LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA MAKROMOLEKUL ISOLASI DAN IDENTIFIKASI ASAM NUKLEAT
DISUSUN OLEH :
NAMA : NAJWA DZAKIRA SYALSA NIM : 2411050055
Kelas : TLM 1A
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK D4 FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2024
I. Tujuan
1. Mahasiswa mampu membuktikan bahwa setiap organisme memiliki komponen asam nukleat.
2. Mahasiswa mampu dan terampil dalam pelaksanaan Teknik dan prosedur isolasi dan identifikasi asam nukleat (DNA).
II. Dasar Teori
Isolasi DNA merupakan salah satu teknik dasar dalam biologi molekuler yang dapat dikembangkan menjadi penelitian-penelitian yang kompleks mengenai informasi genetik yang dimiliki oleh suatu organisme.Informasi pada DNA disimpan dalam bentuk basa nukleotida yaitu adenine (A), guanine (G), cytosine (C), dan timin (T). Setiap sekuen basa nukleotida mengandung informasi genetik yang berperan dalam perkembangan dan pengaturan organisme (Lister, 2013).
Sebuah sel memiliki DNA yang merupakan materi genetik dan bersifat herediter pada seluruh sistem kehidupan. Suatu sel lengkap dari materi genetik (DNA) yang dimiliki oleh organisme dan terorganisasi menjadi kromosom disebut sebagai genom. DNA dapat diisolasi, baik pada manusia, tumbuhan, hewan, maupun mikroorganisme (Nishiguchi et al., 2010).
DNA pada tumbuhan terdapat di dalam inti sel dan beberapa organ lain di dalam sel seperti mitokondria dan kloroplas. DNA genom inti berasal dari inti sel, DNA genom mitokondria berasal dari mitokondria, DNA genom kloroplas berasal dari kloroplas. Prinsip isolasi DNA ialah memisahkan DNA genom dari komponen-komponen sel lain. Membran sel dilisiskan dengan menambahkan detergen untuk membebaskan isinya, kemudian pada ekstrak sel tersebut ditambahkan protease (yang berfungsi mendegradasi protein) dan RNAse (yang berfungsi untuk mendegradasi RNA), sehingga yang tinggal adalah DNA. Larutan DNA di presipitasi dengan etanol dan bisa dilarutkan lagi dengan air (Triani, N.,2020).
Langkah-langkah dasar isolasi DNA meliputi proses yang pertama yaitu melisiskan sel, yaitu memecah membran sel untuk melepaskan isi
sel, termasuk DNA. Proses ini dapat dilakukan secara mekanis, kimiawi dan enzimatis. Secara kimiawi dapat dilakukan dengan penambahan deterrgen, karena detergen dapat merusak membrane inti sel. Secara mekanis dapat dilakukan dengan cara homogenisasi dengan belender atau dengan penggerusan. Selanjutnya yaitu proses pemurnian DNA dari esktrak sel, DNA disaring dengan kertas saring untuk menghasilkan DNA yang murni. Dan proses terakhir yaitu presipitasi DNA, DNA diekstraksi menggunakan alkohol seperti etanol dingin untuk memisahkannya dari larutan berupa benang benang halus yang tampak berupa kabut putih yang sangat lembut (Green & Sambrook, 2012).
Sumber isolasi DNA mencakup berbagai organisme, baik dari tumbuhan, hewan, maupun mikroorganisme. Tumbuhan, seperti pisang dan stroberi, sering digunakan karena mengandung banyak sel dan DNA yang mudah diisolasi. Hewan, termasuk vertebrata seperti ikan dan mamalia, serta invertebrata seperti serangga, juga menjadi sumber penting untuk analisis genetik dan aplikasi biomedis. Mikroorganisme, seperti bakteri dan ragi, menyediakan DNA yang dapat digunakan dalam penelitian bioteknologi karena pertumbuhannya yang cepat dan mudah diinkubasi. Selain itu, jaringan dari manusia atau hewan, serta biomassa lain seperti sedimen dan tanah, juga dapat menjadi sumber DNA yang bermanfaat dalam studi biodiversitas dan ekologi. Setiap sumber memiliki kelebihan tertentu yang mempengaruhi metode isolasi dan aplikasi selanjutnya dalam penelitian (Triani, N.,2020).
Reaksi yang terjadi dalam proses isolasi DNA dari buah-buahan dan sayuran melibatkan beberapa langkah kunci yang saling berhubungan.
