagi semua orang yang ingin mengakses ke dunia pendidikan. Karena sejauh ini spesialisasi kerja menuntut kompetensi di bidang intelektualitas sehingga pendidikan menjadi sesuatu yang bernilai dan bahkan di perjual-belikan.

Referensi

Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi dari Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Yogyakarta: Pustaka pelajar.

( Oleh: Dani Bina Margiana )

(17)

HERBERT SPENCER (1820–1903)

Jika kita berbicara mengenai teori evolusi dan perkembangannya, barang kali kebanyakan orang akan menyebutkan nama seorang ilmuwan Klasik Charles Darwin sebagai tokoh dalam teori Evolusi yang terkenal dengan karyanya “Seleksi Alamiah”. Akan tetapi, jauh sebelum Darwin, ada seorang tokoh sosiologi yang berpengaruh terhadap perkembangan sosiologi di Inggris, adalah dia Herbert Spencer yang pertama kali menemukan ungkapan “kelangsungan hidup yang paling kuat” sebelum karya Darwin mengenai seleksi alamiah. Dalam hal pengaruhnya terhadap perkembangan teori sosiologi, Spencer sering dikategorikan bersama Comte sebagai ilmuwan sosiologi yang konservatif. Meskipun sulit sekali untuk mengkategorikan Spencer sebagai ilmuwan yang konservatif karena pandangan awalnya yang liberal dan politis, namun sepanjang perjalanan hidupnya serta pengaruhnya yang mendasar terhadap perkembangan sosiologi menjadikan Spencer kemudian dikategorikan sebagai salah satu ilmuwan klasik yang konservatif.

Spencer lahir di Derby, Inggris, pada 27 April 1820. Dalam perjalanannya, Spencer sendiri awalnya adalah seorang yang menekuni bidang teknis dan praktis. Tahun 1837 ia bekerja sebagai seorang Insyinyur sipil untuk kereta api, pekerjaan ini ia lakoni hingga tahun 1846. Selama periode tersebut, Spencer kemudian melanjutkan studinya dan memulai menerbitkan karya- karyanya yang bersifat ilmiah dan politis. Sebenarnya, Spencer sendiri tidak pernah dididik di bidang seni maupun ilmu humaniora, namun ketertarikan itu muncul manakala pada saat itu Spencer dalam pekerjaannya menemukan adanya potongan-potongan rel kereta api yang lambat laun mengalami perubahan.

Pada tahun 1848, Spencer memulai karirnya di bidang Jurnalistik, pada saat itu ia ditunjuk sebagai editor majalah the economist, yaitu sebuah tabloid mingguan keuangan yang terkenal dan sangat berpengaruh pada kelas menengah saat itu. Setelah ia menekuni bidang jurnalistik, pada saat itu pula karya-karyanya mulai mengental dan dikenal oleh banyak orang. Kemudian di tahun 1850, ia mengeluarkan karya pertamanya “the social statics” , dimana karyanya tersebut

(18)

banyak membahas dan mengupas tentang politik dan evolusi manusia. Meskipun dalam proses penulisan karyanya yang pertama Spencer sempat mengalami Insomnia yang mengakibatkan ia mengalami masalah mental (Kemacetan Saraf), lantas hal tersebut tidak membuat Spencer berhenti menghasilkan karya-karyanya dalam bidang humaniora. Setelah karyanya yang pertama, pada tahun 1852 Spencer dipercaya untuk bekerja dalam dunia pemerintahan dan berperan sebagai mediator. Dibalik kesibukannya dalam dunia pemerintahan, Spencer tetap menyempatkan untuk manulis karya-karyanya dan kembali berhasil menerbitkan artikel mengenai “The Development Hyphothesis.”

Pada tahun 1853, beliau disarankan untuk meninggalkan pekerjaan dan menjalani sisa hidupnya sebagai seorang sarjana gentleman (sarjana dengan penghasilan yang independen) oleh sebab masalah saraf yang dialaminya. Namun, ketika Spencer mulai menyendiri akibat sakit fisik dan mentalnya yang semakin parah, produktivitas Spencer dalam mengahasilkan karya semakin meningkat, yang menjadikan namanya semakin tenar di Inggris pada saat itu. Pada tahun 1855, bergerak dalam bidang psikologi dan evolusi, Spencer kembali mengeluarkan karyanya tentang

“The Principle Of Physchology Edisi Pertama”. Berangkat dari karyanya tersebutlah, pada tahun 1858 Spencer memulai ketertarikannya dalam bidang sosiologi the shyntetic philosophy, dan menyusun karyanya dari sudut pandang evolusi tentang tahap perkembangan masyarakat yang diterbitkan sekitar tahun 1862.

Sepanjang karirnya, Spencer terkenal sebagai ilmuwan yang sama halnya seperti Comte, yakni mempratikkan “Kebersihan Otak.” Dimana dalam menghasilkan karya-karyanya Spencer tidak pernah membaca buku, tulisan, atau gagasan dari orang lain. Baginya, sepanjang hidupnya ia adalah seorang pemikir bukan pembaca, sehingga ia tak membutuhkan ide atau gagasan dari orang lain untuk menguatkan karya-karyanya. Hal ini lah yang kemudian menjadikan runtuhnya intelektual Spencer yang berujung pada kekuatan teorinya yang diragukan oleh ilmuwan- ilmuwan saat ini. Dalam penelitiannya, Spencer membayar peneliti untuk membaca dan meneliti tentang persoalan etnografi maupun sejarahnya. Setelah semuanya didapat barulah kemudian ia mengatur penelitiannya dengan sistemnya sendiri. Hasil dari usaha tersebut, pada tahun 1873- 1881 beliau berhasil menerbitkan karyanya mengenai “the descriptive of sociology” beserta buku

“The Study of Sociology” tentang tatanan sosial dan sistem sosial masyarakat. Kedua karya tersebut itulah yang merupakan karya terbesar Spencer sepanjang perjalanannya dalam bidang sosiologi.

