• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.3 Hasil Penelitian

9) Membuat akun palsu, membajak, atau mencuri identitas online untuk mempermalukan seseorang atau menyebabkan masalah dalam menggunakan nama mereka.

10) Memaksa anak-anak agar mengirimkan gambar sensual atau terlibat dalam percakapan seksual.

Lalu, bagaimana respon Anda setelah di cela?, diperoleh pernyataan sebagai berikut:

Wah sering bangeettt. Kalo gue sih tergantung sih yaaa. Kalo yang mengarah ke bodyshaming gitu gue marah dan akan ngasih tau ke mereka kalo gue gak suka hehe.

Dari hasil temuan penelitian wawancara penelitian dengan informan II yang bernama Frasdyanto dengan mengajukan pertanyaan serupa di atas, diperoleh pernyataan sebagai berikut:

Kalau sering sih memang tidak, namun pernah mendapatkan perlakuan seperti itu.

Selanjutnya, penulis juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada informan III yang bernama Justin Khalid, memberikan pernyataan sebagai berikut:

Ya kalau kritikan celaan dari teman saya buruk maka saya akan introspeksi diri menerima dengan ambil pelajaran positif nya.

Berdasarkan hasil temuan wawancara mendalam dengan informan I yang bernama Aditya Pradana, dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

Apakah Anda menyadari bahwa bentuk kritikan berupa celaan tersebut untuk menunjukkan bahwa diri Anda tidak pantas berpenampilan seperti itu?, diperoleh pernyataan sebagai berikut:

Kadang mikir kaya gituuu, Cuma balik lagi sihhh toh gue gak nyusahin mereka kok dengan penampilan gue yg spt itu. So far selagi itu membuat gue nyaman, why not?

Dari hasil temuan penelitian wawancara penelitian dengan informan II yang bernama Frasdyanto dengan mengajukan pertanyaan serupa di atas, diperoleh pernyataan sebagai berikut:

Menurut saya, pantas atau tidaknya penampilan kita itu tidak dapat dinilai, karena pemikiran setiap orang berbeda. Namun ketika orang lain mengatakan tidak pantas, kita tidak perlu terlalu memikirkan perkataan tersebut, lebih baik kita menjadi diri kita sendiri.

Selanjutnya, penulis juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada informan III yang bernama Justin Khalid, memberikan pernyataan sebagai berikut:

Menyadari hal tersebut soal pantas atau tidak hanya saya dan Tuhan sih, karena diri sendiri lah yang paling mengerti, orang lain pun menilai hanya dari sudut pandang berbeda.

Berdasarkan hasil temuan wawancara mendalam dengan informan I yang bernama Aditya Pradana, dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

Apakah Anda akan merubah sikap dan penampilannya setelah di-bully oleh teman?, diperoleh pernyataan sebagai berikut:

Enggak lah... buat apaaa? Gue bangga akan diri dan penampilan gue kok.

Dari hasil temuan penelitian wawancara penelitian dengan informan II yang bernama Frasdyanto dengan mengajukan pertanyaan serupa di atas, diperoleh pernyataan sebagai berikut:

Tidak jika tentang penampilan, karena dengan kita berubah karena orang lain kita juga ga akan merasa nyaman. Mungkin kalau berbicara sikap, saya akan merubah sikap saya yang buruk tapi dari keinginan hati saya bukan karena penilaian orang lain.

Selanjutnya, penulis juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada informan III yang bernama Justin Khalid, memberikan pernyataan sebagai berikut:

Saya akan merubah sikap dan penampilan saya setelah di bully, jika menurut saya itu untuk kebaikan diri saya menjadi lebih baik, saya akan terima. Namun jika tidak, saya tidak perduli.

Berdasarkan hasil temuan wawancara mendalam dengan informan I yang bernama Aditya Pradana, dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

Apakah ucapan kata-kata kasar atau perkataan tidak sopan tersebut memang perkataan jujur dari teman sejawat atau hanya bercanda saja?, diperoleh pernyataan sebagai berikut:

Gue sih yakin niat nya mereka bercanda hehehe.

Dari hasil temuan penelitian wawancara penelitian dengan informan II yang bernama Frasdyanto dengan mengajukan pertanyaan serupa di atas, diperoleh pernyataan sebagai berikut:

Ya mungkin ada aja yang jujur, tapi kebanyakan mungkin bercanda.

