Salah satu contoh tindak pidana eksploitasi anak terdapat pada putusan nomor: 47/Pid.Sus/2014/PN.Pwt, dari putusan tersebut penulis tertarik untuk menganalisis apakah dakwaan dalam putusan ini sudah sesuai dengan ketentuan Pasal 143. . ayat (2) KUHAP. Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk menganalisis kecukupan dakwaan jaksa penuntut umum dalam putusan no. 47/Pid.Sus/2014/PN.Pwt sesuai ketentuan alinea kedua Pasal 143 KUHAP. Analisis kelayakan penerapan hukum pada Putusan No. 47/Pid. Sus/2014/PN.Pwt sesuai dengan UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usulan dakwaan Jaksa Penuntut Umum dalam putusan nomor: 47/Pid.Sus/2014/PN.Pwt tidak memadai, karena didasarkan pada ketentuan alinea kedua Pasal 143 KUHP. Hukum Acara Pidana. yang mengatur tentang syarat-syarat hukum dakwaan, tidak memenuhi syarat-syarat. Ketentuan pasal ini adalah syarat formil dan syarat materiil.
Sedangkan lengkap artinya dalam penyusunan surat dakwaan, uraian surat dakwaan harus mencakup seluruh unsur-unsur yang ditentukan secara keseluruhan.Kesimpulan kedua dari permasalahan ini adalah pertimbangan hakim dalam Putusan nomor: 47/Pid.Sus/2014/ PN.Pwt yang menyatakan terbukti melakukan eksploitasi anak tidaklah cukup, tepat, karena berdasarkan perbuatan terdakwa yang terbukti di persidangan, terdakwa hanya pelaku eksploitasi anak dan dalam Pasal 88 undang-undang perlindungan anak, artikel ini lebih cocok untuk orang yang menawarkan eksploitasi anak.
Latar Belakang
Menurut Pasal 88 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, terdapat dua jenis eksploitasi anak, yaitu eksploitasi seksual dan eksploitasi ekonomi. Berbagai kasus anak sebagai korban eksploitasi seksual oleh pengguna sering terjadi di Indonesia, contohnya penulis temukan pada Putusan Pengadilan Nomor: 47/Pid.Sus/2014/PN.Pwt. Kasus ini terjadi di waktu yang tidak dapat diingat pasti sekitar bulan Februari 2014 sekitar pukul 01.00 WIB atau setidak-tidaknya dilakukan pada tahun 2014 di Hotel Wisata Komersial di Desa Kranji, Kecamatan Purwokerto, Kabupaten Banyumas atau setidaknya di satu tempat yang termasuk dalam Pengadilan Negeri Purwokerto.
Perbuatan tersebut berawal dari saksi IV menerima pengaduan dari saksi I (saat itu berusia 16 tahun 8 bulan) yang membutuhkan uang, kemudian sekitar pukul 16.00 WIB saat terdakwa sedang berada di rumahnya di Kabupaten Purbalingga mendapat pesan singkat dari saksi. IV mengatakan mempunyai anak yang membutuhkan uang, kemudian terdakwa menjawab “iya, sampai ketemu dulu” kemudian saksi IV menjawab “iya”, kemudian terdakwa menjawab “anak itu mau berapa?” dan saksi IV menjawab “empat ratus ribu”. Sekitar pukul 19.00 WIB, terdakwa berangkat ke Purwokerto, namun singgah terlebih dahulu di rumah teman terdakwa hingga pukul 21.00 WIB. Nomor kantor pos satelit pertama kemudian terdakwa mengirimkan pesan singkat kepada saksi IV yang memberitahukan keberadaan terdakwa, beberapa saat kemudian saksi IV datang ke Ankringan bersama saksi I, kemudian terdakwa bertemu dengan saksi A korban. , kemudian terdakwa bersama saksi IV dan saksi korban saling berbincang. makan di angkringan sampai pukul 00.30 WIB, saksi IV dan saksi korban I pamit pulang dulu, terdakwa mengatakan akan menjemput saksi korban di depan gang rumah saksi IV kawasan Silapeni sekitar pukul 00.45 WIB dengan mengendarai mobil terdakwa. menjemput saksi korban I di depan gang rumah saksi IV.
