BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Alur Pemikiran Penelitian
psikologinya terganggun akibat dari pelecehan kata-kata yang disampaikan pihak lain sehingga dirinya merasa terhina dan sedih.
Berdasarkan gambar 2.1 alur pemikiran penelitian di atas, dapat penulis jelaskan sebagai berikut: fenomena cyberbullying semakin terus meningkat seiring dengan semakin bertambahnya pengguna media sosial.
Jika dilihat dari perspektif teori media baru, media baru lebih interaktif dan menciptakan suasana komunikasi yang dapat bersifat personal. Media baru tidak sama dengan interaksi tatap muka, tetapi memberikan bentuk interaksi baru yang membawa kita kembali ke kontak pribadi dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh media lama. Misalnya kita bisa berbagi gambar dan bertukar pesan di Facebook. Pada saat yang sama, komunikasi ini masih dimediasi karena melalui perangkat dan mendorong kita untuk menghindari komunikasi tatap muka.
Media sosial termasuk kategori media baru. Hal ini dikarenakan media sosial sudah termasuk dalam Web 2.0 dimana pengguna media sosial dalam melakukan aktivitas seperti berinteraksi secara dua arah, menyebarkan informasi, menyebarkan foto, video, dan membentuk grup dalam media sosial tersebut.
Anak-anak remaja (generasi milenial) memanfaatkan media sosial bukan hanya sekadar untuk saling berbagi informasi, akan tetapi bagi sebagian anak remaja ada yang menggunakannya untuk melakukan aksi cyberbullying kepada sesama teman sebayanya maupun teman sepermainannya. Mereka mengucapkan kata-kata kasar kepada teman sejawatnya/sepermainannya dikarenakan melihat rekannya tersebut sesuatu yang unik. Namun ada juga anak remaja yang meluapkan emosi atau marahnya kepada teman sejawatnya melalui media sosial
Facebook dengan memberikan ancaman melalui inbox di media sosial. Pesan- pesan yang dikirimkan tersebut berupa caci maki, kalimat-kalimat kasar yang penuh emosi, dan memposting status yang memalukan di profil orang yang dibencinya. Ketika ada satu orang yang melakukan aksi cyberbullying maka teman-teman lainnya suka berpartisipasi melakukan aksi bullying.
Apabila dilihat dari perspektif etika berkomunikasi, tindakan anak remaja melakukan aksi cyberbullying ini dapat dikatakan sudah melanggar etika berkomunikasi. Jika dilihat dari konsep yang dikemukakan (Huang, 2004: 335), apabila dikaitkan dengan teleologis yakni temannya memberikan kritik maupun celaan tersebut mungkin tujuannya baik bahwa kalau berpenampilan seperti itu tidak pantas dan terlihat unik karena tidak memberikan perubahan pada penampilan yang lebih baik. Sedangkan, dari perspektif deontolog adalah apakah ucapan atau kata-kata kasar yang disampaikan itu memang perkataan jujur dari dalam hati atau hanya sekadar becanda saja. Oleh karenanya, terkadang kembali lagi pada niat dari seseorang tersebut, apakah memang ingin membuat malu seseorang atau hanya sekadar becandaan saja?
Selanjutnya, yang kedua dari perspektif penyingkapan/pengungkapan (disclosure) yang mengakibatkan seseorang melakukan aksi cyberbullying dikarenakan ingin mengungkapkan unek-unek isi hatinya kepada penampilan teman yang di posting di media sosial Facebook. Pada umumnya, temannya melakukan aksi cyberbullying dengan menyampaikan kata-kata kasar dikarenakan memang mereka sudah saling kenal dan dekat sehingga temannya berani untuk menyampaikan kata-kata yang kurang sopan. Jika dilihat dari
perspektif etika komunikasi, memang ucapan berupa kalimat tertulis di Facebook itu tidaklah etis/sopan karena bisa saja membuat korbannya sakit hati akibat perlakuan temannya yang melakukan aksi cyberbullying.
Dilihat dari perspektif tanggung jawab sosial juga dinilai tidak etis, karena pelaku aksi cyberbullying itu secara tidak langsung pastinya tidak akan bertanggung jawab kepada korban yang sudah di bully sehingga harkat dan martabat korban menjadi semakin direndahkan di lingkungan sosialnya. Korban bullying akan terus mengalami tindakan serupa dari rekan-rekannya. Dampak dari tindakan cyberbullying ini, membuat korbannya bisa jadi depresi dan stress.
