MODUL 1
PENGENALAN ALAT LABORATORIUM DAN BUDAYA K3
1.1.Tujuan
1. Mampu mengenal peralatan yang biasa digunakan dalam analisis kimia kualitatif dan kuantitatif
2. Mampu memahami prinsip-prinsip Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Laboratorium
3. Mampu menggunakan peralatan K3 di Laboratorium dengan baik dan benar
1.2.Pengenalan Alat
Beberapa jenis alat yang biasa digunakan dalam Praktikum Kimia Analitik serta fungsinya Nama Alat Gambar Kegunaan
Neraca analitik/
Analytical balance
Digunakan untuk mengukur massa
Gelas kimia/ Beakers Digunakan untuk mengaduk, mencampur, memanaskan cairan
Bunsen burner Digunakan sebagai sumber panas, jika tidak terdapat material yang mudah menyala
Krusibel/ Crucible Digunakan untuk meletakkan zat kimia selama pemanasan pada suhu yang sangat tinggi
Erlenmeyer/
Erlenmeyer flasks
Digunakan untuk mencampur zat kimia
Gelas ukur/
Graduated cylinders
Digunakan untuk mengukur volume cairan meskipun tidak seakurat pipet
Cawan
penguap/Evaporating Dish
Digunakan untuk memanaskan cairan agar
Pinset/Forceps Digunakan untuk mengambil atau membawa
material/objek
Corong/Funnel Digunakan untuk
memindahkan cairan atau material yang halus ke dalam wadah dengan lubang kecil, juga digunakan ketika filtrasi Lumpang dan alu/
Mortar and pestle
Digunakan untuk menumbuk atau menghancurkan material
Pipet bulb Digunakan untuk menyedot larutan ke dalam pipet
Ring stand Digunakan untuk menahan peralatan gelas agar tidak jatuh
Batang pengaduk/
stirring rod
Digunakan untuk mengaduk atau mencampur
Tabung reaksi/test tubes
Digunakan untuk
meletakkan, mencampurkan sejumlah kecil cairan atau padatan
Rak tabung reaksi/test tube rack
Digunakan untuk meletakkan beberapa tabung reaksi
Labu takar/
Volumetric flasks
Digunakan untuk mempersiapkan larutan dengan volum yang akurat
Pipet volum/volumetric
pipet
Digunakan untuk mengukur sejumlah kecil cairan dengan tingkat keakuratan yang sangat tinggi.
Botol cuci/wash bottle
Digunakan untuk membilas peralatan gelas dan
menambahkan sejumlah kecil air
Kaca arloji/watch glass
Digunakan untuk meletakkan padatan ketika ditimbang atau untuk menutup gelas kimia
Buret/burettes Digunakan untuk titrasi
Pipet ukur/
measuring pipettes
Digunakan untuk mengambil larutan dengan volume tertentu
1.3. Pengenalan Budaya Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3) Di Laboratorium
Keterampilan bekerja di Laboratorium maupun dunia kerja dapat diperoleh melalui kegiatan praktikum, di samping itu ada kemungkinan bahaya yang terjadi di Laboratorium seperti adanya bahan kimia yang karsinogenik, bahaya kebakaran, keracunan, sengatan listrik dalam penggunaan alat listrik (kompor, oven dan lain-lain). Di samping itu, orang yang bekerja di Laboratorium dihadapkan pada resiko yang cukup besar, yang disebabkan karena dalam setiap percobaan digunakan :
1. Bahan kimia yang mempunyai sifat mudah meledak, mudah terbakar, korosif, karsinogenik, dan beracun.
2. Alat gelas yang mudah pecah dan dapat mengenai tubuh.
3. Alat listrik seperti kompor listrik, yang dapat menyebabkan sengatan listrik.
4. Penangas air atau minyak bersuhu tinggi yang dapat terpecik.
Untuk mencegah terjadinya kecelakaan di Laboratorium, hal yang harus dilakukan pada saat bekerja di Laboratoriumantara lain :
1. Tahap persiapan
a. Mengetahui secara pasti (tepat dan akurat) cara kerja pelaksanaan praktikum serta hal yang harus dihindari selama praktikum, dengan membaca petunjuk praktikum.
b. Mengetahui sifat bahan yang akan digunakan sehingga dapat terhindar dari kecelakaan kerja selama di Laboratorium. Sifat bahan dapat diketahui dari Material Safety Data Sheet (MSDS).
c. Mengetahui peralatan yang akan digunakan serta fungsi dan cara penggunaannya.
d. Mempersiapkan Alat Pelindung Diri seperti jas praktikum lengan panjang, kacamata goggle, sarung tangan karet, sepatu, masker dan lain-lain
2. Tahap pelaksanaan
a. Mengenakan Alat Pelindung Diri.
b. Mengambil dan memeriksa alat dan bahan yang akan digunakan.
c. Menggunakan bahan kimia seperlunya, jangan berlebihan karena dapat mencemari lingkungan.
d. Menggunakan peralatan percobaan dengan benar.
e. Membuang limbah percobaan pada tempat yang sesuai, disesuaikan dengan kategori limbahnya.
f. Bekerja dengan tertib, tenang dan hati-hati, serta catat data yang diperlukan.
3. Tahap pasca pelaksanaan
a. Cuci peralatan yang digunakan, kemudian dikeringkan dan kembalikan ke tempat semula.
b. Matikan listrik, kran air, dan tutup bahan kimia dengan rapat (tutup jangan tertukar).
c. Bersihkan tempat atau meja kerja praktikum.
d. Cuci tangan dan lepaskan jas praktikum sebelum keluar dari laboratorium.
Selain pengetahuan mengenai penggunaan alat dan teknis pelaksanaan di laboratorium, pengetahuan resiko bahaya dan pengetahuan sifat bahan yang digunakan dalam percobaan adalah mutlak .Sifat bahan secara rinci dan lengkap dapat dibaca pada Material Safety Data Sheet (MSDS) yang dapat didownload dari internet. Berikut ini sifat bahan berdasarkan kode gambar yang ada pada kemasan bahan kimia :
Simbol berbahaya Toxic (sangat beracun)
Corrosive(korosif)
Explosive (bersifat mudah meledak)
Oxidizing (pengoksidasi)
flammable (sangat mudah terbakar)
Huruf kode:
(T+)
Huruf kode:
(C)
Huruf kode:
(E )
Huruf kode:
(O)
Huruf kode:
(F)
Bahan ini dapat menyebabkan kematian atau sakit serius bila masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, pencernaan atau melalui kulit
Bahan ini dapat merusak jaringan hidup, menyebabkan iritasi kulit, dan gatal.
