BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.4 Pembahasan
4.4.3 Kesimpulan dan Verifikasi
sepermainannya namun ia menanggapinya dengan penuh percaya diri saja dan tidak perlu serius sekali karena aksi cyberbullying itu tidak menguntungkan pula bagi dirinya.
yang dilakukan temannya kepada ketiga narasumber (Aditya Pradana, Frasdyanto, dan Justin Khalid) berupa ucapan perkataan yang tidak sopan saja atau perkataan yang sifatnya mencela penampilannya, yang menurut persepsi temannya terlihat aneh dan unik sehingga menjadi bahan guyonan dan tertawa teman-temannya. Memang terkadang ucapan perkataan teman-temannya tersebut terkadang menyakitkan hati. Temannya menggunakan media sosial Facebook tidak sebagaimana mestinya dan telah menyalahgunakan media sosial sebagai tempat untuk mem-bully seseorang. Aksi cyberbullying yang dilakukan teman sejawatnya tersebut secara tidak langsung ingin mempermalukan teman dihadapan orang lain. Namun, di satu sisi ketiga narasumber (Aditya Pradana, Frasdyanto, dan Justin Khalid) tetap menunjukkan sikap percaya diri didalam menghadapi aksi cyberbullying berupa ucapan kata-kata tidak sopan bahwa penampilan dirinya memang sudah pantas dan sesuai.
Dilihat dari perspektif etika berkomunikasi, tindakan anak remaja melakukan aksi cyberbullying ini dapat dikatakan sudah melanggar etika berkomunikasi. Jika dilihat dari konsep yang dikemukakan (Huang, 2004: 335), dikaitkan dengan teleologis yakni temannya memberikan kritik maupun celaan tersebut mungkin tujuannya baik bahwa kalau berpenampilan seperti itu tidak pantas dan terlihat unik karena tidak memberikan perubahan pada penampilan yang lebih baik. Sedangkan, dari perspektif deontolog adalah apakah ucapan atau kata-kata kasar yang disampaikan itu memang perkataan jujur dari dalam hati atau hanya sekadar becanda saja. Oleh karenanya, terkadang kembali lagi pada niat dari seseorang tersebut, apakah memang ingin membuat malu
seseorang atau hanya sekadar becandaan saja? Dari informasi yang didapat dengan narasumber, mereka mengatakan bahwa aksi cyberbullying yang mengarah kepada dirinya memang sekadar bercandaan saja. Hal ini dikarenakan mungkin teman-temannya menilai jati diri pribadi narasumber (Aditya Pradana, Frasdyanto, dan Justin Khalid) memiliki sifat yang senang bercanda/guyonan, berpenampilan unik, ramah, dan tidak terlalu emosional jika di cela teman- temannya.
Selanjutnya, yang kedua dari perspektif penyingkapan/pengungkapan (disclosure) diketahui dengan jelas yakni teman-teman dari ketiga narasumber (Aditya Pradana, Frasdyanto, dan Justin Khalid) dapat dikatakan cukup sering mengungkapkan kata-kata ucapan yang tidak sopan kepada dirinya meskipun hal itu hanyanya bercanda/guyonan saja. Mereka melakukan aksi cyberbullying seperti itu dikarenakan melihat penampilan narasumber (Aditya Pradana, Frasdyanto, dan Justin Khalid) terlihat unik dan aneh sehingga teman-temannya secara spontanitas mengungkapkan perasaannya berupa kata-kata yang kurang sopan. Secara etika komunikasi, sikap dan perilaku temannya tersebut tidaklah pantas mengatakan hal-hal yang buruk kepada sesama temannya (Aditya Pradana, Frasdyanto, dan Justin Khalid). Mereka memanfaatkan media sosial Facebook tidak hanya untuk kegiatan saling berbagi informasi maupun mempererat relationships persahabatan, malah justru sebaliknya memanfaatkannya untuk aksi cyberbullying. Ketiga narasumber (Aditya Pradana, Frasdyanto, dan Justin Khalid) yang mendapatkan aksi cyberbullying
dari sesama temannya tersebut menjadi merasa tidak nyaman dengan sikap dan perilaku temannya yang suka mem-bully-nya.
