BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.3 Subyek dan Obyek Penelitian
akan membantu pribadi, masyarakat dan komunitas untuk memahami dan mengatasi masalah yang sedang dihadapi atau yang akan dihadapi.
3.2.4 Sifat Penelitian
Sifat penelitian secara deskriptif. Menurut Moleong (2006: 4) penelitian deskriptif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
Menurut Kriyantono (2008: 67) sifat penelitian deskriptif menggambarkan realitas yang sedang terjadi tanpa menjelaskan hubungan antar variabel. Peneliti telah mempunyai konsep (biasanya satu konsep) dan kerangka konseptual.
Melalui kerangka konseptual (landasan teori), peneliti melakukan operasionalisasi konsep yang akan menghasilkan variabel beserta indikatornya.
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan Moleong (2006: 4) dan Kriyantono (2008: 67), menurut penulis yakni deskriptif adalah proses penelitian yang mendeskripsikan hasil temuan penelitian secara mendalam dengan penggunaan kalimat-kalimat tanpa menjelaskan hubungan diantara variabel.
3.3 Subyek dan Obyek Penelitian
menyeleksi orang-orang atas dasar kriteria-kriteria tertentu yang dibuat periset berdasarkan tujuan riset.
Oleh karena itu, pilihan akhir peneliti yang harus dinilai, kemungkinan akan didasarkan pada begitu banyak kemungkinan. Menurut Silverman (2000) yang dikutip oleh Daymon dan Holloway (2008: 168), pilihan-pilihan atau kriteria-kriteria peneliti kemungkinan berhubungan dengan:
1) Latar (setting) yang akan diteliti.
2) Unsur-unsur atau proses yang ingin peneliti fokuskan.
3) Bagaimana riset tersebut akan digeneralisasikan lebih lanjut, (namun, alasan ini tidak bisa diterapkan untuk setiap riset).
3.3.2 Obyek Penelitian
Obyek dalam penelitian ini adalah cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial.
3.4 Informan
Menurut Suyanto (2005: 171) informan penelitian meliputi “beberapa macam, yaitu: 1) Informan Kunci (Key Informant) merupakan mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian, 2) Informan Utama merupakan mereka yang terlibat langsung dalam interaksi sosial yang diteliti, 3) Informan Tambahan merupakan mereka yang dapat memberikan informasi walaupun tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial yang diteliti.”
1. Informan I: Aditya Pradana 2. Informan II: Frasdyanto 3. Informan III: Justin Khalid
Alasan memilih 3 informan dikarenakan informan tersebut sudah cukup mewakili penelitian ini karena informan terbilang aktif menggunakan media sosial Facebook dan suka melakukan aksi cyberbullying di Facebook dengan mengucapkan kata-kata yang kurang etis (sopan). Setiap teman-temannya berperilaku dan penampilan aneh/unik, maka temannya melakukan aksi cyberbullying. Kasus dalam penelitian ini terkait dengan etika komunikasi didalam penggunaan media sosial Facebook.
3.5 Operasionalisasi Konsep
Berdasarkan uraian landasan konseptual dan kajian teoritis yang digunakan, maka dapat dibuat operasionalisasi konsep sebagai berikut:
Operasionalisasi konsep mengacu pada penggunaan teori media baru, dan teori etika komunikasi milik (Huang, 2004: 335). Etika paling sering mengacu pada masalah benar dan salah, baik dan jahat, kebajikan dan keburukan (Brinkmann, 2002: 159). Dialog adalah salah satu bentuk komunikasi yang paling etis dan salah satu cara sentral untuk memisahkan kebenaran dari kepalsuan (Fawkes, 2007: 322).
Sesuai judul penelitian ini “Cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial”, maka dari perspektif etika komunikasi terbagi menjadi tiga macam, yakni
1. Teleologi lebih mengacu pada pertimbangan moral akan baik buruknya suatu tindakan dilakukan. Dalam deontologi, kita akan melihat sebuah prinsip benar dan salah.
2. Penyingkapan/Pengungkapan mengacu pada penyampaian atau pengukapan komunikasi secara mendalam kepada pihak lain karena sudah memiliki kedekatan dengan orang tersebut.
