16 2.1. Tinjauan Pustaka
2.1.1. Pajak
A. Definisi Pajak
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 pajak adalah kontribusi wajib pajak negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pajak adalah pungutan terhadap masyarakat oleh negara berdasarkan undang-undang yang bersifat memaksa, dan terutang yang wajib dibayar tanpa mendapatkan imbalan secara langsung yang hasilnya akan digunakan untuk membiayai pembangunan oleh pemerintah (Ilhamsyah et al., 2016). Pajak merupakan Iuran kepada negera yang dipaksakan dengan tanpa mendapat jasa timbal balik yang langsung dan merupakan tolak ukur dari keberhasilan perekonomian dalam suatau negara sehingga kesadaran masyarakat dalam membayar pajak sangat penting untuk penerimaan negara (Andayani, 2018). Definisi atau pengertian Pajak menurut beberapa ahli dalam Modul Pelatihan Pajak Terapan Brevet AB Terpadu (Indonesia, 2016) adalah sebagai berikut
Prof. Dr. P.J.A. Andrian
“Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubungan dengan tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.”
Prof. Dr. M.J.H. Smeets
“Pajak adalah prestasi kepada pemerintah yang terutang melalui norma-norma umum dan yang dapat dipaksakan, tanpa adanya kontraprestasi yang dapat ditunjukkan secara individual maksudnya untuk membiayai pengeluaran pemerintah.”
Prof. Dr. Rochmat Soemitra, S.H.
“Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal (kontraprestasi), yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum. “
Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan maka dapat disimpulkan pajak adalah kontribusi wajib kepada negara dengan cara dipaksakan tanpa mendapatkan imbalan secara langsung dapat ditunjuk yang di gunakan untuk membiayai keperluan negara bagi kemakmuran masyarakat.
B. Ciri – Ciri Yang Melekat Pada Pengertian Pajak
Meskipun tidak terdapat keseragaman dalam memberikan definisi pajak, dari berbagai definisi pajak menurut pakar terdapat kesamaan yang merupakan ciri-ciri yang melekat pada pengertian pajak (Indonesia, 2016) yaitu :
1. Pajak dipungut berdasarkan (dengan kekuatan) undang-undang serta aturan pelaksanaannya.
2. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah.
3. Pajak dipungut oleh negera baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
4. Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah yang bila dari pemasukannya masih terdapat surplus, surplus tersebut digunakan untuk membiayai investasi publik.
5. Pajak dapat pula membiayai pelaksanaan kebijakan di bidang sosial dan ekonomi.
C. Subjek Pajak
Menurut Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) yang menjadi subjek pajak di bagi menjadi 2 yaitu
1. Subjek Pajak Dalam Negeri
a. Orang Pribadi adalah orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia; dan b. orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan merupakan subjek pajak pengganti, menggantikan mereka yang berhak adalah ahli waris, hal ini dimaksudkan agar pengenaan pajak atas penghasilan yang berasal dari warisan tersebut tetap dapat dilaksanakan.
b. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap. Badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia,
yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.
c. Bentuk Usaha Tetap (BUT) adalah subjek pajak yang perlakuan perpajakannya dipersamakan dengan subjek pajak badan.
2. Subjek Pajak Luar Negeri
a. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia; dan
b. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di Indonesia.
c. Bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia, yang dapat berupa:
1) Tempat kedudukan manajemen 2) Cabang perusahaan
3) Kantor perwakilan 4) Gedung kantor 5) Pabrik
6) Bengkel 7) Gudang
8) Ruang untuk promosi dan penjualan
9) Pertambangan dan penggalian sumber alam
10) Wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi
11) Perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan 12) Proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan.
13) Pemberian jasa dalam bentuk apa pun oleh pegawai atau orang lain sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan.
14) Orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas.
15) Agen atau pegawai dari perusahan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau menanggung risiko di Indonesia.
16) Komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki, disewa, atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan kegiatan usaha melalui internet.
D. Objek Pajak
Yang termasuk objek pajak pada Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 yaitu
1. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain dalam Undang-undang ini
2. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan 3. Laba usaha
4. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk:
a. keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal
b. keuntungan karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu, atau anggota yang diperoleh perseroan, persekutuan, dan badan lainnya
c. keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, pengambilalihan usaha, atau reorganisasi dengan nama dan dalam bentuk apa pun
d. keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan, atau sumbangan, kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat dan badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan
e. keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan, tanda turut serta dalam pembiayaan, atau permodalan dalam perusahaan pertambangan
5. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya dan pembayaran tambahan pengembalian pajak
6. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian utang
7. Dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi
8. Royalti atau imbalan atas penggunaan hak
9. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta 10. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala
11. Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah
12. Keuntungan selisih kurs mata uang asing 13. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva 14. Premi asuransi
15. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas
16. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak
17. Penghasilan dari usaha berbasis syariah
18. Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan
19. Surplus Bank Indonesia.
E. Jenis Pajak
Ada beberapa jenis pajak (Indonesia, 2016) yaitu sebagai berikut : 1. Menurut Golongan
a. Pajak Langsung yaitu pajak yang pembenannya tidak dapat dilimpahkan kepada pihak lain tetapi harus menjadi beban langsung wajib pajak yang bersangkutan, seperti PPh.
b. Pajak Tidak Langsung yaitu pajak yang pembenannya dapat dilimpahkan kepada pihak lain, seperti PPN.
2. Menurut Sifatnya
a. Pajak Subjektif yaitu pajak yang berdasarkan pada subjeknya, yang selanjutnya dicari syarat objektifnya dalam arti memperlihatkan keadaan diri wajib pajak, misalnya PPh
b. Pajak Objektif yaitu pajak yang berdasarkan pada objeknya tanpa memperlihatkan keadaan wajib pajak, misalnya PPN dan PPn BM
3. Menurut Pemungutannya
a. Pajak Pusat yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, misalnya PPh, PPN, PPn Bm dan Bea Materai.
b. Pajak Daerah yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah, misalnya Pajak Reklame, Pajak Hotel, Pajak Restoran dan Pajak Kendaraan.
F. Fungsi Pajak
Pajak memiliki fungsi yang sangat strategis bagi berlangsungnya pembangunan suatu negara. Pajak antara lain memiliki fungsi (Indonesia, 2016) sebagai berikut : 1. Fungsi penerimaan (budgetair)
Pajak berfungsi sebagai sumber dana yang diperuntukkan bagi pembiayaan pengeluaraa-pengeluaraan pemerintah dan dalam APBN pajak merupakan sumber penerimaan dalam negeri.
2. Fungsi Mengatur (Regulatoir)
Pajak berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan di bidang sosial dan ekonomi, misalnya PPnBM untuk minuman keras dan barang-barang mewah lainnya.