Jika dilihat dari perspektif etika komunikasi, temannya tersebut telah melakukan aksi cyberbullying dan tidak memiliki etika komunikasi yang baik dalam berkomunikasi menggunakan media sosial Facebook.
Ketiga, dilihat dari perspektif tanggung jawab sosial, diketahui bahwa
teman-temannya yang melakukan aksi cyberbullying kepada ketiga narasumber (Aditya Pradana, Frasdyanto, dan Justin Khalid) dinilai tidak etis, karena pelaku aksi cyberbullying yang telah merendahkan harkat dan martabat temannya tidak melakukan ucapan minta maaf. Korban dari aksi cyberbullying akan terus mengalami tindakan serupa dari rekan-rekannya. Dampak dari tindakan cyberbullying ini, membuat korbannya bisa jadi depresi dan stress. Sedangkan, di satu sisi pelaku aksi cyberbullying semakin tidak menunjukkan tanggung jawabnya di lingkungan sosial.
Secara etika komunikasi, aksi cyberbullying tidaklah dibenarkan. Etika adalah jenis pengambilan keputusan moral (West dan Turner, 2010: 16), dan menentukan apa yang benar atau salah dipengaruhi oleh aturan dan hukum masyarakat. Etika paling sering mengacu pada domain penyelidikan, disiplin, di mana masalah benar dan salah, baik dan jahat, kebajikan dan keburukan, diperiksa secara sistematis (Brinkmann, 2002: 159). Sebaliknya, ‘Moralitas’
paling sering digunakan untuk merujuk bukan pada suatu disiplin tetapi pada pola pikiran dan tindakan yang sebenarnya bekerja dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pengertian ini, moralitas adalah inti dari disiplin etika. Meskipun
tindakan cyberbullying yang dilakukan teman-temannya tersebut hanya sekadar bercanda namun siapa yang tahu dari ucapan kata-kata tidak sopannya tersebut membuat korban cyberbullying merasa sakit hati dan kesal.
Dari hasil temuan penelitian di lapangan yang diperoleh melalui wawancara mendalam, ternyata pelaku aksi cyberbullying telah melanggar etika komunikasi didalam menggunakan media sosial seperti yang dikemukakan (Barzam, 2017) dikarenakan pelaku cyberbullying tidak memperhatikan didalam penggunaan kalimat yang sopan, tidak berhati-hati saat menggunakan huruf, tidak menggunakan bahasa yang sesuai, dan memancing pertentangan yang berdampak pada hubungan negatif dari pertemanan.
103 5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil temuan penelitian melalui wawancara mendalam dan hasil pembahasan penelitian yang telah dilakukan maka dapat penulis berikan simpulan penelitian sebagai berikut:
Penulis menggunakan kajian teoritis yang dikemukakan (Huang, 2004:
335) etika komunikasi dapat dilihat dari perspektif teleologi, Disclosure, dan tanggung jawab sosial.
Cyberbullying dalam perspektif etika berkomunikasi di media sosial menunjukkan bahwa pertama, dilihat dari perspektif teleologi ternyata pelaku aksi cyberbullying menggunakan media sosial Facebook tidak hanya untuk mempererat jalinan pertemanan tetapi juga dimanfaatkan untuk melakukan bullying kepada sesama temannya. Temannya yang berpenampilan aneh dan terlihat unik akan mendapatkan kalimat sindiran atau celaan dengan menggunakan bahasa yang tidak sopan. Hal itu membuat pertemanan menjadi merenggang akibat dari temannya yang tidak beretika dalam berkomunikasi menggunakan media sosial.
