FILSAFAT ILMU SEBUAH PENGANTAR POPULER, 2019
NAMA : ANGGUN AGIA ADITHA NIM/KELAS : 1213311066 / J
DOSEN PENGAMPU : ANDRI K SITANGGANG S.Pd, M.Pd MATA KULIAH : FILSAFAT PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN SEPTEMBER 2021
CRITICAL BOOK REPORT MK: FILSAFAT PENDIDIKAN
PRODI S1 PGSD - FIP
Skor Nilai:
EXECUTIVE SUMMARY
Buku yang saya review ini untuk menyelesaikan tugas Critical Book Report berjudul filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer yang ditulis oleh Jujun S. Suriamantri pada tahun 1978. Buku ini memiliki 10 halaman. Bagian-bagian bab sangat jelas, dan mudah untuk dimengerti, buku ini juga menjelaskan tafsiran beberapa ilmuan yang mempunyai pandangan yang berbeda, dan akan timbul peluang untuk memajukan garis depan daerah ketahuanjauh ke dalam daerah ketidaktahuan serta konkret.
Ilmu merupakan salah satu cabang pengetahuan yang sangat pesat, hampir semua aspek masuk dan dipengaruhi oleh keberadaanya
Ilmu merupakan salah satu cabang pengetahuan yang diminati dalam kegiatan pendidikan. Dengan bahasa yang sangat sederhana buku ini membahas permasalahan- permasalahan seperti, hakikat ilmu dengan prosedur keilmuan dan membahas tentang logika, bahasa, statistika terhadap moral kebudayaan.
Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu yang besar, dimulai dengan rasa bimbang yang menyelimuti pertanyaan dan filsafat memulai dengan kedua-duanya.
Filsafat juga berarti berendah hati mengevaluasi segenap pengetahuan yang telah kita ketahui.
Buku ini dimaksud untuk mengisi kekosongan dalam bidang filsafat ilmu agar kalangan masyarakat mengenal bidang keilmuan dengan baik dari berbagai aspek. Penerbitan ini ditujukan untuk masyarakat luas dengan harapan mempercepat perkembangan teori keilmuan dalam hidup. Untuk mengajak kecintaan pada ilmu yang semoga dapat mendorong untuk mempelajari lebih mendalam. Tuuan utama dari buku ini adalah adalah untuk mengenal alur- alur berfikir dalam kegiatan keilmuan dan coba menerapkan keada masalah praktis di sekitar.
Dengan dibuatnya cbr ini untuk mengetahui inti dari apa yang ada di buku dan mengetahui kekurangan serta kelebihannya. Buku ini cukup membahas hal hal yang mendidik dan banyak dari manusia awam belum mengetahuinya. Buku ini juga mudah untuk dipahami tapi juga tak banyak yang susah untuk dimengerti. Buku ini sangat cocok untuk dibaca bagi orang yang ingin mengetahui ilmu yang lebih luas, ilmu yang diharapkan oleh seorang ilmuan. Cbr ini dibuat untuk mengetahui hal hal penting dari buku yang ingin dibaca nanti. Dengan begitu akan memudahkan pembaca untuk mengkaji lebih dalam dari buku yang di review ini.
KATA PENGANTAR
Puji Syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat karunia Penulis dapat menyelesaikan Critical Book Report dengan Mata Kuliah Filsasat Pendidikan yang diberikan oleh dosen yang bernama Andri K Sitanggang S.Pd, M.Pd. Tujuan Penulis membuat Makalah Critical Book Report mengenai filsafat ilmu untuk menambah wawasan pengetahuan Oleh sebab itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah saya buat, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran.
Semoga makalah sederhana ini dapat mudah dipahami bagi siapapun yang membacanya dan berkenan di hati Para Saudara/I kiranya laporan yang telah Penulis susun ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang yang membacanya.Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.
Demikianlah Makalah yang Penulis sajikan kepada saudara/i mengucapkan Sekian dan Terimakasih.
Medan, 13 September 2021
Anggun Agia Arditha
DAFTAR ISI
EXECUTIVE SUMMARY ... 2
KATA PENGANTAR ... 3
DAFTAR ISI ... 4
BAB I PENDAHULUAN ... 5
1.1 Rasionalisasi Pentingnya CBR ... 5
1.2 Tujuan Penulisan CBR ... 5
1.3 Manfaat CBR ... 5
1.4 Identitas Buku ... 5
BAB II RINGKASAN ISI BUKU ... 6
2.1 BAB 1 KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT ... 6
2.2 BAB 2 DASAR DASAR PENGETAHUAN ... 7
2.3 BAB 3ONTOLOGI: HAKIKAT APA yang DIKAJI ... 7
2.4 BAB 4 EPISTEMOLOGI: CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN ... 9
2.5 BAB 5 SARANA BERPIKIR ILMIAH ... 10
2.6 BAB 6 AKSOLOGI: NILAI KEGUNAAN ILMU ... 11
2.7 BAB 7 ILMU DAN KEBUDAYAAN ... 12
2.8 BAB 8 ILMU DAN BAHASA ... 13
2.9 BAB 9 PENELITIAN DAN PENULISAN ILMIAH ... 14
2.10 BAB 10 PENUTUP... 15
BAB III PEMBAHASAN ... 16
3.1 KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU. ... 16
BAB IV PENUTUP ... 17
5.1 KESIMPULAN ... 17
5.2 REKOMENDASI ... 17
DAFTAR PUSTAKA ... 18
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Rasionalisasi Pentingnya CBR
Pentingnya cbr adalah untuk menarik mahasiswa untuk lebih mau membaca buku yang ilmiah dan berpengatahuan.