3. Fungsi Redistribusi
Dalam fungsi redistribusi ini lebih ditekankan unsur pemerataan dan keadilan dalam masyarakat. Fungsi ini terlihat dari adanya lapisan tarif dalam pengenaan pajak dengan adanya tarif pajak yang lebih besar untuk tingkat penghasilan yang lebih tinggi.
4. Fungsi Demokrasi
Pajak dalam fungsi ini merupakan wujud sistem gotong royong. Fungsi ini dikaitkan dengan tingkat pelayanan pemerintah kepada masyarkat pembayar pajak.
G. Cara Pemungutan Pajak
Cara pemungutan pajak didasarkan dalam tiga stelsel (Indonesia, 2016), yaitu : 1. Stelsel Nyata (Rill Stelsel)
Pengenaan pajak didasarkan pada objek (Penghasilan) yang nyata, sehingga pemungutannya baru dapat dilakukan pada akhir tahun pajak setelah penghasilan yang sesungguhnya dapat diketahui. Kelebihannya stelsel ini yaitu lebih realistis.
Kekurangannya yaitu pajak baru dapat dikenakan pada akhir periode. Contoh PPh 25 yang pembayarannya secara angsuran yang bertujuan untuk meringankan beban wajib pajak mengingat pajak yang terutang harus dilunasi dalam waktu satu tahun.
Pembayarannya harus dilakukan sendiri tidak dapat bisa diwakilkan.
2. Stelsel Anggapan (Fictif Stelsel)
Pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan yang di atur oleh undang-undang.
Contohnya penghasilan suatu tahun sebelumnya di anggap sama dengan penghasilan tahun sebelumnya, sehingga pada awal tahun pajak telah dapat ditetapkan besarnya pajak yang terutang untuk tahun berjalan. Kelebihannya stelsel ini adalah pajak dapat dibayar selama tahun berjalan, tanpa harus menunggu pada akhir tahun. Kelemahannya adalah pajak yang dibayarkan tidak berdasakan pada keadaan yang sebenarnya. Seperti PPh 21 dan PPh 23.
3. Stelsel Campuran
Stelsel ini merupakan kombinasi antara stelsel nyata dengan stelsel anggapan. Pada awal bulan besarnya pajak dihitung berdsarkan suatu anggapan, kemudian pada akhir tahun besarnya pajak disesuaikan dengan keadaan sebenernya. Apabila
besarnya pajak menurut kenyaatn lebih besar daripada anggapan WP harus melunasi kekurangannya. Demikian pula sebaliknya apabila lebih kecil WP dapat meminta kembali kelebihan pajak yang telah dibayar. Seperti PPh 29 dimana apabila ada kekurangan pembayaran wp wajib melampirkan bukti bayar PPh pasal 29 yaitu PPh 29 = PPh yang masih terutang - PPh 25 yang sudah dilunasi ini untuk WP Op sedangkan untuk WP Badan PPh 29 = PPh terutang – angsuran PPh 25
H. Sistem Pemungutan Pajak
Sistem Pemungutan pajak (Indonesia, 2016) terdiri dari :
1. Official Assessment System yaitu memberi kewenangan pemerintah untuk menentukan besarnya pajak yang terutang. Ciri – ciri nya adalah :
a. Wewenang untuk menerapkan besarnya pajak terutang berada pada fiskus b. Wajib pajak bersifat pasif
c. Untang pajak timbul setelah dikeluarkannya Surat Ketetapan Pajak oleh fiskus.
Seperti pengalihan tanah atau banngunan dari WP kepada pemerintah (PBB dan BPHTB)
2. Self Asessment System yaitu memberikan wewenang, kepercayaan, tanggung jawab kepada wajib pajak untuk menghitung, memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang harus dibayarkan. Seperti angsuran PPh 25 3. Withholding System yaitu memberi kewenangan kepada pihak ketiga untuk memotong atau memingutbesarnya pajak yang tertuang oleh wajib pajak. Seperti potongan pemungutan PPh 21, PPh 22, PPh 23 dan PPh 26.
I. Wajib Pajak
Menurut Undang-undang KUP wajib pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
H. Nomor Pokok Wajib Pajak 1. Definisi NPWP
Menurut Undang-Undang KUP Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) adalah nomor yang diberikan kepada wajib pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas wajib pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.
2. Penomoran NPWP
NPWP terdiri dari 15 digit, yaitu 9 digit pertama merupakan kode wajib pajak dan 6 digit selanjutnya adalah kode admnistrasi. 6 digit tersebut terdiri dari 3 digit kode KPP Pusat dan 3 digit kode KPP Cabang.
2.1.2. Pengetahuan Pajak
A. Definisi Pengetahuan Pajak
Pengetahuan adalah sesuatu yang penting bagi sebuah pengalaman dan wawasan terhadap suatu hal yang dapat digunakan sebagai pertimbangan ketika menilai informasi baru (Indrawan, 2016). Pengetahuan berarti segala sesuatu yang diketahui, kepandaian, atau segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal berbagai hal (Indrawan, 2016). Pengetahuan pajak adalah informasi yang menjadi dasar bagi wajib pajak yang digunakan untuk bertindak, mengatur strategi perpajakan dan mengambil keputusan dalam menerima hak dan melaksanakan kewajibannya sebagai wajib pajak sehubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban dibidang perpajakan (Ilhamsyah et al., 2016). Kepatuhan dapat meningkat apabila wajib pajak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai sistem perpajakan yang sesuai dengan Undang-Undang pajak yang berlaku serta kesadaran akan pentngnya pajak bagi pembangunan negara (Indrawan, 2016). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengetahuan pajak adalah dasar bagi wajib pajak yang digunakan untuk mengatur tentang perpajakannya dan cara untuk mengambil keputusan dalam menerima hak dan kewajibannya dibidang perpajakan.
B. Hukum Pajak Formal dan Materil
Hukum pajak menganut hubungan antara pemerintah (fiscus) selaku pemungut pajak dengan wajib pajak (Indonesia, 2016). Berdasarkan materinya, hukum pajak dibedakan menjadi :
1. Hukum Pajak Formal
Hukum Pajak Formal ini memuat bentuk/cara untuk mewujudkan hukum materil menjadi kenyataan. Seperti kewajiban Wajib pajak.
2. Hukum Pajak Materil
Hukum Pajak Materil ini memuat norma-norma yang menernagkan keadaan perbuatan, peristiwa hukum yang dikenakan pajak (Objek Pajak), siapa yang dikenakan pajak (Subjek Pajak) dan berapa besar pajak yang dibayarkan. Seperti Undang-undang Pajak Penghasilan.
