• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 - BAB 4 Naufal Majid - Premi Panen

N/A
N/A
Naufal Majid

Academic year: 2024

Membagikan " BAB 1 - BAB 4 Naufal Majid - Premi Panen"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Panen merupakan salah satu kegiatan penting dalam pengelolaan tanaman kelapa sawit menghasilkan. Selain pengelolaan bahan tanaman dan hasil panen, pemanenan juga merupakan komponen penting dalam proses produksi.

Keberhasilan panen mendukung pencapaian produktivitas tanaman, dan sebaliknya, kegagalan panen menghambat tanaman kelapa sawit mencapai produktivitas. Mengelola potensi produksi pada tanaman standar dan pohon tinggi tidak ada artinya jika hasil panen tidak optimal.

Menurut Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia nomor 131 tahun 2013 tentang Pedoman Budidaya Kelapa SawitKeberhasilan panen didukung oleh persiapan Pra-Panen (Menghitung AKP), kriteria matang panen, rotasi panen, sistem ancak panen, dan kebutuhan tenaga panen dan peralatan.

Keseluruhan faktor ini merupakan kombinasi untuk meningkatan keterampilan keberhasilan panen. Persiapan panen kelapa sawit yang kurang diperhatikan akan mempengaruhi keefektifan kegiatan panen serta menghambat pencapaian produktivitas tanaman kelapa sawit.

Tenaga kerja memiliki peran dalam penentuan mutu dan kualitas buah kelapa sawit yang dipanen. Kesalahan akibat kelalaian tenaga kerja panen, misalnya kesalahan pemetikan kelapa sawit saat panen seperti memotong buah

(2)

(TPH). Pengukuran produktivitas tenaga kerja di lapangan perlu dilakukan guna mengetahui tolak ukur produktivitas yang telah dicapai. Faktor penentu produktivitas kerja perlu diketahui sebab menentukan bentuk kebijakan yang dapat dilakukan perusahaan. Pengelolaan tenaga kerja yang baik dapat mengurangi tingkat kesalahan tenaga kerja panen kelapa sawit dan meningkatkan produktivitas kerja sehingga kualitas kelapa sawit yang dihasilkan menjadi baik dan memudahkan pencapaian tujuan Perusahaan.

Salah satu kelompok karyawan yang menjadi ujung tombak keberhasilan perkebunan adalah karyawan panen. Peningkatan kinerja karyawan panen akan meningkatkan kinerja Perusahaan. Perusahaan menggunakan penilaian prestasi kerja bagi para karyawan sebagai acuan dalam membuat keputusan untuk promosi pada jenjang karir, pemberhentian, penghargaan atau penggajian. Salah satu hal yang dilakukan oleh perusahaan untuk meningkatkan prestasi kerja karyawan adalah dengan memberikan tambahan pendapatan di luar gaji pokok, seperti tunjangan lembur, dan insentif seperti premi panen dan memperhatikan kepuasan kerja karyawan Pegawai mendapat premi karena pegawai tersebut bekerja melebihi waktu kerja normal atau lembur, kerja saat hari libur, atau karena prestasi kerja produktivitas pegawai dalam bekerja. Premi merupakan suatu penghargaan yang diberikan berupa uang atas kelebihan perestasi kerja, karyawan dalam bentuk harga TBS per kg dari TBS kelebihan BT (Basis Tugas).

Di perkebunan kelapa sawit sistem upah yang digunakan untuk meningkatkan kinerja pemanen adalah sistem premi panen. Menurut PT Perkebunan Nusantara VII (2020), premi adalah insentif atau penghargaan dalam

(3)

bentuk uang yang diberikan kepada pemanen atas pencapaian di atas basis tugas.

Premi pemanen diberikan apabila seseorang pemanen dapat melampaui basis tugas dengan hitungan tertentu berdasarkan formulasi. Dengan adanya sistem premi panen para pemanen kelapa sawit menjadi lebih termotivasi untuk meningkatkan kinerja dan menghasilkan hasil panen dengan kuantitas dan kualitas yang baik dengan tujuan mendapatkan insentif dari perusahaan.

