PERUBAHAN IKLIM
Oleh:
Arina Putri (22033009), Asa Faizatur Rohimah (22033010), Suci Rahmatillah (22033114).
Departemen Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Padang
Email : [email protected]
Abstrak:
Sains adalah suatu cara dalam mencari tahu tentang pola atau bentuk dari alam yang dapat di mengerti dan yang dapat diselidiki atau ditemukan secara alami. Dalam hal ini kami akan mencari tahu tentang perubahan iklim sehingga mempengaruhi adaptasi manusia dengan lingkungannya.
Keyword: iklim, cuaca
I. Pendahuluan
Perubahan iklim adalah perubahan pada pola cuaca jangka panjang yang terjadi dalam skala global. Efek dari perubahan iklim global ini bersifat multisectoral dan memengaruhi kualitas hidup manusia dan lingkungan secara umum. Berbagai studi yang telah dilakukan oleh para ahli menunjukkan bahwa selain dampak lingkungan yang dapat diamati secara langsung, fenomena ini juga memengaruhi sector Kesehatan, ekonomi, dan sosial, serta memiliki implikasi global pada kelangsungan kehidupan di permukaan bumi secara umum.
Penyebab mendasar terjadinya fenomena perubahan iklim adalah adanya perubahan pada total masukan dan keluaran energi di permukaan planet bumi. Aliran energi planet bumi adalah jabaran mengenai energi apa saja yang masuk dan keluar dari permukaan planet bumi.
II. Apa Itu Perubahan Iklim
Perubahan Iklim adalah perubahan signifikan terhadap iklim, suhu udara dan curah hujan mulai dari dasawarsa sampai
jutaan tahun. Perubahan terjadi karena konsentrasi gas karbon dioksida dan gas- gas lainnya di atmosfer yang menyebabkan efek gas rumah kaca.
Perubahan iklim mengacu pada perubahan jangka Panjang dalam suhu dan pola cuaca. Pergeseran ini terjadi secara alami, seperti melalui variasi siklus matahari.
Namun sejak tahun 1800-an, aktivitas manusia telah menjadi penyebab utama perubahan iklim, terutama akibat pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak dan gas. Pembakaran bahan fosil menghasilkan emisi gas rumah kaca yang bekerja seperti selimut yang melilite Bumi, menghasilkan panas matahari dan menaikkan suhu. Kenaikan suhu merupakan awal dari perubahan iklim, karena bumi adalah sebuah system dimana semuanya terhubung, perubahan di satu area dapat memengaruhi perubahan di semua area lainnya.
III. Penyebab Perubahan Iklim 1. Pembuatan energi
Pembuatan energi listrik dan panas dengan membakar bahan bakar fosil akan menghasilkan emisi global dalam jumlah
besar. Sebagian besar energi listrik masih dihasilkan dengan membakar batu bara, minyak, atau gas. Pembakaran ini akan menghasilkan karbon dioksida dan dinitrogen oksida, yakni gas rumah kaca berbahaya yang menyelimuti Bumi dan memerangkap panas matahari. Hanya sekitar seperempat dari energi listrik global yang dihasilkan dari angin, tenaga surya, dan sumber daya terbarukan lainnya. Tidak seperti bahan bakar fosil, sumber daya terbarukan hanya sedikit atau tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca atau polusi udara.
2. Manufaktur barang
Manufaktur dan industri menghasilkan emisi, yang sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil untuk menghasilkan energi guna membuat berbagai hal seperti semen, besi, baja, elektronik, plastik, pakaian, dan barang lainnya. Pertambangan dan proses industri lainnya juga menghasilkan gas, begitu pula industri konstruksi. Mesin yang digunakan dalam proses manufaktur sering kali beroperasi dengan batu bara, minyak, atau gas. Selain itu, sejumlah bahan baku seperti plastik juga terbuat dari bahan kimia yang berasal dari bahan bakar fosil. Industri manufaktur merupakan salah satu kontributor emisi gas rumah kaca terbesar di seluruh dunia.