C. Indikator Pengetahuan Pajak
Dari definisi mengenai pengetahuan pajak dapat dijelaskan bahwa pengetahuan pajak meliput (Aswati et al., 2018) :
1. Pengetahuan mengenai Ketentuan umum dan Tatacara Perpajakan 2. Pengetahuan mengenai sistem perpajakan
3. Sanksi perpajakan dan administrasi
2.1.3. Sosialisasi Pajak
A. Definisi Sosialisasi Pajak
Sosialisasi merupakan pembelajaran suatu nilai, norma dan pola perilaku yang diharapkan oleh sebagian orang sebagai sutau bentuk reformasi sehingga menjadi organisasi yang efektif dan efisien (Ananda et al., 2015). Menurut Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-98/PJ/2011 Sosialisasi Pajak Suatu upaya dan
proses memberikan informasi perpajakan untuk menghasilkan perubahan pengetahuan, keterampilan, dan sikap masyarakat, dunia usaha, aparat, serta lembaga pemerintah maupun non pemerintah agar terdorong untuk paham, sadar, peduli dan berkontribusi dalam melaksanakan kewajiban perpajakan.
B. Kegiatan Sosialisasi Perpajakan
kegiatan sosialisasi atau penyuluhan perpajakan dapat dilakukan dengan dua cara (Ananda et al., 2015) sebagai berikut :
1. Sosialisasi Langsung
Sosialisasi langsung adalah kegiatan sosialisasi perpajakan dengan berinteraksi langsung dengan wajib pajak atau calon wajib pajak. Contohnya tax goes to campus.
2. Sosialisasi tidak Langsung
Sosialisasi tidak langsung adalah kegiatan sosialisasi perpajakan kepada masyarakat dengan tidak atau sedikit melakukan interaksi dengan peserta. Contohnya menggunakan media massa
C. Sosialisasi di Bidang Perpajakan
Menurut Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-03/PJ/2013 Sosialisasi (Penyuluhan) perpajakan adalah suatu upaya dan proses memberikan informasi perpajakan kepada masyarakat, dunia usha, dan lembaga pemerintah maupun non pemerintah. Sasaran dari sosialisasi perpajakan ini adalah sebabagi berikut :
1. Sosialisasi perpajakan bagi calon wajib pajak, yaitu orang pribadi yang bertempat
2. tinggal di Indonesia dan atau badan yang bertempat di Indonesia yang memenuhi persyaratan subjektif dan atau objektif sebagaimana dimaksud dalam perundang- undangan perpajakan dan belum memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
3. Sosialisasi perpajakan bagi wajib pajak baru, yaitu penyuluhan perpajakan bagi wajib pajak orang pribadi dan atau badan yang telah terdaftar namun belum menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) dan melakukan pembayaran atau penyetoran Pajak Penghasilan (PPh) atau Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pertama kali dengan Surat Setoran Pajak (SSP) sejak yang bersangkutan terdaftar sebagai wajib pajak.
4. Sosialisasi Perpajakan bagi wajib pajak terdaftar, yaitu penyuluhan perpajakan bagi wajib pajak yang terdaftar dan tidak dalam kategori calon wajib pajak dan wajib pajak baru.
Sosialisasi perpajakan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perpajakan, serta mengubah perilaku masyrakat wjaib pajak agara semkain paham, sadar, peduli dalam melaksanakan hak dan kewjaiban perpajaknnya.
Untuk mencapai tujuan tersebut Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor : PER- 03/PJ/2013 menjelaskan bahwa sosialisasi perpajakan harus memperhatikan hal-hal berikut :
1. Metode Sosialisasi, yaitu cara kerja teratur dan sistematis yang digunakan untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan sosialisasi agar sesuia dengan tujuan yang telah ditetapkan.
2. Teknik Sosialisasi, yaitu keahlian untuk membuat atau melakukan sesuatu untuk melaksankan penyuluhan yang efektif diantaranya teknik komunikasi massa, pembutan materi sosialisasi, dan persentasi yang baik
3. Materi Sosialisasi, yaitu bahan sosialisasi yang di sampaikan oleh pemateri kepada peserta sosialisasi.
4. Pemateri, yaitu pegawai Direktorat Jenderal Pajak atau bukan pegawai Direktorat Jenderal Pajak untuk menyampaikan materi sosialisasi kepada peserta sosialisasi.
5. Sarana pendukung sosialisasi, yaitu sarana yang dapat digunakan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan sosialisasi.
D. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2018
Meskipun tidak disebutkan secara detail dalam Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2018 kebijakan ini ditujukan bagi sektor UMKM. Umkm diatur dalam Undaang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Beberapa pokok pentingyang di atur dalam PP nomor 23 Tahun 2018 tentang Pajak Penghasilan atas Peredaran bruto tertentu adalah sebagai berikut : 1. Tarif PPh Final 0,5% Bersifat Opsional
Pemerintah telah memutuskan untuk meringankan tarif PPh Final menjadi 0,5%.
Namun, ketentuan ini bersifat opsional karena wajib pajak dapat memilih untuk mengikuti tarif dengan skema final 0,5%, atau menggunakan skema normal yang mengacu pada pasal 17 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Sifat opsional ini memberi keuntungan bagi wajib pajak karena:
a. Bagi wajib pajak (WP) pribadi dan badan yang belum dapat menyelenggarakan pembukuan dengan tertib, penerapan PPh Final 0,5% memberikan kemudahan bagi mereka untuk melaksanakan kewajiban perpajakan. Sebab, perhitungan pajak menjadi sederhana yakni 0,5% dari peredaran bruto/omzet. Namun, penerapan PPh Final memiliki konsekuensi yakni WP tetap harus membayar pajak meski sedang dalam keadaan rugi.
b. Sementara, WP badan yang telah melakukan pembukuan dengan baik dapat memilih untuk dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif normal yang diatur pasal 17 UU No. 36 tentang Pajak Penghasilan. Konsekuensinya, perhitungan tarif PPh akan mengacu pada lapisan penghasilan kena pajak. Selain itu, WP juga terbebas dari PPh bila mengalami kerugian fiskal.
2. Pengenaan Tarif PPh Final 0,5% memiliki batas waktu
Tidak seperti PP No. 46 Tahun 2013, kebijakan terbaru tentang PPh Final 0,5%
punya grace period atau batasan waktu. Batasan waktu yang diberikan pemerintah bagi WP yang ingin memanfaatkan tarif PPh Final 0,5% adalah:
a. 7 tahun pajak untuk WP orang pribadi.
b. 4 tahun pajak untuk WP badan berbentuk koperasi, CV, atau firma.
c. 3 tahun pajak bagi WP badan berbentuk PT.
