Dari Adilah Senpai yang kawai desu
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Metode Pengemasan
Beberapa metode pengemasan diterapkan, seperti metode trasidional dan modern. Adapun metode pengemasan terdiri dari jenis apa yang digunakan sebagai bahan pengemasan yang didasarkan karakteristik dari produk yang dikemas serta memiliki fungsi sendiri, seperti contohnya kemasan antioksidan yang melindungi produk makanan dan juga dapat menurunkan atau benar-benar mencegah migrasi beberapa senyawa (Wrona & Nerín, 2020). Kemasan antioksidan atau sebutan lain yakni kemasan aktif adalah pengemasan dengan sistem di mana agen aktif sengaja dimasukkan ke bagian pengemasan yang dipilih secara khusus. Ini adalah teknologi interaktif, di mana senyawa aktif dapat dirilis secara bebas (ke ruang kepala pengemasan atau makanan) atau dapat bertindak sebagai antioksidan tanpa kontak langsung dengan makanan (Wrona & Nerín, 2020).
2.1.1 Hand Sealer
Menurut Nyoto dan Widiastuti (2022), Hand Sealer (Impulse Sealer) adalah alat untuk merekatkankemasan berbahanplastik dengan menggunakan sistem pemanas elektrik, dimana alat ini biasa digunakan untuk membungkus barang-barang dagangan seperti makanan kering,permen,manisan,obat dan lain sebagainya. Pengoperasian dari Impulse Sealer sendiri sangatlah mudah, dan tidak membutuhkan keahlian khusus karena sifatnya yang mobile, flexibel, dan ringan membuat Impulse Sealer sangat mudah untuk dipindah-pindah dan praktis (Nyoto dan Widiastuti, 2022). Alat ini berfungsi untuk mempermudah dan membantu proses pengemasan makanan yang menggunakan bahan plastik.
2.1.2 Vacum Sealer
Mesin sealer adalah mesin yang digunakan untuk menutup permukaan sehingga memberikan kesan rapih, indah dan tidak tumpah (memudahkan membawa minuman atau makanan bagi pembeli), mesin sealer ini menggunakan prinsip kerja pemanasan (heating) dan pemotongan otomatis (cutting) (Sa’diyah & Hadi 2016). Pada umumnya di pasaran beredar tipe mesin sealer manual, semi auto dan automatis, yang membedakannya secara keseluruhan adalah cara pengoperasian mesin (Sa’diyah & Hadi 2016).
Dari Adilah Senpai yang kawai desu
2.2 Bahan Yang Digunakan 2.2.1 Tempe
Tempe merupakan pangan tradisional Indonesia yang dihasilkan dari fermentasi kedelai oleh kapang Rhizopus sp. dimana kapang yang tumbuh akan membentuk hifa, yaitu benang putih yang menyelimuti permukaan biji kedelai dan membentuk jalinan misellium yang mengikat biji kedelai satu sama lain, membentuk struktur yang kompak dan tekstur yang padat. Tempe memiliki banyak manfaat bagi tubuh manusia, di antaranya menurunkan flatulensi dan diare, menghambat biosintesis kolesterol dalam hati, mencegah oksidasi LDL, menurunkan total kolesterol dan triasilgliserol, meningkatkan enzim antioksidan SOD, dan menurunkan risiko kanker rectal, prostat, payudara, dan kolon (Astuti, dll., 2000).
Badan Standardisasi Nasional (BSN) (2012), telah menerbitkan standar tempe, yakni: SNI 3144:2009, Tempe Kedelai yang adalah revisi dari SNI 01–3144–1998, Tempe Kedele. SNI 3144:2009 menetapkan mengenai syarat mutu tempe kedelai perincian sebagai berikut:
2.2.2 Tomat
Dari Adilah Senpai yang kawai desu
Tomat (Lycopersicum esculentum Mill) adalah tumbuhan dari keluarga Solanaceae, tumbuhan asli Amerika Tengah dan Selatan, dari Meksiko sampai Peru. Tomat sendiri memiliki siklus hidup yang singkat dan memiliki tinggi antara 1 hingga 3 meter. Buah tomat mengandung pigmen karotenoid, terutama likopen dan β-karoten yang merupakan komponen utama penentu warna pada buah tomat masak.13 Berikut dapat dilihat kandungan yang tedapat dalam buah tomat. Kandungan buah tomat dalam 100 gr dapat dilihat di tabel berikut :
Sumber : Kurniasari (2015) dan Engelmann, Dkk.,(2012).
2.3 Plastik Vakum
Plastik vakum merupakan salah satu komponen penting dalam teknologi pengemasan dimana telah terbukti sangat cocok untuk produk di mana oksigen dapat memprovokasi perubahan biokimia kimia atau perubahan kimia dalam produk hasil agroindustri (Denoya, Dkk, 2015).
Oleh karena itu, buah-buahan segar berpotensi mengambil manfaat dari teknologi ini, mengingat oksigen adalah salah satu substrat dari reaksi kecoklatan. Namun, buah-buahan yang dikemas dalam vakum harus dikontrol dengan ketat, diperhitungkan bahwa tingkat oksigen yang rendah dapat menyebabkan metabolisme fermentasi (Denoya, Dkk, 2015).
Dari Adilah Senpai yang kawai desu
Selain pada penyimpanan buah-buahan, plastik vakum juga diaplikasikan pada produk daging dimana kemasan vakum memberikan kondisi anaerob yang memperluas kehidupan mikrobiologis dan oksidatif daging (Strydom & Hope-Jones, 2014;Sahoo & Kumar, 2005).