FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA PERNIKAHAN DINI PADA MASYARAKAT
FACTORS CAUSED EARLY MARRIAGE IN COMMUNITY
Oleh:
Ulfa Restika1), Aspin2)
1)2)Universitas Halu Oleo Email: [email protected]
Kata Kunci:
Pernikahan Dini
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya pernikahan dini pada masyarakat. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan dalam penelitian ini berjumlah delapan orang yang terdiri dari Kepala Kantor Urusan Agama (KUA), kepala adat, tiga orang anak yang menikah di usia dini, dan tiga orangtua yang anaknya menikah di usia dini. Data penelitian dikumpulkan menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Metode analisis data menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif model Miles dan Huberman yaitu: 1) data collection (pengumpulan data), 2) data reduction (reduksi data). 3) data display (penyajian data), 4) data conclusion drawing/
verification (penarikan kesimpulan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya pernikahan dini pada masyarakat di Desa Nggulanggula Kecamatan Siompu terdiri dari 3 faktor yaitu 1) faktor ekonomi, 2) faktor adat istiadat, dan 3) faktor hamil di luar nikah.
Keywords:
Early Marriage
ABSTRACT
This study aims to determine the factors that cause early marriage. It is qualitative research with a case study approach. There were eight informants in this study, consisting of the Head of the Office of Religious Affairs (KUA), a traditional leader, three children who married at an early age, and three parents whose children married at an early age. Research data were collected using observation, interviews, and documentation. The data analysis method uses the descriptive qualitative analysis method of the Miles and Huberman model, namely: 1) data collection, 2) data reduction, 3) data display, and 4) conclusion drawing/ verification data. The results showed that the factors causing early marriage in the community in Nggulanggula Village, District of Siompu, consisted of 3 factors, namely 1) economic factors, 2) customs factors, and 3) pregnancy factors outside of marriage.
Pendahuluan
Setiap makhluk diciptakan berpasang-pasangan untuk saling menyayangi dan mengasihi. Ungkapan ini menunjukkan bahwa hal ini dapat terjadi dan salah satunya melalui hubungan pernikahan, dalam rangka membentuk keluarga yang sakinah. Keluarga pada dasarnya merupakan upaya untuk memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan hidup. Keluarga dibentuk untuk memadukan rasa kasih dan sayang di antara dua makhluk yang berlainan jenis, yaitu laki-laki dan perempuan untuk hidup lebih bahagia dan sejahtera.
Untuk membentuk suatu keluarga harus dipersiapkan dengan matang, di antaranya pasangan yang akan membentuk keluarga harus sudah dewasa, baik secara biologis maupun pedagogis atau bertanggung jawab. Bagi pria, harus sudah siap untuk memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga, sehingga berkewajiban memberikan nafkah kepada anggota keluarga. Bagi seorang wanita, ia harus sudah siap menjadi ibu rumah tangga yang bertugas mengendalikan rumah tangga, melahirkan, mendidik, dan mengasuh anak-anak. Maka dalam membangun sebuah keluarga harus melalui proses pernikahan.
Pernikahan adalah suatu yang sakral yang mempersatukan antara laki-laki dan perempuan dalam suatu ikatan yang sah baik secara lahir maupun secara batin. Menurut Soemiati (Jumiati, 2008) pernikahan adalah melakukan suatu akad atau perjanjian untuk mengikat diri antara laki-laki dan perempuan dan menghalalkan hubungan kelamin antara dua belah pihak (suami istri) untuk mewujudkan suatu kebahagiaan hidup keluarga yang meliputi rasa kasih sayang dan ketentraman dengan cara-cara yang diridhai oleh Allah SWT.
Pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh salah satu atau kedua pasangan yang memiliki usia di bawah umur yang biasanya di bawah 19 tahun bagi laki-laki maupun perempuan atau belum cukup umur. Jika kedua individu melangsungkan pernikahan dalam rentang usia tersebut, maka dapat dikatakan sebagai pernikahan usia dini. Dalam Undang-undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, pada Bab II Pasal 7 ayat (1) disebutkan bahwa batas minimal umur pernikahan bagi wanita disamakan dengan batas minimal umur pernikahan bagi pria, yaitu 19 (Sembilan belas) tahun
Pada usia tersebut, seseorang yang melakukan pernikahan sudah memasuki usia dewasa, sehingga sudah mampu memikul tanggung jawab dan perannya masing-masing, baik sebagai suami maupun istri. Namun, dalam realitasnya banyak terjadi pernikahan dini, yaitu pernikahan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan yang belum dewasa (belum cukup umur) dan matang berdasarkan Undang-undang maupun dalam perspektif psikologis.
