Oleh karena itu, seorang cendekiawan atau akademisi harus mempunyai mata yang tajam seperti rajawali, telinga yang peka seperti anjing liar, dan lembut seperti hati nurani para Nabi. Terakhir, kami kembalikan kepada para pembaca penilaian atas tulisan-tulisan dalam buku ini untuk saya.
Praktik Oligarki Menguat di Pilkada 2020
Menurut dia, ada beberapa hal yang bisa membuat oligarki semakin subur, di antaranya aturan yang memudahkan oligarki masuk, seperti ambang batas pencalonan kepala daerah yang lebih tinggi. Kepala Pusat Kajian Politik LIPI Firman Noor mengatakan mahalnya biaya politik untuk menjadi calon kepala daerah membuat praktik oligarki semakin menguat.
Di Balik Pilkada: Aktor Politik dan Perebutan Hegemoni
Struktur hegemonik tersebut terlihat dengan adanya partai politik (partai politik) yang dikuasai oleh pemilik modal atau berlatar belakang kekuatan pertambangan. Oleh karena itu, perdebatan mengenai eksistensi partai politik di era demokratisasi merupakan perdebatan akademis yang selalu menarik.
Arena Pilkada dan Permainan Para Cukong
Permainan politik para baron yang berkaki dua ini dikarenakan para baron tidak pernah menganggap atau memandang Pil kada sebagai ajang lahirnya demokrasi. Selain itu, para pemimpin daerah terus disandera para baron, termasuk menempatkan orang-orang Cukong atau loyalis dalam struktur pemerintahan.
Pilkada: Bos Lokal dan Arena Beternak Politik
Para oligarki atau bos lokal saling bersaing dalam pola strategis masing-masing dalam mengeksekusi strategi mereka sendiri. Saya pikir oligarki lokal atau bos lokal mencerminkan bandit pengembara dan bandit stasioner yang diusung Mancur Olson.
Menggantang Asap Demokrasi
UU ITE merupakan salah satu alat pemerintah saat ini yang paling mematikan kebebasan demokratis. Ungkapan ini sudah klise dan hanya ada dalam teks-teks demokrasi. Pada hakikatnya sudah lama terpendam, menjadi bangkai dan menjadi penghias batu nisan demokrasi saat ini.[].
Gurita Korupsi Politik dan Menjemput Ajal Anak Bangsa
Kemarahan kolektif yang tersimpan dalam struktur hati dan pikiran suatu saat akan berkembang menjadi ledakan massal yang tidak dapat dibendung (kobarnya kemarahan sosial). Pulau itu dijual, sumber daya alamnya dikuasai asing atas persembahan Yang Mulia Tuan Kunyuk dan Jenderal Kunyuk di tengah kemiskinan rakyat.
Persoalan Pertambangan di Sultra jadi Soroton Pemerhati
Ia juga menyebutkan peraturan yang dibuat tidak pernah menguntungkan rakyat, seharusnya DPR menjadi corong rakyat. Misalnya di Kalsel hampir seluruh anggota DPRD berlatar belakang pengusaha pertambangan, tentu peraturan dibuat berpihak pada kepentingan pengusaha.
Jenderal Kunyuk dan Komparador
Alat pisau atau parang merupakan sebuah teori untuk benar-benar memahami realitas durian. Kalau durian, itu akibat tindakan manipulatif, hasil mobilisasi, hasil konspirasi penjual durian, atau rezim durian.
Para Pengusaha Tambang di Balik Pilgub Kalimantan
Ijai menguasai Banua Enam yang meliputi Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Balangan dan Tabalong. Sehari sebelum rapat paripurna penetapan hasil Pilgub Kalsel pada Sabtu, 19 Desember, penghitungan aktual KPUD Kalsel pada Jumat pekan lalu menunjukkan Sahbirin Noor – Rudy Resnawan saat ini unggul dua puluh.
Munajat 212: Mobilisasi
Dukungan terhadap Prabowo- Sandi
Ketika seorang gubernur "menggalang" masyarakat untuk mendukung calon presiden nomor urut 01 Jokowi Ma'ruf, kenapa rakyatnya.