1.2 Tujuan Penulisan CBR
Tujuan Penulis membuat Makalah Critical Book Report mengenai filsafat ilmu untuk menambah wawasan pengetahuan tentang filsafat. Dan penyelesaian tugas makalah ini sangatlah tidak mudah, menambah pengetahuan untuk saya yang otomatis membaca buku ini, meningkatkan wawasan saya, dan menguatkan saya untuk mempelajari filsfat pendidikan
1.3 Manfaat CBR
Manfaat CBR ini untuk menarik minat baca bagi masyarakat dan menambah wawas bagi masyarakat yang membacanya.
1.4 Identitas Buku
1. Judul : Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer.
2. Edisi : 2019
3. Pengarang : Jujun S. Suriasumantri 4. Penerbit : Pustaka Sinar Harapan 5. Kota terbit : Jakarta 6. Tahun terbit : 2019
7. ISBN : 979–416–899-8
BAB II
RINGKASAN ISI BUKU
2.1 BAB 1 KE ARAH PEMIKIRAN FILSAFAT
Pasukan infanteri ini adalah sebagai pengetahuan yang di antara nya adalah ilmu.
Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Setelah itu ilmulah yang membelah gunung dan me rambah hutan, menyempurnakan kemenangan ini menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan. Sepintas hala kelihatannya memang demikian, dan kesalahpahaman ini dapat segera dihilangkan, sekiranya kita sadar bahwa filsafat adalah marini yang merupakan pionir, bukan pengetahuan yang bersifat memerinci.Filsafat menyerahkan daerah yang sudah dimenangkannya kepada ilmu pengetahuan pengetahuan lainnya. Di sini orang tidak lagi mempermasalahkan moral secara keseluruhan melainkan dikaitkan dengan kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kemudian berkembang menjadi ilmu ekonomi. Dalam tahap per tama maka asas religilah yang dijadikan postulat ilmiah sehingga ilmu merupakan deduksi atau penjabatan dari ajaran religi.
Tahap kedua orang mulai berspekulasi tentang metafisika ujud yang menjadi obyek penelaahan yang terbebas dari dogma religi dan mengem bangkan sistem pengetahuan di atas dasar postulat metafisik tersebut.Hari ini selaras dengan usaha peningkatan kemampuan pena laran maka filsafat ilmu menjadi ngetop, sedangkan dalam masa-ma sa mendatang maka yang akan menjadi perhatian kemungkinan besar bukan lagi filsafat ilmu, melainkan filsafat moral yang berkaitan dengan ilmu. Kadang kurang disadari bahwa tiap ilmu, terutama ilmu-ilmu sosial, mempunyai asumsi tertentu tentang manusia yang menjadi lakon utama dalam kajian keilmuannya. Mungkin ada baiknya kita mengambil contoh yang agak berdekatan yakni ilmu ekonomi dan manajemen. Kedua ilmu ini mempunyai asumsi tentang manusia yang berbeda.
Ilmu ekonomi mempunyai asumsi bahwa manusia adalah makhluk ekonomi yang bertujuan mencari kenikmatan sebesar-besarnya dan menjauhi ketidaknyamanan semungkin bisa.
Sedang ilmu manajemen mempunyai asumsi lain tentang manusia sebab bidang telaah ilmu manajemen lain dengan lain eko nomi. Tentu saja tidak, bukan, dan untuk itu manajemen mempunyai beberapa asumsi tentang manusia tergantung dari perkem bangan dan lingkungan masing-masing seperti makhluk ekonomi, makhluk sosial dan makhluk aktualisasi diri.
Mengkaji permasalahan manajemen dengan asumsi manusia dalam kegiatan ekonomis akan me nyebabkan kekacauan dalam analisis yang bersifat akademik. kalimat ini harus kita gantung di tiap pintu masing-masing disiplin ke ilmuan. Cabang-cabang Filsafat. Pokok permasalahan yang dikaji filsafat mencakup tiga segi yakni apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah , mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk , serta apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek . Kelima cabang utama ini kemudian ber kembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian yang lebih spesifik di antaranya filsafat ilmu.
2.2 BAB 2 DASAR DASAR PENGETAHUAN
Menurut Andi Hakim Nasoetion, dalam sebuah ceramahnya di depan yar televisi, sekiranya binatang mempunyai kemampuan menalar, maka bukan harimau Jawa yang sekarang ini akan dilestarikan supaya gan punah, melainkan manusia Jawa. Seekoor kera tahu mana buah jambu yang enak. Anak tikus ini tentu saja induknya untuk sampai pada pengetahuan bahwa kucing itu berbahaya. Alkisah, menurut cerita yang terdapat dalam khasanah humor ilmiah seorang peneliti ingin menemukan apa yang sebenarnya menyebabkan manusia itu mabuk.
Untuk itu dia mengadakan penyelidikan dengan mencampur berbagai minuman keras.