Dan saya sendiri ga ambil pusing juga, daripada nantinya sakit hati.

Selanjutnya, penulis juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada informan III yang bernama Justin Khalid, memberikan pernyataan sebagai berikut:

Untuk perkataan kasar atau tidak sopan dari teman saya kebanyakan hanya bercanda sih. Namun tergantung kondisi dan situasi pada saat itu, untuk di lingkungaan sejawat memang sudah hal biasa dalam berkata kasar, dan namun memang hal ini pure murni untuk sehari hari bagi mereka bercanda di media social, untuk perkataam tidak sopan mungkin lebih mengarah ke hal sesuatu “sensitive”. Menurut saya perkataan kasar dan tidak sopan itu berbeda, semua tergantung dari kondisi situasi dan detail perkataan tutur bahasa tersebut seperti apa.

Berdasarkan hasil temuan wawancara mendalam dengan informan I yang bernama Aditya Pradana, dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

Apakah Anda merasa sakit hati ketika di cela atau dihina oleh teman sejawat?, diperoleh pernyataan sebagai berikut:

Awal-awal sih sakit hati pasti apalagi di cela nya sama temen yang baru kenal. Cuma makin sering main ya gue coba membiasakan bahwa mungkin memang sifat dia yg selalu men judge penampilan seseorang.

Dari hasil temuan penelitian wawancara penelitian dengan informan II yang bernama Frasdyanto dengan mengajukan pertanyaan serupa di atas, diperoleh pernyataan sebagai berikut:

Sewaktu masih kecil mungkin merasa seperti sakit hati, menangis, stress. Namun ketika sudah mulai beranjak dewasa mulai membiasakan diri dengan pendapat orang lain baik maupun buruk, jadi untuk saat ini ga merasakan sakit hati dan tidak di ambil pusing.

Selanjutnya, penulis juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada informan III yang bernama Justin Khalid, memberikan pernyataan sebagai berikut:

Saya akan merasa sakit hati jika teman saya berkata tidak sopan, seperti membahas buruk keluarga atau orang tua, orang yang saya sayang, dan hal sensitive lainnya. Terlebih dari itu saya biasa saja.

Ya dari hal konteks apa dulu aja sih dihinanya, dan tergantung mood dan sauna hati saat itu.

2) Disclosure

Berdasarkan hasil temuan wawancara mendalam dengan informan I yang bernama Aditya Pradana, dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

Apakah teman sejawat Anda sering mengungkapkan perasaan berupa kata-kata celaan kepada Anda? Atau sebaliknya, Anda juga pernah melakukan pengungkapan berupa melakukan kata-kata kasar kepada teman?, diperoleh pernyataan sebagai berikut:

Kalo temen sihh, bisa dibilang sering yaaahh even itu cuma bercandaan aja niatnyaa kaya yang selalu komentarin penampilan atau ke bentuk badan malahan. Dan kalo gue pribadi sih, gue

gapernah mau yaa ngurusin urusan orang. Jadi gue gapernah melakukan hal hal yang kaya gituu. Karena gue tau rasanya di kritik yang tidak membangun itu cuma membuat insecure. Gue gamau di kritik dan gue juga gak akan mengkritik orang lain gitu.

Dari hasil temuan penelitian wawancara penelitian dengan informan II yang bernama Frasdyanto dengan mengajukan pertanyaan serupa di atas, diperoleh pernyataan sebagai berikut:

Kalau sering sih memang tidak, namun pernah mendapatkan perlakuan seperti itu.

Selanjutnya, penulis juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada informan III yang bernama Justin Khalid, memberikan pernyataan sebagai berikut:

Pernah, tapi tidak begitu sering. Saya rasa semua orang pernah melakukan hal tersebut, entah berupa celaan atau candaan terhadap teman atau yang lain.

Berdasarkan hasil temuan wawancara mendalam dengan informan I yang bernama Aditya Pradana, dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

Bagaimana perasaan Anda setelah mendapat celaan dari teman atau bullying?, diperoleh pernyataan sebagai berikut:

Sedih sih yaaa sampe sekarang pun kalo masih ada yg ngebully gue juga buat gue mikir 2x “masasih gue seburuk itu?”. Karena pada dasarnya dalam bentuk apapun bullying tidak dibenarkan karena nyerangnya ke psikis shaaayyy.