Bahan ini mudah meledak dengan adanya panas, percikan bunga api, guncangan atau gesekan.
Bahan ini dapat menyebabkan kebakaran.
Bahan ini menghasilkan panas jika kontak dengan bahan organik dan reduktor.
Bahan ini memiliki titik nyala rendah dan bahan yang bereaksi dengan air untuk menghasilkan gas yang mudah terbakar.
Harmful (berbahaya)
Huruf kode:
( Xn ) Bahan ini menyebabkan luka bakar pada kulit, berlendir dan mengganggu pernapasan.
MODUL 2
PENGUNAAN PERALATAN KIMIA ANALITIK (KUALITATIF & KUANTITATIF)
1. Tujuan
1. Mampu mengunakan perlatan dalam analisis kimia kualitatif dan kuantitatif dengan benar
2. Mampu mengunakan peralatan yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan analisis yang akan dilakukan
2. Cara Pengunaan Alat Kimia
Cara penggunaan peralatan kimia merupakan suatu keterampilan yang harus dimiliki bagi yang akan berkecimpung dalam bidang ilmu kimia. Keberhasilan suatu praktikum atau penelitian sangat ditentukan oleh penguasaan praktikan atau peneliti terhadap alat-alat yang digunakannya. Di dalam laboratorium ada berbagai macam alat mulai dari yang sederhana seperti alat-alat gelas sampai pada peralatan yang cukup rumit. Pada praktikum ini mahasiswa diajarkan menggunakan alat-alat yang umum dipakai di laboratorium kimia analiti (analisa kuanlitatif dan kuantitatif. Dengan demikian setelah melakukan praktikum mahasiswa akan mempunyai keterampilan dalam mempergunakan peralatan kimia. Beberapa jenis alat yang biasa digunakan dalam Praktikum Kimia Analitik serta cara pengunaannya.
1. Tabung reaksi
Terbuat dari gelas, dapat dipanaskan, dipakai sebagai tempat untuk mereaksikan zat-zat kimia dalam jumlah sedikit.
Gambar 1. Tabung reaksi Cara penggunaanya :
a. Tabung reaksi digunakan dalam keadaan bersih
b. Tabung reaksi dipegang pada lehernya, miringkan lebih kurang 60oC lalu diisi dengan larutan yang akan diperiksa.
c. Bila tabung beserta isinya akan dipanaskan, tabung dipegang dengan penjepit tabung dan pemansan dilakukan pada daerah 1/3 bagian cairan di bawah. Mulut tabung harus diarahkan ke tempat yang aman (jangan ke arah muka sendiri atau muka orang lain).
d. Tabung yang panas tidak boleh didinginkan secara mendadak e. Bersihkan tabung reaksi setelah selesai digunakan
2. Neraca analitik
Timbangan Analitik adalah sebuah instrument laboratorium yang digunakan untuk mengukur massa suatu zat. Timbangan analitik memiliki beberapa nama lain seperti analytical balance, neraca analitik, timbangan gram halus atau timbangan laboratorium. Pada dasarnya timbangan analitik adalah sebuah timbangan yang digunakan untuk mengukur masa suatu benda, sama seperti timbangan pada umumnya. Namun timbangan analitik memiliki kemampuan yang lebih spesifik dan dikhususkan untuk menimbang benda dengan berat yang sangat ringan. Secara umum, bersadarkan cara penggunaannya timbangan analitik dibagi menjadi 2 jenis, yakni Timbangan analitik analog dan Timbangan analitik digital.
Gambar 2. Neraca Analitik Cara pengunannya:
a. Siapkan rencana penimbangan sesuai dengan berat hasil perhitungan b. Nyalakan neraca analitik dengan stop kontak listrik
c. Tekan tombol on sampai keluar angka 0,0000 gr d. Gunakan kaca arloji sebagai wadah
e. Timbang gelas arloji kosong hingga angka pada papan display konstan
f. Catat angka yang tertera pada papan display neraca atau nol kan angka pada display jika tidak diperlukan berat wadah
g. Tanpa mengeluarkan gelas arloji dari neraca, tambahkan sampel pada gelas arloji tersebut sesuai dengan yang ditentukan.
h. Tutup kaca penutup neraca/timbangan (mencegah pengaruh udara)
i. Timbang berat gelas arloji dan sampel hingga berat yang tertimbang sama atau mendekatai nominal (2 angka desimal terakhir yang berbeda) berat pada rencana penimbangan
j. Catat angka yang tertera pada papan display alat sebagai (Berat wadah + Sampel) atau berat sampel jika wadah di nolkan sebelum penimbangan sampel
k. Matikan Neraca dengan menekan tombol Off l. Ambil gelas arloji dan sampael dari dalam neraca
m.Pastikan neraca analitik dalam keadaan bersih setelah melakukan penimbangan
3. Labu ukur
Suatu bejana dengan leher panjang, sempit dan dasar yang datar. Dilengkapi dengan tanda batas volumen. Mempunyai kapasitas tampung sesuai dengan ukuran yang tercantum. Bila pada alat tertulis 20oC dan 100 mL maka alat tersebut dapat menampung cairan pada 20oC tepat sebanyak 100 mL sampai garis tanda yang terdapat pada leher alat. Digunakan untuk membuat larutan standar (baku) pada análisis volumetric dan sering juga dipakai untuk pengenceran sampai volume tertentu.
