379 ACCOUNTING. Vol. 01, No.02, Juni 2020, pp 379-388
FAKTOR DEBT TO EQUITY RATIO, DIVIDEND PAYOUT RATIO, PROFITABILITAS, DAN SIZE PERUSAHAAN PADA
PERUSAHAAN TERDAFTAR DI INDONESIA STOCK EXCHANGE TERHADAP PENGARUH
TINDAKAN INCOME SMOOHTING
Indara Raja1, Ibrahim Hafied2, Mariati M3
1,2,3Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar
1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]
ABSTRACT
This research aims at finding out and testing the effect of Debt to Equity Ratio, Dividend Payout Ratio, Profitability and Size Company partially on income smoothing on companies listed in the Indonesia Stock Exchange. The method used was a quantitative analysis method based on statistical information to examine the population or sample in order to test the hypothesis. The conclusions of the research were:
1) The Debt to equity ratio and size company affect the income smoothing, 2) The dividend payout ratio and profitability did not affect the income smoothing..
Keywords: Income Smoothing, Independent Variables, Managers, Investors
PENDAHULUAN
Sistem ekonomi adalah suatu sistem ekonomi dimana kekayaan yang produktif terutama dimiliki secara pribadi dan produksi terutama dilakukan untuk dijual. Adapun tujuan pemilikan secara pribadi ialah untuk memperoleh suatu keuntungan/laba yang cukup besar dari hasil menggunakan kekayaan yang produktif. Peran sumber daya ekonomi dalam pembangunan sangat penting dalam mendorong ketercapaian tujuan pembangunan ekonomi. Melalui sumber daya ekonomi yang tersebut, pelaku ekonomi dapat melakukan kegiatan ekonominya. Kita ketahui bahwa sumber daya ekonomi diklasifikasi menjadi 4 jenis sumber daya ekonomi yaitu sumber daya alam, sumber daya modal, sumber daya manusia, dan sumber daya kewirausahaan.
Pada keempat sumber daya ekonomi, salah satunya sumber daya modal menentukan laju produksi suatu perusahaan. Teori struktur modal bertujuan memberikan landasan berpikir untuk mengetahui struktur modal yang optimal. Suatu struktur modal dikatakan optimal apabila dengan tingkat risiko tertentu dapat memberikan nilai perusahaan yang maksimal. Tujuan utama perusahaan meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan pemilik atau pemegang saham.
Sumber pendanaan di dalamperusahaan dibagi menjadi dua kategori, yaitu sumber pendanaan internal dan sumber pendanaan eksternal.
Sumber pendanaan internal dapat diperoleh dari laba ditahan dan depresiasi aktiva tetap sedangkan sumber pendanaan eksternal dapat diperoleh dari para kreditur atau investor.
Pada prinsipnya perusahaan dalam menjalankan usahanya membutuhkan dana lebih. Oleh sebab itu, perusahaan akan membuat statusnya menjadi go public untuk lebih dikenal secara luas oleh pihak-pihak investor. Pada hakekatnya go public secara terjemahannya untuk untuk menjadikan perusahaan berstatus “go public atau pergi ke masyarakat” dimana perusahaan memasyarakatkan dirinya dengan menerima penyertaan masyarakat dalam usahanya, baik dalam pemilikan maupun dalam penetapan kebijakan pengelolaan.
Menurut Syarifuddin (2019), menyatakan bahwa laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan, dan transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama satu tahun buku yang bersangkutan. Calon investor berkepentingan terhadap laporan keuangan berkaitan dengan kemungkinan oportunitis untuk mengembangkan dana yang mereka miliki, bila diinvestasikan dalam perusahaan tersebut.
Sedangkan kreditur berkepentingan untuk mengetahui tingkat kemampuan perusahaan dalam mengembalikan hutang-hutangnya di masa yang akan datang. Pemerintah sangat berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaan dalam kaitanya dengan penetapan pajak sebagai kewajiban fiskal suatu perusahaan.
Kualitas laba akuntansi yang dilaporkan oleh manajemen menjadi pusat perhatian oleh pihak eksternal perusahaan. Sebagaimana dijelaskan oleh Hery (2015), informasi akuntansi harus dapat memperoleh pemahaman mengenai kondisi keuangan dan hasil operasional perusahaan lewat laporan keuangan, dimana khususnya investor sangat berkepentingan terhadap laporan keuangan dalam hal pembagian dividen juga tertarik mengenai besarnya arus kas yang dimiliki perusahaan di masa mendatang. Di sisi lain, informasi mengenai laba perusahaan, yang diukur dengan accrual accounting, pada umumnya memberikan dasar yang lebih baik dalam hal memprediksi kinerja keuangan perusahaan di masa mendatang.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka penelitian ini berjudul: Faktor Debt to Equity Ratio, Dividend Payout Ratio, Profitabilitas, Dan Size Perusahaan Pada Perusahaan Terdaftar Di Indonesia Stock Exchange Terhadap Pengaruh Tindakan Income Smoohting.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka yang menjadi pokok permasalahan pada penelitian ini adalah apakah debt to equity ratio, dividend payout ratio, profitabilitas dan size perusahaan secara parsial mempengaruhi tindakan perataan laba pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesia?