Sedangkan, di satu sisi pelaku aksi cyberbullying semakin tidak menunjukkan tanggung jawabnya di lingkungan sosial.
50 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Waktu penelitian terhitung mulai dari November 2020 sampai Januari 2021. Tempat penelitian disesuaikan dengan keberadaan informan yakni di rumah dan di tempat kerja sedangkan untuk media sosialnya adalah media sosial Facebook.
3.2 Desain Penelitian 3.2.1 Paradigma Penelitian
Paradigma penelitiannya menggunakan paradigma konstruktivistik karena menggunakan metodologi risetnya secara kualitatif. Menurut Kriyantono (2008:
51) Pendekatan konstruktivistik dilihat dari sudut pandang ontologis (realitas) adalah “kebenaran suatu realitas yang bersifat konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial”.
Menurut Kriyantono (2008: 52) paradigma konstruktivistik adalah
“cenderung mengutamakan analisis komprehensif, kontekstual dan multilevel analisis yang bisa dilakukan melalui penempatan diri sebagai aktivis/partisipan dalam proses transformasi sosial.” Dari definisi konstruktivistik tersebut dapat penulis simpulkan yakni peneliti melakukan analisis temuan data penelitian dari wawancara secara komprehensif (menyeluruh/lengkap) sesuai konteksual yang dibahasnya sehingga pembaca dapat mengerti dan memahami hasil penelitian kualitatif.
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan Kriyantono (2008: 52), maka menurut penulis, paradigma konstruktivistik merupakan paradigma yang mengarah pada pendekatan kualitatif dikarenakan peneliti ingin mengeksplor lebih mendalam tentang suatu peristiwa untuk mendapatkan informasi yang lengkap.
Alasan menggunakan paradigma konstruktivistik dikarenakan judul penelitian terdiri satu variabel, jenis penelitiannya deskriptif, metode penelitiannya studi kasus, teknik pengumpulan datanya wawancara, dan teknik analisis datanya secara kualitatif.
3.2.2 Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian secara kualitatif. Menurut Vardiansyah (2008: 69) mendefinisikan pendekatan kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang atau gejala yang diamati. Pendekatan kualitatif-interpretif diarahkan pada latar gejala secara holistik (utuh menyeluruh) dan alamiah sehingga metodologi kualitatif tidak mengisolasikan gejala ke dalam variabel. Namun, mengkaji objeknya sesuai latar alamiahnya. Karenanya lazim disebut juga penelitian alamiah atau naturalistik.
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan Vardiansyah (2008: 69), pendekatan kualitatif merupakan pendekatan penelitian berupa kalimat-kalimat yang data penelitiannya diperoleh melalui wawancara mendalam.
Menurut Semiawan (2010: 56) Karakteristik metode kualitatif sebagai berikut:
1) Penekanan pada lingkungan yang alamiah (naturalistic setting).
Alamiah (natural) berarti bahwa data diperoleh dengan cara berada di tempat di mana penelitian itu akan dibuat. Data tersebut ditemukan secara langsung dari tangan pertama. Peneliti adalah alat pengumpulan data. Singkatnya peneliti terlibat langsung dalam penelitian tersebut baik dalam hal pengumpulan data melalui wawancara atau observasi, begitu halnya juga dengan analisa dan interpretasi data. “Alamiah”
juga berarti bahwa konteks dan situasi subjek penelitian dipahami dan diuraikan secara luas dan jelas sehingga pembaca merasa benar-benar berada dan terlibat di dalamnya.
2) Induktif (inductive).
Cara induktif biasanya mulai dengan mengobservasi sasaran penelitian secara rinci menuju generalisasi dan ide-ide yang abstrak. Dikatakan juga bahwa cara induktif berawal dari suatu fakta dan realita bukanya asumsi atau hipotesis. Metode kualitatif tidak menghabiskan waktu mengumpulkan puzzle yang gambarnya sudah diketahui sebelumnya.
Gambaran akan terbentuk dari data yang dianalisis. Tujuan dari cara induktif yaitu untuk menemukan pola-pola atau tema-tema hasil analisis data yang diperoleh lewat wawancara. Cara induktif berbeda dengan deduktif. Deduktif bertitik tolak dari hal yang umum menuju yang khusus, dari asumsi dan hipotesis ke realita dan fakta.