Spencer sendiri adalah seorang ilmuwan yang tidak pernah mendapat gelar universitas ataupun memegang suatu posisi akademik, baik sebagai insinyur teknik maupun ilmuwan dalam bidang humaniora. Ketekunannya dalam mempelajari suatu bidang keilmuan serta karya- karyanya yang banyak dipakai sejak tahun 1867 pada Oxfort University, menjadikan Spencer sempat mendapatkan tawaran mengajar di 32 Universitas terkemuka di Inggris, namun ia menolaknya. Beberapa karya-karya luar biasa yang dihasilkannya lewat pemikirannya sendiri itu kemudian menjadikan Spencer dinobatkan sebagai seorang filsuf yang terhormat.

(19)

Pandangan yang mendasari Spencer mengenai Evolusi

Seperti yang telah disampaikan penulis di awal, Spencer adalah seorang ilmuwan yang sering sekali disamakan dengan raksasa sosiologi, Auguste Comte, dari segi pengaruhnya terhadap perkembangan sosiologi, yakni sama-sama merupakan dua ilmuwan yang konservatif.

Konservatif Spencer terletak pada penerimaannya terhadap doktrin “laisses-faire” yang mana negara hanya berhak mencampuri urusan-urusan perlindungan hak yang pasif, namun tidak dengan urusan individu. Sebagai seorang “social darwinist” ia menganut paham evolusioner yang memiliki pandangan bahwa dunia terus tumbuh semakin baik. Kehidupan manusia seharusnya bebas dari pengaruh dan pengendalian luar, campur tangan dari luar hanya akan memperburuk situasi. Lembaga-lembaga sosial, tumbuhan, hewan, akan menyesuaikan diri secara progressif dan positif kepada lingkungan sosialnya. Kelangsungan hidup manusia adalah suatu proses seleksi alamiah “Kelangsungan Hidup bagi yang paling kuat” artinya adalah sejalan dengan adanya rintangan intervensi eksternal, maka yang “kuat” akan bertahan hidup dan berkembang biak, sementara mereka yang “tidak kuat” akan punah. Pandangan Spencer yang berada pada level individu inilah yang menjadi perbedaannya terhadap pandangan Comte yang lebih berfokus kepada satuan-satuan yang lebih besar seperti keluarga.

Kesamaan lain diantara keduanya adaah kecenderungan Spencer dan Comte dalam melihat masyarakat sebagai suatu organisme. Dalam hal ini, Spencer meminjam perspektif-perspektif dan konsep-konsep sosiologi untuk menjelaskan pandangannya mengenai evolusi. Menurut Spencer masyarakat dapat dipandang secara ilmiah dan dapat pula dipandang secara evolusioner.

Melalui perspektif biologi, Spencer menjelaskan pandangannya mengenai masyarakat melalui evolusi yang sistematik pada alam semesta, yakni terdiri dari materi dan energi. Seperti halnya dalam istilah yang ia keluarkan “evolution is a change from a state or relatively indefinite, incoherent, homogenity to a state of relatively devinite, coherent, and heterogenity.” Perubahan itu dalam pandangan evolusi oleh Spencer dilihat sebagai suatu hal yang bergerak dari hal yang sederhana menuju ke hal yang rumit, dan berturut-turut. Manusia dapat diibaratkan seperti struktur lapisan tanah, iklim, dan bumi. Kemudian dapat dilihat pula adanya kumpulan ras, peradaban individu, politik, ekonomi, agama, dan tingkat akktifitas manusia yang beragam, konkrit dan abstrak. Perbedaan-perbedaan serta hal-hal yang beragam inilah oleh sebab perbedaan kepentingan antar manusia yang kemudian memunculkan adanya seleksi alam, mereka yang “kuat” akan bertahan, sedangkan mereka yang “lemah” akan tersingkirkan dan punah.

Evolusi dalam pendekatan sosiologi menurut pandangan Spencer adalah lebih menjurus kepada evolusi tingkah laku manusia yang dituliskannya dalam buku the principles of sociology.

Dalam bukunya tersebut ia mengatakan bahwa kemajuan organisme masyarakat dari jenis rendah ke tinggi adalah jenis kemajuan dan keseragaman struktur. Dalam hal ini, Spencer mempertahankan pola sebab akibat, dan memandang suatu masalah dari segi perilaku

(20)

masyarakat itu sendiri maupun yang berasal dari alam. Seperti halnya Evolusi dalam pandangan politik menurut Spencer berada pada sistem politik itu sendiri. Sistem politik pada suatu negara hendaknya berdasarkan pada kondisi masyarakat yang ada dan tidak memaksakan sistem. Dalam pandangan pernikahan antar manusia, Spencer melihat evolusi manusia melalui perkembangan perkawinan, bentuk-bentuk keluarga, konsep harta milik dan sebagainya. Pada masa sekarang, ayah merupakan faktor penentu garis keturunan. Hal ini adalah suatu bentuk perubahan yang mana pada masyarakat primitif terdahulu (matrilineal) ayah adalah penerima keturunan.

Teori Evolusioner Spencer

Dalam teorinya ini ada dua perspektif utama evolusioner yang menjadi dasar pemikirannya. Pertama, berkenaan dengan ukuran manusia yang semakin bertambah. Bertumbuh dari pelipatgandaan individu, maupun kelompok yang bercampur. Pertumbuhan ukuran-ukuran masyarakat ini kemudian menunculkan struktur-struktur yang lebih besar dan dan terdeferensiasi, termasuk dalam fungsinya. Hal inilah yang menurut Spencer kemudian makin lama akan makin menyatukan kelompok-kelompok yang berdampingan, yang berujung kepada perubahan masyarakat dari yang sederhana ke penggabungan masyarakat yang semakin banyak dan kompleks.

