• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fakoemulsifikasi pada Katarak dengan Miopia Tinggi Ekstrem

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Fakoemulsifikasi pada Katarak dengan Miopia Tinggi Ekstrem"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN PUSAT MATA NASIONAL RUMAH SAKIT MATA CICENDO BANDUNG

Laporan Kasus: Fakoemulsifikasi pada Katarak dengan Miopia Tinggi Ekstrem Penyaji : Ester Grace Sillya Aprinona Gurning

Pembimbing : dr. Emmy Dwi Sugiarti, SpM (K), M.Kes

Telah diperiksa dan disetujui oleh Pembimbing

dr. Emmy Dwi Sugiarti, SpM (K), M.Kes

Jumat, 20 Maret 2020 Pukul 07.30 WIB

(2)

PHACOEMULSIFICATION IN CATARACT WITH EXTREMELY HIGH MYOPIA

ABSTRACT

Introduction: Cataract surgery planning in extremely high myopia require preoperative evaluation and anticipation of intraoperative difficulties. Highly myopic patients have anatomical differences contributing to high risk of intraoperative and postoperative complication.

Purpose: to report pre-operative evaluation, intraoperative difficulty, and postoperative outcomes in management of cataract with extremely high myopia.

Case Report: A 64-year old male came to National Eye Center, Cicendo Eye Hospital Bandung with chief complaint of blurred vision of left eye, which was the dominant eye, since ± 1 month prior to admission. There was history of -24.00 D and -20.00 D spectacles for right and left eye, respectively. Visual acuity of right eye was close to face finger counting (CFFC) and left eye was hand movement. Ophthalmological examination revealed bilateral immature senile cataract, amblyopia anisometropia of right eye, and central retinal artery occlusion (CRAO) of left eye. Axial length of right eye was 36.55 mm and 32.67 mm of left eye. Phacoemulsification, insertion of capsular tension ring (CTR), and implantation of -10.00 D intraocular lens (IOL) were performed in right eye. Lens-iris diaphragm retropulsion syndrome (LIDRS) was found during surgery and capsular phimosis was found at 1-month. Visual acuity of right eye was 0.5 after laser capsulotomy.

Conclusion: Anatomical structure differences in extremely high myopia contribute to increased risk of intraoperative complications, which can be prevented with thorough preoperative evaluation. Phacoemulsification is the most recommended technique for cataract surgery. Intraoperative difficulties and postoperative complication were taken care of. Refractive target as surgical outcome was obtained by Haigis formula.

Keyword: phacoemulsification, extremely high myopia.

I. PENDAHULUAN

Myopia gravior atau miopia tinggi adalah kondisi yang menyebabkan kelainan refraksi > -6.00 D atau bola mata dengan panjang aksial >26 mm. Struktur anatomi pada pasien miopia tinggi berbeda dengan mata emetropia, yang meningkatkan risiko komplikasi pada pasien miopia tinggi. Pasien miopia tinggi juga berisiko mengalami katarak lebih dini. Prevalensi katarak nukleus adalah 40.63% dan katarak subkapsular sebesar 22.62% pada pasien dengan miopia tinggi.1-3

Perencanaan operasi katarak pada miopia tinggi membutuhkan evaluasi pre- operatif yang cermat. Evaluasi pre-operatif mencakup kondisi segmen anterior dan posterior bola mata, penggunaan formula dalam menentukan kekuatan lensa intraokular (LIO), dan jenis LIO. Teknik operasi juga berperan dalam kejadian komplikasi intraoperasi atau paska operasi. Kunjungan kontrol paska operasi

(3)

dilakukan untuk evaluasi komplikasi yang terjadi paska operasi.4-5 Laporan kasus ini akan membahas mengenai evaluasi pre-operatif, kesulitan intraoperatif, kondisi dan komplikasi paska operasi dari tindakan bedah katarak pada miopia tinggi ekstrem.