3. Penebangan hutan
Penebangan hutan untuk membuat lahan pertanian atau peternakan, ataupun untuk alasan lainnya, akan menghasilkan emisi, karena pohon yang ditebang akan melepaskan karbon yang tersimpan di dalamnya. Sekitar 12 juta hektar hutan dihancurkan setiap tahunnya. Karena hutan menyerap karbon dioksida, penghancurannya juga akan membatasi kemampuan alam dalam mengurangi emisi di atmosfer. Penggundulan hutan, serta
pertanian dan perubahan fungsi lahan lainnya, merupakan penyumbang sekitar seperempat dari emisi gas rumah kaca global.
4. Penggunaan transportasi
Sebagian besar mobil, truk, kapal, dan pesawat beroperasi menggunakan bahan bakar fosil. Hal ini menjadikan sektor transportasi sebagai kontributor utama gas rumah kaca, terutama emisi karbon dioksida. Kendaraan darat menghasilkan emisi paling banyak karena adanya pembakaran produk berbahan dasar minyak bumi, seperti bensin, dalam mesin pembakaran internalnya. Namun, emisi dari kapal dan pesawat terus meningkat.
Transportasi menyumbang hampir seperempat dari emisi karbon dioksida global terkait energi. Selain itu, tren menunjukkan bahwa akan terjadi peningkatan signifikan dalam penggunaan energi untuk transportasi pada tahun-tahun mendatang.
5. Produksi makanan
Produksi makanan menghasilkan emisi karbon dioksida, metana, dan gas rumah kaca lainnya dengan berbagai cara, termasuk melalui penggundulan hutan dan pembersihan lahan untuk pertanian dan penggembalaan, gas dari sapi dan domba, produksi dan penggunaan pupuk dan pupuk kandang untuk bercocok tanam, serta penggunaan energi untuk menjalankan peralatan pertanian atau perahu nelayan yang biasanya menggunakan bahan bakar fosil. Semua hal tersebut menjadikan produksi makanan sebagai kontributor utama bagi perubahan iklim. Selain itu, pengemasan dan pendistribusian makanan juga menghasilkan emisi gas rumah kaca.
6. Penyuplaian energi untuk bangunan Bangunan tempat tinggal dan komersial memakai lebih dari setengah energi listrik
global. Seiring dengan berlanjutnya penggunaan batu bara, minyak, dan gas alam untuk sistem penghangat dan pendingin, bangunan tempat tinggal dan komersial menghasilkan jumlah emisi gas rumah kaca yang signifikan. Naiknya permintaan energi untuk sistem penghangat dan pendingin dengan bertambahnya jumlah orang yang memiliki AC, serta meningkatnya pemakaian energi listrik untuk penerangan, peralatan, dan perangkat terhubung, telah berkontribusi pada peningkatan emisi karbon dioksida terkait energi dari bangunan dalam beberapa tahun terakhir.
7. Pemakaian berlebihan
Rumah dan penggunaan energi Anda, cara Anda bepergian, apa yang Anda makan, serta jumlah makanan yang Anda buang semuanya berkontribusi pada emisi gas rumah kaca. Begitu pula pemakaian barang-barang seperti pakaian, elektronik, dan plastik. Sejumlah besar emisi gas rumah kaca global terkait dengan pekerjaan rumah tangga. Gaya hidup kita berdampak besar terhadap planet kita. Yang terkaya memiliki tanggung jawab terbesar: 1 persen orang terkaya di seluruh dunia menyumbang lebih banyak emisi gas rumah kaca dibandingkan dengan 50 persen orang termiskin.
IV. Pengaruh yang di Timbulkan dari
Perubahan Iklim Terhadap Lingkungan Peningkatan suhu dari waktu ke waktu mengubah pola cuaca dan mengganggu keseimbangan alam. Hal ini menimbulkan banyak risiko bagi manusia dan seluruh makhluk hidup lainnya di Bumi.
1. Suhu yang lebih panas
Seiring dengan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca, suhu permukaan global juga meningkat. Dekade terakhir, 2011-2020, adalah dekade terpanas yang pernah tercatat. Sejak 1980-an, setiap dekade
menjadi lebih panas dari dekade sebelumnya.
Hampir semua area daratan mengalami lebih banyak hari-hari panas dan gelombang panas. Suhu yang lebih tinggi meningkatkan jumlah kasus penyakit terkait panas dan mempersulit pekerjaan luar ruangan.