Gambar 3. Labu ukur Cara penggunaannya :
a. Labu ukur dalam keadaan bersih untuk digunakan (bersihkan terlebih dahulu; Cuci dengan detergent dan selanjutnya dengan air ledeng, Bilas dengan air suling)
b. Bahan cairan atau padatan dimasukkan hati-hati dengan bantuan corong ke dalam labu ukur.
c. Tambahkan air suling / bahan pengencer lain yang diperlukan melalui corong tadi sampai kurang lebih 4/5 bagian yang penuh, kemudian kocok sampai diperoleh campuran yang homogen
d. Tambahkan lagi pengencer sampai sedikit di bawah garis tanda. Bila penambahan sampai di atas tanda, berarti terjadi suatu kesalahan yang tidak bisa diperbaiki dan pekerjaan harus diulang dari permulaan.
e. Tambahkan kekurangan pengencer (pelarut) dengan hati-hati memakai pipet tetes sampai miniskus bagian bawah (untuk larutan yang tidak berwarna) tetapi segaris dengan baris tanda.
f. Bila di atas garis tanda terdapat bintik-bintik pelarut/pengencer maka butir- butir cairan itu dibersihkan dengan kertas/lap bersih.
g. Labu ukur lalu ditutup dengan tutupnya kemudian labu beserta isinya dibolak-balik beberapa kali sehingga di dapatkan larutan yang homogen.
h. Bersihkan labu ukur setelah selesai digunakan 4. Bola hisap (Suction Bulb)
Pengambilan suatu larutan atau cairan menggunakan pipet volume dapat dilakukan dengan bantuan bola hisap karet. Bola hisap ini terdiri dari satu bola dengan ujung pendek diatas dan ujung bawah agak panjang. Ujung bawah mempunyai cabang ke samping. Sebelum dipakai untuk mengambil cairan, bola dikosongkan dengan menekan bola dan bagian ujung atas. Masukkan pipet volumen ke dalam lobang ujung bawah bola hisap tetapi jangan melewati pipa cabang. Pijit bagian ujung bawah maka cairan akan terhisap masung ke dalam pipet. Kalau pijatan dilepas maka hisapan akan terhenti. Cairan dapat dikeluarkan dengan memijit bagian pipa cabang. Sehabis menggunakan bola hisap ini pipet
dilepas dan biarkan udara masuk sehingga bola menggelembung kembali seperti semula.
Gambar 4. Bola hisap
Catatan : cairan yang dihisap jangan sampai masuk ke bola.
5. Pipet volume / pipet gondok
Di bagian tengah dari pipet ini ada bagian yang membesar (gondok), ujungnya runcing dan pada bagian atas ada tanda goresan melingkar. Tepat sampai tanda tersebut, volume larutan di dalam pipet sama dengan angka yang tertera pada pipet tersebut. Alat ini dipakai untuk mengambil dan memindahkan larutan secara tepat suatu volume tertentu sesuai kapasitas alat.
Gambar 5. Pipet Volume/Gondok Cara penggunaannya :
a. Pipet volum dalam keadaan bersih untuk digunakan (bersihkan terlebih dahulu; Cuci dengan detergent dan selanjutnya dengan air ledeng, Bilas dengan air suling)
b. Bilas dengan larutan yang akan diambil / dipindahkan.
c. Larutan disedot pelan-pelan dengan bola hisap sampai 1 s/d 2 cm di atas garis tanda.
d. Pipet diangkat vertikal, bersihkan cairan yang menmpel pada ujung pipet dengan kertas saring atau lap bersih. Tanda batas volume pada pipet sejajar
dengan mata, lalu cairan dikeluarkan secara pelan-pelan sampai miniskus bawah tepat pada garis tanda (batas volume).
e. Tuangkan isi pipet ke dalam erlenmeyer atau wadah lain yang digunakan.
Pada waktu menuangkan isinya, pipet harus dalam kedudukan vertikal.
Penuangan isi pipet diatur sedemikian rupa sehingga isi pipet sejumlah 25 ml ddiperlukan waktu kurang lebih 30 detik. Pada saat-sat terakhir biarkan ujung- ujung pipet pada sisi dalam penampung selama 15 detik, untuk memberikan kesempatan pada zat cair yang masih di dalam pipet untuk keluar. Sisa zat cair yang tertinggal pada ujung pipet tidak boleh diikutkan / dikeluarkan baik dengan cara meniup ataupun dengan cara-cara lain. Bila akan dipakai untuk mengambil/memindahkan zat lain, pipet dicuci kembali dan selanjutnya sesuai dengan petunjuk cara penggunaanya.
f. Bersihkan pipet setelah selesai digunakan.
6. Buret
Berupa tabung gelas panjang dengan pembagian skala dan ujung bawah dilengkapi dengan kran. Digunakan untuk titrasi / mengukur volume titran yang dipakai. Berdasarkan tingkat ketelitian/pembagian skalanya, buret ada 2 jenis : a. Makro buret dengan pembagian skala 0,10 – 0,05 ml
b. Mikro buret dengan pembagian skala 0,01 ml
Gambar 6. Buret Cara pengunannya:
a. Buret dalam keadaan bersih untuk digunakan (bersihkan terlebih dahulu; Cuci dengan detergent dan selanjutnya dengan air ledeng, Bilas dengan air suling)
b. Bilas dengan larutan / titran yang akan dimasukkan ke dalam buret, larutan pembilas dibuang.
c. Periksa kran buret apakah bocor dan kalau dianggap perlu oleskan vaselin pada kran buret dengan hati-hati supaya jangan sampai lobang kran tersumbat.
d. Tempatkan buret pada estándar buret dengan memakai klem buret dan kemudian buret dibuat vertikal.
e. Dengan memakai corong, buret diisi dengan titran sampai sedikit di atas garis nol. Dalam pengisian buret harus diusahakan agar tidak ada gelembung udara sepanjang cairan dalam kolom.
f. Corong dilepas/dipindahkan dan bagian sisi dalam dari buret yang terletak di atas titran dibersihkan dengan kertas saring yang bersih dan kering.
g. Turunkan permukaan larutan dalam buret perlahan-lahan dengan jalan membuka kran sampai miniskus bawah zat cair (untuk zat cair yang tidak berwarna atau zat cair berwarna terang) tepat pada garis nol. Bila lewat sampai di bawah garis nol, pekerjaan tidak perlu diulang tetapi langsung dibaca dengan teliti. Pembacaan akan lebih teliti apabila miniskus bawah tepat ada pada garis skala buret.
h. Buret siap untuk digunakan.
i. Padaa waktu menitrasi, kran buret dipegang dengan tangan kiri, sedangkan Erlenmeyer tempat titrat dipegang dengan tangan kanan dan mengeluarkan isi buret (titran) tidak boleh terlalu cepat. Dalam pemakaian titran minimum cairan yang tersisa 20 %.
j. Bersihkan dan simpan buret setelah digunakan Cara pembacaan buret :
Cara pembacaan skala buret yang dipandang adalah miniskus zat cair. Untuk zat cair yang tidak berwarna atau berwarna terang, sebagai dasar pembacaan adalah permukaan bawah (miniskus bawah) zat cair atau ada tanda silang pada skala bueret. Sedangkan untuk zat cair yang berwarna gelap sebagai dasar pembacaan permukaan atas zat cair pada dinding buret. Pada waktu pembacaan skala buret kedudukan buret harus vertikal dilihat dari muka dan samping) mata dan miniskus zat cair harus dalam satu bidang horizontal.