Akhirnya dia mencampur air dengan tuak yang juga, seperti kedua campuran terdahulu, menyebabkan dia mabuk. Berdasarkan penelitian itu maka dia menyimpulkan bahwa airlah yang menyebabkan manusia itu mabuk. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap sahih Terdapat bermacam-macam cara penarikan kesimpulan namun untuk sesuai dengan tujuan studi yang memusatkan diri kepada penalaran ilmiah, kita akan melakukan penelaahan yang saksama hanya terhadap dua jenis cara penarikan kesimpulan, yakni logika induktif dan logika deduktif.
Descartes, Kebenaran adalah pernyataan tanpa ragu. Baik logika deduktif maupun logika induktif, dalam proses penalar-annya, mempergunakan premis-premis yang berupa pengetahuan yang dianggapnya benar. Kenyataan ini membawa kita kepada sebuah pernya- taan: bagaimanakah caranya kita mendapatkan pengetahuan yang benar itu? Pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk ndapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah m kan diri kepada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Seorang anak kecil yang baru masuk sekolah, setelah tiga hari berselang, mogok tidak mau belajar. “Tiga hari yang lalu dia berkata bahwa 3 + 4 = 7. Dua hari yang lalu berkata 5 +2 = 7. Permasalahan yang sederhana ini membawa kita kepada apa yang disebut teori kebenaran". Tidak semua manusia mempunyai persyaratan yang sama terhadap apa yang dianggapnya benar, termasuk anak kecil kita tadi, yang dengan pikiran kekanak- kanakannya mempunyai Kriteria kebenaran tersendiri.
2.3 BAB 3ONTOLOGI: HAKIKAT APA yang DIKAJI METAFISIKA
Metafisika adalah landasan peluncurannya. Dunia yang sepintas lalu k lihatan sangat nyata ini, ternyata menimbulkan berbagai spekula filsafati tentang hakikatnya. Tafsiran yang paling pertama yang diberikan oleh manusia terhada alam ini adalah bahwa terdapat ujud-ujud yang bersifat gaib (super tural) dan ujud-ujud ini bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandisa kan dengan alam yang nyata. Prinsip-prinsip materialisme ini dikembangkan oleh Democritos Hanya atom dan kehampaan itulah yang bersifat nyata. Hal ini tidak terlalu menimbulkan permasalahan selama di terapkan kepada zat-zat yang mati seperti batuan atau karat besi.
Sedangkan bagi kaum vitalistik hidup adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara substantif dengan proses tersebut di atas. Neuron adalah sel saraf yang merupakan dasar dari
keseluruhan sistem saraf.
ASUMSI
Ya, mungkin saja pistol itu tidak mau menembak orang berdosa, apa lagi seorang nonprofesional yang belum diakreditasi. Dari data yang dapat dikumpul kan ternyata bahwa
dari 100 peluru yang ditembakkan sebuah pistol maka satu di antaranya adalah macet.
Artinya, secara probabilistik, meskipun peluangnya 1 dalam 100, mungkin saja pistol jago kita itu ma cel, yang menyebabkan dia tersambar chance berupa nasib. Ketiga masalah ini yakni determinisme, pilihan bebas dan probabilistik merupa kan permasalahan filsafati yang rumit namun menarik.Tanpa menge nal ketiga aspek fni, serta bagaimana ilmu sampai pada pemecahan ma salah yang merupakan kompromi, akan sukar bagi kita untuk mengenal hakikat keilmuan dengan baik. Nanti dulu, potong konsultan yang merangkap jadi filsuf ilmu, pem bahasan mengenai determinisme, pilihan bebas dan probabilistik itu baru dapat dilakukan sekiranya bahwa hukum semacam itu memang ada.
PELUANG
Jadi berdasarkan teori-teori keilmuan saya tidak akan pernah mendapat kan hal yang pasti mengenal suatu kejadian, tanya seorang awam kepada seorang ilmuwan, Ilmuwan itu menggelengkan kepalanya. Jadi berdasarkan meteorologi dan geofisika saya tidak pernah merasa pasti bahwa esok hari akan hujan atau tidak akan hujan, sambung orang awam kita, kian penasaran. Pertama harus saudara sadari bahwa ilmu tidak pernah ingin tidak berpretensi mendapatkan pengetahuan yang mutlak. memberikan pengetahuan sebagai dasar bagi saudara mengambil keputusan, di mana putusan saudara harus didasarkan penafsiran kesimpulan
yang bersifat relatif.
BEBERAPA ASUMSI DALAM ILMU
Waktu kecil segalanya kelihatan serba besar, pohon natal begitu tinggi semampai, orang- orang tampak seperti raksasa dalam film seri televi The Land of the Giants. Pandangan itu berubah setelah kita berangkat dewasa, du nia ternyata tidak sebesar yang kita kira, ujud yang penuh dengan misteri ternyata hanya begitu saja. Kesemestaan pun menciut, bahkan dunia bisa selebar daun kelor, bagi orang yang putus asa.Katakanlah kita sekarang sedang mempelajari ilmu ukur bidang datar . Tarik garis ke sana, buat garis ke sini, hitung berapa besar sudut yang menyilang, hitung berapa panjang garis berhadapan. Analisis seperti ini kita lakukan untuk membuat konstruksi kayu bagi atap rumah kita. Sekarang dalam bidang datar yang sama bayangkan para amuba mau bikin rumah juga. Ternyata masalah yang dihadapi
arsitek-arsitek amuba berbeda dengan kita.