Kebakaran hutan lebih mudah terjadi dan lebih cepat menyebar saat kondisi lebih panas. Suhu di Arktik telah meningkat setidaknya dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.
2. Badai yang lebih parah
Badai destruktif menjadi lebih kuat dan lebih sering terjadi di banyak wilayah.
Seiring dengan meningkatnya suhu, semakin banyak air yang menguap. Hal ini memperburuk curah hujan ekstrem dan banjir, sehingga menimbulkan lebih banyak badai destruktif. Frekuensi dan luasnya badai tropis juga dipengaruhi oleh peningkatan suhu lautan. Siklon, hurikan, dan taifun menjadi lebih kuat dengan air yang hangat di permukaan laut. Badai tersebut sering kali menghancurkan rumah dan komunitas, sehingga menyebabkan kematian dan kerugian ekonomi yang besar.
3. Peningkatan kekeringan
Perubahan iklim mengubah ketersediaan air, sehingga menjadikannya semakin langka di lebih banyak wilayah.
Pemanasan global memperburuk kekurangan air di wilayah yang sudah mengalami kesulitan air. Pemanasan global juga menyebabkan peningkatan risiko kekeringan pertanian yang akan memengaruhi tanaman, serta kekeringan ekologis yang akan meningkatkan kerentanan ekosistem.
Kekeringan juga dapat memicu badai pasir dan debu destruktif yang dapat memindahkan miliaran ton pasir melintasi benua. Gurun menjadi semakin luas, sehingga lahan untuk bercocok tanam berkurang. Kini banyak orang menghadapi ancaman kekurangan air secara berkala.
4. Peningkatan volume dan suhu lautan Lautan menyerap sebagian besar panas dari pemanasan global. Peningkatan suhu lautan terjadi jauh lebih cepat selama dua dekade terakhir, di seluruh kedalaman laut.
Seiring dengan meningkatnya suhu lautan, volumenya bertambah karena air memuai saat menjadi lebih hangat. Mencairnya lapisan es juga menyebabkan kenaikan permukaan laut, sehingga mengancam komunitas pesisir dan pulau. Selain itu, lautan juga menyerap karbon dioksida, sehingga mengurangi jumlahnya di atmosfer. Namun, semakin banyaknya karbon dioksida membuat lautan menjadi lebih asam, sehingga membahayakan biota laut dan terumbu karang.
5. Kepunahan spesies
Perubahan iklim menimbulkan risiko bagi kelangsungan hidup spesies di darat dan di laut. Risiko ini meningkat seiring dengan peningkatan suhu. Dengan diperburuk oleh perubahan iklim, dunia kehilangan spesies 1.000 kali lebih cepat dibandingkan sebelumnya dalam sejarah manusia. Satu juta spesies terancam akan punah dalam beberapa dekade mendatang.
Perubahan iklim menimbulkan banyak ancaman, antara lain kebakaran hutan, cuaca ekstrem, serta hama dan penyakit yang invasif. Spesies tertentu akan dapat berpindah tempat dan bertahan hidup, tetapi yang lainnya tidak akan dapat bertahan.
6. Kekurangan makanan
Perubahan iklim dan peningkatan frekuensi peristiwa cuaca ekstrem merupakan dua alasan di balik meningkatnya kelaparan dan gizi buruk secara global. Sektor perikanan, pertanian, dan peternakan dapat hancur atau menjadi kurang produktif. Karena lautan menjadi semakin asam, sumber daya laut yang dikonsumsi miliaran orang terancam.
Perubahan pada lapisan salju dan es di banyak wilayah Arktik telah mengganggu suplai makanan dari menggembala, berburu, dan memancing. Tekanan panas dapat membuat sumber air dan padang rumput untuk penggembalaan berkurang, sehingga menyebabkan penurunan hasil panen dan memengaruhi hewan ternak.
7. Peningkatan risiko kesehatan
Perubahan iklim merupakan ancaman kesehatan terbesar yang dihadapi manusia.