Dalam pembahasan mengenai sistem sosial, Spencer menyebutkan bahwa masyarakat awalnya adalah organisme atau atau superorganis yang hidup berpencar-pencar. Dimana antara masyarakat dan badan-badan yang ada disekitarnya terdapat suatu keseimbangan tenaga, suatu kekuatan yang seimbang antara masyarakat yang satu dan masyarakat yang lain, antara kelompok sosial satu dengan kelompok sosial lainnya. Dalam upaya menuju keseimbangan, masyarakat dengan masyarakat lainnya, masyarakat dengan lingkungan mereka, akan berjuang satu sama lain demi eksistensi mereka diantara warga masyarakat. Proses mempertahankan eksistensi ini yang akirnya memunculkan konflik dan menjadi suatu kegiatan masyarakat yang lazim. Perjuangan mempertahankan eksstensi ini kemudian memunculkan rasa takut di dalam hidup bersama serta rasa takut untuk mati. Rasa takut mati dalam hal ini oleh spencer adalah pangkal kontrol terhadap agama. Kebiasaan konflik kemudian diorganisir dan dipimpin oleh kontrol politik dari agama menjadi militerisme.

Kedua, Spencer menjelaskan perkembangan evolusi masyarakat dari masyarakat militan menuju industrial. Pada mulanya masyarakat militan terstruktur guna melakukan perang. Pada masyarakat militan perang yang bersifat ofensif dan defensif, bermanfaat dalam penyatuan masyarakat. Perang yang dilakukan adalah difungsikan sebagai cara untuk menaklukan militer dan menghimpun masyarakat yang lebih besar guna membantu perkembangan masyarakat industri. Dalam upaya menyatukan masyarakat yang takut hidup bersama, militan menggabungkan kelompok-kelompok sosial yang kecil menjadi kelompok sosial yang lebih besar, dan kelompok-kelompok tersebut memerlukan integrasi sosial. Proses semacam inilah

(21)

yang menurut Spencer akan memperluas medan integrasi sosial yang akan memupuk rasa perdamaian antar sesama serta kegotongroyongan.

Sejalan dengan proses perkembangan masyarakat dari militan menuju masyarkat industri , kemudian akhirnya menjadikan masyarakat tidak menyukai perang dan menganggap perang adalah suatu tindakan yang tidak bermanfaat. Kebiasaan berdamai dan bergotong-royong membentuk sifat, tingkah laku, serta organisasi sosial yang suka pada hidup tenteram dan penuh rasa kesetiakawanan. Pada tipe masyarakat yang penuh dengan perdamaian, rasa spontanitas serta inisiatif akan semakin bertambah. Dalam hal ini masyarakat dapat saja dengan leluasa pindah dari satu tempat ke tempat lain dan mengubah hubungan sosial mereka, namun hal ini tidak merusak kohesi sosial yang telah ada. Perubahan masyarakat dari militan menuju masyarakat industri menjadikan masyarakat memiliki semangat pekerja keras. Semangat kerja keras yang disertai dengan penuh rasa perdamaian akan membentuk keseimbangan antara elemen masyarakat yang hidup dalam bingkai struktur sosial yang sama. Dalam hal inilah Spencer memandang masyarakat militan berkembang menuju ke keadaan moral yang paling ideal dan sempurna.

Begitulah sekilas pembahasan mengenai Herbert Spencer dalam Teori Evolusi Masyarakat.

Ada banyak lagi sebenarnya pembahasan mengenai teori Evolusi Spencer yang dapat dibahas dengan membandingkannya berdasarkan teori evolusi dari tokoh-tokoh lain. Dalam tulisan selanjutnya, kita akan membahas lebih dalam. Semoga tulisan lewat bahasa yang sederhana ini dapat memperkaya dan memberikan pemahaman kepada pembaca tentang awal perkembangan teori evolusi.

Referensi

Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi dari Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Yogyakarta: Pustaka pelajar.

( Oleh: Marini Kristina Situmeang )

(22)

IBNU KHALDUN

Ada 5 (lima) poin penting dari pemikiran Ibnu Khaldun, di antaranya: 1) Ilmu Masyarakat Manusia; 2) Masyarakat Badui dan Hadar; 3) Asabiyyah/ Solidaritas Sosial Masyarakat/

Perasaan Kelompok/ Loyalitas Kelompok; 4) Perkembangan Akal Budi Masyarakat; dan 5) Metode Analisis Sosial Terpadu Ibnu Khaldun.

Beliau dikenal sebagai ulama multidisipliner (sejarah, sosiologi, politik, ekonomi, hukum, dan agama). Di Timur dijuluki sebagai Al Alamah (Maha Guru) dan di barat bergelar the Polymath (Penghimpun berbagai ilmu pengetahuan). Beliau lahir di Tunisia 1 Ramadhan 732H/1332M, dari lahir hingga berumur 20 tahun beliau mengenyam pendidikan atau fokus untuk belajar Tajwid, Qiroah, dan menghafal Al-Qur,an. Beliau juga mempelajari fikih mazhab Maliki, Hadist Rasul, dan Puisi. Beliau mempelajari Hadist dari Abu ‘Abd Allah Muhammad b.Jabir b.Sultan al-Qaisi al-Wadiyashi (otoritas hadist terbesar dari Tunisia) yang menganugerahkan ijazah (lisensi) kepada Ibnu Khaldun untuk mengajar bahasa dan hukum.

Beliau juga menerima ijazah dari guru-guru lain dari sarjana-sarjana terkemuka yang mengungsi ke Tunisia setelah pendudukan wilayah Irfikiyah oleh Sultan Mariniyun, Abu al-Hasan pada 748M/1347H (Alatas, 2017: 17).