Kedua, dilihat dari perspektif penyingkapan/pengungkapan (disclosure) diketahui dengan jelas bahwa ternyata temannya cukup sering mengungkapkan kata-kata yang kurang sopan ketika melihat penampilannya aneh dan unik sehingga korban dari aksi cyberbullying menjadi bahan tertawaan teman-teman lainnya dan mempengaruhi teman lainnya untuk bertindak bullying. Secara etika
komunikasi, sikap dari temannya tersebut tidaklah etis didalam berkomunikasi menggunakan media sosial karena ucapan kata-katanya diketahui luas oleh pengguna media sosial.
Ketiga, dilihat dari perspektif tanggung jawab sosial, diketahui dengan jelas bahwa ternyata pelaku aksi cyberbullying tidak secara langsung mengucapkan permohonan maaf kepada korbannya meskipun telah menyakiti perasaannya. Dampak dari aksi cyberbullying ini dapat menimbulkan korbannya akan meninggalkan pertemanan karena sudah tidak nyaman bermain dengannya.
5.2 Saran
5.2.1 Saran Akademis
1. Bagi peneliti selanjutnya, sebaiknya melakukan penelitian kuantitatif untuk memperdalam hasil penelitian menjadi lebih valid dan signifikan.
2. Bagi peneliti berikutnya yang tertarik membahas penelitian tentang media sosial dapat mempergunakan kajian literatur dalam penelitian ini dan mengembangkan kerangka penelitian kuantitatif sehingga penelitian menjadi lebih komprehensif.
5.2.2 Saran Praktis
Dari hasil informasi yang didapat melalui wawancara mendalam dengan informan, didapat hasil jawaban yang dinilai kurang beretika dalam berkomunikasi. Oleh karena itu, penulis menyarankan sebagai berikut:
Sebaiknya teman-temannya lebih beretika lagi dalam berkomunikasi menggunakan media sosial. Hal ini dikarenakan ucapan yang disampaikan temannya tersebut dapat menyakitkan hati dan membuatnya teman menjadi
merasa tidak nyaman. Oleh karena itu, teman-temannya sudah selayaknya memanfaatkan media sosial Facebook untuk kegiatan yang lebih bermanfaat seperti saling berbagi informasi tentang pekerjaan mengingat teman-temannya pada belum bekerja maupun berbagi usaha bisnis berjualan. Dengan begitu, maka penggunaan media sosial Facebook lebih bermanfaat.
106
APJII. (2019). Respondents’ action towards cyberbullying on social media in
Indonesia as of April 2019. Retrieved from
https://www.statista.com/statistics/1036494/indonesia-actions-towards- cyberbullying-on-social-media/
Baran, Stanley J., dan Davis, Dennis K. (2015). Mass Communication Theory:
Foundations, Ferment, and Future (7 ed.). USA: Cengage Learning.
Barzam. (2017). 8 Etika Komunikasi di Media Sosial Wajib Tahu. Retrieved from https://pakarkomunikasi.com/etika-komunikasi-di-media-sosial
Brighi, Antonella, Guarini, Annalisa, Melotti, Giannino, Galli, Silvia, dan Genta, Maria Luisa. (2012). Predictors of victimisation across direct bullying, indirect bullying and cyberbullying. Emotional and Behavioural Difficulties, 17(3-4), 375—388.
Brinkmann, Johannes. (2002). Business and Marketing Ethics as Professional Ethics.
Concepts, Approaches and Typologies. Journal of Business Ethics, 41(1/2), 159—177.
Chu, Xiao-Wei, Fan, Cui-Ying, Liu, Qing-Qi, dan Zhou, Zong-Kui. (2018).
Cyberbullying victimization and symptoms of depression and anxiety among Chinese adolescents: Examining hopelessness as a mediator and self- compassion as a moderator. Computers in Human Behavior, 86, 377—386.
Daymon, Christine, dan Holloway, Immy. (2008). Metode-Metode Riset Kualitatif dalam Public Relations dan Marketing Communication (Cahya Wiratama, Trans.). Yogyakarta: Bentang.
Decamp, Matthew. (2015). Ethical issues when using social media for health outside professional relationships. International Review of Psychiatry, 27(2), 97—
105.