Pernikahan dini di Indonesia merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian serius oleh pihak terkait dalam hal ini pemerintah. Pernikahan dini jika dilihat dari segi kesehatan fisik dapat menimbulkan resiko keguguran lebih besar, tekanan darah tinggi, anemia, bayi lahir prematur dan berat badan lahir rendah, dan ibu meninggal saat melahirkan. Jika ditinjau dari segi psikologis dapat menimbulkan konflik rumah tangga, terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), depresi, trauma, dan gangguan kecemasan. Jika ditinjau dari segi sosial, pernikahan dini dapat mengurangi kebebasan pengembangan diri, anak akan merasa kehilangan sebagai aset remaja yang seharusnya ikut bersama-sama mengabdi dan berkiprah di masyarakat. Tetapi karena alasan sudah berkeluarga, maka keaktifan mereka di masyarakat menjadi berkurang.
Di samping itu, dari segi pendidikan, pernikahan dini dapat menghambat peluang baik laki-laki maupun perempuan untuk mmperoleh pendidikan lanjutan karena kesibukan dalam mengurus rumah tangga. Sedangkan dari faktor ekonomi, pernikahan dini dapat menimbulkan beban ekonomi bagi keluarga, karena mereka umurnya masih tergantung pada orangtua, kadang-kadang sampai waktu yang lama sehingga tidak mengherankan apabila kemudian rumah tangga yang dibentuk mengalami guncangan, suami istri sering bertengkar dan bahkan memungkinkan untuk terjadinya suatu perceraian.
Dengan melihat besarnya dampak negatif yang dapat ditimbulkan dari pernikahan dini, maka perlu ditetapkan usia tertentu baik laki-laki maupun perempuan yang akan melangsungkan suatu pernikahan. Sebagaimana yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 19 Tahun 2019 yang menetapkan batas umur minimal untuk melangsungkan suatu perkawinan yaitu 19 tahun baik laki-laki
maupun perempuan. Oleh Karena itu, baik pihak laki-laki maupun perempuan yang akan melangsungkan suatu pernikahan di bawah batas minimal yang ditetapkan harus mendapatkan izin dari kedua orangtuanya, karena pada usia tersebut seorang anak dianggap belum cukup matang.
Sehingga ditetapkan usia yang baik (ideal) untuk melangsungkan suatu pernikahan adalah 19 tahun baik laki-laki maupun perempuan. Penetapan batas umur tersebut telah matang jiwa raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan agar dapat mewujudkan tujuan pernikahan secara baik tanpa berakhir pada perceraian dan mendapat keturunan yang sehat dan berkualitas.
Di samping itu, pada umur tersebut untuk melangsungkan pernikahan sudah dinggap baik oleh adat maupun agama. Pada batasan umur tersebut juga secara psikologis seorang anak sudah dapat mengendalikan emosinya dengan baik, secara fisik seorang anak sudah memiliki organ reproduksi yang sempurna, dan pada batasan umur tersebut diperkirakan sudah menyelesaikan pendidikan tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) serta secara ekonomi diperkirakan sudah dapat membiayai ekonomi keluarganya. Sedangkan dari segi hukum dan agama, pada batasan umur tersebut anak sudah dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya dan keluarganya.