Figur paling berpengaruh terhadap perkembangan intelektual Ibn Khaldun adalah guru utamanya, Muhammad b.Ibrahim al-Abili, guru besar ilmu-ilmu rasional. Al-Abili membuat Ibn Khaldun menyadari bahwa praktik-praktik pengajaran tertentu justru merugikan proses transmisi pengetahuan: penyebarluasan buku bacaan bisa berdampak negatif bagi penyajian ilmu pengetahuan; ketersediaan buku tidak memadai untuk pemerolehan ilmu, orang tetap memerlukan perjalanan, menemui para pakar dan belajar dibawah petunjuk mereka; ketersediaan buku ringkasan tidak dapat menyingkap hal-hal untuk dipelajari secara mendalam, sungguh penting untuk mencari ilmu dari sumber-sumber aslinya secara langsung (Alatas, 2017:18). Hal

(23)

ini yang mendasari pembangunan dan gagasan pendidikan menurut Ibnu Khaldun yang ditulis dalam Muqaddimah-Nya.

Setelah itu, perjalanan hidup beliau mulai memasuki dunia ketatanegaraan dengan menjadi sekertaris pribadi sultan abu ishaq 751 H/1350 M, dan pada tahun 755 H/1354 M diangkat oleh sultan Abu Enan sebagai sekertaris dan pengurus rumah tangga istana. Setelah kerajaan Sultan Abu Enan runtuh beliau tinggal di afrika utara (Maroko) dan Andalusia (Spanyol) sebagai penasehat raja, kurang lebih selama 15 tahun.

Salah satu perjalanan hidup beliau yang paling menarik adalah pertemuan dengan Timur Leng. Menurut Alatas (2017: 27-28) Saat Timur Leng berhasil merebut suriah dan Aleppo, Penduduk mesir sangat ketakutan sehingga menghimpun kekuatan dibawah kepemimpinan sultan al-Tahhir al-Barquq untuk mengusir bangsa Tartar. Ibnu khaldun juga ikut berperang atas dasar permintaan sang sultan. Karena setelah peperangan antara Mesir dengan Timur Leng selama lebih dari satu bulan tetapi tidak ada pihak yang menang secara mutlak, Ibn khaldun akhirnya menemui Timur Leng di Damaskus pada Maulud 803H/ 5 oktober 1400 M, mereka bercakap-cakap cukup lama; antara Timur Leng bertanya tentang pekerjaan Ibnu khaldun, tentang sejarah afrika utara, dan karena Timur Leng terkesan dengan pengetahuan Ibnu Khaldun memerintahkannya menulis sejarah Afrika Utara. Ibnu khaldun menjelaskan pandangannya tentang kebangkitan dan keruntuhan negara, ia juga mendiskusikan penyerahan damaskus, karena setelah pertemuan bersejarah ini damaskus menyerah. Setelah selesai menulisnya ibnu khaldun menyerahkan sejarah tentang Afrika Utara yang diserahkan kepada Timur Leng dalam bentuk sebelas buku kecil. Ibnu Khaldun juga menyerahkan hadiah kepada Timur Leng berupa Al-Qur’an yang Indah, sajadah, salinan kitab Burdah (kitab yang berisi syair tentang pujian/sholawat kepada Nabi Muhammad S.A.W; Syair tersebut dicipkan oleh Imam Al Busyiri dari mesir, di Indonesia Burdah sering dilntunkan oleh kaum Nahdiyin), dan makanan Mesir.

Setelah berumur 45 tahun beliau memutuskan untuk menyendiri dan berhenti dari berkecimpung di dunia politik. Secara menakjubkan beliau berhasil menyelesaikan karya pertamanya yaitu Muqaddimah pada pertengahan 779 H/1377 M, hanya dalam waktu 5 bulan (Enan, 2013). Setelah itu beliau hijrah ke mesir dengan tujuan berhaji 784-808H/1382-1406 M, selain itu alasan hujrahnya adalah peradaban ilmu pengetahuan di mesir yang sangat didukung oleh sang sultan. Sebelum hijrah ke mesir beliau telah selesai merampungkan karya pertamanya yaitu muqaddimah, oleh karena itu saat hijrah kemesir beliau sudah sangat dikenal oleh mahasiswa, dosen, dan sultan. Di Mesir Ibn Khaldun dijadikan hakim dan Dosen oleh sang Sultan.

Posisi intelektual Ibn Khaldun dalam mengembangkan ilmu pengetahuan menurut Jurdi (2012: 40) merujuk kepada wahyu yang menjadi sumber utama untuk memperoleh pengetahuan.

Khaldun memadukan pendekatan ilmu pengetahuan dengan agama atau antara wahyu dan ilham sebagai sumber ilmu pengetahuan, tradisi ini dapat di sebut sebagai upaya dalam menjelaskan epistemologi islam. Beliau membangun jenis ilmu yang sepenuhnya baru, yang disebutnya

(24)

sebagai ilmu masyarakat-manusia (‘ilm al-ijtima’ al-insani) atau ilmu organisasi-sosial manusia (‘ilm ‘al umran al-basyari).

Ilmu masyarakat-manusia (‘ilm al-ijtima’ al-insani) atau ilmu organisasi-sosial manusia (‘ilm ‘al umran al-basyari) Menurut Ibnu Khaldun dalam Alatas (2017:76) Masyarakat manusia itu niscaya, Mengatakan bahwa masyarakat manusia niscaya berarti juga mengatakan manusia secara kodrati bersifat polits dan bahwa mereka tidak dapat dipisahkan dengan sejenis organisasi sosial yang dalam istilah filosofis disebut sebagai polis (madinah). Inilah makna organisasi sosial (‘umran) mereka tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri secara individual, mereka didorong untuk berkerjasama agar kebutuhannya terpenuhi, dan manusia juga harus bersatu demi mempertahankan diri. Manusia terpengaruh secara fisik, psikologis, dan sosial oleh lingkungan fisik, dan Manusia terhubung dengan dunia spiritual, yang berada di luar persepsi indra.

