SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi
Disusun oleh:
Ahmad Zulfikar
051603503125075
UNIVERISITAS SATYA NEGARA INDONESIA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
JAKARTA
2021
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi
Disusun oleh:
Ahmad Zulfikar
051603503125075
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SATYA NEGARA INDONESIA
JAKARTA
2021
i
iv PROGRAM STUDI : Ilmu Komunikasi PEMINATAN : Hubungan Masyarakat
Cyberbullying Dalam Perspektif Etika Berkomunikasi Di Media Sosial Jumlah Halaman : 103 hal.
Bibliografi : 14 Buku (2005 – 2015); 16 Jurnal (2002 – 2019); 4 Website (2017 – 2020); Encyclopedia (2009
ABSTRAK
Latar belakang dalam skripsi ini membahas tentang cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial. Fenomena cyberbullying di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Kini, generasi muda menggunakan media sosial tidak hanya untuk mempererat jalinan persahabatan saja, bahkan dimanfaatkan untuk melakukan aksi cyberbullying. Pengguna media sosial sudah tidak lagi memiliki etika dalam berkomunikasi sehingga hal ini banyak yang menjadi korban cyberbullying.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial. Landasan konseptual yang digunakan teiru etika media dan konseptualisasi menggunakan perspektif teleologi, disclosure, dan tanggung jawab sosial. Metodologi penelitian menggunakan pendekatan kualitatif.
Teknik pengumpulan data dengan menggunakan wawancara mendalam kepada 3 informan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perspektif etika berkomunikasi di media sosial terkait cyberbullying dilihat dari sudut pandang teleologi, disclosure, dan tanggung jawab sosial.
Kesimpulan: Cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial menunjukkan bahwa pertama, perspektif teleologi melihat pengguna media sosial mempergunakan aplikasi Facebook untuk memberikan sindirian ketika temannya berpenampilan aneh atau unik dengan mengucapkan kata-kata yang tidak sopan. Perspektif disclosure, menunjukkan bahwa kepada teman yang sudah dekat, pengguna media sosial dapat dikatakan cukup sering mengucapkan perkataan kurang sopan sehingga menjadi bahan tertawaan teman-teman.
Perspektif tanggung jawab sosial diketahui bahwa pelaku cyberbullying tidak bertanggung jawab kepada korban cyberbullying yang sudah terhina dan direndahkan harkat dan martabatnya di depan teman-teman.
Kata kunci : cyberbullying, etika berkomunikasi, media sosial Pembimbing I : Agus Budiana, S.Ikom., M.Ikom
Pembimbing II : Fitri Sarasati, S.Ikom, M.Sc
v
Name : Ahmad Zulfikar
NIM : 051603503125075
PROGRAM STUDY : Communication Studies SPECIALIZATION : Public Relations
Cyberbullying in an ethical perspective of communicating on social media Number of Pages : 103 Page
Bibliography : 14 Books (2005 - 2015); 16 Journals (2002 - 2019); 4 Website (2017 - 2020); Encyclopedia (2009)
ABSTRACT
The background in this thesis discusses cyberbullying from an ethical perspective on communicating on social media. The phenomenon of cyberbullying in Indonesia is very worrying. Now, the younger generation uses social media not only to strengthen friendships, it is even used to carry out cyberbullying. Social media users no longer have ethics in communicating so that many of these have become victims of cyberbullying.
The purpose of this study is to determine Cyberbullying in the ethical perspective of communicating on social media. The conceptual basis used is media ethics theory and conceptualization uses the perspective of teleology, disclosure, and social responsibility.
The research methodology uses a qualitative approach. Data collection techniques using in-depth interviews with 3 informants.
The results showed that the ethical perspective of communicating on social media related to cyberbullying is seen from the point of view of teleology, disclosure, and social responsibility.
Conclusion: Cyberbullying in the ethical perspective of communicating on social media shows that first, the teleological perspective sees social media users using the Facebook application to provide insinuations when their friends look strange or unique by saying impolite words. The perspective of disclosure shows that to close friends, social media users can be said to say impolite words quite often so that they become the laughing stock of friends. From a social responsibility perspective, it is known that the perpetrator of cyberbullying is not responsible to victims of cyberbullying who have been humiliated and humiliated in front of their friends.
Keywords : cyberbullying, communication ethics, social media Advisor I : Agus Budiana, S.Ikom, M.Ikom
Advisor II : Fitri Sarasati, S.Ikom, M.S
vi
Allah SWT atas berkat dan rahmat serta karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Skripsi ini dengan baik dan lancar yang diberi judul
“Cyberbullying Dalam Perspektif Etika Berkomunikasi Di Media Sosial“
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada kedua orang tua, Alm.
Nasrullah (Bapak) dan Siti Rohayati (Ibu) serta keluarga besar yang telah memberikan doa dan juga semangat serta kasih sayang nya kepada penulis.
Tidak lupa juga penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Agus Budiana, S.Ikom., M.Ikom sebagai pembimbing pertama dan Ibu Fitri Sarasati, S.Ikom., M.Ikom sebagai pembimbing kedua yang telah memberikan motivasi dan membimbing penulis hingga mampu menyelesaikan penyusunan Skripsi ini. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis.
2. Dra. Merry L. Panjaitan, MM, MBA, selaku rektor Universitas Satya Negara Indonesia serta seluruh staffnya.
3. Dr. Radita Gora Tayibnapis, MM selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
4. Sandra Olifia, M.Si, selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Satya Negara Indonesia.
vii
dengan memberikan bimbingan yang baik dan pengarahan juga pendapat yang tepat.
6. Fitri Sarasati, S.Ikom., M.Sc selaku dosen pembimbing kedua dalam penyusunan Skripsi ini yang juga sangat membantu penulis untuk memberikan masukan dan arahan yang baik.
7. Terima kasih kepada kedua Orang Tua serta keluarga besar yang sudah memberikan dukungan dan juga motivasi untuk penulis dapat menyelesaikan penyusunan Skripsi ini.
8. Segenap Dosen dan para Staff Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Satya Negara Indonesia yang telah memberikan bekal ilmu dan mengarahkan kepada penulis.
9. Yasir Abdul Basith, Muhammad Reza, Adhitya Rangga, Savira Dea, Aginda Purna, Muhammad Erdin, Muhammad Fariz, Galih Mahardika, Nanda Yulia Putri, Deryl Ravy, Wilda Zahra, Istigosatul Imtihani, Ignata Claulia, Apolonia Cindy, Shandy Budiman, Aditya Devaly, serta sahabat-sahabat lainnya yang sudah membantu dan selalu memberikan dukungan dari awal hingga akhir dalam menyelesaikan penyusunan Skripsi ini kepada penulis.
Akhir kata penulis dengan kerendahan hati, mohon maaf sedalam- dalamnya dengan kekurangan pada penulisan Skripsi ini, baik dari segi
viii Politik Universitas Satya Negara Indonesia.