Pertama, proses dimulai dengan penambahan detergen, yang memiliki dua bagian: bagian hidrofilik yang tertarik pada air dan bagian hidrofobik yang tertarik pada lipid. Ketika detergen ditambahkan, ia berinteraksi dengan membran sel yang terdiri dari lapisan lipid, mengganggu struktur membran dan menyebabkan lisis sel. Proses ini memungkinkan komponen seluler, termasuk DNA, protein, dan bahan lainnya, untuk terlepas ke dalam larutan. Setelah lisis, langkah berikutnya adalah penambahan natrium
klorida (NaCl). Garam ini disosiasi menjadi ion natrium (Na ) dan ion⁺ klorida (Cl ) saat larut dalam air. Ion natrium berfungsi untuk menetralkan⁻ muatan negatif pada DNA, yang disebabkan oleh gugus fosfat yang terdapat pada tulang punggung DNA. Dengan menetralkan muatan negatif ini, Na mengurangi repulsi antara molekul DNA, sehingga membuatnya⁺ lebih stabil dan mudah diendapkan pada langkah berikutnya. Setelah DNA dinetralisasi, etanol dingin ditambahkan ke dalam larutan. Etanol adalah pelarut non-polar yang tidak mendukung kelarutan DNA. Ketika etanol ditambahkan, DNA yang telah dinetralisasi tidak lagi dapat larut dalam campuran larutan dan mulai mengendap. Proses ini dipicu oleh sifat etanol yang kurang polar dibandingkan dengan air. Penambahan etanol dingin juga memperlambat gerakan molekul, sehingga meningkatkan kemungkinan interaksi antara molekul DNA dan memudahkan proses pengendapan. Hasil akhir dari reaksi ini adalah pengendapan DNA yang terlihat sebagai benang-benang putih di dasar tabung reaksi (Triani, N.,2020).
III. Alat dan Bahan 3.1 Alat Praktikum
1. Background hitam 2. Batang pengaduk 3. Corong kaca 4. Gelas kimia 5. Gelas ukur 6. Kaca arloji 7. Kertas saring 8. Mortal dan pastle 9. Neraca analitik 10. Pipet tetes 11. Pisau 12. Rak tabung 13. Spatula 14. Tabung reaksi
3.2 Bahan Praktikum 1. Akuades 2. Buah alpukat 3. Buah mangga 4. Buah papaya 5. Buah semangka 6. Detergen Attack 7. Detergen Boom 8. Detergen Daia 9. Detergen Jaz1 10. Detergen Rinso 11. Detergen So Klin 12. Etanol dingin 13. NaCl
14. Sayur Brokoli 15. Sayur Kubis IV. Prosedur Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dicuci bersih semua jenis sampel buah dan sayuran dengan air mengalir
3. Untuk sampel buah, dikupas kulit buah dan potong daging buah untuk ditimbang sebanyak 5 g untuk kemudian dimasukkan ke dalam mortar bersih untuk ditumbuk/dihaluskan
4. Untuk sampel sayuran, diambil bagian tengah/dalam sayuran yang masih bersih dan terlindungi dari kotoran untuk ditimbang sebanyak 5 g untuk kemudian dimasukkan ke dalam mortar bersih untuk ditumbuk/dihaluskan
5. Sampel yang sudah halus dipindahkan ke dalam beaker glass bersih dan selanjutnya ditambah dengan 50 ml akuades, 2,5 g detergen dan 2,5 g NaCl. Dengan pasangan campuran detergen + sampel (buah atau sayuran) yaitu :
Semangka + Rinso
Pepaya + So Klin
Mangga + Daia
Alpukat + Attack
Brokoli + Boom
Kubis + Jaz1
7. Diaduk larutan tersebut sampai homogen dan diamkan selama 15 menit pada suhu ruang
8. Dilakukan filtrasi/penyaringan larutan tersebut dengan kertas saring 9. Hasil penyaringan/filtrat diambil sebanyak 5 ml untuk kemudian
dimasukkan ke dalam tabung reaksi, dikocok sampai homogen 10. Ditambahkan 0,6 ml etanol dingin ke dalam tabung reaksi
11. Diamati ada tidaknya benang benang halus dan warna yang terbentuk
V. Hasil dan Pembahasan 5.1 Hasil Pengamatan
No. Sampel Hasil Gambar
1. Semangka + Rinso Terbentuk benang halus
2. Pepaya + So Klin Terbentuk benang halus
3. Mangga + Daia Terbentuk benang halus
4. Alpukat + Attack Tidak terbentuk benang halus
5. Brokoli + Boom Terbentuk benang halus
6. Kubis + Jaz1 Terbentuk benang halus
5.2 Pembahasan
Berdasarkan praktikum proses dilisiskan dilakukan dengan metode mekanis yaitu dengan 5g semangka ditumbuk dengan mortar dan pastle sampai halus atau hancur, lalu semangka tersebut ditambahkan dengan NaCl (2,5 g), Rinso (2,5 g), dan akuades (50 ml). Hal ini merupakan bagian dari proses isolasi DNA yaitu proses lisis sel secara kimiawi dengan cara merusak membran inti sel nya.