Fawkes, Johanna. (2007). Public relations models and persuasion ethics: a new approach. Journal of Communication Management, 11(4), 313—331.
Frison, Eline, Subrahmanyam, Kaveri, dan Eggermont, Steven. (2016). The Short- Term Longitudinal and Reciprocal Relations Between Peer Victimization on Facebook and Adolescents' Well-Being. Journal Youth Adolescence, 45(9), 1755—1771.
Hew, Khe Foon. (2011). Students’ and teachers’ use of Facebook. Computers in Human Behavior, 27, 662—676.
Hill, Craig A., Dean, Elizabeth, dan Murphy, Joe. (2014). Social Media, Sociality, and Survey Research. Hoboken, New Jersey: JohnWiley & Sons, Inc.
Huang, Yi-Hui. (2004). Is Symmetrical Communication Ethical and Effective.
Journal of Business Ethics, 53, 333—352.
Kokkinos, Constantinos M., Baltzidis, Eleftherios, dan Xynogala, Danae. (2016).
Prevalence and Personality Correlates of Facebook Bullying among University Undergraduates. Computers in Human Behavior, 55, 840—850.
Kriyantono, Rachmat. (2008). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: CV Kencana.
Kwan, Grace Chi En, dan Skoric, Marko M. (2013). Facebook bullying: An extension of battles in school. Computers in Human Behavior, 29(1), 16—25.
Li, Qing. (2008). A Cross-Cultural Comparison of Adolescents' Experience Related to Cyberbullying. Educational Research, 50(3), 223—234.
Littlejohn, Stephen, dan Foss, Karen A. (2009). Encyclopedia of Communication Theory. United States of America: SAGE Publications, Inc.
Moleong, Lexy J. (2006). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Özdemir, Yalçın. (2014). Cyber victimization and adolescent self-esteem: The role of communication with parents. Asian Journal of Social Psychology, 17(4), 255—263.
Pawito. (2008). Penelitian komunikasi kualitatif. Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara.
Permana, Kemal Setia. (2020). Fenomena Cyberbullying Meningkat di Indonesia, Ini
yang Harus Diwaspadai. Retrieved from
https://jabar.tribunnews.com/2018/10/14/fenomena-cyberbullying- meningkat-di-indonesia-ini-yang-harus-diwaspadai
Sahlin, John P. (2015). Social Media and the Transformation of Interaction in Society. Hershey, PA: IGI Global.
Savage, Matthew W., dan Tokunaga, Robert S. (2017). Moving toward a theory:
Testing an integrated model of cyberbullying perpetration, aggression, social skills, and Internet self-efficacy. Computers in Human Behavior, 71, 353—
361.
Schultze-Krumbholz, Anja, Göbel, Kristin, Scheithauer, Herbert, Brighi, Antonella, Guarini, Annalisa, Tsorbatzoudis, Haralambos, . . . Smith, Peter K. (2014). A Comparison of Classification Approaches for Cyberbullying and Traditional
Bullying Using Data From Six European Countries. Journal of School Violence, 14(1), 47—65.
Scott, Graham G., Wiencierz, Stacey, dan Hand, Christopher J. (2019). The volume and source of cyberabuse influences victim blame and perceptions of attractiveness. Computers in Human Behavior, 92, 119—127.
Semiawan, Conny R. (2010). Metode Penelitian Kualitatif: Jenis, Karakteristik, dan Keunggulannya. Jakarta: Grasindo.
Spitzberg, Brian H. (2006). Preliminary Development of a Model and Measure of Computer-Mediated Communication (CMC) Competence. Journal of Computer-Mediated Communication, 11, 629—666.
Statista. (2020). Forecast of the number of Facebook users in Indonesia from 2017 to
2026 (in millions). Retrieved from
https://www.statista.com/forecasts/1136482/facebook-users-in-indonesia Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung:
Alfabeta.
Sugiyono. (2013). Metodologi Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: CV Alfabeta.
