Motivation Moving Rubber Farmer Becomes Gold Miners Kenagarian Sikabau arbor Pulau Punjung Sub District Dharmasraya
by:
Dante Iman Rinaldi,
*Slamet Rianto M.Pd,,
**Rozana Eka Putri S.Pd, M.Si
***)Geography Education 1.Mahasiswa STKIP PGRI West Sumatera.
**)Lecturer in Geography Education STKIP PGRI West Sumatera
ABSTRACT
This study aims to gain an overview of Motivation Rubber Farmers Turning Gold Miners Become views of: 1) internal motivation, 2) external motivation.This research is qualitative, the subject of this research through a snow ball, the data gathered through; 1) observation, 2) interviews, 3) documentation . Informants in this study is the village trustees, community leaders and community rubber farmers gold miners by 27 people. Testing the validity of the data in the study used data analysis techniques , data validity , and tringulasi. Based on the analysis of data and discussion of matters concluded as follows:1) internal motivation (from the inside) because the rubber farmers want to get better results than the previous revenue rubber farmers, in order to help the family economy. 2) Motivation external (outside) people Kenagarian Sikabau Dharmasraya District of Arbor Island, mostly motivated by peers, which is where gold miners who used rubber farmers interested to try, as seen from the income peers who get decent results from a gold minesr.
Keywords: internal motivation and eksternal motivation gold miners
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan Negara agraris, artinya petani memegang peran penting dari seluruh perekonomian Nasional. Hal ini banyaknya penduduk atau tenaga kerja yang hidup atau bekerja dari sektor pertanian.
Mubyanto (1989) menyatakan sektor pertanian merupakan sektor yang banyak dilaksanakan oleh masyarakat Indonesia karna lebih kurang 60% masyarakat Indonesia bergerak di bidang pertanian.
Masyarakat Indonesia dominan memiliki pekerjaan di bidang pertanian. Mata pencaharian di sektor pertanian yang diharapkan menjadi mata pencarian yang mampu menciptakan kemakmuran bagi masyarakat Indonesia. Kenyataannya hal tersebut banyak petani yang belum mendapat kemakmuran. Balai Informasi Pertanian (1985) menyatakan lahan merupakan salah satu sumber daya alam yang penting bagi manusia, dari sebidang tanah dapat dihasilkan berbagai komoditi seperti pertanian, perkebunan, perternakan, dan perhutanan.
Untuk mengelola lahan pertanian, petani membutuhkan perlengkanpan pertanian.
Perlengkapan pertanian yang baik akan menghasilkan lahan pertanian yang baik pula. Lahan pertanian yang baik akan mempengaruhi terhadap hasil pertanian.
Petani yang ada di Indonesia banyak yang belum memiliki perlengkapan pertanian yang baik sehingga lahan yang ada tidak terkelola dengan sempurna. Lahan tersebut dimanfaatkan menjadi lahan perkebunan, jadi dari lahan yang tidak dikelola dengan sempuna akan berpengaruh terhadap hasil pertanian. Hasil pertanian tersebut akan mempengaruhi terhadap pendapatan petani.
Hasil pendapatan yang diperoleh oleh petani tidak sesuai dengan usaha dalam mengelola lahan pertanian dan perkebunan.
Hal tersebut dapat kita lihat pada banyak petani yang ada di setiap daerah di Indonesia. Salah satunya petani karet yang ada di Kenagarian Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.
Dilihat dari observasi awal pada umumnya mata pencaharian masyarakat di Kenagarian Sikabau adalah petani karet. Dan diduga di lihat dari pendapatan dari sektor perekonian
petani karet hanya mencukupi kebutuhan hidup sehari - hari, selain perlengkapan yang kurang memadai di sektor pertanian, tidak menentunya cuaca serta tidak stabilnya harga karet menyebabkan banyak petani karet yang mencoba untuk mencari lapangan kerja yang sesuai dengan keahlian mereka, dan beberapa petani karet beralih menjadi penambang emas. Penambangan ini sudah dilaksanakan oleh beberapa orang sebelumnya, dan mendapatkan hasil yang layak.