Jakarta, Maret 2021
Ahmad Zulfikar
ix
LEMBAR PENGESAHAN SIDANG ... ii
TANDA PENGESAHAN SKRIPSI ... iii
ABSTRAK ... iv
ABSTRACT ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Penelitian ... 1
1.2 Masalah Penelitian ... 8
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
1.4 Manfaat Penelitian ... 8
1.4.1 Manfaat Teoritis... 8
1.4.2 Manfaat Praktis ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1 Landasan Teori ... 9
2.1.1 Teori Etika ... 9
2.2 Landasan Konseptual ... 11
2.2.1 Computer-Mediated Communication ... 11
2.2.2 Etika Komunikasi ... 18
2.2.3 Etika Media Sosial ... 27
2.2.4 Media Sosial ... 32
2.2.5 Cyberbullying ... 33
2.3 Alur Pemikiran Penelitian ... 46
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 50
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ... 50
3.2 Desain Penelitian ... 50
3.2.1 Paradigma Penelitian ... 50
3.2.2 Pendekatan Penelitian ... 51
3.2.3 Metode Penelitian ... 54
3.2.4 Sifat Penelitian ... 55
3.3 Subyek dan Obyek Penelitian ... 55
3.3.1 Subyek Penelitian ... 55
3.3.2 Obyek Penelitian ... 56
x
3.6.1 Data Primer ... 58
3.6.2 Data Sekunder ... 60
3.7 Teknik Analisis Data ... 61
3.8 Teknik Keabsahan Data ... 62
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 65
4.1 Subyek Penelitian ... 65
4.2 Objek Penelitian ... 67
4.3 Hasil Penelitian ... 72
4.4 Pembahasan ... 80
4.4.1 Reduksi Data ... 81
4.4.2 Penyajian Data ... 92
4.4.3 Kesimpulan dan Verifikasi ... 98
BAB V PENUTUP ... 103
5.1 Simpulan ... 103
5.2 Saran ... 104
5.2.1 Saran Akademis ... 104
5.2.2 Saran Praktis ... 104
DAFTAR PUSTAKA ... 106
LAMPIRAN PENELITIAN ... 110
xi
2.1 Perbedaan Antara Cyberbullying dan Traditional Bullying ... 35 4.1 Penyajian Data Teks Naratif Dari Informan I : Aditya
Pradana (AP) ... 92 4.2 Penyajian Data Teks Naratif Dari Informan II : Frasdyanto
(Fras)... 94 4.3 Penyajian Data Teks Naratif Dari Informan III : Justin Khalid
(JK) ... 96
xii
1.1 Forecast of the number of Facebook users in Indonesia from 2017 to 2026 (in millions) ... 2 1.2 Screenshoot Aksi Cyberbullying ... 4 1.3 Screenshoot Aksi Cyberbullying ... 4 1.4 Tindakan responden terhadap cyberbullying di media sosial
di Indonesia per April 2019 ... 6 1.5 Responden yang pernah mengalami cyberbullying di media
sosial di Indonesia tahun 2019 ... 7 2.1 Alur Pemikiran Penelitian ... 46
1 1.1 Latar Belakang Penelitian
Penggunaan internet telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan berkelanjutan dari teknologi komunikasi elektronik memfasilitasi komunikasi yang efektif dan berbiaya rendah; Namun, hal itu juga membawa sejumlah konsekuensi negatif, terutama perundungan di dunia maya dan viktimisasi dunia maya. Jenis media baru ini dapat digunakan oleh remaja untuk menyalahgunakan, mengancam, dan menindas teman-teman mereka, dan telah diamati bahwa perilaku online yang berisiko umum terjadi di kalangan remaja, dan sebanyak satu-sepertiga remaja menjadi korban cyberbullying selama aktivitas online (Özdemir, 2014: 255). Dengan demikian, sejumlah besar remaja menjadi korban cyberbullying di dunia maya
Fenomena cyberbullying di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan.
Menurut Guru Besar Keperawatan Jiwa Unpad, Prof Suryani, dari hasil survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia menunjukkan bahwa hampir hampir 84 persen anak-anak di sekolah menjadi korban bullying (Permana, 2020). Bentuk tindakan bullying yang terjadi saat ini tidak lagi bersifat kekerasan atau pemukulan akan tetapi seiring semakin meningkatnya perkembangan teknologi komunikasi secara online dan peningkatan jumlah pengguna media sosial ternyata berdampak pada tindakan cyberbullying yang dilakukan oleh anak remaja maupun dewasa muda.
Anak remaja melakukan tindakan cyberbullying kepada sesama teman sebayanya selama menggunakan media sosial. Salah satu media sosial yang seringkali ditemukan adanya tindakan cyberbullying adalah Facebook. Facebook merupakan salah satu media sosial yang paling diunggulkan dan berada di tingkat pertama dalam hal banyak jumlah pengguna Facebook. Hal ini tidaklah mengherankan, mengingat berdasarkan data riset (Statista, 2020) menunjukkan bahwa pada tahun 2020, basis pengguna Facebook di Indonesia berjumlah sekitar 198,96 juta pengguna kemudian jumlah pengguna Facebook di Indonesia diproyeksikan meningkat menjadi 265,25 juta pengguna pada tahun 2026 seperti yang terlihat pada gambar 1.1.
Gambar 1.1 Forecast of the number of Facebook users in Indonesia from 2017 to 2026 (in millions)
Sumber: Statista. (October 8, 2020). Forecast of the number of Facebook users in Indonesia from 2017 to 2026 (in millions) [Graph]. In Statista. Retrieved November
21, 2020, from (Statista, 2020)
Melihat data statistik pada gambar 1.1 menunjukkan adanya peningkatan dari tahun ke tahun dari penggunaan Facebook maka tidak tertutup kemungkinan para pengguna Facebook, khususnya anak remaja dan dewasa muda juga akan melakukan tindakan cyberbullying kepada sesama teman sebayanya maupun teman sepermainannya.
Menurut (Kokkinos, Baltzidis dan Xynogala, 2016: 840) menyatakan bahwa terdapat empat kategori cyberbullying melalui jaringan website di media sosial sebagai berikut: bentuk perilaku secara lisan maupun tertulis biasanya dapat terjadi saat menyampaikan pesan bullying di facebook, pesan suara, komentar dan chats, perilaku visual yang di upload atau bahan-bahan yang diposting seperti foto atau video yang tertera pada facebook bullying, sikap agresif yang sifatnya sengaja tidak termasuk seseorang dari kelompok facebook bullying dan banyak orang yang mencoba ikut menirukannya, mencuri password dan menyerang beberapa orang dengan melakukan facebook bullying yang langsung ke dalam account profile pribadi. Contoh lain dari facebook bullying meliputi mengungkapkan komentar-komentar yang menyinggung perasaan orang atau komentarnya konyol, menyerang foto-fotonya, memberikan komentar yang memalukan pada foto atau di posting ulang foto tersebut, mengirimkan pesan komunikasi yang kasar ke dalam inboxnya, memposting informasi yang salah mengenai pihak lain, melakukan hacking pada banyak profil orang lain, memandang rendah reputasi orang lain, mengupload foto-foto telanjang ke area umum dan memalukan beberapa foto milik orang, memposting status yang memalukan pada halaman profil orang, mengirimkan pesan private yang
sifatnya mengancam atau berbuat kejam ke seseorang. Cyberbullying yang terjadi di media sosial Facebook seringkali terjadi diantara sesama teman sebaya.
Temannya melakukan tindakan cyberbullying dikarenakan tampilan fotonya yang dinilai unik sehingga terucap kalimat-kalimat yang ‘kasar’ atau tidak sopan, seperti yang terlihat pada gambar 1.2 dan 1.3.
Gambar 1.2 Screenshoot Aksi Cyberbullying
Gambar 1.3 Screenshoot Aksi Cyberbullying
Kritikus menyuarakan kekhawatiran mereka tentang kemungkinan efek negatif penggunaan Facebook. Misalnya, siswa dapat memposting gambar yang tidak pantas tentang diri mereka di profil Facebook mereka. Foto-foto ini dapat membahayakan peluang mereka untuk pekerjaan di masa depan jika data profil mereka diketahui oleh calon majikan (Hew, 2011: 663).
Dampak dari aksi cyberbullying secara signifikan membuat psikologi korbannya terguncang seperti perasaannya yang terancam dan menjadi stress.
Bahkan korban bullying nekat melakukan aksi bunuh diri ketika mereka tidak lagi mampu menghindari aksi intimidasi (Kwan dan Skoric, 2013: 17).
Berdasarkan hasil tinjauan literatur mengenai hubungan antara korban penganiayaan yang dilakukan teman sejawat (peer victimization) dan ketidakmampuan psikososial menunjukkan hubungan yang sangat kuat bagi korban bullying yakni timbulnya depresi dan kecemasan yang luar biasa (Brighi, Guarini, Melotti, Galli, dan Genta, 2012: 376).
Berdasarkan uraian permasalahan yang dipaparkan di atas, maka alasan ketertarikan meneliti judul “cyberbullying dalam perspektif komunikasi media sosial”, dikarenakan pertama, di era digital ini, cyberbullying secara bertahap telah menjadi masalah sosial yang serius di seluruh dunia, terutama di kalangan remaja. Cyberbullying didefinisikan sebagai setiap perilaku yang dilakukan melalui media elektronik atau digital oleh individu atau kelompok yang berulang kali mengomunikasikan pesan permusuhan atau agresif yang dimaksudkan untuk menimbulkan kerugian atau ketidaknyamanan pada orang lain (Chu, Fan, Liu dan Zhou, 2018: 378).
Menurut survei yang dilakukan di Indonesia sejak 9 Maret hingga 4 April 2019, dengan melibatkan 5.900 responden menunjukkan bahwa ternyata 49 persen responden pernah mengalami cyberbullying di media sosial seperti yang terlihat pada gambar 1.5 dan mengaku bahwa korbannya tidak melakukan apa- apa diperoleh 31,6% sedangkan korbannya yang melakukan aksi balasan (bully back) sebesar 7,9%, selanjutnya korban dari cyberbullying yang melakukan tindakan menghapus komentar negatif atau komenter buruk didapat nilai sebesar 5,2%, lalu korban dari cyberbullying melakukan report to authorities didapat 3,6%, sedangkan lain-lainnya didapat 0,7% (APJII, 2019) seperti yang terlihat pada gambar 1.4. Aktivitas cyberbullying dilakukan melalui perangkat aplikasi mobile yang telah terinstal media sosial.