II. LAPORAN KASUS

Laki-laki, usia 64 tahun, datang ke Pusat Mata Nasional (PMN) Rumah Sakit (RS) Mata Cicendo pada 12 Januari 2020 dengan keluhan mata kiri buram mendadak sejak ± 1 bulan lalu. Mata kiri adalah mata yang dominan digunakan selama ± 50 tahun. Riwayat trauma, riwayat operasi mata sebelumnya, riwayat penggunaan tetes mata maupun obat minum steroid tidak ada. Riwayat ukuran kacamata saat pasien anak-anak adalah -3.00 D, kemudian terus bertambah hingga menjadi -24.00 D mata kanan dan -20.00 D mata kiri dalam ±50 tahun terakhir.

Kedua anak pasien juga menggunakan kacamata berkekuatan -7.00 D dan -3.00 D.

Riwayat diabetes mellitus tidak ada, tetapi pasien memiliki riwayat hipertensi sejak

± 10 tahun terakhir dan rutin minum amlodipin 5 mg.

Pemeriksaan refraktometri kedua mata tidak dapat dilakukan. Tajam penglihatan mata kanan dasar adalah close to face finger counting (CFFC), dan tetap CFFC dengan lensa -20.00 D, sementara tajam penglihatan mata kiri adalah 1/300. Tekanan intraokular (TIO) mata kanan adalah 17 mmHg dan mata kiri 12 mmHg yang diukur dengan non-contact tonometry (NCT). Pemeriksaan segmen anterior menunjukkan kekeruhan lensa pada kedua mata dan ditemukan central retinal artery occlusion (CRAO) dari funduskopi mata kiri. Diagnosis pada pasien ini adalah Katarak Senilis Imatur Bilateral + Susp. Myopia Gravior Bilateral + CRAO Oculi Sinistra (OS).

Paracentesis mata kiri dilakukan pada tanggal 12 Januari 2020, kemudian pasien datang kembali untuk kunjungan kontrol 1 minggu paska tindakan. Tajam penglihatan mata kanan adalah CFFC dan mata kiri 1/300. Tekanan intraokular mata kanan adalah 15 mmHg dan 10 mmHg pada mata kiri. Pemeriksaan segmen anterior menunjukkan kekeruhan lensa pada kedua mata dengan tingkat kekeruhan NO3NC4-5 atau Nuclear Sclerosis (NS) II, dan ditemukan post CRAO dari

(4)

funduskopi mata kiri. Pasien lalu disarankan untuk dilakukan fakoemulsifikasi dan implantasi lensa intraokular (LIO) mata kanan. Pemeriksaan biometri menggunakan Intraocular Lens (IOL) Master 700 (Carl Zeiss Meditec) ditunjukkan pada gambar 1.1. Hasil biometri menunjukkan panjang aksial bola mata kanan adalah 36.55 mm dan mata kiri 32.67 mm dengan anterior chamber depth (ACD) mata kiri yang dalam. Diagnosis pada pasien ini adalah Katarak Senilis Imatur Bilateral + Myopia Gravior Bilateral + Susp. Ambliopia Anisometropia Oculi Dextra (OD) + Post CRAO OS.

Gambar 1.1 Biometri dan parameter pengukuran lensa intraokular (LIO) pada pasien

Fakoemulsifikasi, pemasangan capsular tension ring (CTR), dan implantasi lensa intraokular (LIO) Sensar AR-40E (Johnson and Johnson Vision) -10.00 D dilakukan pada mata kanan, tanggal 30 Januari 2020. Lens-iris diaphragm retropulsion syndrome (LIDRS) ditemukan intraoperasi. Pasien disarankan untuk rawat jalan dan diberikan terapi tetes mata levofloksasin dosis 6x1 tetes/hari mata kanan, prednisolon asetat 1% dosis 6x1 tetes/hari mata kanan, dan tablet siprofloksasin dosis 2x500 mg per oral. Evaluasi 1 hari paska operasi menunjukkan refraktometri mata kanan adalah S+0.00 dengan tajam penglihatan 0.4 pinhole tetap, diukur menggunakan Snellen chart. Tajam penglihatan mata kiri adalah 1/300. Pemeriksaan segmen anterior mata kanan menunjukkan LIO terpasang pada bilik posterior mata kanan.