3. Data Pengamatan
Nama Alat Spesifikasi Cara Pengunaan Gambar
4. Pertanyaan
1. Jelaskan perbedaan pipet ukur dan pipet volume! Bagaimana pengaruhnyaterhadap pengukuran volume?
2. Peralatan kimia apa saja yang diperlukan untuk analisis katian reaksi basah 3. Peralatan kimia apa saja yang diperlukan untuk membuat suatu larutan 4. Peralatan kimia apa saja yang diperlukan untuk analisis titrasi
5. Bagaimana membersikan peralatan gelas kimia jika ada pengotor yang sukar lepas 6. Mengapa sebelum melakukan penimbangan dengan neraca analitik perlu dilakukan
kalibrasi
Diktat Praktikum Kimia Analitik
PEMBUATAN LARUTAN
5.1.Tujuan
1. Mengenal penggunaan alat dan bahan kimia yang diperlukan dalam pembuatan larurtan 2. Membuat beberapa larutan standar sekunder yang akan digunakan dalam analisis volumetri
5.2. Tinjauan Pustaka
Analisis volumetri merupakan teknik analisis kuantitatif yang dilakukan untuk sampel, dan titran dalam bentuk larutan. Pada metode analisis volumetric, terdapat larutan standar primer dan larutan standar sekunder. Salah satu sumber kesalahan yang mungkin terjadi pada analisis ini adalah kesalahan ketika pembuatan larutan.
Modul ini membahas mengenai cara pembuatan larutan. Dimulai dari memperhitungkan berapa berat senyawa kimia yang harus ditimbang, mempersiapkan peralatan yang akan digunakan dan bagaimana cara menggunakannya, serta bagaimana menyimpan larutan tersebut hingga waktu analisis.
Terdapat beberapa satuan konsentrasi larutan, diantaranya:
a. Molaritas b. Normalitas c. %
d. ppm
5.3. Pembuatan Larutan Standar Sekunder A. Peralatan
Peralatan yang diperlukan antara lain: labu takar, beaker gelas, kaca arloji, spatula, batang pengaduk
B. Bahan-bahan
Bahan-bahan yang digunakan: Pelet NaOH, Kristal KMnO4, AgNO3, Na2S2O3, Na-EDTA, dan HCl
MODUL 3
Diktat Praktikum Kimia Analitik
C. Cara kerja
1. Pembuatan larutan NaOH
a. Ditimbang sebanyak 0,4 gram pellet NaOH pada kaca arloji
b. Dimasukkan NaOH yang telah ditimbang ke dalam beaker gelas 50 mL, ditambahkan akuades secukupnya dan diaduk hingga larut
c. Dipindahkan larutan NaOH tersebut ke dalam labu takar 100 mL, ditambahkan akuades hingga tanda batas, dikocok hingga homogen.
d. Disimpan larutan tersebut ke dalam botol yang telah disiapkan dan diberi keterangan yang lengkap pada kertas label. (dihitung konsentrasi teoritis larutan ini)
2. Pembuatan larutan KMnO4
a. Ditimbang sebanyak 3,16 mg Kristal KMnO4 pada kaca arloji
b. Dimasukkan KMnO4 yang telah ditimbang ke dalam beaker gelas 50 mL, ditambahkan akuades secukupnya dan diaduk hingga larut
c. Dipindahkan larutan KMnO4 tersebut ke dalam labu takar 100 mL, ditambahkan akuades hingga tanda batas, dikocok hingga homogen.
d. Disimpan larutan tersebut ke dalam botol gelap yang telah disiapkan dan diberi keterangan yang lengkap pada kertas label. (dihitung konsentrasi teoritis larutan ini)
3. Pembuatan larutan AgNO3
a. Ditimbang sebanyak 169,8 mg kristal AgNO3 pada kaca arloji
b. Dimasukkan AgNO3 yang telah ditimbang ke dalam beaker gelas 50 mL, ditambahkan akuades secukupnya dan diaduk hingga larut
c. Dipindahkan larutan AgNO3 tersebut ke dalam labu takar 100 mL, ditambahkan akuades hingga tanda batas, dikocok hingga homogen.
d. Disimpan larutan tersebut ke dalam botol yang telah disiapkan dan diberi keterangan yang lengkap pada kertas label. (dihitung konsentrasi teoritis larutan ini)
4. Pembuatan larutan Na-EDTA
a. Ditimbang sebanyak 0,372 g bubuk Na-EDTA pada kaca arloji
Diktat Praktikum Kimia Analitik
b. Dimasukkan Na-EDTA yang telah ditimbang ke dalam beaker gelas 50 mL, ditambahkan akuades secukupnya dan diaduk hingga larut
c. Dipindahkan larutan Na-EDTA tersebut ke dalam labu takar 100 mL, ditambahkan akuades hingga tanda batas, dikocok hingga homogen.
d. Disimpan larutan tersebut ke dalam botol yang telah disiapkan dan diberi keterangan yang lengkap pada kertas label. (dihitung konsentrasi teoritis larutan ini).
5. Pembuatan larutan buffer amonia
a. Ditimbang sebanyak 7 gram NH4Cl pada kaca arloji
b. Dimasukkan NH4Cl yang telah ditimbang ke dalam beaker gelas yang berisi 60 mL NH4OH pekat
c. Dipindahkan larutan tersebut ke dalam labu takar 100 mL, ditambahkan akuades hingga tanda batas, dikocok hingga homogen.
d. Disimpan larutan tersebut ke dalam botol yang telah disiapkan dan diberi keterangan yang lengkap pada kertas label. (dihitung konsentrasi teoritis larutan ini)
D. Pertanyaan
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan larutan standar primer dan larutan standar sekunder
2. Hitunglah ekivalensi KMnO4 jika direaksikan dengan natrium oksalat dalam suasana asam
Diktat Praktikum Kimia Analitik
2.1.Tujuan
1. Mengidentifikasi Kation golongan I, II, III dan IV 2. Menentukan reagen spesifik dan reagen spesifik utama
2.2. Tinjauan Pustaka
Identifikasi melalui reaksi basah adalah identifikasi dalam bentuk larutan dimana logam dalam bentuk ion (kation atau anion) direaksikan dengan menggunakan suatu reagen. Reaksi yang terjadi harus berlangsung cepat, dapat diamati melalui panca indra, bersifat spesifik dan selektif.