3) Fleksibel (flexible).
Fleksibelitas berarti terbuka terhadap kemungkinan penyesuaian terhadap keadaan yang selalu berubah dan memungkinkan perolehan pengertian yang mendalam. Peneliti harus terhindar dari formalitas yang kaku yang menutup kemungkinan munculnya penemuan baru.
Penemuan baru hanya mungkin bila peneliti memiliki kebebasan dan fleksibel terhadap situasi yang ada dan cukup kreatif menyesuaikan diri dengan keadaan.
4) Pengalaman langsung (direct experience), Kedalaman (indepth).
Hal lain yang penting dalam metode kualitatif adalah data diperoleh dari tangan pertama dan berupa pengalaman langsung dari partisipan.
Data tidak bleh diperoleh dari pihak ketiga. Begitu pula, data tersebut harus benar-benar merupakan pengalaman langsung. Data yang diperoleh harus benar-benar mendalam (indepth) dengan penuh perhatian hingga aspek-aspek yang terkencil, konteks dan nuansanya.
5) Deskriptif
Data deskriptif mengandaikan bahwa data tersebut berupa teks karena untuk menangkap arti yang terdalam tidak mungkin diperoleh hanya dalam bentuk angka, karena angka itu sendiri hanyalah simbol. Simbol tidak memiliki arti pada dirinya sendiri. Analisis data yang baik haruslah sedekat mungkin dengan tempat dimana data itu diambil.
Tempat pengambilan data digambarkan dengan luas dan makin lama makin terperinci serta berusaha untuk menempatkan pembaca dalam konteks. Menyajikan data secara terperinci berarti menciptakan rasa
‘berada di sana’ (being there). Dalam penyajiannya, metode ini biasanya menggunakan kata kerja aksi dan kata keterangan yang hidup, karena dengan demikian pembaca terbantu untuk turut merasa dan membayangkan keadaan yang sebenarnya.
6) Proses
Ciri khas lain dari metode kualitatif adalah penekanannya pada proses.
Proses berarti melihat bagaimana fakta, realita, gejala dan peristiwa itu terjadi dan dialami. Secara khusus tentang bagaimana peneliti terlibat didalamnya dan menjalin relasi dengan orang lain. Penekanan pada proses mengandaikan adanya tahapan yang perlu dilalui dan tidak langsung jadi. Dalam hubungannya dengan relasi antar manusia, proses berarti peneliti mulai dari tegur sapa, pengenalan diri lebih jauh dan mencapai tingkat yang tinggi yaitu keakraban. Pengalaman tentang proses ini selalu bervariasi dan berbeda pada masing-masing orang.
Masing-masing orang memiliki pengalaman sendiri.
Metode ini menekankan proses karena persepsi partisipan merupakan kunci utama. Persepsi ini sebenarnya terbentuk oleh lingkungannya.
Situasi, kondisi, dan konteks setempat sangat berpengaruh pada pembentukan persepsi seseorang. Inti dari proses yaitu memahami dinamika internal tentang bagaimana suatu program, organisasi atau hubungan itu terjadi.
7) Mencari Pengertian Yang Mendalam (verstehen).
Artinya metode ini hendak mempelajari bagaimana orang mengerti sesuatu. Pada prinsipnya manusia selalu mengungkapkan diri dalam bentuk simbol-simbol. Simbol-simbol ini memiliki arti. Untuk itu wawancara merupakan media yang penting untuk menagkap pemahaman dan pengertian orang atas simbol-simbol yang digunakan.
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan Semiawan (2010: 56), menurut penulis yakni ciri-ciri dari metode kualitatif adalah data penelitian ditemukan secara langsung dengan wawancara mendalam, fakta dan realitas ditemukan di lapangan bukan dari hipotesis atau asumsi yang telah ditetapkan, dan peneliti mendapat pengalaman langsung dari informan yang telah berpengalaman.
3.2.3 Metode Penelitian
Menurut Sugiyono (2013: 2) metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Menurut Schramm yang dikutip oleh Yin (2011: 17) Studi kasus adalah menyelidiki fenomena didalam konteks kehidupan nyata, bilamana Batas-batas antara fenomena dan konteks tak tampak dengan tegas, dan dimana multi sumber bukti dimanfaatkan.