Pasien datang untuk kunjungan kontrol 1 minggu paska operasi dengan pandangan mata kanan yang dirasakan jauh membaik. Tajam penglihatan mata

(5)

kanan adalah 0.4 pinhole tetap, menggunakan Snellen chart, dan mata kiri 1/300.

Tajam penglihatan dekat mata kanan adalah 0.8M dalam 30 cm dengan menggunakan lensa +3.00 D. Tekanan intraokular mata kanan adalah 10 mmHg dan 12 mmHg pada mata kiri. Segmen anterior kedua mata dalam batas normal, tampak LIO pada bilik posterior mata kanan. Tetes mata prednisolon asetat 1%

diturunkan dosisnya menjadi 5x1 tetes/hari mata kanan selama 1 minggu, 3x1 tetes mata kanan selama 1 minggu, lalu 1x1 tetes mata kanan selama 1 minggu. Tetes mata levofloksasin serta siprofloksasin oral dihentikan pemberiannya.

Gambar 1.2 Fimosis kapsular mata kanan pada saat kunjungan 1 bulan paska operasi

Pasien kembali datang untuk kunjungan kontrol 1 bulan paska operasi, dengan keluhan pandangan mata kanan menjadi silau. Hasil refraktometri mata kanan menunjukkan S+5.75 C-0.75 x 115. Tajam penglihatan mata kanan adalah 0.25 pinhole 0.32, menggunakan Snellen chart, dan tidak dapat dikoreksi. Tajam penglihatan mata kiri adalah 1/300. Tekanan intraokular mata kanan 16 mmHg mata kanan dan mata kiri 13 mmHg. Pemeriksaan segmen anterior mata kanan, tampak pada gambar 1.2, menunjukkan fimosis kapsular. Segmen anterior mata kiri dalam batas normal. Pasien didiagnosis dengan Pseudofakia OD + Fimosis Kapsular OD + Katarak Senilis Imatur OS + Myopia Gravior Bilateral + Susp.

Ambliopia Anisometropia OD + Post CRAO OS.

Kapsulotomi anterior dilakukan menggunakan laser Nd:YAG berjumlah 100 dengan kekuatan 1.6-2.0 mJ. Tajam penglihatan mata kanan adalah 0.5 pinhole tetap, menggunakan Snellen chart, dengan hasil refraktometri S+0.50 C-0.50 x 95, paska tindakan laser. Pasien didiagnosis dengan Pseudofakia OD + Katarak Senilis

(6)

Imatur OS + Myopia Gravior Bilateral + Susp. Ambliopia Anisometropia OD + Post CRAO OS.

III. DISKUSI

Miopia tinggi ekstrem, oleh Ahmed dkk disebutkan sebagai kondisi mata dengan refraksi pre-operatif > -15.00 D atau panjang aksial >30 mm. Kondisi ini menyebabkan beberapa perbedaan di segmen anterior dan posterior bola mata.

Pasien dengan miopia tinggi ekstrem memiliki anterior chamber depth (ACD) yang lebih dalam dibandingkan emetropia. Serabut longitudinal dari otot siliaris pada miopia tinggi lebih dominan dibandingkan dengan serabut sirkular. Serabut zonula berdiameter lebih besar, sehingga terdapat peregangan yang dapat menyebabkan kelemahan zonula. Kondisi sklera yang tipis pada kondisi miopia tinggi juga dapat menyebabkan stafiloma posterior yang menyulitkan dalam pemeriksaan biometri.1,4,6

Evaluasi segmen anterior dan posterior sangat penting dalam evaluasi pre- operatif dari fakoemulsifikasi pasien miopia tinggi. Lesi pada retina yang dapat ditemukan pada pasien miopia tinggi adalah degenerasi perifer, retinal hole, robekan hingga ablasio retina, dan makulopati myopik. Tindakan preventif seperti laser dapat dilakukan sebelum fakoemulsifikasi, bila ditemukan lesi retina. Hasil biometri pada pasien ini menunjukkan panjang aksial kedua mata >30 mm dan dengan ACD mata kiri yang dalam sehingga pasien didiagnosis dengan Myopia Gravior. Tindakan preventif sebelum fakoemulsifikasi tidak dilakukan karena tidak ditemukan degenerasi perifer pada pasien ini. 1,2,5-7