Gambar 1.4 Tindakan responden terhadap cyberbullying di media sosial di Indonesia per April 2019
Sumber: APJII. (May 1, 2019). Respondents’ action towards cyberbullying on social media in Indonesia as of April 2019 [Graph]. In Statista. Retrieved November 21,
2020, from (APJII, 2019)
Gambar 1.5 Responden yang pernah mengalami cyberbullying di media sosial di Indonesia tahun 2019
Sumber: APJII. (May 1, 2019). Respondents’ action towards cyberbullying on social media in Indonesia as of April 2019 [Graph]. In Statista. Retrieved November 21,
2020, from (APJII, 2019)
Kedua, cyberbullying dalam perspektif komunikasi media sosial menarik diteliti dikarenakan perilaku online yang kasar adalah masalah yang berkembang di masyarakat. Salah satu contoh umum dari hal ini adalah pengiriman pesan kasar langsung melalui forum online publik, seperti media sosial. Terlepas dari efek berbahaya dari jenis pelecehan siber ini (termasuk penindasan maya dan cyberstalking), dukungan publik dan simpati terhadap korban yang rendah (Scott, Wiencierz dan Hand, 2019: 119) seperti yang terlihat pada kasus di gambar 1.2 dan gambar 1.3. Menurut WHO mendefinisikan remaja sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Batasan usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun (Zainafree, 2015: 2).
Berdasarkan uraian penjelasan di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial”.
1.2 Masalah Penelitian
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dirumuskan masalah penelitian, sebagai berikut: Bagaimana Cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang hendak diteliti, meliputi: Untuk mengetahui Cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih bagi pengembangan ilmu komunikasi khususnya yang membahas penelitian tentang cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial sehingga kajian teoritis dalam penelitian ini bermanfaat bagi peneliti selanjutnya.
1.4.2 Manfaat Praktis
1. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi orang tua maupun guru serta lingkungan tempat tinggal untuk mengawasi tumbuh kembang anak supaya anak yang lebih banyak bergaul dengan lingkungan masyarakat maupun pertemanan tidak terpengaruhi tindakan melakukan cyberbullying.
2. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi pihak-pihak yang sering menggunakan media sosial supaya lebih bijak didalam bermain media sosial dan tidak dipergunakan untuk hal-hal negatif seperti melakukan tindakan cyberbullying.
9 2.1 Landasan Teori
2.1.1 Teori Etika
Bidang etika media mencakup berbagai pekerjaan yang menerapkan filsafat moral, wacana etika, dan pendekatan ilmu sosial untuk tujuan mendokumentasikan dan mengkritik praktik jurnalisme, hubungan masyarakat, periklanan, dan jenis komunikasi lainnya (Littlejohn dan Foss, 2009: 637).
Ilmuwan dalam etika media telah berusaha untuk membawa berbagai klaim filosofis untuk diterapkan pada praktik media, untuk membangun kerangka normatif untuk perilaku, dan untuk memanfaatkan filosofi pikiran dan teknologi untuk mengartikulasikan tugas moral komunikator dalam berbagai konteks. Misalnya, pekerjaan teoritis di lapangan berupaya untuk mengeksplorasi dan memahami nilai non-penyimpangan, atau meminimalkan kerugian, dalam berbagai praktik media dan bagaimana nilai ini dapat dibandingkan dengan klaim moral lainnya.
Secara lebih luas, etika komunikasi mengartikulasikan tugas moral yang berasal dari transaksi verbal dan termediasi serta upaya untuk menetapkan kewajiban moral kita yang berada dalam tindakan komunikatif. Etika media juga menyediakan kerangka kerja untuk menangani dilema etika yang mencakup berbagai penalaran etis dan strategi retoris dalam praktik media.
Etika, sebagai salah satu dari empat cabang utama filsafat, bersama dengan logika, metafisika, dan epistemologi, secara umum dapat dibagi menjadi studi tentang kebaikan, studi tentang perbuatan benar, etika terapan, dan beberapa subdivisi lainnya (Littlejohn dan Foss, 2009: 638). Etika dan komunikasi saling terkait erat karena kita memahami bahwa etika pada dasarnya bersifat relasional:
Etika menjawab pertanyaan tentang tugas kita sebagai agen moral dan mengharuskan kita mempertimbangkan dampak tindakan kita terhadap orang lain. Teori etika media berakar pada filsafat moral, di mana etika adalah salah satu cabangnya.
Meski terkait, filosofi moral dan etika selalu berbeda. Filsafat moral berkaitan dengan pemeriksaan epistemologis tentang apa yang merupakan kebaikan, bagaimana kita dapat mengidentifikasi fitur intrinsiknya, dan bagaimana kita mengetahuinya. Para filsuf moral sebagian besar disibukkan dengan pembenaran penggunaan pernyataan yang seharusnya, upaya yang berasal dari Etika Nicomachean Aristoteles dan karya Socrates. Filsafat moral lain yang lebih baru dan kontemporer mengeksplorasi sifat-sifat kebaikan dan bagaimana penilaian moral kita mungkin didasarkan padanya.
Sebaliknya, Etika mengacu pada proses musyawarah yang kita lakukan untuk mempertimbangkan klaim moral yang mungkin bertentangan dalam kasus tertentu; kasus seperti itu sering disebut sebagai dilema etika (Littlejohn dan Foss, 2009: 638). Filsuf Margaret Walker mencirikan etika sebagai upaya untuk memahami moralitas dengan cara yang menyoroti tanggung jawab pribadi seseorang terhadap nilai-nilai. Etika berkaitan dengan kekuatan argumentasi kita
dan kualitas artikulasi kita untuk atau menentang suatu tindakan ketika klaim atau kewajiban moral dapat digunakan. Dalam praktik media, dilema seperti itu seringkali melibatkan konflik antara kebenaran dan kerugian, kepentingan individu dan layanan publik, privasi dan komunitas, dan sebagainya. Etika muncul dari konflik di antara elemen-elemen sistem moral, menurut ahli etika media Deni Elliott.
2.2 Landasan Konseptual
2.2.1 Computer-Mediated Communication
Computer-Mediated Communication (CMC), suatu bentuk transaksi komunikasi yang terjadi melalui penggunaan jaringan komputer, telah dengan cepat menjadi ruang populer untuk interaksi sosial dan ruang penetrasinya terus tumbuh di bawah rubrik pengembangan dan modernisasi teknologi komunikasi.
Komunikasi Dimediasi Komputer (Computer Mediated Communication) adalah proses komunikasi manusia melalui komputer, melibatkan orang-orang, terletak dalam konteks tertentu, terlibat dalam proses untuk membentuk media untuk berbagai tujuan (Thurlow, Lengel dan Tomic, 2004: 15). CMC didefinisikan sebagai interaksi berbasis teks simbolik manusia yang dilakukan atau difasilitasi melalui teknologi berbasis digital (Spitzberg, 2006: 630).
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan (Thurlow, Lengel dan Tomic, 2004: 15) dan (Spitzberg, 2006: 630) bila dikaitkan dengan cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial, maka menurut penulis yakni remaja melakukan komunikasi dengan orang lain di dunia online melalui media komputer
yang terhubung internet. Remaja melakukan tindakan cyberbullying berupa mengucapkan kata-kata kurang sopan melalui media digital komputer.
Ada berbagai pengaturan di mana orang-orang yang tidak mengenal mengejar ketertarikan atau ketidakpuasan dengan orang lain yang mereka temui secara online, seperti yang ditunjukkan oleh sejumlah survei dan studi lapangan. Remaja dan orang lain menggunakan Internet untuk mengeksplorasi identitas pribadi mereka dengan berinteraksi dengan orang asing (Walther, Van Der Heide, Tong, Carr, dan Atkin, 2010: 324).
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan (Walther, Van Der Heide, Tong, Carr, dan Atkin, 2010: 324) bila dikaitkan dengan cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial, maka menurut penulis yakni kini remaja menggunakan media sosial untuk menunjukkan sikap narsis mereka kepada khalayak orang lain bahwa dirinya yang terbaik. Bahkan ketika ada orang lain yang penampilannya kurang menarik akan menjadi sasaran aksi cyberbullying.