Setelah batas waktu tersebut berakhir, WP akan kembali menggunakan skema normal seperti diatur oleh pasal 17 UU No.36. Hal ini ditujukan untuk mendorong wajib pajak menyelenggarakan pembukuan dan pengembangan usaha.
3. Peraturan ini hanya berlaku untuk WP yang dikenai PPh Final yang memiliki penghasilan dibawah 4,8 Miliar adalah:
a. Wajib Pajak orang pribadi
b. Wajib Pajak badan berbentuk koperasi, CV, firma, atau PT yang menerima atau memperoleh penghasilan dengan peredaran bruto di bawah Rp 4,8 miliar.
4. Tarif 0,5% ini tidak berlaku bagi
a. Wajib Pajak orang pribadi dengan penghasilan yang diperoleh dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas. Ini termasuk persekutuan atau firma yang terdiri dari WP orang pribadi berkeahlian sejenis seperti firma hukum, kantor akuntan dan lain sebagainya. Wajib pajak dengan penghasilan yang diperoleh di luar negeri yang pajaknya terutang atau telah dibayar di luar negeri.
b. Wajib pajak yang penghasilannya telah dikenai PPh yang bersifat final dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tersendiri.
c. Wajib pajak dengan penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak.
5. Apabila tidak ingin mendapatkan fasilitas Tarif 0,5%
a. Jika tidak ingin berstatus sebagai wajib pajak PPh 0,5%, terlebih dahulu b. Mengajukan permohonan pada Ditjen Pajak.
c. Selanjutnya, akan mendapatkan keterangan sebagai wajib pajak yang dikenai PPh yang mengacu pada pasal 17 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Namun, wajib pajak yang sudah memilih untuk dikenai PPh dengan skema normal tidak dapat memilih untuk dikenai PPh Final 0,5%.
E. Alasan Melakukan Sosialisasi Pajak
Dalam Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE-98/PJ/2011 tentang pedoman penyusunan rencana kerja dan laporan kegiatan penyuluhan perpajakan unit vertikal di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak disebutkan bahwa upaya untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang hak dan kewajiban perpajakan harus terus dilakuan karena beberapa alasan anatara lain :
1. Program ekstensifikasi yang terus menerus dilakukan Direktorat Jenderal Pajak diperkiraanakan menambah jumlah Wajib Pajak Baru yang membutuhkan sosialisasi/penyuluhan,
2. Tingkat kepatuhan Wajib pajak terdaftar masih memiliki ruang yang besar untuk ditingkatkan,
3. Upaya untuk meningkatkan jumlah penerimaan pajak dan meningkatkan besarnya tax ratio,
4. Peraturan dan kebijakan dibidang perpajakan bersifat dinamis.
F. Indikator Sosialisasi Pajak
Dirjen Pajak memberikan beberapa point terkait indikator sosialisasi dimana kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan kesadaran dan rasa peduli terhadap pajak yang dimodifikasi dari pengembangan program pelayanan perpajakan (Ananda et al., 2015).
1. Penyuluhan
Sosialisasi yang dibentuk oleh Dirjen Pajak dengan menggunakan media massa atau media elektronik menyangkut penyuluhan peraturan perpajakan kepada Wajib Pajak.
2. Berdiskusi langsung dengan Wajib Pajak dan tokoh masyarakat
Dirjen Pajak memberikan komunikasi dua arah antara Wajib Pajak dengan petugas pajak (Fiskus) maupun masyarakat yang dianggap memberikan pengaruh atau dipandang oleh masyarakat sekitarnya.
3. Informasi langsung dari petugas (Fiskus) ke Wajib Pajak
Petugas pajak memberikan informasi secara langsung kepada Wajib Pajak tentang peraturan perpajakan.
4. Pemasangan Billboard
Pemasangan spanduk atau billboard pada tempat yang strategis sehinggga mudah dilihat oleh masyarakat. Dapat berisikan pesan singkat berupa kutipan perkataan, pernyataan dengan bahasa penyampaian yang mudah dipahami.
5. Website Dirjen Pajak
Media sosialisasi penyampaian informasi dalam bentuk website yang dapat diakses internet setiap saat, cepat, mudah, serta informasi yang lengkap dan up to date.
2.1.4. Tarif Pajak
A. Definisi Tarif pajak
Tarif Pajak adalah ketentuan persentase (%) atau jumlah (Rupiah) pajak yang harus dibayar oleh Wajib Pajak sesuai dengan dasar pajak atau objek pajak (Ananda et al., 2015). Tarif pajak adalah persentase yang dipakai sebagai dasar dalam menghitung
pajak terutang yang harus disetorkan kepada negara (Cahyani & Naniek Noviari, 2019). Pemerintah memiliki peranan penting dalam menentukan kebijakan penetapan tarif (Ananda et al., 2015). Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2018, peraturan tersebut menjelaskan bahwa wajib pajak orang pribadi dan wajib pajak badan dengan penghasilan tidak termasuk dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebasa dengan peredaran bruto tidak melebihi 4,8 Miliar Rupiah dalam satu tahun pajak dikenakan tarif pajak 0,5% (Nol koma lima persen) yang bersifat Final.
B. Jenis Tarif Pajak
Tarif Pajak (Indonesia, 2016) dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu :
1. Tarif Pajak Proporsional/Sebanding yaitu tarif pajak yang persentase nya tetap terhadap jumlah berapapun yang menjadi dasar pengenaan pajak. Contoh tarif PPN yaitu 10%
2. Tarif Pajak Progresif yaitu tarif pajak yang persentasenya menjadi lebih besar apabila jumlah yang menjadi dasar pengenaan pajak semakin besar. Misalnya Tarif PPh
3. Tarif Pajak Degresif yaitu tarif pajak yang persentasenya semakin menurun apabila jumlah yang menjadi dasar pengenaan pajak semakin besar. Seperti bea cukai hal ini dimaksudkan untuk memicu supaya meningkatkan perdagangan internasional (ekspor impor). Ketika objek pajak yang ingin di ekspor atau impor bernilai kisaran antara 0 sampai 25 juta maka akan terkena bea cukai adalah 15% apabila objek nya bernilai 25 juta – 50 juta maka terkena bea cukai 12.5% dan jika objek nya berkisaran 50 juta - 100 juta maka akan dikenakan bea cukai 5%.
4. Tarif Pajak Tetap yaitu tarif ini ditetapkan tarif dengan jumlah yang tetap (sama besarnya) terhadap berapapun jumlah yang menjadi dasar pengenaan pajak. Contoh Tarif Bea Materai.