Evaluasi pre-operatif lain yang sangat penting dalam fakoemulsifikasi adalah kalkulasi LIO berdasarkan formula-formula pengukuran LIO. Chong et al mengatakan bahwa formula generasi ketiga bila digunakan untuk menentukan kekuatan LIO pada pasien miopia tinggi, akan menyebabkan hyperopic surprise paska operasi. Hal ini tentu akan menyebabkan rasa tidak nyaman pada pasien miopia tinggi. Formula Haigis dengan target refraksi sekitar -2.00 D paling disarankan untuk digunakan pada pasien dengan panjang aksial bola mata >30 mm, seperti yang digunakan pada pasien ini. Target refraksi -2.49 D pada pasien ini,

(7)

seperti tampak pada gambar 2.1, dapat dicapai dengan LIO berukuran -10.00 D, sementara emetropia dicapai dengan LIO berukuran -14.63 D. Penelitian terkini juga menunjukkan bahwa formula Barrett Universal II dengan target refraksi emetropia dapat digunakan untuk semua kondisi termasuk miopia tinggi. Kalkulasi LIO pada pasien ini kemudian diulang menggunakan formula Barrett Universal II dengan target emetropia seperti ditampilkan pada gambar 2.1. Hasil kalkulasi ulang menunjukkan target refraksi emetropia dapat dicapai dari LIO berkekuatan -9.50 D. Perbandingan tersebut menunjukkan kesesuaian antara formula Haigis dengan target refraksi sekitar -2.00 D dan formula Barrett Universal II dengan target emetropia, karena perbedaan 0.5 D pada pasien miopia tinggi tidak bermakna.1,6,8,9

Gambar 2.1 Perbandingan kalkulasi LIO menggunakan formula berbeda pada. (A) Formula Haigis dengan target refraksi emetropia, (B) Formula Haigis dengan target refraksi -1.00 D, (C) Formula Haigis dengan target refraksi -2.00 D, (D) Formula Barrett

Universal II dengan target refraksi emetropia

Lensa intraokular pada pasien miopia, selain berfungsi sebagai koreksi kelainan refraksi juga berfungsi sebagai sekat antara segmen posterior dan anterior, sehingga mencegah terjadinya posterior vitreous detachment (PVD), yang dapat menyebabkan ablasio retina. Keadaan afakia sangat tidak disarankan pada pasien miopia tinggi, sehingga LIO sebaiknya tetap dipasang walaupun kebutuhan pasien adalah lensa plano. Jenis LIO yang ditanamkan pada pasien ini adalah LIO foldable akrilik hidrofobik 3-pieces (Sensar AR40E, Johnson and Johnson Vision) berdiameter 6 mm. Material akrilik paling disarankan, dibandingkan

A B

C D

(8)

polymethylmethacrylate (PMMA) dan silikon, untuk ditanamkan pada pasien dengan miopia tinggi. Bahan PMMA membutuhkan insisi yang cukup besar karena tidak foldable, sehingga tidak disarankan pada fakoemulsifikasi pasien miopia tinggi. Ablasio retina adalah risiko yang dapat terjadi pada pasien miopia tinggi.

Vitrektomi pars plana dengan pemasangan silicone oil sebagai tampon intraokular akan dibutuhkan sebagai tatalaksana ablasio retina, sehingga LIO berbahan silikon sangat tidak disarankan untuk digunakan pada pasien miopia tinggi. Silicone oil akan melekat pada LIO berbahan silikon yang kemudian menyebabkan kekeruhan media refraksi. Pasien miopia tinggi juga berisiko memiliki kelemahan zonula, sehingga LIO 3-pieces dipilih pada pasien ini. Hal tersebut karena LIO 3-pieces dapat memberikan stabilitas posisi LIO yang lebih baik bila dibandingkan LIO 1- piece.1,4,7,11,12

Gambar 2.2 Perbedaan inklinasi phaco tip pada (A) emetropia, (B) myopia tinggi Sumber: Buratto dkk3

Kondisi intraoperatif dan outcome paska operasi juga ditentukan oleh pemilihan teknik bedah. Teknik bedah katarak yang direncanakan pada pasien dengan miopia tinggi tentu harus mempertimbangkan struktur anatomis dan risiko ablasio retina paska operasi. Ekstraksi Katarak Intra Kapsular (EKIK) tidak disarankan karena risiko ablasio retina paska operasi yang cukup tinggi (5.74%). Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsular (EKEK) memiliki risiko ablasio retina paska operasi yang lebih rendah dibandingkan EKIK, karena teknik ini masih mempertahankan kapsul posterior. Kapsul posterior dapat mencegah ruptur hialoid anterior sebagai risiko ablasio retina. Risiko yang dimiliki oleh teknik EKEK adalah proses penyembuhan luka operasi dan astigmatisma. Fakoemulsifikasi adalah teknik yang paling

(9)

disarankan sebagai teknik bedah katarak pada pasien miopia tinggi, sehingga menjadi teknik yang dipilih untuk dilakukan pada pasien ini. Kelebihan fakoemulsifikasi adalah luka insisi yang kecil, risiko astigmatisma yang rendah, serta kontrol akan kedalaman ACD selama tindakan bedah katarak. Kedalaman ACD harus dipertahankan selama proses fakoemulsifikasi agar tidak terjadi posterior vitreous detachment (PVD) mendadak saat operasi. Hal tersebut dilakukan melalui teknik yang diilustrasikan di gambar 2.2, yaitu dengan mempertahankan phaco tip agar sedikit lebih vertikal.1-4,7,13

Gambar 2.3 Capsular Tension Ring (CTR) Sumber: Burratto dkk14

Pencegahan komplikasi pada pasien ini dilakukan dengan pemasangan capsular tension ring (CTR), seperti ditunjukkan pada gambar 2.3, untuk stabilisasi kapsul.

Pemasangan CTR saat fakoemulsifikasi disarankan pada kasus pseudoeksfoliasi, katarak matur, miopia tinggi, dan katarak traumatika. Hal-hal tersebut adalah kondisi yang menyebabkan kelemahan zonula. Mekanisme kerja CTR adalah dengan memberikan tekanan terhadap kapsul di bagian ekuator lensa sehingga menyokong area dengan kelemahan zonula. Pasien ini dilakukan pemasangan CTR TR-1210 (Rohto Laboratories) berdiameter 10 mm, dengan bahan PMMA.14-16

Kesulitan intraoperatif yang ditemui saat tindakan fakoemulsifikasi pada pasien ini adalah lens-iris diaphragm retropulsion syndrome (LIDRS). Hal tersebut disebabkan oleh disposisi diafragma iris-lensa ke posterior sehingga terjadi reverse pupillary block (RPB). Faktor risiko terjadinya LIDRS adalah mata paska vitrektomi, axial length yang panjang, dan ukuran insisi yang besar. Operator dapat mengenali timbulnya LIDRS dari keluhan nyeri mendadak yang dirasakan pasien, bilik mata depan yang sangat dalam, dan pupil yang sangat lebar saat infusi

(10)

balanced salt solution (BSS). Kondisi tersebut dapat dicegah dengan menurunkan tekanan infusi ke bilik mata depan dan menjaga agar iris tidak menempel ke kapsul anterior lensa. 1,7,17

Pasien diberikan terapi tetes mata levofloksasin dan prednisolon asetat 1%, serta tablet siprofloksasin untuk mencegah infeksi dan mengurangi reaksi radang paska operasi. Pasien lalu kontrol berkala 1 minggu dan 1 bulan setelah operasi.

