BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.8 Teknik Keabsahan Data
Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi. Triangulasi merupakan sesuatu yang sangat krusial dalam upaya pengumpulan data dalam konteks penelitian komunikasi kualitatif. Peneliti, siapa pun dia, selalu menginginkan
Pengumpulan Data
Reduksi Data
Penyajian Data
Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi
agar data yang berhasil dikumpulkan bersifat valid dan reliable. Pawito (2008:
97) validitas (validity) data dalam penelitian komunikasi kualitatif lebih meunjuk pada tingkat sejauh mana data yang diperoleh telah secara akurat mewakili realitas atau gejala yang diteliti. Kemudian, reliabilitas berkenaan dengan tingkat konsistensi hasil dari penggunaan cara pengumpulan data. Untuk kepentingan ini, peneliti sangat disarankan untuk menggunakan teknik-teknik triangulasi tertentu.
Menurut West dan Turner (2009: 78) Triangulasi adalah suatu pendekatan terhadap riset yang melibatkan lebih dari satu metode. Analisis Triangulasi yaitu menganalisis jawaban subjek penelitian dengan meneliti kebenarannya dengan data empiris (sumber data lainnya) yang tersedia. Disini jawaban di cross-check dengan dokumen yang ada” (Kriyantono, 2008: 70).
Menurut Kriyantono (2008: 70) ada beberapa macam triangulasi, sebagai berikut:
1) Triangulasi Sumber
Membandingkan atau mengecek ulang derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh dari sumber yang berbeda. Misalnya, membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara;
membandingkan apa yang dikatakan umum dengan yang dikatakan pribadi.
2) Triangulasi Teori
Memanfaatkan dua atau lebih teori untuk diadu atau dipadu. Untuk itu diperlukan rancangan riset, pengumpulan data, dan analisis data yang lengkap supaya hasilnya komprehensif.
3) Triangulasi Metode
Usaha mengecek keabsahan data atau mengecek keabsahan temuan riset. Triangulasi metode dapat dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan yang sama.
Berdasarkan kajian teoritis yang dikemukakan Kriyantono (2008: 70), maka penulis menggunakan triangulasi sumber dengan melakukan wawancara
langsung kepada narasumber yang menjadi korban cyberbullying, lalu hasil temuan wawancaranya di kroscek dengan teoritis dan didukung dengan menggunakan metode pengumpulan data berupa screenshot.
65 4.1 Subyek Penelitian
1. Informan I: Aditya Pradana
Informan pertama bernama Aditya Pradana seorang laki-laki berumur 22 tahun ini bertempat tinggal di daerah Karawaci, Tangerang. Pria ini mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, sehingga tidak malu dalam hal bersosialisasi di lingkungkan sekitar dan khususnya di media sosial Facebook yang hampir semua kalangan mempunyai akun media sosial tersebut. Di sela waktu senggangnya dengan status yang belum bekerja Aditya melakukan aktivitas dengan bermain Sepak Bola bersama teman sejawatnya dan Aditya juga suka memposting video-video berupa cover lagu mengingat ia memiliki minat dalam bermusik atau bernyanyi. Aditya sangat suka melakukan eksistensinya di media sosial salah satunya di Facebook yang terkadang hanya untuk mengekspresikan keresahannya dan Aditya juga sangat aktif dalam selfie atau narsis untuk mengupdate dirinya.
2. Informan II: Frasdyanto
Informan kedua bernama Fras seorang lak-laki berumur 23 tahun ini bertempat tinggal di daerah Citra Raya Cikupa, Tangerang. Pria ini memiliki pribadi yang tertutup di lingkungan namun sangat aktif dalam bermedia sosial. Fras mengaku pernah mendapatkan perlakuan cyberbullying saat masih duduk di bangku sekolah. Fras memiliki hobi bermain Game Online di
kesehariannya karena belum bekerja. Disela sela waktu senggangnya juga Fras sering mengedit video-video game yang dia kumpulkan menjadi video yang menghibur. Fras sangat aktif di media sosial Facebook, bukan untuk memposting foto selfie atau foto dirinya, melainkan sekedar membagikan postingan postingan lucu yang lewat diberandanya atau biasa disebut dengan meme.