Sebagaimana dikemukakan di atas, persyaratan usia untuk melangsungkan pernikahan secara ideal adalah umur 19 tahun untuk laki-laki maupun untuk perempuan. Namun kondisi tersebut berbeda dengan kenyataan yang terjadi di masyarakat pada salah satu desa yang terletak di Kecamatan Siompu, Kabupaten Buton Selatan yaitu di Desa Nggulanggula. Di Desa tersebut, masih banyak dijumpai terjadinya pernikahan dini. Pernikahan dini di desa tersebut sangat banyak terjadi dari tahun ke tahun. Data yang dikumpulkan selama lima tahun terakhir yaitu dari tahun 2016-2020, diketahui bahwa masyarakat yang melakukan pernikahan dini masih banyak. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 1
Data Lapangan Pernikahan Dini Desa Nggulanggula Tahun 2016-2020
Tahun Anak yang melakukan pernikahan dini di Desa Nggulanggula Kecamatan Siompu
2016 3 orang
2017 11 orang
2018 9 orang
2019 14 orang
2020 25 orang
Jumlah 62 orang
Sumber data: Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Siompu
Bedasarkan data pada tabel di atas, anak yang menikah di usia dini di Desa Nggulanggula, Kecamatan Siompu pada tahun 2016 ke 2017 mengalami peningkatan namun, meskipun di tahun 2018 sempat menurun namun kemudian di tahun 2019 dan tahun 2020 kembali mengalami peningkatan. Selain itu juga, berdasarkan data observasi dan wawancara pra penelitian yang diperoleh pada waktu pra penelitian, usia anak yang menikah muda di Desa Nggulanggula Kecamatan Siompu berada pad rentang usia 16-18 tahun atau belum tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) maupun Sekolah Menengah Atas (SMA). Jika dilihat dari usianya, anak tersebut termasuk usia sekolah namun bagi mayoritas masyarakat Desa Nggulanggila, Kecamatan Siompu hal tersebut adaah hal yang wajar atau sudah biasa. Kebanyakan anak atau remaja di desa tersebut yang menikah pada usia muda tidak tahu apa tujuan dari pernikahan karena yang mereka pahami tentang pernikahan adalah menyatukan antara laki-laki dan perempuan secara sah menurut agama dan hukum. Hal tersebut karena mereka memiliki keterbatasan ilmu tentang pernikahan.
Selain itu juga, berdasarkan data observasi dan wawancara pra penelitian yang diperoleh pada waktu pra penelitian, usia anak yang menikah muda di Desa Nggulanggula Kecamatan Siompu dari usia 16-18 tahun atau belum tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) maupun Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sudah ada yang memiliki anak. Jika dilihat dari usianya, anak tersebut termasuk usia
sekolah namun bagi mayoritas masyarakat Desa Nggulanggila, Kecamatan Siompu menganggap hal tersebut hal yang wajar atau sudah biasa. Kebanyakan anak atau remaja di desa tersebut yang menikah pada usia muda tidak tahu apa tujuan dari pernikahan karena yang mereka pahami tentang pernikahan adalah menyatukan antara laki-laki dan perempuan secara sah menurut agama dan hukum. Hal tersebut karena mereka memiliki keterbatasan ilmu tentang pernikahan.
Mereka hanya mengikuti nafsu dan keputusan dari orangtua meskipun pada kenyataannya mereka ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Tetapi karena disebabkan oleh pergaulan bebas yang berkaitan dengan maraknya perilaku seks bebas di kalangan remaja. Hal ini seringkali membuat orangtua terpaksa menikahkan anaknya di usia yang masih muda untuk menghindari aib di keluarga. Selain itu, pernikahan dini di Desa Nggulanggula karena rendahnya pengetahuan dan pendidikan serta beban ekonomi keluarga juga memicu terjadinya pernikahan dini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor penyebab pernikahan dini pada masyarakat di Desa Nggulanggula, Kecamatan Siompu, Kabupaten Buton Selatan.
Pengertian pernikahan dini
Secara umum pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan yang umur keduanya masih di bawah batasan minimum yang diatur oleh Undang-undang yaitu umur 19 tahun baik laki-laki maupun perempuan. Menurut Indaswari (Syafiq, 1999) pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan sebelum umur 16 tahun bagi perempuan dan 19 tahun bagi laki-laki, batasan usia ini mengacu pada ketentuan formal batas minimum usia menikah yang berlaku di Indonesia.
Menurut Dlori (2005) pernikahan dini merupakan sebuah perkawinan di bawah umur yang target persiapannya belum dikatakan maksimal persiapan fisik, persiapan mental, juga persiapan materi. Karena demikian inilah maka pernikahan dini bisa dikatakan sebagai pernikahan yang terburu- buru, sebab segalanya belum dipersiapkan secara matang. Sedangkan menurut Adhim (2002) masyarakat memandang pernikahan dini merupakan pernikahan yang menunjukkan adanya batasan kematangan atau kedewasaan dan secara ekonomi masih tergantung pada orangtua dan belum mampu dalam mengerjakan pekerjaan. Jadi, berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh salah satu atau kedua pasangan yang memiliki usia di bawah umur yang biasanya di bawah 19 tahun baik bagi laki-laki maupun perempuan atau belum cukup umur jika melangsungkan pernikahan dan dapat dikatakan sebagai pernikahan usia dini.