C. Indikator Tarif Pajak
Indikator tarif pajak (Julianto, 2015) terdiri dari :
1. Tarif pajak yang terlalu tinggi menyebabkan kecurangan pajak.
2. Penurunan tarif pajak meningkatkan kemauan membayar pajak 3. Kemampuan membayar pajak berdasarkan tarif yang diberlakukan 4. Tarif pajak tidak menentukan besarnya kesadaran membayar pajak
2.1.5. Mekanisme Pembayaran Pajak
A. Definisi Mekanisme Pembayaran Pajak
Mekanisme pembayaran pajak adalah suatu kegiatan yang bersangkutan dengan pembayaran pajak (Yusro & Kiswanto, 2015). Mekanisme pembayaran pajak UMKM telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 242/PMK.03 Tahun 2014 yang menjelaskan tentang tata cara perhitungan, penyetoran, dan pelaporan pajak penghasilan atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu. Selain itu pembayaran pajak penghasilan dapat melalui Bank Persepsi hanya dengan persyaratan NPWP dan Nomor Rekening sehingga mekanisme pembayaran pajak akan berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM.
B. Indikator Mekanisme Pembayaran Pajak
Mekanisme pembayaran pajak (Yusro & Kiswanto, 2014) dalam penelitian ini menggunakan indikator sebagai berikut :
1. Pemahaman tempat pembayaran pajak dilakukan
2. Pemahaman mekanisme pembayaran wajib pajak sendiri yang terutang bulanan dan tahunan
3. Pemahaman pembayaran yang dilakukan dengan mekanisme pemotongan/
pemungutan oleh pihak ketiga.
4. Pemahaman pengisian SPT massa dan SPT tahunan.
5. Pemahaman tentang kapan batas waktu pelaporan dari masing-masing jenis SPT pajak yang dibayarkan.
6. Pemahaman tentang sanksi/denda apabila terlambat.
2.1.6. Kepatuhan Wajib Pajak
A. Definisi Kepatuhan Wajib Pajak
Kepatuhan wajib pajak adalah faktor penting dalam merealisasikan target penerimaan pajak (Mulyanti & Sunardjo, 2019). Kepatuhan Wajib Pajak adalah suatu keadaan dimana wajib pajak memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya (Mulyanti & Sunardjo, 2019). Wajib pajak dikatakan patuh apabila penghasilan yang dilaporkan sesuai dengan semestinya dan melakukan
pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) dan besaran pajak yang terutang dibayarkan tepat pada waktunya (Ananda et al., 2015).
Berdasarkan penjelasan yang sudah dipaparkan maka dapat disimpulkan bahwa kepatuhan wajib pajak adalah keadaan dimana wajib pajak dapat melaksanakan semua hak dan kewajiban perpajakannya sesuai dengan yang telah ditentukan.
B. Jenis Kepatuhan
(Mulyanti & Sunardjo, 2019) kepatuhan terbagi menjadi dua macam kepatuhan yaitu:
1. Kepatuhan Formal
Kepatuhan Formal adalah sesuatu keadaan dimana wajib pajak memenuhi kewajiban secara formal sesuai dengan ketentuan undang-undang perpajakan.
Misalnya melaporkan SPT tepat pada waktunya.
2. Kepatuhan Material
Kepatuhan Material adalah sesuatu keadaan dimana wajib pajak secara substansif atau hakikatnya memenuhi semua ketentuan material perpajakan yakni sesuai isi dan jiawa undang-undang perpajakan. Misalnya membayar pajak sesuai dengan penghasilan yang telah diterima.
C. Wajib Pajak dengan Kriteria Tertentu
Dalam PMK Nomor 74/pmk.03/2012 dapat ditetapkan sebagai Wajib Pajak Dengan Kriteria Tertentu, Wajib Pajak harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Tepat waktu dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan
2. Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali tunggakan pajak yang telah memperoleh izin mengangsur atau menunda pembayaran pajak.
3. Laporan Keuangan diaudit oleh Akuntan Publik atau lembaga pengawasan keuangan pemerintah dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian selama 3 (tiga) tahun berturut-turut.
4. Tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terakhir.
D. Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Wajib Pajak
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak (Istiqomah, 2016) adalah 1. Kemauan Membayar Pajak
Kemampuan membayar pajak merupakan suatu nilai seseorang untuk mau, rela, dan menukarkan sesuatu untuk memperoleh timbal balik barang atau jasa. Kemauan membayar pajak membuktikan bahwa seseorang telah mengetahui tentang pengetahuan tentang pajak, khususnya untuk kelebihan dan kekurangan membayar pajak.
2. Kesadaran Wajib Pajak
Kesadaran Wajib Pajak merupakan salah satu penunjang pembangunan negara.
Penundaan pembayaran pajak ataupun pengurangan beban pembayaran pajak akan sangat merugikan negara tentu saja akan merugikan untuk diri kita sendiri. Ketika setiap Wajib Pajak sadar akan kewajibannya sebagai Wajib Pajak maka akan tercipta kepatuhan Wajib Pajak yang baik.
3. Pengetahuan Peraturan Perpajakan
Pengetahuan pajak adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seorang Wajib Pajak atau kelompok Wajib Pajak dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Meningkatkan pengetahuan perpajakan masyarakat secara formal maupun non formal akan berdampak positif terhadap kesadaran Wajib Pajak untuk membayar pajak sehingga akan tercipta kepatuhan Wajib Pajak.
4. Pemahaman terhadap Peraturan Perpajakan
Pemahaman Wajib Pajak terhadap peraturan perpajakan adalah cara Wajib Pajak dalam memahami tentang peraturan perpajakan yang telah ada. Wajib Pajak yang tidak mengerti dan memahami peraturan perpajakan maka Wajib Pajak akan cenderung tidak taat dalam pajaknya. Semakin paham Wajib Pajak memahami perturan perpajak maka akan semakin sedikit Wajib Pajak untuk melalaikan dalam pembayaran pajaknya. Sehingga Wajib Pajak akan patuh untuk selalu membayar dan melaporkan pajaknya.
5. Persepsi Efektifitas Sistem Perpajakan
Persepsi yang baik dari Wajib Pajak bahwa sistem perpajakan yang sudah ada sekarang lebih efektif dan tentunya lebih memudahkan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiaban perpajakan, maka akan semakin meningkat kemauan Wajib Pajak untuk membayar pajak. Kemudahan Wajib Pajak dalam efektivitas sistem perpajakan untuk sekarang ini antara lain yaitu e-SPT, e-Filling, dan e-registrasi.