Dampak iklim telah membahayakan kesehatan melalui polusi udara, penyakit, peristiwa cuaca ekstrem, pemindahan paksa, tekanan pada kesehatan mental, serta peningkatan kelaparan dan gizi buruk di berbagai tempat yang tidak dapat ditanami atau tidak memiliki sumber makanan yang memadai. Setiap tahun, ada sekitar 13 juta korban jiwa akibat faktor lingkungan.
Perubahan pola cuaca membuat penyakit menyebar, dan peristiwa cuaca ekstrem meningkatkan jumlah kematian serta menyulitkan sistem pelayanan kesehatan dalam menanganinya.
8. Kemiskinan dan pemindahan
Perubahan iklim menambah faktor yang membuat orang berada dan tetap dalam kemiskinan. Banjir dapat menyapu kawasan kumuh, menghancurkan rumah, dan merusak mata pencarian. Panas dapat mempersulit pekerjaan luar ruangan.
Kelangkaan air dapat memengaruhi tanaman. Pada dekade sebelumnya (2010–
2019), peristiwa terkait cuaca membuat rata-rata sekitar 23,1 juta orang terpaksa pindah setiap tahunnya, sehingga semakin banyak yang menjadi rentan terhadap kemiskinan. Sebagian besar pengungsi berasal dari negara yang paling rentan dan paling tidak siap untuk beradaptasi dengan dampak perubahan iklim.
V. Ancaman Perubahan Iklim Terhadap Kehidupan Manusia
Kondisi iklim yang memburuk bisa menjadi ancaman bagi berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari hak untuk hidup, hak atas kesehatan, ketersediaan makanan, air bersih dan tempat tinggal.
Berbagai ancaman tersebut sudah mulai muncul dengan terjadinya bencana kelaparan, merebaknya penyakit malaria, gizi buruk, dan sebagainya.
Perubahan iklim yang terjadi di taraf global turut serta mengubah iklim regional di Indonesia. Terjadinya perubahan iklim pada suatu kawasan bisa dilihat dari suhu udara yang lebih tinggi dan pola curah hujan yang tidak menentu. Selain itu, kenaikan permukaan air laut dan meningkatnya frekuensi ancaman bahaya mengenai dampak perubahan iklim menjadi ancaman yang harus diwaspadai.
Perubahan iklim bisa berdampak pada berbagai sektor ekonomi. Sebab, sektor yang paling sensitif dan rentan terkena dampak perubahan iklim adalah pertanian, sumber daya air, kawasan pesisir, kehutanan, pedesaan/perkotaan, dan sektor kesehatan. Curah hujan yang tidak menentu menjadi faktor krusial yang mempengaruhi produktivitas tanaman. Di sektor pertanian misalnya, sektor ini mengalami dampak perubahan iklim yang menyebabkan peningkatan suhu sehingga mempengaruhi proses fotosintesis, transparansi, dan laju respirasi tanaman.
Komoditas yang paling merasakan imbas perubahan iklim di antaranya adalah padi, tembakau, tebu, kacang hijau, perkebunan, tanaman pangan, dan peternakan yang dibudidayakan di Indonesia.
VI. Pencegahan Perubahan Iklim
Setiap orang dapat membantu membatasi perubahan iklim. Dari cara kita bepergian, hingga listrik yang kita gunakan hingga makanan yang kita makan, kita bisa
membuat perbedaan. Mulailah dengan sepuluh tindakan ini untuk membantu mengatasi krisis iklim.
1. Hemat energi di rumah
Sebagian besar listrik dan panas kita ditenagai oleh batu bara, minyak, dan gas.
Gunakan lebih sedikit energi dengan menurunkan pemanasan dan pendinginan Anda, beralih ke bola lampu LED dan peralatan listrik hemat energi, mencuci cucian Anda dengan air dingin, atau menggantung barang-barang hingga kering daripada menggunakan pengering.
2. Jalan kaki, bersepeda, atau naik transportasi umum
Jalan raya dunia tersumbat oleh kendaraan, kebanyakan dari mereka membakar solar atau bensin. Berjalan atau mengendarai sepeda daripada mengemudi akan mengurangi emisi gas rumah kaca — dan membantu kesehatan dan kebugaran Anda. Untuk jarak yang lebih jauh, pertimbangkan untuk naik kereta atau bus.