Sesuai dengan rumusan masalah, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menguji pengaruh debt to equity ratio, dividend payout ratio, profitabilitas dan size perusahaan secara simultan dan parsial terhadap tindakan perataan laba pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
TINJAUAN LITERATUR
Tindakan perataan laba, pihak agent dan principal masing-masing memiliki kepentingan sehingga berakibat pada
pencapaian untuk mempertahankan tingkat kemakmuran tersendiri. Namun, ketika kepentingan manajer berbeda dengan kepentingan pemilik, maka keputusan yang diambil oleh manajer kemungkinan besar akan mencerminkan preferensi manajer dibandingkan dengan pemilik (Pearce &
Robinson, 2008).
Teori yang dijadikan dasar untuk menjelaskan informasi sukarela kepada stakeholder adalah signaling theory. Teori sinyal mengungkapkan tentang bagaimana sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada para pemangku kepentingan perusahaan (Daljono, 2014). Jika dilihat dari sisi investor asumsi teori ini menjelaskan bahwa informasi yang diungkapkan perusahaan atau organisasi diharapkan dapat memberikan kabar positif kepada investor dan selainnya sehingga investor diharapkan dapat menangkap pesan yang diberikan oleh organisasi melalui informasi yang disampaikan perusahaan tersebut. Teori signal didasari pada informasi yang diungkapkan perusahaan guna dapat ditanggapi baik dan positif oleh pihak pemakai informasi sehingga mendukung keputusan investasinya
Perataan laba ialah upaya manajer perusahaan untuk mengintervensi atau mempengaruhi informasi-informasi dalam laporan keuangan dengan tujuan untuk mengelabui stackeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi perusahaan (Sulistyanto, 2008). Namun, secara umum kontroversi ini terjadi antara praktisi dan akademisi yang pada dasarnya mempertanyakan apakah perataan laba dapat dikategorikan sebagai kecurangan (fraud) atau tidak. Para praktisi menilai perataan laba sebagai kecurangan, sementara akademisi menilai perataan laba tidak bisa dikategorikan sebagai kecurangan.
Hery menjelaskan di dalam bukunya Pengendalian Akuntansi & Manajemen (2014), ialah manajer melakukan perataan laba pada dasarnya ingin mendapatkan berbagai keuntungan ekonomi dan psikologis,
Dimensi perataan alat yang digunakan untuk menyelesaikan perataan angka. Dalam pusat laba adalah pusat pertanggungjawaban yang manajernya diberi wewenang dan tanggung jawab untuk mengendalikan laba (pendapatan dikurangi beban) pada pusat pertanggungjawaban yang dipimpinnya (Supriyono, 2018).
381 ACCOUNTING. Vol. 01, No.02, Juni 2020, pp 379-388
Kasmir menjelaskan dalam bukunya pengantar manajemen keuangan (2009) bahwa rasio solvabilitas atauleverage ratio, merupakan ratio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan utang. Artinya, berapa besar beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya. Dalam arti luas dikatakan bahwa rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar seuluruh kewajibannya baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dibubarkan (dilikuidasi). Pada rasio solvabilitas terbagi atas beberapa jenis-jenis rasio solvabilitas salah satunya ialah Debt to Equity Ratio.
Debt to Equity Ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur besarnya proporsi utang terhadap modal. Untuk mencari rasio ini ialah dihitung sebagai hasil bagi antara total utang terhadap modal (Hery, 2015). Rasio ini berguna untuk mengetahui besarnya perbandingan antara jumlah dana yang disediakan oleh kreditor dengan jumlah dana yang berasal dari pemilik perusahaan.
Berikut rumus yang digunakan untuk menghitung rasio utang terhadap modal:
TOTAL UTANG
TOTAL EKUITAS PEMEGANG SAHAM DER =
Dividend payour ratio yaitu besarnya persentase laba bersih setelah pajak yang dibagikan sebagai dividen kepada pemegang saham (Sudana, 2009). Dividend payout ratio berarti perbandingan antara dividend per share dengan earning per share. Jumlah saham yang beredar juga dapat dibandingkan dengan seberapa besar jumlah dividen yang akan dibagikan dengan menggunakan rasio dividend per share. Dengan begitu rasio ini digunakan sebagai salah satu proksi (pendekatan) dalam menetapkan kebijakan dividen yaitu saat mengambil keputusan.
Kebijakan dividen tergambar pada dividend payout ratio, yaitu persentase laba yang dibagikan dalam bentuk dividen tunai, artinya besar kecilnya dividend payout ratio akan mempengaruhi keputusan investasi para pemegang saham dan di sisi lain dapat berpengaruh terhadap kondisi keuangan perusahaan (Dewi & Sedana, 2018). Semakin besar tingkat laba yang dibagikan dalam bentuk dividen akan membuat calon investor semakin menarik dan itu dapat menunjukkan
kondisi perusahaan yang sehat dan memiliki prospek yang bagus untuk kedepannya.
Untuk menentukan dividend payout ratio (DPR) dapat digunakan rumus:
Dividend Per Share Earning Per Share DPR =
Ratio pembayaran dividen (dividend payout ratio) menentukan jumlah laba yang dapat ditahan sebagai sumber pendanaan.