BATAS-BATAS PENJELAJAHAN ILMU
Baik hal-hal yang terjadi sebelum hidup kita, maupun apa-apa yang terjadi sesudah kematian kita, semua itu berada di luar penjelajahan ilmu. Ilmu diharapkan membantu kita memerangi penyakit, membangun jembatan, membikin irigasi, membangkitkan tenaga listrik, mendidik anak, memeratakan pendapatan nasional dan sebagainya. Persoalan mengenai hari kemudian tidak akan kita tanyakan kepada ilmu, melainkan kepada agama, sebab agamalah pengetahuan yang mengkaji masalah-masalah seperti itu. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman ma nusia juga disebabkan metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris.
Cabang-cabang ilmu
Ilmu berkembang dengan sangat pesat dan demikian juga jumlah ca bang-cabangnya. Pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari dua ca bang utama yakni filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu ilmu alam dan filsafat moral yang kemudian ber kembang ke dalam cabang ilmu-ilmu sosial . Ilmu ilmu alam membagi diri kepada dua kelompok lagi yakni ilmu alam dan ilmu hayat . Ilmu alam bertujuan mempelajari zat yang
membentuk alam semesta sedangkan alam kemudian bercabang lagi menjadi fisika , kimia , astronomi dan ilmu bumi Matematika merupakan sarana berpikir yang penting sekali dalam kegiatan berbagai disiplin ke ilmuan.
2.4 BAB 4 EPISTEMOLOGI: CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN
Pernahkah Anda mendengar seorang tukang obat menawarkan panacea di kaki lima yang berkata, (Untuk kaku, pegel linu, darah tinggi, sakit bengek, eksim, keputihan, sukar tidur, hilang nafsu makan, kurang jantan ... makanlah tablet ini tiga kali sehari, diguyur dengan air minum, yang hamil dilarang makan?) Raja obat yang mampu mengobati segala macam penyakit ini adalah warisan dari zaman dulu, di mana pada waktu itu, pembedaan antara ujud yang satu dengan ujud yang lain, belum dilakukan. Seorang ahli di bidang peternakan ayam akan dranggap ahli dalam masalah perkawinan, kebatinan, perdagang-an, ekonomi, seks, kenakalan remaja dan entah apa saja. ''Jadi kalau sekarang kita melihat seorang profesor psikiatri mencan-tumkan gelarnya waktu main ketoprak, maka gejala ini dapat dianggap sebagai sindrom tempo doeloe, kan?'' tanya seorang peserta seminar. Tidak terdapat jarak yang jelas antara objek yang satu dengan yang lain. Antara ujud yang satu dengan yang lain.
Konsep dasar ini baru mengalami perubahan fundamental dengan berkembangnya Abad Penalaran pada pertengahan abad ke -17. Tentu saja dengan mudah menjawab bahwa pengetahuan bermain gitar itu bukanlah ilmu melainkan seni. Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu obyek tertentu, termasuk ke dalamnya adalah ilmu, jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui oleh manusia di samping berbagai pengetahuan lainnya seperti seni dan agama. Bahkan seorang anak kecil pun telah mempunyai berbagai pengetahuan sesuai dengan tahap pertumbuhan dan kecerdasannya. Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara lang-sung atau tak langsung turut memperkaya kehidupan kita. Sukar untuk dibayangkan bagaimana kehidupan manusia seandainya pengetahuan itu tak ada, sebab pengetahuan merupakan sumber jawaban bagi berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan. Tiap jenis pengetahuan pada dasarnya menjawab jenis pertanyaan tertentu yang diajukan, Oleh sebab itu agar kita dapat memanfaatkan segenap pengetahuan kita sccara maksimal maka harus kita ketahui jawaban apa saja yang mungkin bisa diberikan olch suatu pengetahuan tertentu. Atau dengan kata lain, perlu kita ketahui kepada pengetahuan mana suatu pertanyaan tertentu harus kita ajukan. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan dapat disebut ilmu tercantum dalam apa yang dinamakan dengan metode ilmiah. Seperti diketahui berpikir adalah kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan. Dengan cara bekerja ini maka pengetahuan yang dihasilkan diharapkan mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu yang oleh pengetahuan ilmiah, yaitu sifat rasional dan teruji yang memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusunnya merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan.
Pengetahuan yang diproses menurut metode ilmiah merupakan pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat keilmuan, dan dengan demikian dapat disebut pengetahuan ilmiah atau ilmu.
Ilmu dapat dibaratkan sebagai piramida terbalik dengan perkembangan pengetahuannya yang bersifat kumulatif di mana penemuan pengetahuan ilmiah yang satu memungkinkan penemuan pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang lainnya. Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal diakui sebagai per-nyataan pengetahuan ilmiah yang baru yang memperkaya khasanah ilmu yang telah ada. Metode ilmiah mempunyai mekanisme umpan balik yang bersifat korektif yang memungkinkan upaya keilmuan menemukan kesalahan yang mungkin diperbuatnya. Sebaliknya bila ternyata bahwa sebuah pengetahuan ilmiah yang baru itu adalah benar, maka pernyataan yang dung dalam pengetahuan ini dapal dipergunakan sebagai baru dalam kerangka pemikiran yang menghasilkan hipotesis-hipotesis baru, yang bila kemudian ternyata dibenarkan dalam proses pengujian akan menghasilkan pengetahuan- pengetahuan ilmiah baru pula.