6. Kualitas Layanan terhadap Wajib Pajak
Pemberian pelayanan yang berkualitas harus mencakup keamanan, kelancaran, kenyamanan dan juga kepastian hukum. Seorang Wajib Pajak akan merasa puas
dengan pelayanan dari petugas pajak yang memuaskan. Petugas pajak harus selalu ada ketika Wajib Pajak ingin atau membutuhkan jasanya. Wajib Pajak belum sepenuhnya paham akan peraturan perpajakan sehingga bantuan dari petugas sangat membantu Wajib Pajak. Sebaliknya petugas pajak harus siap tanggap dalam melayani Wajib Pajak.
E. Indikator Kepatuhan Wajib Pajak
Indikator Kepatuhan Wajib Pajak (Ariani, 2017) yaitu : 1. Kewajiban wajib pajak dalam mendaftarkan diri
2. Kepatuhan untuk menyetorkan kembali surat pemberitahuan 3. Kepatuhan dalam perhitungan dan pembayaran pajak terutang 4. Kepatuhan dalam pembayaran tunggakan
2.1.7. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
A. Definisi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah ialah
1. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
2. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan
atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.
3. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
Pada pasal 3 Undang-undang Nomor 20 tahun 2008 UMKM bertujaun untuk menumbuhkan dan mengembangkan usahanya dalam rangka membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan. Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan definisi UMKM adalah entitas yang memiliki pekerja 5 sampai dengan 99 orang (Widjaja, et al., 2018).
Sehingga dapat disimpul Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah adalah usaha yang dilakukan satu dua orang lebih yang termasuk dalam kriteria Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah sesuai dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008. UMKM memiliki peran yang sangat besar untuk kemajuan perekonomian Indonesia saat ini (Widjaja, et al., 2018). Selain itu UMKM mampu menyerap tenaga kerja masyarakat Indonesia sehingga mampu menopang perekonomian di Indonesia (Widjaja, et al., 2018).
UMKM berhasil apabila memiliki SDM yang bukan hanya sebagai alat produksi tetapi juga sebagai penggerak dan penentu berlangsunya proses produksi dan segala aktivitas organisasi (Widjaja, et al., 2018) . Sehingga SDM merupakan hal penting dalam
keberhasilan suatu organisasi yang kecil maupun besar (Widjaja, et al., 2018). Modal pun menjadi salah satu faktor utama dalam sebuah usaha (Suparwo, et al, 2018). Ketika semakin besar modal yang dimliki maka akan semakin besar keuntungan yang diterima sehingga akan berdampak pada perkembangan usaha (Suparwo et al., 2018). Sumber keunggulan daya saing terkini berada pada inovasi dan kreativitas (Prasetio, et al., 2018). Inovasi dapat di tingkatkan melaui penggunaan informasi yang berada pada luar perusahaan (Prasetio et al., 2018). Hasil produksi dari UMKM yaitu berbasis kerakyatan dimana umumnya barang-barang yang dihasilkan berupa kebutuhan sehari- hari yang dapat digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat (Prasetio et al., 2018)
B. Kriteria UMKM
Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 terdapat kriteria UMKM sebagai berikut:
1. Kriteria Usaha Mikro adalah sebagai berikut:
a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
b. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
2. Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut:
a. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha
b. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).
3. Kriteria Usaha Menengah adalah sebagai berikut:
a. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
b. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).
C. Asas UMKM
Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 terdapat asas umkm yaitu : 1. Kekeluargaan
Asas yang melandasi upaya pemberdayaan UMKM sebagai bagian dari perekonomian nasional yang diselenggarakan berdasar atas demokrasi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, keseimbangan, kemajuan, dan kesatuan ekonomi nasional untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
2. Demokrasi ekonomi
Asas pemberdayaan UMKM diselenggarakan sebagai kesatuan dari pembangunan perekonomian nasional untuk mewujudkan kemakmuran rakyat.
3. Kebersamaan
Asas yang mendorong peran seluruh UMKM dan dunia usaha secara bersama-sama dalam kegiatannya untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.
4. Efisien berkeadilan
Asas yang mendasari pelaksanaan pemberdayaan UMKM dengan mengdepankan efisiensi berkeadilan dalam usaha untuk mewujudkan iklim usaha yang adil, kondusif, dan berdaya saing.
5. Berkelanjutan
Asas yang secara terencana mengupayakan berjalannya proses pembangunan melalui pemberdayaan UMKM yang dilakukan secraa berkesinambungan sehingga terbentuk perekonomian yang tangguh dan mandiri.
6. Berwawasan lingkungan
asas pemberdayaan UMKM yang dilakukan dengan tetap memperbaiki dan mengutamakan perlindungan dan pemeliharaan lingkungan hidup
7. Kemandirian
asas pemberdayaan UMKM yang dilakukan dengan tetap menjaga dan mengedepankan potensi, kemampuan, dan kemandirian UMKM.
8. Keseimbangan kemajuan
Asas pemberdayaan UMKM yang berupaya menjaga keseimbangan kemajuan ekonomi wilayah dalam kesatuan ekonomi nasional
9. Kesatuan ekonomi nasional
Asas pemberdayaan UMKM yang merupakan bagian dari pembangunan kesatuan ekonomi nasional.
D. Tujuan UMKM
Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan usahanya dalam rangka membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan.
2.1.8 Keterkaitan Antar Variabel
A. Pengaruh Pengetahuan Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak UMKM Pengetahuan perpajakan digunakan oleh wajib pajak sebagai informasi pajak dalam melakukan tindakan pajak seperti menghitung, memperhitungkan, membayar dan melaporkan jumlah pajak yang disetorkan. Adanya kualitas pengetahuan yang semakin baik akan memberikan sikap memenuhi kewajiban dengan benar melalui adanya sistem perpajakan. Oleh karena itu, pengetahuan perpajakan yang dimiliki oleh wajib pajak akan mempengaruhi patuh tidaknya wajib pajak itu sendiri. Sehingga pengetahuan perpajakan berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM (Ginting, et al., 2017).
B. Pengaruh Sosialisasi Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak UMKM Sosialisasi perpajakan juga dapat berpengaruh untuk menambah jumlah wajib pajak dan dapat menimbulkan kepatuhan dari wajib pajak sehingga secara otomatis tingkat kepatuhan wajib pajak dan penerimaan pajak meningkat. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa sosialisasi perpajakan berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak (Andayani, 2018).
C. Pengaruh Tarif Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak UMKM
Tarif pajak UMKM yang diatur oleh Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2018 merupakan tarif pajak penyederhanaan berupa tarif pajak final 0,5% sedangkan tarif sebelumnya yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 menyatakan bahwa wajib pajak yang memiliki peredaran bruto kurang dari 4,8 Miliar rupiah akan dikenakan tarif pajak 1%. Penyederhaan tarif tersebut lebih rendah dibandingkan sebelumnya walaupun tanpa melihat apakah pemilik UMKM mengalami kerugian atau laba dan tidak dikurangi dengan penghasilan tidak kena pajak. Sehingga tarif pajak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM (Julianto, 2015).