Semakin besar laba ditahan semakin sedikit jumlah laba yang dialokasikan untuk pembayaran dividen. Dividend Payout Ratio menunjukkan perbandingan antara dividen yang dibayarkan dengan laba bersih yang didapatkan, semakin tinggi dividend payout ratioakan menguntungkan pihak investor tetapi pada pihak perusahaan akan memperlemah internal financial karena memperkecil laba ditahan. Tetapi sebaliknya dividend payout ratio semakin kecil akan merugikan pemegang saham (investor) internal financial perusahaan semakin kuat.
Rasio profitabilitas merupakan ratio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mencetak laba (Hantono, 2018). Rasio ini memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Intinya bahwa penggunaan rasio ini menunjukkan efisiensi perusahaan (Kasmir, 2008).
Yang termasuk dalam rasio profitabilitas sebagaimana yang dijelaskan Hantono (2018) adalah:
1. Gross Profit Margin, menunjukkan berapa persen keuntungan dari penjualan produk
2. Net Profit Margin, menunjukkan tingkat keuntungan bersih (setelah dikurangi dengan biaya-biaya) yang diperoleh dari bisnis atau menunjukkan sejauh mana perusahaan mengelola bisnisnya.
3. Return On Investment, menunjukkan tingkat pengembalian bisnis dari seluruh investasi yang telah dilakukan
Laba Bersih Setelah Pajak Total Aktiva
ROI =
4. Return On Equity, menunjukkan tingkat
pengembalian yang diperoleh pemilik bisnis dari modal yang telah dikeluarkan untuk bisnis tersebut.
5. Earning Per Share, menunjukkan keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang saham.
Laba Saham Biasa Saham Biasa yang Beredar Earning Per Share =
Ukuran perusahaan menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan yang dapat dinyatakan dengan total asset ataupun total penjualan bersih. Semakin besar total aset maupun penjualan maka semakin besar pula ukuran suatu perusahaan. semakin besar aset maka semakin besar modal yang ditanam, sementara semakin banyak penjualan maka semakin banyak juga perputaran uang dalam perusahaan (Hery, 2017).
Berdasarkan Permendag Nomor 46 Tahun 2009 maka terdapat 4 (empat) kategori SIUP, yaitu: Kecil, Menengah, Besar, dan Mikro berikut:
Tabel 1.Kategori Perusahaan
Kategori Nilai Aset (Tanpa Nilai Aset dan Bangunan) Perusahaan Mikro < Rp50.000.000
Perusahaan Kecil Rp50.000.000 - Rp500.000.000 Perusahaan Menengah Rp500.000.000 - Rp10.000.000.000 Perusahaan Besar > Rp10.000.000.000
Ukuran Perusahaan Menurut Peraturan Menteri Perdagangan
Sumber: SIUP Permendag
Banyak faktor yang telah diuji mempunyai pengaruh terhadap tindakan perataan laba. Namun dalam penelitian ini hanya menggunakan 4 faktor yang diduga mempengaruhi tindakan perataan laba, meliputi: Debt to Equity Ratio, Dividend Payout Ratio, Profitabilitas dan SizePerusahaan walaupun terdapat di penelitian terdahulu bahwa variabel tersebut tidak berpengaruh terhadap tindakan perataan laba.
Debt to equity ratio salah satu rasio keuangan yang tergolong kelompok rasio solvabilitas. Debt to equity ratio menggunakan utang dan modal untuk mengukur besarnya rasio. Debt to equity ratio dipergunakan untuk mengukur tingkat penggunaan utang terhadap
total shareholder’s equity yang dimiliki perusahaan. Debt to equity ratio menunjukan persentase penyediaan dana oleh pemegang saham terhadap pemberi pinjaman. Jika rasionya meningkat, ini artinya perusahaan dibiayai oleh kreditor (pemberi hutang) dan bukan dari sumber keuangannya sendiri yang mungkin merupakan trend yang cukup berbahaya. Pemberi pinjaman dan Investor biasanya memilih debt to equity ratio yang rendah karena kepentingan mereka lebih terlindungi jika terjadi penurunan bisnis pada perusahaan yang bersangkutan. Dengan demikian, perusahaan yang memiliki debt to equity ratio atau rasio utang terhadap ekuitas yang tinggi mungkin tidak dapat menarik tambahan modal dengan pinjaman dari pihak lain. Semakin tinggi DER menunjukkan komposisi total hutang (jangka pendek dan jangka panjang) semakin besar dibanding dengan total modal sendiri, sehingga berdampak semakin besar beban perusahaan terhadap pihak luar (kreditur). Meningkatnya beban terhadap kreditur menunjukkan sumber modal perusahaan sangat tergantung dengan pihak luar. Selain itu besarnya beban hutang yang ditanggung perusahaan dapat mengurangi jumlah laba yang diterima perusahaan. Maka dalam hal ini debt to equity ratio dapat mempengaruhi tindakan perataan laba (income smoothing) karena umumnya pengambilan keputusan yang dilakukan kreditur selalu berdasarkan pada prospek perusahaan dalam tingkat menghasilkan laba. Seorang kreditur akan memberikan kredit kepada perusahaan yang cenderung memiliki laba yang stabil karena laba yang stabil akan memberikan keyakinan kepada kreditur bahwa perusahaan akan membayar utangnya sampai selesai.