3. Informan III : Justin Khalid
Selanjutnya untuk informan ketiga bernama Justin Khalid. Seorang Laki-laki berumur 20 tahun ini bertempat tinggal di Denpasar, Bali. Justin mengaku kerap kali manjadi bahan ejekan oleh teman-teman dunia mayanya. Menurut Justin ia memiliki rasa percaya tinggi yang cukup baik sehingga tetap bisa bersosialisasi dengan baik dilingkungannya. Tetapi disaat tertentu ia kerap merasa tidak dapat mengkontrol emosi saat mendapat cyberbullying yang ia terima dari teman dunia mayanya. Justin dalam kesehariannya sangat suka menghabiskan waktu dengan hobinya yaitu bermain skateboard bersama teman temannya. Justin juga sangat aktif dalam bermedia sosial khususnya Facebook walau hanya sekedar mengupload pencapaian-pencapaiannya dalam bermain Game Online, dan membagikan postingan-postingan lucu atau meme.
4.2 Objek Penelitian
Pada penelitian ini yang menjadi objek penelitian adalah media sosial Facebook. Media sosial adalah saluran atau sarana pergaulan sosial secara online di dunia maya (internet). Para pengguna (user) media sosial berkomunikasi, berinteraksi, saling kirim pesan, dan saling berbagi (sharing), dan membangun jaringan (networking). Karakteristik media sosial yaitu pesan yang disampaikan tidak hanya untuk satu orang saja, namun bisa keberbagai banyak orang. Dan pesan yang disampaikan cenderung lebih cepat sampai dibanding media lainnya.
Contoh media sosial yang populer digunakan di Indonesia adalah Facebook.
Namun, seiring semakin populernya penggunaan media sosial Facebook di kalangan anak remaja, cukup banyak pengguna yang menyalahgunakan media sosial Facebook untuk kegiatan cyberbullying. Umumnya, pengguna media sosial Facebook melakukan aksi cyberbullying kepada temannya yang sudah dikenalnya akrab.
Cyberbullying sendiri adalah bentuk dari aksi bullying. Cyberbullying sangat berbahaya bagi anak-anak muda karena mengakibatkan kecemasan, depresi, bahkan bunuh diri. Permasalahannya, pelaku cyberbullying tidak menyadari bahwa aksinya tersebut merupakan tindakan tidak terpuji dan merugikan pihak lain yang menjadi korban bullying.
Berikut lima jenis aksi cyberbullying yang sering beredar di media sosial:
1. Hinaan fisik
Yang paling umum terjadi adalah hinaan fisik, atau body shaming (mempermalukan tubuh). Para wanita sering disebut gemuk, sehingga mereka
malu-malu menunjukan tubuh mereka. Selain berat badan, hinaan rona kulit yang gelap juga cukup sering terdengar di media sosial. Yang mengkhawatirkan adalah ketika korban body shaming melakukan upaya tidak sehat untuk mencapai ‘kecantikan’ atau ‘ketampanan’ ideal. Satu hal yang harus diingat adalah lebih baik menjalankan pola hidup sehat ketimbang melakukan cara-cara tidak sehat agar sekadar tampil menarik di media sosial.
Penyanyi terkenal seperti Adele, Lady Gaga, dan Demi Lovato juga tidak segan untuk menyentil balik orang-orang yang menghina fisik mereka.
2. RAS
Tidak ada yang memilih ingin terlahir dengan warna kulit yang mereka inginkan. Permasalahannya, belakangan ini banyak orang yang menghina ras orang lain hanya karena alasan politik. Lucunya lagi, oknum-oknum rasis tersebut mengaku dari golongan yang membela agama, padahal yang menciptakan ras berbeda adalah Tuhan. Konflik rasial seringkali timbul akibat prasangka, contohnya salah satu ras dianggap sering berbuat kriminal, atau ada ras yang dianggap serakah, dan sebagainya. Padahal sifat-sifat seperti itu ada di banyak orang, dan tidak di satu ras saja. Kejadian seperti ini berlangsung di beberapa negara, dan berbagai ide pun dijalankan untuk melawan rasisme, salah satunya dengan meningkatkan inklusivitas antar ras.