Penambangan emas yang dilakukan oleh masyarakat merupakan penambangan rakyat.
Penambangan ini dilakukan dengan cara menggali lahan yang jauh dari pemukiman, yang dianggap mengandung emas dengan menggunakan alat seadanya. Kedalaman penggalian emas sekitar 6 - 10 meter, batu- batu didalam diangkat kemudian pasirnya dihisap dengan pakai mesin diesel, lalu pasir yang diperoleh didulang untuk memperoleh emas.
Kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Kenagarian Sikabau memberikan dampak berupa rusaknya struktur tanah yang tadinya bisa dimanfaatkan untuk pertanian, sekarang tinggal bebatuan dan pasir. Selain itu air menjadi keruh dan karena banyak masyarakat beralih mata pencaharian menjadi penambang emas banyak kebun karet yang semak belukar sehinga banyak kebun karet yang tidak terurus.
Pertumbuhan penduduk yang begitu cepat, serta aktifitas penambangan emas yang begitu banyak tentu saja akan menyebabkan ikut meningkatnya akan lahan. Permintaan akan lahan tersebut terus bertambah, sedangkan lahan yang tersedia jumlahnya terbatas. Hal inilah yang mendorong terjadinya perubahan penggunaan lahan yang bisa menjadi lahan pertanian berubah menjadi lahan non pertanian.
Disadari bahwa laju pertumbuhan penduduk tidak akan pernah berhenti, bahkan senantiasa menunjukkan peningkatan. Pertumbuhan penduduk yang selalu meningkat dengan sendirinya diikuti oleh adanya pengembang lingkungan akibatnya ruang muka bumi yang relatif tetap makin lama makin menyempit. Karena semua kebutuhan hidup manusia itu memerlukan ruang (Soemarwoto, 2009: 24).
Berdasarkan survey awal penulis, jumlah petani karet yang berada di Kenagarian Sikabau Kecamatan Pulau punjung Kabupaten Dharmasraya berjumlah 619 orang, dengan lahan perkebunan karet yang ada di Kenagarian Sikabau memiliki seluas 1381 hektar. Dan di lihat di penambangan emas berjumlah 19 titik yang mana setiap titik mempunyai anggota 8 orang, jadi jumlah keseluruhan penambang emas yang dulunya petani karet menjadi penambang emas di Kenagarian Sikabau Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya bejumlah 152 orang, penambang emas yang dilakukan masyarakat Sikabau umumnya berlokasi di area yang jauh dari pemukiman, yang dilakukan secara berpindah-pindah dari lokasi yang satu ke lokasi yang lain.
Pemilihan lokasi tambang dilakukan berdasarkan perkiraan saja, jadi masyarakat tidak menambang di tempat yang tetap.
Apabila suatu lahan tidak mengandung emas lagi atau lahan yang dijadikan tempat tambang mengandung emas yang sedikit maka penambang emas akan berpindah ke lokasi yang lain.
Karena hasil dari kebun karet tidak menentu, sedangkan ditambang emas menjanjikan perubahan disektor perekonomian,seiring dengan perkembangan masyarakat dari kehidupan sederhana menjadi kehidupan yang lebih dari mencukupi.Proses perubahan bisa berlangsung dan berulang-ulang sehingga sampai tahap tertentu yang dapat merubah struktur sosial. Sesuai dengan peraturan dan undang-undang nomor 4 Tahun 2004 tentang pertambangan mineral dan batu bara, yaitu : bahwa mineral dan batu bara yang terkandung dalam wilayah hukum pertambangan Indonesia. Seharusnya masyarakat taat atas peraturan tersebut, tetapi masyarakat petani karet yang beralih menjadi penambang tidak peduli akan peraturan tersebut, masih saja melanjutkan pekerjaan seperti biasa yaitunya menambang emas walaupun tambng itu Ilegal. Jadi dari latar belakang masalah diatas penulis tertarik untuk memngankat judul “Motivasi Petani Karet Beralih Menjadi Penambang Emas di Kenagarian Sikabau Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya”.