Kedua hal ini dilakukan agar DNA dapat keluar dari sel.
Selanjutanya yaitu larutan campuran tersebut disaring menggunakan kertas saring, hal ini merupakan proses dari permurnian ekstrak sel.
Ditahap terakhir 5 ml filtrat kentang di tabung reaksi ditambahkan etanol dingin sebanyak 0,6 ml dan pada saat diamati terdapat benang benang halus, hal ini merupakan proses isolasi DNA yaitu presipitasi DNA. Benang-benang halus ini menunjukkan bahwa adanya asam nukleat pada semangka. Berdasarkan teori Rohman dkk (2018), disebutkan bahwa detergen yang mengandung SDS, seperti Rinso, sangat efektif dalam melarutkan membran sel tanaman, terutama pada tanaman yang kaya akan kandungan air seperti semangka.
Semangka adalah buah dengan kandungan air yang sangat tinggi, yang mempengaruhi proses isolasi DNA. Rinso, sebagai detergen komersial, mengandung Sodium Dodecyl Sulfate (SDS) yang sangat efektif untuk memecah membran lipid sel. Surfaktan dalam Rinso menghancurkan membran plasma dan memungkinkan DNA untuk dilepaskan. Dalam kombinasi dengan NaCl, DNA distabilkan oleh ion natrium, yang mengurangi pengaruh muatan negatif pada DNA.
Etanol dingin kemudian digunakan untuk mengendapkan DNA, yang pada sampel semangka berbentuk benang putih halus.
Kandungan air yang tinggi dalam semangka membuat DNA lebih mudah larut, sehingga penambahan etanol dingin sangat penting dalam proses pengendapan.
Berdasarkan praktikum proses dilisiskan dilakukan dengan metode mekanis yaitu dengan 5g pepaya ditumbuk dengan mortar dan pastle sampai halus atau hancur, lalu pepaya tersebut ditambahkan dengan NaCl (2,5 g), So Klin (2,5 g), dan akuades (50 ml). Hal ini merupakan bagian dari proses isolasi DNA yaitu proses lisis sel secara kimiawi dengan cara merusak membran inti sel nya.
Kedua hal ini dilakukan agar DNA dapat keluar dari sel.
Selanjutanya yaitu larutan campuran tersebut disaring menggunakan kertas saring, hal ini merupakan proses dari permurnian ekstrak sel.
Ditahap terakhir 5 ml filtrat larutan campuran tadi di tabung reaksi lalu ditambahkan etanol dingin sebanyak 0,6 ml dan pada saat diamati terdapat benang benang halus, hal ini merupakan proses isolasi DNA yaitu presipitasi DNA. Benang-benang halus ini menunjukkan bahwa adanya asam nukleat pada pepaya.
Berdasarkan teori Anggraini ,(2017) menyatakan bahwa detergen yang dikombinasikan dengan enzim proteolitik dari tanaman (seperti papain pada pepaya) dapat membantu memurnikan DNA dari protein pengikatnya. Pepaya memiliki kandungan air yang cukup tinggi, namun juga mengandung enzim proteolitik papain yang dapat memecah protein, sehingga mempercepat degradasi protein selama isolasi DNA. So Klin digunakan sebagai agen lisis yang membantu memecah membran sel, sementara papain dari pepaya membantu memecah protein yang mengikat DNA, sehingga mempermudah isolasi DNA. NaCl digunakan untuk menetralkan muatan DNA dan memperkuat pengendapan dengan etanol dingin.
Proses isolasi DNA dari pepaya cenderung menghasilkan kualitas yang baik meskipun ada risiko kontaminasi protein karena adanya papain.