Individu yang tidak berkenalan menegosiasikan pertemanan dan keterikatan romantis berdasarkan diskusi topikal mereka di forum online atau permainan role- playing online, di mana interaksi antarpribadi sangat umum.
Bagian selanjutnya mengeksplorasi bagaimana komunikasi relasional di antara orang asing dihipotesiskan untuk muncul dalam diskusi online topikal dan apa efek strategi relasional tertentu yang diprediksi terhadap komunikator yang menghasilkannya. Karena kurangnya isyarat nonverbal dalam CMC dibandingkan dengan interaksi tatap muka (FtF), individu menggunakan strategi berbasis bahasa untuk mengejar tujuan relasional online. Dalam interaksi offline, penelitian telah
menetapkan bahwa isyarat nonverbal seperti kedekatan, ekspresi wajah yang menyenangkan, dan nada vokal yang hangat menandakan pesan relasional seperti kedekatan dan kasih sayang.
Penelitian CMC yang cukup besar mencerminkan bahwa individu menggunakan komunikasi verbal untuk mempengaruhi komunikasi relasional online (Walther, Van Der Heide, Tong, Carr, dan Atkin, 2010: 325).
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan (Walther, Van Der Heide, Tong, Carr, dan Atkin, 2010: 325) bila dikaitkan dengan cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial, maka menurut penulis yakni remaja melakukan komunikasi dengan temannya secara online menggunakan pesan teks yang ditulis di media sosial Facebook, yang bertujuan untuk melakukan aksi cyberbullying sehingga terjadi perubahan sikap dan perilaku korbannya yang berupa emosi dan marah karena ucapan teks onlinenya tidak etis.
Namun demikian, sedikit penelitian menunjukkan strategi verbal khusus apa yang digunakan orang dalam pengejaran online ini. Meskipun penelitian bahasa online telah mengidentifikasi ekspresi verbal emosi di CMC dan akomodasi gaya bahasa terkait gender, strategi verbal khusus untuk afinitas lebih jarang didokumentasikan.
Teori pemprosesan sosial merupakan bagi dari theory of computer-mediated communication (CMC) merupakan pertama dari beberapa model teoretis interaksi interpersonal online untuk menjelaskan bagaimana individu dan kelompok membentuk kesan dan mengembangkan komunikasi relasional melalui komunikasi elektronik berbasis teks (Sundar, 2015: 3).
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan (Sundar, 2015: 3) bila dikaitkan dengan cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial, maka menurut penulis yakni remaja melakukan komunikasi online dengan temannya di media sosial berupa pesan teks untuk mempererat hubungan baik dengan temannya.
Namun, ada sebagian teman yang menggunakan media sosial untuk melakukan aksi cyberbullying dengan mengucapkan kata-kata yang kurang etis sehingga hal ini dinilai tidak sopan didalam berkomunikasi.
Kedatangan teknologi komunikasi baru mencapai tujuan yang dicari oleh banyak ahli teori sejak akhir 1980-an, integrasi beasiswa pada komunikasi massa dan antarpribadi (Baran dan Davis, 2015: 350). Peneliti media pascapositivis pada waktu itu menyimpulkan bahwa pergolakan terus-menerus dari berbagai ide dan metode penelitian yang bersaing menghambat pengembangan pendekatan yang koheren untuk penelitian komunikasi. Mereka mengusulkan penciptaan ilmu komunikasi, sebuah perspektif tentang penelitian yang mengintegrasikan semua pendekatan penelitian yang didasarkan pada metode penelitian kuantitatif, empiris, dan perilaku.
Mereka ingin menghilangkan fragmentasi yang tidak berbuah dan memberikan filosofi inti yang menentukan untuk studi ilmiah dari semua bentuk komunikasi.
Steve Chaffee dan Charles Berger menginginkan pendekatan baru ini “untuk merangkul berbagai konteks komunikasi, termasuk produksi, pemrosesan, atau efek dari simbol atau sistem sinyal (termasuk nonverbal) dalam konteks interpersonal, organisasi, massa, politik, instruksional, atau lainnya” (Baran dan Davis, 2015: 350).
Mereka ingin peneliti media melakukan analisis komunikasi intra-individu (komunikasi yang terjadi di dalam dirinya sendiri) dan komunikasi interpersonal
(komunikasi antara dua atau kelompok kecil orang) sebagai bagian dari studi mereka tentang komunikasi massa. Oleh karena itu, (Baran dan Davis, 2015: 350) melihat ilmu komunikasi membuat dikotomi komunikasi massa versus interpersonal menjadi usang (bagaimana, misalnya, kita dapat memahami efek dari video game kekerasan tanpa memeriksa pengalaman pemain dan proses berpikir juga sebagai dampak dari pengalaman dan proses pemikiran tersebut pada cara dua orang atau lebih berinteraksi?).
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan (Baran dan Davis, 2015: 350) bila dikaitkan dengan cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial, maka menurut penulis yakni komunikasi online di media sosial Facebook dapat dilakukan secara interpersonal maupun massa karena pengguna dapat membentuk grup di media sosial Facebook. Namun, dalam kaitannya dengan penelitian ini, media sosialnya tidak memiliki grup dan mereka dapat secara langsung menyampaikan pesan komunikasi online berupa mengucapkan kata-kata yang kurang etis ketika sedang berinteraksi.
(Walther, 2016: 5) Ada tiga perspektif yang mengkaji tentang CMC yakni:
1. Impersonal. Perspektif ini menganggap bahwa komunikasi online kurang mendukung akan aspek personal karena dalam komunikasi online kita tidak bisa melihat sisi bahasa nonverbal. Ketika kita melakukan komunikasi secara tatap muka, kita cenderung lebih banyak menggunakan bahasa nonverbal untuk berkomunikasi, seperti nada suara, raut wajah, intonasi, jarak, dsb.
Namun dalam komunikasi online, kita kesulitan untuk menunjukan tanda- tanda nonverbal tersebut. Teori yang mendukung perspektif ini adalah Social
Presence Theory (teori kehadiran sosial). Social Presence (kehadiran sosial) adalah derajat dimana seseorang menerima orang lain pada kenyataan sesungguhnya yaitu sebagai individu dan seluruh interaksi yang terdapat didalamnya terdapat nilai-nilai ikatan hubungan saling timbal balik. Teori ini mengasumsikan saluran media yang berbeda akan membawa perbedaan pada substansi nilainilai yang ada pada proses interaksi. Derajat dari nilai-nilai yang mengakomodasi ikatan ini tergantung pada jumlah informasi nonverbal yang nampak di saluran yang digunakan.
2. Interpersonal. Perspektif ini merupakan jawaban dari perspektif impersonal.
Secara sederhana, perspektif komunikasi interpersonal mengungkapkan bahwa tidak adanya petunjuk nonverbal dapat dijembatani dengan penyesuaian sikap. Perspektif ini didukung oleh Social Context Cues Theory.
Penanda konteks sosial berperan sebagai indikator dari perilaku yang bisa diterima secara sosial. Asumsi teori ini adalah adanya aturan baik disadari atau tidak yang mengontrol pelaku komunikasi, mengarahkan informasi yang pantas disampaikan dari dan kepada siapa informasi tersebut disampaikan.
Beberapa variabel teori ini adalah geografis, organisasional dan situasional.
Jadi baik disadari atau tidak, dalam komunikasi kita menyesuaikan dengan faktor sekeling kita.
3. Hyperpersonal. Berbeda dari dua perspektif sebelumnya yang mempermasalahkan bahasa nonverbal, perspektif ini justru menganggap bahwa tidak adanya nonverbal malah membantu dalam berinteraksi.
Komunikasi hiperpersonal terjadi ketika sesorang merasa nyaman untuk
mengekspresikan diri mereka sendiri dalam saluran komunikasi melalui media daripada komunikasi langsung. Walther (1996) mengungkapkan komunikasi hiperpersonal dapat diatributkan dalam empat faktor, yakni :1) Faktor pengirim. Faktor ini memegang kendali bagaimana menampilkan diri sendiri terhadap orang lain. Jadi seseorang dapat secara selektif memilih apa yang akan diperlihatkan kepada orang lain mengenai dirinya. Pengirim bisa melakukan ”sensor” pada apa yang ingin dia sampaikan; 2) Faktor Penerima.