Hasil refraktometri pada kunjungan kontrol 1 minggu menunjukkan S+0.00 dengan tajam penglihatan mata kanan 0.4 pinhole tetap, sementara pada kunjungan kontrol 1 bulan hasil refraktometri mata kanan adalah S+5.75 C-0.75 x 115. Penyebab hyperopic shift pada pasien ini adalah fimosis kapsular yang ditemukan dari pemeriksaan anterior. Fimosis kapsular atau anterior capsule contraction syndrome (ACCS) adalah konstriksi dan fibrosis dari kapsuloreksis yang menyebabkan dislokasi LIO dan hyperopic shift. Kondisi ini disebabkan oleh penyusutan kapsul akibat fibrosis karena proliferasi sel epitel lensa. Proses penyusutan lensa tersebut menyebabkan kontraksi lubang kapsuloreksis sehingga terjadi hyperopic shift.

Kondisi yang berisiko untuk terjadi ACCS adalah kondisi dengan kelemahan zonula seperti diabetes, retinitis pigmentosa, sindroma pseudoeksfoliasi, dan miopia tinggi. Faktor risiko bedah yang menyebabkan terjadinya kondisi ini adalah ukuran continuous curvilinear capsulorrhexis (CCC) yang terlalu kecil.

Komplikasi ini dapat dicegah dengan pembuatan CCC dengan diameter yang cukup.Tatalaksana fimosis kapsular pada pasien ini adalah kapsulotomi anterior dengan laser Nd:YAG, yang bertujuan untuk menghilangkan hyperopic shift secara tidak langsung melalui hilangnya fibrosis. Hyperopic shift pada pasien ini tidak lagi didapatkan setelah tindakan laser. Hal tersebut ditunjukkan dengan hasil refraktometri S+0.50 C-0.50 x 95 dan tajam penglihatan mata kanan 0.5 paska tindakan laser.18,19

Prognosis pada pasien ini adalah quo ad vitam ad bonam karena kondisi katarak pada pasien ini tidak mengancam nyawa dan quo ad functionam ad bonam karena tidak ditemukan lesi degeneratif pre-operasi. Komplikasi paska operasi yang terjadi juga telah ditangani. Katarak pada pasien ini tidak akan terulang sehingga prognosis quo ad sanationam ad bonam.4,8

(11)

IV. SIMPULAN

Perbedaan struktur anatomi pasien miopia tinggi meningkatkan risiko komplikasi intraoperasi, sehingga fakoemulsifikasi menjadi teknik paling disarankan. Kesulitan intraoperasi dan komplikasi paska operasi pada pasien ini telah ditangani. Target refraksi, sebagai hasil akhir operasi pada pasien ini, didapatkan dari kalkulasi kekuatan LIO yang presisi menggunakan formula Haigis.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

1. Lalane R, Devgan U. Cataract Surgery in Highly Myopic Eyes. Dalam Cataract Surgery in Diseased Eyes. Jaypee Brothers Medical Publishers.

New Delhi: 2014. p52-55.

2. Steinert RF. High Myopia. Dalam Cataract Surgery. Edisi ke-3. 2010.

Elsevier: 2010. p395-6.

3. Cetinkaya S, Acir NO, Cetinkaya YF, et al. Phacoemulsification in eyes with cataract and high myopia. Arq Bras Oftalmol: 2015;78(5):286-9.

4. Buratto L, Brint SB, Caretti L. High Myopia. Dalam Cataract Surgery in Complicated Cases. New Jersey: 2013. p105-110.

5. Kumar S, Sarwar S, Kumar R. Outcomes of Phacoemulsification with Intraocular Lens Implantation in Patients with High Myopia. Journal of Evolution of Medical and Dental Sciences: 2015;4(92);15771-4.

6. Chong EW, Johdibir SM. High myopia and cataract surgery. Curr Opin Ophtalmol 2016;27:45-50.

7. Ahmed IIK, Jones JJ, Jin GJC. Cataract in High Myopia. Dalam Cataract Surgery from Routine to Complex: A Practical Guide. Slack Incorporated.