Sundar, S. Shyam (Ed.) (2015). The Handbook of the Psychology of Communication Technology (1 ed.). UK: John Wiley & Sons, Ltd.
Suyanto, Bagong. (2005). Metode Penelitian Sosial Berbagai Alternatif Pendekatan.
Jakarta: Peranada Media.
Thurlow, Crispin, Lengel, Laura, dan Tomic, Alice. (2004). Computer Mediated Communication: Social Interaction And The Internet (1 ed.). London: SAGE Publications Ltd.
Vardiansyah, Dani. (2008). Filsafat Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Jakarta: PT INDEKS.
Walther, Joseph B. (2016). Computer-Mediated Communication. Communication Research, 23(1), 3—43.
Walther, Joseph B., Van Der Heide, Brandon, Tong, Stephanie Tom, Carr, Caleb T., dan Atkin, Charles K. (2010). Effects of Interpersonal Goals on Inadvertent Intrapersonal Influence in Computer-Mediated Communication. Human Communication Research, 36(3), 323—347.
West, Richard, dan Turner, Lynn H. (2009). Introducing Communication Theory:
Analysis and Application (Maria Natalia Damayanti Maer, Trans. Nina Setyaningsih Ed. 3 ed.). Jakarta: Salemba Humanika.
West, Richard, dan Turner, Lynn H. (2010). Introducing Communication Theory : Analysis And Application. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.
Yin, Robert K. (2011). Qualitative Research from Start to Finish. New York:
Guilford Publications, Inc.
Zainafree, Intan. (2015). Perilaku Seksual Dan Implikasinya Terhadap Kebutuhan Layanan Kesehatan Reproduksi Remaja Di Lingkungan Kampus (Studi Kasus Pada Mahasiswa Universitas Negeri Semarang). Unnes Journal of Public Health, 4(3), 1—7.
110
Status : Belum bekerja
Lokasi wawancara : Hari, Tanggal/bln/Tahun :
No. Kode A. Teleologi
1. P : Apakah Anda sering mendapatkan kritikan berupa celaan dari teman sejawat? Lalu, bagaimana respon Anda setelah di cela?
AP : Wah sering bangeettt. Kalo gue sih tergantung sih yaaa. Kalo yang mengarah ke bodyshaming gitu gue marah dan akan ngasih tau ke mereka kalo gue gak suka hehe.
2. P : Apakah Anda menyadari bahwa bentuk kritikan berupa celaan tersebut untuk menunjukkan bahwa diri Anda tidak pantas berpenampilan seperti itu?
AP : Kadang mikir kaya gituuu, Cuma balik lagi sihhh toh gue gak nyusahin mereka kok dengan penampilan gue yg spt itu. So far selagi itu membuat gue nyaman, why not?
3. P : Apakah Anda akan merubah sikap dan penampilannya setelah di- bully oleh teman?
AP : Enggak lah... buat apaaa? Gue bangga akan diri dan penampilan gue kok.
4. P : Apakah ucapan kata-kata kasar atau perkataan tidak sopan tersebut memang perkataan jujur dari teman sejawat atau hanya bercanda saja?
AP : Gue sih yakin niat nya mereka bercanda hehehe
5. P : Apakah Anda merasa sakit hati ketika di cela atau dihina oleh teman sejawat?
AP : Awal-awal sih sakit hati pasti apalagi di cela nya sama temen yang baru kenal. Cuma makin sering main ya gue coba membiasakan bahwa mungkin memang sifat dia yg selalu men judge penampilan seseorang.
B. Penyingkapan/Pengungkapan (disclosure)
6. P : Apakah teman sejawat Anda sering mengungkapkan perasaan berupa kata-kata celaan kepada Anda? Atau sebaliknya, Anda juga pernah melakukan pengungkapan berupa melakukan kata-kata kasar kepada teman?