Tujuan pernikahan
Tujuan pernikahan adalah membentuk keluarga yang bahagia, kekal dan erat hubungannya dengan keturunan yang merupakan tujuan dari pernikahan, sedangkan pemeliharaan dan pendidikan anak- anak menjadi hak dan kewajiban orangtua. Agar dapat mencapai hal ini maka diharapkan kekekalan dalam pernikahan yaitu bahwa sekali orang melakukan pernikahan tidak akan ada perceraian untuk selama-lamanya kecuali karena kematian. Alimuddin (2014) mengemukakan bahwa tujuan perkawinan berdasarkan hukum Islam yaitu untuk menghindari kemaksiatan dan perzinahan serta untuk mendapat anak keturunan yang sah agar dapat melanjutkan generasi yang baik di masa yang akan datang. Hal ini terlihat dari isyarat Q.S. An-Nisa Ayat (1). Selain itu untuk mendapatkan keluarga yang bahagia yang penuh dengan ketenangan hidup dan rasa kasih sayang.
Batasan usia pernikahan
Dalam Undang-undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yaitu: batas pernikahan hanya diizinkan jika pihak laki-laki maupun pihak wanita sudah mencapai umur 19 tahun. Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Undang-undang Perlindungan Anak pasal 1 ayat 1-2 yaitu: 1) Anak adalah seorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan, 2) Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar
dapat hidup tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Selanjutnya, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pada lampiran pasal 1 berbunyi “anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan dengan adalah seseorang yang masih berumur di bawah usia 18 tahun dan orangtua memiliki tanggung jawab untuk mencegah terjadinya pernikahan di bawah 18 tahun. Jadi, berdasarkan Undang-undang tersebut dapat disimpulkan bahwa batas usia pernikahan adalah 18 atau 19 tahun mengingat usia di bawah 18 tahun masih dikategorikan usia anak-anak.
Faktor-faktor penyebab pernikahan dini
Berikut beberapa faktor yang mendorong terjadinya pernikahan usia dini menurut Hanggara, dkk (Sari, 2015), di antaranya sebagai berikut:
1. Pendidikan
Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya pernikahan dini adalah pendidikan. Pendidikan individu yang rendah dikarenakan putus sekolah, tingkat pendidikan keluarga, dan tingkat pendidikan masyarakat secara keseluruhan. Masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah dan minimnya pengetahuan dan pemahaman tentang arti dan makna sebuah pernikahan akan cenderung untuk menikahkan anaknya dalam usia yang masih muda. Tingkat pendidikan mencakup rendah yaitu SD-SMP dan tingkat pendidikan yang mencakup tinggi SMA-Perguruan Tinggi.
2. Pendidikan orangtua
Jenjang ataupun tahap pendidikan yang ditempuh peseta didik, dalam usahanya mengembangkan jasmani dan rohani atau melalui proses pengubahan cara berpikir atau tata laku secara intelektual dan emosional.
3. Hamil di luar nikah
Seorang gadis yang telah hamil sebelum menikah, biasanya orangtua akan menikahkan anak mereka. Hal ini dilakukan oleh orangtua agar terhindar dari malu. Keputusan menikahkan diambil tanpa memerhatikan usia anak.
4. Perceraian orangtua
Perceraian kedua orangtua akan memberikan dampak negatif bagi kepribadian dan kebahagiaan remaja yang pada akibatnya mencari kasih sayang dan pelarian ke pergaulan dan perilaku yang menyimpang di luar lingkungan keluarga.
5. Status ekonomi
Perkawinan usia muda terjadi karena keadaan keluarga yang hidup di garis kemiskinan. Hal tersebut dilakukan untuk meringankan beban orangtua.
6. Sosial budaya
Faktor adat dan budaya di beberapa daerah masih terdapat pemahaman tentang perjodohan oleh orangtua. pernikahan dini terjadi karena masyarakat terutama orangtua memiliki persepsi bahwa anak akan menjadi perbincangan di lingkungan tempat tinggal jika tidak menikahkan anak mereka di usia muda.
Ahmad (2011) menyebutkan bahwa pernikahan dini yang terjadi berkaitan dengan keadaan sosial ekonomi remaja yakni meliputi tingkat pendidikan remaja, tingkat pendidikan orangtua, dan status ekonomi keluarga. Tingkat pendidikan merupakan faktor penting dalam logika berpikir untuk menentukan perilaku menikah di usia muda, perempuan yang berpendidikan rendah pada umumnya menikah dan memiliki anak di usia muda. Landing, dkk (2009) menjelaskan bahwa rendahnya tingkat pendidikan orangtua menyebabkan adanya kecenderungan mengawinkan anak yang masih di bawah umur.