3. Merendahkan Hobi
Beruntunglah orang-orang yang memiliki hobi sehingga tidak menghabiskan waktunya untuk mengusik orang lain. Sayangnya, di media sosial ada orang- orang yang tanpa alasan yang jelas melakukan aksi nyinyir ke hobi orang
lain. Aksi nyinyir pada hobi dapat menghalangi potensi seseorang karena tiap orang punya passion yang berbeda. Tiap orang memiliki karunia berupa kemampuan yang berbeda-beda, jangan sampai passion dan talenta kita di sebuah bidang yang kita cintai malah kita tinggal karena takut dicibir orang lain. Ingatlah kata-kata Steve Jobs, sang pendiri Apple, “Jangan biarkan berisiknya opini orang lain menenggelamkan kata hatimu”.
4. Orientasi Seksual
Di media sosial banyak yang terang-terangan menghina orang-orang yang memiliki orientasi seksual yang berbeda. Di Indonesia sendiri sempat ada usaha untuk mengkriminalisasi pasangan sesama jenis, sementara di negara- negara seperti Jerman, Prancis, Inggris, Kanada, Australia, dan Finlandia, justru sudah ada perlindungan hukum bagi pasangan-pasangan tersebut.
Untungnya, makin banyak figur berprestasi yang memiliki orientasi seksual berbeda dan mulai angkat suara, sebut saja Tim Cook yang menjabat sebagai CEO Apple, Sam Smith yang memenangkan Oscar dan Grammy, dan presenter terkenal Ellen DeGeneres. Berbagai perusahaan teknologi seperti Google, Facebook, dan Microsoft juga melakukan upaya untuk mengurangi diskriminasi pada mereka yang memiliki orientasi seksual berbeda.
5. Seksisme
Seksisme adalah melakukan diskriminasi atau merendahkan orang lain berdasarkan gender yang ia miliki, terutama bila orang itu dianggap tidak menjalankan sesuatu yang diharapkan masyarakat, akibatnya timbul perilaku ikut campur atau menghakimi pada pilihan pribadi orang lain. Seksisme kerap
menimpa kaum hawa, dan dapat menghambat mereka untuk berprestasi karena anggapan akan perempuan harus fokus pada pekerjaan rumah tangga dan cukup menjadi pendamping saja. Sikap seperti itu dikhawatirkan membuat perempuan ragu-ragu untuk melanjutkan karir atau pendidikannya.
Sebagai contoh, masih ada anggapan bahwa perempuan harusnya tidak sekolah tinggi-tinggi dan tidak boleh menjadi pemimpin. Di media sosial pun masih sering ditemukan ketika perempuan dihakimi bila memakai baju terbuka atau ketika tidak memakai baju tertutup seperti yang diharapkan warganet. Belakangan ini, figur-figur terkenal di dunia mulai mengadakan kampanye agar para perempuan lebih percaya diri dalam berkarir, salah satunya Lean In yang dipimpin oleh Sheryl Sandberg, petinggi Facebook.
Ada juga kampanye #MeToo yang bertujuan meningkatkan kesadaran akan pelecehan seksual yang dihadapi perempuan di dunia kerja. Namun ternyata, seksisme juga bisa menimpa para laki-laki. Akarnya pun sama, yakni bila mereka dianggap tidak melakukan peran sesuai ekspektasi masyarakat.
Cyberbullying (perundungan dunia maya) ialah bullying/perundungan dengan menggunakan teknologi digital. Hal ini dapat terjadi di media sosial, platform chatting, platform bermain game, dan ponsel. Adapun menurut Think Before Text, cyberbullying adalah perilaku agresif dan bertujuan yang dilakukan suatu kelompok atau individu, menggunakan media elektronik, secara berulang- ulang dari waktu ke waktu, terhadap seseorang yang dianggap tidak mudah melakukan perlawanan atas tindakan tersebut. Jadi, terdapat perbedaan kekuatan antara pelaku dan korban. Perbedaan kekuatan dalam hal ini merujuk pada
sebuah persepsi kapasitas fisik dan mental. Cyberbullying merupakan perilaku berulang yang ditujukan untuk menakuti, membuat marah, atau mempermalukan mereka yang menjadi sasaran. Contohnya termasuk:
1) Menyebarkan kebohongan tentang seseorang atau memposting foto memalukan tentang seseorang di media sosial.