Selain pemberian premi ada juga pemberian sanksi atau denda atas kesalahan yang dilakukan oleh karyawan terhadap kesalahan yang dilakukannya, Buah masak tidak dipanen, Brondolan tidak dikutip atau dibuang di gawangan, TBS tidak tersusun rapi di TPH (Sulistyo,2010). Untuk PTPN ada 14 kriteria denda atau sanksi yaitu

Tabel 1 Pemeriksaan Jumlah Denda Kesalahan Panen Di Ancak

No Denda Nilai Denda (Rp)

1 Buah matang tidak dipanen / tinggal di pohon (S) 5000 2 Buah mentah diperam di hanca (M-1) 5000 3 Buah dipanen tidak diangkat ke TPH (M-2) 25000 4 Brondolan di potongan gagang (M-3) 1000

5 Brondolan tidak dikutip bersih (B) 50

6 Pelepah tidak disusun rapi (R) 1000

7 Pelepah sengkleh (yang kering) tidak diturunkan

(C) 1000

8 Egrek tidak dilengkapi dengan pengaman (E) 5000

Tabel 2. Pemeriksaan Jumlah Denda Kesalahan Panen Di TPH

No Denda Nilai Denda (Rp)

1 Buah Mentah di TPH (X) untuk Pemanen 10000

(4)

Lanjutan…

3 Tangkai panjang tidak dipotong (G.1) minimal 2

cm 2000

4 Tangkai TBS tidak berbentuk huruf “V” (G.2) 500 5 Tandan tidak diberi informasi (NN) 500 6 TBS tidak disusun rapi di TPH (T) 5000

Premi yang akan di dapatkan oleh pemanen berdasar pada PB-26 (Ikhtisar Pengumpulan Hasil) dibuat oleh Krani Pengumpul yang berisi hasil panen per hari oleh pemanen tiap mandor di dalamnya berisi tanggal, mandor panen, jumlah tandan panen, Tahun Tanam, Blok, Produksi TBS (tandan dan Kg) dan Brondolan (Kg), dan diketahui oleh Asisten Afdeling.

Krani Tanaman dan Krani Upah akan mencatat PB-26 tiap mandor panen dan afdeling untuk menghitung jumlah premi yang akan didapat oleh pemanen yang didasarkan Basis Tugas. Untuk Pencatatan dan perhitungan premi yang di lakukan oleh krani tanaman untuk membuat PB-11 (Buku Premi).

Digitalisasi administrasi merujuk pada proses mengubah sistem administrasi tradisional menjadi bentuk yang lebih modern dan terkomputerisasi.

Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan efisiensi, akurasi, dan aksesibilitas informasi dalam pengelolaan administrasi suatu organisasi. Beberapa aspek yang umumnya terlibat dalam digitalisasi administrasi meliputi Penggunaan Sistem Informasi, Automatisasi Proses, Dokumentasi Elektronik, Penggunaan Sumber Daya Cloud, Keamanan Informasi, dan Analisis Data.

(5)

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dilaksanakan Field Learning ini agar para Calon Karyawan Pimpinan (CKP) di PTPN Group yaitu:

1. Memenuhi persyaratan dalam tahapan rekrutmen CKP di PTPN Group 2. Mendapatkan ilmu pengetahuan, gambaran, dan memahami proses bisnis

di PTPN Group khususnya di PTPN I

3. Meningkatkan kemampuan dalam melakukan tugas, fungsi, dan tanggung jawabnya atas pekerjaan yang dilakukan.

4. Mampu menganalisa perhitungan premi dan memberikan informasi tentang proses perhitungan premi.

5. Mampu meminimalkan waktu pengerjaan input data dan membuat database administrasi di kantor

6. Mampu Memaksimalkan dalam Ketersediaan data secara real-time dan Up to date

1.3 Tempat Pelaksanaan Field Learning

Tempat dalam masa Field Learning adalah unit kebun PKS Tanjung Seumantoh 23 Oktober 2023 sd. 26 November 2023, dan kebun Julok Rayeuk Utara 27 November 2023 sd. 14 Januari 2024. Untuk tugas akhir berfokus pada permasalahan yang ada di kebun Julok Rayeuk Utara.

1.4 Metode

Adapun metode yang digunakan dalam penyusunan laporan akhir ini adalah sebagai berikut:

(6)

a. Metode Kualitatif

Metode kualitatif adalah metode yang berfokus pada pemahaman terhadap fenomena sosial yang terjadi di lingkungan kerja. Pada metode ini, penulis menggunakan perspektif dari partisipan sebagai gambaran yang diutamakan dalam memperoleh hasil penulisan. Hal yang dilakukan adalah dengan observasi, wawancara, dan diskusi.

b. Metode Literatur

Metode literatur merupakan metode pengumpulan data dengan cara membaca jurnal, pedoman, SE, SI, SOP, IK, dan situs-situs internet yang mendukung dan menunjang dalam penyusunan penulisan laporan tugas akhir.

