Keunggulan lainnya, artikel ini dapat menjadi referensi penggunaan bahan tambahan pangan dalam kehidupan sehari-hari. Bahan tambahan pangan digunakan untuk keperluan teknologi dalam produksi, pengolahan, penyiapan, penanganan, pengemasan dan penyimpanan (Cahyadi, 2008). Contoh bahan tambahan pangan pada kelompok ini adalah residu pestisida (termasuk insektisida, herbisida, fungisida dan rodentisida) dan antibiotik.
Bahan tambahan pangan untuk mencegah atau mengurangi laju penggumpalan atau penggumpalan pangan yang mempunyai sifat higroskopis atau mudah menyerap air. Bahan tambahan makanan yang dapat memberikan rasa manis pada makanan yang tidak mempunyai nilai gizi. Bahan tambahan pangan yang dapat mempercepat proses pemutihan tepung dan/atau pematangan tepung untuk meningkatkan mutu penanganan.
Bahan tambahan pangan yang dapat membantu membentuk atau menstabilkan sistem dispersi homogen dalam pangan. Bahan tambahan makanan dapat mencegah fermentasi, pengawetan, atau degradasi makanan lainnya yang disebabkan oleh mikroorganisme. Bahan tambahan pangan yang dapat mengikat ion logam pada pangan untuk mencegah oksidasi yang dapat menyebabkan perubahan warna dan rasa.
Bahan tambahan pangan yang berasal dari hewan, tumbuhan atau mikroorganisme yang dapat menguraikan makanan secara enzimatis.
Penjelasan beberapa jenis Bahan Tambahan Makanan
Sejak abad ke-19, senyawa kimia tersebut telah digunakan sebagai bahan tambahan pangan dalam pembuatan makanan, minuman, dan makanan ringan. Senyawa kimia sebagai bahan tambahan pangan antara lain pewarna sintetik mempunyai kelebihan antara lain pewarna sintetik lebih mudah diperoleh atau dibeli, mudah digunakan, hasil terukur dan mudah dikenali residunya pada pangan yang bersangkutan. Penggunaan bahan tambahan pangan yang dinyatakan terlarang pada pangan, atau penggunaan bahan tambahan pangan yang diperbolehkan namun melebihi batas aman, masih banyak dijumpai di pasaran.
Pemanis buatan (sintesis) merupakan bahan tambahan yang dapat memberi rasa manis pada pangan, namun tidak mempunyai nilai gizi (Yuliarti, 2007). Meskipun penggunaannya diperbolehkan, peraturan mengharuskan penggunaannya dibatasi pada pemanis buatan dan bahan kimia lainnya. Pasalnya, meskipun pemanis buatan tersebut aman dikonsumsi dalam jumlah kecil, namun dalam batas tertentu tetap menimbulkan risiko bagi kesehatan manusia dan hewan yang mengonsumsinya.
ADI adalah jumlah maksimum pemanis buatan dalam mg/kg berat badan yang dapat dikonsumsi setiap hari sepanjang hidup tanpa menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan (Yuliarti, 2007). Dalam menentukan jenis pemanis buatan yang boleh digunakan dalam produk pangan, banyak aspek yang diperhatikan, antara lain nilai kalori, tingkat kemanisan, sifat toksik, pengaruhnya terhadap metabolisme, gula darah, dan organ tubuh manusia. Oleh karena itu, selain ketentuan penggunaan pemanis buatan juga harus disertai dengan batasan jumlah maksimal penggunaan (Ambarsari, 2008).
Penggunaan pemanis buatan yang semula hanya ditujukan pada produk khusus penderita diabetes, kini semakin banyak ditemukan pada berbagai produk makanan pada umumnya. Beberapa pemanis buatan bahkan dapat digunakan oleh konsumen atau ditambahkan langsung pada makanan atau minuman sebagai pengganti gula. Propaganda penggunaan pemanis buatan umumnya dikaitkan dengan masalah kesehatan seperti: pengendalian berat badan, pencegahan kerusakan gigi, dan bagi penderita diabetes diklaim dapat mengendalikan peningkatan kadar gula darah.
Anda harus berhati-hati dalam menggunakan pemanis buatan karena jumlah yang berlebihan dapat menimbulkan efek samping yang merugikan kesehatan manusia. Sejalan dengan hal tersebut, standar penggunaan pemanis buatan pada produk pangan telah ditetapkan di negara-negara Eropa, Amerika dan juga di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi penerapan standar penggunaan pemanis buatan dan batas maksimal penggunaannya pada berbagai produk makanan seperti minuman, permen/roti, permen karet dan produk suplemen kesehatan (Yuliarti, 2007).
Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia (BPOM) mengenai persyaratan penggunaan bahan tambahan makanan pemanis buatan pada makanan disebutkan bahwa pemanis buatan tidak boleh digunakan pada makanan olahan tertentu untuk dikonsumsi oleh kelompok tertentu, misalnya. bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan. Penyedap rasa dan aroma merupakan bahan tambahan pangan yang dapat memberikan, mempertinggi atau mempertegas rasa dan aroma (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 1988).
Aturan Penggunaan Bahan Tambahan Makanan
SEKUESTRAN
Produsen pangan di rumah tangga atau industri kecil menggunakan bahan tambahan yang dinyatakan berbahaya bagi kesehatan karena alasan biaya. Mengonsumsi makanan yang mengandung formaldehida atau Rhodamin dapat menyebabkan kerusakan organ dalam dan kanker. Beberapa bahan tambahan yang dilarang digunakan pada makanan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 722/Menkes/Per/IX/88, sebagai berikut.
Sedangkan menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1168/Menkes/PER/X/1999, selain bahan tambahan di atas, masih ada bahan tambahan kimia yang dilarang seperti Rhodamin B (pewarna merah), Methanel yellow (pewarna kuning), Dulsin ( sintetis). pemanis) dan kalsium bromat (pengeras). ). Asam Borat atau Boraks (asam borat) merupakan bahan pengawet berbahaya yang tidak boleh digunakan sebagai campuran bahan makanan. Asam salisilat (asam orto-Hydroxybenzoic) dapat mencegah jamur pada buah dan telah digunakan di pabrik cuka.
Namun penggunaan asam salisilat sebagai pengawet makanan sebagaimana diatur oleh pemerintah Amerika pada tahun 1904 disalahgunakan sebagai pengawet makanan oleh oknum produsen makanan. Dalam sebuah penelitian mengenai sup sayur disebutkan bahwa sup sayur non-organik mengandung asam salisilat hampir enam kali lebih banyak dibandingkan sup sayur organik. Namun jika kandungan asam salisilat terlalu tinggi dan masuk ke dalam tubuh, dapat terjadi gangguan kesehatan, misalnya pengerasan dinding pembuluh darah dan kanker saluran pencernaan.
Diethylpyrocarbonate (DEP) merupakan bahan kimia karsinogenik yang mengandung unsur kimia C6H10O5, yaitu bahan kimia sintetik yang tidak terdapat pada produk alami dan digunakan sebagai pencegah fermentasi pada minuman beralkohol dan non-alkohol. Kalium bromat digunakan oleh pembuat roti dan pembuat roti untuk membantu memanggang roti di oven dan untuk menciptakan tekstur yang lebih baik dalam proses finishing produk akhir. Jika digunakan dalam jumlah kecil, zat ini akan hilang selama pemanggangan atau pemanasan. Pusat Ilmu Pengetahuan untuk Kepentingan Umum (CPSI), organisasi advokasi nutrisi dan kesehatan terkemuka di Amerika Serikat, telah mengajukan permohonan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) untuk melarang penggunaan kalium bromat.
Sejak tahun 1988, pemerintah Indonesia melarang penggunaan kalium klorat sebagai bahan tambahan makanan karena senyawa ini dapat membahayakan tubuh bahkan menyebabkan kematian. Paparan yang terlalu lama dapat menyebabkan methemoglobinemia (penyakit darah), kerusakan hati dan ginjal, iritasi kulit, mata dan pernafasan. Jika dikonsumsi bersama makanan, kalium klorat dapat menyebabkan iritasi gastrointestinal dengan gejala seperti mual, muntah, dan diare.
PENUTUP
Kesimpulan
Bahan tambahan yang ditambahkan secara tidak sengaja, yaitu bahan pangan yang tidak mempunyai fungsi pada pangan, ditemukan secara tidak sengaja, baik dalam jumlah sedikit maupun banyak akibat penanganan pada saat proses produksi, pengolahan, dan pengemasan. Peraturan penggunaan Bahan Tambahan Pangan di Indonesia telah disusun mengenai Bahan Tambahan Pangan yang boleh ditambahkan dan yang dilarang (disebut Bahan Tambahan Kimia) oleh Kementerian Kesehatan yang diatur dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Indonesia Nomor 1168/MenKes/Per/X/1999.
Saran