METODOLOGI PENELITIAN
Berdasarkan jenis penelitian yang akan dilakukan, penelitian ini bersifat kualitatif, yaitu penelitian yang berusaha mengungkapkan apa saja movasi petani karet menjadi penambang emas di Kenagarian Sikabau Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya, untuk membantu membahas atau menjawab masalah yang akan dirumuskan maka dapat digunakan data primer yaitu data di kumpulkan melalui daftar pertanyaan yang disusun penelitian berdasarkan kebutuhan dan melalui wawancara dengan masyarakat setempat yang beralih dari petani karet menjadi penambang emas.
Menurut Burhan, (2000:21) penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan pendekatan induktif, dengan demikian teori sesungguhnya adalah alat yang akan diuji kemudian dengan data dan instrumen penelitian.
Diperjelas lagi bahwa metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting);
serta disebut juga metode etnografi, karena pada awalnya penelitian ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi sosial yang di sebabkan karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifatkualitatif.(Sugiyono,2009:14).
A. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Nagari Sikabau ,Kabupaten dharmasraya. Dengan subjek penelitian yaitu masyarakat yang beralih dari petanikaretmenjadi penambang emas,sesuai dengan defenisi berikut dalam masalah yang dibawa peneliti setelah memasuki lapangan berubah total (Sugyono, 2009: 283).
Dari teori diatas, dari kata “lapangan”, disini diartikan sebagai Lokasi penelitian yang berada di Nagari Sikabau Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya.
B. Informan Penelitian
Untuk memperoleh jawaban terhadap objek yang diteliti maka diperlukan informasi penelitian melalui masyarakat dan instansi tertentu terhadap tujuan penelitian.
Informan penelitian diambil dengan cara tehnik snow ball (bola salju), dan selanjutnya proses bola salju ini berlangsung terus sampai peneliti memperoleh data yang cukup sesuai kebutuhan. (Arikunto, 2006).
Cara menanyakan satu individu dengan sebagai berikut: wali Nagari, Tokoh Masyarakat, Masyarakat Nagari Sikabau yang beralih dari petani karet menjadi penambang emas. Pemilihan informan ini ditentukan atas dasar peneliti menganggap informan tersebut bisa memberikan informasi mengenai Motivasi petani karet menjadi penambang emas di Kenagarian Sikabau Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya.
C. Teknik dan Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data penelitian ini yaitu dengan cara sebagai berikut:
1. Observasi ke lapangan
Teknik ini digunakan untuk melihat dan mengamati kegiatan kehidupan masyarakat sehari-hari pada umumnya terhadap motivasi petani karet menjadi penambang emas di Nagari Sikabau Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya, dalam bentuk observasi lapangan terus terang.
2. Wawancara
Teknik wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua orang atau dua belah pihak yaitu pewawancara dengan pihak yang diwawancarai atau diminta informasinya.
Jenis wawancaranya dalam bentuk (Interviewer) wawancara semiterstruktur dalam hal ini peneliti dan pihak yang di wawancarai agak bebas namun tetap dalam konsep yang direncanakan dan mencatat hal-hal yang penting dari hasil wawancara dalam hal ini dimaksud untuk mengetahui apa motivasi petani karet menjadi penambang emas di Nagari Sikabau Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya.
3. Bahan visual
Teknik bahan visual adalah teknik pengumpulan data berupa bahan fotogafi yang terdiri dari foto-foto yang digunakan untuk mengabadikan proses dalam wawancara pada motivasi petani karet menjadi penambang emas di Nagari Sikabau Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya yang dilakukan masyarakat yang diteliti. (Burhan, 2000:
126-127).
D. Teknik Analisa Data
Teknik analisa data yang penulis pakai adalah teknik analisa data dilakuka bersamaan dengan pengumpulan data, yang mana analisa data kualitatif ini dikemukan oleh Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2009:
401), dilakukan secara interaktif melalui proses data reduction data, data display, verification. Dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Reduksi Data
Merupakan Langkah pengumpulan data atau jawaban yang diperoleh di lapangan dan kemudian di rangkum, memilih hal- hal yang pokok, memfokuskan pada hal- hal yang penting berkaitan dengan permasalahan penelitian, yang mana data di peroleh dari informan (data primer) dan data-data dalam bentuk dokemen (data sekunder).