(7)

BAB II

KEADAAN UMUM

Pada Tanggal 1 Desember 2023, Subholding SupportingCo resmi terbentuk dengan PTPN 1 sebagai surviving entity dalam penggabungan PTPN II, VII, VIII, IX, X, XI, XII, dan XIV. SupportingCo akan menjadi perusahaan pengelola aset perkebunan unggul yang meliputi aktivitas pemanfaatan aset perkebunan melalui optimalisasi dan divestasi aset, pengelolaan tanaman perkebunan, diversifikasi usaha lainnya serta aktivitas green business yang berpotensi memberikan nilai tambah bagi Perusahaan.

2.1. Sejarah dan Perkembangan Kebun Julok Rayeuk Utara

Kebun Julok Rayeuk Utara adalah salah satu Kebun PT. Perkebunan Nusantara I yang terletak di Kecamatan Indra Makmur Kabupaten Aceh Timur dengan berjarak ± 120 Km dari Kantor Pusat PT. Perkebunan Nusantara I di Langsa. Kebun Julok Rayeuk Utara mengelola dua komoditi yaitu komoditi Kelapa Sawit dan Karet . Pada awalnya secara keseluruhan Kebun Julok Rayeuk Utara adalah tanaman Karet namun sejak tahun 2000 sebagian tanaman karet di konversi ke tanaman Kelapa Sawit.

2.2 Sejarah dan Perkembangan Pabrik Tanjung Seumantoh

PKS Tanjung Seumantoh didirikan pada tahun 1978 yang terletak di Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang yang berjarak dari Kota Kuala

(8)

Simpang ± 12 Km dan dari Kantor Pusat PTPN I ± 25 Km. Pabrik ini mulai dioperasikan pada bulan April 1980 dengan Kapasitas Olah 30 ton TBS/Jam.

Dengan semakin meningkatnya produksi TBS dari tahun ke tahun, maka pada tahun 1984 PKS Tanjung Seumantoh menambah beberapa instalasi guna menaikan Kapasitas Olah dari 30 ton TBS/Jam menjadi 45 ton TBS/Jam.

Sebagai usaha untuk mewujudkan program pemerintah di bidang industri hilir, pada tahun 1987 dibangun di areal PKS. Tanjung Seumantoh 1 unit Pabrik Inti Sawit dengan kapasitas olah terpasang 50 ton inti sawit per hari yang menghasilkan Palm Kernel Oil (PKO) dan Palm Kernel Meal (PKM).

2.3. Lokasi dan Letak Geografis

Kebun Julok Rayeuk Utara terbagi atas 6 Afdeling dengan HGU seluas 4.668 Ha yang hamparan arealnya dikawasan Kecamatan Indra Makmur Kabupaten Aceh Timur dan dibagian Selatan berbatasan dengan Kebun Julok Rayeuk Selatan (KSO KJRS) dengan ketinggian ± 70 meter dari permukaan laut dengan jenis tanah latosol dan padsolik merah kuning. Areal KJRU pada umumnya mempunyai Topografi datar bergelombang hingga berbukit dengan persentase sebagai berikut :

Tabel 2.1 Topografi Kebun Julok Rayeuk Utara

Topografi Kemiringan Komposi Areal

Datar 0 - 7 % Kemiringan 20%

Bergelombang 8 - 15 % Kemiringan 55%

Berbukit > 15 % Kemiringan 25%

(9)

PKS Tanjung Seumantoh didirikan pada tahun 1978 berada di Desa Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, dengan luas areal pabrik ± 22 Ha dan berjarak 12 Km dari Kota Kuala Simpang dan 25 Km dari Kantor Pusat PTPN I.

2.4. Tujuan Perusahaan

Dalam mencapai tujuan perusahaan yang diunggulkan dalam mengelola usahanya melalui visi dan misi PT Perkebunan Nusantara I :

“Menjadi Perusahaan Agribisnis Perkebunan Yang Tangguh Serta Mampu

Memberikan Kesejahteraan Bagi Stakeholders Dan Kontribusi Yang Optimal Kepada Negara.”