Pengamat: Kepala Daerah Hanya Jadi Kacung Oligarki
Menurut Uhaib, mahalnya biaya yang harus dikeluarkan setiap kandidat untuk mengikuti pemilu merupakan indikasi bahwa demokrasi telah tersandera oleh kekuatan modal. Uhaib mengatakan, dengan ketergantungan tersebut, hampir pasti pemimpin daerah terpilih tidak akan berpihak pada rakyat. Bupati, kata dia, pasti akan berpihak pada kepentingan oligarki sebagai imbalan atas kelonggaran yang diberikan saat pilkada digelar.
Perselingkuhan Bisnis dan Politik: Suatu Peta Teoritik
Untuk itu, perlu merujuk pada munculnya jaringan bisnis dan politik pada masa Orde Baru, yang ditandai dengan bangkitnya sistem oligarki yang dikuasai konglomerat Tiongkok dengan pola patronase yang berpusat pada Soeharto. Jaringan bisnis dan politik lebih terbuka di era reformasi karena pengaruh perubahan kelembagaan akibat reformasi dan proses demokratisasi, yang membuat pola rent-seeking agak berbeda dengan yang terjadi pada masa Orde Baru. Pelaku ekonomi di era Orde Baru bertransformasi dengan memanfaatkan perubahan kelembagaan untuk bertahan hidup.
Respon Diskusi JaDi, Uhaib
Jangan Terlalu Menyanjung
Pada acara yang dipandu oleh Hj Mazeniah Elmi S.Ag, Yunani memaparkan data perbandingan capaian Kalimantan Selatan dan nasional berdasarkan perekonomian.
Demokrasi dan Oligarki Lokal
Refleksi Kritis Menyongsong Pilkada di Kalsel
Demokrasi ibarat pasar gelap dan menjadi arena perjudian kekuasaan dan praktik mafia demokrasi yang tak terelakkan (Mary McCoy, 2019). Pertama, proses demokrasi dan sistem politik yang muncul pasca pemerintahan Orde Baru lebih mewakili kepentingan elite politik atau oligarki. Perampokan sumber daya alam oleh para oligarki bisnis merupakan salah satu dampak dari keterlibatan pengusaha dalam kontestasi demokrasi dan sumber daya alam menjadi instrumen konspirasi bisnis dan politik.
KAMI Kalsel Dideklarasikan di Siring 0 Km
Sekjen KAMI Kalimantan Selatan menegaskan, pembangunan Indonesia gagal melepaskan bangsa dari ketergantungan utang luar negeri, penanaman modal asing, dan produk impor serta gagal menciptakan kesejahteraan rakyat dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Senada dengan Presidium YN Kalimantan Selatan Dr Muhammad Uhaib As'ad mengatakan demokrasi saat ini hanya demokrasi prosedural yang melayani kepentingan oligarki ekonomi. Dijelaskannya, penyelenggara negara harus menjalankan pemerintahan yang bebas dari praktik KKN dan bebas dari oligarki politik.
Pakar Politik Kalsel Ingatkan Bahaya Pasar Gelap Demokrasi
Regional Elections Held
Hostage By Capitalists: Political Observer
This situation has provided space for the power of the oligarchy to co-opt democracy in Indonesia. As'ad suspects that these businessmen are getting the mining concessions because they sponsored the election campaign of the regional heads. This situation is slowly eroding the bargaining power of the government and the state against the oligarchy.