2. Penyajian Data
Merupakan langkah analisis data yang mengelompokan atau menyusun data yang di peroleh baik itu dari data primer dan data sekunder dalam bentuk uraian singkat berupa teks naratif, dan bagan, yang gunanya agar memudahkan memahami data yang diperoleh.
3. Verifikasi
Verifikasi adalah langkah ke tiga dalam analisis data yang di peroleh dari data yang telah di reduksi dan di displaykan kemudian dirangkai dalam suatu bentuk kesimpulan data yang di dukung dengan bukti-bukti yang valid dan konsisten.
4. Membuat Laporan
Adalah langkah akhir dalam melakukan analisis data yang mana membuat suatu rangkai kalimat dalam bentuk laporan yang diperoleh dari setiap pengalaman, dan kejadian dalam pengumpulan data di lapangan.
E. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data Pemeriksaan keabsahan data yang diperoleh dilakukan dengan beberapa cara antara lain :
1. Perpanjangan keikutsertaan
Dalam penelitian ini, fungsi dari penelitian ini adalah sebagai instrumen,yangartinyakeikutsertaan peneliti pada objek penelitian sangat berarti sekali dalam proses pengumpulan data, dalam proses pengumpulan data ini data harus benar-benar dapat dipercaya dan terbukti karena data ini di peroleh
setelah mengalami proses perpanjangan pengamatan terhadap data tersebut.
2. Ketekunan pengamatan
Ketekunan pengamatan bertujuan untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang relevan dengan persoalan atau isu-isu yang sedang dicari.
Peneliti akan mengamati dan melihat secara spesfik tentang motivasi petani karet menjadi penambang emas di Kenagarian Sikabau Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya.
3. Triangulasi
Teknik triangulasi adalah teknik untuk memeriksa keabsahan data yang dimanfaatkan sesuatu diluar data itu,untukkeperluan pengecekan atau sebagai perbandingan terhadap data yang diperoleh.Triangulasi sumber, metode penyelidikan dan teori untuk sumber yang mana teori triangulasi sumber adalah peneliti mengecek kembali tingkat keberadaan suatu informasi berdasarkan waktu dan alat, baik pada saat yang sama maupun saat yang berbeda.
Sedangkan dalam triangulasi teori penulis melihat pada peristiwa dalam perspektif teori, pandangan dan pendapat orang lain dalam bentuk tulisan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Temuan Umum Penelitian
a. Keadaan Geografis
Penelitian ini dilakukan di wilayah Kabupaten Dharmasraya, Kecamatan Pulau Punjung, dengan nama wilayah atau tempat objek penelitiannya Kenagarian Sikabau.
Yang mempunyai wilayah secara Astronomis Kenagarian Sikabau terletak diantara0058’33”- 1009’54’’ LS dan 101024’05” - 101035’27’’ BT, yaitu berada pada bagian Selatan Provinsi Sumatera Barat.
Nagari Sikabau merupakan salah satu Nagari terluas di Kecamatan Pulau Punjung dengan luas wilayah 16.316 Ha atau 163,16 km2, dengan dataran rendah seluas 10.605 Ha dan dataran bergelombang dan dataran tinggi seluas 5.711 Ha.
Secara Administratif Pemerintahan Kenagarian Sikabau berbatasan dengan:
Sebelah Utara Nagari Siguntur Kecamatan Sitiung.
Sebelah Selatan Kabupaten Solok Selatan .
Sebelah Timur Nagari Tabiang Tinggi Kecamatan Pulau Punjung.
Sebelah Barat Nagari Sungai Dareh Kecamatan Pulau Punjung.