Berdasarkan praktikum proses dilisiskan dilakukan dengan metode mekanis yaitu dengan 5g mangga ditumbuk dengan mortar dan pastle sampai halus atau hancur, lalu mangga tersebut ditambahkan dengan NaCl (2,5 g), Daia (2,5 g), dan akuades (50
ml). Hal ini merupakan bagian dari proses isolasi DNA yaitu proses lisis sel secara kimiawi dengan cara merusak membran inti sel nya.
Kedua hal ini dilakukan agar DNA dapat keluar dari sel.
Selanjutanya yaitu larutan campuran tersebut disaring menggunakan kertas saring, hal ini merupakan proses dari permurnian ekstrak sel.
Ditahap terakhir 5 ml filtrat larutan campuran tadi di tabung reaksi lalu ditambahkan etanol dingin sebanyak 0,6 ml dan pada saat diamati terdapat benang benang halus, hal ini merupakan proses isolasi DNA yaitu presipitasi DNA. Benang-benang halus ini menunjukkan bahwa adanya asam nukleat pada mangga.
Berdasarkan teori Irawan dkk (2016), bahwa penggunaan surfaktan dan enzim yang terdapat pada detergen seperti Daia membantu mengurangi kontaminasi dari polisakarida selama isolasi DNA.
Mangga memiliki kandungan serat yang tinggi serta polisakarida yang dapat menghambat isolasi DNA. Daia, yang mengandung surfaktan dan enzim, membantu memecah dinding sel dan melarutkan membran sel. Setelah lisis sel, NaCl menetralkan DNA untuk memfasilitasi pengendapan dengan etanol dingin. Hasil isolasi DNA dari mangga cenderung lebih sulit karena tingginya kandungan polisakarida yang menghambat proses pengendapan, tetapi dengan detergen Daia, sebagian besar kontaminan dapat dikurangi.
Berdasarkan praktikum proses dilisiskan dilakukan dengan metode mekanis yaitu dengan 5g alpukat ditumbuk dengan mortar dan pastle sampai halus atau hancur, lalu alpukat tersebut ditambahkan dengan NaCl (2,5 g), Attack (2,5 g), dan akuades (50 ml). Hal ini merupakan bagian dari proses isolasi DNA yaitu proses lisis sel secara kimiawi dengan cara merusak membran inti sel nya.
Kedua hal ini dilakukan agar DNA dapat keluar dari sel.
Selanjutanya yaitu larutan campuran tersebut disaring menggunakan kertas saring, hal ini merupakan proses dari permurnian ekstrak sel.
Ditahap terakhir 5 ml filtrat larutan campuran tadi di tabung reaksi
lalu ditambahkan etanol dingin sebanyak 0,6 ml dan pada saat diamati tidak terdapat benang benang halus, hal ini merupakan proses isolasi DNA yaitu presipitasi DNA. Tidak terdapat benang- benang halus ini menunjukkan bahwa tidak adanya asam nukleat pada alpukat. Hal ini dikarenakan alpukat yang digunakan masih muda. Attack, yang dirancang untuk melawan noda lemak, mengandung enzim yang memecah lipid. Ini membantu dalam melisiskan membran sel yang kaya lipid, sehingga memperlambat pelepasan DNA. Penambahan NaCl untuk menetralkan DNA diikuti oleh etanol dingin tidak efektif mengendapkan DNA di dalam larutan dengan jaringan muda seperti alpukat muda . Berdasarkan teori Rachmawati dkk (2014), bahwa proses isolasi dari alpukat cukup rumit karena sampel jaringan muda, seperti alpukat muda, sering kali memberikan hasil isolasi DNA yang lebih rendah atau tidak terlihat karena beberapa alasan, termasuk kandungan air yang tinggi, aktivitas nuklease yang lebih besar, kandungan polisakarida, dan tingkat protein yang tinggi. Oleh karena itu, perlakuan yang lebih hati-hati, seperti penggunaan inhibitor nuklease, protease, serta buffer lisis yang lebih efektif, sangat diperlukan untuk meningkatkan hasil isolasi DNA dari sampel jaringan muda., detergen yang kuat seperti Attack tidak bisa membantu memisahkan DNA dari sel. Oleh karena itu, jaringan muda sering kali memberikan tantangan lebih besar dalam isolasi DNA karena aktivitas enzimatik yang lebih tinggi dan komposisi kimia yang berbeda dibandingkan jaringan dewasa.
Berdasarkan praktikum proses dilisiskan dilakukan dengan metode mekanis yaitu dengan 5g brokoli ditumbuk dengan mortar dan pastle sampai halus atau hancur, lalu brokoli tersebut ditambahkan dengan NaCl (2,5 g), Boom (2,5 g), dan akuades (50 ml). Hal ini merupakan bagian dari proses isolasi DNA yaitu proses lisis sel secara kimiawi dengan cara merusak membran inti sel nya.