Penerima dapat mengukur kualitas seseorang di dalam komunikasi hiperpersonal; 3) Faktor Saluran. Pesan yang ditransmisikan melalui internet tidak hanya menembus ruang tetapi juga waktu. Jika proses komunikasi online diantara dua orang atau lebih berjalan secara bersamaan atau real time, ini disebut komunikasi sinkron (syncrhonous communication). Pada komunikasi ini sifat pesan lebih informal menyerupai bahasa percakapan sehari-hari. Sedangkan komunikasi asinkron (assynchronous communication) terjadi jika di dalam proses interaksi terdapat tenggang waktu yang signifikan. Pesan yang disampaikan bisa lebih terencana, misalnya penggunaan email. Dalam interaksi online, komunikasi hipersonal lebih menekankan pada aspek asinkoron. Aspek asinkron ini memungkinkan seseorang untuk lebih mengaktualisasikan diri sendiri melalui tulisan yang lebih terkonsep, sehingga memunculkan perasaan percaya diri dalam menjalin hubungan; 4) Faktor umpan balik. Umpan balik dalam CMC dapat mengarah pada “perputaran intensif” dimana konfirmasi pesan dari tiap perilaku komunikasi dapat menguatkan perilaku masing-masing.
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan (Walther, 2016: 5) bila dikaitkan dengan cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial, maka menurut penulis yakni didalam komunikasi online, pengguna media sosial dapat melakukan komunikasi non verbal berupa pengiriman simbol- simbol kepada komunikan. Simbol-simbol non verbal di media sosial Facebook dapat berupa stiker maupun icon yang tersedia di Facebook. Bahkan simbol stiker maupun gambar yang dikirimnya merupakan simbol yang tidak etis sehingga hal ini membuat interaksi menjadi kurang nyaman karena menggunakan stiker yang tidak menyenangkan bagi komunikan.
2.2.2 Etika Komunikasi
Etika komunikasi membahas pertanyaan tentang keunggulan komunikasi dalam identitas dan interaksi manusia (Littlejohn dan Foss, 2009: 638).
Komunikasi melibatkan proses alami pembuatan makna dan konstruksi realitas yang kita gunakan untuk menjembatani pengalaman internal (yaitu, kesadaran, pemodelan simbolik, pembentukan sikap) dan pengalaman luar (perilaku yang dapat diamati, makna yang dinegosiasikan, produksi material). Filsafat etika, kemudian, ditempatkan sebagaimana adanya dalam konteks relasional yang melibatkan interaksi, saling ketergantungan dan efek, menemukan rumah alami di perhubungan tindakan komunikatif: tugas yang dianggapnya, tanggung jawab yang dimilikinya, dan kemungkinan bahaya yang dapat ditimbulkannya.
Kita memeriksa etika, atau anggapan benar atau salah dari tindakan atau perilaku. Etika adalah jenis pengambilan keputusan moral (West dan Turner,
2010: 16), dan menentukan apa yang benar atau salah dipengaruhi oleh aturan dan hukum masyarakat. Misalnya, meskipun beberapa orang mungkin percaya bahwa upaya Wigand patut dipuji, yang lain mungkin memperhatikan bahwa Wigand tampaknya tahu apa yang sedang terjadi ketika dia menandatangani kontrak yang melarangnya untuk mengungkapkan rahasia perusahaan. Lebih jauh, kesuraman etika dibuktikan dengan anggapan bahwa Wigand menghasilkan banyak uang sebelum membeberkan apa yang terjadi.
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan (Littlejohn dan Foss, 2009:
638) dan (West dan Turner, 2010: 16) bila dikaitkan dengan cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial, maka menurut penulis yakni etika itu berkaitan dengan moral seseorang yang telah berlaku di masyarakat, seperti ketika remaja berkomunikasi secara online dengan temannya di media sosial Facebook dengan menggunakan kata-kata kasar maupun kalimat jorok tentunya hal itu sudah termasuk kategori komunikasi yang tidak etis dan memang penggunaan bahasa yang tidak tepat dapat merugikan orang lain.
Amerika Serikat dibangun di atas standar perilaku moral, dan standar ini penting bagi sejumlah lembaga dan hubungan (West dan Turner, 2010: 16).
Karena standar etika cenderung bergeser sesuai dengan periode sejarah, lingkungan, percakapan, dan orang-orang yang terlibat, etika menjadi sulit untuk dipahami. Mari kita bahas secara singkat masalah etika yang berkaitan dengan institusi budaya; penjelasan yang lebih komprehensif tentang etika dapat ditemukan di tempat lain. Kita mulai dengan bertanya mengapa kita harus memahami etika, selanjutnya menjelaskan etika yang berkaitan dengan
masyarakat, dan terakhir, menjelaskan persimpangan teori etika dan komunikasi.
Saat Anda memikirkan informasi ini, ingatlah bahwa pengambilan keputusan etis didasarkan pada budaya. Artinya, apa yang kami anggap etis dan pantas dalam satu masyarakat belum tentu merupakan nilai bersama di masyarakat lain.
Misalnya, meskipun banyak orang di Amerika Serikat dapat mengidentifikasi dengan keadaan buruk keluarga Bollen, Anda harus tahu bahwa di banyak budaya, memiliki seorang putra kembali ke keluarga asalnya dihormati dan tidak akan menimbulkan masalah seperti keluarga Bollen. mengalami.
Mengapa mempelajari etika? Jawaban atas pertanyaan ini dapat dengan mudah menjadi pertanyaan lain: Mengapa tidak mempelajarinya? Etika menembus semua lapisan masyarakat dan melintasi gender, ras, kelas, identitas seksual, dan afiliasi spiritual / agama (West dan Turner, 2010: 16). Dengan kata lain, kita tidak bisa lepas dari prinsip etika dalam hidup kita. Etika adalah bagian dari hampir setiap keputusan yang kita buat. Perkembangan moral adalah bagian dari perkembangan manusia, dan seiring bertambahnya usia, kode moral kita mengalami perubahan hingga dewasa.
Etika inilah yang mendorong masyarakat menuju tingkat integritas dan kebenaran yang lebih tinggi. (West dan Turner, 2010: 16) mengamati bahwa
“kita tidak bisa 'menemukan' sistem etika kita sendiri”, yang berarti bahwa kita umumnya mengikuti kode moralitas budaya tertentu. Dan Ken Andersen (2003) dalam (West dan Turner, 2010: 16) berpendapat bahwa tanpa pemahaman dan ekspresi nilai-nilai etika, masyarakat akan dirugikan: “Melanggar norma-norma komunikasi etis, saya percaya, merupakan faktor utama dalam malaise yang
telah menyebabkan banyak orang menarik diri dari budaya sipil apakah profesi mereka, asosiasi mereka, arena politik mereka”. Dari perspektif komunikasi, masalah etika muncul setiap kali pesan berpotensi memengaruhi orang lain.
Pertimbangkan, misalnya, etika yang terkait dengan memberi tahu profesor Anda bahwa Anda tidak dapat menyerahkan makalah tepat waktu karena anggota keluarga Anda sakit, ketika penyakit seperti itu tidak ada. Pikirkan tentang etika yang terlibat jika Anda mengambil ide tentang rekan kerja dan menyajikannya kepada atasan Anda seolah-olah itu milik Anda sendiri.
Etika paling sering mengacu pada domain penyelidikan, disiplin, di mana masalah benar dan salah, baik dan jahat, kebajikan dan keburukan, diperiksa secara sistematis (Brinkmann, 2002: 159). Sebaliknya, ‘Moralitas’ paling sering digunakan untuk merujuk bukan pada suatu disiplin tetapi pada pola pikiran dan tindakan yang sebenarnya bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengertian ini, moralitas adalah inti dari disiplin etika.
Dialog adalah salah satu bentuk komunikasi yang paling etis dan salah satu cara sentral untuk memisahkan kebenaran dari kepalsuan (Fawkes, 2007: 322).
Secara umum, pengguna media sosial Facebook dapat melakukan komunikasi secara dua arah (dialog) dengan pihak lain, baik itu dapat dilakukan dikolom komentar maupun di fitur chat. Komunikasi berlangsung secara dua arah (simetris) di media sosial Facebook.
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan (West dan Turner, 2010:
16); (Brinkmann, 2002: 159); dan (Fawkes, 2007: 322) bila dikaitkan dengan cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial, maka
menurut penulis yakni komunikasi yang etis itu adalah komunikasi yang menyampaikan sesuatu dengan kebenaran bukan kepalsuan. Ketika remaja ingin mengkritik penampilan teman sejawatnya yang di posting di media sosial Facebook, maka sebaiknya menyampaikan pesan-pesan komunikasi dengan bahasa yang sopan supaya terlihat lebih etis. Namun, ketika remaja tersebut telah merasa akrab dan kenal baik terkadang berkomunikasinya sembarangan dan menuliskan kata-kata kasar dan jorok sehingga dari perspektif etika komunikasi dinilai tidak etis dan hal itu termasuk aksi cyberbullying.