Misi PT Perkebunan Nusantara I:

1. Mengelola 2 (dua) komoditi kelapa sawit dan karet secara efisien dan ekonomis berdasarkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG).

2. Menciptakan Value Creation untuk meningkatkan profitabilitas perusahaan secara berkesinambungan.

3. Meningkatkan Pengelolaan budidaya kelapa sawit dan karet dengan menggunakan teknologi maju.

4. Meningkatkan kesejahteraan karyawan serta kepuasan pelanggan.

5. Menjunjung tinggi nilai-nilai religius.

(10)

2.5. Struktur Organisasi

Gambar 2.1 Struktur Organisasi PKS TS per Desember 2023

Gambar 2.2 Struktur Organisasi Kebun JRU per Desember 2023 2.6. Ketenagakerjaan

Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai faktor terpenting dan strategis dalam pengembangan usaha dan merupakan dukungan terhadap pemerintah dalam pengendalian lapangan kerja terutama dilingkungan Kebun Julok Rayeuk Utara dan PKS Tjg. Seumantoh PT. Perkebunan Nusantara I pada umumnya komposisi tenaga kerja terbagi sebagai berikut :

Manajer Pabrik

Masinis Kepala

ASISTEN

PENGOLAHAN I ASISTEN ASISTEN TEKNIK ATUPER

PENGOLAHAN II ASISTEN QC

Murtaza

Septian Burhan Rizqi Aulia Syarkawi Hanan T. Zulfikar Faisal

Manajer Kebun

Asisten Kepala

ASISTEN AFD I ASISTEN AFD II ASISTEN AFD III ASISTEN AFD IV ASISTEN AFD V ASISTEN AFD VI ATU APU

Zulhidjayadi Nawawi Abdul Wahab Arham Harry Soesanto Zulfikri Abfa Edwin Aldrin Khairu Riza

(11)

Tabel 2.2 Sebaran Karyawan PKS TS per Desember 2023 No

Bagian

Karyawan Pelaksana Jumlah Karyawan Pelaksana Laki-

laki Perempuan

1 Karpim 7 - 7

2 Kantor 10 8 18

3 Satpam 10 - 10

4 Shif-I 28 - 28

5 Shif-II 30 - 30

6 Laboratorium 17 4 21

7 Bengkel/Lapangan 28 1 29

8 PKWT 1 - 1

Jumlah 134 13 147

Tabel 2.3 Sebaran Karyawan Kebun JRU per Desember 2023

KTNG KTNG KTNG JUMLAH PKWT PKWT BHL BHL JUMLAH

LAKI - LAKI PEREMPUAN ADM PEMANEN PENDERES KARY/KTNG PEMANEN PENDERES PEMANEN PENDERES SEMUA

KANTOR 26 6 1 - - 33 - - - - - - 33

KEAMANAN 32 - - - - 32 - - - - - - 32

AFDELING I 17 - - 6 - 23 29 - 29 - - - 52

AFDELING II 25 1 - 7 - 33 26 - 26 - - - 59

AFDELING III 16 2 - 5 - 23 28 - 28 - - - 51

AFDELING IV 31 3 - 5 - 39 20 - 20 - - - 59

AFDELING V 13 2 - 2 25 42 8 78 86 - - - 128

AFDELING VI 18 - - 4 - 22 11 - 11 - - - 33

TEHNIK 23 - - - - 23 - - - - - - 23

JUMLAH 201 14 1 29 25 270 122 78 200 - - - 470 AFDELING KARYAWAN AKTIF

JUMLAH JUMLAH

(12)

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Identifikasi Masalah

Kondisi saat ini untuk menginput dan merekap data PB-26 pada proses administrasi premi seringkali tidak real-time karena beberapa alasan. Pertama, pemrosesan dan analisis data membutuhkan waktu. Kumpulan data yang banyak memerlukan waktu dan sumber daya untuk menginput, merekap, dan menganalisis. Kedua, pengumpulan data mungkin tertunda karena proses manual atau kegagalan fungsi sistem. Misalnya, menginput data pada workbook Excel mungkin memakan waktu lebih lama jika memerlukan input manual, atau jika sistem atau rumus sedang bermasalah. Ketiga, mungkin data memerlukan verifikasi dan koreksi sebelum digunakan. Misalnya, data PB-26 mungkin mengandung kesalahan atau inkonsistensi yang memerlukan verifikasi dan koreksi manual, sehingga dapat menunda ketersediaannya secara real-time dan transparan.