Secara Administratif wilayah Nagari Sikabau terdiri dari 7 jorong, yaitu :
1)
Jorong Bukit Barangan.2)
Jorong Tanjung Salilok.3)
Jorong Tabek Pamatang.4)
Jorong Koto Sikabau.5)
Jorong Parik Tarajak.6)
Jorong Kampung Baru.7)
Jorong Buki Mindawa.Pusat Pemerintahan Nagari Sikabau terletak pada Jorong Bukit Barangan, dimana posisi Jorong Bukit Barangan yang sangat strategis dan merupakan tiga pintu gerbang lalu lintas darat yaitu menuju Padang, Jambi dan Pekanbaru. Sedangkan jarak antara Pusat Pemerintahan Nagari Sikabau dengan Ibu kota Kecamatan 6 Km, dengan ibu kota Kabupaten 8 Km dan ibu kota Provinsi 200 Km.
b. Topografi
Topografi adalah gambaran tentang tingkat kemiringan dan ketinggian tanah.
Karakteristik Lahan dan Iklim Nagari Sikabau adalah:
1. Topografi :- Datar : 65 % -
Bergelombang : 20 %
Berbukit : 15 %
2. Jenis Tanah : PMK
(Padsolik Merah Kuning)
3. Ketinggian : 130 m DPL
4. Temperatur : 27s/d 33 derajat celcius
5. Curah Hujan dan Iklim: Hujan 2.646/tahun, jumlah rata-rata hari hujan 98 hari hujan/tahun.
B. Pembahasan
Dari hasil observasi dan penelitian yang di lakukan peneliti dengan mengunakan tekhnik snow ball (bola salju, di temukan data dan imformasi berkaitan dengan motivasi petani karet beralih menjadi
penambang emas di Kenagarian Sikabau, Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya.
Pertama bekaitan dengan motivasi internal (dorongan dari dalam diri sendiri) kareana ingin mendapatkan penhasilan yang banyak supaya membantu perekonomian keluarganya.
Dalamhttp://www.duniapsikologi.compenge rtian-motivasi/. Motivasi seseorang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal :Faktor Internal; faktor yang berasal dari dalam diri individu, terdiri atas:
1. Persepsi individu mengenai diri sendiri;
seseorang termotivasi atau tidak untuk melakukan sesuatu banyak tergantung pada proses kognitif berupa persepsi.
Persepsi seseorang tentang dirinya sendiri akan mendorong dan mengarahkan perilaku seseorang untuk bertindak.
2. Harga diri dan prestasi; faktor ini mendorong atau mengarahkan inidvidu (memotivasi) untuk berusaha agar menjadi pribadi yang mandiri, kuat, dan memperoleh kebebasan serta mendapatkan status tertentu dalam lingkungan masyarakat; serta dapat mendorong individu untuk berprestasi.
3. Harapan; adanya harapan-harapan akan masa depan. Harapan ini merupakan informasi objektif dari lingkungan yang mempengaruhi sikap dan perasaan subjektif seseorang. Harapan merupakan tujuan dari perilaku.
4. Kebutuhan; manusia dimotivasi oleh kebutuhan untuk menjadikan dirinya sendiri yang berfungsi secara penuh, sehingga mampu meraih potensinya secara total. Kebutuhan akan mendorong dan mengarahkan seseorang untuk mencari atau menghindari, mengarahkan dan memberi respon terhadap tekanan yang dialaminya.
5. Kepuasan kerja; lebih merupakan suatu dorongan afektif yang muncul dalam diri individu untuk mencapai goal atau tujuan yang diinginkan dari suatu perilaku.
Kedua motivasi eksternal (dorongan dari luar) yang mana masyarakat Kenagarian Sikabau Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dhamasraya, menjadi penambang emas karena di ajak tema sebaya, yang terlebih dahulu menambang
emas,dan di lihat dari segi pendapatannyacukupmenguntungkan.Dalam http://www.duniapsikologi.compengertian- motivasi. Faktor Eksternal; faktor yang berasal dari luar diri individu, terdiri atas:
1. Jenis dan sifat pekerjaan; dorongan untuk bekerja pada jenis dan sifat pekerjaan tertentu sesuai dengan objek pekerjaan yang tersedia akan mengarahkan individu untuk menentukan sikap atau pilihan pekerjaan yang akan ditekuni. Kondisi ini juga dapat dipengartuhi oleh sejauh mana nilai imbalan yang dimiliki oleh objek pekerjaan dimaksud.
