BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.4 Pembahasan
4.4.2 Penyajian Data
berupa permintaan maaf setelah mem-bully Anda?
AP : Hahahahaha tergantung. Gak semua temen gue menyadari kalo cara mereka itu sebenernya masuk dalam bullying secara tidak langsung..
tapi ada juga kok yg langsung minta maaf.
6. P : Apakah harkat dan martabat Anda menjadi tidak berharga setelah sering terkena bully dari teman?
AP : Hmmmmm enggaksihhh. Karena dari awal gue selalu mencoba untuk positif thingking.. mereka yang mem-bully tidak selamanya lebih baik dari yang mereka bully.
Berdasarkan data teks naratif yang diperoleh dari hasil wawancara dengan Aditya Pradana (AP), dapat penulis analisis mengenai cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial, yakni pertama dilihat dari perspektif teleologi dapat diketahui dengan jelas bahwa aksi cyberbullying yang dilakukan temannya kepada Aditya Pradana diketahui dengan jelas bahwa Aditya dapat dikatakan cukup sering mendapatkan perlakuan aksi cyberbullying dari temannya. Aksi cyberbullying yang dilakukan temannya tersebut berupa ucapan kata-kata celaan yang merendahkan dirinya sehingga menjadi bahan tertawaan teman-teman lainnya. Selama aksi cyberbullying yang dilakukan teman-temannya masih sebatas ucapan kata-kata yang tidak mengarah ke bodyshamming, maka Aditya masih meresponnya dengan biasa saja. Namun, sebaliknya jika teman-temannya melakukan aksi cyberbullying dengan mengarah pada bodyshamming maka Aditya langsung meresponnya dengan sikap marah dan menegur temannya. Aditya akan merasa sakit hati jika temannya sudah menjelek-jelekan fisiknya. Menurut Aditya, fisik bukan untuk dihina-hina karena ciptaan Tuhan dan setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Aditya tetap menunjukkan percaya diri dengan penampilannya saat
ini karena Aditya merasa bahwa ia tidak menyusahkan orang lain dan nyaman dengan penampilan saat ini.
Kedua, penyingkapan/pengungkapan (disclosure) diketahui bahwa Aditya dapat dikatakan tidak mengungkapkan atau melakukan aksi cyberbullying dengan mengucapkan kata-kata yang tidak pantas meskipun hal itu hanyalah bercandaan. Aditya tidak ingin mengurusi orang lain dikarenakan ia tahu bagaimana rasanya di kritik yang sifatnya tidak membangun, hal itu justru membuatnya tidak nyaman. Aditya berprinsip bahwa ia tidak ingin dikritik maka ia tidak ingin melakukan aksi cyberbullying pada orang lain.
Ketiga, terkait tanggung jawab sosial diketahui dengan jelas bahwa Aditya memaafkan kesalahan temannya jika ada temannya yang meminta maaf ketika melakukan aksi cyberbullying yang kelewat batas dan mengakibatkan dirinya emosi. Namun, ada pula temannya yang tidak memintanya maaf karena temannya merasa bahwa hal itu hanya guyonan/becanda saja.
Tabel 4.2 Penyajian Data Teks Naratif Dari Informan II : Frasdyanto (Fras) No. Kode A. Teleologi
1. P : Apakah Anda sering mendapatkan kritikan berupa celaan dari teman sejawat? Lalu, bagaimana respon Anda setelah di cela?
Fras : Kalau sering sih memang tidak, namun pernah mendapatkan perlakuan seperti itu
2. P : Apakah Anda menyadari bahwa bentuk kritikan berupa celaan tersebut untuk menunjukkan bahwa diri Anda tidak pantas berpenampilan seperti itu?
Fras : Menurut saya, pantas atau tidaknya penampilan kita itu tidak dapat dinilai, karena pemikiran setiap orang berbeda. Namun ketika orang lain mengatakan tidak pantas, kita tidak perlu terlalu memikirkan perkataan tersebut, lebih baik kita menjadi diri kita sendiri.
3. P : Apakah Anda merasa sakit hati ketika di cela atau dihina oleh teman sejawat?
Fras : Sewaktu masih kecil mungkin merasa seperti sakit hati, menangis, stress. Namun ketika sudah mulai beranjak dewasa mulai membiasakan diri dengan pendapat orang lain baik maupun buruk, jadi untuk saat ini ga merasakan sakit hati dan tidak di ambil pusing.
B. Penyingkapan/Pengungkapan (disclosure)
4. P : Apakah teman sejawat Anda sering mengungkapkan perasaan berupa kata-kata celaan kepada Anda? Atau sebaliknya, Anda juga pernah melakukan pengungkapan berupa melakukan kata-kata kasar kepada teman?
Fras : Tidak sering, hanya pernah. Kalau saya pribadi sih ga melakukan hal tersebut, karena saya pun tidak ingin mendapat perlakuan seperti itu.
C. Tanggung jawab sosial
5. P : Apakah teman-teman Anda menunjukkan sikap tanggung jawab berupa permintaan maaf setelah mem-bully Anda?
Fras : Kalau saya waktu masih kecil menangis mereka sempet sih minta maaf, tapi ada juga yang ga minta maaf.
6. P : Apakah harkat dan martabat Anda menjadi tidak berharga setelah sering terkena bully dari teman?
Fras : Menurut saya sih, bully itu ga menjadikan kita buruk ataupun tidak berharga. Jadi sebenernya balik lagi gimana kita menyikapi bullyan tersebut, lebih baik kita percaya diri dan menjadi diri kita sendiri.