Karya besar Ibn Khaldun adalah Kitab Al Ibrar dan At-Ta’rif (auto biografi ibn khaldun yang ditulis oleh ibn khaldun sendiri). Kitab Al-Ibrar terdiri dari 7 Jilid/Bab, Jilid pertama adalah Muqaddimah; disana dijelaskan mengenai Assabiyah yang di dalamnya dijelaskan secara detail mengenai masyarakat Badui (Beduouin) dan Hadar (Sedentary Society). Ibnu khaldun memberi nama kajian mengenai kesukuan tersebut ‘Ilm-Al Umran. Pada Jilid ke 2-5 adalah tentang sejarah bangsa arab, sedangkan jilid ke 6-7 adalah sejarah bangsa barbar dan suku-suku lainnya.

Masyarakat nomaden (Badui) sama seperti halnya masyarakat menetap membentuk sebuah kelompok alami. Ragam mata pencaharian mempengaruhi keadaan masyarakat. Mereka yang berkerja dengan cocok tanam atau berternak tinggal di daerah gurun. Organisasi sosial mereka sekedar memenuhi kebutuhan untuk hidup secara subsisten. Jika ada peningkatan kemakmuran mereka mulai hidup diatas level subsisten. Mungkin membangun kota, mengembangkan seni kuliner, seni murni, seni arsitektur, serta menikmati kemewahan dan kenyamanan yang besar.

Orang nomaden lebih baik atau lebih bermoral dari pada orang yang hidup menetap (Hadar).

Alasannya jiwanya yang alami lebih mudah meresap kebaikan atau keburukan, bergantung mana yang lebih berkesan dan berpengaruh. jiwa orang menetap mengenal kejahatan lebih awal karena mereka lebih terbuka terhadap kemewahan dan sukses duniawi. Orang nomaden lebih pemberani, gaya hidup bermukim orang yang menetap cenderung malas dan santai, mereka bergantung pada otoritas penguasa untuk perlindungan.

Berikut merupakan Tipologi dualistik khaldunian dengan sosiolog barat menurut Dhaouadi dalam Pribadi (2014:21):

No Tokoh Sosiologi

Jenis Tipologi dualistik

1 Ibn Khaldun

Beduoin/Sedentary Society (Badui-hadar)

(25)

2 Tonnies Gemeinschaft/Gesellschaft Society

3 Durkheim Mechanic/Organic Solidarity Society

4 Cooley Primary/Secondary Group Society

5 Redfield Folk/Urban Society 6 Howard

Becker

Sacred/Secular Society

7 D.Lerner Traditional/Modern Society

8 Parsons Pattern variabels

(Particularism/universalism oriented Society)

Selain badui dan hadar Ibnu Khaldun juga membahas mengenai konsep Asabiyyah/

Solidaritas Sosial Masyarakat/ Perasaan Kelompok/ Loyalitas Kelompok. Menurut ibnu khaldun Assabiyah adalah sebuah perasaan tentang kesamaan dan kesetiaan kepada sebuah kelompok yang terutama dibangun berdasarkan ikatan darah. Memang ada tiga jenis hubungan yang membentuk Asabiyyah: Hubungan darah (Shilat al-rahim), Hubungan patron-klien (wala), dan aliansi (hilf). Assabiyah ditentukan dari unsur mana yang lebih dominan dari tiap-tiap unsur, ikatan darah merupakan Asabiyyah yang paling kuat dan terpercaya serta menciptakan solidaritas yang kuat. Namun, ketika unsur kekeluargaan melemah maka hubungan patron-klien dan afiliasi/aliansi bisa menjadi unsur-unsur dominan dalam hubungan kelompok, mengangkat bentuk Asabiyyah yang lebih lemah. Kepemimpinan sebaiknya dari keturunan yang sama dan memiliki perasaan kelompok yang unggul/besar. Sehingga setiap anggota kelompok bersedia untuk mengikuti dan mematuhinya.

Selain itu Ibnu Khaldun Juga merumuskan Teori Kebangkitan dan kemerosotan negara (Muqaddimah, 2016 ;10-11): Pertama, Tahap pendirian negara; tahap untuk mencapai tujuan, penaklukan, dan merebut kekuasaan. Negara tidak akan tegak kecuali dengan adanya Asabiyyah.

Kedua, Tahap memusatkan kekuasaan; memonopoli kekuasaan dan menjatuhkan anggota- anggota Asabiyyah dari roda pemerintahan. Ketiga, Tahap kekosongan; Tahap untuk menikmati buah kekuasaan seiring dengan watak manusia, seperti mengumpulkan kekayaan, mengabadikan peninggalan-peninggalan dan meraih kemegahan. Keempat, Tahap ketundukan dan kemalasan;

negara dalam keadaan statis, tidak ada perubahan apapun. Kelima, Tahap foya-foya dan

(26)

penghamburan kekayaan; negara telah memasuki masa ketuaan dan telah diliputi penyakit kronis yang tidak dapat dihindari dan akan menuju keruntuhan.

