Minggu ke-2
Ustadz Sholahuddin Abu Faiz Al Furqoni Materi Pertama
1. Manfaat mempelajari kaidah bahasa Arab yaitu menjaga lisan dan tulisan dari kesalahan lisan dan tulisan
2. Contoh tarikh
a. Umar bin Khattab pernah memerintahkan Abu Musa al Asy'ari untuk mencambuk
sekretarisnya karena salah penulisan kaidah bahasa Arab yaitu menulis “ min Abu Musa al Asy'ari”, seharusnya “min Abi Musa al Asy'ari”
b. Umar bin Khattab pernah berkata kepada orang-orang yang sedang latihan memanah, “Demi Allah, kesalahan pada lisan-lisan kalian itu menurut saya jauh lebih parah daripada kesalahan kalian saat memanah”
3. Isim ditinjau dari jumlah bendanya a. Isim Mufrod
● Isim yang menunjukkan jumlah satu b. Isim Mutsanna
● Isim yang menunjukkan jumlah dua c. Isim Jamak
● Isim yang menunjukkan jumlah lebih dari dua.
● Terdiri dari 3 macam, antara lain:
○ Jamak Mudzakkar Salim, yaitu hitungan lebih dari dua yang menunjukkan laki-laki
○ Jamak Muannats Salim, yaitu hitungan lebih dari dua yang menunjukkan perempuan
○ Jamak Taksir, yaitu hitungan lebih dari dua selain kedua bentuk jamak yang lain Cara pembentukan:
Isim mufrod dapat dibentuk menjadi mutsanna dan jamak dengan cara:
a. Pembentukan isim mutsanna
Dengan menambahkan نا atau ني di akhir isim mufrod. Harakat (ن) selalu kasrah dan harakat sebelum (ا) atau (ي) selalu fathah
b. Pembentukan isim jamak
● Jamak mudzakkar salim
Isim mufrad yang bisa diubah menjadi jamak mudzakkar salim adalah yang memenuhi syarat:
○ Nama laki-laki berakal dan tidak diakhiri ta’ marbuthah
○ Sifat laki-laki yang berakal
Cara membuatnya adalah dengan menambahkan di akhir isim mufrod yang memenuhi syarat dengan نو yang berharakat dhammah atau ني yang berharakat kasrah
● Jamak muannats salim
Dengan menambahkan di akhir isim mufrad muannats ( ) dan huruf sebelumnya berharakat fathah (jika ada ta’ marbutah maka dihilangkan dulu)
● Jamak taksir
Tidak ada cara khusus dalam menyusun jamak taksir, hanya saja ia terkadang mengikuti wazan-wazan berikut:
Sumber:
Dauroh Online Bahasa Arab pertemuan ke 3 - Ustadz Sholahuddin Abu Faiz Al Furqoni
Materi Kedua
1. QS. Al Maidah ayat 6
ِۗنْيَبْعَكْلا ىَلِا ْمُكَلُج ْرَا َو ْمُك ِسسس ْوُءُرِب ا ْوُح َسسسْما َو ِقسسِفاَرَمْلا ىَلِا ْمُكَيِدسسْيَا َو ْمُكَه ْوسسُج ُو ا ْوُلِسْغاَف ِةوٰلّصلا ىَلِا ْمُتْمُق اَذِا ا ْٓوُنَمٰا َنْيِذّلا اَهّيَآٰي
ًءۤاسسَم ا ْوُدسسِجَت ْمَلَف َءۤا َسسسّنلا ُمُت ْسسسَمٰل ْوَا ِطِٕىۤاَغْلا َنّم ْمُكْنّم ٌدسسَحَا َءۤاسسَج ْوَا ٍرَف َسسس ىٰلَع ْوَا ى ٰٓسسض ْرّم ْمُتْنُك ْنِا َو ۗا ْوُرّهّطاسسَف اسسًبُنُج ْمُتْنُك ْنِا َو
ٗهسسَتَم ْعِن ّمِتُيِل َو ْمُك َرّهَطُيِل ُدْي ِرّي ْنِكٰل ّو ٍجَرَح ْنّم ْمُكْيَلَع َلَع ْجَيِل ُ ٰاا ُدْيِرُي اَم ُۗهْنّم ْمُكْيِدْيَا َو ْمُكِه ْوُجُوِب ا ْوُحَسْماَف اًبّيَط اًدْيِعَص ا ْوُمّمَيَتَف َن ْوُرُكْشَت ْمُكّلَعَل ْمُكْيَلَع
٦
Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki. Jika kamu dalam keadaan junub, mandilah. Jika kamu sakit, dalam perjalanan, kembali dari tempat buang air (kakus), atau menyentuh perempuan, lalu tidak memperoleh air, bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menjadikan bagimu sedikit pun kesulitan, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu agar kamu bersyukur.
2. Al-Imam Mujahid mengatakan,
“Tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir berbicara tentang Kitab Allah (Agama Allah) sedang ia tidak tahu akan ilmu Nahwu.”
3. Surat Al-Bara’ah
ُهُلوُس َر َو ۙ َنيِك ِرْشُمْلا َنّم ٌءي ِرَب َهسّللا ّنَأ Artinya:
“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin.”
4. Isim ditinjau dari jelas/belumnya suatu benda a. Isim Nakirah
● Isim yang belum jelas penunjukkan bendanya (umum)
b. Isim Ma’rifat
● Isim yang sudah jelas penunjukkan bendanya (tertentu)
● Terdiri dari 5 jenis, antara lain:
○ Isim yang ada alif lam
Maka setiap isim yang ada alif lam, berarti dia adalah isim ma’rifat
○ Dhomir (kata ganti nama) Dhomir dibagi menjadi 2, yaitu:
■ Dhomir Munfashil (terpisah), yaitu dhomir yang terletak di awal kalimat dan terpisah dari kata. Rincian dhomir munfashil adalah:
◉ Orang ketiga (yang dibicarakan) → Ghoib (dia/mereka)
◉ Orang kedua (yang diajak bicara) → Mukhotob (kamu/kalian)
◉ Orang pertama (yang berbicara) → Mutakallim (saya/kami)
■ Dhomir Muttashil (tersambung), yaitu dhomir yang penulisannya disambungkan pada fi’il atau isim
◉ Ghoib
◉ Mukhotob
◉ Mutakallim
○ Isim Isyarah (kata penunjuk)
■ Penunjuk dekat (ini)
■ Penunjuk jauh (itu)
○ Isim Maushul (kata sambung)
○ ‘Alam (nama orang, tempat yang telah jelas dzatnya)
■ Kun-yah, yaitu nama julukan yang diawali abu, ummu, atau ibnu
■ Laqob, yaitu nama gelar
■ Isim, yaitu nama selain julukan atau nama gelar
Catatan:
Apabila kata “ibnu” jatuh di antara dua isim alam, maka alifnya dibuang
Sumber:
Dauroh Online Bahasa Arab pertemuan ke 4 - Ustadz Sholahuddin Abu Faiz Al Furqoni