Dan carpool bila memungkinkan.
3. Perbanyak makan sayur
Makan lebih banyak sayuran, buah- buahan, biji-bijian, kacang-kacangan, kacang-kacangan, dan biji-bijian, dan lebih sedikit daging dan susu, dapat secara signifikan menurunkan dampak lingkungan Anda. Memproduksi makanan nabati umumnya menghasilkan lebih sedikit emisi gas rumah kaca dan membutuhkan lebih sedikit energi, tanah, dan air.
4. Pertimbangkan perjalanan Anda Pesawat terbang membakar sejumlah besar bahan bakar fosil, menghasilkan emisi gas rumah kaca yang signifikan. Itu membuat mengambil lebih sedikit penerbangan salah satu cara tercepat untuk mengurangi dampak lingkungan Anda.
Ketika Anda bisa, bertemu secara virtual,
naik kereta, atau melewatkan perjalanan jarak jauh itu sama sekali.
5. Buang lebih sedikit makanan
Saat Anda membuang makanan, Anda juga membuang sumber daya dan energi yang digunakan untuk menanam, memproduksi, mengemas, dan mengangkutnya. Dan ketika makanan membusuk di tempat pembuangan sampah, itu menghasilkan metana, gas rumah kaca yang kuat. Jadi, gunakan apa yang Anda beli dan buat kompos dari sisa makanan.
6. Kurangi, gunakan kembali, perbaiki &
daur ulang
Elektronik, pakaian, dan barang- barang lain yang kita beli menyebabkan emisi karbon di setiap titik produksi, mulai dari ekstraksi bahan mentah hingga pembuatan dan pengangkutan barang ke pasar. Untuk melindungi iklim kita, beli lebih sedikit barang, belanja barang bekas, perbaiki apa yang Anda bisa, dan daur ulang.
7. Ubah sumber energi rumah Anda
Tanyakan kepada perusahaan utilitas Anda apakah energi rumah Anda berasal dari minyak, batu bara, atau gas. Jika memungkinkan, lihat apakah Anda dapat beralih ke sumber terbarukan seperti angin atau matahari. Atau pasang panel surya di atap Anda untuk menghasilkan energi bagi rumah Anda.
8. Mengurangi penggunaan kendaraan yg berbahan bakar minyak dan Beralih ke kendaraan listrik
Jika Anda berencana membeli mobil, pertimbangkan untuk membeli mobil listrik, dengan model yang lebih banyak dan lebih murah yang tersedia di pasaran.
Bahkan jika mereka masih menggunakan listrik yang dihasilkan dari bahan bakar fosil, mobil listrik membantu mengurangi
polusi udara dan menyebabkan emisi gas rumah kaca yang jauh lebih sedikit daripada kendaraan bertenaga gas atau diesel.
9. Pilih produk yang ramah lingkungan Segala sesuatu yang kita habiskan uang mempengaruhi planet ini. Anda memiliki kekuatan untuk memilih barang dan jasa yang Anda dukung. Untuk mengurangi dampak lingkungan Anda, belilah makanan lokal dan musiman, dan pilih produk dari perusahaan yang menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab dan berkomitmen untuk mengurangi emisi dan limbah gas mereka.
10. Utarakan / Ungkapkan
Ungkapkan dan ajaklah orang lain untuk bergabung dalam mendukung tindakan. Ini adalah salah satu cara tercepat dan paling efektif untuk menciptakan perbedaan. Sampaikan kepada tetangga, kolega, teman, dan keluarga Anda. Beri tahu pemilik bisnis bahwa Anda mendukung perubahan yang berani.
Mintalah kepada para pemimpin lokal dan dunia untuk bertindak sekarang.
11. Menanam Pohon untuk Mengatasi Pemanasan Global
Pohon mempunyai fungsi yang sangat penting dalam upaya meredam kenaikan gas rumah kaca penyebab utama pemanasan global dan perubahan iklim.
Seperti spons/busa, pohon menyerap karbondioksida yang dihasilkan oleh kegiatan-kegiatan yang dilakukan manusia dan makhluk hidup lainnya. Fungsi pohon ini dijalankan dengan sangat masif oleh hutan.