Kation golongan I terdiri dari kation Ag+, Pb++, dan Hg2++ yang dapat dikenali dengan menggunakan larutan HCl encer dimana akan menghasilkan endapan yang bewarna putih.
Kation golongan II terdiri dari kation Cu++, Bi+++, Cd++, dan Hg++ yang dapat dikenali dengan menggunakan H2S atau larutan KI dimana akan menghasilkan endapan dengan berwarna yang bervariasi. Kation golongan III terdiri dari kation Fe++, Fe+++, Cr+++, Zn++, Mn++ dan Co++
yang dapat diidentifikasi dengan menggunakan larutan amonium sulfida, dan kation golongan IV terdiri dari Ca++, Ba++ dan Sr++ dikenal dengan golongan amonium karbonat.
2.3. Identifikasi Kation Golongan I (Ag+, Pb++ dan Hg2++ ) A. Identifikasi Kation Ag+ (menggunakan larutan AgNO3)
1. Sebanyak 5 tetes larutan AgNO3 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan HCl encer, diamati perubahan yang terjadi, dibuang filtratnya kemudian endapan dibagi menjadi 2 bagian:
a. Bagian pertama ditambahkan 2-3 tetes larutan NH4OH encer, diaduk dan diamati perubahan yang terjadi
b. Bagian kedua ditambahkan 2-3 tetes larutan HNO3 encer, diamati perubahan yang terjadi
MODUL 4
IDENTIFIKASI MELALUI REAKSI BASAH ( KATION GOLONGAN I, II, III DAN IV)
Diktat Praktikum Kimia Analitik
2. Sebanyak 5 tetes larutan AgNO3 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan KI, diamati perubahan yang terjadi, dibuang filtratnya kemudian endapan dibagi menjadi 2 bagian:
a. Bagian pertama ditambahkan 2-3 tetes larutan NH4OH encer, diamati perubahan yang terjadi
b. Bagian kedua ditambahkan 2-3 tetes larutan KCN encer, diamati perubahan yang terjadi
3. Sebanyak 5 tetes larutan larutan AgNO3 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan K2CrO4, diamati perubahan yang terjadi.
B. Identifikasi Kation Pb++ (menggunakan larutan Pb(NO3)2)
1. Sebanyak 5 tetes larutan Pb(NO3)2 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan 3 tetes larutan HCl encer, diamati perubahan yang terjadi. Kemudian dipanaskan, diamati perubahan yang terjadi.
2. Sebanyak 5 tetes larutan Pb(NO3)2 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan KI, diamati perubahan yang terjadi.
3. Sebanyak 5 tetes larutan Pb(NO3)2 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan K2CrO4, diamati perubahan yang terjadi, dibuang filtratnya kemudian endapan dibagi menjadi 2 bagian:
a. Bagian pertama ditambahkan 2-3 tetes larutan CH3COOH, diamati perubahan yang terjadi
b. Bagian kedua ditambahkan 2-3 tetes larutan NaOH, diamati perubahan yang terjadi
C. Identifikasi Kation Hg2++ (menggunakan larutan Hg2(NO3)2)
1. Sebanyak 5 tetes larutan Hg2(NO3)2 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan 3 tetes larutan HCl encer, diamati perubahan yang terjadi. Kemudian ke dalam endapan yang terjadi ditambahkan larutan NH4OH, diamati perubahan yang terjadi.
2. Sebanyak 5 tetes larutan Hg2(NO3)2 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan larutan KI, diamati perubahan yang terjadi. Kemudian ditambahkan larutan KI secara berlebih, diamati perubahan yang terjadi.
Diktat Praktikum Kimia Analitik
3. Sebanyak 5 tetes larutan Hg2(NO3)2 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan K2CrO4, diamati perubahan yang terjadi.
2.4.Identifikasi Kation Golongan II (Cu++, Bi+++, dan Hg++) A. Identifikasi Kation Cu++ (menggunakan larutan CuSO4)
1. Sebanyak 5 tetes larutan CuSO4 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan NH4OH, diamati perubahan yang terjadi. Kemudian ditambahkan larutan NH4OH secara berlebih, diamati perubahan yang terjadi.
2. Sebanyak 5 tetes larutan CuSO4 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan KI, diamati perubahan yang terjadi. Kemudian ditambahkan larutan Na2S2O3 diaduk homogen dan ditambahkan beberapa tetes amilum, diamati perubahan yang terjadi.
3. Sebanyak 5 tetes larutan CuSO4 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan K4Fe(CN)6, diamati perubahan yang terjadi.
B. Identifikasi Kation Bi+++ (menggunakan larutan Bi(NO3)3)
1. Sebanyak 5 tetes larutan Bi(NO3)3 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan NH4OH, diamati perubahan yang terjadi.
2. Sebanyak 5 tetes larutan Bi(NO3)3 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan KI diamati perubahan yang terjadi. Kemudian ditambahkan 3 tetes larutan KI berlebih, diamati perubahan yang terjadi.
C. Identifikasi Kation Hg++ (menggunakan larutan HgCl2)
1. Sebanyak 5 tetes larutan HgCl2 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan NH4OH, diamati perubahan yang terjadi. Kemudian kepada endapan yang terjadi ditambahkan larutan NH4Cl, diamati perubahan yang terjadi.
2. Sebanyak 5 tetes larutan HgCl2 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan KI, diamati perubahan yang terjadi. Kemudian ditambahkan larutan KI secara berlebih, diamati perubahan yang terjadi.
Diktat Praktikum Kimia Analitik
3. Sebanyak 5 tetes larutan HgCl2 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan SnCl2, diamati perubahan yang terjadi. Kemudian ditambahkan 3 tetes larutan SnCl2 secara berlebih.
2.5.Identifikasi Kation Golongan III (Fe+++, Zn++, Cr+++, Al+++, Mn++ dan Co++) A. Identifikasi Kation Fe+++ (menggunakan larutan FeCl3)
1. Sebanyak 5 tetes larutan FeCl3 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan NH4OH, diamati perubahan yang terjadi
2. Sebanyak 5 tetes larutan FeCl3 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan NH4CNS, diamati perubahan yang terjadi.