2) Mengirim pesan atau ancaman yang menyakitkan melalui platform chatting, menuliskan kata-kata menyakitkan pada kolom komentar media sosial, atau memposting sesuatu yang memalukan/menyakitkan.
3) Meniru atau mengatasnamakan seseorang (misalnya dengan akun palsu atau masuk melalui akun seseorang) dan mengirim pesan jahat kepada orang lain atas nama mereka.
4) Trolling - pengiriman pesan yang mengancam atau menjengkelkan di jejaring sosial, ruang obrolan, atau game online.
5) Mengucilkan, mengecualikan, anak-anak dari game online, aktivitas, atau grup pertemanan.
6) Menyiapkan/membuat situs atau grup (group chat, room chat) yang berisi kebencian tentang seseorang atau dengan tujuan untuk menebar kebencian terhadap seseorang.
7) Menghasut anak-anak atau remaja lainnya untuk mempermalukan seseorang.
8) Memberikan suara untuk atau menentang seseorang dalam jajak pendapat yang melecehkan.
9) Membuat akun palsu, membajak, atau mencuri identitas online untuk mempermalukan seseorang atau menyebabkan masalah dalam menggunakan nama mereka.
10) Memaksa anak-anak agar mengirimkan gambar sensual atau terlibat dalam percakapan seksual.
4.3 Hasil Penelitian
Pada sub bab ini mengulas temuan penelitian yang telah penulis lakukan melalui proses wawancara mendalam kepada informan yang melakukan aksi cyberbullying. Kajian teoritis yang digunakan untuk proses wawancara menggunakan teori etika media dan etika komunikasi. Hal ini sesuai dengan judul penelitian “Cyberbullying Dalam Perspektif Etika Berkomunikasi Di Media Sosial”. Konsep pertanyaan wawancara penelitian sesuai dengan alur pemikiran sebagai upaya untuk memudahkan penulis didalam mendapatkan gambaran hasil penelitian yang valid.
Sesuai teoritis etika komunikasi yang dikemukakan (Huang, 2004: 335), maka cyberbullying akan dianalisis secara kualitatif, dilihat dari perspektif teleologi, disclosure (penyingkapan/pengungkapan), dan tanggung jawab sosial (social responsibility), berikut uraian hasil temuan wawancara penelitiannya:
1) Teleologi
Berdasarkan hasil temuan wawancara mendalam dengan informan I yang bernama Aditya Pradana, dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
Apakah Anda sering mendapatkan kritikan berupa celaan dari teman sejawat?
Lalu, bagaimana respon Anda setelah di cela?, diperoleh pernyataan sebagai berikut:
Wah sering bangeettt. Kalo gue sih tergantung sih yaaa. Kalo yang mengarah ke bodyshaming gitu gue marah dan akan ngasih tau ke mereka kalo gue gak suka hehe.
Dari hasil temuan penelitian wawancara penelitian dengan informan II yang bernama Frasdyanto dengan mengajukan pertanyaan serupa di atas, diperoleh pernyataan sebagai berikut:
Kalau sering sih memang tidak, namun pernah mendapatkan perlakuan seperti itu.
Selanjutnya, penulis juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada informan III yang bernama Justin Khalid, memberikan pernyataan sebagai berikut:
Ya kalau kritikan celaan dari teman saya buruk maka saya akan introspeksi diri menerima dengan ambil pelajaran positif nya.
Berdasarkan hasil temuan wawancara mendalam dengan informan I yang bernama Aditya Pradana, dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
Apakah Anda menyadari bahwa bentuk kritikan berupa celaan tersebut untuk menunjukkan bahwa diri Anda tidak pantas berpenampilan seperti itu?, diperoleh pernyataan sebagai berikut:
Kadang mikir kaya gituuu, Cuma balik lagi sihhh toh gue gak nyusahin mereka kok dengan penampilan gue yg spt itu. So far selagi itu membuat gue nyaman, why not?
Dari hasil temuan penelitian wawancara penelitian dengan informan II yang bernama Frasdyanto dengan mengajukan pertanyaan serupa di atas, diperoleh pernyataan sebagai berikut:
Menurut saya, pantas atau tidaknya penampilan kita itu tidak dapat dinilai, karena pemikiran setiap orang berbeda. Namun ketika orang lain mengatakan tidak pantas, kita tidak perlu terlalu memikirkan perkataan tersebut, lebih baik kita menjadi diri kita sendiri.