Menurut Alatas (2017:69) apa yang disajikan Ibn khaldun (Kitab Muqaddimah) sejatinya merupakan sebuah ilmu tersendiri dengan pokok bahasan tersendiri (maudhu), yaitu organisasi- sosial manusia (‘ilm ‘al umran al-basyari) dan ilmu masyarakat-manusia (‘ilm al-ijtima’ al- insani), ilmu tersebut memiliki masalah tersendiri (masa’il) yaitu penjelasan tentang kondisi- kondisi dasar masyarakat. Ibnu Khaldun sangat sadar bahwa ia sedang menemukan sebuah ilmu baru, beliau menganggap diskusi tentang tujuan ini menjadi sesuatu yang baru, luar biasa, dan bermanfaat. Beliau juga mengklaim bahwa ilmu ini belum ada dikalangan ilmuan yang telah mendahuluinya entah orang Yunani, Persia, Suriah, Kaldea, atau Arab. Ilmu ini tidak termasuk kedalam ilmu retorika yang telah didiskusikan oleh Aristoteles dalm Organom, yang membicarakan daya persuasif dari bahasa. Ilmu ini juga tidak masuk kategori ilmu politik, karena politik berurusan dengan administrasi berikut basis etika dan filosofisnya.

Suatu hal yang menarik dari hasil membaca karya Ibn khaldun adalah tentang konsep evolusi pemikiran dan perkembangan manusia, padahal beliau hidup 500 tahun sebelum Comte tapi konsep tersebut sudah jauh melampaui zamannya. Konsep tersebut mirip dengan 3 tahap perkembangan evolusi pemikiran yang digagas Comte yaitu teologi, metafisika, dan positifistik.

Khaldun dalam Pribadi (2014:195) menjelaskan konsep dan perkembangan manusia sebagai berikut:

1. Akal Tamyizi (pembeda) adalah akal budi manusia bersifat religi, kepercayaan, dan keimanan;

2. Akal Tajribi (Mencoba) adalah percobaan, pengalaman, dan pengulangan (keberagaman pengetahuan yang bersifat subjektif);

3. Akal Nazari (Rasional) adalah memahami objek dengan baik dan memiliki persepsi spesifik mengenai yang ada atau objek dunia baik yang empiris atau metafisis.

Dijelaskan oleh Alatas (2017:108) tingkat pertama adalah kemampuan untuk memahami dan menata hal-hal di dunia eksternal yang tampak acak dan tak beraturan, melalui kecerdasan pembeda (‘aql al-tamyizi) manusia mampu membedakan apa yang mendatangkan manfaat dan mudarat. Tingkat kedua adalah kemampuan membentuk gagasan dan mengembangkan perilaku yang diperlukan dalam berinteraksi dengan sesama manusia, tingkat berfikir ini melibatkan apersepsi atau pembenaran (tashdiqat) yang berkembang melalui pengalaman, ini disebut sebagai kecerdasan eksperimental (‘aql al-tajribi). Tingkat ketiga adalah kemampuan berfikir yang memasok pengetahuan atau opini (zann) tentang hal-hal diluar persepsi indraa, itu melibatkan persepsi dan apersepsi, ini disebut sebagai kecerdasan spekulatif (‘aql al-nazari).

Perbedaan Khaldun dengan Comte hanya terletak pada tahap berfikir positifistik, kalau Comte menghilangkan sebab metafisis, khaldun pada tahap terakhir justru menempatkan sebab metafisis dalam tahap nazari karena sebab metafisis memang sulit dianalisis secara rasional tapi

(27)

bukan berarti tidak bisa, khaldun berpendapat segala sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh pengtahuan dalam menjelaskannya, ada campur tangan Allah yang maha tau dan maha kuasa, oleh karena itu khaldun menggunakan analisis sosial terpadu dalam mengenalisis data dan fakta sosial dikaitkan dengan agama (Al-Qur’an dan Hadist).

Selain mengenai konsep evolusi pemikiran, konsep integrasi ilmu menurut ibn khaldun menjadi hal yang menarik bagi para ilmuan yang meneliti pemikiran ibn khaldun. Yaitu Konsep

‘Ilm-Al umran yang dianggap menjadi cikal bakal ilmu sosial. Berikut merupakan konsep integrasi ilmu oleh Ibn Khaldun dalam Pribadi (2014):

1. Naqliyah dan Qauniyah adalah Ilmu dari Al-Qur’an dan Hadist;

2. Aqliyah/Kauniyah adalah Ilmu yang dihasilkan dari aktifitas berfikir manusia, yaitu jenis ilmu alam dan eksata;

3. Umran/Nafsiyah adalah Ilmu mengenai Civilization atau kehidupan sosial.

Jika diilustrasikan sebagai berikut:

Metodologi yang digunakan Ibn Khaldun dikenal sebagai metode analisis sosial terpadu, yaitu penggabungan data dan fakta sosial dengan agama (Al-Qur’an dan Hadist). Dalam hal ini menggunakan pendekatan ‘Ilm al-Umran yaitu memahami manusia maka senantiasa melihatnya dikaitkan dengan masyarakat. Mirip dengan konsep Berger dalam konstruksi sosial.

Menarik bagi saya disaat sekarang para sosiolog memperdebatan mengenai paradigma sosiologi atau ilmu sosial yang mengerucut pada paradigma terpadu, jauh melampaui zamannya Khaldun telah menggunakan metode tersebut. kita mengenal 3 gerbong besar filsafat aristetolian, galilean, dan cartesian, di dalam sosiologi ada 3 paradigma besar yaitu fakta sosial, definisi sosial, dan perilaku sosial, perkembangannya sekarang beberapa tokoh teoritisi sosiologi modern dan post modern keluar dari 3 paradigma besar tersebut. Boerdieu menggabungkan paradigma fakta sosial dan definisi sosial dalam teori strukturalisme konstruktif, Derrida dan Giddens tidak mendasar hanya pada satu paradigma, dan terakhir karya Ritzer yang menawarkan paradigma

(28)

baru dengan nama paradigma integratif (terpadu) yaitu melihat permasalahan sosial secara menyeluruh dengan menggabungkan paradigma fakta sosial, definisi sosial, dan perilaku sosial.