Kurangnya informasi yang transparan dan terpantau mengenai Premi atau insentif mempunyai beberapa penyebab. Pertama, kurangnya kesadaran pemanen mengenai aturan premi yang berlaku. Kurangnya informasi ini menyulitkan pemanen untuk memanfaatkan insentif tersebut. Kedua, adanya kesulitan dalam mengakses informasi mengenai bagaimana memenuhi syarat untuk mendapatkan insentif. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya informasi yang jelas dan ringkas terhadap akses sistem informasi. Ketiga, kurangnya

(13)

informasi mengenai manfaat insentif, sehingga menyulitkan pemanen untuk memahami bagaimana mereka dapat memperoleh manfaat dari insentif tersebut.

Transparansi perhitungan insentif kepada para pemanen kelapa sawit merupakan aspek krusial dalam menjaga keadilan dan keberlanjutan dalam industri kelapa sawit.

Dengan adanya transparansi ini, para pemanen dapat dengan jelas memahami bagaimana perhitungan insentif dilakukan, termasuk faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam proses tersebut. Hal ini tidak hanya menciptakan kepercayaan antara perusahaan dan pemanen, tetapi juga memastikan bahwa setiap pemanen mendapatkan imbalan yang adil sesuai dengan kontribusinya.

Selain itu, transparansi ini juga mendukung pertumbuhan sektor kelapa sawit yang berkelanjutan dengan mengurangi potensi konflik dan meningkatkan kesejahteraan para pemanen. Sebuah sistem perhitungan insentif yang transparan juga dapat menjadi model bagi industri lainnya dalam mencapai prinsip-prinsip keadilan dan transparansi dalam hubungan antara perusahaan dan pekerja.

3.2 Analisis Masalah

3.2.2 Ketersediaan Data Real-Time dan Terintegrasi

Alur administrasi untuk perhitungan premi atau insetif pemanen dilihat dari PB-26 yang sudah dihitung oleh PKS kemudian krani afdeling akan mengirimkan kepada krani tanaman untuk di input ke dalam file Microsoft Excel Offline per

(14)

untuk mengirimkan data PB-26 ke Kantor Manager. Sehingga penginputan data untuk perhitungan premi tidak real-time maka informasi data terkait premi umumnya dilakukan pada saat cut-off atau akhir bulan

Gambar 3.1 Form PB-11

Gambar di atas menunjukkan form untuk PB-11 di Microsoft Excel (Offline) yang akan di input oleh krani tanaman secara manual tiap pemanen. Walaupun untuk formulasi perhitungan progresif premi sudah dilakukan automasi namun untuk penginputan masih secara offline.

3.2.3 Kebutuhan Informasi Terkait Premi Kepada Pemanen Perlu Lebih Disosialisasikan

Dalam evaluasi rutin, terungkap bahwa pada setiap bulan saat penggajian, ketidakpuasan terus muncul di antara para pemanen. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan upaya sosialisasi terkait perhitungan premi agar setiap pemanen dapat dengan jelas memahami aspek-aspek yang memengaruhi jumlah premi yang diterimanya. Dengan pemahaman yang kurang jelas dari pemanen dapat mengurangi ketidakpuasan dan demotivasi kerja. Keadaan ini dapat

(15)

merugikan produktivitas dan kesejahteraan mental pekerja, mempengaruhi kualitas kinerja dan hubungan di lingkungan kerja

3.2.3 Kurangnya Transparasi Terhadap Monitoring Perhitungan Premi

Kurangnya transparansi dalam monitoring harian pada perhitungan insentif dapat menjadi hambatan dalam menjaga kepercayaan dan motivasi para pemanen kelapa sawit. Saat ini, pemanen seringkali tidak memiliki akses yang memadai untuk melihat saldo insentif mereka selama bulan berjalan. Oleh karena itu, perlu diperkuatnya sistem transparansi yang memungkinkan para pemanen untuk secara real-time mengakses dan memonitor perhitungan insentif mereka setiap hari.