3. Sebanyak 5 tetes larutan FeCl3 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan K4Fe(CN)6, diamati perubahan yang terjadi
B. Identifikasi Kation Zn++ (menggunakan larutan ZnSO4)
1. Sebanyak 5 tetes larutan ZnSO4 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan NaOH secara berlebih, diamati perubahan yang terjadi 2. Sebanyak 5 tetes larutan ZnSO4 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian
ditambahkan 3 tetes larutan K4Fe(CN)6, diamati perubahan yang terjadi
3. Sebanyak 5 tetes larutan ZnSO4 dimasukan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan (NH4)2S, diamati perubahan yang terjadi
C. Identifikasi Kation Cr+++ (menggunakan larutan CrCl3)
1. Sebanyak 5 tetes larutan CrCl3 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan Na2HPO4 secara berlebih, diamati perubahan yang terjadi 2. Sebanyak 5 tetes larutan CrCl3 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian
ditambahkan 3 tetes larutan NaOH, diamati perubahan yang terjadi. Kemudian tambahkan larutan NaOH secara berlebih, diamati perubahan yang terjadi.
3. Sebanyak 5 tetes larutan CrCl3 dimasukan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan Na2CO3, diamati perubahan yang terjadi
Diktat Praktikum Kimia Analitik
D. Identifikasi Kation Al+++ (menggunakan larutan Al2(SO4)3)
1. Sebanyak 5 tetes larutan Al2(SO4)3 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan NaOH, diamati perubahan yang terjadi. Kemudian ditambahkan larutan NaOH secara berlebih, diamati perubahan yang terjadi, dibuang filtratnya, kemudian endapan dibagi menjadi 2 bagian:
a. Bagian pertama ditambahkan 2-3 tetes larutan NaOH berlebih, diamati perubahan yang terjadi
b. Bagian kedua tambahkan 2-3 tetes larutan NH4Cl, diamati perubahan yang terjadi 2. Sebanyak 5 tetes larutan Al2(SO4)3 dimasukan ke dalam tabung reaksi, kemudian
ditambahkan 3 tetes larutan Na2HPO4, diamati perubahan yang terjadi
3. Sebanyak 5 tetes larutan Al2(SO4)3 dimasukan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan Na2CO3, diamati perubahan yang terjadi
E. Identifikasi Kation Mn++ (menggunakan larutan MnCl2)
1. Sebanyak 5 tetes larutan MnCl2 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan NaOH berlebih, diamati perubahan yang terjadi
2. Sebanyak 5 tetes larutan MnCl2 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan Na2HPO4, diamati perubahan yang terjadi
3. Sebanyak 5 tetes larutan MnCl2 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan K4Fe(CN)6 berlebih, diamati perubahan yang terjadi
F. Identifikasi Kation Co++ (menggunakan larutan Co(NO3)2)
1. Sebanyak 5 tetes larutan Co(NO3)2 dimasukan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan NaOH, diamati perubahan yang terjadi
2. Sebanyak 5 tetes larutan Co(NO3)2 dimasukan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan (NH4)2S, diamati perubahan yang terjadi
3. Sebanyak 5 tetes larutan Co(NO3)2 dimasukan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes lautan KCN, diamati perubahanyang terjadi
Diktat Praktikum Kimia Analitik
2.6.Identifikasi Kation Golongan IV (Ca++, Sr++, dan Ba++) A. Identifikasi Kation Ca++ (menggunakan larutan CaCl2)
1. Sebanyak 5 tetes larutan CaCl2 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan K2CrO4, diamati perubahan yang terjadi
2. Sebanyak 5 tetes larutan CaCl2 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan (NH4)2CO3, diamati perubahan yang terjadi.
3. Kepada endapan yang terbentuk, dilakukan uji tes kering dengan menggunakan kawat platina yang dicelupkan terlebih dahulu ke dalam HCl pekat (Bantuan dosen /Asisten)
B. Identifikasi Kation Sr++ (menggunakan larutan SrCl2)
1. Sebanyak 5 tetes larutan SrCl2 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan K2CrO4, diamati perubahan yang terjadi
2. Sebanyak 5 tetes larutan SrCl2 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan (NH4)2CO3, diamati perubahan yang terjadi
3. Kepada endapan yang terbentuk dilakukan uji tes kering dengan menggunakan kawat platina yang dicelupkan terlebih dahulu ke dalam HCl pekat (Bantuan dosen /Asisten)
C. Identifikasi Kation Ba++ (menggunakan larutan BaCl2)
1. Sebanyak 5 tetes larutan BaCl2 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan K2CrO4, diamati perubahan yang terjadi
2. Sebanyak 5 tetes larutan larutan BaCl2 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes (NH4)2CO3, diamati perubahan yang terjadi.
3. Kepada endapan yang terbentuk, dilakukan uji tes kering dengan menggunakan kawat platina yang dicelupkan terlebih dahulu kedalam HCl pekat (Bantuan Dosen/Asisten)
Diktat Praktikum Kimia Analitik
3.1.Tujuan
1. Mengidentifikasi Kation golongan V dan Anion 2. Menentukan reagen spesifik dan reagen spesifik utama
3.2. Tinjauan Pustaka
Golongan lima dikenal juga dengan golongan sisa, artinya kation yang tidak dapat membentuk endapan dengan reagen pengendap golongan satu sampai empat. Golongan lima terdiri dari kation K+, Na+, Mg++, NH4+. Kation golongan lima juga dapat dikenali melalui reaksi kering dimana, akan menghasilkan warna nyala yang spesifik.
Sementara identifikasi anion tidak dapat digolongan secara sistematis, hanya dapat dibedakan antara dua golongan A dan B yang hanya dibedakan dengan menggunakan asam encer dan pekat untuk menghasilkan gas.
3.3. Identifikasi Kation Golongan V (Mg++, Na+, K+, NH4+) A. Identifikasi Kation Mg++ (menggunakan larutan MgCl2)
1. Sebanyak 5 tetes larutan MgCl2 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan asam pikrat, diamati perubahan yang terjadi
2. Sebanyak 5 tetes larutan MgCl2 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan NH4OH, diamati perubahan yang terjadi
3. Sebanyak 5 tetes larutan larutan MgCl2 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan Na2CO3, diamati perubahan yang terjadi.
B. Identifikasi Kation Na+ (menggunakan larutan NaCl)
1. Sebanyak 5 tetes larutan NaCl dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan 3 tetes larutan Zink uranil asetat, diamati perubahan yang terjadi.
MODUL 5
IDENTIFIKASI MELALUI REAKSI BASAH ( KATION GOLONGAN V DAN ANION)
Diktat Praktikum Kimia Analitik
2. Sebanyak 5 tetes larutan NaCl dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan asam pikrat, diamati perubahan yang terjadi.