Hal tersebut menjadikan saya semakin kagum denga Ibn Khaldun, tokoh peletak dasar ilmu-ilmu sosial yang pada zamannya ilmu pengetahuan masih sangat umum dan belum terspesifikasi.

Dengan pemaparan diatas, telah terbukti beliau merupakan peletak dasar ilmu sosiologi dan bisa disebut dengan bapak sosiologi dunia, sayangnya selama ini kurang dikenal dan tidak banyak referensi tentang karya-karyanya yang sangat menakjubkan. Ibnu Khaldun wafat di Kairo Mesir, pada 25 Ramadan 808 H/19 Maret 1406 (Khaldun, 2016:1087).

Referensi

Alatas, S. F. 2017. “Ibnu Khaldun Biografi Intelektual dan Pemikiran Sang Pelopor Sosiologi”.

Mizan: Bandung.

Enan, M. A. 2013. “Biografi Ibnu Khaldun Kehidupan dan Karya Bapak Sosiologi Dunia

Zaman: Jakarta.

Jurdi, S. 2012 “Awal Mula Sosiologi Modern Kerangka Epistemologi, Metodologi, dan Perubahan Sosial Perspektif Ibn Khaldun ” Kreasi Wacana: Bantul.

Khaldun, I. 2016. “Muqaddimah Ibnu Khaldun”. Pustaka Al Kautsar: Jakarta Timur.

Pribadi, M. 2014 “Pemikiran Sosiologi Islam Ibn Khaldun”. SUKA Press: Yogyakarta.

( Oleh: Syamsul Bakhri )

(29)

KARL MARX

Trier, prusia 5 Mei 1818, sebagai saksi dari lahirnya tokoh yang sangat berpengaruh di dunia yaitu, Karl Heinrich Marx, dengan pengetahuannya yang sangat kritis dalam bidang keilmuan. Dengan latar belakang keluarga rabbi, Marx muda dilahirkan oleh sosok ibu yang taat akan agama dan ayahnya seorang pengacara. Pada tahun 1841, Marx menerima gelar doktornya di bidang filsafat dari Universitas Berlin. Pemikiran Marx dalam bidang filsafat sangat di pengaruhi oleh G.W.F. Hegel (1770-1831) dengan corak filsafat Jerman, akan tetapi sebelum Hegel menyempurnakan dari filsuf Jerman seperti Kant dengan filsafat kritisnya, Fichte dengan filsafat Wissenshaftslehre dan Scheling dengan corak filsafat mempertentangkan “Aku” dan

“Non-Aku”. Pola pikir Hegel sebagai tolak ukur filsafat Jerman pada waktu itu, Hegel sangat mengutamakan rasio, namun rasio yang dimaksud Hegel bukan pada individu, akan tetapi rasio yang melekat pada subjek absolut (dalam bahasa lain yaitu roh). Dengan demikian, terkenallah sebuah dalil “all that is real is rational, and all that is rational is real”.

Bukan hanya Hegel yang mempengaruhi pemikiran Marx, akan tatapi L. A. Feuerbach (1804-1872) yang sedikit berbeda cara pandang dengan Hegel, salah asatu ungkapan yang di lontarkan Feuerbach adalah manusia beragama karena terikat oleh alam, manusia lemah sedangkan alam yang didapatinya kuat dan ganas, cara filsafat dari Feurbach masuk dalam kerangka berfikir teologis. Akan tetapi seiring berjalannya waktu dan pola pikir Marx semakin kritis, pola dari kedua filsuf sedikit demi sedikit di tentang oleh Marx.

Menulis tentang Marx dengan teorinya merupakan sebuah tantangan bagi para penulisnya, bahkan memahami pola pikir Marx itu sendiri tidak segampang membalikkan telapak tangan.

Pola pikir yang sulit diterka, mengandung multi-interpretasi, dan dengan bahasa yang sangat jeli yang dilontarkan dalam tulisan-tulisan Karl Marx, maka tidak heran bagi mahasiswa untuk memahami seorang Marx dengan karya dan teorinya, butuh usaha ekstra dan kerja keras dalam

(30)

memahami maksud dan setiap makna gagasannya. Akan tetapi, kita sedikit demi sedikit belajar memahami pola pikir Marx dengan perlahan-lahan.

Sebelum berbicara lebih jauh tentang Marx, perlu lebih awal kita ketahui terlebih dahulu mengenai Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis. Secara sederhana materialisme dialektik adalah dialektika terjadinya di dunia nyata atau dunia materi, sedangkan materialisme historis adalah bahwa manusia dapat dipahami sejauh ia ditempatkan dalam konteks sejarah.

Definisi sederhana ini bisa dibilang tidak sempurna dalam pandangan materialisme dialektik dan materialism historis dengan penjabaran filsafat yang sebenarnya, karena ketika dijabarkan secara panjang penulis masih ragu dengan kapasitas pemahaman mengenai Marx itu sendiri. Dalam kancah keilmuan Sosiologi Marx, terkenal dengan teori Kelas Sosial dan Alienasinya. Kelas sosial bagi Marx dibedakan dalam dua kelas. Kelas Borjuis atau disebut dengan kaum pemilik modal, dan Kelas Proletar atau dikenal sebagai kelas buruh dan masyarakat miskin. Pada bagian ini, pembagian kelas mempengruhi sikap pertentangan kelas karena di dalam kelas tersebut ada imperialisme dan penindasan dari kaum pemilik modal sebagai penguasa alat-alat pabrik dan pemilik dari kaum pekerja, dalam hal ini bisa disebut dengan dialektika dalam kapitalisme.