Kedua hal ini dilakukan agar DNA dapat keluar dari sel.
Selanjutanya yaitu larutan campuran tersebut disaring menggunakan kertas saring, hal ini merupakan proses dari permurnian ekstrak sel.
Ditahap terakhir 5 ml filtrat larutan campuran tadi di tabung reaksi lalu ditambahkan etanol dingin sebanyak 0,6 ml dan pada saat diamati terdapat benang benang halus, hal ini merupakan proses isolasi DNA yaitu presipitasi DNA. Terdapat benang-benang halus ini menunjukkan bahwa adanya asam nukleat pada brokoli.
Berdasarkan teori Prasetyo dkk (2013) bahwa brokoli memiliki jaringan yang lebih berserat dibandingkan buah-buahan, sehingga proses lisis membutuhkan waktu lebih lama. Boom, dengan kandungan surfaktan, membantu melarutkan dinding sel yang lebih tebal. Setelah lisis sel, NaCl menetralkan muatan DNA dan etanol dingin digunakan untuk mengendapkan DNA. Meskipun serat brokoli lebih padat, hasil isolasi DNA dari brokoli cukup baik, meski sedikit dalam jumlah. Penggunaan detergen yang kuat seperti Boom sangat penting dalam memecah dinding sel tanaman yang berserat, seperti brokoli, untuk mendapatkan hasil DNA yang lebih baik.
Berdasarkan praktikum proses dilisiskan dilakukan dengan metode mekanis yaitu dengan 5g kubis ditumbuk dengan mortar dan pastle sampai halus atau hancur, lalu kubis tersebut ditambahkan dengan NaCl (2,5 g), Jaz1 (2,5 g), dan akuades (50 ml). Hal ini merupakan bagian dari proses isolasi DNA yaitu proses lisis sel secara kimiawi dengan cara merusak membran inti sel nya. Kedua hal ini dilakukan agar DNA dapat keluar dari sel. Selanjutanya yaitu larutan campuran tersebut disaring menggunakan kertas saring, hal ini merupakan proses dari permurnian ekstrak sel. Ditahap terakhir 5 ml filtrat larutan campuran tadi di tabung reaksi lalu ditambahkan etanol dingin sebanyak 0,6 ml dan pada saat diamati terdapat benang benang halus, hal ini merupakan proses isolasi DNA yaitu presipitasi DNA. Terdapat benang-benang halus ini menunjukkan bahwa tidak adanya asam nukleat pada kubis . Berdasarkan teori Suryanto (2011) dalam jurnal "Isolasi DNA dari Tanaman Kubis", menyebutkan
bahwa Kubis memiliki jaringan yang padat dan berserat seperti brokoli. Jaz1 digunakan sebagai detergen untuk melisiskan membran sel. Kandungan surfaktan dalam Jaz1 membantu memecah dinding sel yang padat. Setelah lisis, DNA dinetralkan dengan NaCl dan diendapkan menggunakan etanol dingin. Isolasi DNA dari kubis memerlukan waktu lebih lama karena struktur jaringan yang padat, namun hasil akhirnya menunjukkan bahwa DNA yang berhasil diendapkan cukup baik dalam kualitas. Penggunaan detergen dengan surfaktan yang efektif sangat penting untuk memecah dinding sel kubis yang tebal dan berserat, sehingga menghasilkan DNA yang berkualitas.
VI. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Semangka + Rinso
Isolasi DNA pada semangka berhasil, ditandai dengan terbentuknya benang-benang halus setelah ditambahkan etanol dingin.
Rinso yang mengandung SDS (Sodium Dodecyl Sulfate) efektif dalam melisiskan membran sel semangka yang kaya akan air, memudahkan DNA untuk keluar dari sel dan diendapkan dengan etanol.
Kombinasi NaCl membantu menstabilkan DNA selama proses pengendapan.
2. Pepaya + So Klin
Hasil isolasi DNA dari pepaya juga menunjukkan adanya benang-benang halus, yang menunjukkan keberhasilan pengendapan DNA.
So Klin membantu melisiskan membran sel, dan enzim papain yang terkandung dalam pepaya membantu memecah protein pengikat DNA.
NaCl dan etanol dingin berperan dalam pengendapan DNA yang terlarut dalam larutan campuran.