D. Pengaruh Mekanisme Pembayaran Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak UMKM
Mekanisme pembayaran pajak UMKM yang telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2018 telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 242/PMK.03 Tahun 2014 yang menjelaskan tentang tata cara perhitungan, penyetoran, dan pelaporan pajak penghasilan atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajjib pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu. Peraturan pemerintah ini menjelaskan tentang bagaimana cara UMKM melaksanakan pembayaran pajak. Selain itu pembayaran pajak penghasilan untuk UMKM dapat dilakukan melalui Ajungan Tunai Mandiri (ATM) hanya dengan persyaratan NPWP
dan Nomor Rekening. Sehingga mekanisme pembayaran pajak akan berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM (Yusro & Kiswanto, 2014).
2.2. Penelitian Terdahulu
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa penelitian terdahulu untuk di jadikan bahan referensi. Penelitian ini mengambil judul Tolak Ukur Pengetahuan Pajak, Sosialisasi Pajak, Tarif Pajak, Mekanisme Pembayaran Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak UMKM di Kota Bandung. Adapun persamaan dan perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian terdahulunya seperti yang tertera dalam table II.1. berikut.
Tabel II.1 Penelitian Terdahulu
No Peneliti/
Tahun
Judul Metode Hasil Persamaan Perbedaan
1 Yusro dan kiswanto (2014),
Pengaruh Tarif Pajak, Mekanisme Pembayaran pajak dan Kesadaran Wajib Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak UMKM di Kabupaten Jepara
Metode analisis dan menggunaka n metode structural equation model (SEM)
Secara uji Hipotesis yang digunakan menyatakan tarif pajak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM tetapi kenyataan uji hipotesis tersebut ditolak yang berarti tarif pajak tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak . Namun berbeda dengan uji
Menggunakan variabel independen Tarif Pajak dan mekanisme pembayaran pajak dan variable dipenden kepatuhan wajib pajak
Penulis tidak menggunakan variabel kesadaran wajib pajak
Penulis menambahkan pengetahuan dan sosialisasi pajak
hipotesis 2 yang menyatakan bahwa mekanisme pembayaran ajak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM tetapi dalam kenyataannya uji hipotesis 2 diterima yang berarti mekanisme pembayaran pajak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM.
Sedangkan uji hipotesis 3 yang menyatakan kesadaran membayar pajak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak tetapi kenyataan hipotesis 3 ditolak yang berarti kesadaran membayar pajak tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM.
2 Ananda, et al., (2015)
Pengaruh Sosialisasi Perpajakan,
Metode analisis
Berdasarkan hasil pengujian
Menggunakan variabel independen
Penulis tidak menggunakan variabel
Tarif Pajak, dan
Pemahaman Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
regresi linier berganda
hipotesis yang pertama menyatakan bahwa sosialisasi perpajakan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
Hasil pengujian hipotesis yang kedua
menyatakan bahwa tarif perpajakan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak dan
hasil pengujian hipotesis yang ketiga
menyatakan bahwa Pemahaman perpajakan secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
Sosialisasi pajak, tarif pajak, dan variabel dependen kepatuhan wajib pajak
pemahaman pajak
Penulis menambahkan Mekanisme Pembayaran pajak
3 Ginting, et al., (2017)
Peran Motivasi dan Pengetahuan Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
Metode analisis statistik
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis yang pertama menyatakan bahwa Motivasi secara parsial tidak
berpengaruh signifikan
Menggunakan variabel independen pengetahuan pajak dan variabel dependen kepatuhan wajib pajak
Penulis tidak menggunakan variabel motivasi
Penulis menambahkan sosialisasi pajak, tarif pajak dan mekanisme
terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
Sedangkan hasil pengujian hipotesis yang kedua
menyatakan bahwa Pengetahuan pajak secara parsial berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
pembayaran pajak
4 Ariani (2017)
Pengaruh Sosialisasi Pajak, Pemahaman Pajak, Kesadaran Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Pada Pelaku UMKM”.
Metode analisis regresi linier berganda
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis yang pertama menyatakan bahwa sosialisasi berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
Hasil pengujian hipotesis yang kedua
menyatakan bahwa Pemahama pajak secara berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
Sedangkan hasil pengujian hipotesis yang ketiga
Menggunakan variabel independen sosialisasi pajak dan tunggakan pajak dan variabel dependen kepatuhan wajib pajak
Penulis tidak menggunakan variabel kesadaran wajib pajak dan
pemahaman pajak Penulis menambahkan pengetahuan pajak, tariff pajak dan mekanisme pembayaran pajak
menyatakan bahwa Kesadaran Pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
5. Oladipup o dan Obazee (2016)
Tax Knowledge, Penalties and Tax
Compliance in Small and Medium Scale Enterprises in Nigeria
metode regresi Ordinary Least Square
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan pajak memiliki pengaruh positif signifikan terhadap kepatuhan pajak sedangkan denda pajak memiliki pengaruh positif tidak signifikan terhadap kepatuhan pajak.
Menggunakan variable independen pengetahuan pajak dan variable dependen kepatuhan wajib pajak umkm
Penulis tidak menggunakan variabel denda Penulis menambahkan sosialisasi pajak , tarif pajak dan mekanisme pembayaran pajak
6. Cahyani dan Noviari (2019)
Pengaruh Tarif pajak, Pemahaman Perpajakan, dan Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak UMKM
accidental sampling dan teknis analisis data penelitian ini
menggunaka n
analisis regresi linier berganda
menunjukkan bahwa tarif pajak,
pemahaman perpajakan dan sanksi perpajakan berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM baik secara
simultan maupun parsial.