Dari hasil temuan penelitian wawancara penelitian dengan informan II yang bernama Frasdyanto dengan mengajukan pertanyaan serupa di atas, diperoleh pernyataan sebagai berikut:

Tidak sering, hanya pernah. Kalau saya pribadi sih ga melakukan hal tersebut, karena saya pun tidak ingin mendapat perlakuan seperti itu.

Selanjutnya, penulis juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada informan III yang bernama Justin Khalid, memberikan pernyataan sebagai berikut:

Perasaan khawatir dan sedih sih yang dirasain, dan terkadang saya berpikir apakah saya begitu buruh sampai orang lain mencela saya?

Namun hal tersebut tidak membuat saya frustasi, karena saya bisa menjadi lebih baik dan belajar dari kesalahan.

3) Tanggung jawab sosial

Berdasarkan hasil temuan wawancara mendalam dengan informan I yang bernama Aditya Pradana, dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

Apakah teman-teman Anda menunjukkan sikap tanggung jawab berupa permintaan maaf setelah mem-bully Anda?, diperoleh pernyataan sebagai berikut:

Hahahahaha tergantung. Gak semua temen gue menyadari kalo cara mereka itu sebenernya masuk dalam bullying secara tidak langsung..

tapi ada juga kok yg langsung minta maaf..

Dari hasil temuan penelitian wawancara penelitian dengan informan II yang bernama Frasdyanto dengan mengajukan pertanyaan serupa di atas, diperoleh pernyataan sebagai berikut:

Kalau saya waktu masih kecil menangis mereka sempet sih minta maaf, tapi ada juga yang ga minta maaf.

Selanjutnya, penulis juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada informan III yang bernama Justin Khalid, memberikan pernyataan sebagai berikut:

Ya menunjukan secara langsung dan tidak langsung, kan cara orang berpikir buat tanggung jawab mengenai hal tesebut berbeda beda.

Adayang sadar langsung minta maaf dan ada yang tidak minta maaf

karena merasa hal tersebut hal itu bukan bullying, tergantung respons saya pada kejadian tersebut sih..

Berdasarkan hasil temuan wawancara mendalam dengan informan I yang bernama Aditya Pradana, dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

Apakah Anda menjadi sering terkena bullying di lingkungan teman sepermainan setelah teman Anda sering mem-bully-nya?, diperoleh pernyataan sebagai berikut:

Alhamdulillah engga. Walaupun circle pertemanan gue isinya orang suka nge-bully.

Dari hasil temuan penelitian wawancara penelitian dengan informan II yang bernama Frasdyanto dengan mengajukan pertanyaan serupa di atas, diperoleh pernyataan sebagai berikut:

Tidak terlalu sering. Tapi yaa pernah juga di bully. Namun tidak terlalu parah, karena teman-teman juga sudah mengenal karakter saya.

Selanjutnya, penulis juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada informan III yang bernama Justin Khalid, memberikan pernyataan sebagai berikut:

Nggak pernah.. karena saya gak pernah berpenampilan nyeleneh.

Berdasarkan hasil temuan wawancara mendalam dengan informan I yang bernama Aditya Pradana, dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:

Apakah harkat dan martabat Anda menjadi tidak berharga setelah sering terkena bully dari teman?, diperoleh pernyataan sebagai berikut:

Hmmmmm enggaksihhh. Karena dari awal gue selalu mencoba untuk positif thingking.. mereka yang mem-bully tidak selamanya lebih baik dari yang mereka bully.

Dari hasil temuan penelitian wawancara penelitian dengan informan II yang bernama Frasdyanto dengan mengajukan pertanyaan serupa di atas, diperoleh pernyataan sebagai berikut:

Menurut saya sih, bully itu ga menjadikan kita buruk ataupun tidak berharga. Jadi sebenernya balik lagi gimana kita menyikapi bullyan tersebut, lebih baik kita percaya diri dan menjadi diri kita sendiri.

Selanjutnya, penulis juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada informan III yang bernama Justin Khalid, memberikan pernyataan sebagai berikut:

Saya nyikapin hal tersebut dengan percaya diri untuk lebih baik, serta saya sangat berharga, dan saya membiasakan untuk menjadi diri saya sendiri. Karena sangat penting untuk mencintai diri sendiri di bandingkan memikirkan bully yang tidak menguntungkan bagi saya.