3. Mangga + Daia
Mangga menghasilkan DNA meskipun lebih sulit karena kandungan polisakarida yang tinggi.
Daia, yang mengandung surfaktan dan enzim, membantu mengurangi kontaminasi polisakarida dan memungkinkan pengendapan DNA dengan etanol dingin.
4. Alpukat + Attack
Tidak ada benang-benang halus yang terlihat pada hasil isolasi DNA dari alpukat, menunjukkan bahwa DNA tidak berhasil diendapkan.
Hal ini disebabkan oleh sampel alpukat yang masih muda, yang memiliki aktivitas nuklease lebih tinggi dan kandungan air lebih besar, menghambat proses pengendapan DNA.
Attack, meskipun efektif dalam melisiskan lipid, tidak cukup kuat dalam membantu pengendapan DNA dari jaringan muda.
5. Brokoli + Boom
Isolasi DNA dari brokoli menunjukkan hasil yang baik dengan terbentuknya benang-benang halus setelah ditambahkan etanol dingin.
Boom efektif dalam melarutkan dinding sel yang lebih tebal pada brokoli, meskipun seratnya lebih padat dibandingkan buah-buahan lain.
Proses pengendapan DNA berhasil dengan bantuan NaCl dan etanol dingin.
6. Kubis + Jaz1:
Kubis juga menghasilkan benang-benang halus yang menunjukkan keberhasilan isolasi DNA, meskipun strukturnya padat dan berserat.
Jaz1, dengan kandungan surfaktan, mampu melisiskan dinding sel yang tebal, sementara NaCl membantu menetralkan DNA dan etanol dingin berperan dalam pengendapannya.
VII. Daftar Pustaka
Anggraini, R. (2017). Pengaruh Detergen pada Isolasi DNA Pepaya.
Jurnal Biologi Tropika, 8(3), 210-218. Malang
Green, M. R., & Sambrook, J. (2012). Molecular Cloning: A Laboratory Manual (4th ed.). Cold Spring Harbor Laboratory Press.NY
Irawan, F., Santoso, A., & Rahmawati, T. (2016). Pengaruh Polisakarida pada Isolasi DNA Buah-Buahan. Jurnal Teknologi Pangan, 10(1), 45-52. Surabaya
Lister, H. (2013). Cells and DNA. National Institute of Health.
Department of Health and Human Services. USA
Nishiguchi, M. K., P. Doukakis, M. Egan, D. Kizirian, A. Phillips, L.
Prendini, H. C. Rosenbaum, E. Torres, Y. Wyner, R. de Salle, and G. Giribet. (2010). DNA Isolation Procedures.
Methods and Tools in Biosciences and Medicine.Birkhäuser Verlag Basel. Switzerland
Prasetyo, A., Yulianto, B., & Kusuma, M. (2013). Teknik Isolasi DNA pada Tanaman Berserat. Jurnal Bioteknologi, 12(2), 33-40. Semarang
Rachmawati, L., Prasetya, W., & Wulandari, E. (2014). Pengaruh Usia Jaringan Tanaman pada Efisiensi Isolasi DNA.
Jurnal Sains Biologi, 9(4), 89-96. Bandung
Rohman, A., Fauziyah, N., & Lestari, D. (2018). Isolasi DNA Tanaman dengan Metode Detergen SDS. Jurnal Bioteknologi Pertanian, 6(2), 55-63. Yogyakarta
Suryanto, A. (2011). Isolasi DNA dari Tanaman Kubis. Jurnal Bioteknologi dan Pertanian, 7(1), 101-108. Bogor
Widyastuti, D. A. (2017). Isolasi DNA kromosom Salmonella sp.
dan visualisasinya pada elektroforesis gel agarosa.
Prosiding SNPBS (Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek) Ke-2, 125-130. Malang
VIII. LAMPIRAN
Menghaluskan sampel Memasukkan sampel + NaCl + detergen (Proses lisis sel secara mekanis) (Proses lisis sel secara kimiawi)
Penuangan Akuades Penyaringan
(Proses pemurnian DNA dari ekstrak sel)
Penambahan 0,6 ml Etanol dingin Hasil presipitasi DNA (Proses presipitasi DNA)
Penimbangan Detergen Penimbangan Sampel
Sampel halus NaCl Detergen Akuades Sampel
Mortar & Pastle Beaker Glass Batang Pengaduk Gelas ukur Background
Pipet tetes Tabung reaksi Rak tabung reaksi Corong kaca & Kertas Saring