2.5 BAB 5 SARANA BERPIKIR ILMIAH
SARANA BERPIKIR ILMIAH
Oleh sebab itu lah maka sebelum kita mempelajari sarana-sarana berpikir ilmiah ini seyogyanya kita telah menguasai langkah-langkah dalam kegiatan ilmiah tersebut. Sarana berpikir ilmiah ini, dalam proses pendidikan kita, merupakan bidang studi tersendiri. Artinya kita mempelajari sarana berpikir ilmiah ini seperti kita mempelajari berbagai cabang ilmu. Pertama, sarana ilmiah bukan merupakan mu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah.
Jelaslah sekarang kiranya mengapa sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya, sebab fungsi sarana ilmiah adalah mem bantu proses metode ilmiah, dan bukan merupakan ilmu itu sendiri. Untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dan statis lika. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam se luruh proses berpikir ilmiah di mana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain. Untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada proses logika deduktif dan
logika induktif.
Proses pengujian dalam kegiatan ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada haki katnya merupakan pengumpulan fakta untuk mendukung atau menolak hipotesis yang diajukan. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik harus di dukung oleh
penguasaan sarana berpikir ini dengan baik pula.
BAHASA
Mungkin tak ada yang lebih menya dari kebenaran pernyataan Wittgenstein selain monyet si Didi, Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt. Komunikasi ilmiah harus bersifat reproduktif, artinya bila si pengirim komunikasi menyampaikan suatu formasi yang katakanlah berupa x, maka si penerima komunikasi ha nu menerima informasi yang berupa x pula. Informasi x yang diterima harus merupakan reproduksi yang benar-benar sama dari informasi x yang dikirimkan. kataan lain, bahasa ilmiah haruslah bersifat antiseptik dan reproduktif, Kekurangan yang kedua terletak pada arti yang tidak jelas dan eksak yang dikandung oleh kata-kata yang membangun bahasa. Jika kita ingin mengetahui arti dari istilah ilmu umpamanya, yang menjadi pokok pembicaraan kita selama ini, maka sukar sekali bagi kita untuk mendefinisi kan ilmu tersebut dengan sejelas dan seeksak
mungkin, bagaimanapun hal itu kita coba.
MATEMATIKA
Matematika Sebagai Bahasa
Bahasa verbal seperti telah kita lihat sebelumnya mempunyai beberapa kekurangan yang sangat mengganggu. Suami istri yang sedang berbulan madu itu mengalami sendiri betapa sengsara jadinya disebabkan komu nikasi yang buntu. Lambang-lambang dari matematika dibikin secara artifisal dan individual yang merupakan perjanjian yang berlaku khusus untuk masalah yang sedang kita kaji. Sebuah obyek yang sedang kita telaah dapat kita lambangkan
dengan apa saja sesuai dengan perjanjian kita.
Sifat Kuantitatif dari Matematika
Matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan ta untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif. Dengan babasa ver bal bila kita membandingkan dua obyek yang berlainan umpamanya gajah dan semut maka kita hanya bisa mengatakan gajah lebih besar dari semut. Bahasa verbal hanya mampu mengemukakan pernyataan yang bersifat kualitatif.
Filsafat Matematika
Dalam bagian terdahulu telah disebutkan dua pendapat tentang matema ka yakni dari Immanuel Kant yang berpendapat bahw matematika merupakan pengetahuan yang bersifat sintetik aprion & mana eksistensi matematika tergantung dari pancaindera serta pendapa dari aliran yang disebut logistik yang berpendapat bahwa matematika me rupakan cara berpikir logis yang salah atau benarnya dapat ditentukan tanpa mempelajari dunia empiris. Tesis ini mula-mula dikembangkan oleh Gottlob Frege yang menyatakan bahwa hukum bilangan dapat
direduksikan ke dalam proposisi-proposisi logika.
Statistika danCara Berpikir Induktif
Ilmu secara sederhana dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yang telah teruji kebenarannya.
Karakteristik Berpikir Induktif
Kesimpulan yang didapat dalam berpikir deduktif merupakan suatu hal yang pasti, di mana jika kita mempercayai premis-premis yang dipakai se bagai landasan penalarannya, maka kesimpulan penalaran tersebut juga dapat kita percayai kebenarannya sebagaimana kita mempercayai premis premis terdahulu. Hal ini tidak berlaku dalam kesimpulan yang ditarik se cara induktif, meskipun premis yang dipakainya adalah benar dan pe nalaran induktifnya adalah sah, namun kesimpulannya mungkin saja alah.