Dampak pernikahan dini 1. Dampak biologis
Anak secara biologis alat-alat reproduksinya masih dalam proses pertumbuhan menuju kematangan sehingga belum siap untuk melakukan hubungan seksual, apalagi sampai terjadi hamil dan melahirkan. Jika dipaksakan justru akan terjadi trauma, robekan jalan lahir yang luas, infeksi yang akan membahayakan alat reproduksinya serta membahayakan jiwa.
2. Dampak psikologis
Secara psikis anak belum siap mengerti tentang hubungan seksual, sehingga akan menimbulkan trauma yang berkepanjangan dalam jiwa anak dan sulit disembuhkan. Anak akan murung dan menyesali hidupnya yang berakhir dengan pernikahan yang dia sendiri tidak mengerti atas putusan hidupnya, sehingga keluarga mengalami kesulitan untuk menjadi keluarga yang berkualitas.
3. Dampak sosial
Pernikahan mengurangi kebebasan pengembangan diri, masyarakat akan merasa kehilangan berbagai aset remaja yang seharusnya ikut bersama-sama mengabdi dan berkiprah di masyarakat.
Tetapi karena alasan sudah berkeluarga, maka keaktifan mereka di masyarakat menjadi berkurang.
4. Dampak ekonomi
Menyebabkan sulitnya peningkatan pendapatan keluarga, sehingga kegagalan keluarga dalam melewati berbagai macam permasalahan terutama masalah ekonomi meningkatkan risiko perceraian.
5. Dampak pernikahan dini pada kehamilan
Perempuan yang hamil pada usia remaja cenderung memiliki risiko kehamilan dikarenakan kurang pengetahuan dan ketidakpastian dalam menghadapi kehamilannya. Kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan usia di bawah 20 tahun 2-3 kali lipat lebih tinggi daripada kematian yang terjadi pada usia 20-29 tahun.
6. Dampak pernikahan dini pada proses persalinan
Melahirkan memunyai risiko bagi setiap perempuan. Bagi seorang perempuan, melahirkan di bawah usia 20 tahun memiliki risiko yang lebih tinggi. Risiko yang mungkin terjadi adalah:
a. Prematur, yaitu kelahiran bayi sebelum usia kehamilan 37 minggu, kekurangan berbagai zat yang diperlukan saat pertumbuhan dapat mengakibatkan makin tingginya kelahiran prematur.
b. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), yaitu berat badan lahir kurang dari 2500 gram, remaja putri yang mulai hamil ketika kondisi gizinya buruk beresiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah sebesar 2-3 kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang berstatus gizi baik.
Metode Penelitian
Penelitian ini telah di/lakukan di Desa Nggulanggula, Kecamatan Siompu, Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2020 – Januari 2021. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pemilihan jenis penelitian kualitatif ini dikarenakan, peneliti berusaha meneliti tentang kahidupan seseorang, cerita, perilaku dan juga mendeskripsikan atau menggambarkan factor-faktor penyebab pernikahan dini pada masyarakat di Desa Nggulanggula, Kecamatan Siompu.
Informan dalam penelitian ini adalah beberapa orang yang dapat memberikan informasi atau data yang dibutuhkan dalam penelitian. informan dalam penelitian ini yaitu tiga orang anak yang menikah di usia dini, tiga orangtua yang anaknya menikah di usia dini, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Siompu, dan seorang Kepala Adat. Alasan peneliti memilih para informan penelitian karena para informan dianggap lebih kompoten dan lebih dipercaya dalam memberikan informasi karena adanya hubungan kedekatan dengan subjek yang diteliti. Penelitian ini tidak menggunakan prosedur statistik atau kuantitatif. Teknik yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi yaitu mengadakan pengamatan secara langsung ke lokasi penelitian terutama yang ada kaitannya dengan permasalahan yang diteliti.
2. Wawancara
Metode wawancara digunakan peneliti untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai pernikahan dini di Desa Nggulanggula untuk memperoleh gambaran apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya pernikahan dini. Wawancara dilakukan dengan tanya jawab terbuka dengan para responden yang telah ditetapkan sebagai informan dalam penelitian ini.
3. Studi dokumentasi
Metode studi dokumentasi dilakukan untuk memperoleh data yang diperlukan. Dalam penelitian ini peneliti memperoleh dokumentasi data dari Kantor Urusan Agama (KUA) dan Kantor Desa Nggulanggula Kecamatan Siompu Kabupaten Buton Selatan seperti data letak geografis, jumlah penduduk, tingkat pendidikan, jumlah orang yang pernikahan dini, jumlah kepala keluarga serta jumlah penduduk.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya praktik pernikahan dini di Desa Nggulanggula Kecamatan Siompu Kabupaten Buton Selatan adalah sebagai berikut:
1. Faktor ekonomi
Jika dilihat dari faktor ekonomi, masyarakat di Desa Nggulanggula masih berada dalam kondisi yang tidak baik. Hal ini dilihat dari mata pencaharian mereka, sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai petani, buruh bangunan, dan pedagang di pasar. Hal tersebut yang menjadi penyebab orangtua menikahkan anaknya di usia yang masih dini. Orangtua menganggap bahwa apabila anak perempuan mereka telah menikah maka beban dalam keluarga akan berkurang karena anaknya telah memiliki suami yang akan bertanggung jawab terhadap kehidupan anak perempuannya.
Biasanya, masalah ekonomi pada keluarga seringkali mendorong orangtua untuk cepat-cepat menikahkan anaknya karena tidak mampu membiayai hidup dan sekolah terkadang membuat orangtua memutuskan menikahkan anaknya di usia dini dangan alasan beban ekonomi keluarga jadi berkurang karena menurut orangtua, anak perempuan yang sudah menikah menjadi tanggung jawab suaminya. Faktor ekonomi juga menyebabkan anak memilih menikah di usia dini dikarenakan meninggal ayahnya sebagai pencari nafkah karena kasihan dengan keadaan dan kondisi ibu maka anak memilih untuk berhenti sekolah dan memutuskan untuk menikah dini agar dapat mengurangi beban keluarga.
2. Faktor sosial budaya
Biasanya orangtua yang memiliki anak perempuan akan segera menikahkannya karena takut anak perempuannya tidak laku dan akan menjadi “perawan tua”. hal tersebut terjadi karena orangtua yang terpengaruh dengan keadaan dam kodisi di lingkungan sekitarnya. Mereka masih mengikuti adat yang dahulu, di mana orangtua menjodohkan anaknya dengan anak temannya agar anaknya tidak menjadi “perawan tua” padahal umur anaknya masih belum cukup umur untuk menikah.
Mereka tidak lagi menyekolahkan anak mereka karena bagi orangtua pendidikan tidak menjamin kehidupan mereka karena perempuan pada dasarnya akan menjadi ibu rumah tangga dan laki-laki juga akan menjadi pengangguran karena lapangan pekerjaan yang kurang memadai. Selain itu, orangtua berpendapat bahwa jika mereka telah tamat SD ataupun SMP maka sudah cukup, lagipula mereka juga beranggapan ilmu pengetahuan dapat dipelajari di buku-buku dan internet tanpa harus sekolah.
Di Desa Nggulanggula Kecamatan Siompu, dalam melakukan wawancara penelitian dengan orangtua yang menikahkan anaknya di usia dini, mereka berpatokan pada pendidikan mereka dahulu yang hanya tamatan Sekolah Rakyat (SR) atau Sekolah Dasar (SD) dan tamatan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau Sekolah Menengah Pertama (SMP) sudah dinikahkan orangtuanya sehingga mereka menerapkan hal yang sama pada anak mereka.
3. Faktor hamil di luar nikah
Anak yang menikah dini pada masyarakat di Desa Nggulanggula sudah menjadi hal biasa terutama menikah dini karena faktor hamil di luar nikah. Orangtua yang menikahkan anaknya karena faktor hamil di luar nikah semata-mata untuk menjaga nama baik keluarga dari aib, mereka sebagai
orangtua terpaksa menikahkan anaknya di usia dini sebelum kehamilannya membesar dan dan diketahui masyarakat serta menjadi bahan pembicaraan orang lain tanpa memikirkan dampak yang terjadi setelah berumah tangga.