Selanjutnya, penulis juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada informan III yang bernama Justin Khalid, memberikan pernyataan sebagai berikut:
Menyadari hal tersebut soal pantas atau tidak hanya saya dan Tuhan sih, karena diri sendiri lah yang paling mengerti, orang lain pun menilai hanya dari sudut pandang berbeda.
Berdasarkan hasil temuan wawancara mendalam dengan informan I yang bernama Aditya Pradana, dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
Apakah Anda akan merubah sikap dan penampilannya setelah di-bully oleh teman?, diperoleh pernyataan sebagai berikut:
Enggak lah... buat apaaa? Gue bangga akan diri dan penampilan gue kok.
Dari hasil temuan penelitian wawancara penelitian dengan informan II yang bernama Frasdyanto dengan mengajukan pertanyaan serupa di atas, diperoleh pernyataan sebagai berikut:
Tidak jika tentang penampilan, karena dengan kita berubah karena orang lain kita juga ga akan merasa nyaman. Mungkin kalau berbicara sikap, saya akan merubah sikap saya yang buruk tapi dari keinginan hati saya bukan karena penilaian orang lain.
Selanjutnya, penulis juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada informan III yang bernama Justin Khalid, memberikan pernyataan sebagai berikut:
Saya akan merubah sikap dan penampilan saya setelah di bully, jika menurut saya itu untuk kebaikan diri saya menjadi lebih baik, saya akan terima. Namun jika tidak, saya tidak perduli.
Berdasarkan hasil temuan wawancara mendalam dengan informan I yang bernama Aditya Pradana, dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
Apakah ucapan kata-kata kasar atau perkataan tidak sopan tersebut memang perkataan jujur dari teman sejawat atau hanya bercanda saja?, diperoleh pernyataan sebagai berikut:
Gue sih yakin niat nya mereka bercanda hehehe.
Dari hasil temuan penelitian wawancara penelitian dengan informan II yang bernama Frasdyanto dengan mengajukan pertanyaan serupa di atas, diperoleh pernyataan sebagai berikut:
Ya mungkin ada aja yang jujur, tapi kebanyakan mungkin bercanda.
Dan saya sendiri ga ambil pusing juga, daripada nantinya sakit hati.
Selanjutnya, penulis juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada informan III yang bernama Justin Khalid, memberikan pernyataan sebagai berikut:
Untuk perkataan kasar atau tidak sopan dari teman saya kebanyakan hanya bercanda sih. Namun tergantung kondisi dan situasi pada saat itu, untuk di lingkungaan sejawat memang sudah hal biasa dalam berkata kasar, dan namun memang hal ini pure murni untuk sehari hari bagi mereka bercanda di media social, untuk perkataam tidak sopan mungkin lebih mengarah ke hal sesuatu “sensitive”. Menurut saya perkataan kasar dan tidak sopan itu berbeda, semua tergantung dari kondisi situasi dan detail perkataan tutur bahasa tersebut seperti apa.
Berdasarkan hasil temuan wawancara mendalam dengan informan I yang bernama Aditya Pradana, dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
Apakah Anda merasa sakit hati ketika di cela atau dihina oleh teman sejawat?, diperoleh pernyataan sebagai berikut:
Awal-awal sih sakit hati pasti apalagi di cela nya sama temen yang baru kenal. Cuma makin sering main ya gue coba membiasakan bahwa mungkin memang sifat dia yg selalu men judge penampilan seseorang.
Dari hasil temuan penelitian wawancara penelitian dengan informan II yang bernama Frasdyanto dengan mengajukan pertanyaan serupa di atas, diperoleh pernyataan sebagai berikut:
Sewaktu masih kecil mungkin merasa seperti sakit hati, menangis, stress. Namun ketika sudah mulai beranjak dewasa mulai membiasakan diri dengan pendapat orang lain baik maupun buruk, jadi untuk saat ini ga merasakan sakit hati dan tidak di ambil pusing.
Selanjutnya, penulis juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada informan III yang bernama Justin Khalid, memberikan pernyataan sebagai berikut:
Saya akan merasa sakit hati jika teman saya berkata tidak sopan, seperti membahas buruk keluarga atau orang tua, orang yang saya sayang, dan hal sensitive lainnya. Terlebih dari itu saya biasa saja.