Dengan pertentangan kelas tersebut Marx menganalisis akan lahir sebuah zaman di mana tidak ada kelas-kelas sosial, tidak adanya pertentangan, tidak adanya imperialisme dan monopoli kekuasaan. Marx mengatakan zaman ini disebut dengan Komunisme. Komunisme, sebagai cita- cita Marx dalam hidupnya –bisa dibilang seperti itu– karena di setiap pembahasan mengenai pertentangan kelas Marx, dia selalu ingin membuat sebuah revolusi besar-besaran dalam kelas tersebut (red.kelas proletar). Kaum proletariat digambarkan oleh Marx sebagai sekumpulan Prometheus. Prometheus adalah manusia yang ditindas tetapi akan menguasai masa depan, hal ini terbukti dalam ajaran revolusi seorang Marx seperti terjadianya revolusi Bolshevik di Rusia, sebagai penentang akan kapitalis pada tahun 1903 dan tahun 1917 sebagai puncaknya. Kaum ini di dasari atas ideologi Marxisme dan Leninisme sebagai acuan revolusi ekomoni di Rusia, Manifest der komunistichen partey (1848) sebagai pijakan revolusi dalam politik dan Das Capital (1850-1866) sebuah karya monumental dan termasuk salah satu buku merubah dunia.

Pembahasan Marx tidak selesai pada pertentangan kelas dan revolusi, di balik pertentangan kelas, masyarakat harus mempunyai satu pekerjaan, Marx mengatakan bahwa kerja adalah pengembangan kekuasaan-kekuasaan dan potensi-potensi manusiawi kita yang sejati. Marx sering mawanti-wantikan pentingnya materi dalam kehidupan kita, karena manusia membutuhkan makan untuk keberlangsungan hidupnya, secara harfiah manusia adalah zoon- politikon, bukan hanya makhluk sosial, tetapi makhluk yang berkembang dan bersifat dinamis di masyrakat.

Ketika individu dalam ruang lingkup masyarakat dan kerja, maka secara otomatis akan terjadi alienasi dalam kehidupannya. Kata alienasi ini berasal dari karya awal Marx yang tidak lain masih berhubungan erat dengan kapitalisme yang mengakar dalam masyarakat, sehingga alienasi menjadi suatu keprihatinan sendiri bagi Marx. Marx menggunakan alienasi sebagai

(31)

konsep untuk menyingkap efek dari produksi kapitalis yang bersifat menghancurkan terhadap manusia dan masyarakat. Alienasi dalam kamus sosiologi adalah keterasingan individu dari diri mereka sendiri dan orang lain. Pada dasarnya kata alienasi ini memiliki makna filosofis dan bersifat religius, tapi Marx mentransformasikannya ke dalam konsep sosiologi dan Ekonomic and Philosophical Manuscripts of 1844, keterasingan berakar dalam struktur sosial yang menyangkal esensi manusia, Marx percaya bahwa esensi manusia adalah sesuatu yang diwujudkan dalam konteks kerja.

Marx membagi alenasi dalam 4 (empat) macam yaitu, antara lain:

1. Individu teralienasi dari aktivitas produksi 2. Individu teralienasi dari temannya

3. Individu teralienasi dari pekerjaannya 4. Individu teralienasi oleh dirinya sendiri

Alienasi sebagai salah satu contoh pertentangan antara hakekat manusia dalam diri manusia itu sendiri, pertentangan dalam alienasi memang dirancang oleh kaum kapitalis dalam ranah nilai tukar dan nilai produksi. Buruh atau satu individu akan tersudut ketika berbicara nilai tukar, antara gaji buruh dengan majikannya dalam satu produksi, sedangkan hasil dari produksi adalah gejala yang dilahirkan oleh alienasi kita, yang hanya bisa di tiadakan melalui perubahan sosial.

Referensi

Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi dari Sosiologi Klasik sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Yogyakarta: Pustaka pelajar.

( Oleh: A Zahid )

Gambar

Figur  paling  berpengaruh  terhadap  perkembangan  intelektual  Ibn  Khaldun  adalah  guru  utamanya, Muhammad b.Ibrahim al-Abili, guru besar ilmu-ilmu rasional

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa gambaran pemikiran modern pada tokoh Pambudi terdiri atas yakin akan kemampuan manusia, perhitungan, perencanaan, hargadiri, dan percaya

karya sastra Proyek, Diskusi, presen- tasi tugas kelompok: presentasi dan diskusi hasil kajian dengan menggunakan teori sosiologi karya sastra 100 menit. 05

Gambaran pemikiran modern dapat dideskripsikan dengan menggunakan tinjauan psikologis astra yakni teori Sigmund Freud.Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis pemikiran

dari sudut pandang sosiologi sastra yaitu aspek moral dalam hal ini yang diungkap adalah perbuatan, sikap, budi pekerti, susila para tokoh utama; aspek etika membahas

Dalam setiap perkembangan ilmu dalam filsafat, tidak akan terlepas pada sumbangan pemikiran dari para tokoh filsafat misalnya di bidang sosiologi yang akan mempelajari

Dengan demikian judul yang penulis ajukan dalam penelitian “Analisis Tokoh Utama Dalam Cerpen “Banjirkap” Karya Habolhasan Asyari Kajian Sosiologi Sastra” Dengan latar belakang yang

vii ABSTRAK Ivonny, Lydia.2009.Gaya Hidup Tokoh-tokoh dalam Novel Realita Cinta dan Rock ‘N Roll Karya Rudi Gunawan Sebuah Tinjauan Sosiologi Sastra.. Yogyakarta: Sastra

JUDUL ARTIKEL ILMIAH Nama Penulis Institusi Email: [email protected] Abstrak Abstrak merupakan ringkasan dari tujuan, metode, hasil, dan kesimpulan artikel.. Panjang abstrak sekitar