Dividend payout ratio merupakan presentase dari pendapatan yang akan dibayarkan kepada para pemegang saham sebagai cash dividend. Rasio pembayaran dividen (dividend payot ratio) menentukan jumlah laba yang dibagi dalam bentuk dividen kas dan laba yang ditahan sebagai sumber pendanaan. Rasio ini menunjukkan persentase laba perusahaan yang dibayarkan kepada pemegang saham yang berupa dividen kas.
Apabila laba perusahaan yang ditahan untuk keperluan operasional perusahaan dalam jumlah besar, berarti laba yang akan dibayarkan sebagai dividen menjadi lebih kecil. Sebaliknya jika perusahaan lebih memilih untuk membagikan laba sebagai
383 ACCOUNTING. Vol. 01, No.02, Juni 2020, pp 379-388
dividen, maka hal tersebut akan mengurangi porsi laba ditahan dan mengurangi sumber pendanaan intern.
Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dikemukakan di atas, maka kerangka konseptual penelitian dapat digambarkan dalam bentuk diagram seperti yang disajikan dalam gambar di bawah ini.
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Teoritis
Berdasarkan kerangka berpikir yang telah diuraikan sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian adalah ada pengaruh yang signifikan antara debt to equity ratio, dividend payout ratio, profitabilitas, size perusahaan secara simultan dan parsial terhadap perataan laba pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kuantitatif.
Pendekatan kuantitatif menekankan pada pengujian teori-teori dan atau hipotesis melalui pengukuran variabel-variabel penelitian dalam angka (quantitative) dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik dan atau pemodelan matematis. Dalam pendekatan kuantitatif ini penelitian akan bersifat pre- determinded, analisis data statistik serta interpretasi data statistik. Peneliti yang menggunakan pendekatan kuantitatif akan menguji suatu teori dengan cara merinci suatu hipotesis-hipotesis yang spesifik, lalu mengumpulkan data untuk mendukung atau membantah hipotesis-hipotesis tersebut.
Pendekatan yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan analisis kuantitatif berdasarkan informasi statistika.
Pendekatan penelitian yang dalam menjawab permasalahan penelitian memerlukan pengukuran yang cermat terhadap variabel- variabel dari objek yang diteliti untuk menghasilkan kesimpulan yang dapat digeneralisasikan terlepas dari konteks waktu, tempat dan situasi. Metode ini digunakan
untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/ statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
Berdasarkan pemaparan tersebut akan menguji hipotesisdengan menggunakan uji data statistik menggunakan SPSS (Statistikal Package for the Social Sciens)yang akurat.
Perusahaan yang dijadikan sebagai obyek penelitian adalah perusahaan publik yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesiadan tempat pengambilan data pada kantor perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) atau melalui website resmi BEI di www.idx.co.id, yang berlokasi di Jalan DR. Ratulangi No.124 Kelurahan Mario, Kecamatan Mariso,Kota Makassar.Sedangkan waktu dalam penelitian ini kurang lebih dua bulan.
Dalam penelitian diperlukan data yang akan digunakan sebagai dasar untuk melakukan pembahasan dan analisis. Data adalah kumpulan informasi yang berasal dari pengamatan, dapat berupa angka, lambang atau sifat. Data yang baik adalah data yang bias dipercaya kebenarannya (reliable), tepat waktu dan mencakup ruang lingkup yang luas atau bisa memberikan gambaran tentang suatu masalah secara menyeluruh (relevan).
Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1) Data yang digunakan adalah data-data yang bersifat kuantitatif, data ini menunjukkan nilai terhadap variabel yang diwakilinya. 2) Data bersifat time series, data merupakan hasil pengamatan suatu periode tertentu. 3) Data bersifat sekunder karena data yang mengalami pengolahan kembali. 4) Sumber data sekunder yang dipergunakan berasal dari annual report yang di publish oleh Indonesian Stock Exchange (IDX).
Metode pengumpulan yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka dan metode dokumentasi.
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi bukan hanya orang, tetapi juga objek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek atau subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh subjek atau objek itu. Populasi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah 648 perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sampel merupakan sebagian dari populasi yang diambil melalui cara-cara tertentu yang juga memiliki karakteristik tertentu. Pemilihan sampel sebagai acuan yang akan diteliti dalam penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling, yaitu metode pengambilan data disesuaikan dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan. Kriteria yang digunakan dapat berdasarkan pertimbangan tertentu. Teknik ini digunakan untuk memilih anggota sampel secara khususberdasarkan tujuan penelitian dan kesesuaian kriteria-kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti.
Variabel dependen (terikat) adalah variable yang keberadaannya dipengaruhi atau menjadi akibat, karena adanya variabel independen (bebas). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah status suatu perusahaan apakah merupakan perata laba atau bukan perata laba. Untuk membedakan perusahaan perata laba dengan bukan perata laba dengan menggunakan indeks Eckel.
Definisi operasional untuk penelitian ini yaitu: 1) Perataan laba ialah proses perubahan data pada laporan keuangan guna untuk hal-hal yang bersifat menguntungkan pribadi atau pihak perusahaan. 2) Debt to equity ratio ialah kemampuan perusahaan dalam mengukur sejauh mana dibiayai oleh utangnya. Artinya melihat ratio aktiva tetap terhadap utang. 3) Dividend payout ratio persentase pendapatan yang akan dibayarkan kepada pemegang saham yang akan dibayarkan sebagai dividen kas. 4) Profitabilitas berarti kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. 5) Ukuran (size) perusahaan menentukan tingkat kemudahan suatu perusahaan dalam memperoleh dana dari pasar modal dan menentukan kekuatan tawar-menawar (bargaining power) dalam kontak keuangan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI, sedangkan sampel penelitiannya adalah perusahaan-perusahaan yang memenuhi kriteria sampel, dimana perusahaan tersebut harus terdaftar minimal 31 Desember 2013. Hal ini didasarkan pada alasan bahwa topik yang diketengahkan adalah
income smoothing yang mengamati apakah perusahaan merupakan perata laba atau bukan perata laba memerlukan data periodik yang sifatnya berurutan (time series), sehingga apabila perusahaan tidak memenuhi kriteria sampel maka akan dikeluarkan dari sampel.
Demikian juga kriterianya ialah perusahaan yang bergerak di bidang keuangan maka akan dikeluarkan dari sampel sehingga perusahaan non keuangan yang akan dimasukkan ke dalam sampel. Adapun juga perusahaan yang terdaftar sebelum tahun 2010 dan setelah 31 desember 2013 maka akan dikeluarkan dari sampel dengan maksud ingin mengetahui perusahaan-perusahaan yang tergolong baru dikategorikan perata laba atau bukan. Data sampel dan tabulasi data yang digunakan dalam penelitian ini ada pada lampiran, sedangkan deskripsi dari masing-masing variabel akan disajikan berikut ini. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan terlebih dahulu dengan melihat pendekatan untuk mengetahui apakah suatu perusahaan melakukan perataan laba atau tidak.
Perhitungan dengan menggunakan rumus Eckel akan dilakukan untuk melihat jumlah perusahaan yang mengindikasikan telah melakukan perataan laba.
Dengan jumlah sampel awal 648 perusahaan, setelah dilakukan seleksi pemilihan sampel sesuai dengan kriteria yang ditentukan diperoleh 28 perusahaan yang memenuhi kriteria sampel. Hasil seleksi sampel ditunjukkan oleh berikutini:
Tabel 2. Hasil Seleksi Sampel Keterangan Jumlah Jumlah Sampel Awal 648 Tidak Memenuhi Kriteria 1:
Perusahaan yang bergerak di
bidang non keuangan 558 Tidak Memenuhi Kriteria 2:
Perusahaan yang masih tergolong
papan pengembangan 331 Tidak Memenuhi Kriteria 3:
Perusahaan yang terdaftar tahun 2010 dan sebelum 31 Desember 2013
40
Jumlah Sampel Akhir 40 Sumber: data diolah (2019)
Dari tabel hasil seleksi sampel di atas, diketahui bahwa jumlah sampel awal sebesar 648 perusahaan. Setelah melewati beberapa kriteria pemilihan sampel, terdapat 90
385 ACCOUNTING. Vol. 01, No.02, Juni 2020, pp 379-388
perusahaan yang tidak memenuhi kriteria pertama, 227 perusahaan tidak memenuhi kriteria kedua, dan 285 perusahaan yang tidak memenuhi kriteria ketiga, sehingga terdapat sampel akhir sebesar 40 perusahaan.
Dari 40 perusahaan yang terpilih, selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan subsektor perusahaan yang ada di Bursa Efek Indonesia. Hasil klasifikasi sampel berdasarkan subsektor-subsektor perusahaan dapat di lihat pada tabel berikut:
Tabel 3. Klasifikasi sampel berdasarkan subsektor-subsektor perusahaan Sub Sektor Perusahaan Jumlah % Trade, Service, And
Invesment 10 25,0
Property, Real Estate
and Building 1 2,5
Miscellaneous Industry 3 7,5
Mining 7 17,5
Infrastructure, Utilities
and Transportation 10 25,0 Consumer Goods
Industry 2 5,0
Agriculture 3 7,5
Basic Industry and
Chemicals 4 10,0
Jumlah 40 100
Sumber: data diolah (2019)
Dari hasil klasifikasi sampel berdasarkan subsektor perusahaan, dapat diketahui bahwa sektor Infrastructure, Utilities and Transportationmendominasi dengan jumlah sampel sebesar 10 perusahaan (25%) bersamaan dengansektor Trade, Service, And Invesment dengan 10 perusahaan (25%). Lalu diikuti oleh Mining dengan 7 perusahaan (17,5%). Adapun yang selainnya di angka 10 persen ke bawah.
Selain diklasifikasikan berdasarkan subsektor–subsektor perusahaan, sampel penelitian juga diklasifikasikan berdasarkan status perusahaan perata laba dan yang tidak melakukan perataan laba pada berbagai sub sektor perusahaan dapat dilihat pada tabel 4.3.
berikut ini:
Tabel 4. Status Perusahaan Sampel Pada Berbagai Sektor Perusahaan
Indeks Perataan Laba
CV∆I/CV∆S
1 APII Arita Prima Indonesia Tbk. 3,74 Bukan Perataan Laba -
2 BLTZ Graha Layar Prima Tbk. 1,13 Bukan Perataan Laba -
3 BUVA Bukit Uluwatu Villa Tbk. -0,91 - Perataan Laba
4 ECII Electronic City Indonesia Tbk. 1,50 Bukan Perataan Laba -
5 GLOB Global Teleshop Tbk. 2,42 Bukan Perataan Laba -
6 MFMI Multifiling Mitra Indonesia Tb 0,83 - Perataan Laba
7 MIDI Midi Utama Indonesia Tbk. -1,29 - Perataan Laba
8 SAME Sarana Meditama Metropolitan T 0,83 - Perataan Laba
9 SKYB Northcliff Citranusa Indonesia -6,57 - Perataan Laba
10 SRTG Saratoga Investama Sedaya Tbk. 1,00 Bukan Perataan Laba -
No Kode/Nama Perusahaan Nama
1 EMDE Megapolitan Developments Tbk. 1,61 Bukan Perataan Laba -
No Kode/Nama Perusahaan Nama
1 AMIN Ateliers Mecaniques D Indonesi 0,66 - Perataan Laba
2 KRAH Grand Kartech Tbk. -0,17 - Perataan Laba
3 TRIS Trisula International Tbk. 0,45 - Perataan Laba
No Kode/Nama Perusahaan Nama
1 ARII Atlas Resources Tbk. -0,17 - Perataan Laba
2 BIPI Astrindo Nusantara Infrastrukt -54,20 - Perataan Laba
3 BORN Borneo Lumbung Energi & Metal -0,21 - Perataan Laba
4 BRMS Bumi Resources Minerals Tbk. -26,34 - Perataan Laba
5 BSSR Baramulti Suksessarana Tbk. 0,84 - Perataan Laba
6 MBAP Mitrabara Adiperdana Tbk. 0,66 - Perataan Laba
7 SMRU SMR Utama Tbk. -7,34 - Perataan Laba
No Kode/Nama Perusahaan Nama
1 BALI Bali Towerindo Sentra Tbk. -11,49 - Perataan Laba
2 CASS Cardig Aero Services Tbk. -0,15 - Perataan Laba
3 GOLD Visi Telekomunikasi Infrastruk 0,47 - Perataan Laba
4 LAPD Leyand International Tbk. -6,02 - Perataan Laba
5 LRNA Eka Sari Lorena Transport Tbk. 1,33 Bukan Perataan Laba -
6 NELY Pelayaran Nelly Dwi Putri Tbk. -2,27 - Perataan Laba
7 SDMU Sidomulyo Selaras Tbk. 0,57 - Perataan Laba
8 SUPR Solusi Tunas Pratama Tbk. 1,27 - Perataan Laba
9 TOWR Sarana Menara Nusantara Tbk. 0,52 - Perataan Laba
10 TPMA Trans Power Marine Tbk. 3,20 Bukan Perataan Laba -
No Kode/Nama Perusahaan Nama
1 CINT Chitose Internasional Tbk. 0,24 - Perataan Laba
2 MGNA Magna Investama Mandiri Tbk. -2,01 - Perataan Laba
No Kode/Nama Perusahaan Nama
1 GOLL Golden Plantation Tbk. 0,29 - Perataan Laba
2 MAGP Multi Agro Gemilang Plantation -12,87 - Perataan Laba
3 PALM Provident Agro Tbk. 3,42 Bukan Perataan Laba -
No Kode/Nama Perusahaan Nama
1 ALDO Alkindo Naratama Tbk. 0,34 - Perataan Laba
2 BAJA Saranacentral Bajatama Tbk. 0,70 - Perataan Laba
3 IMPC Impack Pratama Industri Tbk. 0,77 - Perataan Laba
4 TALF Tunas Alfin Tbk. 0,06 Perataan Laba
NON INCOME SMOOTHING Trade, Service, And Invesment
Property, Real Estate and Building
Miscellaneous Industry
Mining
Infrastructure, Utilities and Transportation INCOME SMOOTHING
Consumer Goods Industry
Agriculture
Basic Industry and Chemicals No Kode/Nama Perusahaan Nama
BEBERAPA PERUSAHAAN YANG TERDAFTAR DI INDONESIA STOCK EXCHANGE (IDX)
Sumber: Data diolah (2019)
Hasil klasifikasi sampel perusahaan berdasarkan indeks Eckel diperoleh data bahwa dari 40 sampel perusahaan, terdapat 31 (77,5%) perusahaan yang berstatus sebagai Income smoothing, sedangkan 9 (22,5%) berstatus sebagai non income smoothing.
Hasil klasifikasi ini menunjukkan bahwa tindakan perataan laba (income smoothing) ternyata dilakukan oleh perusahaan- perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Berdasarkan hasil penelitian di atas menemukan bukti empiris bahwa terdapat kecenderungan perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta melakukan tindakan perataan laba (income smoothing).
Hal ini terbukti dari hasil penelitian ini, dimana dari 40 perusahaan yang diteliti, terdapat 31 perusahaan yang melakukan perataan laba (incomesmoothing).
Terdapat faktor-faktor yang diprediksi akan memicu perusahaan melakukan perataan laba, dimana dalam penelitian ini, diteliti 4 variabel atau faktor yang di harapkan berpengaruh terhadap tindakan perataan laba, yaitu debt to equity ratio, dividend payout
ratio, profitabilitas, dan size perusahaan. Dari analisis terhadap keempat variabel didapatkan bahwa variabel debt to equity ratio dan size mempengaruhi tindakan perataan laba dan variabel dividend payout ratio serta profitabilitas tidak berpengaruh terhadap tindakan perataan laba.
Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa variabel debt to equity ratio berpengaruh terhadap tindakan perataan laba yang berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Mei Istianah (2006) yang tidak menemukan bukti bahwa debt to equity ratio mempengaruhi perataan laba. Berpengaruhnya debt to eqity ratio terhadap tindakan peratan laba, diduga disebabkan oleh pertimbangan manajemen bahwa utang atau pinjaman termasuk dari sumber pendanaan untuk kegiatan operasional perusahaan. Perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan mungkin dapat memenuhi kebutuhan dana dari sumber lain, seperti penggunaan laba ditahan dan penerbitan saham untuk menambah ekuitas namun untuk memaksimalkan laba dan ekspansi usaha dibutuhkan modal yang umumnya perusahaan mengajukan kredit pinjaman. Dengan demikian kreditur akan memperhatikan DER sebuah perusahaan dalam menanamkan modalnya (investasi).
Hasil penelitian yang menunjukkan tidak ditemukannya pengaruh dividend payout ratio terhadap tindakan perataan laba mendukung penelitian yang telah dilakukan oleh Mei Istianah (2006). Dalam menanamkan modalnya dalam bentuk saham seorang pemegang saham (investor) berhak mendapatkan keuntungan sebagai kompensasi dari dana yang diinvestasikan. Keuntungan yang diterima oleh investor adalah berupa dividen, sedangkan keuntungan lain yang diharapkan di luar perusahaan adalah laba ditahan. Dividen adalah bagian keuntungan yang diterima oleh pemegang saham dari suatu perusahaan (Musthafa, 2017:141). DPR tidak mempengaruhi tindakan perataan laba Karen asifat pemodal diIndonesia adalah lebih cenderung ke capital gain karena keuntungan tersebut tidak tergantung pada performance perusahaan atau emiten. Karena biasanya dividen tidak dibagikan dengan alas an ekpansi usaha atau perusahaan mengalami kerugian.
Variabel profitabilitas tidak berpengaruh terhadap perataan laba, hasil ini
mendukung hasil penelitian terdahulu, misalnya Pipit Indriani (2017) dan Mei Istianah (2006. Profitabilitas tidak berpengaruh diduga karena bentuk pasar modal Indonesia adalah belum efisien dalam bentuk setengah kuat. Dikarenakan perusahaan dengan status pengembang masih sering mengalami kerugian. Adapun keuntungan maupun kerugian yang terjadi tidaklah stabil. Adapun para pelaku usaha di pasar modal masih kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk dapat bermain di pasar bursa sehingga kurang memperhatikan profitabilitas dari suatu perusahaan dan kurang mengetahui asal profitabilitas yang tercantum di laporan keuangan.
Hal ini menunjukkan bahwa besar kecilnya ukuran perusahaan bukan merupakan faktor yang mempengaruhi manajemen dalam melakukan perataan laba, dan bahwa besar kecilnya aset yang dimiliki oleh perusahaan bukan merupakan satu-satunya pertimbagan bagi para investor dalam pengambilan keputusan investasi. Hal ini terjadi karena pasar modal Indonesia masih termasuk emerging capital market yaitu pasar modal yang baru berkembang dari negara-negara berkembang. Adapun di Indonesia pun masih berada pada kondisi konsumtif dan masyarakat Instan sehingga para investor domestik tidak terlalu memperhatikan ukuran perusahaan. Di negara berkembang, seperti Indonesia pemerintah cenderung mendorong perkembangan perusahaan untuk memasuki pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Pemerintah memang berkepentingan terhadap perusahaan karena pajak, tetapi lebih berfungsi sebagai pendorong kegiatan ekonomidengan ketentuan perpajakan yang dapat menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui fasilitas dan fleksibilitas. Oleh karena itu, ukuran suatu perusahaan bagi pemerintah untuk membebankan pajak dilihat dari sejauh mana besarnya penjualan yang dilakukan oleh para pelaku usaha.
PENUTUP
Penelitian ini dilakukan untuk menyajikan bukti empiris mengenai adanya tindakan perataan laba pada perusahaan yang
387 ACCOUNTING. Vol. 01, No.02, Juni 2020, pp 379-388
terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan melihat faktor-faktor yang diduga dapat berpengaruh terhadap tindakan perataan laba.
Adapun faktor-faktor yang diuji dalam penelitian ini adalah debt to equity ratio, dividend payout ratio, profitabilitas dan size perusahaan. Sedangkan laporan keuangan yang dijadikan objek penelitian adalah laporan keuangan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-2018.