Jejak Demokrasi
Menggerogoti Negeri
Dikutip dari www.mediaindonesia.com memberitakan bahwa praktik oligarki dapat merugikan demokrasi dan masyarakat. Selain itu, Kepala Pusat Kajian Politik LIPI Firman Noor mengatakan praktik oligarki semakin kuat karena mahalnya biaya politik untuk mencalonkan diri sebagai presiden daerah. Sementara itu, Pengamat Politik dan Kebijakan Publik Uniska Banjarmasin, Muhammad Uhaib As'ad mengungkapkan, praktik oligarki muncul di
Kutukan Demokrasi dan Politisasi Kebencian
Ya, konstruksi sosial atau imajinasi sosial politik lahir secara alami karena partai politik tidak pernah memperlakukan massa sebagai bagian dari demokrasi. Alih-alih mewakili kepentingan bersama, partai politik malah menjadi kartel, arena konspirasi para demagog yang haus kekuasaan. Partai politik yang notabene merupakan instrumen demokrasi justru telah mereduksi esensi demokrasi di negeri ini menjadi sebuah kutukan.
Dr. Uhaib Digandeng 2 Profesor Luar Negeri Lakukan Penelitian
“Saya akan belajar dari mereka tentang teori kebijakan sosial dan politik untuk mempertajam dan memperdalam ilmu tersebut,” lanjut Uhaib. “Kemarin di Malang kita ada agenda komunikasi, dan sekali lagi saya sangat bersyukur atas kesempatan ini,” ujarnya singkat.
Pilkada Pestanya para Pemilik Modal dan Oligarki
Demokrasi Setan Masih Kuasai Pilkada Tanah Bumbu 2020
“Para bos lokal ini sangat berperan aktif dalam politik kekuasaan atau politik di dunia usaha,” ujarnya kepada wartawan banjarhits.id, Rabu (21/8). Alhasil, Uhaib melihat pola suksesi politik lokal di Tanah Bumbu pada Pilkada 2020 masih sama dengan kampanye pilkada tahun sebelumnya. Solusi dari permasalahan klasik ini adalah melalui pendidikan politik yang harus diberikan kepada masyarakat oleh seluruh instansi dan pemangku kepentingan terkait, termasuk partai politik, yang bertugas memberikan pendidikan politik yang baik.
Politik Dinasti di Pilkada Merisaukan
Masih adanya praktik politik dinasti di setiap pilkada juga didukung oleh peluang menang yang lebih tinggi dibandingkan pasangan calon lainnya. Sebelumnya, pakar pemerintahan daerah, Djohermansyah Djohan, sempat prihatin dengan adanya politik dinasti di berbagai daerah di Tanah Air. Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), politik dinasti sedang merambah di pemerintahan daerah (pemerintah daerah).
Oligarki Diramal Bakal Menguat dalam Pilkada 2020
Lalu ada 224 petahana yang kembali mengikuti Pilkada 2020 dan hal ini disikapi dengan pragmatisme politik. Ia juga menilai penggunaan media digital yang semakin marak menjelang Pilkada 2020 dapat memperkuat potensi oligarki. Oleh karena itu, ia berharap persoalan oligarki pada Pilkada 2020 bisa teratasi, dan mekanisme pemilu politik tahun ini bisa berjalan adil.[].
Dosen UNISKA Sampaikan Kekecewaan Rakyat Dihadapan
Edward Aspinall dan Muhammad Uhaib As'ad, mengutip Buehler (2013), menulis tentang formasi politik dinasti sebagai “keluarga yang berhasil bertahan dalam dua siklus pemilihan eksekutif,” dan banyak dari mereka “berusaha memperluas basis mereka dengan memasukkan jabatan legislatif di berbagai tingkat pemerintahan.” pemerintah". , jika kita menambahkan posisi eksekutif di pemerintahan yang mereka dominasi. Asrun menjabat Wali Kota Kendari selama dua periode, dan jabatan politik di Pemerintah Kota Kendari dipegang oleh anggota keluarganya. Kandidat dengan dukungan politik dinasti mempunyai kekuasaan karena pemimpin daerah mempunyai akses untuk mengontrol sumber daya.
Pengamat Politik: Kepala
Daerah Tidak Pro Rakyat, Jadi Kacung Pengusaha
Menurutnya, hanya orang atau lembaga yang mempunyai kekuatan modal besar yang mampu bersaing dengan biaya tinggi. Di daerah-daerah tersebut, banyak kepala daerah yang memberikan konsesi lahan pertambangan kepada pengusaha besar. Uhaib menduga pengusaha tersebut mendapat konsesi lahan pertambangan karena mensponsori kampanye pilkada.