Menurut Semiawan (2010: 49) Studi kasus atau ‘case-study’ adalah bagian dari metode kualitatif yang hendak mendalami suatu kasus tertentu secara lebih mendalam dengan melibatkan pengumpulan beraneka sumber informasi. Creswell mendefinisikan studi kasus sebagai suatu eksplorasi dari sistem-sistem yang terkait (bounded system) atau kasus. Suatu kasus menarik untuk diteliti karena corak khas kasus tersebut yang memiliki arti pada orang lain, minimal bagi peneliti. Patton (2002) menambahkan bahwa studi kasus adalah studi tentang kekhususan dan kompleksitas suatu kasus tunggal dan berusaha untuk mengerti kasus tersebut. Kasus itu haruslah tunggal dan khusus. Ditambahkan lagi bahwa studi ini dilakukan karena kasus tersebut begitu unik, penting dan bermanfaat bagi pembaca dan masyarakat pada umumnya. Dengan memahami kasus itu secara mendalam maka peneliti akan menangkap arti penting bagi kepentingan masyarakat, organisasi, atau komunitas tertentu. Pemahaman kasus unik itu akan memberikan masukan yang berguna bagi kelompok dan organisasi lain mengatasi masalah yang dihadapi.
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan Yin (2011: 17) dan Semiawan (2010: 49), maka menurut penulis yakni studi kasus adalah penelitian yang dilakukan secara lebih mendalam dengan melibatkan banyak sumber untuk memperoleh informasi yang mendetil dan dapat ditarik kesimpulan secara khusus.
Studi kasus ini dapat membantu peneliti untuk mengadakan studi mendalam tentang perorangan, kelompok, program, organisasi, budaya, agama, daerah atau bahkan negara. Pemahaman kasus khusus yang terjadi masa lampau
akan membantu pribadi, masyarakat dan komunitas untuk memahami dan mengatasi masalah yang sedang dihadapi atau yang akan dihadapi.
3.2.4 Sifat Penelitian
Sifat penelitian secara deskriptif. Menurut Moleong (2006: 4) penelitian deskriptif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
Menurut Kriyantono (2008: 67) sifat penelitian deskriptif menggambarkan realitas yang sedang terjadi tanpa menjelaskan hubungan antar variabel. Peneliti telah mempunyai konsep (biasanya satu konsep) dan kerangka konseptual.
Melalui kerangka konseptual (landasan teori), peneliti melakukan operasionalisasi konsep yang akan menghasilkan variabel beserta indikatornya.
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan Moleong (2006: 4) dan Kriyantono (2008: 67), menurut penulis yakni deskriptif adalah proses penelitian yang mendeskripsikan hasil temuan penelitian secara mendalam dengan penggunaan kalimat-kalimat tanpa menjelaskan hubungan diantara variabel.
3.3 Subyek dan Obyek Penelitian 3.3.1 Subyek Penelitian
Menurut Suyanto (2005: 171) Subjek penelitian yang telah tercermin dalam fokus penelitian ditentukan secara tidak sengaja.
Penarikan sampel penelitian untuk metode studi kasus adalah purposive sampling. Menurut Kriyantono (2008: 156) purposive sampling adalah teknik
menyeleksi orang-orang atas dasar kriteria-kriteria tertentu yang dibuat periset berdasarkan tujuan riset.
Oleh karena itu, pilihan akhir peneliti yang harus dinilai, kemungkinan akan didasarkan pada begitu banyak kemungkinan. Menurut Silverman (2000) yang dikutip oleh Daymon dan Holloway (2008: 168), pilihan-pilihan atau kriteria-kriteria peneliti kemungkinan berhubungan dengan:
1) Latar (setting) yang akan diteliti.
2) Unsur-unsur atau proses yang ingin peneliti fokuskan.
3) Bagaimana riset tersebut akan digeneralisasikan lebih lanjut, (namun, alasan ini tidak bisa diterapkan untuk setiap riset).
3.3.2 Obyek Penelitian
Obyek dalam penelitian ini adalah cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial.