2.6 BAB 6 AKSOLOGI: NILAI KEGUNAAN ILMU
Penalaran otak orang itu luar biasa, demikian kesimpulan ilmu kerbau dalam makalahnya, namun mereka itu curang dan serakah. Sedangkan sebodoh-bodoh umat kerbau, kita tidak curang dan serakah. Pernyataan yang lugu ini, namun benar dan kena, sungguh menggelitik nurani kita. Merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa peradaban manusia sangat berhutang kepada ilmu dan teknologi. Berkat kemajuan dalam bidang ini maka pemenuban kebutuhan manusia bisa dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudak di samping penciptaan berbagai kemudahan dalam bidang-bidang seperti kesehatan, pengangkutan, pemukiman, pendidikan dan komunikasi. Sejak dalam tahap-tahap pertama pertumbuhannya ilmu sudah dikaitkan dengan tujuan perang. Bukan saja bermacam-macam senjata pembunuh
berhasil dikembangkan namun juga berbagai teknik penyiksaan dan cara memperbudak massa. lmu merupakan hasil karya perseorangan yang dikomunikasikan dan dikaji secara terbuka oleh masyarakat. Sekiranya hasil karya itu memenuhi syarat-syarat keilmuan maka dia diterima sebagai bagian dari kumpulan ilmu pengetahuan dan digunakan oleh masyarakat tersebut. Kreativitas individu yang didukung oleh sistem komunikasi sosial yang bersifat terbuka menjadi proses pengembangan ilmu yang berjalan sangat efektif. Jelaslah kiranya bahwa seorang ilmuwan mempunyai tanggung jawab sosial yang terpikul di bahunya. Secara historis fungsi sosial dari kaum ilmuwan telah lama dikenal dan diakui. Raja Charles II dari Inggris mendirikan The Royal Society yang bertindak selaku penawar bagi fanatisme di masyarakat wakiu itu. Pada tanggal 2 Agustus 1939 Albert Einstein menulis surat kepada presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt yang memuat rekomendasi mengenai serangkaian kegiatan yang kemudian mengarah kepada pembuatan bom atom. Sebagai seorang ilmuwan yang menemukan rumus E = mc² yang menjadi dasar bagi pembuatan bom atom yang dahsyat itu, Einstein merupakan orang yang lebih tahu mengenai akibat dari saran yang dikemukakannya, baik secara fisik maupun secara moral. Bahkan Jerman telah mengambil tindakan ini mungkin dapat dihubungkan dengan fakta bahwa putra Menteri Muda Luar Negeri Jenman, eimsacker, ditugaskan pada Instilut Kaiser Wilhelm di mana beberapa percobaan uranium yang telab dilakukan di Amerika Serikat sedang dicoba kembali. Ilmu dalam perspektif sejarah kemanusiaan mempunyai puncak kecermelangan masing-masing, namun seperti kotak pandora yang terbuka kecemerlangan itu sekaligus membawa malapateka. Kimia merupakan kegemilangan ilmu yang pertama yang dimulai sebagai kegiatan pseudo ilmiah yang bertujuan mencari obat mujarab untuk hidup abadi dan rumus campuran kimia untuk mendapatkan emas. Tak dapat dipungkiri bahwa kemajuan dalam kedua bidang kimia dan fisika membawa manfaat yang banyak untuk kehidupan manusia. Namun di samping berkah ini kemajuan ilmu sekaligus membawa kutuk yang berupa malapetaka. Perang Dunia I menghadirkan bom kuman sebagai kutukan ilmu kimia dan Perang Dunia II memunculkan bom atom sebagai produk fisika. Hal ini bukan berarti bahwa sebelumnya lidak pernah ada penelaahan ilmiah yang berkaitan dengan jasad manusia, tentu saja banyak sekali, namun penelaahan-penelaahan ini dimaksudkan untuk mengembangkan ilmu dan teknologi, dan tidak membidik secara langsung manusia sebagai obyek penelaahan. Artinya, jika kita mengadakan penelaahan mengenai jantung manusia, maka hal ini dimaksudkan untuk mengembangkan ilmu dan teknologi yang berkaitan dengan penyakit jantung.
2.7 BAB 7 ILMU DAN KEBUDAYAAN
Allport, Vernon dan Lindzey yang menghambat kemajuan di bidang imu dan teknologi.
Perbedaan ini menjadi sedemikian tajam seolah-olah kedua golongan ilmu ini membentuk dirinya sendiri yang masing-masing terpisah satu sama lain. Terdapat pranata-pranata sosial, bahkan pranata-pranata pendi kan, yang masing-masing mendukung kebudayaan tersebut, yang makin memperluas jurang perbedaan antara keduanya.
Pengembangan Kebudayaan Nasional
Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur dari kebudayaan. Kebudayaan di sini merupakan seperangkal siston nilai, tata hidup dan sarana bagi manusia dalam kehidupannya. Kebudayaan nasional merupakan kebudayaan yang
mencerminkan aspirasi dan cita-cita suatu bangsa yang diwujudkan dengan kehidupan bernegara. Pengembangan kebudayaan nasional merupakan bagian dari kegiatan suatu bangsa, baik disadari atau tidak maupun dinyatakan secara eksplisit atau tidak.
Ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi yang saling tergantung dan saling mempengaruhi.
Pada satu pihak pengembangan ilmu dalam suatu masyarakat tergantung dari kondisi kebudayaannya. Sedangkan di pihak lain, pengembangan ilmu akan mempengaruhi jalannya kebudaya an. Ilmu terpadu secara intim dengan keseluruhan struktur sosial dan tradisi kebudayaan, kata Talcot Parsons, mereka saling mendukung satu sama lain dalam beberapa tipe masyarakat ilmu dapat berkembang dengan pesat, demikian pula sebaliknya, masyarakat tersebut tak dapat berfungsi dengan wajar tanpa didukung perkembangan yang sehat dari ilmu dan penerapan.Dalam rangka pengembangan kebudayaan nasional ilmu mempunyal
peranan ganda.