Berdasarkan data teks naratif yang diperoleh dari hasil wawancara dengan Frasdyanto (Fras), dapat penulis analisis mengenai cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial, yakni pertama dilihat dari perspektif teleologi dapat diketahui dengan jelas bahwa informan II Frasdyanto memang tidak terlalu sering mendapatkan perlakuan aksi cyberbullying dari teman sepermainannya namun pernah mendapatkan perlakuan seperti itu. Teman sepermainannya melakukan aksi cyberbullying berupa ucapan kata-kata celaan terhadap penampilan dirinya. Mungkin menurut teman sepermainannya, penampilan Frasdyanto terlihat unik dan nyeleneh sehingga menjadi perhatian teman-temannya untuk mengucapkan kata-kata yang spontanitas berupa
umpatan-umpatan kalimat yang kurang sopan. Namun, Frasdyanto tidak merespon umpatan-umpatan atau ucapan berkalimat kasar tersebut. Frasdyanto membiarkan temannya melakukan aksi cyberbullying dengan tidak memikirannya.
Tabel 4.3 Penyajian Data Teks Naratif Dari Informan III : Justin Khalid (JK) No. Kode A. Teleologi
1. P : Apakah Anda sering mendapatkan kritikan berupa celaan dari teman sejawat? Lalu, bagaimana respon Anda setelah di cela?
JK : Ya kalau kritikan celaan dari teman saya buruk maka saya akan introspeksi diri menerima dengan ambil pelajaran positif nya.
2. P : Apakah Anda menyadari bahwa bentuk kritikan berupa celaan tersebut untuk menunjukkan bahwa diri Anda tidak pantas berpenampilan seperti itu?
JK : Menyadari hal tersebut soal pantas atau tidak hanya saya dan Tuhan sih, karena diri sendiri lah yang paling mengerti, orang lain pun menilai hanya dari sudut pandang berbeda.
3. P : Apakah Anda merasa sakit hati ketika di cela atau dihina oleh teman sejawat?
JK : Saya akan merasa sakit hati jika teman saya berkata tidak sopan, seperti membahas buruk keluarga atau orang tua, orang yang saya sayang, dan hal sensitive lainnya. Terlebih dari itu saya biasa saja.
Ya dari hal konteks apa dulu aja sih dihinanya, dan tergantung mood dan sauna hati saat itu.
B. Penyingkapan/Pengungkapan (disclosure)
4. P : Apakah teman sejawat Anda sering mengungkapkan perasaan berupa kata-kata celaan kepada Anda? Atau sebaliknya, Anda juga pernah melakukan pengungkapan berupa melakukan kata-kata kasar kepada teman?
JK : Pernah, tapi tidak begitu sering. Saya rasa semua orang pernah melakukan hal tersebut, entah berupa celaan atau candaan terhadap teman atau yang lain.
C. Tanggung jawab sosial
5. P : Apakah teman-teman Anda menunjukkan sikap tanggung jawab berupa permintaan maaf setelah mem-bully Anda?
JK : Ya menunjukan secara langsung dan tidak langsung, kan cara orang berpikir buat tanggung jawab mengenai hal tesebut berbeda beda.
Ada yang sadar langsung minta maaf dan ada yang tidak minta maaf
karena merasa hal tersebut hal itu bukan bullying, tergantung respons saya pada kejadian tersebut sih.
6. P : Apakah harkat dan martabat Anda menjadi tidak berharga setelah sering terkena bully dari teman?
JK : Saya nyikapin hal tersebut dengan percaya diri untuk lebih baik, serta saya sangat berharga, dan saya membiasakan untuk menjadi diri saya sendiri. Karena sangat penting untuk mencintai diri sendiri di bandingkan memikirkan bully yang tidak menguntungkan bagi saya.
Berdasarkan data teks naratif yang diperoleh dari hasil wawancara dengan Justin Khalid, dapat penulis analisis mengenai cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial, yakni pertama dilihat dari perspektif teleologi dapat diketahui dengan jelas bahwa Justin Khalid menganggap aksi cyberbullying yang disampaikan teman sepermainannya itu suatu hal yang biasa saja. Jika aksi cyberbullying-nya terlalu kasar dan membuatnya terhina maka Justin Khalid akan mengambil pelajaran positifnya. Justin Khalid merasa kesal dan sakit hati dengan temannya yang melakukan aksi cyberbullying yang keterlaluan dengan menyampaikan kata-kata tidak sopan.
Kedua, terkait dengan penyingkapan/pengungkapan (disclosure) menunjukkan bahwa ternyata Justin Khalid juga pernah melakukan aksi cyberbullying kepada temannya akan tetapi tidak begitu sering. Bentuk aksi cyberbullying yang dilakukan hanyalah sekadar candaan saja.
Ketiga, terkait dengan tanggung jawab sosial diketahui bahwa teman- teman dari Justin Khalid tidak secara langsung meminta maaf jika melakukan kesalahan didalam aksi cyberbullying karena temannya beranggapan bahwa ucapan kata-kata tidak sopan tersebut hanyalah sekadar bercandaan saja.
Meskipun Justin Khalid mendapatkan perlakuan aksi cyberbullying dari teman
sepermainannya namun ia menanggapinya dengan penuh percaya diri saja dan tidak perlu serius sekali karena aksi cyberbullying itu tidak menguntungkan pula bagi dirinya.