3. Kepada endapan yang terbentuk, dilakukan uji tes kering dengan menggunakan kawat platina yang terlebih dahulu telah dicelupkan ke dalam HCl pekat
C. Identifikasi Kation K+ (menggunakan larutan KCl)
1. Sebanyak 5 tetes larutan KCldimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan 3 tetes larutan HClO4, diamati perubahan yang terjadi.
2. Sebanyak 5 tetes larutan KCl dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan asam pikrat, diamati perubahan yang terjadi.
3. Kepada endapan yang terbentuk dilakukan uji tes kering dengan menggunakan kawat platina yang terlebih dahulu telah dicelupkan ke dalam HCl pekat
D. Identifikasi Kation NH4+ (menggunakan larutan NH4Cl)
1. Sebanyak 5 tetes larutan NH4Cl dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan NaOH, kemudian dipanaskan. Uap yang dihasilkan kemudian ditampung dengan kertas lakmus biru, diamati perubahan yang terjadi. Uap tersebut juga ditampung dengan batang pengaduk yang sudah dibasahi dengan HCl. Diamati perubahan yang terjadi.
2. Sebanyak 5 tetes larutan NH4Cl dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan pereaksi Nessler, diamati perubahan yang terjadi.
3.4.Identifikasi Anion (Cl-, I-, Br-, SO4=, NO3-)
A. Identifikasi Anion Cl- (menggunakan larutan KCl)
1. Sebanyak 5 tetes larutan KCl dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan AgNO3, diamati perubahan yang terjadi
2. Sebanyak 5 tetes larutan KCl dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan Pb(NO3)2, diamati perubahan yang terjadi.
3. Sebanyak 5 tetes larutan KCl dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan Hg2(NO3)2, diamati perubahan yang terjadi
Diktat Praktikum Kimia Analitik
B. Identifikasi Anion I- (menggunakan larutan KI)
1. Sebanyak 5 tetes larutan KI dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan AgNO3, diamati perubahan yang terjadi
2. Sebanyak 5 tetes larutan KI dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan Pb(NO3)2, diamati perubahan yang terjadi
3. Sebanyak 5 tetes larutan KI dimasukan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan CuSO4, diamati perubahan yang terjadi
C. Identifikasi Kation Br- (menggunakan larutan KBr)
1. Sebanyak 5 tetes larutan KBr dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan AgNO3 secara berlebih, diamati perubahan yang terjadi 2. Sebanyak 5 tetes larutan KBr dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian
ditambahkan 3 tetes larutan Pb(NO3)2, diamati perubahan yang terjadi.
3. Sebanyak 5 tetes larutan KBr dimasukan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan Hg2(NO3)2, diamati perubahan yang terjadi
D. Identifikasi Anion SO4= (menggunakan larutan K2SO4)
1. Sebanyak 5 tetes larutan K2SO4 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan AgNO3, diamati perubahan yang terjadi.
2. Sebanyak 5 tetes larutan K2SO4 dimasukan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan BaCl2, diamati perubahan yang terjadi
3. Sebanyak 5 tetes larutan K2SO4 dimasukan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan timbal(II) asetat, diamati perubahan yang terjadi
E. Identifikasi Anion NO3- (menggunakan larutan KNO3)
1. Sebanyak 5 tetes larutan KNO3 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3 tetes larutan FeSO4, diamati perubahan yang terjadi. Kemudian dialirkan H2SO4 pekat melalui dinding tabung reaksi (tanpa dikocok), diamati perubahan yang terjadi
Diktat Praktikum Kimia Analitik
TITRASI ARGENTOMETRI METODE MOHR
8.1.Tujuan
1. Memahami prinsip kerja titrasi Argentometri metode Mohr
2. Menentukan konsentrasi larutan standar sekunder AgNO3 menggunakan larutan standar primer NaCl
3. Menentukan kadar NaCl dalam garam dapur
8.2. Tinjauan Pustaka
Argentometri adalah proses titrasi dengan menggunakan larutan AgNO3 sebagai larutan standar. Prinsip titrasi Argentometri metode Mohr adalah pengendapan dari senyawa Ag2CrO4. AgNO3 distandarisasi (dibakukan) dengan menggunakan larutan standar primer NaCl dan indikator K2CrO4. Endapan AgCl akan lebih dahulu terbentuk ditandai dengan terbentuknya endapan putih. Setelah semua Cl habis akan terbentuk endapan Ag2CrO4 yang berwarna merah bata.
8.3. Alat dan Bahan
Peralatan yang diperlukan antara lain: neraca analitik, kaca arloji, beaker gelas 50 mL, labu ukur 50 mL, labu ukur 250 mL, ball pipettor, buret 50 mL, statip, Erlenmeyer 25 mL, spatula dan batang pengaduk.
Bahan-bahan yang digunakan: larutan perak nitrat, natrium klorida, larutan kalium kromat, sampel garam dapur, akuades.
8.4. Prosedur Kerja
a. Standarisasi Larutan AgNO3
1. Ditimbang sebanyak 146,25 mg natrium klorida dengan tepat menggunakan kaca arloji, dimasukkan ke dalam beaker gelas 50 mL dan dilarutkan dengan akuades. Larutan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 250 mL dan ditambahkan akua des hingga tanda batas, dihomogenkan (larutan ini bisa digunakan untuk bersama)
MODUL 6
Diktat Praktikum Kimia Analitik
2. Sebanyak 5 mL larutan natrium klorida dimasukkan ke dalam Erlenmeyer, kemudian ditambahkan 2 tetes indikator K2CrO4. Dilakukan proses titrasi dengan larutan perak nitrat sebagai titran hingga terjadi perubahan warna. Dicatat volume larutan perak nitrat yang diperlukan, kemudian dilakukan pengulangan 2 kali.
3. Dihitung normalitas larutan AgNO3 sebagai larutan standar sekunder
b. Penentuan kadar natrium klorida dalam sampel garam dapur
1. Ditimbang sebanyak 75 mg sampel garam dapur yang telah dikeringkan, kemudian dilarutkan ke dalam akuades hingga 50 mL.
2. Sebanyak 5 mL larutan sampel garam dapur diambil dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer, kemudian ditambahkan 2 tetes indikator K2CrO4.