Ya dari hal konteks apa dulu aja sih dihinanya, dan tergantung mood dan sauna hati saat itu.
2) Disclosure
Berdasarkan hasil temuan wawancara mendalam dengan informan I yang bernama Aditya Pradana, dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
Apakah teman sejawat Anda sering mengungkapkan perasaan berupa kata-kata celaan kepada Anda? Atau sebaliknya, Anda juga pernah melakukan pengungkapan berupa melakukan kata-kata kasar kepada teman?, diperoleh pernyataan sebagai berikut:
Kalo temen sihh, bisa dibilang sering yaaahh even itu cuma bercandaan aja niatnyaa kaya yang selalu komentarin penampilan atau ke bentuk badan malahan. Dan kalo gue pribadi sih, gue
gapernah mau yaa ngurusin urusan orang. Jadi gue gapernah melakukan hal hal yang kaya gituu. Karena gue tau rasanya di kritik yang tidak membangun itu cuma membuat insecure. Gue gamau di kritik dan gue juga gak akan mengkritik orang lain gitu.
Dari hasil temuan penelitian wawancara penelitian dengan informan II yang bernama Frasdyanto dengan mengajukan pertanyaan serupa di atas, diperoleh pernyataan sebagai berikut:
Kalau sering sih memang tidak, namun pernah mendapatkan perlakuan seperti itu.
Selanjutnya, penulis juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada informan III yang bernama Justin Khalid, memberikan pernyataan sebagai berikut:
Pernah, tapi tidak begitu sering. Saya rasa semua orang pernah melakukan hal tersebut, entah berupa celaan atau candaan terhadap teman atau yang lain.
Berdasarkan hasil temuan wawancara mendalam dengan informan I yang bernama Aditya Pradana, dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
Bagaimana perasaan Anda setelah mendapat celaan dari teman atau bullying?, diperoleh pernyataan sebagai berikut:
Sedih sih yaaa sampe sekarang pun kalo masih ada yg ngebully gue juga buat gue mikir 2x “masasih gue seburuk itu?”. Karena pada dasarnya dalam bentuk apapun bullying tidak dibenarkan karena nyerangnya ke psikis shaaayyy.
Dari hasil temuan penelitian wawancara penelitian dengan informan II yang bernama Frasdyanto dengan mengajukan pertanyaan serupa di atas, diperoleh pernyataan sebagai berikut:
Tidak sering, hanya pernah. Kalau saya pribadi sih ga melakukan hal tersebut, karena saya pun tidak ingin mendapat perlakuan seperti itu.
Selanjutnya, penulis juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada informan III yang bernama Justin Khalid, memberikan pernyataan sebagai berikut:
Perasaan khawatir dan sedih sih yang dirasain, dan terkadang saya berpikir apakah saya begitu buruh sampai orang lain mencela saya?
Namun hal tersebut tidak membuat saya frustasi, karena saya bisa menjadi lebih baik dan belajar dari kesalahan.
3) Tanggung jawab sosial
Berdasarkan hasil temuan wawancara mendalam dengan informan I yang bernama Aditya Pradana, dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
Apakah teman-teman Anda menunjukkan sikap tanggung jawab berupa permintaan maaf setelah mem-bully Anda?, diperoleh pernyataan sebagai berikut:
Hahahahaha tergantung. Gak semua temen gue menyadari kalo cara mereka itu sebenernya masuk dalam bullying secara tidak langsung..
tapi ada juga kok yg langsung minta maaf..
Dari hasil temuan penelitian wawancara penelitian dengan informan II yang bernama Frasdyanto dengan mengajukan pertanyaan serupa di atas, diperoleh pernyataan sebagai berikut:
Kalau saya waktu masih kecil menangis mereka sempet sih minta maaf, tapi ada juga yang ga minta maaf.
Selanjutnya, penulis juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada informan III yang bernama Justin Khalid, memberikan pernyataan sebagai berikut:
Ya menunjukan secara langsung dan tidak langsung, kan cara orang berpikir buat tanggung jawab mengenai hal tesebut berbeda beda.
Adayang sadar langsung minta maaf dan ada yang tidak minta maaf