3.4 Informan
Menurut Suyanto (2005: 171) informan penelitian meliputi “beberapa macam, yaitu: 1) Informan Kunci (Key Informant) merupakan mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian, 2) Informan Utama merupakan mereka yang terlibat langsung dalam interaksi sosial yang diteliti, 3) Informan Tambahan merupakan mereka yang dapat memberikan informasi walaupun tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial yang diteliti.”
1. Informan I: Aditya Pradana 2. Informan II: Frasdyanto 3. Informan III: Justin Khalid
Alasan memilih 3 informan dikarenakan informan tersebut sudah cukup mewakili penelitian ini karena informan terbilang aktif menggunakan media sosial Facebook dan suka melakukan aksi cyberbullying di Facebook dengan mengucapkan kata-kata yang kurang etis (sopan). Setiap teman-temannya berperilaku dan penampilan aneh/unik, maka temannya melakukan aksi cyberbullying. Kasus dalam penelitian ini terkait dengan etika komunikasi didalam penggunaan media sosial Facebook.
3.5 Operasionalisasi Konsep
Berdasarkan uraian landasan konseptual dan kajian teoritis yang digunakan, maka dapat dibuat operasionalisasi konsep sebagai berikut:
Operasionalisasi konsep mengacu pada penggunaan teori media baru, dan teori etika komunikasi milik (Huang, 2004: 335). Etika paling sering mengacu pada masalah benar dan salah, baik dan jahat, kebajikan dan keburukan (Brinkmann, 2002: 159). Dialog adalah salah satu bentuk komunikasi yang paling etis dan salah satu cara sentral untuk memisahkan kebenaran dari kepalsuan (Fawkes, 2007: 322).
Sesuai judul penelitian ini “Cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial”, maka dari perspektif etika komunikasi terbagi menjadi tiga macam, yakni
1. Teleologi lebih mengacu pada pertimbangan moral akan baik buruknya suatu tindakan dilakukan. Dalam deontologi, kita akan melihat sebuah prinsip benar dan salah.
2. Penyingkapan/Pengungkapan mengacu pada penyampaian atau pengukapan komunikasi secara mendalam kepada pihak lain karena sudah memiliki kedekatan dengan orang tersebut.
3. Tanggung jawab sosial mengacu pada bentuk tanggung jawab atas tindakannya melakukan aksi cyberbullying di lingkungan sosial, dengan merehkan mengakibatkan harkat dan martabatnya menjadi direndahkan.
Sementara konsep dari (Barzam, 2017) tentang etika berkomunikasi di media sosial, meliputi:
1. Selalu perhatikan penggunaan kalimat.
2. Berhati-hati saat menggunakan huruf.
3. Perhatikan pemilihan warna huruf.
4. Pemilihan simbol dan ikon yang tepat.
5. Menggunakan bahasa yang sesuai.
6. Memberikan respon dengan segera.
7. Memberikan informasi yang memiliki referensi jelas.
8. Tidak memancing pertentangan.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data diperoleh dari sumber data primer dan data sekunder, sebagai berikut:
3.6.1 Data Primer
Menurut Kriyantono (2008: 41)Data primer adalah data yang didapat dari sumber pertama, misalnya dari individu atau perseorangan”. Sumber data primer itu diperoleh dari wawancara mendalam. Metode pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitian ini yakni melalui wawancara mendalam dan oberservasi.
1. Wawancara Mendalam
Menurut Kriyantono (2008: 98) Wawancara mendalam adalah suatu cara mengumpulkan data atau informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan informan agar mendapatkan data lengkap dan mendalam”. Biasanya jenis wawancara mendalam ini menjadi alat utama pada riset kualitatif.Instrumen pengumpulan data atau instrumen riset yang digunakan untuk proses wawancara mendalam yakni menggunakan pedoman wawancara (interview guide) yang telah peneliti buat sesuai dengan teori.
Menurut Kriyantono (2008: 99) pedoman wawancara (interview guide) merupakan bentuk spesifik yang berisi instruksi yang mengarah periset dalam melakukan wawancara. Wawancara jenis ini dikenal juga sebagai wawancara sistematis atau wawancara terpimpin. Pertanyaan yang akan diajukan kepada responden sudah disusun secara sistematis, biasanya mulai dari yang mudah menuju yang lebih kompleks.
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan Kriyantono (2008: 99), menurut penulis yakni wawancara adalah proses menginterview narasumber terkait dengan topik penelitian untuk mendapatkan informasi yang lengkap.