Terdakwa menyuruh saksi korban I masuk ke dalam mobil kemudian membawa korban menuju Hotel Wisata Niaga, sesampainya di hotel terdakwa memesan kamar di lantai tersebut, kemudian mempersilakan korban masuk ke kamar yang telah dipesan dan kemudian terdakwa dan saksi korban saya ngobrol beberapa saat, kemudian terdakwa mengajak saksi. Korban I berbaring, kemudian terdakwa memegang tangan saksi korban, kemudian terdakwa mencium bibir saksi I, kemudian terdakwa menyuruh saksi korban I melepas pakaiannya, sedangkan terdakwa juga membuka pakaiannya sendiri. setelah keduanya telanjang bulat, lalu meletakkan tangan terdakwa di atas tubuh saksi korban I dengan diremas-remas bagian dada dengan saus, beberapa saat kemudian alat kelamin terdakwa mulai mengeras, kemudian terdakwa memasukkan alat kelaminnya ke dalam alat kelamin saksi I yang terluka, setelah itu terdakwa menggerakkan bokongnya ke atas dan ke bawah selama kurang lebih dua menit hingga alat kelamin terdakwa mengeluarkan sperma pada perut saksi korban I, setelah selesai barulah saksi. Sehingga penulis tertarik untuk menganalisis apakah terdakwa yang terbukti melakukan tindakan eksploitasi seksual terhadap anak konsisten dengan perbuatan yang dilakukan terdakwa jika dikaitkan dengan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan. Berdasarkan permasalahan diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian hukum dalam bentuk tesis yang berjudul “ANALISIS HUKUM EKSPLOITASI SEKSUAL ANAK (Nomor Putusan: .47/Pid.Sus/2014/PN.Pwt)”.
Rumusan Masalah
Dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Purwokert, JPU mendakwa terdakwa dengan menggunakan dakwaan alternatif yaitu pasal primer 81(2) UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak subsider pasal 88 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak atau lainnya yakni ayat pertama Pasal 332 KUHP. Dalam penilaiannya, hakim menyatakan dakwaan primer pertama tidak memenuhi unsur pasal, kemudian hakim mempertimbangkan dakwaan tambahan dari Pasal 88 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan menyatakan unsur-unsur dalam pasal tersebut terpenuhi. Selain itu, penulis juga ingin menganalisis dakwaan JPU sesuai dengan alinea kedua Pasal 143 KUHAP.
Apakah dakwaan dalam putusan nomor: 47/Pid.Sus/2014/PN.Pwt memenuhi ketentuan Pasal 143 ayat (2) KUHAP? Apakah pertimbangan hakim dalam putusan nomor 47/Pid.Sus/2014/PN.Pwt konsisten dengan perbuatan tersangka?
Tujuan Penelitian
Metode Penelitian
- Tipe penelitian
- Pendekatan penelitian
- Sumber bahan Hukum
- Bahan hukum Primer
- Bahan Hukum Sekunder
- Analisis Bahan Hukum
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian hukum adalah pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, pendekatan sejarah, pendekatan komparatif dan pendekatan kasus. Pendekatan Legislatif (Statutory Approach) Pendekatan perundang-undangan dilakukan dengan menelaah seluruh peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan permasalahan hukum yang sedang ditangani.6 Pendekatan perundang-undangan adalah pendekatan yang menggunakan peraturan perundang-undangan.7. Sumber daya hukum digunakan untuk menyelesaikan permasalahan hukum yang timbul dari permasalahan di atas, sehingga penyelesaian permasalahan di atas perlu dilakukan.
Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang mempunyai kewenangan, artinya bahan hukum yang mempunyai kewenangan. Bahan hukum primer terdiri atas peraturan perundang-undangan, naskah resmi atau berita acara pembuatan peraturan perundang-undangan, dan keputusan hakim. Bahan hukum sekunder adalah semua publikasi tentang hukum yang bukan merupakan dokumen resmi. Publikasi hukum meliputi buku teks, kamus hukum, jurnal hukum, dan komentar terhadap keputusan pengadilan. Bahan hukum sekunder yang menjadi dasar penelitian ini adalah: literatur, pendapat para ahli, artikel ilmiah yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelitian ini, artikel di internet yang berkaitan dengan permasalahan dalam penelitian ini.
Identifikasi fakta hukum dan penghapusan hal-hal yang tidak relevan dengan penetapan permasalahan hukum yang akan diselesaikan; Dalam penyusunan skripsi ini, penulis melakukan penelitian terhadap fakta-fakta hukum yang terdapat dalam Putusan Nomor: 47/Pid.Sus/2014/PN.Pwt, setelah penulis melakukan penelitian untuk mencari permasalahan hukum maka penulis menentukan permasalahan hukum yang terkandung di dalamnya. dalam keputusan. Kemudian penulis mencari dan mengumpulkan semua bahan hukum yang berkaitan dengan permasalahan hukum yang akan dibahas, jika semua bahan sudah terkumpul maka bahan hukum tersebut dikaitkan dengan permasalahan hukum tersebut untuk diteliti, sehingga akan diperoleh jawaban dari permasalahan hukum tersebut. ditemukan, kemudian ditarik suatu kesimpulan dari hasil penelitian berupa argumentasi.