Dengan memberikan akses yang lebih terbuka terhadap informasi ini, pemanen akan lebih mudah memahami dampak setiap aktivitas kerja harian terhadap insentif mereka. Hal ini tidak hanya akan memberikan kejelasan, tetapi juga dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan pemanen dalam usaha meningkatkan produktivitas, karena mereka dapat melihat secara langsung hasil dari upaya kerja mereka. Dengan meningkatkan transparansi monitoring per hari, diharapkan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih adil, transparan, dan memotivasi bagi para pemanen kelapa sawit

3.3 Alternatif Solusi

Sebagai solusi alternatif untuk mengatasi kurangnya transparansi dalam monitoring perhitungan insentif, pengimplementasian digitalisasi penginputan data dan database berbasis GSheet dan AppScript menjadi sebuah langkah

(16)

inovatif. Dengan menggunakan teknologi ini, setiap pemanen dapat dengan mudah mengakses dan memperbarui data aktivitas kerja mereka secara real-time melalui aplikasi atau platform berbasis web. GSheet dan AppScript dapat diintegrasikan untuk mengotomatiskan proses perhitungan insentif berdasarkan data yang terus diperbarui. Selain memberikan kejelasan mengenai perolehan insentif setiap harinya, solusi ini juga menciptakan database yang terpusat dan terstruktur dengan baik, memudahkan manajemen dalam menganalisis kinerja, memonitor tren, dan membuat keputusan yang lebih tepat waktu. Implementasi digitalisasi ini tidak hanya meningkatkan transparansi, tetapi juga efisiensi operasional, mempercepat respons terhadap perubahan, dan membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih modern dan terintegrasi.

3.3.1 Membuat Format Entri Data Berbasis Web (Google Sheet)

Salah satu alternatif solusi yang dapat diimplementasikan untuk meningkatkan transparansi dalam perhitungan insentif pemanen kelapa sawit adalah dengan membuat format entri data berbasis web, khususnya menggunakan platform Google Sheet Dengan mengadopsi sistem ini, Krani yang bertanggung jawab dapat dengan mudah mengakses formulir entri data melalui web yang ramah pengguna. Format ini dapat dirancang sedemikian rupa agar memudahkan krani dalam mencatat aktivitas kerja harian mereka, seperti jumlah tandan buah kelapa sawit yang dipanen, waktu kerja, dan faktor-faktor lain yang memengaruhi perhitungan insentif

(17)

Gambar 3.2 Menu Input Data (Gsheet)

Data yang dimasukkan oleh Krani secara real-time akan otomatis tersinkronisasi dengan Google Sheet yang dapat diakses oleh manajemen. Dengan demikian, manajemen dapat secara langsung melihat dan mengelola data tanpa keterlambatan. Penggunaan Google Sheet juga memungkinkan kolaborasi secara daring, memungkinkan pemanen dan manajemen berinteraksi dan berkomunikasi secara efisien dalam satu platform yang terpusat.

Solusi ini tidak hanya memberikan akses transparan terhadap perhitungan insentif harian, tetapi juga meningkatkan kecepatan dan ketepatan pengumpulan data. Selain itu, karena Google Sheet dapat diakses dari berbagai perangkat, baik komputer maupun ponsel, hal ini akan memberikan fleksibilitas kepada pemanen untuk mengisi data di mana saja dan kapan saja. Dengan demikian, penggunaan format entri data berbasis web dapat menjadi langkah signifikan menuju peningkatan transparansi, efisiensi, dan interaktivitas dalam manajemen insentif pemanen kelapa sawit.

(18)

Link Format Entri Data : Gsheet

3.3.2 Membuat Function AppScript Untuk Automasi Input Data Pada Database Dengan membuat function Submit untuk pengambilan data dari menu yang sudah di isi maka pada saat klik submit maka data akan otomatis terinput pada sheet database,

Dari code atau function pada AppScript akan mengeksekusi data yang sudah di isi pada menu akan terinput pada sheet “database” sebagai berikut :

Gambar 3.3 Database Premi Pemanen

Penggunaan database memungkinkan pengelolaan data yang lebih efisien dan akurat. Manajemen dapat dengan cepat merespon perubahan, mengakses informasi secara real-time, dan membuat keputusan yang lebih tepat berdasarkan data yang terkini. Database juga memungkinkan otomatisasi proses perhitungan insentif, mengurangi potensi kesalahan manusiawi dan meningkatkan akurasi dalam pembayaran

Kegunaan lain dari database adalah memfasilitasi pelaporan dan analisis yang mendalam. Dengan menyimpan informasi insentif secara terpusat,

(19)

manajemen dapat dengan mudah membuat laporan kinerja bulanan, mengevaluasi kontribusi individu pemanen, dan mengidentifikasi area potensial untuk peningkatan produktivitas. Dengan demikian, penggunaan database tidak hanya meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam sistem insentif, tetapi juga menjadi alat strategis untuk mengoptimalkan efisiensi operasional dan memajukan keberlanjutan untuk perusahaan.