Dalam definisi etika komunikasi melibatkan tiga konsep berikut: teleologi, pengungkapan, dan tanggung jawab sosial (Huang, 2004: 335).
1) Teleologi
Perdebatan tentang teori etika terbagi dalam dua kubu: di satu sisi utilitarianisme atau teleologi, di sisi lain imperatif kategoris atau deontologi Kant. Grcic (1989) menjelaskan perbedaan antara teleologi dan deontologi:
Teori teleologis berpendapat bahwa kriteria akhir dari kebaikan moral adalah jumlah total kebaikan atas konsekuensi kejahatan yang ditimbulkan oleh tindakan tersebut atau apakah tindakan itu meningkatkan fungsi dan perkembangan individu. Seorang teleolog berpendapat bahwa suatu tindakan adalah moral jika itu merupakan sarana untuk kebaikan moral yang sesuai. Bagaimanapun, pendekatan deontologis berpendapat bahwa moralitas suatu tindakan tidak terutama ditentukan oleh konsekuensinya tetapi oleh fitur intrinsik tertentu dari niat atau aspek mental dari tindakan yang direnungkan. Seorang deontolog menekankan melakukan tugas seseorang dan sifat dari motif dan niat kita, bukan konsekuensi yang mungkin ditimbulkan dari tindakan kita.
Dengan cara yang sama, Grunig dan Grunig (1996) dalam (Huang, 2004: 335) menyamakan teori teleologi sebagai teori konsekuensialis dan teori deontologi sebagai teori non-konsekuensialis. Dengan kata lain, praktisi
PR harus mempertimbangkan dampak dari perilaku komunikasi mereka pada kolega, klien, organisasi, dan masyarakat yang lebih luas, tetapi harus juga mengikuti aturan deontologis untuk menjadi jujur, dan tulus saat berkomunikasi.
Dalam dunia etika, teleologi bisa diartikan sebagai pertimbangan moral akan baik buruknya suatu tindakan dilakukan. Perbedaan besar tampak antara teleologi dengan deontologi. Secara sederhana, hal ini dapat kita lihat dari perbedaan prinsip keduanya. Dalam deontologi, kita akan melihat sebuah prinsip benar dan salah. Namun, dalam teleologi bukan itu yang menjadi dasar, melainkan baik dan jahat. Ketika hukum memegang peranan penting dalam deontologi, bukan berarti teleologi mengacuhkannya. Teleologi mengerti benar mana yang benar, dan mana yang salah, tetapi itu bukan ukuran yang terakhir.
Menurut etika deontologi, suatu tindakan dinilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. Karena bagi etika deontologi yang menjadi dasar baik buruknya perbuatan adalah kewajiban. Atau dengan kata lain suatu tindakan dianggap baik karena tindakan itu memang baik pada dirinya sendiri, sehingga merupakan kewajiban yang harus kita lakukan. Sebaliknya, suatu tindakan dinilai buruk secara moral sehingga tidak menjadi kewajiban untuk kita lakukan. Bersikap adil adalah tindakan yang baik, dan sudah kewajiban kita untuk bertindak demikian. Sebaliknya, pelanggaran terhadap hak orang lain atau mencurangi
orang lain adalah tindakan yang buruk pada dirinya sendiri sehingga wajib dihindari.
Contoh kasus dari etika teleologi: Seorang anak mencuri untuk membeli obat ibunya yang sedang sakit. Tindakan ini baik untuk moral dan kemanusiaan tetapi dari aspek hukum tindakan ini melanggar hukum sehingga etika teleologi lebih bersifat situasional, karena tujuan dan akibatnya suatu tindakan bisa sangat bergantung pada situasi khusus tertentu.
Contoh kasus dari etika deontologi: Jika seseorang diberi tugas dan melaksanakannya sesuai dengan tugas maka itu dianggap benar, sedang dikatakan salah jika tidak melaksanakan tugas.
2) Penyingkapan/Pengungkapan (Disclosure)
Menurut (Huang, 2004: 335), memiliki rahasia dan memiliki akses terhadap informasi memberikan satu kekuatan lagi. Di sisi lain, pengungkapan memfasilitasi simetri daya. Seperti yang ditunjukkan di atas, Bivins menunjukkan bahwa advokasi telah menjadi pekerjaan utama praktisi PR. Advokasi, dengan mendorong praktisi PR untuk bertindak murni demi kepentingan organisasi klien, mendorong ketidakseimbangan kekuasaan antara organisasi dan publik, dengan konsekuensi peluang untuk aktivitas yang tidak etis. Bivins dalam (Huang, 2004: 335) mengemukakan bahwa mengungkapkan motif (alasan) komunikasi asimetris dapat mengamankan standar etika. Pada intinya, konsep keterbukaan berkaitan dengan hak dasar yang harus dimiliki oleh Sullivan dalam mengadvokasi manusia: memiliki
informasi dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan (Grunig dan Grunig, 1996) dalam (Huang, 2004: 335).
Kewajiban untuk menjaga rahasia berulang kali dikemukakan, seringkali dengan nada “ritualistik”, dalam kode etik profesional. Bok menawarkan penjelasan untuk kerahasiaan profesional, dengan menyatakan bahwa tempat biasanya tidak dipisahkan dan dievaluasi dalam konteks kasus atau praktik individu.
3) Tanggung jawab sosial (Social responsibility)
Para akademisi berpendapat bahwa praktisi PR harus menjalankan peran dan fungsi sosial mereka dengan cara yang bertanggung jawab secara sosial (Grunig dan Grunig, 1992) dalam (Huang, 2004: 335). Dalam pengertian ini, profesional PR, yang mencakup batas-batas antara organisasi dan dunia luar, akan menjadi aktor yang tepat untuk memperhitungkan dampak (atau konsekuensi) dari semua aktivitas PR terhadap publik mereka dan untuk melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan untuk sebuah organisasi berusaha untuk memenuhi ‘tugas maksimal’ sebagai tindakan kewarganegaraan perusahaan yang baik. Dia menetapkan “tugas minimal”
untuk tanggung jawab sosial perusahaan multinasional sebagai
“meningkatkan kesejahteraan konsumen dan karyawan, menghormati hak dan keadilan orang-orang di masyarakat, dan meminimalkan kerugian atau efek negatif lainnya seperti penyalahgunaan kekuasaan atau penipisan sumber daya alam”. Di sisi lain, “Tugas maksimal” akan menjadi tindakan
kewarganegaraan perusahaan yang baik, seperti mendukung program pembangunan Dunia Ketiga atau bantuan ekonomi.
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan (Huang, 2004: 335) bila dikaitkan dengan cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial, maka menurut penulis yakni etika komunikasi dilihat dari perspektif teleologi diketahui bahwa ketika ada temannya yang menjadi korban cyberbullying maka temannya tersebut langsung menunjukkan membela atas tindakan yang tidak baik tersebut. Apabila temannya tidak segera menolongnya maka akan dapat berdampak buruk pada korban cyberbullying seperti sedih maupun marah. Oleh karena itu, secara etika teleologi, sebaiknya pengguna media sosial Facebook menggunakan bahasa yang sopan dan mengucapkan perkataan yang baik-baik. Lalu, dilihat dari etika disclosure, yakni meskipun temannya telah mengenal dekat dengan teman lainnya satu sama lain bukan berarti temannya dapat mengungkapkan perasaan secara sewenang-wenang. Terkadang dikarenakan sudah dekat, ketika melihat penampilan temannya unik maka langsung diluapkan komunikasinya dengan bahasa yang kurang sopan sehingga hal ini membuat temannya merasa sedih dan kecewa dari luapan perkataan yang kurang etis tersebut. Terakhir, etika tanggung jawab sosial yakni temannya yang menjadi korban dari aksi cyberbullying menunjukkan sikap yang tidak bertanggung jawab secara sosial. Temannya menjadi malu akibat ucapan kata-kata yang kurang sopan sehingga rasa percaya dirinya menurun dan pelaku cyberbullying tidak menunjukkan sikap tanggung jawab kepada korban.
2.2.3 Etika Media Sosial
Teknologi media sosial memiliki potensi besar untuk mengubah cara penelitian kesehatan dirancang, dilakukan, dan disebarluaskan. Media sosial telah digunakan dalam sejumlah proyek penelitian. Beberapa menggunakan media sosial untuk membantu melaksanakan proyek penelitian tradisional, seperti dengan memfasilitasi pengumpulan data kesehatan dalam jaringan sosial.