3. Dititrasi sampel di atas dengan larutan AgNO3 hingga terjadi perubahan warna.
4. Dicatat penggunaan larutan AgNO3 yang diperlukan, kemudian diulangi titrasi hingga 2 kali.
5. Dihitung % b/v natrium klorida dalam sampel garam dapur 6. Dihitung ppm natrium klorida dalam sampel
8.5.Pertanyaan
1. Jelaskan perbedaan prinsip titrasi Argentometri metode Mohr, Fajans, dan Volhard!
2. Pada titrasi argentometri, digunakan prinsip pengendapan. Berdasarkan konsep Ksp, jelaskan kenapa terbentuk endapan Ag2CrO4! Bandingkan dengan nilai Ksp nya 3. Selain penentuan klorida seperti pengerjaan di atas, jelaskan aplikasi lain dari titrasi
Argentometri dengan metode Mohr!
4. Pada percobaan di atas digunakan natrium klorida. Natrium klorida yang saudara
gunakan di atas adalah natrium klorida yang berfungsi sebagai larutan standar primer dan natrium klorida yang ditentukan dalam sampel. Jelaskan perbedaan keduanya!
Diktat Praktikum Kimia Analitik
5.1.Tujuan
1. Mengetahui prinsip titrasi netralisasi
2. Menentukan konsentrasi larutan NaOH menggunakan larutan standar primer asam oksalat 3. Menentukan konsentrasi asam asetat dalam sampel cuka pasaran menggunakan larutan
NaOH sebagai larutan standar sekunder
5.2. Tinjauan Pustaka
Titrasi netralisasi digolongkan menjadi 2 jenis, yaitu titrasi asidimetri dan titrasi alkalimetri. Penggolongan tersebut didasarkan pada jenis larutan standar yang digunakan. Pada titrasi asidimetri, digunakan larutan standar bersifat asam, sedangkan titrasi alkalimetri menggunakan larutan basa sebagai larutan standar.
Pada titrasi netralisasi terjadi reaksi penggaraman, dimana ketika suatu larutan yang bersifat asam (mengandung H+) ditambahkan ke dalam larutan yang bersifat basa (mengandung OH-) akan terbentuk senyawa garam dan air. Sifat garam yang dihasilkan bergantung kepada jenis larutan asam dan basa yang direaksikan.
Perhitungan pada titrasi netralisasi terjadi secara stoikiometri, dimana mol ekivalen titran sama dengan mol ekivalen titrat, jika konsentrasi larutan standar dalam satuan Normalitas.
Tetapi jika konsentrasi larutan standar dalam mol, maka harus diperhatikan perbandingan koefisien ketika reaksi netralisasi terjadi.
Pada saat melakukan titrasi netralisasi, titik akhir titrasi ditandai dengan dihasilkannya perubahan warna indikator. Indikator yang digunakan pada tirasi netralisasi adalah indikator asam basa. Dasar pemilihan indikator asam basa yaitu dengan memperhitungkan nilai pH produk yang dihasilkan ketika terjadi reaksi penggaraman dan disesuaikan berdasarkan trayek pH masing-masing indikator.
5.3. Alat dan Bahan
Peralatan yang diperlukan antara lain: neraca analitik, kaca arloji, beaker gelas 50 mL, labu takar 100 mL, buret 50 mL, Erlenmeyer, spatula dan batang pengaduk.
MODUL 7
TITRASI NETRALISASI
Diktat Praktikum Kimia Analitik
Bahan-bahan yang digunakan: Pelet NaOH, asam oksalat, indikator PP, sampel cuka, sampel air jeruk.
5.4. Prosedur Kerja
a. Standarisasi Larutan NaOH
1. Ditimbang sebanyak 0,2261 g asam oksalat (H2C2O4) dengan tepat menggunakan kaca arloji, dimasukkan ke dalam beaker gelas 50 mL dan dilarutkan dengan akuades.
Larutan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 100 mL dan ditambahkan akua des hingga tanda batas, dihomogenkan.
2. Sebanyak 5 mL asam oksalat (H2C2O4) ditambahkan 2 tetes indikator PP kemudian dititrasi dengan larutan NaOH hingga terjadi perubahan warna, kemudian dicatat volume yang terpakai, dilakukan pengulangan minimal 2 kali.
3. Dihitung molaritas larutan NaOH sebagai larutan standar sekunder
b. Penentuan asam asetat dalam sampel cuka pasaran
1. Sebanyak 5 mL sampel cuka pasaran ditambahkan 2 tetes indikator PP, kemudian dititrasi dengan larutan NaOH hingga terjadi perubahan warna, kemudian dicatat volume yang terpakai, dilakukan pegulangan minimal 2 kali
2. Dihitung kadar asam asetat dalam asam cuka.
3. Dihitung normalitas asam asetat dalam sampel
c. Penentuan asam asetat dalam sampel cuka DIXIE
1. Diambil sebanyak 5 mL larutan cuka Dixie, kemudian diencerkan hingga 5 kali 2. Sebanyak 5 mL sampel cuka Dixie setelah pengenceran ditambahkan 2 tetes indikator
PP, kemudian dititrasi dengan larutan NaOH hingga terjadi perubahan warna, kemudian dicatat volume yang terpakai. Dilakuka pengulangan minimal 2 kali, 3. Dihitung kadar asam asetat dalam sampel cuka sebelum pengenceran
4. Dihitung molaritas asam asetat dalam sampel cuka
d. Penentuan asam sitrat dalam sampel jeruk
1. Diambil 5 mL perasan air jeruk yang sudah disaring, diencerkan hingga 5 kali.
Diktat Praktikum Kimia Analitik
2. Sebanyak 5 mL larutan sampel diambil dan ditambahkan 2 tetes indikator PP, kemudian dititrasi dengan larutan NaOH hingga terjadi perubahan warna, kemudian dicatat volume yang terpakai. Dilakuka pengulangan minimal 2 kali,
3. Dihitung kadar asam sitrat dalam sampel 4. Hitunglah normalitas asam sitrat
5.5.Pertanyaan
1. Sebutkan indikator asam basa yang bisa digunakan pada titrasi netralisasi berikut trayek pH nya!
2. Jelaskan berapa konsentrasi asam asetat yang aman dikonsumsi oleh tubuh!
3. Kenapa NaOh digolongkan sebagai larutan standar sekunder? Jelaskan!
4. Apa yang dimaksud dengan indikator asam basa?
5. Kenapa pada titik akhir titrasi terjadi perubahan warna indikator dari tidak berwarna menjadi pink?
Note:
1. Jika volume penggunaan larutan standar sekunder terlalu besar, maka segera hubungi asisten
2. Jangan lupa memperhitungkan factor pengenceran