2. Observasi
Menurut Kriyantono (2008: 110) Observasi merupakan metode pengumpulan data yang digunakan pada riset kualitatif, yang diobservasi adalah interaksi (perilaku) dan percakapan yang terjadi di antara subjek yang
diriset”. Jenis metode observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi non partisipan. Observasi non partisipan merupakan metode observasi di mana peneliti hanya bertindak mengobservasi tanpa ikut terjun melakukan aktivitas seperti yang dilakukan kelompok yang diriset, baik kehadirannya atau tidak.
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan Kriyantono (2008: 110), menurut penulis yakni observasi adalah proses pengamatan terhadap objek yang diteliti untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
3.6.2 Data Sekunder
Menurut Kriyantono (2008: 42) “Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber kedua atau sumber sekunder”. Data sekunder juga dapat diperoleh dari data primer penelitian terdahulu yang telah diolah lebih lanjut menjadi bentuk-bentuk seperti tabel, grafik, gambar, dan sumber buku-buku sehingga menjadi lebih informatif bagi pihak lain.
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan Kriyantono (2008: 42), menurut penulis yakni data sekunder merupakan data untuk menyusun penelitian karena penulis perlu membaca sumber-sumber buku, jurnal, dan media terkait didalam proses penelitian.
Data sekunder dalam penelitian ini mengacu pada kepustakaan atau tinjauan kepustakaan. Menurut Kriyantono (2008: 44) “Tinjauan Pustaka adalah cara yang dilakukan untuk menelusuri dan mencari teori-teori yang relevan dengan penelitian peneliti”. Tinjauan pustaka ditekankan pada hasil-hasil
penelitian terdahulu (previous research) dimulai dari yang paling aktual ditelusuri hingga ke paling awal.
3.7 Teknik Analisis Data
Menurut Kriyantono (2008: 165) mendefinisikan analisis data sebagai proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.
Analisis data penelitian menggunakan analisis kualitatif. Menurut West dan Turner (2009: 77) metode kualitatif (qualitative method) mengharuskan peneliti menganalisis topik kajiannya melalui alat bantu pemahaman seperti cerita, mitos, dan tema.
Analisis Data Kualitatif mengacu pada Model Interaktif yang diungkapkan oleh Miles dan Huberman (1994).
Menurut Miles dan Huberman (1994) yang dikutip oleh Sugiyono (2012:
337) terdapat tiga teknik analisisi data kualitatif yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Proses ini berlangsung terus-menerus selama penelitian berlangsung, yang dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Reduksi Data
Reduksi data merupakan salah satu dari teknik analisis data kualitatif.
Reduksi data adalah bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasi data sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhir dapat diambil. Reduksi tidak perlu diartikan sebagai kuantifikasi data.
2) Penyajian Data
Penyajian data merupakan salah satu dari teknik analisis data kualitatif.
Penyajian data adalah kegiatan ketika sekumpulan informasi disusun, sehingga memberi kemungkinan akan adanya penarikan kesimpulan.
Bentuk penyajian data kualitatif berupa teks naratif (berbentuk catatan lapangan), matriks, grafik, jaringan dan bagan.
3) Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan salah satu dari teknik analisis data kualitatif. Penarikan kesimpulan adalah hasil analisis yang dapat digunakan untuk mengambil tindakan.
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan Sugiyono (2012: 337), menurut penulis yakni teknik analisisi data kualitatif adalah penulis melakukan wawancara mendalam dengan narasumber, data yang tidak sesuai dengan topik penelitian akan direduksi/dikurangi dan diambil yang penting-penting lalu dikaji dan dianalisis dengan teori-teori guna mendapatkan kesimpulan penelitian yang valid.
Berdasarkan uraian penjelasan mengenai teknik analisisi data kualitatif Miles dan Huberman (1994) yang dikutip oleh Sugiyono (2012: 337), maka dapat digambarkan diagram teknik analisis data seperti di bawah ini:
Diagram Teknik Analisis Data Model Miles dan Huberman (1994)
3.8 Teknik Keabsahan Data
Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi. Triangulasi merupakan sesuatu yang sangat krusial dalam upaya pengumpulan data dalam konteks penelitian komunikasi kualitatif. Peneliti, siapa pun dia, selalu menginginkan
Pengumpulan Data
Reduksi Data
Penyajian Data
Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi