“ KESIMPULAN MAKALAH “
Tugas ini di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ke-lwasliyahan
Dosen Pengampu : Ridho Kurniawan, M.Pd Disusun oleh :
Syahril Nasution NIM : 2338210022
PRODI PENDIDIKAN BAHASA & SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AL WASLIYAH LABUHANBATU TAHUN 2023/2024
Kelompok 1
Judul : Mengenal Al-Washliyah sebagai salah satu bentuk organisasi(independensi) Kesimpulan :
1. Latar Belakang Berdirinya Al Wasliyah :
Al Washliyah lahir pada masa penjajahan kolonial Belanda di Indonesia.
Dorongan untuk mendirikan organisasi muncul dari keinginan untuk mempersatukan bangsa dan umat, meraih kemerdekaan, serta mengatasi perpecahan dan perbedaan pandangan.
2. Pendirian Al Wasliyah :
Al Washliyah didirikan pada tanggal 30 November 1930 di Maktab Islamiyah Tapanuli Medan.
Para pendiri, yang mayoritas pelajar berusia 20-26 tahun, memiliki visi menjembatani divisi antara kaum tua dan kaum muda.
3. Arti dan Makna Nama Al Wasliyah :
Al Jam’iyatul Washliyah berasal dari "Jam’iyyatun" (perkumpulan) dan "Al Washliyah" (penghubung atau menjembatani).
Nama tersebut mencerminkan tujuan organisasi sebagai perhimpunan yang menghubungkan antara manusia dan Allah, antar manusia, serta manusia dengan alam sekitarnya.
4. Program dan Unit Al Wasliyah :
Al Washliyah memiliki program-program awal yang mencakup tablig, tarbiyah, pustaka, fatwa, penyiaran, urusan anggota, dan tolong-menolong.
Majelis-majelis dibentuk sebagai unit pelaksana program-program tersebut.
5. Misi Awal Al Wasliyah :
Misi awal Al Washliyah melibatkan upaya untuk berlakunya hukum-hukum Islam, meningkatkan kegiatan tablig, penerbitan literatur Islam, pembangunan pendidikan, kegiatan sosial, dan berbagai upaya memajukan penghidupan yang halal.
6. Independensi Al Wasliyah :
Al Washliyah dikenal sebagai organisasi independen yang tidak berafiliasi dengan partai politik manapun sejak awal berdiri.
Meskipun demikian, anggotanya tidak dibatasi untuk terlibat dalam aktivitas politik di luar organisasi.
7. Visi dan Misi Al Wasliyah
Visi Al Washliyah adalah membangun washilah, suatu kelompok komunitas Islam yang berjuang untuk memperkuat hubungan manusia dengan Allah dan antar manusia.
Misi utama mencakup kegiatan pendidikan, dakwah Islam, dan amal sosial.
8. Kesimpulan akhir :
Lahirnya Al Washliyah bertujuan untuk menyatukan umat, meraih kemerdekaan, dan menjembatani perpecahan dalam masyarakat.
Sebagai organisasi independen, Al Washliyah memiliki peran dalam pendidikan, dakwah Islam, dan kegiatan sosial untuk mencapai visi membangun washilah.
9. Saran :
Melalui pemahaman sejarah Al Washliyah, diharapkan masyarakat dapat mengapresiasi peran dan kontribusi organisasi ini dalam memajukan kehidupan umat Islam di Indonesia.
Lebih lanjut, penelitian dan pengembangan terus diperlukan untuk memahami peran Al Washliyah dalam dinamika sosial dan keagamaan di Indonesia secara lebih mendalam.
Kelompok 2
Judul : Memahami Latar Belakang Sejarah berdirinya Organisasi Al Wasliyah
Kesimpulan :
Latar Belakang Berdirinya Al-Jam’iyatul Washliyah:
1. Konteks Berdirinya Al Wasliyah
Al-Jam’iyatul Washliyah lahir pada masa penjajahan kolonial Belanda di Indonesia.
Dorongan untuk mendirikan organisasi muncul dari keinginan untuk mempersatukan bangsa dan ummat yang terpecah dan berbeda pandangan.
Upaya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.
2. Awal Pembentukan :
Awalnya, pembentukan organisasi dimulai dengan perhimpunan pelajar
"Debating Club" yang tujuannya awalnya terfokus pada pelajaran, tetapi kemudian berkembang untuk menanggapi pengaruh radikal dari Muhammadiyah.
Abdurrahman Syihab dan para pelajar MIT Medan memainkan peran awal dalam pembentukan organisasi.
3. Pertemuan dan Kesepakatan :
Pertemuan di rumah Yusuf Ahmad Lubis dan rumah Abdurrahman Syihab menghasilkan kesepakatan untuk membangun perhimpunan yang lebih besar.
Pertemuan besar pada 26 Oktober 1930 di MIT Medan menetapkan dasar-dasar organisasi dan mengusulkan nama "Al Jam’iyatul Washliyah."
4. Pendiri dan Struktur Awal :
Ismail Banda terpilih sebagai Ketua, dengan pengurus lainnya seperti Abdurrahman Syihab, Arsyad Thalib Lubis, Adnan Nur, H. Muhammad Ya’qub, dan lain-lain.
Tujuan organisasi melibatkan da’wah, sosial, dan pendidikan.
Landasan Ideologi dan Struktural:
1. Landasan Ideologi :
Al-Jam’iyatul Washliyah berazaskan pada ajaran Islam dalam hukum fikih bermazhab Syafi'i dan dalam I’tiqad Ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah.
Tujuan utama adalah mempersatukan umat yang terpecah belah dari berbagai perbedaan pandangan.
2. Landasan Struktural :
Struktur organisasi terdiri dari tingkatan mulai dari Pengurus Besar hingga Pimpinan Ranting.
Terdapat Dewan, Majelis, dan Bahagian yang membantu pengelolaan berbagai aspek organisasi.
Majelis-majelis mencakup pendidikan, dakwah, amal sosial, ekonomi, kaderisasi, hukum, dan hubungan kelembagaan.
Perkembangan dalam Kependidikan Al Washliyah:
1. Pendirian Madrasah dan Sekolah :
Al Washliyah diawali dengan fokus pada pendidikan, mendirikan madrasah pertamanya pada 1 Agustus 1932.
Penggabungan madrasah lain di sekitar Medan menguatkan posisi Al Washliyah dalam pendidikan Islam.
Pengiriman utusan ke Minangkabau untuk belajar dari pusat pendidikan modern Islam di Sumatera.
2. Perkembangan Madrasah :
Majelis Tarbiyah menjadi fokus dalam pendidikan, dengan mengembangkan cara baru dalam pendidikan keislaman.
Pada tahun 1940, Al Washliyah memiliki 242 unit sekolah dengan sekitar 12.000 murid di Sumatera Timur.
Pada tahun 1934, Al Washliyah mengirim utusan ke Minangkabau untuk mempelajari pengelolaan pendidikan modern di sana.
3. Peran Majelis Pendidikan :
Terbentuknya Majelis Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan Al Washliyah Sumatera Utara pada tahun 1982 setelah pindahnya Pengurus Besar ke Jakarta.
Pada tahun 1997, Majelis ini berganti nama menjadi Majelis Pendidikan dan Kebudayaan (MPK) dan kemudian berubah lagi pada tahun 2010 menjadi Majelis Pendidikan.
Kelompok 3
Judul : Memahami tentang Sifat, Aqidah dan Asas Organisasi Al-Washliyah Kesimpulan :
Al Jam’iyatul Washliyah, lebih dikenal sebagai Al Washliyah, adalah organisasi Islam yang didirikan di Medan pada 30 November 1930, saat masa penjajahan Belanda. Dalam sejarahnya, Al Washliyah berperan aktif melawan penjajah, dan banyak tokoh besar mereka
menjadi syuhada. Saat ini, Al Washliyah menjadi Ormas Islam sosial yang bertujuan mengamalkan ajaran Islam untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Mereka menjalankan lima kegiatan utama, yaitu pendidikan, dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, panti asuhan dan fakir miskin, serta ekonomi dan kesejahteraan umat.
Al Washliyah, sejak awal berdirinya, menempatkan dirinya sebagai organisasi independen tanpa afiliasi politik. Mereka memiliki visi untuk membangun washilah, suatu kelompok komunitas Islam yang berjuang memperkuat hubungan manusia dengan Allah dan sesama manusia. Misi mereka mencakup kegiatan pendidikan, dakwah Islam, dan amal sosial.
Dalam hal akidah, Al Washliyah awalnya menganut mazhab Syafi'i, namun, mereka merevisi Anggaran Dasar di bidang fiqh, memberi fleksibilitas untuk mengikuti pendapat atau mazhab lain di kalangan Sunni. Meskipun menganut ajaran Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah, Al Washliyah tetap membuka diri terhadap takwil dan pemahaman modern terhadap ajaran Islam.
Kesimpulannya, Al Washliyah adalah organisasi Islam yang berakar pada nilai-nilai kemanusiaan, sosial, dan spiritual. Mereka menggabungkan ajaran Islam dengan prinsip- prinsip Pancasila, mengutamakan pendidikan, dakwah, dan amal sosial untuk mencapai visi dan misi mereka.
Kelompok 4
Judul : Memahami Tentang Struktur Organisasi Al-Washliyah Dari Tingkat Pengurus Besar Sampai Pimpinan Ranting
Kesimpulan :
Al Jam’iyatul Washliyah, atau lebih dikenal sebagai Al Washliyah, merupakan organisasi Islam yang lahir pada 30 November 1930 di Medan. Terbentuk dalam konteks penindasan kolonial Belanda di Indonesia, Al Washliyah lahir dari dorongan untuk mempersatukan bangsa dan ummat yang terpecah serta untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia.
Pendiriannya dimulai sebagai kelompok studi pada 1928 oleh pelajar Maktab Islamiyah Tapanuli.
Meskipun lahir dalam situasi penindasan, Al Washliyah tumbuh menjadi organisasi yang aktif dalam da’wah, sosial, dan pendidikan. Para pendirinya, meski muda, memiliki kharisma tinggi dan berkomitmen untuk menjadi jembatan antara paham kaum tua dan kaum muda.
Dalam perkembangannya, organisasi ini mengemban misi melalui pendidikan, madrasah, dan sekolah untuk meningkatkan pendidikan masyarakat.
Dengan landasan struktural yang teratur, Al Washliyah memiliki pimpinan dan majelis- majelis yang berfungsi dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, dakwah, amal sosial, dan ekonomi. Selama perkembangannya, organisasi ini telah membentuk cabang-cabang di berbagai daerah di Sumatera Utara, menunjukkan penerimaan dan peran positifnya dalam masyarakat.
Kesimpulannya, Al Washliyah lahir sebagai respons terhadap penindasan kolonial, tumbuh menjadi organisasi Islam yang berperan dalam pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.
Dengan nilai-nilai keislaman yang dijunjung tinggi, organisasi ini terus berkembang dan memberikan kontribusi positif dalam membangun bangsa Indonesia.
Kelompok 5
Judul : Memahami Tingkat Kepengurusan Dalam Organisasi Al Wasliyah Kesimpulan :
Al-Jam’iyatul Washliyah, secara harfiah, berasal dari dua kata: Jam’iyyatun (perkumpulan) dan Al Washliyah (penghubung atau menjembatani). Organisasi ini didirikan pada tahun 1930 di Medan, Sumatera Utara, sebagai respons terhadap keadaan Indonesia yang masih dijajah oleh Belanda dan untuk mempersatukan umat Islam. Motivasi lainnya adalah mengatasi perpecahan dan pandangan radikal, seperti yang dianggap oleh organisasi Muhammadiyah.
Pada tanggal 26 Oktober 1930, di Maktab Islamiyah Tapanuli Medan, terjadi pertemuan besar yang melibatkan ulama, pelajar, guru, dan pemimpin Islam. Dalam pertemuan ini, diambil kesepakatan untuk membentuk Al-Jam’iyatul Washliyah sebagai organisasi Islam yang bergerak dalam bidang dakwah, sosial, dan pendidikan.
Organisasi ini berkomitmen untuk:
1. Mengusahakan berlakunya hukum-hukum Islam.
2. Meningkatkan tablig, tazkir, dan pengajian di tengah umat Islam.
3. Menerbitkan literatur Islam, seperti kitab-kitab, surat kabar, majalah, dan surat siaran.
4. Membangun perguruan dan meningkatkan kualitas pendidikan dan kebudayaan.
5. Menyantuni fakir miskin serta mendidik anak yatim piatu.
6. Menyampaikan seruan Islam kepada non-Muslim.
7. Membangun, merawat, dan memperbaiki tempat ibadah.
8. Mempromosikan penghidupan yang halal.
Secara khusus, dalam bidang pendidikan, Al-Washliyah telah mendirikan madrasah dan sekolah sejak awal berdirinya. Fokus utamanya adalah mencerdaskan bangsa melalui pendidikan Islam. Madrasah pertamanya didirikan pada tahun 1932 di Medan. Dalam perkembangannya, Al-Washliyah terus mengembangkan pendidikan Islam formal dan informal.
Pada tahun 1934, Al-Washliyah melakukan kunjungan ke Minangkabau untuk mempelajari pengelolaan pendidikan modern Islam. Keputusan-keputusan dari kunjungan ini, seperti mendirikan sekolah umum berbasis agama dan memasukkan bahasa Belanda dalam kurikulum, diadopsi untuk meningkatkan pendidikan Islam.
Pada tahun 1934, majelis-majelis Al-Washliyah mulai aktif, terutama Majelis Tarbiyah (pendidikan). Madrasah Al-Washliyah terus berkembang, dan pada tahun 1940, sudah memiliki 242 sekolah dengan sekitar 12.000 murid.
Seiring waktu, Majelis Tarbiyah berubah menjadi Majelis Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (MPPK), lalu Majelis Pendidikan dan Kebudayaan (MPK) pada tahun 1997.
Pada tahun 2010, dalam Muktamar XX di Jakarta, namanya kembali berubah menjadi Majelis Pendidikan, lebih fokus pada aktifitas pendidikan.
Struktur kepemimpinan Al-Washliyah mencakup tingkatan dari Pengurus Besar hingga Pimpinan Ranting. Terdapat pula majelis-majelis dan organisasi bagian yang mengelola berbagai program sesuai bidangnya, seperti pendidikan, dakwah, amal sosial, pembinaan ekonomi, dan kaderisasi.
Di Sumatera Utara, Al-Washliyah memiliki struktur kepengurusan yang melibatkan 25 Pimpinan Daerah di berbagai kabupaten dan kota. Meskipun ibukota organisasi pindah ke
Jakarta sejak 1982, Majelis Pendidikan Al-Washliyah di Sumatera Utara tetap berperan dalam pengelolaan pendidikan.
Dalam konteks Kabupaten Batu Bara, Al-Washliyah hadir sebagai respons terhadap ketidak tahuan akan ilmu pengetahuan dan praktik-praktik ritual yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Meskipun berawal dari Asahan, dengan pemekaran Batu Bara, kantor Al-Washliyah dan struktur keanggotaannya berpindah ke Lima Puluh.
Kesimpulan ini mencerminkan bahwa Al-Washliyah bukan hanya organisasi Islam yang bergerak dalam da’wah, tetapi juga memiliki peran penting dalam pengembangan pendidikan Islam, amal sosial, dan pembinaan masyarakat. Meskipun mengalami perubahan struktural, namun Al-Washliyah tetap berkomitmen pada prinsip-prinsip Islam dalam setiap program dan kegiatannya.
Kelompok 6
Judul : Memahami Tentang Struktur Organisasi Al washliyah Dari Tingkat Pengurus Besar Sampai Pimpinan Ranting
Kesimpulan :
Al Jam’iyatul Washliyah didirikan pada tahun 1930 di tengah penjajahan Belanda di Indonesia. Motivasi utama pendirian organisasi ini adalah untuk mempersatukan umat Islam yang terpecah dan berbeda pandangan, serta berkontribusi pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dalam perkembangannya, Al Washliyah aktif dalam menyebarkan agama Islam melalui pendidikan dan berfokus pada da’wah, sosial, dan pendidikan.
Nama "Al Jam’iyatul Washliyah" dipilih oleh Syekh H. Muhammad Yunus, mencerminkan tujuan organisasi untuk menjadi perhimpunan yang memperhubungkan antara manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam sekitarnya. Organisasi ini berupaya menjadi jembatan antara paham kaum muda dan kaum tua.
Pada awalnya, Al Washliyah terlibat dalam menanggapi paham radikal dan perpecahan dalam masyarakat, khususnya terkait dengan aliran Muhammadiyah. Fokus utama organisasi melibatkan program-program seperti tablig (ceramah agama), tarbiyah (pengajaran), penerbitan, fatwa, penyiaran, dan bantuan sosial.
Selain itu, Al Washliyah memiliki struktur kepengurusan yang melibatkan tingkatan mulai dari Pengurus Besar hingga Pimpinan Ranting. Majelis-majelis dibentuk untuk menangani bidang-bidang tertentu, seperti pendidikan, da’wah, dan amal sosial. Selain itu, terdapat tujuh Organisasi Bagian yang berfokus pada berbagai bidang, termasuk organisasi untuk wanita, pemuda, puteri, pelajar, mahasiswa, sarjana, dan guru.
Dalam melaksanakan misinya, Al Washliyah juga menghadapi tantangan, terutama di daerah Batak Toba yang dipengaruhi oleh penyebaran agama Kristen pada masa itu. Meskipun begitu, organisasi ini terus berkembang dan memiliki tujuh Organisasi Bagian yang masih eksis hingga saat ini, mencakup berbagai lapisan masyarakat.
Kesimpulannya, Al Jam’iyatul Washliyah lahir sebagai respons terhadap kondisi sosial dan politik pada masa penjajahan Belanda di Indonesia, dengan fokus utama pada penyiaran Islam, pendidikan, dan pelayanan sosial. Organisasi ini terus berkembang dengan struktur kepengurusan yang terorganisir, memainkan peran penting dalam menyatukan umat Islam serta memperkuat hubungan antara berbagai lapisan masyarakat.
Kelompok 7
Judul : Memahami Tujuan Dan Usaha Usaha Yang Dilakukan Oleh Organisasi Al Washliyah
Kesimpulan :
Kesimpulan dari makalah adalah bahwa Al-Washliyah memiliki tujuan utama dalam pendidikan untuk membentuk manusia yang bertaqwa, berpengetahuan luas, berbudi pekerti tinggi, dan cerdas dalam berjuang. Mereka juga berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, serta meningkatkan taraf hidup masyarakat menuju masyarakat madani. Namun, terdapat problematika dalam pengelolaan amal usaha Al-Washliyah, terutama terkait administrasi dan organisasi. Beberapa usaha yang menggunakan nama Al- Washliyah tidak memiliki keterikatan struktural dengan organisasi, menciptakan ketidaktersusunan.
Dalam bidang ekonomi, Al-Washliyah memiliki potensi yang luas dengan jaringan dari tingkat provinsi hingga desa/kelurahan. Namun, perlu strategi pengelolaan yang lebih baik, terutama dalam menjaga kesatuan organisasi dan memaksimalkan potensi usaha. Bidang
pendidikan Al-Washliyah telah berkembang dengan mendirikan sekolah dari tingkat PAUD hingga perguruan tinggi, namun perlu peningkatan dalam memaksimalkan penggunaan jaringan organisasi.
Dalam bidang sosial, Al-Washliyah juga berperan aktif melalui panti-panti asuhan di Sumatera Utara. Namun, strategi pengelolaan amal usaha Al-Washliyah perlu direkonstruksi untuk mengatasi problematika internal dan eksternal, seperti kendala dalam tata kelola usaha dan keterlibatan usaha yang tidak sepenuhnya tunduk pada aturan organisasi.
Untuk meningkatkan pengelolaan amal usaha Al-Washliyah, disarankan agar mereka meneladani strategi manajemen bisnis ala Nabi Muhammad Saw. Dengan fokus pada kejujuran, kecerdasan dalam berbisnis, jaringan yang luas, dan komitmen pada prinsip- prinsip Islam, Al-Washliyah dapat mencapai kesuksesan dalam pengelolaan amal usahanya.
Dengan demikian, perlu adanya transformasi dalam kepemimpinan dan budaya organisasi untuk mencapai kemajuan yang lebih baik.