KETENTUAN UMUM PERPAJAKAN (KUP)
Sistem Pemungutan Pajak
Fungsi Pajak
Jenis-jenis Pajak
Wajib Pajak
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan Nomor Pokok Pengusaha
Kepatuhan Wajib Pajak
Kewajiban Wajib Pajak
- Pembayaran, Pemotongan/ Pemungutan dan Pelaporan
Surat Pemberitahuan
Batas Penyampaian SPT
Denda Keterlambatan atau Tidak Menyampaikan SPT
Pemeriksaan Pajak
PAJAK PENGHASILAN (UMUM)
Objek Pajak
Subyek perpajakan adalah penghasilan atau tambahan kemampuan ekonomi, yang diterima atau diperoleh secara wajib. Pajak penghasilan sendiri dibedakan menjadi dua (2) menurut objeknya, yaitu objek pajak (penghasilan yang dikenakan pajak) dan objek bukan pajak (penghasilan yang tidak dikenakan pajak). Subjek pajak adalah penghasilan dalam bentuk dan nama apa pun, yang wajib dikenakan pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
Dalam hal pos pajak, jenis pajaknya akan dibedakan menjadi dua, yakni pajak definitif dan pajak tidak lengkap. Perbedaan antara pajak final dan pajak tidak lengkap adalah dalam hal pajak bersifat final, penghitungan besarnya pajak tidak dapat dikreditkan pada akhir tahun pajak, namun dalam hal pajak tidak bersifat final, jumlah pajaknya tetap dapat dikreditkan. dikreditkan ke PPh pada akhir tahun. Kontraktor atau kontraktor dengan tarif pajak 2% (kontraktor kecil) dan 3% (kontraktor menengah atas) - Kontrol, tarif pajaknya 4%.
Sumbangan tersebut antara lain zakat yang diterima oleh Badan Amil Zakat yang pendiriannya diakui secara resmi oleh pemerintah. Dividen atau sebagian keuntungan yang diterima PT, dengan ketentuan dividen tersebut berasal dari cadangan keuntungan yang dialihkan dengan jumlah saham paling sedikit 25%.
Deductible Expenses dan Non Deductible Expenses
Biaya yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan kegiatan usaha, seperti pembelian, gaji, upah, sewa, bunga, perjalanan dan banyak lagi. Sumbangan bencana nasional adalah sumbangan bencana yang telah mendapat persetujuan pengadilan bahwa bencana tersebut telah dikategorikan sebagai bencana nasional (misalnya tsunami). J. Biaya yang tidak dapat dikurangkan adalah biaya yang tidak dapat diperhitungkan sebagai beban, yaitu biaya untuk menerima, menagih, dan memelihara penghasilan yang tidak dikenakan pajak.
Imbalan berupa natura dan kesenangan, selain makanan dan minuman bagi seluruh karyawan dan persyaratan kerja serta natura dan kesenangan untuk bidang tertentu: . - seragam satpam, pegawai kerja.. makanan dan minuman untuk seluruh awak kapal. - Perekrutan dan pemberhentian pegawai untuk wilayah tertentu dimana tempat perusahaan berada dinyatakan mampu menunjang pembangunan nasional. P. Jumlah yang melebihi pembayaran wajar kepada pemegang saham atau pihak berelasi atas pekerjaan yang dilakukan. G.
Penyusutan dan Amortisasi
Untuk harta berwujud, biaya penyusutan dihitung dengan menggunakan dua metode yang diakui dalam peraturan perpajakan, yaitu metode garis lurus dan metode saldo menurun. Dimiliki dan dipergunakan oleh Wajib Pajak (baik hak milik maupun hak pakai). Dalam peraturan perpajakan, masa manfaat suatu aset ditentukan sehingga perusahaan tidak dapat menentukan masa manfaat dari aset yang dimilikinya.