(20)

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4. 1 Kesimpulan

Tugas akhir ini dibuat untuk melakukan Upaya Penggunaan Monitoring dalam penggunaan database untuk perhitungan premi pemanen di Kebun Julok Rayeuk Utara. Dengan adanya tugas akhir ini dapat disimpulkan bahwa:

1. Peningkatan Transparansi dan memiliki akses langsung ke informasi mengenai perhitungan dan pembayaran mereka.

2. Efisiensi Operasional dalam pengelolaan data dalam proses perhitungan premi 3. Pelaksanaan ini dapat memungkinkan pengawasan harian, memungkinkan

manajemen untuk melihat dan mengevaluasi kinerja pemanen secara kontinu.

4. Diharapkan terjadinya pelaporan yang Lebih Tepat dan Cepat.

5. Penggunaan database memungkinkan otomatisasi perhitungan premi, mengurangi risiko kesalahan manusiawi dan memastikan akurasi pembayaran insentif

4. 1 Saran

Berdasarkan permasalahan, pembahasan, kesimpulan pada penelitian ini, maka ada beberapa saran yang dapat diberikan agar penelitian selanjutnya memperoleh hasil yang lebih baik, yaitu:

1. Proyek tugas akhir ini dapat dijalankan dengan konsisten pada unit kerja khusus di Kebun Julok Rayeuk Utara maupun pada Regional 6 PTPN 1

(21)

2. Proyek tugas akhir ini dapat dikembangkan untuk penggunaan database untuk data lainnya .

(22)

LAMPIRAN

Function pada Appscript untuk menginput data ke Database

function Submit() {

var Sheet = SpreadsheetApp.getActiveSpreadsheet();

var shtinput = Sheet.getSheetByName('Menu');

var shtdb = Sheet.getSheetByName('Database');

var Tanggal = shtinput.getRange('B4').getValues();

var Afdeling = shtinput.getRange('B5').getValues();

var Nama_Pemanen = shtinput.getRange('B6').getValues();

var TT = shtinput.getRange('B7').getValues();

var Blok = shtinput.getRange('B8').getValues();

var KG_TBS = shtinput.getRange('B9').getValues();

var Tanda_Panen = shtinput.getRange('B10').getValues();

var Produksi_TBS = shtinput.getRange('B11').getValues();

var Produksi_Brondolan = shtinput.getRange('B12').getValues();

var Total_Produksi = shtinput.getRange('B13').getValues();

var BT = shtinput.getRange('B14').getValues();

var Topografi = shtinput.getRange('B15').getValues();

var Selisih_ProBT = shtinput.getRange('B16').getValues();

var Produksi_BT = shtinput.getRange('B17').getValues();

var Brondolan_Produksi = shtinput.getRange('B18').getValues();

var Tarif_P1 = shtinput.getRange('E4').getValues();

var Tarif_P2 = shtinput.getRange('E5').getValues();

var Tarif_P3 = shtinput.getRange('E6').getValues();

var P100_130 = shtinput.getRange('H4').getValues();

var PI_130 = shtinput.getRange('H5').getValues();

var P130_175 = shtinput.getRange('H6').getValues();

var P2_175 = shtinput.getRange('H7').getValues();

var P175_200 = shtinput.getRange('H8').getValues();

var P3_200 = shtinput.getRange('H9').getValues();

var P200_ = shtinput.getRange('H10').getValues();

var P100_130_B = shtinput.getRange('H13').getValues();

var P1_130_B = shtinput.getRange('H14').getValues();

var P130_175_B = shtinput.getRange('H15').getValues();

var P2_175_B = shtinput.getRange('H16').getValues();

var Kuantitatif = shtinput.getRange('K4').getValues();

var D1 = shtinput.getRange('L6').getValues();

var D2 = shtinput.getRange('L7').getValues();

var D3 = shtinput.getRange('L8').getValues();

var D4 = shtinput.getRange('L9').getValues();

var D5 = shtinput.getRange('L10').getValues();

var D6 = shtinput.getRange('L11').getValues();