AP : Kalo temen sihh, bisa dibilang sering yaaahh even itu Cuma bercandaan aja niatnyaa kaya yang selalu komentarin penampilan atau ke bentuk badan malahan. Dan kalo gue pribadi sih, gue gapernah mau yaa ngurusin urusan orang. Jadi gue gapernah melakukan hal hal yang kaya gituu. Karena gue tau rasanya di kritik yang tidak membangun itu Cuma membuat insecure. Gue gamau di kritik dan gue juga gak akan mengkritik orang lain gitu
7. P : Bagaimana perasaan Anda setelah mendapat celaan dari teman atau bullying?
AP : Sedih sih yaaa sampe sekarang pun kalo masih ada yg ngebully gue juga buat gue mikir 2x “masasih gue seburuk itu?”. Karena pada dasarnya dalam bentuk apapun bullying tidak dibenarkan karena nyerangnya ke psikis shaaayyy.
C. Tanggung jawab sosial
8. P : Apakah teman-teman Anda menunjukkan sikap tanggung jawab berupa permintaan maaf setelah mem-bully Anda?
AP : Hahahahaha tergantung. Gak semua temen gue menyadari kalo cara mereka itu sebenernya masuk dalam bullying secara tidak langsung..
tapi ada juga kok yg langsung minta maaf..
9. P : Apakah Anda menjadi sering terkena bullying di lingkungan teman sepermainan setelah teman Anda sering mem-bully-nya?
AP : Alhamdulillah engga. Walaupun circle pertemanan gue isinya orang suka nge-bully.
10. P : Apakah harkat dan martabat Anda menjadi tidak berharga setelah sering terkena bully dari teman?
AP : Hmmmmm enggaksihhh. Karena dari awal gue selalu mencoba untuk positif thingking.. mereka yang mem-bully tidak selamanya lebih baik dari yang mereka bully.
TERIMA KASIH
Wawancara Informan II
Nama : Frasdyanto
Status : Belum Bekerja
Lokasi wawancara : Hari, Tanggal/bln/Tahun :
No. Kode A. Teleologi
1. P : Apakah Anda sering mendapatkan kritikan berupa celaan dari teman sejawat? Lalu, bagaimana respon Anda setelah di cela?
Fras : Kalau sering sih memang tidak, namun pernah mendapatkan perlakuan seperti itu
2. P : Apakah Anda menyadari bahwa bentuk kritikan berupa celaan tersebut untuk menunjukkan bahwa diri Anda tidak pantas berpenampilan seperti itu?
Fras : Menurut saya, pantas atau tidaknya penampilan kita itu tidak dapat dinilai, karena pemikiran setiap orang berbeda. Namun ketika orang lain mengatakan tidak pantas, kita tidak perlu terlalu memikirkan perkataan tersebut, lebih baik kita menjadi diri kita sendiri.
3. P : Apakah Anda akan merubah sikap dan penampilannya setelah di- bully oleh teman?
Fras : Tidak jika tentang penampilan, karena dengan kita berubah karena orang lain kita juga ga akan merasa nyaman. Mungkin kalau berbicara sikap, saya akan merubah sikap saya yang buruk tapi dari keinginan hati saya bukan karena penilaian orang lain.
4. P : Apakah ucapan kata-kata kasar atau perkataan tidak sopan tersebut memang perkataan jujur dari teman sejawat atau hanya bercanda saja?
Fras : Ya mungkin ada aja yang jujur, tapi kebanyakan mungkin bercanda.
Dan saya sendiri ga ambil pusing juga, daripada nantinya sakit hati.
5. P : Apakah Anda merasa sakit hati ketika di cela atau dihina oleh teman sejawat?
Fras : Sewaktu masih kecil mungkin merasa seperti sakit hati, menangis, stress. Namun ketika sudah mulai beranjak dewasa mulai membiasakan diri dengan pendapat orang lain baik maupun buruk, jadi untuk saat ini ga merasakan sakit hati dan tidak di ambil pusing.
B. Penyingkapan/Pengungkapan (disclosure)
6. P : Apakah teman sejawat Anda sering mengungkapkan perasaan berupa kata-kata celaan kepada Anda? Atau sebaliknya, Anda juga pernah melakukan pengungkapan berupa melakukan kata-kata kasar
kepada teman?