Di bawah ini adalah pengelompokan masa manfaat aset yang dibagi menjadi empat kelompok dan kelompok konstruksi. Dalam hal ini masa manfaat penyusutan sama dengan masa manfaat penyusutan, yang membedakan hanya tidak adanya kelompok bangunan. Contoh harta yang penyusutannya menggunakan amortisasi adalah harta yang berupa hak paten, hak cipta, hak merek atau royalti dan sejenisnya yang tidak mempunyai bentuk yang dapat dilihat oleh mata.
Pajak Bagi Pelaku Usaha Kecil
PAJAK PENGHASILAN POTONG-PUNGUT
Pajak Penghasilan Pasal 22 (PPh 22)
Nantinya, wajib pajak tidak akan menerima penghasilan sebesar 100% dari harga jual, melainkan harus dipotong PPH pasal 22. Karena begitu kompleksnya fungsi pajak dalam modernisasi, maka Direktorat Pajak harus melakukan pendekatan berbeda terhadap wajib pajak. untuk mencapai terlaksananya aspek pelayanan. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa peran Account Representative adalah sebagai pihak yang memberikan pelayanan dan membangun jembatan antara Direktorat Jenderal Pajak dengan wajib pajak.
Berdasarkan fakta yang ditemukan di lapangan, maka dapat disimpulkan bahwa Account Representative belum mampu memaksimalkan tugasnya dalam melayani dan mengawasi Wajib Pajak. Jadi dapat disimpulkan bahwa keberadaan account representatif sangat penting bagi wajib pajak dan pemerintah karena AR melakukan pengawasan langsung terhadap wajib pajak. Maka yang menjadi pertanyaan saat ini adalah (1) Bagaimana pemahaman Wajib Pajak terhadap Account Representative?, (2) Bagaimana cara KPP Pratama Pares melakukan sosialisasi kepada calon Wajib Pajak terkait bea masuk AR?, (3) Bagaimana retribusi AR dimanfaatkan oleh Wajib Pajak? ?, dan (4) Bagaimana AR menjalankan tugasnya kepada Wajib Pajak untuk meningkatkan kepatuhan.
AR merupakan penghubung antara KPP dan Wajib Pajak yang bertanggung jawab atas transmisi informasi perpajakan yang efisien dan profesional. Subyek penelitian ini adalah wajib pajak yang terdaftar di KPP Pratama Pare dan Kediri, baik wajib pajak badan maupun wajib pajak badan. Wajib Pajak telah terdaftar di KPP Pratama Pare dan Kediri minimal satu tahun kalender (12 bulan).
Dari segi pemahaman wajib pajak terhadap Account Representative, ada tiga informan wajib pajak yang belum memahami apa itu Account Representative (AR) atau tugasnya sama sekali. Terkait dengan penyampaian tugas Account Representative oleh KPP Pratama Pare dan Kediri kepada calon Wajib Pajak, ketiga informan Wajib Pajak tersebut tidak pernah diberikan pengarahan oleh KPP mengenai apa itu AR dan tugasnya. Terkait penggunaan tanggung jawab AR oleh Wajib Pajak, Ibu Atina dan Ibu Mar'atus mengaku tidak pernah menerima layanan dari AR.
Kepatuhan Wajib Pajak merupakan pemenuhan kewajiban perpajakan yang dilakukan oleh Wajib Pajak untuk memberikan kontribusi terhadap pembangunan negara, yang diharapkan dipenuhi secara sukarela. Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang ada di masyarakat yaitu tingkat kesadaran wajib pajak dan kepatuhan terhadap peraturan perpajakan bagi pengusaha kecil yaitu UKM. Disini penulis ingin menganalisis seberapa dalam kesadaran dan kepatuhan para wajib pajak karena UMKM merupakan wajib pajak kecil dan mempunyai kewajiban membayar pajak setiap bulannya sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.
Kesadaran membayar pajak sudah melekat pada diri wajib pajak, karena Anda sebagai seorang pengusaha tidak bisa lepas dari aturan yang ada. Respon Wajib Pajak Terhadap Penerapan Account Representative (Survei Pada Kantor Pelayanan Pajak Madya Bandung).