Pengamat: Biaya Pilkada Mahal, Kepala Daerah Akhirnya Jadi
Hal ini mengakibatkan hanya orang atau lembaga yang mempunyai modal dan uang yang cukup yang dapat ikut serta dalam pilkada. Ini adalah kesempatan emas bagi kaum oligarki untuk memanfaatkan situasi sekaligus mengontrol para pemimpin daerah. “Dia tidak perlu menjadi pemain, tapi dia membeli pemain terbaik di dunia, membayar mereka dan merancang mereka menjadi kekuatan raksasa,” kata Uhaib.[].
Oligarki Mengancam HAM Warga Negara
Hasil dari proses politik tersebut akan mempunyai konsekuensi terhadap hak asasi manusia karena Kepala Daerah terpilih akan mempengaruhi kebijakan di tingkat Pemerintah Daerah. Hak asasi manusia akan terancam jika oligarki terus berkembang dalam proses pemilu kita, khususnya pemilihan kepala daerah karena merupakan ujung tombak dalam penegakan HAM, kata Amiruddin. “Peraturan dibuat oleh DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) yang notabene terdiri dari partai politik,” imbuhnya.
Ongkos Politik Mahal, Kepala Daerah Rawan Jadi Kacung
Sebab, hanya orang atau lembaga yang mempunyai kekuatan modal besar yang bisa mencalonkan diri dalam pemilukada atau pemilu. Menurut dia, hampir bisa dipastikan pemimpin daerah yang duduk di pangkuan oligarki tidak akan berpihak pada rakyat. Uhaib menyimpulkan, otoritas pertambangan saat ini menerima konsesi lahan karena mereka menjadi sponsor pemilu daerah dan parlemen.
Pilkada, Tanah Bumbu, dan Birahi Kekuasaan
Dinamika politik lokal Tanah Bumbu sangat bergantung dan dipengaruhi secara timbal balik oleh dinamika ekonomi dan bisnis yang melatarbelakangi para pelaku politik dan pelaku usaha. Pelaku politik dan bisnis berkembang pada awal pemekaran Kabupaten Tanah Bumbu dari Kabupaten Kota Baru. Banyak aktor politik dan pelaku usaha di Tanah Bumbu yang mempunyai pengaruh besar terhadap politik lokal Kalimantan Selatan.
Praktik Oligarki Diyakini Menguat pada Pilkada 2020
Di sisi lain, persyaratan calon perseorangan semakin sulit dan mahal. Selain itu, terdapat eksklusivitas dalam rekrutmen, pengambilan keputusan mengenai pencalonan kepala daerah ditentukan oleh segelintir orang di partai politik, dan peraturan perundang-undangan pemilu daerah yang lemah. Kepala Pusat Kajian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Firman Noor dalam kesempatan yang sama mengatakan, biaya politik yang mahal untuk menjadi calon kepala daerah antara lain biaya dukungan partai atau membeli perahu, konsolidasi, dan untuk menang. “Tak heran kalau jadi bupati dan walikota digaji Rp. Dibutuhkan 2030 miliar,” ujarnya. Selain itu juga terdapat politik uang seperti jual beli suara, penyerangan subuh hingga pengeboman suatu daerah dengan kekuatan uang. Hal serupa juga terjadi pada pemilu daerah. Adapun kepala daerah yang dipilih dari ibu kota politik elite oligarki dikembalikan uangnya. “Jadi ada konflik antara pengusaha dan kepala daerah.
Ketika Daulat Demokrasi Runtuh
Kekuasaan sekelompok orang menjadi biang permasalahan dimana negara menjadi sandera kepentingan kaum oligarki. Pembentukan kekuatan politik pemerintahan Orde Baru dikuasai oleh oligarki predator sehingga berdampak pada lanskap politik (Vedi R Hadiz, 2004 dan 2011). Perwakilan masyarakat di Senayan dan partai politik menjadi bagian di alun-alun.
Pilkada dan Pembusukan Politik