Menggunakan variable independen tarif pajak dan variable dependen kepatuhan wajib pajak umkm
Penulis tidak menggunakan variabel pemahaman pajak dan sanksi perpajakan Penulis menambahkan sosialisasi pajak dan mekanisme pembayaran pajak
7. Yunus, et al., (2017)
Tax Penalties and Tax Compliance of Small Medium
Regresi linier
menunjukkan bahwa denda pajak memang berpengaruh signifikan
Menggunakan variable dependen kepatuhan
Penulis tidak menggunakan variable denda tapi
menambahkan
Enterprises (SMEs) in Malaysia
terhadap perilaku kepatuhan pajak
wajib pajak umkm
variable pengetahuan pajak, sosialisasi pajak, tarif pajak dana mekanisme pajak 8. Lianty,
et al., (2017)
Pengetahuan Perpajakan, Sosialisasi Perpajakan, dan Pelayanan Fiskus terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
Regresi Linier Berganda
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan pengetahuan perpajakan, sosialisasi perpajakan, dan pelayanan fiskus
berpegaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak Secara parsial, pengetahuan perpajakan dan pelayanan fiskus
berpengaruh signifikan dengan arah yang positif terhadap kepatuhan Wajib Pajak sedangkan sosialisasi perpajakan tidak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak
Menggunakan Variabel independen Pengetahuan Pajak dan Sosialisasi Pajak
Variabel dependen Kepatuhan Wajib Pajak
Penulis tidak menggunakan variabel Pelayanan Fiskus tapi menambahkan variabel tarif pajak dan mekanisme pembayaran pajak
Sumber : data diolah (2019) 2.3. Kerangka Pemikiran
Rendahnya kepatuhan pembayaran pajak penghasilan oleh wajib pajak sektor UMKM mendorong pemerintah untuk mengoptimalkan penerimaan pajak dari wajib
pajak sektor UMKM. Untuk dapat memenuhi kewajiban perpajakan dari sektor UMKM pemerintah telah mengeluarkan Pearturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2018 tentang pajak penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak yang memiliki Peredaran Bruto Tertentu yang mulai berlaku pada 1 Juli 2018. Kepatuhan wajib pajak di KPP Pratama Bandung Cicadas masih cenderung rendah hal tersebut dibuktikan dengan masih adanya keterlambatan pelaporan administrasi.
Kepatuhan wajib pajak dapat diukur dari 4 indikator yaitu, mendaftarkan diri, menyetorkan kembali SPT, Perhitungan dan pembayaran pajak terutang dan pembayarakan tunggakan (Ariani., 2017). Terkait dengan kebijakan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2018, tidak saja membawa angin segar bagi pelaku UMKM dengan tarif yang kompetitif, tetapi juga kesederhanaan dalam pemenuhan kewajiban pelaporan pajak tahunan (Andayani, 2018). Peraturan ini mengubah secara signifikan teknik perhitungan pajak terutang dan besarnya tarif pajak yang di tanggung oleh wajib pajak yang semula nya 1% kini menjadi 0,5% dengan lebih mudah dan sederhana (Supadmi & Suputra, 2016) Tarif pajak dapat diukur dari 4 indikator yaitu, Tarif pajak tinggi, Penurunan tarif pajak, Kemampuan membayar pajak dan Kesadaran membayar pajak (Julianto, 2015). Pengaruh tarif pajak telah dibahas oleh beberapa penelitian sebelumnya (Cahyani & Noviari, 2019) dan (Julianto, 2015) menyatakan bahwa pengaruh tarif pajak berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Penurunan tarif pajak yang berlaku cukup baik mengakibatkan kenaikan terhadap wajib pajak yang terdaftar di KPP Pratama Bandung Cicadas menjadi lebih baik di bandingkan sebelumnya.
Keputusan bisnis sebagian besar dipengaruhi oleh pajak, baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga keputusan bisnis yang baik apabila bertemu dengan keputusan pajak hai ini akan menjadi keputusan yang kurang baik begitu sebaliknya karena merupakan beban yang dapat mengurangi laba bersih (Supardi & Samto, 2017).
Kepatuhan wajib pajak dapat diukur dari pengetahuan yang dimiliki wajib pajak baik dari segi pengetahuan mengenai perubahan peraturan, konsep ketentuan umum di bidang perpajakan, jenis pajak yang berlaku di Indonesia mulai dari subyek pajak, objek pajak, tarif pajak, perhitungan pajak terutang, pencatatan pajak terutang, dan pembayaran serta pengisian pelaporan pajak secara tepat waktu (Ariani, 2017).
Sosialisasi perpajakan menjadi salah satu faktor yang tidak dapat dipisahkan dalam peningkatan kepatuhan wajib pajak. Semakin tinggi pemahaman yang dilakukan melalui sosialisasi maka akan meningkatkan kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak sehingga dapat meningkatkan pula kepatuhan wajib pajak (Ananda et al., 2015).
Sosialisasi dapat di ukur dari 5 indikator yaitu, Penyuluhan, Diskusi, Informasi secara langsung, Pemasangan reklame, dan Website (Ananda et al., 2015). Pengaruh sosialisasi telah dibahas oleh beberapa penelitian sebelumnya (Noza, 2016 ) dan (Andayani, 2018) menyatakan bahwa pengaruh sosialisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Kurangnya Sosialisasi yang dilakukan oleh KPP Pratama Bandung Cicadas mengakibatkan adanya wajib pajak yang masih belum terdaftar.
Dengan penyuluhan perpajakan secara intensif dan kontinyu akan meningkatkan pemahaman wajib pajak tentang kewajiban membayar pajak sebagai wujud gotong royong nasional dalam menghimpun dana untuk kepentingan pembiayaan
pemerintahan dan pembangunan nasional (Andayani, 2018). Pentingnya aspek pengetahuan perpajakan bagi wajib pajak sangat mempengaruhi sikap pajak terhadap sistem perpajakan yang adil. Negara yang di anggap adil apabila memiliki kualitas pengetahuan yang baik sehingga dapat memenuhi kewajiban nya dengan benar (Andayani, 2018). Pengetahuan dapat di ukur dari 3 indikator (Aswati et al., 2018) : Pengetahuan mengenai Ketentuan umum dan Tatacara Perpajakan, Pengetahuan mengenai sistem perpajakan dan Sanksi perpajakan dan administrasi
Pengaruh pengetahuan telah dibahas oleh beberapa penelitian sebelumnya (Indrawan, 2016) dan (Ginting et al., 2017) menyatakan bahwa pengaruh pengetahuan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Rendahnya Pengetahuan perpajakan yang dimiliki oleh wajib pajak UMKM mengakibatkan pelaporan administrasi pada KPP Pratama Bandung Cicadas masih kurang baik. Dalam Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE-98/PJ/2011 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kerja dan Laporan Kegiatan Penyuluhan Perpajakan (sosialisasi) Unit Vertikal di Lingkungan Direktorat Jenderal Pajak, disebutkan bahwa upaya untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang hak kewajiban perpajakannya harus terus dilakukan agar mencapai tujuannya, maka kegiatan sosialisasi atau penyuluhan perpajakan dibagi ke dalam tiga fokus, yaitu kegiatan sosialisasi bagi calon wajib pajak, kegiatan sosialisasi bagi wajib pajak baru, dan kegiatan sosialisasi bagi wajib pajak terdaftar.
Dalam Theory of Planned Behavior menjelaskan bahwa perilaku yang di akibatkan oleh individu muncul dikarenakan adanya niat seseorang untuk berperilaku. Niat perilaku merupakan sebuah variable perantara dalam membentuk perilaku yang artinya