2. Kelompok kerja dimana individu bergabung kelompok kerja atau organisasi tempat dimana individu bergabung dapat mendorong atau mengarahkan perilaku individu dalam mencapai suatu tujuan perilaku tertentu;peranan kelompok atau organisasi ini dapat membantu individu mendapatkan kebutuhan akannilai- nilaikebenaran, kejujuran, kebajikan serta dapat memberikan arti bagi individu sehubungan dengan kiprahnya dalam kehidupan sosial.
3. Situasi lingkungan pada umumnya; setiap individu terdorong untuk berhubungan dengan rasa mampunya dalam melakukan interaksi secara efektif dengan lingkungannya.
4. Sistem imbalan yang diterima; imbalan merupakan karakteristik atau kualitas dari objek pemuas yang dibutuhkan oleh seseorang yang dapat mempengaruhi motivasi atau dapat mengubah arah tingkah laku dari satu objek ke objek lain yang mempunyai nilai imbalan yang lebih besar.
Dari pendapatan dan hasil observasi serta penelitian yang peneliti lakukan dapat dikemukakan bahwa motivasi petani karet berali menjadi penambnag emas, karena pendapatan lebih besar dari petani karet, serta motivasi internal dan eksternal, internal karena ingin mendapatkan pengahasilan yang banyak untuk membantu perekonomian keluarganya, dan eksternal kebanyakan petani karet karena kebanyakan termotivasi oleh teman sebaya, yang mana penambang emas yang dulunya petani karet tertarik ingin mencoba, karena dilihat dari pendapatan teman sebaya yang
mendapatkan hasil yang layak dari tambang emas, contohnya dulu teman tersebut dilihat dari sektor pereonomian sangat minim tapi semenjak menambang emas perekonomian teman tersebut sangat meningkat, jadi petani karet tertarik untuk menambang emas.
PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat di simpulkan motivasi petani karet menjadi penambang emas di Kenagarian Sikabau Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya, didapati dari hasil penelitian yang yang dilakukan di lapangan bahwah motivasi petani karet menjadi penambang emas karena penghasilan ditambang emas lebih besar dari pada menjadi petani karet.
1. Motivasi internal (dari dalam) karena petani karet yang beralih menjadi petambang emas ingin mendapatkan hasil yang lebih baik dari pada pendapatan sebelumnya yaitu petani karet, agar bisa membantu perekonomian keluarga.
2. Motivasi eksternal (dari luar) masyarakat Kenagarian Sikabau Kecamatan Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya, kebanyakan termotivasi oleh teman sebaya, yang mana penambang emas yang dulunya petani karet tertarik ingin mencoba, karena dilihat dari pendapatan teman sebaya yang mendapatkan hasil yang layak dari tambang emas, contohnya dulu teman tersebut dilihat dari sektor pereonomian sangat minim tapi semenjak menambang emas perekonomian teman tersebut sangat meningkat, jadi petani karet tertarik untuk menambang emas.
B. Saran
Berdasarkan data yang diperoleh maka saran dari penulis adala sebagai berikut : 1. Diharapkan Bagi masyarakat Sikabau yang Berpindah mata pencaraian dari petani karet kepenambang emas, penulis menyarankan agar kebun karetnya di urus kembali supaya setelah tambang tidak
ada lagi hasilnya, bisa kembali lagi ke kebun karet.
2. Diharapkan bagi masyarakat Sikabau yang berpindah dari petani karet beralih menjadi penambang emas penulis menyarankan agar mentaati peraturan yang berlaku di Indonesia, sesuai dengan undang-undang No 4 Tahun 2009, bahwa pertambang mineral dan batubara yang terkandung dalam wilayah hukum pertambangan Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Bungin, Burhan. 2000. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Http://Id.Wikipedia.Org/Wiki/Motivasi.
Tanggal 23 Oktober 2013,. jam 14:15.
Manuwoto, Syafrida. 2010. Pendidikan Tinggi Pertanian Dalam Membangun Bangsa. Bogor: IPB Press.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif & Kualitatif dan R&D.
Bandung: Alfa Beta.