Fras : Tidak sering, hanya pernah. Kalau saya pribadi sih ga melakukan hal tersebut, karena saya pun tidak ingin mendapat perlakuan seperti itu.
7. P : Bagaimana perasaan Anda setelah mendapat celaan dari teman atau bullying?
Fras : Pernah merasakan sakit hati dan sampai menangis, namun sekarang sudah tidak karena sudah lebih bisa mengendalikan emosi.
C. Tanggung jawab sosial
8. P : Apakah teman-teman Anda menunjukkan sikap tanggung jawab berupa permintaan maaf setelah mem-bully Anda?
Fras : Kalau saya waktu masih kecil menangis mereka sempet sih minta maaf, tapi ada juga yang ga minta maaf.
9. P : Apakah Anda menjadi sering terkena bullying di lingkungan teman sepermainan setelah teman Anda sering mem-bully-nya?
Fras : Tidak terlalu sering. Tapi yaa pernah juga di bully. Namun tidak terlalu parah, karena teman-teman juga sudah mengenal karakter saya.
10. P : Apakah harkat dan martabat Anda menjadi tidak berharga setelah sering terkena bully dari teman?
Fras : Menurut saya sih, bully itu ga menjadikan kita buruk ataupun tidak berharga. Jadi sebenernya balik lagi gimana kita menyikapi bullyan tersebut, lebih baik kita percaya diri dan menjadi diri kita sendiri.
TERIMA KASIH
Wawancara Informan III
Nama : Justin Khalid
Status : Belum Bekerja
Lokasi wawancara : Hari, Tanggal/bln/Tahun :
No. Kode A. Teleologi
1. P : Apakah Anda sering mendapatkan kritikan berupa celaan dari teman sejawat? Lalu, bagaimana respon Anda setelah di cela?
JK : Ya kalau kritikan celaan dari teman saya buruk maka saya akan introspeksi diri menerima dengan ambil pelajaran positif nya.
2. P : Apakah Anda menyadari bahwa bentuk kritikan berupa celaan tersebut untuk menunjukkan bahwa diri Anda tidak pantas berpenampilan seperti itu?
JK : Menyadari hal tersebut soal pantas atau tidak hanya saya dan Tuhan sih, karena diri sendiri lah yang paling mengerti, orang lain pun menilai hanya dari sudut pandang berbeda.
3. P : Apakah Anda akan merubah sikap dan penampilannya setelah di- bully oleh teman?
JK : Saya akan merubah sikap dan penampilan saya setelah di bully, jika menurut saya itu untuk kebaikan diri saya menjadi lebih baik, saya akan terima. Namun jika tidak, saya tidak perduli.
4. P : Apakah ucapan kata-kata kasar atau perkataan tidak sopan tersebut memang perkataan jujur dari teman sejawat atau hanya bercanda saja?
JK : Untuk perkataan kasar atau tidak sopan dari teman saya kebanyakan hanya bercanda sih. Namun tergantung kondisi dan situasi pada saat itu, untuk di lingkungaan sejawat memang sudah hal biasa dalam berkata kasar, dan namun memang hal ini pure murni untuk sehari hari bagi mereka bercanda di media social, untuk perkataam tidak sopan mungkin lebih mengarah ke hal sesuatu “sensitive”. Menurut saya perkataan kasar dan tidak sopan itu berbeda, semua tergantung dari kondisi situasi dan detail perkataan tutur bahasa tersebut seperti apa.
5. P : Apakah Anda merasa sakit hati ketika di cela atau dihina oleh teman sejawat?
JK : Saya akan merasa sakit hati jika teman saya berkata tidak sopan, seperti membahas buruk keluarga atau orang tua, orang yang saya sayang, dan hal sensitive lainnya. Terlebih dari itu saya biasa saja.
Ya dari hal konteks apa dulu aja sih dihinanya, dan tergantung mood