Formulasi yang digunakan untuk menentukan apakah perusahaan melakukan perataan laba atau tidak adalah Indeks Eckel. Berdasarkan uraian-uraian sebelumnya terdapat beberapa hal yang dapat disimpulkan pada penelitian ini, yaitu: 1) Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan indeks Eckel, dimana dari 40 perusahaan yang diteliti terdapat 31 (77,5%) perusahaan yang berstatus peratalaba dan 9 (22,5%) perusahaan yang bukan perata laba. 2) Hasil perhitungan statistik untuk variabel DER menunjukkan bahwa nilai Wald test variabel ini sebesar 5,996 lebih besar dibandingkan dengan chi square tabel df 1 sebesar 3,841. Sementara nilai asymptotic significance (Sig) sebesar 0,014 lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti Ha1 yang menyatakan DER berpengaruh terhadap tindakan perataan laba, diterima. 3) Hasil perhitungan statistik untuk variabel DPR menunjukkan bahwa nilai dividend payout ratio mempunyai nilai Wald test sebesar 1,211 lebih kecil dibandingkan Chi Square tabel pada df 1 sebesar 3,841. Dan nilai asymptotic significance (Sig) sebesar 0,271 lebih besar dari 0,05. Hal ini berarti Ha2 yang menyatakan dividend payout ratio mempengaruhi tindakan perataan laba, ditolak. 4) Hasil perhitungan statistik untuk variabel profitabilitas menunjukkan bahwa nilai Wald test sebesar 0,449 lebih kecil dibandingkan Chi Square tabel pada df 1 sebesar 3,841. Sementara nilai asymptotic significance (Sig) untuk profitabilitas sebesar 0,480 lebih besar dari 0,05. Hal ini berarti Ha3 yang menyatakan profitabilitas mempengaruhi tindakan perataan laba, ditolak. 5) variabel size perusahaan nilai Wald test sebesar 12,924 lebih besar dibandingkan Chi Square tabel pada df 1 sebesar 3,841. Dan nilai asymptotic significance (Sig) sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti Ha4 yang menyatakan size perusahaan berpengaruh terhadap tindakan perataan laba, diterima. 6) Dengan adanya bukti empiris
bahwa Income smoothing telah dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, dengan keempat variabel yang diteliti menunjukkan hasil 2 variabel berpengaruh dan 2 variabel tidak berpengaruh.
Oleh karena keterbatasan yang ada pada penelitian ini, maka diperlukan berbagai penyempurnaan untuk studi di masa yang akan datang. Saran yang dapat diberikan untuk studi berikutnya antaralain: 1) Jika memungkinkan, untuk penelitian mendatang tentang Income smoothing dapat menambah sampel dan menambah periode pengamatan, karena dengan menambah periode pengamatan dan jumlah perusahaan sampel memungkinkan akan meningkatkan hasil penelitian dan menggambarkan keadaan secara menyeluruh perusahaan yang go public di Indonesia. 2) Untuk pengembangan penelitian lebih lanjut perlu dimasukkan variabel variabilitas rasio- rasio perusahaan yang lainnya, karena variabel dari rasio tersebut berkaitan langsung dengan tindakan perataan laba yang dilakukan perusahaan serta variabel selain rasio keuangan perusahaan. 3) Peneliti selanjutnya mencoba menggunakan sampel lebih dari 50 perusahaan dan yang termasuk status perusahaan papan utama
DAFTAR PUSTAKA
Burhanuddin. (2018). Pengaruh Profitabilitas, Debt To Equity Ratio, Kepemilikan Institutional Dan Firm Size Terhadap Perataan Laba. Bandar Lampung: Universitas Lampung.
Daljono. (2014). Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Pengungkapan Laporan Perusahaan Berbasis Website. Jurnal Akuntansi Universitas Diponegoro. Vol.
3. No.3. 2014, Hal. 1-12
Dewi, I.A.P.P. & Sedana, I.B.P. (2018) Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen Pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia.
Jurnal Manajemen Universitas Udayana.
Vol.7. No.7. 2018. Hal. 3623-3652 Diana, A. & Setiawati, L. (2018). Akuntansi
Keuangan Menengah. Yogyakarta: Andi.
Hantono. (2018). Konsep Analisa Laporan Keuangan dengan Pendekatan Rasio dan SPSS. Yogyakarta: Deepublish
Hery, (2015). Analisis Kinerja Manajemen.
Jakarta: Grasindo
Indriani, P. (2017). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Praktik Perataan Laba (Income Smoothing) Pada Perusahaan Manufaktur Sub Sektor Food And Beverage Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Palembang: Universitas Muhammadiyah Palembang
Istianah, M. (2006). Pengaruh Faktor Debt To Equity Ratio, Dividend Payout Ratio, Profitabilitas, Dan Size Perusahaan Terhadap Tindakan Perataan Laba (Income Smoothing) Pada Perusahaan- Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta Tahun 2000-2004 Semarang:
Universitas Negeri Semarang
Kasmir. (2009). Pengantar Manajemen Keuangan. Jakarta: Kencana
Musthafa. (2017). Manajemen Keuangan.
Yogyakarta: Andi
Pearce & Robinson. (2008). Manajemen Strategis. Krista, editor. Jakarta: Salemba Empat.
Sulistyanto, S. (2008). Manajemen Laba Teori Dan Model Empiris. Jakarta:
Grasindo
Sudana, I M. (2009). Manajemen Keuangan.
Surabaya: Universitas Airlangga
Supriyono, R.A. (2018). Akuntansi Keperilakuan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Syarifuddin, (2019). Analisis Rasio Laporan Arus Kas Untuk Mengukur Kinerja Keuangan Pada PT. Karya Mandiri Surya Sejahtera Makassar. Jurnal Akmen
.https://e-jurnal.stienobel-
indonesia.ac.id/index.php/akmen/article/vie w/668