New Jersey: 2011. p124-5.

8. Hoffer KJ. Intraocular Lens Power Calculation. Dalam Cataract Surgery.

Edisi ke-3. Elsevier: 2010. p33-52.

9. Zhou D, Sun Z, Deng G. Accuracy of the refractive prediction determined by intraocular lens power calculation formulas in high myopia. Indian J Ophthalmol 2019;67:484-9.

10. Cantor LB, Rapuano CJ, Cloffi GA. Retina and Vitreous: Basic and Clinical Science Course. American Academy of Ophthalmology. San Fransisco:

2018. p78-94.

11. Buratto L, Brint SF, Bocuzzi D. Currently Used Lenses. Dalam Cataract Surgery and Intraocular Lenses. Slack Incorporated. New Jersey: 2014. p23- 25.

12. Dewey S. Understanding Intraocular Lenses: The Basics of Design and Material. American Academy of Ophthalmology. 2015;33(8).

13. Cantor LB, Rapuano CJ, Cloffi GA. Lens and Cataract: Basic and Clinical Science Course. American Academy of Ophthalmology. San Fransisco:

2018. p119.

14. Burratto L, Brint SF, Sacchi L. Surgical Instruments. Dalam Cataract Surgery Introduction and Preparation. Slack Incorporated, New Jersey:

2014. p9-16.

15. Celik E, Koklu B, Dogan E, et al. Indications and clinical outcomes of capsular tension ring implantation in phacoemulsification surgery at a tertiary teaching hospital: A review of 4316 cataract surgeries. Journal francais d’ophthalmologie: 2015;38:955-9.

16. Park HJ, Lee H, Kim DW, et al. Effect of Co-Implantation of a Capsular Tension Ring on Clinical Outcomes after Cataract Surgery with Monofocal Intraocular Lens Implantation. Yonsei Med J 2016 Sep;57(5):1236-1242.

(13)

17. Lim DH, Shin DH, Han G. The Incidence and Risk Factors of Lens-iris Diaphragm Retropulsion Syndrome during Phacoemulsification. Korean J Ophthalmol: 2017;31(4):313-9.

18. Jones JJ. Anterior Capsular Contraction Syndrome. Dalam Cataract Surgery from Routine to Complex: A Practical Guide. Slack Incorporated. New Jersey: 2011. p192-3.

19. Kim TG, Moon SW. Hyperopic shift caused by capsule contraction syndrome after microincision foldable intraocular lens implantation: case series. BMC Ophthalmology: 2019(19);116.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tinggi badan dengan miopia pada siswa di SMA Negeri 1 Surakarta.. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan

b) jarang memenuhi target pekerjaan c) cukup sering memenuhi target pekerjaan d) sering memenuhi target pekerjaan e) sangat sering memenuhi target pekerjaan 23.

Formula B,C dan D mengandung gliserin dalam jumlah yang sama dengan perbandingan jumlah obat dan pelarut adalah 3:1, formula B mengandung 2,5% HPMC di dalam liquid

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien katarak senilis yang berusia ≥ 50 tahun yang melakukan operasi katarak dengan teknik fakoemulsifikasi di Rumah Sakit

Nomor Sampel Pasir I Sampel A II Sampel B III Sampel C IV Sampel D Berat container (gr) 24,4 25 24,6 24,5 Sampel + cont.. Lampiran A.4 Pemeriksaan Berat Jenis

Jika setiap karakter tersebut di beri kode lain misalnya A=1, B=00, C=010, dan D=011, berarti kita hanya perlu file dengan ukuran 11 bits (10010101011), yang perlu

Pencegahan perubahan warna dilakukan secara kimia dengan menggunakan antiseptik yang mengandung bahan aktif benzalkonium klorida (formula C), kresol atau asam kresilat (formula D)

Pada segitiga ABC, jika garis yang sejajar dengan sisi AB dititik A, B, C dipotong di D, E, dan F, maka DE // CB, EF // AC, DF // AB, sehingga AB = DC =