Ilmu Sebagai Suatu Cara Berpikir
Ilmu merupakan suatu cara berpikir dalam menghasilkan suatu ke simpulan yang berupa pengetahuan yang dapat diandalkan. Berpikir bukan satu-satunya cara dalam mendapatkan pengetahuan, demikian juga ilmu bukan satu-satunya produk dari kegiatan berpikir, Ilmu me rupakan produk dari proses berpikir menurut langkah-langkah tertentu yang secara umum dapat disebut sebagai berpikir ilmiah. Berpikir ilmiah merupakan kegiatan berpikir yang
memenuhi persya ratan-persyaratan tertentu.
Ilmu Sebagai Asas Moral
Ilmu merupakan kegiatan berpikir untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, atau secara lebih sederhana, ilmu bertujuan untuk men dapatkan kebenaran. Kriteria kebenaran dalam ilmu adalah jelas seba gaimana yang dicerminkan oleh karakteristik berpikir. Kriteria kebenar an ini pada hakikatnya bersifat otonom dan terbebas dari struktur ke kuasaan di luar bidang keilmuan. Nilai-Nilai Ilmiah dan Pengembangan Kebudayaan Nasional Dalam pembentukan karakter bangsa, sekiranya bangsa Indonesia bertujuan menjadi bangsa yang modern, maka ketujuh sifat tersebut akan konsisten sekali. Bangsa yang modern akan menghadapi berbagai permasalahan dalam bidang politik, ekonomi, kemasyarakatan, ilmu/ teknologi, pendidikan dan lain-lain yang membutuhkan cara pemecahan masalah secara kritis, rasional, logis,
obyektif dan terbuka.
Dua Pola Kebudayaan, Polarisasi ini didasarkan kepada kecenderungan beberapa kalangan tertentu untuk memisahkan ilmu ke dalam dua golongan yakni ilmu imu alam dan ilmu-ilmu sosial. Perbedaan ini menjadi sedemikian tajam seolah-olah kedua golongan ilmu ini membentuk dirinya sendiri yang masing-masing terpisah satu sama lain. Seakan-akan terdapat dua kebu dayaan dalam bidang keilmuan yakni ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sucial.
2.8 BAB 8 ILMU DAN BAHASA
Mengapa tidak ilmu alam, atau ilmu-ilmu alam? potong penanya yang penasaran. Ya tidak tahu, katanya, sebab kenyataannya memang begitu. Sebab ilmu pengetahuan hayat itu tidak biasa, jawab ahli biologi ini mulai tidak sabar. Sebab, simbul sang ahli biologi sambil meletakkan kartu truf-nya, ilmu pengetahuan alam itu dibina oleh Lembaga IImu Pengetahuan Indonesia. Skenario yang hipotetis ini menggambarkan kebingungan dalam penggunaan terminologi ilmu pengetahuan. Masalah ini menjadi lebih serius bila kita membahas hakikat ilmu ini secara filsafat. Adapun alasan untuk perubahan tersebut adalah
ilmu adalah sebagian dari pengetahuan ; dengan demikian maka ilmu adalah pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu yakni ciri-ciri ilmiah, atau dengan perkataan lain, ilmu adalah sinonim dengan pengetahuan ilmiah ; menurut tata bahasa Indonesia berdasarkan hukum D/M maka ilmu pengctahuan adalah ilmu yang bersifat pengetahuan dan pernyataan ini pada hakikatnya sdalah salah sebab ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang bersifat ilmiah; kata ganda dari dua kata benda yang termasuk kategor yang sama biasanya menunjukkan dua obyek yang berbeda seperti laki bini dan emas perak , dengan penafsiran yang sama, maka ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai ilmu dan pengetahuan. Ternyata dalam konperensi tersebut terdapat pendapat lain yang sangat berbeda yakni ilmu merupakan genus di mana terdapat bermacam-macam species seperti ilmu kebatinan, ilmu agama, ilmu fisafat dan ilmu pengetahuan; dengan demikian maka terminologi ilmu pengetahuan dan sinonim dengan scientific knowledge, dan ilmu adalah sinonim dengan knowledge dan pengetahuan dengan science di mana sarkan hukum DM maka ilmu pengctahuan adalah imu yang bersifat pengetahuan . Bahasa pada hakikatnya mempunyai dua fungsi utama yakni, pertama, sebagai sarana komunikasi antarmanusia dan, kedua, scbagai sarana budaya yang mempersatukan kelompok manusia yang mempergunakan bahasa tersebut. Fungsi yang pertama dapat kita sebutkan sebagai fungsi komunikatif dan fungsi yang kedua sebagai fungsi kohesif atau integretif. Pengembangan suatu bahasa haruslah memperhatikan kedua fungsi ini agar terjadi keseimbangan yang saling menunjang dalam pertumbuhannya. Seperti juga manusia yang mempergunakannya bahasa harus terus tumbuh dan berkembang seiring dengan pergantian zaman.