TINJAUAN PUSTAKA
- Anak Dan Hak-Hak Anak
- Pengertian Anak
- Hak – Hak Anak
- Tindak Pidana Eksploitasi Seksual Anak
- Pengertian Tindak Pidana Eksploitasi Seksual Anak
- Bentuk-Bentuk Kekerasan Seksual Terhadap Anak
- Pelaku Tindak Pidana Eksploitasi Seksual Anak
- Surat Dakwaan
- Pengertian Surat Dakwaan
- Syarat - Syarat Surat Dakwaan
- Bentuk – Bentuk Surat Dakwaan
- Pertimbangan Hakim
- Pertimbangan Hakim Secara Yuridis
- Pertimbangan Hakim Secara Non Yuridis
Surat Dakwaan adalah surat yang dibuat oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) berdasarkan PVB yang diterimanya dari penyidik, yang memuat uraian secara cermat, jelas, dan lengkap mengenai rumusan tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang. orang. . Syarat dakwaan dalam ketentuan di atas memuat dua syarat, yaitu syarat formil dan syarat materil. Kehati-hatian artinya meminta kepada Jaksa Penuntut Umum untuk merinci dalam penyusunan surat dakwaan yang akan diterapkan kepada terdakwa.
Dengan menempatkan kata “hati-hati” di depan rumusan Pasal 143 ayat (2) KUHAP, pembentuk undang-undang ingin agar penuntut umum selalu akurat dan lengkap dalam mengajukan surat dakwaan24. Uraian yang lengkap berarti surat dakwaan memuat seluruh unsur tindak pidana yang didakwakan. Unsur-unsur tersebut harus tercermin dalam uraian fakta-fakta peristiwa yang dituangkan dalam surat dakwaan.26.
Apabila Jaksa Penuntut Umum mempunyai keraguan terhadap perbuatan terdakwa dan tidak yakin mengenai definisi tindak pidana yang akan didakwakan, Jaksa Penuntut Umum disarankan untuk merumuskan surat dakwaan dalam bentuk yang berbeda. Surat dakwaan campuran adalah surat dakwaan yang mendakwa terdakwa dengan beberapa tindak pidana dengan menggabungkan beberapa bentuk surat dakwaan secara kumulatif. Pasal-pasal tersebut mulai bermunculan dan terungkap dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum yang dirumuskan sebagai ketentuan hukum pidana yang dilanggar oleh terdakwa.
Berdasarkan dakwaan yang diajukan jaksa dalam Putusan nomor: 47/Pid.Sus/2014/PN.Pwt, identitas terdakwa tidak ditulis secara lengkap yang merupakan syarat formil dalam surat dakwaan. Selain tidak dituliskan identitas terdakwa secara lengkap, Jaksa Penuntut Umum juga tidak memenuhi syarat materiil dakwaan, yakni tidak jelas dan lengkap.
PEMBAHASAN
Kesesuaian Surat Dakwaan Dalam Putusan Nomor:47/Pid.Sus/2014/PN.Pwt
Kesesuaian Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Pidana Terhadap Putusan
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam dakwaan yang diajukan JPU dalam perkara nomor: 47/Pid.Sus/2014/PN.Pwt, dakwaan JPU tidak tepat karena berdasarkan KUHAP pasal 143 ayat mengatur syarat sahnya suatu surat dakwaan yaitu syarat formal dan substantif, surat dakwaan yang dibuat oleh jaksa penuntut umum tidak memenuhi syarat formal dan substantif. Dalam pertimbangan hakim dalam Putusan nomor: 47/Pid.Sus/2014/PN.Pwt yang menyatakan terdakwa terbukti melakukan eksploitasi seksual terhadap anak, tidaklah tepat, karena berdasarkan perbuatan terdakwa yang terungkap dalam Dalam persidangan, terdakwa berperan sebagai pelaku eksploitasi, bukan sebagai orang yang mengeksploitasi. Jika dikaitkan dengan Pasal 88 UU Perlindungan Anak maka perbuatan terdakwa tidak sesuai dengan isi pasal tersebut.
Saran
Hakim hendaknya lebih teliti dan tajam pemikirannya serta didukung dengan alasan-alasan yang jelas, dan dalam memutus suatu perkara, hakim harus mendasarkan pada bukti-bukti yang dapat dijadikan pedoman dalam memutus perkara tersebut. Fanny Tanuwijaya dan Sunardi, 2001, Kejahatan Terhadap Jiwa dan Tubuh, Malang, Penerbit Fakultas Hukum UNISMA. Triana Ohoiwutun, 2016, Kedokteran Forensik (Interaksi dan Ketergantungan Hukum Pidana Terhadap Ilmu Kedokteran), Yogyakarta, Tree of Light.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Dahriyanto Imani, 2016, Akibat Hukum Jika Surat Tuntutan Dinyatakan Tidak Jelas Pencemaran Nama Baik oleh Hakim Vol.5 No.5 Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi. Rogahang, 2012, Kajian Akibat Hukum Tuntutan Pelarian Dalam Perkara Pidana, Lex Crimen Vol.I No.4, Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi.
Remincel, 2014, Jurnal Ilmu Hukum, Tinjauan Umum Tuntutan dalam Hukum Acara Pidana, Volume 5 Nomor 2, Sekolah Tinggi Hukum Padang.