(23)

var D7 = shtinput.getRange('L12').getValues();

var D8 = shtinput.getRange('L13').getValues();

var D9 = shtinput.getRange('L14').getValues();

var D10 = shtinput.getRange('L15').getValues();

var D11 = shtinput.getRange('L16').getValues();

var D12 = shtinput.getRange('L17').getValues();

var D13 = shtinput.getRange('L18').getValues();

var D14 = shtinput.getRange('L19').getValues();

var Hari = shtinput.getRange('B19').getValues();

var lastRow = shtdb.getLastRow();

var newRow = lastRow + 1;

var range = shtdb.getRange('A' + newRow + ':AS' + newRow);

range.setValues([[Tanggal, Afdeling, Nama_Pemanen, TT, Blok, KG_TBS, Tanda_Panen, Produksi_TBS, Produksi_Brondolan,

Total_Produksi, BT, Topografi, Selisih_ProBT, Produksi_BT, Brondolan_Produksi, Tarif_P1,

Tarif_P2, Tarif_P3, P100_130, PI_130, P130_175, P2_175, P175 _200, P3_200, P200_, P100_130_B, P1_130_B, P130_175_B,

P2_175_B, Kuantitatif, D1, D2, D3, D4, D5, D6, D7, D8, D 9, D10, D11, D12, D13, D14, Hari]]);

shtinput.getRange('B4').clearContent();

shtinput.getRange('B5').clearContent();

shtinput.getRange('B6').clearContent();

shtinput.getRange('B7').clearContent();

shtinput.getRange('B8').clearContent();

shtinput.getRange('B10').clearContent();

shtinput.getRange('B11').clearContent();

shtinput.getRange('B12').clearContent();

shtinput.getRange('K4').clearContent();

shtinput.getRange('K6').clearContent();

shtinput.getRange('K7').clearContent();

shtinput.getRange('K8').clearContent();

shtinput.getRange('K9').clearContent();

shtinput.getRange('K10').clearContent();

shtinput.getRange('K11').clearContent();

shtinput.getRange('K12').clearContent();

shtinput.getRange('K13').clearContent();

shtinput.getRange('K14').clearContent();

shtinput.getRange('K15').clearContent();

shtinput.getRange('K16').clearContent();

shtinput.getRange('K17').clearContent();

shtinput.getRange('K18').clearContent();

shtinput.getRange('K19').clearContent();

(24)

}

function onEdit(e) {

if (e.range.getA1Notation() == '') { if (/^\w+$/.test(e.value)) { eval(e.value)();

e.range.clear();

} } }

Gambar

Tabel 1 Pemeriksaan Jumlah Denda Kesalahan Panen Di Ancak
Tabel 2.1 Topografi Kebun Julok Rayeuk Utara
Gambar 2.2 Struktur Organisasi Kebun JRU per Desember 2023  2.6. Ketenagakerjaan
Gambar 2.1 Struktur Organisasi PKS TS per Desember 2023
+4

Referensi

Dokumen terkait

Pemeliharaan tanaman menghasilkan juga sangat penting karena dapat mempengaruhi kuantitas, kualitas dan kontinuitas produksi kelapa sawit, oleh karena itu

mempunyai sifat tahan hama dan dapat meningkatkan kualitas serta kuantitas hasil panen. Oleh karena itu, manusia mulai melakukan berbagai penyilangan varietas tanaman

Kualitas dan kuantitas hasil tanaman bit paling optimal diperoleh pada jarak tanam 20x15 cm dengan umur panen 55 hari yang menghasilkan berat umbi per petak, jumlah umbi per

Hal ini berarti terdapat hubungan antara variabel gaya kepemimpinan mandor panen (X 1 ) dan kinerja pemanen (Y) di PT Perkebunan Nusantara VII Unit Kebun

upaya pemanfaatan kesuburan tanah dalam konteks perkebunan kelapa sawit menjadi produksi akhir atau TBS untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman kelapa sawit menghasilkan yang sehat dan

upaya pemanfaatan kesuburan tanah dalam konteks perkebunan kelapa sawit menjadi produksi akhir atau TBS untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman kelapa sawit menghasilkan yang sehat dan

gaji kepada pegawainya agar termotivasi untuk lebih meningkatkan kinerjanya dan dengan meningkatnya kinerja pegawai tentu akan menciptakan hasil kerja secara kuantitas, kualitas

Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur, lama kerja dan pendidikan terhadap produktivitas karyawan panen dalam bidang pemanenan kelapa sawit, serta untuk