Pernikahan dini juga terjadi atas kemauan anak itu sendiri, di mana amak tersebut saling menyukai antar lawan jenisnya sehingga timbul rasa saling cinta antar keduanya dan mereka memutuskan untuk menikah padahal umur mereka belum cukup untuk menikah. Jika keinginan mereka untuk menikah tidak diizinkan orangtua, maka mereka akan mengancam orangtua mereka dengan hal-hal yang negatif kareka hal tersebut orangtua mengizinkan karena menikah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan misalnya berbuat zina ataupun bunuh diri.
Di zaman modern saat ini, banyak anak menggunakan media massa tanpa pengawasan orangtua sehingga mereka menyalahgunakan media massa dengan bebas mengakses berita-berita, video dan film yang berbau negatif, dan apa yang mereka lihat atau tonton mereka praktikkan dalam kehidupan mereka padahal belum belum menikah dan masih di bawah umur. Hal tersebut memicu perzinaan dan pergaulan bebas sehungga menjadi penyebab pernikahan di usia dini.
Kesimpulan dan Saran Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa yang menjadi faktor-faktor penyebab terjadinya pernikahan dini pada masyarakat di Desa Nggulanggula, Kecamatan Siompu terdapat beberapa faktor di antaranya karena faktor ekonomi keluarga, faktor sosial budaya, dan faktor hamil di luar nikah.
Saran
Berdasrkan kesimpulan hasil penelitian di atas, maka penulis mengajukan saran sebagai berikut:
1. Bagi Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Siompu untuk mengadakan sosialisasi di masyarakat mengenai pemahaman pernikahan dini dan dampaknya
2. Bagi pemerintah Desa Nggulanggula hendaknya terus melakukan tindakan seperti penyuluhan dan pengetahuan bagi orangtua dan juga anak remaja tentang bahaya pernikahan dini serta pemerintah Desa Nggulanggula hendaknya menjalin kerjasama dengan dengan berbagai pihak yang ada dalam Desa Nggulanggula mengenai pernikahan dini.
3. Bagi para orangtua untuk memerhatikan pergaulan anaknya dan alangkah lebih baiknya jika sang anak diberi kesempatan untuk mengecap pendidikan setinggi-tingginya serta jangan terlalu percaya pada tradisi.
4. Bagi anak remaja hendaknya berpikir panjag sebelum bertindak, jangan hanya menuruti keinginan yang tanpa dilandasi dengan pemikiran dan pertimbangan yang matang sehingga melakukan hal- hal yang negatif.
Daftar Pustaka
Agung Wahyono dan Siti Rahayu. (1993). Tinjauan Tentang Peradilan Anak di Indonesia. Jakarta:
Sinar Grafika.
Dellyana. (1998). Perkawinan Pada Usia Muda. Jakarta: Bulan Bintang.
Hairi. (2009). Fenomena Pernikahan Di Usia Muda Dikalangan Masyarkat Muslim Madura Studi kasus di Desa Bajur Kecamatan Waru Kabupaten Pamekasan. Skripsi. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Januar, Iwan M. (2004). Membangun Rumah Tangga Sakinah. Bogor: Al Azhar Press.
Jumiati. (2008). Faktor-faktor yang Menyebabkan Terjadinya Pernikahan Dini Di Kelurahan Donggala Kecamatan Kabaena Timur Kebupaten Bombana. Skripsi.Universitas Halu Oleo.
Dlori, Mohammad M. (2005). Jeratan Nikah Dini Wabah Pergaulan. Yogyakarta: Media Abadi.
Mubasyaroh. (2016). Analisis Faktor Penyebab Pernikahan Dini dan Dampaknya Bagi Pelakunya.
Jurnal Yudisia. Vol. 7, No. 2.
Muchtar, Z. (1990). Mengapa Masih terjadi Perkawinan Di Bawah umur. Jakarta: BP4- Pustaka Antara.
Rasjid, Sulaiman. (2004) Fiqih Islam (Hukum Fiqih Lengkap). Bandung: Sinar Baru Algasindo.
Salamah, Siti. (2016). Faktor-faktor Yang berhubungan dengan Pernikahan Usia Dini di Kecamatan Pulokulon Kabupaten Grobogan. Skripsi. Universitas Negeri Semarang.
Soemiyati. (1986). Menuju Pernikahan yang Bahagia. Jakarta: Refika Aditama.
Sudjana. (1986). Metode Statistik. Bandung: Tarsito.
Soemiyati.(1982). Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan. Yogyakarta: Liberti.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D).
Bandung: CV. Alfabeta.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2019 Tentang Perkawinan.
Undang-undang Republik Indonesia tentang Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2012.