Yang lain telah menggunakan media sosial untuk mengisi kesenjangan penelitian tertentu, misalnya dengan merekrut peserta penelitian dan melakukan penelitian dalam populasi yang sulit dijangkau atau tentang topik sensitif (seperti penyalahgunaan zat pada remaja. Yang lain lagi menggunakan media sosial sebagai bagian dari penelitian itu sendiri; Sebagai contoh, sebuah studi baru-baru ini yang meneliti bagaimana emosi pengguna Facebook dapat dimanipulasi tanpa disadari telah menerima perhatian yang cukup besar, sebanyak untuk masalah etika yang terlibat serta untuk temuan ‘penularan emosional’ (Decamp, 2015: 98).
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan (Decamp, 2015: 98) bila dikaitkan dengan cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial, maka menurut penulis yakni remaja terkadang menggunakan media sosial Facebook untuk meluapkan emosi kesal dan marahnya yang di upload di Facebook, lalu tanpa disadari dikomentari oleh teman-teman lainnya. Beragam komentar dari teman-temannya dari luapan emosinya di Facebook tersebut, ada yang memberikan dukungan namun ada juga yang memberikan celaan. Bagi
mereka yang mencela itu sudah termasuk aksi cyberbullying dikarenakan melakukan komunikasi yang tidak etis.
Pada saat yang sama, masalah etika telah dikemukakan tentang penggunaan tertentu dari media sosial. Kontroversi studi Facebook tentang penularan emosional menyoroti beberapa masalah etika yang muncul ketika media sosial digunakan dalam penelitian, termasuk persetujuan yang tepat, peran penipuan, dan apa yang dianggap sebagai penelitian yang membutuhkan pengawasan etis sama sekali. Di AS, Komite Penasihat Sekretaris untuk Perlindungan Penelitian Manusia (SACHRP) telah berusaha untuk menerapkan dan menafsirkan prinsip-prinsip etika penelitian dasar yang menghormati orang, kebaikan, dan keadilan dalam pengaturan online. Meskipun ada ketidakpastian tentang bagaimana penelitian tersebut harus diatur, peneliti, anggota komite etika penelitian, dan lainnya masih dapat mempertimbangkan sejumlah masalah dasar ketika penelitian kesehatan melibatkan media sosial.
Media sosial adalah salah satu bentuk komunikasi digital saat ini. Memang ada ciri-ciri media sosial yang khas yang bisa kita ketahui. Melalui media sosial, banyak orang bisa terhubung dengan mudah. Penyebaran informasi pun relatif lebih cepat dengan adanya media sosial. Ini adalah termasuk jenis metode komunikasi daring. Berikut ini adalah beberapa macam etika yang perlu diperhatikan saat berkomunikasi di media sosial (Barzam, 2017):
1) Selalu perhatikan penggunaan kalimat
Penggunaan kalimat merupakan bagian yang penting saat berkomunikasi menggunakan media sosial. Kalimat-kalimat dengan
susunan yang tepat, disertai tanda baca yang tepat juga merupakan salah satu bagian yang penting supaya etika komunikasi bisa dijaga dengan baik. Hindari menggunakan kalimat-kalimat yang tidak utuh. Kalimat yang tidak utuh bisa memicu timbulnya ambiguitas sehingga bisa menjadi sumber dari kesalahpahaman.
2) Berhati-hati saat menggunakan huruf
Menggunakan huruf dengan benar juga menjadi bagian dari etika komunikasi di media sosial. Mudahnya, selalu gunakan huruf yang wajar.
Menulis sesuatu di media sosial dengan menggunakan huruf kapital semua bisa memberikan kesan marah, kecewa dan menantang.
Sebaliknya, menggunakan huruf yang cenderung kecil semua akan menandakan seseorang terlalu abai dan tidak serius mengenai informasi yang sedang akan ia bagikan. Oleh karenanya, penggunaan huruf yang sesuai dan wajar bisa menunjang etika yang baik saat berkomunikasi.
3) Perhatikan pemilihan warna huruf
Warna huruf juga penting untuk diperhatikan. Beberapa media sosial biasanya memberikan fitur ini untuk menambah keragaman dari jenis tulisan yang akan diberikan seseorang. Menggunakan warna huruf merah dengan tulisan yang tebal bisa memiliki kesan menantang dan marah. Persepsi orang yang berbeda-beda ini menjadi alasan mengapa penulisan huruf dengan warna yang standar menjadi penting.
4) Pemilihan simbol dan ikon yang tepat
Dalam media sosial, banyak sekali simbol dan ikon yang seringkali disertakan dalam sebuah informasi atau tulisan. Ada dikenal simbol emoji atau sticker dan lain sebagainya. Manakala akan menggunakan simbol tersebut, pastikan simbol yang digunakan juga tepat. Menggunakan simbol wajah cemberut pada tulisan juga akan membangun persepsi orang dengan kuat. Oleh karena itu, berhati-hati dalam menggunakan simbol dan ikon adalah penting. Bila perlu, justru hindari menggunakan simbol atau ikon sehingga tulisan dan informasi yang kita buat lebih bersifat netral.
5) Menggunakan bahasa yang sesuai
Bahasa yang sesuai di sini adalah menunjukkan bagaimana tata krama kita saat berkomunikasi dengan orang lain. Perhatikan dengan siapa kita berbicara. Jangan sampai keluar bahasa-bahasa yang kurang sopan pada orang tertentu sehingga etika dalam komunikasi ini menjadi hilang. Pastikan ini juga menjadi salah satu hal yang diperhatikan saat menggunakan media sosial. Ada efek media sosial yang bisa saja tergantung dari hal ini.
6) Memberikan respon dengan segera
Saat dihubungi melalui media sosial, pastikan kita juga memberikan respon dengan segera. Menunda-nunda untuk memberikan respon atau bahkan mengabaikannya akan memberikan kesan yang jelek. Apalagi sekarang ini banyak sekali media sosial yang juga sudah melengkapi fitur
pemberitahuan bahwa pesan yang disampaikan sudah dibaca oleh penerima pesan.
7) Memberikan informasi yang memiliki referensi jelas
Ini adalah poin paling penting dari hampir semua poin yang membahas mengenai etika dalam menggunakan komunikasi media sosial.
Informasi yang disebarkan tanpa referensi yang jelas akan menimbulkan efek berantai terhadap setiap orang. Hal ini bisa mengundang kesimpang- siuran berita yang tentu saja sangat tidak diharapkan. Istilah yang mungkin kita kenal saat ini adalah berita hoax. Bahkan, hal ini bisa diperkarakan pula di hukum bila penyebaran informasi palsu tersebut memang disengaja. Ada pengaruh media sosial yang bisa berfungsi secara cepat dalam hal penyebaran info.
8) Tidak memancing pertentangan
Terakhir, hindari melakukan komunikasi yang memancing pertentangan melalui media sosial. Mengingat persepsi orang yang berbeda terhadap paparan informasi, maka kita juga harus memperhatikan hal ini supaya terhindar dampak negatif dari media sosial.
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan (Barzam, 2017) bila dikaitkan dengan cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial, maka menurut penulis yakni etika komunikasi didalam penggunaan media sosial Facebook ini memang penting untuk memperhatikan penggunaan kalimat-kalimat yang sopan santun guna menghindari terjadinya perselisihan diantara teman. Ketika temannya
mengucapkan kata-kata yang menyakitkan akibat tidak beretika maka akan menimbulkan konflik berupa marah, kesal, dan kecewa. Lalu, etika didalam penggunaan stiker di Facebook juga harus disesuaikan dengan konteks komunikasinya. Apabila salah dalam mengirimkan stiker maka akan dipersepsikan berbeda dari penerima (komunikan). Lebih lanjut lagi, etika didalam menggunakan media sosial Facebook juga harus memperhatikan perasaan temannya tersebut. Ketika temannya sedang sedih maka sebaiknya dapat menunjukkan sikap empati dan bersedia membantunya.
2.2.4 Media Sosial
Menurut Hill, Dean dan Murphy (2014: 2) Istilah media sosial terkait dengan dapat diakses dimana-mana. Istilah sosial juga terkait dengan adanya interaksi secara dua arah diantara orang-orang, yang mana dapat diidentifikasikan sebagai berikut yakni komunikasi dari satu orang ke satu orang, satu orang ke banyak orang, atau banyak orang ke banyak orang.
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan, maka menurut penulis adalah karakteristik dari media sosial itu sendiri yakni proses penyampaian pesan dari satu orang ke satu orang, satu orang ke banyak orang, bahkan dari banyak orang ke banyak orang dengan menggunakan perangkat media sosial dimana orang-orang yang menggunakan media sosial dapat mengirimkan pesan berupa teks, gambar, maupun suara, dan keunggulan dari berkomunikasi melalui media sosial adalah khalayak dapat mengakses media sosial dimanapun berada selama masih terkoneksi dengan internet.