2.9 BAB 9 PENELITIAN DAN PENULISAN ILMIAH
Struktur Penelitian dan Penulisan Ilmiah
Sebenarnya banyak sekali bentuk dan cara penulisan keilmuan yang dapat kita temui dalam berbagai pedoman penulisan. Dengan demikian maka yang lebih penting adalah bukan saja mengetahui teknik teknik pelaksanaannya melainkan memahami dasar pikiran yang melan darinya. Berdasarkan pemikiran tersebut di atas maka akan dicoba untuk membahas alur-alur jalan pikiran yang terdapat dalam sebuah penelitian ilmiah yang dikaitkan dengan proses penulisan. Langkah pertama dalam suatu penelitian ilmiah adalah mengajukan ma salah.
Secara operasional suatu gejala baru dapat disebut masalah bila gejala itu terdapat dalam suatu situasi ter tentu. Sebuah mobil yang dengan tenang diparkir di sebuah garasi mungkin tidak merupakan masalah, tetapi sekiranya kita melihat mobil tersebut mogok di tengah jalan protokol yang macet dan mengganggu lalu lintas, maka jelas hal ini merupakan masalah.
Pengajuan masalah
1. Latar belakang masalah 2. Identifikasi masalah 3. Pembatasan masalah 4. Perumusan masalah 5. Tujuan masalah 6. Kegunaan penelitian
2.10 BAB 10 PENUTUP
Pada waktu itu pengetahuan-pengetahuan, termasuk juga ilmu, memang tidak mempunyai kegunaan praktis melainkan estetis. Artinya seperti kita mempelajari main piano atau membaca sajak cinta, maka pengetahuan semacam ini lebih ditujukan kepada kepuasan jiwa, dan bukan sebagai konsep untuk memecahkan masalah. Bahkan sekarang pun gejala ini masih terlihat di mana orang mempelajari berbagai pengetahuan ilmiah bukanlah sebagai teori yang mempunyai kegunaan praktis melainkan sekadar upaya untuk memperkaya jiwa.
Dalam seni raga orhiba, mereka merem-melek kepuasan setelah kepenatan latihan. Iimu sekadar pengctahuan yang harus bisa dihafal, agar bisa dikemukakan waktu berdebat: makin hafal lantas makin hebat! Pengetahuan yang dikuasai harus mencakup bidang-bidang yang amat luas, agar tiap masalah yang muncul kita bisa ikut menyambut, makin banyak maka makin yahut. Bukankah pekerjaan praktis yang memeras tenaga adalah predikat kaum budak?
Sebenarnya pendapat semacam ini bukanlah sesuatu yang aneh, sebab sekarang pun masih ada yang berpendapat seperti itu: Jangan mau jadi masinis atau pekerja teknik, anakku, jadilah pegawai negeri. Persepsi yang salah inilah yang sebenarnya yang menyebabkan ber- kembangnya kebudayaan menghafal dalam sistem pendidikan kita. Sajak Sutardji atau lagu Ebiet fungsinya memang bersifat estetik, yang kalau kita konsumsikan dengan baik, memberikan kenikmatan batiniah. Jiwa kita tergetar, terharu, tersentuh oleh komunikasi artistik, menyibakkan dunia makna yang tak terjangkau kasat mata. Jiwa kita bertambah kaya, persepsi kita bertambah dewasa, yang selanjutnya akan mengubah sikap dan kelakuan kita.
BAB III PEMBAHASAN
3.1 KELEBIHAN DAN KEKURANGAN BUKU.
1. Dari aspek tampilan, cover buku adalah warna biru, dimana menarik para pembaca untuk mencari tau
2. Dari aspek layout dan tata letak, tata tulis, penggunaan font kurang untuk dibaca dimana font terlalu kecil sehingga akan bosen untuk dibaca, tata tulis yang rapih membuatnya mengurangi rasa bosan, banyak gambar gambar ilustrasi yang di dapat di dalam buku, namun banyak kata kata yang kurang dimengerti orang awam sehingga membuat bingung
3. Dari aspek buku sendiri banyak membahas hal yang baru untuk dipelajari, banyak pengetahuan yang kita tau tapi dibahas lebih mendalam
4. Dari aspek bahasa buku ini banyak menggunakan bahasa yang baku dan ilmiah, tak sedikit pembaca bingung tapi bisa teratasi
5. Kulit buku menggunakan warna gelap, ini mempengaruhi ketertarikan pembaca dari segi kulit buku
BAB IV PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Ilmu merupakan salah satu cabang pengetahuan yang berkembang sangat pesat tanpa kita sadari. Hampir seluruh aspek dipengaruhi oleh keberadaannya. Untuk mencari ilmu pengetahuan yang baru memang sedikit susah ketika tidak dijalani dari hati. Banyak aspek aspek yang kita tidak tau apa yang terjadi di pendidikan, didalam buku ini menceritakan seorang ilmuan yang berfilsafat tentang pendidikan dan lainya.
5.2 REKOMENDASI
Dari beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kelemahan atau kekurangan yang tedapat dalam buku ini, bukan berarti mengurangi substansi dari pesan yang ingin disampaikan penulis dalam buku ini.
Oleh karena itu, buku ini sangat cocok digunakan bagi mahasiswa, terkhusus bagi guru untuk membantu dalam menjalankan tugasnya yang menganut prinsip evaluasi dalam setiap pembelajaran
.
DAFTAR PUSTAKA
SURIASUMANTRI, J. S. (2019). Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Dalam J. S.
SURIAMANTRI. JAKARTA: Pustaka Sinar Harapan.