3. Tanggung jawab sosial mengacu pada bentuk tanggung jawab atas tindakannya melakukan aksi cyberbullying di lingkungan sosial, dengan merehkan mengakibatkan harkat dan martabatnya menjadi direndahkan.
Sementara konsep dari (Barzam, 2017) tentang etika berkomunikasi di media sosial, meliputi:
1. Selalu perhatikan penggunaan kalimat.
2. Berhati-hati saat menggunakan huruf.
3. Perhatikan pemilihan warna huruf.
4. Pemilihan simbol dan ikon yang tepat.
5. Menggunakan bahasa yang sesuai.
6. Memberikan respon dengan segera.
7. Memberikan informasi yang memiliki referensi jelas.
8. Tidak memancing pertentangan.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data diperoleh dari sumber data primer dan data sekunder, sebagai berikut:
3.6.1 Data Primer
Menurut Kriyantono (2008: 41)Data primer adalah data yang didapat dari sumber pertama, misalnya dari individu atau perseorangan”. Sumber data primer itu diperoleh dari wawancara mendalam. Metode pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitian ini yakni melalui wawancara mendalam dan oberservasi.
1. Wawancara Mendalam
Menurut Kriyantono (2008: 98) Wawancara mendalam adalah suatu cara mengumpulkan data atau informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan informan agar mendapatkan data lengkap dan mendalam”. Biasanya jenis wawancara mendalam ini menjadi alat utama pada riset kualitatif.Instrumen pengumpulan data atau instrumen riset yang digunakan untuk proses wawancara mendalam yakni menggunakan pedoman wawancara (interview guide) yang telah peneliti buat sesuai dengan teori.
Menurut Kriyantono (2008: 99) pedoman wawancara (interview guide) merupakan bentuk spesifik yang berisi instruksi yang mengarah periset dalam melakukan wawancara. Wawancara jenis ini dikenal juga sebagai wawancara sistematis atau wawancara terpimpin. Pertanyaan yang akan diajukan kepada responden sudah disusun secara sistematis, biasanya mulai dari yang mudah menuju yang lebih kompleks.
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan Kriyantono (2008: 99), menurut penulis yakni wawancara adalah proses menginterview narasumber terkait dengan topik penelitian untuk mendapatkan informasi yang lengkap.
2. Observasi
Menurut Kriyantono (2008: 110) Observasi merupakan metode pengumpulan data yang digunakan pada riset kualitatif, yang diobservasi adalah interaksi (perilaku) dan percakapan yang terjadi di antara subjek yang
diriset”. Jenis metode observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi non partisipan. Observasi non partisipan merupakan metode observasi di mana peneliti hanya bertindak mengobservasi tanpa ikut terjun melakukan aktivitas seperti yang dilakukan kelompok yang diriset, baik kehadirannya atau tidak.
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan Kriyantono (2008: 110), menurut penulis yakni observasi adalah proses pengamatan terhadap objek yang diteliti untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.
3.6.2 Data Sekunder
Menurut Kriyantono (2008: 42) “Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber kedua atau sumber sekunder”. Data sekunder juga dapat diperoleh dari data primer penelitian terdahulu yang telah diolah lebih lanjut menjadi bentuk-bentuk seperti tabel, grafik, gambar, dan sumber buku-buku sehingga menjadi lebih informatif bagi pihak lain.
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan Kriyantono (2008: 42), menurut penulis yakni data sekunder merupakan data untuk menyusun penelitian karena penulis perlu membaca sumber-sumber buku, jurnal, dan media terkait didalam proses penelitian.
Data sekunder dalam penelitian ini mengacu pada kepustakaan atau tinjauan kepustakaan. Menurut Kriyantono (2008: 44) “Tinjauan Pustaka adalah cara yang dilakukan untuk menelusuri dan mencari teori-teori yang relevan dengan penelitian peneliti”. Tinjauan pustaka ditekankan pada hasil-hasil
penelitian terdahulu (previous research) dimulai dari yang paling aktual ditelusuri hingga ke paling awal.