Istilah media sosial yang paling sering mengacu pada teknologi berbasis web untuk berkomunikasi dan sharing melalui Internet. Tidak ada satu pun yang menyepakati mengenai definisi media sosial, tetapi Hill, Dean dan Murphy (2014: 3) berpendapat bahwa media sosial adalah seperangkat teknologi siaran berbasis web yang memungkinkan penggunanya mendapat kebebasan dalam menulis di konten media sosial, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengkomentari isi konten yang dimunculkan pada media sosial. Media sosial melibatkan penggunaan secara intensif berkomunikasi secara online melalui perangkat media elektronik dengan orang lain yang ada di dalam kontak media sosial (Hill, Dean dan Murphy, 2014: 3).
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan (Hill, Dean dan Murphy, 2014: 3), maka menurut penulis yakni media sosial merupakan media komunikasi yang digunakan banyak orang dan komunikasinya berlangsung secara online dan tidak ada komunikasi verbal secara langsung. Komunikasi secara online ini dapat berlangsung dengan baik apabila telah terhubung dengan jaringan internet yang memiliki sinyal bagus.
2.2.5 Cyberbullying
2.2.5.1 Pengertian Cyberbullying
(Sahlin, 2015: 135) Beberapa definisi cyberbullying yang paling banyak dikutip adalah:
1) Tindakan agresif dan disengaja yang dilakukan oleh kelompok atau individu, menggunakan bentuk kontak elektronik, berulang kali dan dari waktu ke waktu terhadap korban yang tidak dapat dengan mudah membela dirinya.
2) [cyberbullying adalah ketika seseorang] berulang kali mengolok-olok orang lain secara online atau berulang kali mencaci orang lain melalui email atau pesan teks atau ketika seseorang memposting sesuatu secara online tentang orang lain yang tidak mereka sukai.
3) Cyberbullying melibatkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung perilaku yang disengaja, berulang, dan bermusuhan oleh individu atau kelompok, yang dimaksudkan untuk merugikan orang lain.
Cyberbullying mengacu pada intimidasi (bullying) melalui alat elektronik komunikasi seperti email, telepon seluler, Personal Digital Assistant (PDA), pesan instan atau World Wide Web (Li, 2008: 224). Pada penelitian ini, pengganggu (bullies) dan korban (victim) merujuk kepada siswa yang terlibat dalam bullying. Cyberbullies dan cybervictims mengacu pada individu-individu yang terlibat dalam Cyberbullying. Predator merujuk pada pengganggu (orang yang suka mengganggu) atau cyberbullies. Dalam kajian literatur yang berbeda, nama lain dari Cyberbullying telah dinyatakan bahwa dari kata “emosi yang sedang membara (flaming)” menjadi “cyberstalking”(Li, 2008: 224).
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan (Sahlin, 2015: 135); (Li, 2008: 224), bila dikaitkan dengan cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial, maka menurut penulis yakni cyberbullying merupakan suatu bentuk tindakan intimidasi yang dilakukan seseorang kepada orang lain melalui penggunaan teknologi digital melalui penyampaian pesan- pesan komunikasi yang bersifat mengancam dan mengucapkan kata-kata kotor pada lawan bicaranya.
Menurut (Kokkinos, Baltzidis dan Xynogala, 2016: 840) cyberbullying adalah tindakan yang disengaja dilakukan oleh kelompok atau individu menggunakan formulir kontak elektronik, yang dilakukan secara berulang kali dan dari waktu ke waktu, terhadap korban yang tidak dapat dengan mudah mempertahankan dia / dirinya sendiri. Sebagian besar definisi yang mencakup karakteristik serupa seperti daya tahan, pengulangan, pelecehan, tidak hormat, anonimitas, publisitas, niat pelaku dan situasi bahwa korban adalah berdaya.
Berdasarkan uraian cyberbullying di atas, menurut penulis yakni cyberbullying adalah suatu tindakan secara sengaja yang dapat dilakukan oleh siapapun, dimana aksi tindakan orang tersebut lebih mengarah ke sifat negatif yang ditujukan kepada orang lain yang tersedia dalam kontak elektronik di media sosial facebook. Adapun bentuk cyberbullying yang dilakukan seseorang dengan mengirimkan pesan teks atau gambar-gambar yang sifatnya mencela, mengirimkan kata-kata yang emosional, kata-kata yang sifatnya melecehkan atau merendahkan orang lain, sehingga korban dari cyberbullying tidak dapat mempertahankan dirinya.
Tabel 2.1 Perbedaan Antara Cyberbullying dan Traditional Bullying Cybervictimization/Cyberbullying Traditional victimization/Traditional
bullying Mengucapkan hal-hal buruk atau
teleponlah nama seseorang dengan menggunakan teks atau pesan online (penghinaan)
Memukul, menendang, dan mendorong
Mengatakan hal-hal buruk tentang seseorang kepada orang lain baik secara online atau melalui pesan teks (kata-kata yang menyakitkan)
Katakan hal-hal buruk atau teleponlah nama seseorang
Mengancam melalui teks atau pesan online
Ucapkan hal-hal buruk tentang seseorang kepada orang lain
Hack ke akun seseorang dan mencuri Mengancam/menggertak
informasi pribadi (pencurian data) Hack ke akun seseorang dan berpura- pura menjadi orang itu (peniruan identitas)
Mencuri atau merusak barang milik orang lain
Buat akun palsu yang berpura-pura menjadi orang itu (akun palsu)
Mengucilkan atau mengabaikan orang lain
Poskan informasi pribadi orang lain secara online (Paparan rahasia)
Sebarkan rumor tentang orang lain Memposting video atau gambar orang
lain yang memalukan secara online (gambar Paparan)
Mengubah gambar atau video orang lain yang mereka poskan secara online (Photoshop)
Mengecualikan atau mengabaikan orang lain di situs jejaring sosial atau ruang obrolan internet (Pengecualian)
Sebarkan rumor tentang orang lain di Internet (Rumor)
Sumber: (Schultze-Krumbholz et al., 2014: 53)
Dari perbedaan antara cyberbullying dan traditional bullying di atas, menurut penulis, aksi cyberbullying dilakukan secara online dan tidak bersentuhan fisik secara langsung, sedangkan pada traditional bullying diketahui bahwa pelakunya dapat melakukan tindakan berupa fisik yang melukai korbannya sampai terluka.
2.2.5.2 Jenis-Jenis Cyberbullying
Konsensus dalam setengah dekade terakhir telah dicapai secara perlahan dalam mendefinisikan penindasan maya. Sebagian besar setuju bahwa cyberbullying melibatkan penyalahgunaan teknologi komunikasi yang disengaja dan berulang kali oleh individu atau kelompok untuk mengancam atau merugikan orang lain (Savage dan Tokunaga, 2017: 354).
Definisi konseptual cyberbullying (penindasan di dunia maya) ini terdiri dari banyak komponen (Savage dan Tokunaga, 2017: 354), sebagai berikut:
1) Pertama, cyberbullying melibatkan penggunaan teknologi komunikasi, yang mencakup pengirim pesan instan, email, pesan teks, dan telepon seluler.
2) Kedua, cyberbullying menggunakan teknologi ini untuk mengancam atau menyebabkan kerugian bagi orang lain. Pesan ini dapat mencakup ancaman kekerasan fisik atau psikologis, rasa malu yang disengaja, pengucilan, penyebaran rumor, atau pernyataan yang memicu masalah dalam hubungan orang lain.
3) Ketiga, cyberbullying disengaja, penuh perhatian, dan disengaja; pertukaran pesan agresif yang dimaksudkan sebagai permainan atau ejekan berada di luar fenomena cyberbullying.
4) Keempat, sebagian besar pengalaman cyberbullying melibatkan perilaku berulang, meskipun ada kemungkinan satu kasus ekstrim untuk memenuhi syarat sebagai cyberbullying.
5) Terakhir, seseorang atau sekelompok orang dapat menindas orang lain di dunia maya. Diskusi tentang mendefinisikan cyberbullying juga mengacu pada sejauh mana korban dapat dengan mudah membela diri. Pertanyaan apakah ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban harus ada untuk acara yang diberi label cyberbullying telah dikemukakan.
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan (Savage dan Tokunaga, 2017: 354) bila dikaitkan dengan cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial, maka menurut penulis yakni seseorang